Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Tuberkulostastik, Obat dan Efek Sampingnya

Posted by Ummu Kautsar pada 11 September 2009

Kasus tuberkulosa (TB) digolongkan berdasarkan tempat, infeksi, beratnya penyakit, hasil pemeriksaan bakteriologis dan riwayat pengobatan sebelumnya.

Tempat infeksi :

Disebut TB paru adalah bila penyakit mengenai parenkim paru. TB ekstra paru adalah TB tanpa kelainan radiologist di parenkim paru. Termasuk di dalam kelompok ini TB kelenjar getah bening (mediastinum dan/atau hilus) atau TB dengan efusi pleora. Pasien dengan TB paru  dan ekstra paru didaftarkan sebagai kasus TB paru. TB ekstra paru di beberapa tempat didefinisikan berdasarkan kelainan yang paling berat.

Beratnya penyakit :

Banyaknya bakteri, luasnya lesi dan lokasi anatomis menentukan beratnya penyakit dan pendekatan pengobatan. Dianggap kasus berat bila penyakit tersebut mengancam jiwa (misalnya TB perikardium) atau adanya resiko gejala sisa yang serius (misalnya TB medulla spinalis) atau keduanya.

TB ekstrapulmoler berikut ini dianggap berat: meningitis TB, TB miliaris, perikarditis, peritonitis, efusi pleura bilateral atau luas, medula spinalis, saluran kemih.

TB berikut ini dianggap kurang berat : kelenjar getah bening, efusi pleura unilateral, tulang (kecuali tulang belakang), sendi perifer, kulit.

Bakteriologi:

Sputum BTA positif, bila :

Dua kali pemeriksaan menunjukkan hasil BTA positif, atau satu kali pemeriksaan dengan hasil BTA positif dan hasil pemeriksaan radiologist sesuai dengan TB paru, atau satu kali sputum BTA positif dan hasil kultur positif.

Sputum BTA negatif, bila :

Dua kali pemeriksaan dengan jarak 2 minggu dengan hasil BTA negative. Pemeriksaan radiologis sesuai  dengan TB paru dan gejala klinis tidak hilang dengan pemberian antibiotik spektrum luas selama satu minggu dan dokter memutuskan untuk mengobati dengan pengobatan regimen anti TB secara penuh.

Riwayat pengobatan sebelumnya :

Penting diketahui apakah sebelum ini pasien sudah mendapat pengobatan anti TB atau belum, dengan alasan :

-         identifikasi pasien dengan resiko resistensi dan pemilihan obat yang tepat.

-         Epidemiologi.

  • kasus baru : pasien yang belum pernah mendapat anti TB atau mendapat anti TB selama kurang dari 4 minggu.

Relaps : pasien yang sudah dinyatakan sembuh setelah menyelesaikan regimen pengobatan, tapi BTA sputum kembali positif.

  • Kasus gagal : pasien yang tetap BTA positif atau menjadi positif lagi setelah pengobatan selama 5 bulan. Termasuk juga pasien dengan BTA negative pada awal pengobatan, tapi menjadi positif setelah bulan kedua pengobatan.
  • Pengobatan terputus : pasien yang terputus berobat selama 2 bulan atau lebih dan kembali dengan keadaan BTA positif (kadang-kadang BTA negative tapi pemeriksaan radiologi memberikan kesan TB aktif).
  • Kasus kronik :pasien dengan BTA tetap  positif atau menjadi positif atau menjadi positif lagi setelah menjalani pengobatan ulang dibawah pengawasan.

Prinsip pengobatan

Regimen pengobatan terdiri dari fase awal (intensif) selama 2 bulan dan fase lanjutan selama 4-6 bulan.

Selama fase intensif yang biasanya terdiri dari 4 obat, terjadi pengurangan jumlah kuman disertai perbaikan klinis. Pasien yang infeksi menjadi noninfeksi dalam waktu 2 minggu. Sebagian besar pasien dengan sputum BTA positif akan menjadi negative dalam waktu 2 bulan.

Selama fase lanjutan diperlukan lebih sedikit obat, tapi dalam waktu yang lebih panjang. Efek sterilisasi obat untuk membersihkan sisa-sisa kuman dan mencegah kekambuhan. Pada pasien dengan sputum BTA positif ada resiko terjadinya resistensi selektif. Penggunaan 4 obat selama fase awal dan 2 obat selama fase lanjutan akan mengurangi resiko resistensi selektif. Pada pasien dengan sputum BTA negatif atau TB ekstrapulmoner tidak terdapat resiko resistensi selektif karena jumlah bakteri di dalam lesi relatif sedikit. Pengobatan fase awal dengan 2 obat biasanya sudah memadai.

Pada pasien yang pernah diobati ada resiko terjadinya resistensi. Paduan pengobatan ulang terdiri dari 5 obat untuk fase awal dan 3 obat untuk fase lanjutan. Selama fase awal sekurang-kurangnya 2 di antara obat yang diberikan haruslah yang masih efektif.

Wanita hamil dan ibu menyusui:

Pengobatan standar dengan INH, rifampisin dan pyrazinamid dapat diberikan pada wanita hamil dan menyusui, dianjurkan pemberian piridoksin. Streptomisin tidak boleh diberikan.

Anak-anak:

Anak-anak diberi INH, rifampisin, dan pyrazinamid untuk 2 bulan fase awal dilanjutkan dengan INH dan rifampisin selama 4 bulan. Jika pyrazinamid tidak diberikan selama fase awal, maka pemberian INH dan rifampisin dilanjutkan selama 9 bulan. Untuk anak resiko tinggi infeksi resisten. Etambunol harus termasuk dalam pengobatan 2 bulan fase awal. Akan tetapi diperlukan perhatian khusus pada anak yang kurang dari 6 tahun, karena sulitnya menilai fungsi penglihatan.

Pasien immunocompromised: Pasien terserang kuman TB yang aktif kembali atau infeksi baru. Sering terjadi multi resisten atau infeksi oleh mikrobakterium lain seperti M. Avium. Kultur dan uji kepekaan harus selalu dilakukan. Infeksi M. Tuberkulosis yang peka terhadap obat primer diobati dengan regimen standar selama 6 bulan. Setelah pengobatan, pasien diberi profilaksis jangka panjang dengan INH.

Pantauan hasil terapi

Hasil pengobatan pada pasien BTA positif harus dipantau dengan pemeriksaan sputum. Pemeriksaan dengan cara lain bukan merupakan keharusan. Untuk pasien BTA negative dan TB ekstra paru, hasil pengobatan didasarkan pada pemeriksaan klinis.

Biasanya diperlukan dua kali pemeriksaan ulang sputum.

Pengawasan efek samping

Sebagian besar pasien menyelesaikan pengobatan TB tanpa efek samping yang bermakna, namun sebagian kecil mengalami efek samping. Oleh karena itu pengawasan klinis terhadap efek samping harus dilakukan. Pemeriksaan laboratorium rutin bukan merupakan keharusan.

Petugas kesehatan dapat  memantau efek samping dengan dua cara. Pertama dengan menerangkan kepada pasien untuk mengenal tanda-tanda efek samping obat dan segera melaporkannya kepada dokter.

Kedua, dengan menanyakan secara khusus kepada pasien tentang gejala yang dialaminya.

Efek samping obat tuberkulostatik dapat dibagi efek samping mayor dan minor (lihat tabel).

Tabel efek samping minor pemberian obat TB

Efek samping Kemungkian penyebab Penanganan
Minor dosis - Teruskan obat, periksa
Anoreksia, mual, sakit perut Rifampisin Berikan obat pada malam hari atau sesudah makanan yang lain
Nyeri sendi Pirazinamid Aspirin
Rasa panas di kaki INH Piridoksin 100 mg/hari
Urin kemerahan Rifampisin Terangkan pada pasien

Tabel efek samping mayor pemberian obat TB

Efek samping Kemungkinan penyebab Penanganan
Efek samping Mayor - Hentikan pemberian obat penyebab
Gatal-gatal, kemerahan di kulit Tiasetazon Hentikan pemberian obat yang bersangkutan
Ketulian Streptomisin Hentikan streptomisin ganti dengan etambutol
Pusing, vertigo, nistakmus Streptomisin Hentikan streptomisin ganti dengan etambutol
Ikterus (tanpa sebab lain) Berbagai anti TB Hentikan pemberian anti TB
Muntah, bingung (kecurigaan gagal hati) Berbagai anti TB Hentikan obat, segera periksa fungsi hati dan waktu protrombin
Gangguan penglihatan Etambutol Hentikan etambutol
Syok, purpura, gagal ginjal akut Rifampisin Hentikan rifampisin

Jika efek samping minor, maka pengobatan dapat diteruskan dengan dosis biasa atau kadang-kadang dosis perlu diturunkan. Dapat diberikan pengobatan simtomtastik. Jika timbul efek samping mayor harus ditangani pada saat pelayanan khusus.

Obat-obatan anti tuberkulostatik

Isoniazid (INH) merupakan obat yang cukup efektif dan berharga murah. Seperti rifampisin, INH harus diikutsertakan  dalam setiap regimen pengobatan, kecuali bila ada kontra-indikasi. Efek samping yang sering terjadi adalah neropati perifer yang biasanya terjadi bila ada faktor-faktor yang mempermudah seperti diabetes, alkoholisme, gagal ginjal kronik dan malnutrisi dan HIV. Dalam keadaan ini perlu diberikan peridoksin 10 mg/hari sebagai profilaksis sejak awal pengobatan. Efek samping lain seperti hepatitis dan psikosis sangat jarang terjadi.

Rifampisin merupakan komponen kunci dalam setiap regimen pengobatan. Sebagaimana halnya INH, rifampisin juga harus selalu diikutkan kecuali bila ada kontra indikasi.

Pada dua bulan pertama pengobatan dengan rifampisin, sering terjadi gangguan sementara pada fungsi hati (peningkatan transaminase serum), tetapi biasanya tidak memerlukan penghentian pengobatan. Kadang-kadang terjadi gangguan fungsi hati yang serius yang mengharuskan penggantian obat terutama pada pasien dengan riwayat penyakit hati. Selama fase intermiten (fase lanjutan) dilaporkan adanya 6 gejala toksinitas : influenza, sakit perut, gejala pernafasan, syok, gagal ginjal, purpura trombositopernia, dialami oleh 20-30% pasien. Rifampisin menginduksi enzim-enzim hati sehingga mempercepat metabolisme obat lain seperti estrogen, kortikosteroid, fenitoin, sulfonilurea, dan anti-koagulan. Penting : efektivitas kontrasepsi oral akan berkurang sehingga perlu dipilih cara KB yang lain.

Pyrazinamid bersifat bakterisid dan hanya aktif terhadap kuman intrasel yang aktif memlah dan mycrobacterium tuberculosis. Efek terapinya nyata pada dua atau tiga bulan pertama saja. Obat ini sangat bermanfaat untuk meningitis TB karena penetrasinya ke dalam cairan otak. Tidak aktif terhadap Mycrobacterium bovis. Toksifitas hati yang serius kadang-kadang terjadi.

Etambutol digunakan dalam regimen pengobatan bila diduga ada resistensi. Jika resiko resistensi rendah, obat ini dapat ditinggalkan. Untuk pengobatan yang tidak diawasi, etambutol diberikan dengan dosis 25 mg/kg/hari pada fase awal dan 15 mg/kg/hari pada fase lanjutan (atau 15 mg/kg/hari selama pengobatan). Pada pengobatan intermiten di bawah pengawasan, etambutol diberikan dalam dosis 30 mg/kg 3 kali seminggu atau 45 mg/kg 2 kali seminggu.

Efek samping etambutol yang sering terjadi adalah gangguan penglihatan dengan penurunan visual, buta warna dan penyempitan lapangan pandang. Efek toksik ini lebih sering bila dosis berlebihan atau bila ada gangguan fungsi ginjal.

Gangguan awal penglihatan bersifat subjektif; bila hal ini terjadi maka etambutol harus segera dihentikan. Bila segera dihentikan, biasanya fungsi penglihatan akan pulih. Pasien yang tidak bisa mengerti perubahan ini sebaiknya tidak diberi etambutol tetapi obat alternative lainnya. Pemberian pada anak-anak harus dihindari sampai usia 6 tahun atau lebih, yaitu disaat mereka bisa melaporkan gangguan penglihatan. Pemeriksaan fungsi mata harus dilakukan sebelum pengobatan.

Streptomisin saat ini semakin jarang digunakan, kecuali untuk kasus resistensi. Obat ini diberikan 15 mg/kg, maksimal 1 gram perhari. Untuk berat badan kurang dari 50 kg atau usia lebih dari 40 tahun, diberikan 500-700 mg/hari. Untuk pengobatan intermiten yang diawasi, streptomisin diberikan 1 g tiga kali seminggu dan diturunkan menjadi 750 ng tiga kali seminggu bila berat badan kurang dari 50 kg.

Untuk anak diberikan dosis 15-20 mg/kg/hari atau 15-20 mg/kg tiga kali seminggu untuk pengobatan yang diawasi. Kadar obat dalam plasma harus diukur terutama untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal. Efek samping akan meningkat setelah dosis kumulatif 100 g, yang hanya boleh dilampaui dalam keadaan yang sangat khusus.

Obat-obat sekunder diberikan untuk TBC yang disebabkan oleh kuman yang resisten atau bila obat primer menimbulkan efek samping yang tidak bisa ditoleransi. Termasuk obat sekunder adalah kapreomisin, sikloserin, makrolid generasi baru (azitromisin dan klaritromisin), 4-kuinolon (siprofloksasin dan ofloksasin) dan protionamid.

Sumber : IONI

About these ads

12 Tanggapan to “Tuberkulostastik, Obat dan Efek Sampingnya”

  1. rizekon said

    ok sahabata terimaksih banyak bwt infonya :D

  2. achy said

    Saya punya teman yang menderita TB paru dan TB kelenjar. Dulu dia pernah berobat sekitar kurang lebih 2/3 bulan secara rutin, kemudian terputus sekitar kurang lebih 4 bulan, setelah itu dia sempat batuk darah dan ketika diperiksa TB nya kambuh lagi dan memulai lagi pengobatannya. Perlu diketahui bahwa bobot tubuhnya berkurang secara drastis.
    Setelah 2 bulan minum obat setiap hari (obat dari dokter swasta yang cukup mahal untuk keluarga kami), dahaknya kembali diperiksa dan hasilnya Negative, pengobatan pun dilanjutkan dengan dosis yang lebih rendah (diberikan oleh dokter puskesmas) dan hanya diminum setiap 3 hari sekali.
    Yang saya mau tanyakan apakah itu berarti dia sudah sembuh dan kuman TB nya tidak akan menular lagi ?? berhubung sekitar 1 bulan yang lalu dia menikah dengan kakak sepupu saya. Saya hanya ingin kepastian bahwa dia tidak akan menularkan panyakit tersebut kepada kakak saya. Dan bagaimana kira-kira dengan keputusan mereka untuk tidak menunda momongan, apakah obat yang dia minum tidak akan mempengaruhi perkembangan janinnya nanti ?
    Terima kasih sebelumnya.

  3. Saya kambuh lg setelah 8thn pengbtn 6bln.skrg sudah 8,5 bln mnum obt.timbul masalh wajah sy tmbul ketuaan?bgmn ini?

    • intan said

      bnr bgt tuh…sya stlh berobt slma 1bln lbh dgn sudah 2x gnt obat efek samping’y malah kulit sy jadi kehitaman…hiksss…

  4. rizki said

    terimaksaih infonya… bs untuk data KTI

  5. Ira said

    apakah gatal pada seluruh tubuh setelah minum OAT 2 hari merupakan efek samping obat?

  6. mantap informasinya gan.
    bisa untuk bahan KTI ne…
    Update tterus y..
    terima kasih…

  7. ray said

    pa klo anak sy sekarang terkena TB sudah 2 hri anak sy minum obat yg 6 bulan ga boleh putus.. tp anak sy BABnya mencret klo wrna orange mungkin krn obat.. anak sy mencret itu bahaya ga?? apa itu reaksi obat atau apa dok? soalnya sy mau konsultasi ke specialis anak yg anak sy berobat hri ini ga ada jdwlnya… mohon jawabannya terimakasih sbelumnya

  8. Rajesh said

    Sebulan yg lalu tiba2 saya batuk disertai keluar darah, padahal sdh 1 tahun trakhir tdk pernah batuk, stelah di cek rontgen ada flek terkena TBC katanya, aneh ya tiba2 langsung batuk, tdk ada tanda2 awal, yg beratnya harus minum obat +/- 6 bln ya ?

  9. ichsan said

    Kalau penderita TBC masih saja mengalami sesak nafas walau sudah hampir sebulan minum obat kombinasi TB. Bagaimana penanganannya? perlu berapa bulan pengobatan untuk kembali badan merasa sehat dan segar.

  10. kiki said

    Apa ada yg pernah mengeluh sakit dada (dada terasa sakit bila menelan makanan atau minum). teman saya merasakan keluhan itu setelah minum obat TB 2-3 hari.

  11. […] Tuberkulostastik, obat dan efek sampingnya « kautsar […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.276 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: