Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab Al-Adab : Adab Bertetangga

Posted by Abahnya Kautsar pada 16 September 2008

Bab Adab Bertetangga

Allah ta’ala berfirman :

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat” (An-Nisaa’ : 36 ).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “senantiasa Jibril mewasiatkanku agar aku berbuat baik kepada tetangga sampai-sampai saya mengiranya akan mewariskan kepada tetangga tersebut”[1].

Di antaran adab-adab bertetangga :

  1. Memuliakan Tetangga Dan Wasiat Akan Hal Tersebut :

Allah subhanahu mewasiatkan di dalam kitabnya agar memuliakan tetangga, Allah berfirman :

“dan berbuat baiklah kepada tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh “ (An-Nisaa’ : 36).

Maka tetangga yang masih keluarga memiliki dua hak : hak keluarga dan hak tetangga, dan tetangga jauh hanya memiliki hak tetangga. Dan keduanya dimuliakan dan diperhatikan kebutuhannya dan diperlakukan dengan baik.

Di dalam hadits Aisyah radhiallahu anha adanya penegasan tentang hak ini, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Senantiasa Jibril terus mewasiatkan kepadaku agar memuliakan tetangga sampai saya mengira dia akan memberikan warisannya kepadanya”[2].

Al-Hafizh berkata : As-Syaikh Abu Muhammad bin Abi Jamrah berkata: … dan terlaksananya wasiat berbuat baik kepada tetangga dengan menyampaikan beberapa macam bentuk perbuatan baik kepadanya sesuai kemampuan, seperti hadiah, salam, wajah berseri-seri ketika bertemu, mengontrol keadaannya, membantunya pada apa yang dia butuhkan dan selainnya, dan menahan sesuatu yang dapat mengganggunya dengan berbagai macam caranya baik secara hissiyah – terlihat – atau maknawi – tidak -[3].

Dari Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sahabat yang paling baik di sisi Allah adalah mereka yang paling baik kepada sahabatnya, dan tetangga yang paling baik di sisi Allah adalah mereka yang paling kepada tetangganya”[4].

Faedah : kata tetangga mencangkup tentangga yang muslim dan kafir, ahli ibadah dan orang fasik, teman dan lawan, orang asing dan penduduk asli, yang memberi manfaat dan yang memberi mudharat, kerabat dekat dan bukan kerabat, rumah yang paling dekat dan yang paling jauh. Dan bagi mereka ada tingkatan-tingkatannya sebagian mereka lebih tinggi kedudukan daripada sebagian lainnya, yang paling tinggi tingkatannya adalah yang terkumpul padanya semua sifat-sifat yang pertama kemudian yang paling banyak sifat-sifatnya yang disebutkan tadi, demikian seterusnya sampai menjadi satu sifat saja, dan kebalikannya adalah yang terkumpul padanya sifat-sifat lainnya demikian seterusnya, maka setiap mereka diberikan haknya sesuai keadaannya, dan terkadang dua sifat atau lebih saling bertentangan maka hendaknya dipilih yang rajah atau disamakan, Ibnu Hajar mengatakannya di dalam Al-Fath[5].

  1. Tetangga Yang Paling Dekat Dan Hak-Haknya :

Tetangga yang paling dekat yang saling berdekatan memiliki hak-hak yang tidak dimiliki oleh tetangga yang jauh. Hukum ini diambil dari pertanyaan Aisyah radhiallahu anha, dia berkata : “Saya berkata : Wahai Rasulullah sesungguhnya saya mempunyai dua tetangga maka yang manakah yang saya berikan hadiah? Nabi berkata : “Yang paling dekat pintunya dari rumahmu”[6].

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pengkhususan hadiah kepada tetangga yang dekat selain yang jauh, maka diketahui bahwa hak tetangga yang dekat lebih didahulukan daripada hak tetangga yang jauh. Dan diantara hikmah hal tersebut bahwa tetangga dekat melihat hadiah atau yang lainnya yang ada di dalam rumah tetangganya dan menginginkah hal tersebut berbeda dengan tetangga yang jauh, dan sesungguhnya tetangga yang dekat lebih cepat menjawab pertolongan ketika terjadi pada tetangganya dari perkara-perkara penting apalagi di waktu-waktu lalai, demikian penjelasan Al-Hafizh[7].

Sebagian besar manusia seperti itulah keadaan mereka. Mereka mengkhususkan perhatian yang lebih dan menjaga perhatian tersebut kepada tetangga yang dekat, apa yang tidak didapatkan tetangga yang jauh.

Dan termasuk hak-hak tetangga adalah agar tidak menghalangi tetangganya untuk menancapkan kayu atau meletakkannya di atas dinding untuk membangun kamar atau yang semisalnya. Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda : “Janganlah salah seorang diantara kalian melarang tetangganya menancapkan kayu di dindingnya”[8].

Akan tetapi harus menjaga beberapa perkara berikut ini :

Pertama : Bangunan tidak membahayakan dinding tembok.

Kedua : Tetangga dalam keadaan terpaksa untuk hal tersebut.

Ketiga : Tidak didapati cara yang lain yang memungkinkan untuk

membangun kecuali menyandarkan kepada tembok tetangga.

Apabila salah satu atau sebagian dari perkara-perkara ini tidak dipenuhi maka tidak boleh bagi tetangga memanfaatkan bangunan dan menyandarkannya kepada tembok tetangganya karena mendatangkan mudharat yang telah terlarang oleh syariat: “Tidak boleh ada sesuatu yang berbahaya dan yang membahayakan orang lain”[9].

  1. Haramnya Mengganggu Tetangga :

Tidak halal bagi seorang mu’min untuk mengganggu tetangganya dengan berbagai macam gangguan, dan di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu adanya larangan dan sikap tegas bagi seseorang yang mengganggu tetangganya.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggandengkan antara iman kepada Allah dan hari akhir dan dengan mengganggu tetangga, dari apa yang menunjukkan atas besarnya perkara mengganggu tetangga-. Abu Hurairah berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya….”[10].

Dan di dalam hadits yang lain, hadits Abu Syuraih radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, sahabat berkata : Siapakah wahai Rasulullah? Beliau bersabda : “Yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya[11][12].

Pada riwayat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu : Bahwa rasululullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya”[13].

Di dalam hadits Abu Syuraih radhiallahu ‘anhu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah atas dihilangkannya keimanan –sebanyak tiga kali- bagi yang tetangganya tidak merasa aman dengan kejelekannya, dan maksudnya bahwa tetangga yang tidak aman dari kejahatannya adalah tetangga yang tidak sempurna keimanannya, dan dia dengan kemaksiatannya dan kezhalimannya telah mengurangi kesempurnaan imannya.

Di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa surga tidak akan masuk ke dalamnya orang yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya, dan maksudnya –wallahu a’lam- bahwa orang itu tidak masuk di awal waktu, dan kami katakan seperti itu karena seluruh nash-nash yang ada memberikan faedah bahwa orang yang bertauhid akan masuk surga walaupun dia diadzab sebelum itu, atau bahwa sunnatullah menetapkan bahwa yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya, tidaklah dia mati dalam keadaan kafir.

Mengganggu tetangga ada beberapa tingkatan, sebagian tingkatan ringan akibatnya kalau dibandingkan dengan selainnya dan sebagian lainnya besar akibatnya, bahkan gangguan yang paling besar yang tetangga dapatkan, adalah gangguan kepada keluarganya, dan ini merupakan dosa yang paling besar di sisi Allah.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu dia berkata : “Saya bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah?

Beliau bersabda : “ Kamu menjadikan bagi Allah tandingan-tandingan sedangkan Allah lah yang menciptakanmu “.

Saya berkata : Sesungguhnya perkara tersebut sungguh sangat besar, saya berkata : Kemudian apa?

Beliau bersabda : “Kamu membunuh anakmu karena kamu takut dia makan bersamamu “.

Saya berkata : kemudian apa?

Beliau bersabda : “Kamu menzinahi isri tetanggamu”[14].

Faedah : Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan: “Bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadukan kejelekan tetangganya.

Beliau bersabda: “Pulanglah dan bersabarlah”.

Kemudian datang lagi kedua dan ketiga kalinya.

Beliau berkata : “Pulanglah dan taruhlah barang-barangmu di tengah jalan”. Sahabat tadi meletakkan barang-barangnya di tengah jalan, mulailah orang-orang bertanya kepadanya dan ia mengabarkan kabar tentang dirinya, maka orang-orang pun melaknat tetangganya : Semoga Allah melakukan ini kepadanya, semoga Allah melakukan itu kepadanya, semoga…maka datanglah tetangganya kepadanya dan berkata : Kembalilah kamu tidak akan lihat dari sesuatu yang kamu benci”[15].

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.


[1] HR. Al-Bukhari (6014).

[2] HR. Al-Bukhari (6014) Muslim (2624) Ahmad (23739) At-Tirmidzi (1942) Abu Daud (5151) dan Ibnu Majah (3637).

[3] Fathul Baari (10/456).

[4] HR. At-Tirmidzi (1944) beliau berkata : “hadits hasan gharib”, Ahmad (6530) pentahqiq Al-Musnad berkata : sanadnya kuat berdasarkan syarat Muslim, dan Ad-Darimi (2437).

[5] (10/456).

[6] HR. Al-Bukhari (6020) Ahmad (24895) dan Abu Daud (5155).

[7] Fathul Baari (10/361).

[8] HR. Al-Bukhari (1609) Muslim (2463) dan lafazh hadits dari lafazh beliau, Ahmad (7236) At-Tirmidzi (1353) Abu Daud (3634) Ibnu Majah (2335) dan Malik (1462).

[9] HR. Ibnu Majah (2340) dan Al-Albani menshahihkannya hadits no. (1910 dan 1911).

[10] HR. Al-Bukhari (6018) Muslim (47) Ahmad (7571) dan Abu Daud (5154).

[11] (bawayaqahu-bawaiqahu) : Al-Kasaai berkata : bawaiqahu : kejelekannya, kezhalimannya dan kesewenang-wenangannya. (Lisan Al-’Arab : 10/30) bahasan : ب و ق.

[12]HR. Al-Bukhari (6016).

[13] HR. Muslim (46) dan Ahmad dengan semisal lafazh Muslim (8638) dan yang semisal lafazh Al-Bukhari dari riwayat Abu Syuraih (7818) dan pada riwayat tersebut adanya penafsiran atas sabda Nabi (bawaqiahu). (para sahabat berkata wahai rasulullah dan apakah bawaiqahu itu? Beliau berkata : kejelekannya).

[14] HR. Al-Bukhari (4477) Muslim (86) Ahmad (4091) At-Tirmidzi (3182) An-Nasaa’i (4013) dan Abu Daud (2310).

[15] HR. Abu Daud (5153) Al-Albani berkata : “hasan shahih”.

About these ads

Satu Tanggapan to “Kitab Al-Adab : Adab Bertetangga”

  1. dewhi said

    ma ksi ea,,, artikelnya bermanfaat bnget

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.302 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: