Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Beriman Kepada Malaikat (Mengenal Nama dan Sifat Malaikat)

Posted by Abahnya Kautsar pada 30 April 2010

Adalah beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kepada seluruh kitab-Nya, kepada para Rasul-Nya, terhadap (adanya) kebangkitan setelah kematian dan beriman terhadap takdir.

Beriman kepada para malaikat dengan cara meyakini eksistensi (keberadaan) mereka, (membenarkan) nama-nama dan perbuatan-perbuatan mereka yang telah dikhabarkan kepada kita.

Allah I berfirman,

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan Rasul-Rasul-Nya.” (QS. al-Baqarah: 285)

Allah I berfirman,

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-Nabi.” (QS. al-Baqarah: 177)

Dan dalam Shahih Muslim dari hadits Umar bin al-Khaththoab -radhiallahu ‘anhu- yang panjang tentang pertanyaan Jibril kepada Nabi  tentang iman, beliau e bersabda,

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, kepada para malaikat-Nya, kepada seluruh kitab-Nya, kepada para Rasul-Nya, terhadap Hari Akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.”

Sifat Para Malaikat

Sungguh Allah I telah menyifati mereka di dalam Kitab-Nya dengan firman-Nya,

“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisiNya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembahNya dan tiada pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.” (QS. al-Anbiya`: 19-20)

Allah I berfirman,

“Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka itu tidak mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya.” (QS. al-Anbiya`: 26-27)

Allah I berfirman,

“Sesungguhnya malaikat-malaikat yang ada di sisi Tuhanmu tidaklah merasa enggan menyembah Allah dan mereka mentasbihkan-Nya dan hanya kepada-Nyalah mereka bersujud.” (QS. al-A’raf: 206)

Para Malaikat Adalah Para Hamba Allah

Mereka adalah hamba Allah I dan termasuk di antara makhluk-makhluk-Nya yang besar. Mereka tidak berhak (untuk mendapatkan) suatu bentuk ibadah apapun.

Allah I berfirman,

“Dan ingatlah hari yang di waktu itu Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat : “Apakah mereka ini dahulu menyembah kalian?.” Malaikat-malaikat itu menjawab : “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka ; bahkan mereka telah menyembah jin ; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.” (QS. Saba`: 40-41)

Allah I berfirman,

“Dan tidak wajar pula baginya menyuruhmu menjadikan malaikat dan para Nabi sebagai Tuhan. Apakah patut dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kalian sudah menganut agama Islam?.” (QS. Ali ‘Imran: 80)

Di dalam Shahih Muslim dari Aisyah -radhiallahu ‘anha-, beliau berkata, bahwa Rasulullah e bersabda :

“Para malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari api yang menyala-nyala dan Adam diciptakan dari sesuatu yang telah djelaskan kepada kalian.”[1]

Di antara bentuk penciptaan mereka adalah mereka memiliki sayap-sayap. Di antara mereka ada yang memiliki sayap dua-dua, di antara mereka ada yang memiliki (sayap) tiga-tiga, di antara mereka ada yang memiliki empat-empat dan seterusnya.

Allah I berfirman,

“Segala puji bagi Allah Pencipta Langit dan bum, Ynag menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua,tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaanNya apa yang dikehendakinya.Sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” (QS. al-Fathir: 1)

Dalam Shahih al-Bukhari, dari Ibnu Mas’ud -radhiallahu ‘anhu- berkata,

“Sesungguhnya Nabi e telah melihat Jibril dan dia (Jibril) mempunyai 600 sayap.”

Kemampuan Malaikat untuk Berubah Bentuk

Sungguh Allah I telah memberikan kemampuan bagi malaikat untuk berubah menjadi tubuh-tubuh yang elok sebagaimana Jibril -‘alaihis salam- telah menampakkan dirinya kepada Maryam dalam rupa laki-laki yang sempurna, sebagaimana mereka menampakkan diri-diri mereka kepada Ibrahim -‘alaihish shalatu wassalam- ketika mereka masuk ke (rumah) beliau sebagai tamu-tamu yang mulia sebagaimana mereka menampakkan diri-diri mereka kepada Luth -‘alaihis salam- tatkala mereka (para malaikat itu) datang untuk menurunkan siksaan kepada kaum beliau; dan yang semisalnya.

Bantahan Terhadap Kaum Musyrikin yang Mengatakan : Para Malaikat Adalah Puteri-Puteri Allah

Allah I telah membantah kaum musyrikin yang meyakini para malaikat sebagai anak-anak perempuan Allah I, Mahatinggi Allah setinggi-tingginya dari segala yang diucapkan oleh orang-orang yang zhalim.

Allah I berfirman,

“Dan mereka berkata, “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu),adalh hamba-hamba yang dimulyakan.mereka itu tidak mendahuluiNya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang dibelakang mereka, dan mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridhai oleh Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepadaNya.” (QS. al-Anbiya`: 26-28)

Allah I berfirman,

“Tanyakanlah (ya Muhammad) kepada mereka (orang-orang kafir Mekah): “Apakah untuk Tuhanmu anak-anak perempuan dan untuk mereka anak laki-laki, atau apakah Kami menciptakan malaikat-malaikat berupa perempuan dan mereka menyaksikan (nya)? Ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: “Allah beranak.” Dan sesungguhnya mereka benar-benar orang yang berdusta. Apakah Tuhan memilih (mengutamakan) anak-anak perempuan daripada anak laki-laki? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kalian menetapkan? Apakah yang terjadi padamu? Bagaimana (caranya) kalian menetapkan? Maka apakah kalian tidak memikirkan? Atau apakah kalian mempunyai bukti yang nyata? Maka bawalah kitabmu jika kalian memang orang-orang yang benar.” (QS. ash-Shaffat: 149-157)

Kemudian Allah I berfirman tentang para malaikat :

“Tiada seorangpun di antara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu, dan sesungguhnya Kami benar-benar bershaf-shaf (dalam menunaikan perintah Allah). Dan sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (kepada Allah).” (QS. ash-Shaffat: 164-166)

Jibril -‘alaihis salam-

Di antara mereka adalah Jibril -‘alaihis salam- yang bertugas mengantar wahyu. Allah I berfirman,

“Katakanlah : Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al Qur’an) ke dalam hatimu dengan seizin Allah.” (QS. al-Baqarah: 97)

Sungguh Nabi e telah melihat dia (Jibril) di Al-Bath memiliki enam ratus sayap dan kebesaran bentuknya telah menutupi ufuk. Kemudian beliau juga melihatnya pada malam Mi’raj di atas langit sebagaimana yang firman Allah I,

“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.” (QS. an-Najm : 13-15)

Beliau r tidak pernah melihatnya (Jibril) di atas bentuk aslinya kecuali pada dua kejadian ini. Adapun pada waktu-waktu yang lain, maka (beliau melihatnya) dalam bentuk seorang lelaki dan kebanyakannya dalam bentuk rupa Dihyah Al-Kalby.

Allah I telah berfirman tentang Jibril,

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, yang dita’ati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya. Dan temanmu (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.” (QS. At-Takwir : 19-23)

Mika`il -‘alaihis salam

Diantara mereka adalah Mika`il yang mengurusi hujan dan pergerakannya ke arah yang diperintahkan Allah -‘Azza wa Jalla-.

Al-Imam Ahmad telah meriwayatkan (sebuah hadits) dari Anas bahwa Nabi e bersabda kepada Jibril,

“Kenapa saya tidak pernah melihat Mika`il tertawa sedikitpun?” Maka dia –Jibril- menjawab, “Mika`il tidak pernah tertawa sejak diciptakannya Neraka.”

Allah I berfirman tentang Mika`il,

“Barangsiapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. al-Baqarah : 98)

Israfil -‘alaihis salam-[2]

Israfil adalah (malaikat) yang diserahi sangkakala yang dia meniupnya tiga kali tiupan berdasarkan perintah Tuhannya ‘Azza wa Jalla : Tiupan untuk mengagetkan (alam semesta), tiupan untuk mematikan dan tiupan untuk kebangkitan kepada Tuhan semesta alam.

Ketiga malaikat inilah yang disebutkan oleh Nabi r dalam doa beliau ketika shalat al-lail,

“Ya Allah, Tuhannya Jibra`il, Mika`il dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Engkau menghukumi di antara para hamba-Mu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku –dengan idzinMu- kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan.Sesungguhnya Engkau memberikan petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.”

Diriwayatkan oleh Muslim

Dalam Sunan An-Nasa`i dari Aisyah -radhiallahu ‘anha- beliau berkata, Rasulullah e bersabda,

“Ya Allah, Rabb Jibra`il, Mika`il dan Tuhannya Israfil, aku berlindung kepadamu dari panasnya neraka dan adzab kubur.”

Malakul Maut -‘alaihis salam-

Di antara mereka adalah Malakul Maut yang bertugas untuk mencabut ruh (para makhluk). Allah I berfirman,

“Katakanlah: “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa) mu akan mematikan kalian; kemudian hanya kepada Tuhanmulah kalian akan dikembalikan.” (QS. as-Sajadah : 11)

Para Malaikat Penjaga -‘Alaihimus Salam-

Di antara mereka adalah para malaikat yang bertugas menjaga anak Adam dalam semua keadaannya, berupa muqim, safar, tidur dan bangun. Allah I berfirman,

“Sama saja (bagi Tuhan), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari. Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d : 10-11)

Ibnu Abbas -radhiallahu ‘anhuma- dalam menafsirkan firman Allah I ,

“Bagi manusia ada yang selalu mengikutinya bergiliran.”

Beliau berkata, “Mereka Adalah para malaikat yang menjaganya dari depan dan belakangnya. Jika takdirnya telah datang maka mereka (para malaikat itu) akan menyingkir darinya.”

Para Malaikat Pencatat Yang Mulia -‘Alaihimus Salam-

Di antara mereka adalah para malaikat pencatat yang mulia, merekalah yang mencatat amalan-amalan hamba berupa kebaikan dan kejelekan.

Allah I berfirman,

“Padahal sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah) dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu), mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS. al-Infithar : 10-12)

Banyaknya Jumlah Para Malaikat -‘Alaihimus Salam-

Sungguh Nabi e telah mengkhabarkan bahwasanya al-Bait al-Ma’mur di atas langit, setiap harinya dimasuki -dalam sebuah riwayat: shalat di dalamnya- 70.000 malaikat, kemudian mereka tidak kembali lagi.

Barangsiapa Yang Mengingkari Keberadaan Mereka Maka Dia Kafir

Barangsiapa yang mengingkari adanya malaikat, maka sungguh dia telah kafir menurut konsensus kaum muslimin.

Allah I berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.” (QS. an-Nisa` : 136)


Footnote :

[1] Yakni dari tanah.

[2] Lihat Mu’taqod Firoq Al-Muslimin  fil Mala’ikah Al-Muqorrobin karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-‘Aqil.[ed.]

Sumber tulisan : ditulis ulang dari Buku “Aqidah Muslim Dalam Tinjauan Al Qur’an” Hal. 27-36. Penerbit : Daar El Salam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.280 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: