Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab Al-Adab : Adab-Adab Berbicara (1)

Posted by Abahnya Kautsar pada 7 Juli 2008

Adab-Adab Berbicara

Allah ta’ala berfirman :

ﯿ

“ Dan janganlah kalianmengikuti apa-apa yang kalian tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan diminta pertanggung jawabannya “ (Al-Israa` : 36 )

Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga “[1]

Di antara adab-adab berbicara :

1. Menjaga Lisan

Yang sepatutnya bagi seorang muslim adalah memperhatikan lisannya dengan baik. Menghindari perkataan yang batil, perkataan dusta, ghibah, adu domba, perkataan yang keji, secara ringkas dari semua itu adalah menjaga lisannya dari segala yang Allah dan Rasul-Nya haramkan.

Seseorang mungkin mengucapkan suatu kalimat yang akan mencelakakan kehidupan dunianya dan juga akhiratnya. Dan bisa pula mengucapkan suatu kalimat dimana dengan kalimat tersebut Allah akan mengangkatnya beberapa derajatnya. Yang menunjukkan hal itu adalah sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“ Sesungguhnya seorang hamba akan berbicara dengan suatu ucapan yang sama sekali dia memperoleh kejelasannya,maka diapun dijerumuskan diapi neraka lebih jauh dari pada arah timur “ Dan pada riwayat Muslim dan Ahmad : “ Lebih jauh melebihi jarak antara timur dan barat “[2]

Dan juga pada riwayat Ahmad : “ Sesungguhnya seseorang akan berbicara dengan suatu ucapan untuk membuat orang-orang yang duduk menyertainya tertawa, maka dia dicampakkan melebihi jauhnya bintang tsurayya “[3]

Dan sebagaimana suatu kalimat akan dapat menjadi penyebab kemurkaan Allah, juga suatu kalimat dapat menjadi sebab pengangkatan derajat dan kebahagiaan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Sesunguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimat dari keridhaan Allah dimana dia sama sekali tidak memperhatikannya, maka Allah mengangkatnya beberapa derajatkarena kalimat tersebut. Dan sesungguhnya seorang hamba akan mengucapkan suatu kalimatdari kemurkaan Allah yang dia sama sekali tidak menyadarinya, hingga dia dicampakkan ke neraka jahannam “[4]

Dan pada pertanyaan Mu’adz bin Jabal radhiallahu ‘anhu kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang amalan yang akan memasukkan kedalam surga dan menjauhkan dari api neraka, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan rukun-rukun Islam, dan beberapa pintu kebaikan. Kemudian beliau bersabda:

“ Maukah saya beritahukan kepadamu yang mengumpulkan semuanya itu ? Beliau menjawab : Tentulah wahai Nabi Allah.

Maka beliau 3 lantas mengeluarkan lidahnya dan mengatakan: Jagala ini.

Saya berkata : Wahai Nabi Allah, akankah kami disiksa karena apa yang kami ucapkan ?

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Celakalah engkau wahai Mu’adz. Apakah kaum manusia akan ditelungkupkan wajah-wajah mereka kedalam api neraka atau kerongkongan mereka kecuali karena hasil dari lisan mereka ? “[5]

Bahkan perkara ini tidak hanya sebatas ini saja. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan jaminan surga bagi yang menjaga lisannya dan juga kemaluannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barang siapa yang dapat memberi jaminan atas apa yang ada antara jenggotnya dan yang berada diantara kedua kakinya, maka saya akan menjaminnya surga “[6]

Jadi wajib bagi seorang muslim untuk menjaga lisan dan kemaluannya dari hal-hal yang Allah haramkan, untuk mengharapkan keridhaan-Nya, dan berharap meraih ganjaran pahala dari-Nya. Dan hal itu suatu yang mudah bagi yang Allah mudahkan baginya.

Faedah : Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu ‘anhu [ Hammad bin Zaid mengatakan ] Saya tidak mengetahui kecuali hadits ini beliau riwayatkan secara marfu’ , beliau berkata : “ Apabila bani Adam bangun pada pagi hari, maka seluruh anggota tubuhnya menegur lisan, dan mengatakan : Takwalah engaku kepada Allah, karena apabila engkau lurus maka kamipun akan lurus, dan apabila engkau menyimpang maka kamipun akan menyimpang “[7]

Dan sabda beliau: “ Anggota tubuhnya menegur lisannya”, maknanya bahwa seluruh anggota tubuhnya tunduk dan merendah dihadapan lisan, taat kepadanya. Apabila engkau wahai lisan, lurus maka kamipun kaan lurus, dan apabila engkau menyelisihi dan menyimpang dari jalan yang lurus, maka kami akan mengikutimu, maka bertakwlaah engkau kepada Allah bagi kami[8].

Dan hadits ini tidaklah kontradiktif dengan saba beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam - dari hadits An-Nu’man bin Basyir – : “ Ketahuilah bahwa pada jasad seseorang erdapat segumpal daging, apabila daging tersebut baik, maka seluruh jasad akan menjadi baik, dan apabila segumpal daging tersebut rusak maka akan rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati “[9]

At-Thibi mengatakan[10] : Lisan merupaka penerjemah hati dan penggantinya pada bagian zhahir tubuh. Apabila suatu perkara disandarkan kepadanya maka itu berupa majaz dalam hukum. Seperti perkataan anda : Dokter menyembuhka seorang yang sakit. Al-Maidani mengatakan tentang sabda beliau : Seseorang bergantung dengan dua hal yang kecil pada dirinya, kedua hal tersebut adalah hati dan lisan. Maknanya seseorang akan benar dan menjadi sempurna kepribadiannya dengan dua hal tersebut.

Zuhair menggubah sbeuah sya’ir:

Dan selamanya anda akan menyaksikan seorang yang diam akan kagum

Bertmabah dan berkurangnya dia pada ucapannya

Lisan seorang setengah dan setengah lagi hati sanubarinya

Maka tidak lagi tersisa selain bentuk daging dan darah.

2. Ucapkan perkataan yang baik atau diamlah

Adab Nabawi pada perkataan bagi orang-orang yang ingin berbicara supaya berbicara dengan pelan dan memikirkan perkataannya yang ingin dia katakan dengannya, jika perkataan itu baik maka bagus untuk dikatakan dan hendaklah dia mengatakannya, jika perkataan itu buruk maka hendaklah dia berhenti darinya maka hal itu baik bagi dirinya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya, Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam”.[11]

Sabda beliau : “hendaklah dia berkata yang baik atau diam”. Berkata Ibnu Hajar : “ Perkataan ini adalah Jawami’ul kalam dikarenakan semua perkataan bisa dia berupa kebaikan, bisa berupa keburukan dan bisa juga bermuara kepada salah satu dari keduanya. Termasuk dalam cakupan kebaikan semua yang dituntut dari perkataan-perkataan yang wajib ataupun yang sunnah, diperbolehkan padanya tentang perbedaan jenisnya, dan masuk padanya segala perkataan yang bermuara kepadanya. Adapun selainnya maka hal tersebut adalah keburukan atau yang bermuara kepada hal yang buruk, maka disaat hendak memperdebatkannya diperintahkan untuk berdiam diri ”.[12]

3. Kalimat yang baik adalah shadaqah

Hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu yang telah lalu pembahasannya menunjukkan kepada kita bahwa seseorang diperintahkan untuk bicara yang baik-baik atau diam, kemudian syariat menyukai dalam berbicara yang baik dikarenakan padanya ada dzikir kepada Allah, kebaikan pada agama dan dunia mereka, dan kebaikan diantara mereka… serta selainnya hal-hal tersebut dari tinjauan yang bermanfaat. Ganjaran yang diberikan atas hal itu adalah mendapatkan pahala. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Setiap ruas dari manusia atasnya terdapat shadaqah, setiap hari yang terbit padanya matahari : dengan dia berbuat adil diantara dua orang adalah shadaqah, seorang lelaki pada peliharaannya dan membawakannya atau mengangkatkan barangnya adalah shadaqah, kalimat yang baik adalah shadaqah, dan setiap langkah yang dia langkahkan untuk shalat adalah shadaqah, serta menyingkirkan gangguan dari jalan adalah shadaqah”.[13]

Terkadang suatu kalimat yang baik akan menjauhkan pembicaranya dari api neraka. Dari ‘Adi bin Hatim radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut perihal api neraka neraka lalu beliau memalingkan wajahnya dan berlindung darinya, kemudian beliau berkata : “ Takutlah bertakwalah kepada neraka walau dengan sebutir kurma, barang siapa yang tidak mendapatinya maka dengan kalimat yang baik”.[14]

4. Keutamaan sedikit berbicara dan makruhnya banyak berbicara

Telah diterangkan lebih dari sebuah hadits tentang anjuran untuk sedikit berbicara. Karena banyak berbicara dapat menjadi sebabtergelincirnya seseorang dalam dosa. Jadi seseorang yang banyak berbicara tidaklah berasa aman dari lisannya yang lepas dan kekeliruannya. Oleh karena itulah, ada anjuran untuk sedikit berbicara dan larangan banyak berbicara.

Al-Mughirah bin Syubah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau bersabda:

“ Sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi kalian perbuatan durhaka kepada ibu, sebagai larangan yang keras. Dan mengubur hidup-hidup anak wanita, dan membenci jika kalian mengutip perkataan, banyak birtanya dan menghambur-hamburkan harta “

Sabda beliau : “ Dan membenci jika kalian mengutip perkataan “, yaitu menceburkan diri pada kabar dan cerita-cerita orang tentang keadaan dan perbuatan mereka yang tidak mendatangkan manfaat. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi[15].

Banyak berbicara adalah suatu yang tercela dalam syariat. Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesunggunya oang yang paling saya cintai diantara kalian dan yang paling dekat majlisnya kepadaku pada hari kiamat adalah yang paling terpuji akhlaknya. Dan sesungguhnya yang paling saya benci dan paling jauh majlisnya dariku pada hari kiamat adalah orang-orang yang banyak cakap, oang-orang yang memfasihkan bicaranya serta al-mutafaihiquun. Para sahabat bertanya: Wahai Rasulullah kami telah mengetahui apa itu ats-tsatsaaruun[16] – yang banyak cakap – dan juga al-mutasyaddiquun, namun apakah itu al-mutaaihiquun ? Beliau menjawab: Yakni orang-orang yang angkuh “[17]

Faedah: Abu Hurairah berkata : “ Tidak ada kebaikan pada perkataan yang berlebihan ”. Umar bin Al-Khaththab mengatakan: “ Barang siapa yang banyak berbicara maka akan sering tergelincir “

Ibnu Al-Qasim mengatakan: “ Saya telah mendengar dari Malik, beliau berkata: “ Tidak ada kebaikan pada banyak berbicara, dan hal itu meruapkan tingkah kaum wanita dan anak-anak. Tingkah laku mereka selamanya adalah berbicara dan tidak diam …

Lainnya mengatakan:

Seseorang meninggal karena kesalahan lisannya

Dan seseorang tidaklah meningal karena kesalahan kakinya

Tergelincirnya dia dari mulutnya yang akan menghempaskan kepalanya

Sementara tergelincirnya dia dengan kakinya akan bersih perlahan-lahan[18]

5. Peringatan akan ghibah dan an-namimah adu domba[19]

Sangat banyak kutipan dari Al-Qur`an ataupun As-Sunnah yang menunjukkan larangan melakukan ghibah dan namimah. Dengan konsukuensi ancaman yang sangat berat. Larangan terhadap kedua perbuatan tersebut juga telah maklum adanya ditengah-tengah kaum muslimin seluruhnya. Akan tetapi, kita masih akan menjumpai sangat banyak orang yang tidak berhati-hati dalam mempergunakan lisaannya berbicara menyangkut kehormatan dan daging orang-orang. Akan tetapi inilah hiasan syaithan bagi mereka, untuk mencerai beraikan persatuan mereka dan mengobarkan kemarahan didalam hati sebagian dari mereka atas sebagian lainnya.

Sementara syariat didatangkan untuk menyatukan kalimat, menyatukan hati, berbaik sangka kepada orang lain dan mengatakan perkataan yang benar dan yang baik … Sedangkan syaithan selalu berusaha untuk mencerai beraikan persatuan, memisahkan hati sebagian orang dengan sebagian lainnya, bebruruk sangka kepada orang lain dan mengucapkan perkataann yang batil dan yang buruk.

Dari Jabir radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata: Saya telah mendengar Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya syaithan telah putus asa untuk disembah oleh orang-orang yang mendirikan shalat dijazirah Arab, akan tetapi syaithan tidak berputus asa untuk menghasut diantara mereka “[20]

Makna hadits diatas : bahwa sesungguhnya syaithan telah berputus asa menggoda para penduduk jazirah Arab untuk menyembahnya, akan tetapi syaithan senantiasa berusaha menghasut mereka untuk saling bermusuhan, kebencian, peperangan, menyebar fitnah dan lain sebagainya. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi[21].

Ghibah dan namiman adalah salah satu benih lebencian dan permusuhan yang ditanamkan diengah-tengah menusia. Dan Allah telah mengabarkan perihal syaithan bahwa dia adalah musuh kita. Dan seorang musuh tidak akan emnghendaki kebaikan pada diri kita – dan hal itu tidak kita sangsikan lagi – dan Allah telah memerintahkan kita untuk memusuhinya dan memeranginya

“ Sesunggunya syaithan adala musuh bagi kalian, maka jadikanlah dia sebagai musuh, sesungguhnya syaithan akan mengajak kepada golongannya agar mereka semuatermasuk penghuni neraka sa’iir “ (Fathir : 6)

Ghibah dan namimah, termasuk salah satu senjata Iblis dan kelompoknya, untuk mencerai beraikan kaum manusia. Menanamkan kebencian dihati sbeagian kaum manusia kepada sebagian lainnya. Dan kedua hal tersebut termasuk diantara penyakit yang akan membinasakan individu serta mencerai beraikan jama’ah.

Penyakit tersebut akan menyebabkan indibidu masyarakan berada dalam bahaya dengan mendapatkan ancaman Allah akibat orang yan dighibahinya atau namimah yang diucapkannya. Dan penyakit ini akan menimbulkan pemutusan silaturrahim antara sesama keluarga dan kerabat dan sesama kaum manusia.

Ada baiknya kita akan sebutkan sebagian yang berkaitan dengan kedua hal tersebut. Dan seorang yang mendapatkan taufik adalah yng menundukkan hatinya kepada kebenaran sertamenjaga lisannya terhadap makhluk Allah.

Allah ta’ala berfirman :

“ Dan janganlah sebagian dari kalian menghibah sebagian lainnya. Apakah salah seorang diantara kalian akan memakan daging bangkai saudaranya, maka kalian tentunya merasa jijik. Maka bertakwalah kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Pengasih “ (Al-Hujurat : 12 )

Dan dari hadits Abu Barzah Al-Aslami, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Wahai segenap orang yang merasa amandenganlisannya namun belumlah iman masuk kedalam hatinya. Janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan janganlah kalian mencari-cari aurat mereka. Karena sesungguhnya seseorang yang mencari-cari aurat mereka maka Allah akan mencari-cari auratnya. Dan barang siapa yang Alah mencari-cari auratnya niscaya Allah akan mempermalukannya dirumahnya “[22]

Dari Abu Wail dari Hudzaifah beliau menyampaikan bahwa seseorang menyampaikan berita untuk tujuan namimah. Maka Hudzaifah mengatakan: Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidak akan masuk surga seseorang yang melakukan namimah “, pada riwayat lainnya : “ pengadu domba “[23] Dan keduanya semakna.

Faedah : Ghibah diperbolehkan pada enam tempat :

Pertama : Ketidak adilan, maka diperbolehkan bagi yang didhalimi untuk mengadukan ketidak adilan yang dia alami kepada penguasa atau halim dan selain keduanya yang mana padanya punya pemerintahan, atau berkehendak untuk berlaku adil pada orang yang mendhaliminya.

Kedua : Meminta pertolongan agar merubah kemungkaran, dan mengembalikan kemaksiatan kepada kebenaran. Hendaklah dia berkata kepada orang yang dia harapkan kekuasaannya uantuk menghilangkan kemungkaran dengan : Si fulan berbuat demikian, maka diapun mengasingkannya darinya dan sejenisnya, dengan maksud sebagai perantara untuk menghilangkan kemungkaran, akan tetapi kalau maksudnya tidak demikian maka hal itu adalah keharaman.

Ketiga : Meredakan masalah, maka dia berkata kepada mufti / yang memberi fatwa : Ayahku telah mendhalimiku , atau saudaraku…dan semisal hal tersebut, maka hal ini diperbolehkan sesuai keperluan, akan agar lebih berhati-hati agar dia berkata : Apakah engkau mengatakan kepada laki-laki atau seseorang siapa saja yang menyuruhnya berbuat demikian? Yang mana dia akan tercapai dengannya tujuan tanpa adanya ketentuan yang pasti, dengan demikian maka penentuan tersebut diperbolehkan.

Keempat : Peringatan kepada kaum muslimin dari kejelekan dan menasehati mereka … termasuk pula men-jarh kaum yang cacat sifatnya baik para perawi hadits atukah para saksi. Diantaranya pula musyawarah untuk menjalin kekerabatan dengan seseorang … dengan syarat tujuan dari itu smeua adalah untuk nasihat. Dan hal ini yang sering terjadi kesalah pahaman. Seorang pembcara terkadang terbawa rasa dengki pada hal-hal itu, dan syaithan mengaburkannya. Dan syaithan menampakkan seolah-olah hal tersebut suatu nasihat, maka mestilah hal itu lebih dicermati.

Kelima : Apabila yang dibicarakan adalah seseorang yang menampakkan perbuatan fasiknya atau bid’ahnya seperti seseorang yang terang-terangan meminum khamar, menyakiti orang banyak, memungut rente, mengambil pajak dari harta orang, melakukan perkara-perkara yang batil maka diperbolehkan untuk menyebutkan karena perbuatan yang dilakukannya terang-terangan. Namun haram menyebut aib-aibnya yang lain kecuali karena lain sebab yang diperbolehkan sebagaimana yang telah kami sebutkan.

Keenam : Untuk tujuan identifikasi. Apabila seseorang lebih terkenal dengan suatu julukan, seperti Al-A’masy – yang penglihatannya kabur – , Al-A’raj – yang pincang kakinya -, Al-Asham – yang tuli -, Al-A’maa – yang buta -, Al-Ahwal – yang matanya juling – dan lain sebagainya. Diperbolehkan mengidentifikasi mereka dengan julukan itu. Dan diharamkan penggunaan julukan itu secara mutlak untuk tujuan penghinaan. Dan sekiranya memungkinkan mengidentifikasinya selain dengan julukan itu, hal tersebut lebih utama.

Inilah enam perkara yangdisebutkan oleh par aulama, dan sebagian besarnya adalah perkara-perkara yang disepakati oleh mereka. Dan argumentasinya berupa hadits-hadits yang shahih sangatlah populer, demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi[24].

Faedah lainnya : Tindakan yang sepatutnya bagi seseorang yang mengetahui namimah :

Pertama : Tidaklah membenarkannya karena seorang pembawa namimah adalah seorang yang fasik.

Kedua : Melarangnya dari perbuatan itu dan menasihatinya dan mencela perbuatan yang dilakukannya tersebut.

Ketiga : Membencinnya karena Allah, disebabkan pelaku perbuatan namimah adalah perbuatan yang dibenci Allah t’ala. Dan wajib membenci seseorang yang Allah benci.

Keempat : Tidak berprasangka buruk terhadap saudaranya yang tidak berada dihadapannya.

Kelima : Segala cerita yang sampai kepadanya tidak mendorongnya untuk mencari-cari dan menilik informasi tentang kabar itu.

Keenam : Tidak meridhai bagi dirinya sendiri apa yang dilarangnya bagi pelaku namimah. Tidaklah dia menceritakan suatu namimah darinya dengan mengatakan : Fulan menceritakan demikian, hingga diapun menjadi pelaku namimah. Dengan begitu dia melakukan suatu yang dia telah larang.

Inilah akhir perkataan Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah. Semua yang berkaitan dengan namimah ini apabila tidak terdapat mashlaha syar’iyah. Namun apabila suatu kebutuhan mengharuskan hal tersebut, maka tidaklah mengapa untuk disampaikan. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi[25].


[1] Takrijnya akan disebutkan nanti

[2] HR. Al-Bukhari ( 6477 ), dan lafazh diatas adlah lafazh riwayat beliau, Muslim ( 2988 ) dan Ahmad ( 8703 )

[3] Al-Musnad ( 8967 )

[4] HR. Al-Bukhari ( 6478 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Ahmad ( 8206 ), Malik ( 1849 ) dengan lafazh yang berbeda dengan lafzahAl-Bukhari dan Ahmad.

[5] HR. At-Tirmidzi ( 2616 ), dan beliau berkata : hadits hasan shahih, Ahmad ( 21511 ), Ibnu Majah ( 3973 )

[6] HR. Al-Bukhari dari hadits Sahl bin Sa’ad ( 6474 ),Ahmad ( 22316 ) an At-Tirmidzi ( 2408 ) dengan perbedaan pada lafazh-lafazhnya.

[7] HR. Ahmad ( 11498 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, berkata pen-tahqiq Al-Musnad : Sanadnya hasan ( 18 / 402 ), ( 11908 ) dan At-tirmidzi ( 2407 )

[8] Lisan Al-‘Arab ( 5 / 150 ), bahasan: كفر

[9] Hr. Al-Bukhari ( 52 ) dan Muslim ( 1599 )

[10] Tuhfah Al-Ahwadzi ( 7 / 75 ) dengan sedikit perubahan.

[11] HR. Al-Bukhari ( 6018 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 47 ), dan Ahmad ( 75751 ).

[12] Kitab Fathul Baari ( 10 / 461 ).

[13] HR. Al-Bukhari ( 2989 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 1009 ), dan Ahmad ( 27400 ).

[14] HR. Al-Bukhari ( 6563 ), dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Muslim ( 1016 ), dan Ahmad ( 17782 ) tanpa menyebutkan penggalan hadits yang terakhir dan An-Nasa’I ( 2553 ).

[15] Muslim, Syarh An-Nawawi jilid 6 ( 12 / 10 )

[16] Didalam Al-LisanL ats-tsartsaar al-mutasyaddiq adalah yang banyak bicara … ats-tsartsarah min al-kalam: adalah banyak bicara dan sering diulang-ulangi … Dikatakan: Laki-laki tsartsaar, wanita tsartsaarah, dan suatu kaum tsatsaaruun.

Diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda: Yang paling saya benci diantara kalian adalah ats-tsartsaaruun dan al-mutafaiqihuun. Yaitu mereka yang banyak berbicara dan berlebihan dalam berbicara hingga menyimpang dari kebenaran. ( 4 / 102 ). Bahasan: ثرر

[17] HR. At-Tirmidzi dari hadits Jabir ( 2018 )dan lafazh diatas adalah lafazh beliau. At-Tirmidzi mengatakan: Hadist hasan gharib, Ahmad dari hadits Abu Tsa’labah al-Khusyani ( 17278 )

[18] Kutipan-kutipan terdahulu dari Al-Adab Asy-Syar’iyah karya Ibnu Muflih ( 1 / 66 – 67 ) dengan sedikit perubahan.

[19] Ghibah: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menerangkan didalam sabda beliau: “ Menyebutkan perihal saudaramu dengan suatu yang dibencinya. Disbeutkan dalam hadits Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Tahukah kalian apakah ghibah itu ? Para sahabat mengatakan: Allah dan Rasulunya yng lebih mengetahui. Beliau bersabda: Anda menyebutkan perihal saudara anda yang dibencinya.

Ada yang berkata: Bagaimanakah jika yang dikatakan tersebut benar ada pada saudaraku seperti yang saya ucapkan? Beliau bersabda: apabila benar ada padanya seperti yang engkau katakan, maka sungguh anda telah mengghibahnya. Dan apabila tidak seperti yang anda katakan maka sungguh anda telah berdusta terhadapnya “ HR. Muslim ( 2589 ), Ahmad ( 7106 ), At-Tirmidzi ( 1934 ), Abu Daud ( 4874 ) dan Ad-Darimi ( 2714 ) dengan pebedaan sedikit pada lafazh-lafazhnya.

Dan karakteristik ghibah adalah: Setiap yang anda sampaikan kepada orang lain perihal kekurangan seorang muslim maka termasuk perkara ghibah yang diharamkan. ( Al-Adzkar karya An-Nawawi hal. 486 ).

Adapun an-namimah/mengadu domba : Para ulama mengatakan: an-namimah adalah mengutip perkataan sebagian orang lalu disampaikan kepada sebagian lainnya dengan tujuan mendatangkan kerusakan diantara mereeka ( An-Nawawi syarh Muslim jilid 1 ( 2 / 93 ) )

[20] HR. Muslim ( 2812 ), Ahmad ( 13957 ) dan At-Tirmidzi ( 1937 )

[21] Muslm,bi-syarh An-Nawawi jilid. 9 ( 17 / 131 )

[22] HR. Abu Daud ( 4880 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau. Al-Albani mengatakan : hasan shahih. Ahmad ( 19277 )

[23] HR. Al-Bukhari ( 6056 ), Muslim ( 105 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Ahmad ( 22814 ), At-Tirmidzi ( 2026 ) dan Abu Daud ( 4879 )

[24] Riyadh Ash-Shalihin 450 -451

[25] Syarh Shahih Muslim jilid 1 ( 2 / 92 – 94 )

( Bersambung…)

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.304 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: