Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Tahu, Protein yang Kaya Kalsium

Posted by Ummu Kautsar pada 29 Mei 2009

Tahu adalah makanan yang empuk, lezat dan bergizi.  Sangat disukai anak-anak karena kelembutannya. Amat tepat sebagai teman bersantap di kala berbuka puasa dan sahur.

Kelembutan teksturnya menyebabkan tahu mudah dikunyah ibarat daging tanpa tulang.  Karena tahu terbuat dari kedele, maka kandungan proteinnya sangat berkualitas.  Daya cernanya mencapai 85% – 98%, dan total protein yang dapat dimanfaatkan tubuh sebesar 65%.

Sebagai makanan rakyat, tahu mudah dijumpai di pasaran.  Harganya relatif murah dan dapat dimasak dengan aneka cara seperti digoreng, dibacem, atau bahkan hanya direbus. Masyarakat menyukai tahu sebagai lauk-pauk dan cemilan.

Kandungan gizi tahu

Protein tahu tidak terlalu tinggi, hal ini disebabkan oleh kadar airnya yang sangat tinggi (84,8%). Makanan-makanan yang berkadar air tinggi umumnya mengandung protein agak rendah.

Kandungan Gizi Tahu per 100 g

Kandungan Gizi

Jumlah

Energi (Kal)

Protein (g)

Lemak (g)

Kalsium (mg)

Air (g)

68

7,8

4,6

124

84,8

Lauk-pauk hewani umumnya mengandung protein lebih tinggi, misalnya telur 12%, daging 18%-20%, ikan 20%, ikan asin 40% dll.   Namun, dengan harga yang lebih mahal membuat masyarakat tidak dapat mengonsumsi lauk-pauk hewani secara rutin setiap hari.  Oleh sebab itu pangan berbahan baku kedele menjadi alternatif lain, selain murah juga memenuhi syarat gizi seperti tahu atau tempe.

Kaya kalsium

Kalsium tahu jumlahnya cukup tinggi (124 mg)—hampir setara dengan kandungan kalsium susu. Kalsium sangat dibutuhkan terutama pada masa kanak-kanak hingga dewasa muda. Pada rentang usia ini, massa tulang mengalami pemadatan karena pengaruh asupan gizi dan olahraga. Membiasakan konsumsi pangan sumber kalsium (termasuk tahu) akan mendukung terbentuknya kerangka tulang yang baik, sehingga di masa tua terhindar dari osteoporosis.

Di negara Barat, kontribusi kalsium terutama bersumber pada dairy products (susu, mentega, es krim, keju dll).  Di negara berkembang seperti Indonesia, kontribusi kalsium dari susu masih sangat rendah.  Masyarakat masih mengandalkan kalsium dari pangan nabati seperti tahu, tempe, dan sayuran.

Cocok untuk Anak

Anak-anak balita dipastikan menyukai tahu. Sebagian anak mengalami kesulitan ketika mengunyah makanan bertekstur keras. Tahu memenuhi syarat karena tekstur yang lembut dan rasa yang netral (tergantung bumbunya). Kreasikan tahu dalam berbagai menu dengan aneka bumbu sehingga anak-anak dapat menikmati.

Di negeri Cina, tahu telah menjadi makanan populer sejak 2000 tahun yang lalu. Tahu sering dijadikan sebagai daging tiruan karena tidak bertulang. Bahkan di Perancis tahu digunakan sebagai pengganti susu dan telur dalam pembuatan kue.  Kepopuleran tahu yang mulai menyebar keman-mana adalah akibat adanya tuntutan konsumen untuk mendapatkan makanan yang segar, sehat, berkalori rendah, dan bercita rasa netral.

Sebagai makanan yang kandungan airnya tinggi, maka tahu cepat mengalami penyimpangan bau maupun rasa.  Namun, untungnya penjual tahu keliling, pasar tradisional, atau pasar swalayan setiap hari menjual tahu yang masih segar sehingga konsumen dapat memperoleh tahu baru dan tidak perlu menyimpan berlama-lama di kulkas.

Menjaga Kualitas Tahu

Cita rasa tahu dan awet tidaknya sangat tergantung pada kualitas kedele, sumber air untuk pembuatannya, sanitasi alat-alat pembuatan tahu, dan pekerjanya. Selama semua unsur tersebut diperhatikan, maka kualitas tahu dapat dipertahankan selama 1-2 hari dengan menyimpannya di kulkas.

Menyimpan tahu:

  • Rendam tahu dalam air bersih untuk mencegah terjadinya pengeringan dan menghalangi pencemaran mikroba pembusuk dari udara. Bila air perendamnya tidak higienis, justru akan lebih mempercepat kerusakan tahu
  • Rebus tahu selama 30 menit, setelah itu rendam dalam air matang.  Keawetan tahu rebusan ini dapat mencapai 4 hari.

Hati-hati formalin

Saat ini diketahui adanya produk tahu yang menggunakan pengawet berbahaya (formalin). Hal ini mengindikasikan lemahnya pengawasan pemerintah terhadap produk makanan yang menjadi hajat hidup orang banyak. Kadar formalin yang dicampurkan mungkin tidak terlalu banyak sehingga konsumen tidak bisa membedakan tahu berformalin atau tanpa formalin. Namun mengingat formalin adalah bahan yang dilarang, maka betapapun kecilnya kandungan formalin dalam tahu, harus tetap dianggap sebagai unsur yang membahayakan kesehatan.

Penelitian yang dilakukan Tresniani (2003) lulusan Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga IPB mengungkapkan bahwa dari 11 industri tahu kuning dan 9 industri tahu putih di Tangerang, semuanya terindikasi menggunakan formalin sebagai pengawet.  Tahu kuning mengandung formalin 3,79 ppm – 27,48 ppm, sedangkan tahu putih 5,15 ppm – 42,44 ppm.

Penelitian tentang keberadaan formalin dalam tahu telah sejak beberapa tahun lalu dilakukan.  Mena (1994) meneliti di DKI Jakarta dan Untayana (1996) di Bogor.  Semuanya menunjukkan bahwa tahu positif mengandung formalin.

Penggunaan formalin untuk makanan jelas dilarang sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1168/Menkes/Per/X/1999. Hal ini mengingat bahaya serius yang akan dihadapi bila formalin masuk ke dalam tubuh. Formalin akan menekan fungsi sel, menyebabkan kematian sel dan keracunan.

Pada binatang percobaan, formalin diperkirakan akan menyebabkan timbulnya kanker. Selain itu organ-organ tubuh hewan juga bakal mengalami kerusakan akibat intake formalin. Dosis 30 ml formalin dapat menyebabkan kematian pada manusia, seseorang mungkin hanya mampu bertahan 48 jam setelah mengkonsumsi formalin dalam dosis fatal. Keracunan formalin menyebabkan radang, iritasi lambung, muntah, diare bercampur darah, kencing bercampur darah, dan gagalnya peredaran darah.

Masalah keamanan pangan di tingkat industri rumah tangga memang sudah sangat kronis. Mereka adalah pelaku-pelaku bisnis yang tidak memperhatikan keselamatan konsumen, karena prinsip dagang yang dipegang adalah mencari keuntungan sebesar-besarnya dengan biaya produksi minimal.

Kita semua berharap pemerintah menindak tegas industri-industri tahu yang diketahui menggunakan formalin. Dengan demikian masyarakat tidak perlu was-was dalam mengonsumsi tahu sebagai makanan yang enak dan bergizi serta cocok untuk semua anggota keluarga.

Sumber : anakku.net

About these ads

5 Tanggapan to “Tahu, Protein yang Kaya Kalsium”

  1. mksh ya infonya

  2. Sadam said

    Wihh.. Tahu..
    Mksh y infonya..

  3. ijal said

    kami berharap kepada pemerintah agar menindak lanjuti pelaku 2 yang melanggar hukum di indonesia demi keselamatan hajat hidup orang banyak

  4. efi said

    makasih ya bwat informasinya…………
    saja jadi mdah buwat ngerjain tugasnya. dan q jg bisa tau semua tentng manfaat dr tahu sendiri.
    se x lagi makaasih.

  5. makasih tas infonya..
    kami sangat berharap pemerintah menindak lanjuti pelaku” yg kurang bertanggung jwb…
    jgan smpai merajalela

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.293 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: