Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Hadits-Hadits Tentang Keharaman Nyanyian dan Alat Musik ( 1 )

Posted by admin pada 6 Februari 2008

Ketahuilah wahai saudaraku sesama muslim bahwasanya hadits-hadits yang warid (datang, tertera) yang menunjukkan keharaman nyanyian dan alat musik ini sangatlah banyak. Jumlahnya lebih dari sepuluh hadits menurut Ibnu Hazm dan Ibnul Qayyim yang secara keseluruhan menunjukkan kepada yang benar-benar menela’ahnya bahwasanya isi dan kandungan yang ditunjukkan oleh matan-matannya –yaitu keharaman ini- secara yakin benar-benar tsabit dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan sekalipun seandainya setiap sanad dari masing-masing hadits ini memiliki ‘illat sebagaimana yang diduga oleh Ibnu Hazm. Hal itu karena mengacu kepada kaidah yang telah disepakati oleh para muhaddits dan ulama sebelumnya yaitu bahwasanya haditst dha’if menjadi kuat oleh karena ia memiliki banyak jalan atau jalur periwayatan sebagaimana yang telah dijelaskan dalam ilmu musthalahul hadits. Karena itu al-hafizh Ibnu Hajar dan yang lainnya menguatkan (menilai kuat) hadits: “…kedua telinga termasuk bagian dari kepala” dalam kitab beliau yang sangat berharga “An-Nukat ‘alaa Ibni Ash-Shalah”, dimana beliau menyebutkan di dalamnya jalan hadits tersebut di atas yang diriwayatkan dari empat orang sahabat, pun beliau menjelaskan ‘illat-illatnya (1/410-415). Setelah itu beliau menyimpulkan sebagai berikut:

“Jika si munshif (yang adil dan jernih dalam melihat suatu permasalahan) telah melihat keseluruhan jalan-jalan ini maka ia akan mengetahui bahwasanya hadits-hadits ini memiliki dasar dan bukan termasuk yang pantas dibuang. Dan mereka (para ulama hadits) pun menghasankan (dinilai hasan dan tidak lagi dha’if) banyak hadits ditinjau dari segi banyaknya jalan  yang dimiliki oleh hadits-hadits tersebut dan bukan karena semata-mata hadits tersebut, Wallahu A’lam.”

Adapun saya telah mengeluarkan sumber atau jalan-jalan hadits tersebut beserta beberapa tambahan dalam kitab saya “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” (Himpunan Hadits-Hadits Shahih) jus 1 dengan no. 56 dan telah dita’qib (ditanggapi, dikomentari) sebahagiannya oleh salah seorang di antara rekan kita yang mulia –semoga Allah Subhanahu wa ta’ala membalas beliau dengan kebaikan-. Sekalipun demikian saya tetap menempatkannya dalam kitab “ Silsilah” saya ini berdasarkan pertimbangan banyaknya jalan yang dimilikinya. Harap lihat al-istidraak nomor 2 pada bagian akhir kitab tersebut (jus 1) cetakan yang baru.

Adapun mengenai hadits-hadits tentang keharaman nyanyian ini maka saya telah memutuskan sebelumnya bahwa saya akan menyebutkan hadits-hadits ini satu-persatu, pun saya akan mentakhrijnya secara teliti dan ilmiyah serta membahas sanad-sanadnya dengan memisahkan sanad yang shahih dari yang tidak shahih sesuai kaidah-kaidah ilmu yang mulia ini (ilmu hadits) begitu-pula menyebutkan lafazh-lafazh yang menunjukkan keharaman. Tetapi kemudian saya melihat bahwa pembahasan akan sangat panjang dan risalah ini akan menjadi sangat tebal serta keluar dari ukuran yang saya inginkan sebelumnya. Oleh karena itu (dengan pertimbangan ini semua) akhirnya saya cukup menyebutkan enam buah hadits yang kesemuanya shahih menurut kaidah-kaidah yang diisyaratkan dalam risalah ini sebelumnya. Keenam hadits ini sebahagian besar adalah shahiih li dzaatihi dan sebahagiannya lagi memiliki lebih dari satu jalan, sedang hadits-hadits yang lainnya bisa dilihat oleh orang yang ingin menela’ahnya di dalam kitab Ibnul Qayyim yang sangat berharga “Ighaatsatul Lahfaan min Mashaa’idisy Syaithaan” juz 1 pada halaman-halaman berikut ini: 239, 248, 251, 254, 256 dan 261-265. [maksudnya: mencari sesuatu yang ia butuhkan, sebagaimana dalam riwayat Al-Isma’ili dalam kitab “Mustakhraj” beliau ].

Hadits Pertama:

Diriwayatkan dari Abu –atau Abu Malik- Al-Asy’ari bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Niscaya akan ada beberapa kaum dari ummatku yang menghalalkan “al-hira” (kemaluan wanita), sutera, khamar dan “al-ma’aaziif (alat musik) dan niscaya akan ada beberapa kaum (dari ummatku) yang pergi ke sisi gunung (lembah), ketika seorang penggembala mereka datang meghadap mereka di waktu sore, ia datang kepada mereka karena suatu hajat1 tapi mereka (para pemimpin tersebut) berkata: “Kembalilah kepada kami esok hari!” sehingga Allah menidurkan mereka dan merendahkan si pemimpin-pemimpin (tersebut) dan merubah bentuk yang lainnya menjadi kera dan babi sampai hari kiamat”.

Hadits ini dita’liq (diungkapkan) oleh Imam Al-Bukhari di dalam kitab hadits beliau “Shahiih Al-Bukhari” dengan ‘shiighatul jazm” (ungkapan yang benar-benar menyatakan bahwa beliau mendengar langsung) dengan satu hujjah sebagaimana yang beliau katakan dalam bab “kitaabul asyribah” (kitab tentang minuman) (10/51/5.590): “Dan Hisyam bin ‘Ammar berkata: “Shadaqah bin Khalid menceritakan kepada kami: “ Abdurrahman bin Yazid bin Jabir menceritakan kepada kami: “‘Athiyyah bin Qais Al-Kullabi menceritakan kepada kami: “Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy’ari berkata: “Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari menceritakan kepada saya –dan demi Allah beliau tidak berdusta kepada saya- bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “… (kemudian beliau menyebutkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tersebut)”.

Syaikhul Islam Imam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab beliau “Al-Istiqaamah” (1/294): “Dan telah shahih hadits yang diriwayatkan Imam Al-Bukhari dalam kitab hadits beliau “Shaahiih Al-Bukhari” tersebut tentang (berbagai) alat musik; riwayat ta’liq namun majzum (dengan shiighatul jazm) dan telah memenuhi syarat beliau sendiri (dalam keshahihan sebuah hadits)”.

Saya berkata: “Dan ta’liq semacam ini bentuknya adalah bentuk ta’liq sebagaimana yang dikatakan oleh al-hafizh Al-‘Iraqi dalam takhrij beliau terhadap hadits ini pada kitab “Al-Mughni ‘an Hamlil Asfaar” (2/271), oleh karena hadits-hadits yang mu’allaqah (yang dita’liq) itu biasanya terputus periwayatannya antaranya dan antara yang menta’liqnya (yang meriwayatkan dengan ta’liq) dan hadits-hadits seperti ini terdiri dari beberapa bentuk yang sudah dikenal sebelumnya. Akan tetapi mengenai hadits Al-Bukhari ini bukanlah diantara bentuk-bentuk yang beragam ini dikarenakan Hisyam bin ‘Ammar adalah salah seorang diantara syaikh-syaikh beliau sendiri dimana beliau berhujjah dengan mereka di hadits-hadits lain dalam kitab hadits beliau “Shahiih Al-Bukhaari” sebagaimana yang telah dijelaskan oleh al-hafizh Ibnu Hajar dalam tarjamah (biografi) Al-Bukhari pada muqaddimah kitab beliau “Fathul Baari”. Dan oleh karena Imam Al-Bukhari tidak dikenal sebagai seorang yang pernah melakukan tadlis, maka ucapan beliau dalam hadits ini: “Telah berkata” dihukumkan sama seperti ucapan beliau: “Dari …”, atau: “Ia menceritakan kepada saya”, atau: “Ia telah berkata kepada saya”. Ini berbeda dengan apa yang dikatakan oleh seorang yang (sangat sering) mendha’ifkan hadits-hadits shahih (yaitu Hassan bin Abdil Mannan) sebagaimana yang akan diuraikan nantinya”.

Dan serupa dengan ucapan al-hafizh Al-‘Iraqi di atas ucapan Ibnu Ash-Shalah dalam kitab beliau “ Muqaddimah ‘Uluumul Hadiits” hal. 72:

“Bentuknya adalah bentuk al-inqithaa’ akan tetapi hukumnya bukanlah hukum al-inqithaa’ dan tidak pula keluar dari batasan hadits shahih sehingga menjadi hadits dha’if”.

Kemudian beliau membantah i’lal Ibnu Hazm (mengatakan adanya ‘illat) atas hadits ini yang menyatakan bahwasanya hadits ini munqathi’ dan akan dijelaskan secara lebih terperinci lagi Insyaa Allah pada pasal tiga nantinya.

Adapun maksudnya bahwasanya hadits ini tidaklah munqathi’ (terputus) antara Imam Al-Bukhari dan Syaikh beliau Hisyam bin ‘Ammar sebagaimana dugaan Ibnu Hazm dan orang-orang yang bertaqlid kepadanya dari para penulis kontemporer seperti yang akan dijelaskan pada pasal tiga insyaa’ Allaahu Ta’aala. Andaipun seumpama hadits ini munqathi’ akan tetapi ’illat ini adalah ‘illat yang nisbi (relatif, spekulatif) yang tidak boleh dijadikan sebagai pegangan, oleh karena hadits ini diriwayatkan pula secara maushuul (bersambung; lawan munqathi’) dari berbagai jalan dari sejumlah huffazh yang tsiqah dimana mereka para huffazh ini juga mendengarnya dari Hisyam bin ‘Ammar. Jadi yang ngotot (tidak mau kalah) mengatakan bahwa hadits ini munqathi’ padahal hadits ini seperti ini keadaannya adalah orang yang takabbur dengan ketakabburan yang nyata, seperti halnya dengan orang yang ngotot mendha’ifkan sebuah hadits yang nota-bene memiliki sanad yang shahih dengan sanad yang dha’if yang ia adakan sendiri.

Kalau begitu marilah kita ketengahkan apa yang telah saya dapatkan dari mereka para huffazh yang tsiqah ini berupa ushuul (dasar atau sumber) hadits ini kemudian kita himpun untuk dijelaskan dan sebagainya.

Sumber Pertama: Ibnu Hibban berkata dalam kitab hadits beliau “Shahiih Ibbu Hibban” (8/265/6.719-Al-Ihsaan): “Al-Husain bin Abdullah Al-Qaththan memberitakan kepada kami bahwasanya beliau berkata: “Hisyam menceritakan (menyebutkan) hadits ini kepada kami sampai lafazh ”al-maaziif”. Dan Al-Qaththan ini (Husain bin Abdullah) adalah seorang yang tsiqah, hafizh hadits dan “mutarjam” (sudah disebutkan biografi beliau) dalam kitab “As-siyar” (“Siyaru A’laamin Nubalaa’”) (14/286).

Kedua: Ath-Thabrani berkata dalam kitab hadits beliau “Al-Mu’jamul Kabiir” (3/319/3.417) begitu-pula Da’laj dalam kitab “Musnad Al-Muqilliin/Al-Muntaqaa minhu Riwaatudz Dzahabii” (1/1-2) dimana keduanya berkata: “Musa bin Sahl Al-Juwani Al-Bashri menceritakan kepada kami: “Hisyam bin ‘Ammar menceritakan kepada kami hadits ini”, yang redaksinya sama seperti hadits Al-Bukhari (di atas). Dan dari jalan Ath-Thabrani ini diriwayatkan pula oleh Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisi dalam kitab “Muwaafaqaatu Hisyaam ibni ‘Ammaar” (37/1-2).

Adapun Musa bin Sahl ini adalah juga seorang yang tsiqah, hafizh dan “mutarjam” dalam kitab “As-Siyar” (14/261) dan disebutkan pula bersama beliau dalam ktab tersebut Da’laj. Adapun Da’laj sendiri yang bernama asli Muhammad bin Isma’il bin Mahran Al-Isma’ili –bukan Al-Isma’ili penulis kitab AlMustakhraj- seorang yang tsiqah, hafizh dan tsabat (kuat, teguh hafalannya).

Ketiga: Ath-Thabrani berkata dalam kitab “Musnad Asy-Syaamiyyiin” (1/334/588): “Muhammad bin Yazid bin (dalam kitab asli disebutkan: “dari”, bukan “bin”) Abdushshamad Ad-Dimasyqi menceritakan kepada kami: “Hisyam bin ‘Ammar menceritakan kepada kami hadits tersebut (di atas). Dan Muhammad bin Yazid ini “mutarjam” dalam kitab Ibnu Asakir “Taariikh Dimasyq” (16/124) dengan riwayat sejumlah ulama dari beliau dan beliau juga menyebutkan bahwa Muhammad bin Yazid wafat pada tahun 269 H.

Keempat: Al-Isma’ili berkata dalam kitab beliau “Al-Mustakhraj ‘alaa Ash-Ashahiih” dimana Al-Baihaqi meriwayatkan dalam kitab hadits beliau “Sunan Al-Baihaqi” (10/221) dari jalan beliau juga: “Al-Hasan bin Sufyan menceritakan kepada kami: “Hisyam bin ’Ammar menceritakan kepada kami hadits tersebut (di atas). Dan Al-Hasan bin Sufyan Al-Khurasani An-Naisaburi (seorang yang berasal dari Khurasan Naisabur) ini hafizh yang tsabat dan termasuk diantara para syaikh Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan yang lainnya dari para huffazh, juga “mutarjam” dalam kitab “As-Siyar” (14/157-162) begitu-pula dalam kitab “Tadzkiratul Huffaazh”.

Masih ada empat hafizh lagi yang mendengar hadits ini dari Hisyam bin ‘Ammar yang kesemuanya dikeluarkan (disebutkan) oleh al-hafizh Ibnu Hajar dalam kitab beliau “Taghliiqut Ta’liiq” (5/17-19) serta Adz-Dzahabi dari sebahagian dari mereka dalam kitab beliau “As-siyar” (21/517 dan 23/7).

Kemudian ditambah lagi bahwasanya Hisyam bin ‘Ammar tidak sendirian dalam hal ini, tidak beliau dan tidak pula syaikh beliau (Shadaqah bin Khalid) akan tetapi beliau berdua diikuti oleh yang lainnya. Abu Dawud dalam kitab hadits beliau “Sunan Abi Daawud” (4039) berkata: “Abdul Wahhab bin Najdah menceritakan kepada kami: “Bisyr bin Bakr menceritakan kepada kami dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir dengan sanadnya yang telah disebutkan dari Abu ‘Amir atau Abu Malik dan marfuu’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan nash (lafazh): “Niscaya akan ada beberapa kaum dari ummatku yang menghalalkan “al-khazz” (tenunan dari sutera), kain sutera … … dst, dan selanjutnya beliau menyebutkan lafazh: “dan yang lain dari mereka dirubah bentuknya menjadi kera dan babi sampai hari kiamat”.

Saya berkata: “Dan ini adalah isnad (periwayatan; sanad) yang shahih dan muttashil (bersambung) sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim dalam kitab beliau “Al-Ighaatsatul Lahfaan“ (1/260) mengikut kepada Syaikh beliau dalam kitab ”Ibthaalut Tahliil” (hal. 27), akan tetapi di dalamnya tidak secara tegas disebutkan tentang hal yang dimaksud (tema permasalahan; maudhi’usy syaahid) tetapi hanya merupakan isyarat berupa ucapan beliau: “dan selanjutnya beliau menyebutkan lafazh”. Namun pernyataan tegas tentang hal mendengarkan langsung ini terdapat dalam riwayat dua orang hafizh yang lain yang kedua-duanya tsiqah, yaitu: Abdurrahman bin Ibrahim yang dikenal dengan nama “Duhaim” dimana beliau ini berkata: “Bisyr bin Bakr menceritakan kepada kami hadits Al-Bukhari tersebut (di atas): ““Niscaya akan ada beberapa kaum dari ummatku yang menghalalkan “al-hira” (kemaluan wanita), sutera, khamar dan “al-ma’aaziif (alat musik)…”. (dikeluarkan oleh Abu Bakr Al-Isma’ili dalam kitab “Al-Mustakhraj ‘alaa Ash-shahiih” sebagaimana disebutkan dalam kitab ”Fathul Baari” (10/56) dan dalam kitab “Taghliiqut Ta’liiq” (5/19), dan dari jalan Al-Isma’ili ini pula Imam Al-Baihaqi meriwayatkannya dalam kitab hadits beliau “Sunan Al-Baihaqi” (3/272).

Sedang hafizh yang lainnya adalah Isa bin Ahmad Al-Asqalani [tarjamah beliau yang bagus disebutkan dalam “At-Tahdziib”. Dan sejumlah ulama terdahulu serta yang belakangan telah mentsiqahkan beliau, diantaranya Imam An-Nasa’i Al-Khalili dan al-hafizh Ibnu Hajar ], dimana beliau berkata: “Bisyr bin Bakr menceritakan kepada kami hadits ini”, hanya saja beliau menyebutkan lafazh “al-khizz” (dengan huruf “khaa’” dan “zaa’”; al-mu’jamah) sedang yang rajih (kuat) adalah dengan huruf “haa’” dan “raa’” (“al-hir”; dengan al-muhmalah; tanpa titik pada kedua huruf tersebut) sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat Al-Bukhari dan yang lainnya. (lihat kitab “Fathul Baari” (10/55)).

Riwayat di atas dikeluarkan oleh Ibnu Asakir dalam kitab “Taariikh Dimasyq” (19/156) dari jalan al-hafizh Abi Sa’id Al-Haitsam bin Kulaib Asy-Syasyi dimana beliau berkata: “Isa bin Ahmad Al-Asqalani menceritakan kepada kami hadits ini secara panjang lebar”. Jalan ini luput dari pengamatan al-hafizh Ibnu Hajar sehingga beliau tidak menyebutkannya dalam kitab beliau “Fathul Baari” bahkan tidak pula dalam kitab “Tahgliiqut Ta’liiq”, maka segala puji bagi Allah Subhanahu wa ta’ala atas taufikNya ini (kepada saya) serta saya mohon tambahan atas karuniaNya ini.

Sehubungan dengan ini semua maka saya menyimpulkan:

“Orang yang diisyaratkan sebelumnya mendha’ifkan hadits-hadits shahih ini maka sungguh ia telah memperlihatkan aib dirinya sendiri akibat keberaniannya mendha’ifkan hadits Al-Bukhari yang shahih ini apatah lagi ditinjau dari keseluruhan jalan atau sumbernya, serta usahanya dalam menelusuri hadits-tersebut dengan berbagai uslub yang simpang-siur dan janggal yang (sebenarnya) tidak akan mungkin dilakukan oleh seorang yang takut kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, atau minimal yang malu kepada sesamanya manusia. Karena sungguh telah nampak di dalamnya kebohongan serta perlakuan tadlisnya begitu-pula penyimpangannya terhadap kaidah-kaidah ilmiyah dan hukum-hukum atau aturan para nuqqad (penaqad) yang mereka ini adalah para huffazh hadits dari ummat ini. Pun menampakkan kebodohannya sendiri akan ilmu mereka para huffazh tersebut yang dalam hal ini adalah makalahnya yang dimuat di harian “Ar-Ribath” yang terbit di Yordania [yang kemudian diulangi lagi oleh beliau dalam ta’liq beliau yang ditumbangkan oleh kitab Ibnul Qayyim “Ighaatsatul Lahfaan” (1/369-370)]. Adapun saya telah membantahnya secara terperinci dalam kitab “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-shahiihah” pada akhir juz pertama bagian “al-istidraak” no. 3 cetakan yang baru yang telah pula diterbitkan, dan segala puji bagi Allah untuk itu. Dan saya juga sudah menyinggung masalah ini dalam muqaddimah kitab saya yang baru “Dha’iif Al-Adab Al-Mufrad” (hadits-hadits dha’if yang terdapat dalam kitab “Al-Adab Al-Mufrad”) hal. 14-16. Pun saya melihat adalah dharuri (suatu hal yang sangat penting dan harus) untuk menyimpulkan beberapa poin penting yang dapat dijadikan sebagai ibrah (pelajaran dan hikmah) oleh orang-orang yang ingin mendapatkan ibrah dan semoga ia (si mudha’iful hadits) termasuk diantara mereka orang-orang yang menginginkan ibrah ini.

Beliau dalam hal ini telah bertaqlid kepada Ibnu Hazm yang telah mengi’lal (menetapkan suatu ‘illat) hadits ini berupa al-inqithaa’ antara Al-Bukhari dan Syaikh (guru) beliau Hisyam bin ‘Ammar. Beliau menolak bantahan para huffazh hadits atas i’lal Ibnu Hazm ini yang justru kebenaran ada di pihak mereka dan bukan pada beliau. Beliau menolaknya karena angkuh dan sombong. Bukan hanya itu, beliau bahkan memunculkan ’illat lain yang tidak pernah dikatakan sebelumnya oleh siapapun sekalipun oleh seorang Ibnu Hazm yang beliau ikuti dalam hal ini. Beliau mengklaim bahwa (diantara) perawi hadits ini (‘Athiyyah bin Qais) adalah seorang yang tidak dikenal, berbeda dengan seluruh huffazh yang menyebutkan biografi sang perawi serta mentsiqahkannya (sebagai dalil bahwasanya sang perawi (‘Athiyyah) adalah seorang yang sangat dikenal di kalangan para huffazh). Sebagaimana beliau juga berselisih dengan penilaian lebih dari sepuluh huffazh dimana mereka semuanya menegaskan keshahihan hadits ini begitu-pula sanadnya yang kuat. Pun kebanyakan dari mereka ini telah membantah Ibnu Hazm sang muqallad (yang diikuti) oleh si muqallid ini (beliau) dan beliau mengetahui semua ini, akan tetapi sebagaimana ungkapan seorang yang berkata: “Mata kampak, sekalipun ia sampai terbang!”

Beliau menduga bahwasanya pernyataan Imam Al-Bukhari: “Si fulan berkata kepada saya” misalnya sama dengan pernyataan: “Si fulan berkata”, dimana kedua-duanya dihukumkan sebagai munqathi’! Jadi beliau menisbahkan Imam Al-Bukhari sebagai seorang pelaku tadlis yang nyata (menyembunyikan kejadian yang sebenarnya), yang tidaklah mungkin seorang yang berakal akan ridho dan menerima nisbah seperti ini sekalipun oleh si pendosa ini (beliau) yang bodoh akan dirinya sendiri. Jika tidak seperti itu, maka jika beliau misalnya berkata: “Si Fulan berkata kepada saya” maka beliau wajib untuk tidak dibenarkan atau tidak dipercaya! Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari kebodohan, sifat ‘ujub, kebohongan dan kelalaian.

Diantara kebodohan dan kelalaian ini pula bahwasanya beliau menyatakan dengan tegas pengingkaran beliau terhadap adanya lafazh “al-ma’aazif” dalam riwayat Al-Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam hadits Bisyr bin Bakr, padahal lafazh tersebut ada di dalam hadits ini sebagaimana yang anda lihat [saya berkata: “Dan beliau tetap bersikeras menyatakannya dalam ta’liq beliau yang tadi dikemukakan tanpa sedikitpun rasa malu]. Pun beliau berpura-pura tidak mengetahui riwayat Ibnu Asakir yang telah dipaparkan di atas dimana didalamnya terdapat lafazh “al-ma’aazif” ini. Beliau tidak menyebutkan riwayat tersebut padahal beliau mengetahuinya karena beliau (pasti) telah melihatnya dalam kitab “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahiihah” yang beliau tuangkan bantahan beliau atasnya dalam mendha’ifkan hadits ini dan seterusnya dari berbagai perlakuan yang menghina, merusak dan sangat disesalkan. Kita memohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Inilah, dan seorang ‘Athiyyah bin Qais yang tsiqah tidak sendirian dalam hal ini sekalipun si mudha’iiful hadits ini tidak ridha dan setuju akan hal ini. Bahkan ‘Athiyyah diikuti oleh dua perawi hadits yang lain:

Yang pertama: Malik bin Abi Maryam, dimana beliau berkata: “Dari Abdurrahman bin Ganm bahwasanya beliau mendengar Abu Malik Al-Asy’ari meriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Niscaya akan ada segolongan manusia dari ummatku yang meminum khamar (dimana) mereka menamakannya dengan yang bukan namanya (yang sebenarnya; nama-nama yang lain), dimainkan al-ma’aazif serta penyanyi-penyanyi perempuan di dekat kepala-kepala mereka, Allah menghinakan  mereka di muka bumi serta menjadikan diantara mereka kera-kera dan babi-babi”. (dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam kitab “At-Taariikh” (1/1/305) dimana beliau berkata: “Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, beliau juga berkata: “Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepada saya dari Hatim bin Huraits dari Malik bin Abi Maryam hadits tersebut di atas.

Dan beliau berkata (Malik bin Abi Maryam) berkata tentang tarjamah Ka’ab bin ‘Ashim Al-Asy’ari bahwasanya kuniyah beliau adalah Abu Malik. Dan dikatakan bahwasanya nama Abu Malik adalah juga ‘Amr, dan beliau termasuk sahabat Radhiyallahu ‘anhu beliau berkata: “Abu Shalih berkata kepada saya: “Dari Mu’awiyah bin Shalih bahwasanya beliau meriyawatkan hadits ini (dan disebutkan) secara ringkas (tidak lengkap)”. Adapun lengkapnya dikeluarkan oleh Ibnu Majah (4020), Ibnu Hibban (1384-Mawaarid), Al-Baihaqi (8/295 dan 10/231), Ibnu Abi Syaibah dalam kitab “Al-Mushannaf” (8/108/3810), Ahmad (5/342), Al-Mahamiliyy dalam kitab “Al-Amaalii” (101/61) [ dan redaksinya: “Dari Malik bin Abi Maryam bahwasanya beliau berkataa: “Adalah kami berada di dekat  Abdurrahman bin Ghanm dan bersama kami ikut pula Rabi’ah Al-Jarsyi, lalu mereka (yang berada bersama kami) membicarakan khamar, maka Abdurrahman bin Ghanm pun menuturkan hadits ini”, dan Rabi’ah Al-Jarsyi ini seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dimana beliau juga meriwayatkan sebuah hadits yang sama. Akan dikemukakan selanjutnya pada hadits keenam dengan sanad yang kuat, maka tunggulah! ], Ibnul A’rabi dalam kitab mu’jam beliau (1/182), Ath-Thabrani dalam kitab “Al-Mu’jamul Kabir” (3/320-321), Ibnu Asakir dalam kitab “Taariikh Dimasyq” (16/229-230) dan al-hafizh Ibnu Hajar dalam kitab “Taghliiqut Ta’liiq” (5/20-21) dari berbagai jalan dari Mu’awiyah bin Shalih.

Saya berkata: “Dan inilah isnad dimana para perawinya adalah orang-orang yang tsiqah terkecuali Malik (Malik bin Abi Maryam) ini yang tidak begitu dikenal kecuali dari riwayat Hatim (Hatim bin Huraits) yang meriwayatkan dari beliau. Jadi Malik adalah majhuul (seorang yang kurang dikenal), karena itu al-hafizh Ibnu Hajar berkata bahwa riwayat beliau maqbuul (bisa diterima); artinya jika beliau diikuti (ada perawi-perawi lain) seperti halnya dalam hadits ini. Sekalipun demikian Ibnu Hibban tetap menyebutkan beliau dalam kitab “Ats-Tsiqaat” (perawi-perawi yang tsiqah) (5/386) (sebagai tanda bahwa beliau seorang yang tsiqah) dan bisa jadi merupakan dasar atau alasan diamnya Al-Mundziri (sebagaimana yang disebutkan) dalam kitab “At-Targhiib” (3/187) atas tashhiih (penilaian akan keshahihan suatu riwayat) Ibnu Hibban atas beliau. Oleh karena itu disebutkan dalam meriwayatkan dari beliau dengan lafazh “’an” (dari), begitu-pula dengan pernyataan Ibnul Qayyim di dua tempat pada kitab “Al-Ighaatsah” tepatnya pada (1/347 dan 361), yang bunyinya: “Dan ini adalah isnad yang shahih”, sekalipun Ibnu Taimiyah menghasankannya sebagaimana yang akan dijelaskan nantinya.

Benar, hadits beliau ini shahih berdasarkan keterangan-keterangan di atas begitu-pula karena al-mutaaba’ah (diikuti) dan secara keseluruhan memiliki sejumlah syawahid (saksi-saksi atau riwayat yang mendukung) seperti yang disebutkan dalam kitab “Silsilah Ash-Shahiihah” (1887).

Adapun pernyataan si mudha’iif yang tertipu ini yang belum merasa puas dalam mendha’ifkan isnad ini dengan kebodohannya yang telah dijelaskan di atas dimana saya telah menegaskannya pula dalam kitab “Silsilah Ash-Shahiihah” (90), bahkan beliau menambahkan dalam hal meragukan ketsiqahan Hatim bin Huraits, dimana beliau berkata dalam akhir makalah beliau yang diisyaratkan sebelumnya: “Dan Hatim memiliki kelemahan dan masih perlu dipertanyakan, beliau juga seorang yang tidak dikenal”, maka saya mengatakan sebagai berikut:

“Hendaklah para pembaca menyimak dengan seksama bualan  seakan-akan beliau pandai dalam masalah ini begitu-pula   “silat lidah’ beliau! Perhatikanlah, karena sesungguhnya kalimat beliau yang kedua diatas (“tidak dikenal”) adalah kalimat yang pernah diucapkan oleh sebahagian imam yang sebenarnya tidak berdasar seperti yang akan diuraikan nantinya. Adapun kalimat sebelumnya (“lemah, dha’if”), maka itu adalah perkataan yang sia-sia atau omong kosong, sufisthah (mengingkari hakikat sebenarnya) dan tadlis, karena sesungguhnya tidak ada satupun dari para imam yang mendha’ifkannya pun tidak pernah ada yang menyatakan bahwa Hatim masih perlu dipertanyakan (tidak boleh langsung diterima). Yang ada adalah seperti ucapan Ibnu Ma’in tentang beliau (Hatim) -itupun sudah yang paling “ekstrim”-: “saya tidak mengenalnya (mengetahuinya)”. Toh ucapan ini pun dibantah oleh seorang murid Ibnu Ma’in sendiri yaitu Utsman bin Sa’id Ad-Darami seorang imam sekaligus hafizh hadits (penulis kitab hadits “Sunan Ad-Darami”). Beliau ini (Imam Ad-Darami) menceritakan dalam kitab tarikh beliau tentang Ibnu Ma’in (101/287):

“Saya (Ad-Darami) berkata: “Dan Hatim bin Huraits Ath-Tha’I, maka bagaimana dengan beliau?”.

“Saya tidak mengenalnya”, jawab Ibnu Ma’in guru beliau.

“Beliau seorang “Syamii” (orang Syam) yang tsiqah”, jawabku setelah berkata seperti itu.

Saya selanjutnya berkata: “Dan diantara yang pernah ditetapkan oleh para ulama adalah bahwasanya seseorang yang mengetahui sesuatu merupakan hujjah (dalil, pegangan) bagi yang tidak mengetahuinya. Ibnu ‘Adiyy pernah berkata dalam kitab “Al-Kaamil” (2/439) tentang beliau: “Dan karena kedudukan hadits beliau yang tidak dikenal oleh Yahya, akan tetapi saya berharap (menilai) bahwa hal tersebut tidaklah mengapa”.

Inilah dua orang imam yang mengetahui tentang beliau (Hatim) dan mentsiqahkannya, ditambah lagi dengan tautsiq (pentsiqahan) Ibnu Hibban atas beliau sebagaimana yang terdapat dalam kitab “Shahiih Ibnu Hibban” (4/178). Pun pernyataan Ibnu Sa’ad bahwasanya beliau seorang yang dikenal, yang maksudnya: dikenal sebagai seorang yang adil sebagaimana tautsiq saya yang saya sebutkan dalam bagian alistidraak yang telah diisyaratkan sebelumnya. Jadi, apa yang menyebabkan “si tertipu ini” yang telah dibinasakan oleh ambisinya sendiri untuk terkenal dan tersohor sekalipun itu sampai memfitnah atau mencemarkan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi menyalahi kaidah manthiqiyah ilmiyah: “siapa yang mengenal atau mengetahui sesuatu maka ia menjadi hujjah bagi yang tidak mengetahuinya”?!.

Dan diantara tadlis beliau lagi yang begitu sempurna serta pelecehan beliau terhadap saya adalah ucapan beliau selanjutnya setelah pernyataan beliau tentang Hatim di atas yang bunyinya: “Dan orang yang menghasankannya (menilai hasan, baik Hatim) tidaklah sama dengan orang yang berkomentar tentang beliau”, dimana ucapan ini sebenarnya ditujukan kepada tautsiq saya atas Hatim sehubungan dengan pernyataan saya secara global (umum) dalam kitab “Silsilah Ash-Shahiihah” yang berbunyi: “saya berkata: “Dan perawi-perawi hadits ini semuanya tsiqah  kecuali Malik bin Abi Maryam (dimana Hatim meriwayatkan dari beliau)”.

Jika anda sudah mengetahui hal ini, maka sunggguh ucapan beliau di atas ini mengingatkan saya kepada sebuah ungkapan yang sangat masyhur: “Mula-mula melempar saya kemudian lari (kabur)” (“lempar batu sembunyi tangan”), karena kalimat beliau: “yang menghasankan” beliau maksudkan dengan tautsiq (mentsiqahkan), hanya saja beliau tidak secara langsung mengatakan demikian dikarenakan jika beliau mengatakannya secara langsung misalnya dengan mengatakan: “Dan orang yang mentsiqahkannya tidaklah sama dengan yang berkomentar tentangnya”, maka yang dimaksud atau yang dituju pastilah Ad-Darami dan Ibnu ‘Adiyy oleh karena mereka berdualah yang telah mentsiqahkannya sebagaimana yang telah dijelaskan. Kesimpulannnya, beliau telah mengalihkan kalimat tersebut menjadi kalimat yang dimaksud sebagai tipu-daya dan tadlis dari beliau, pun agar pembaca menganggap bahwasanya saya    adalah satu-satunya yang menghasankan beliau padahal kenyataannya –seperti yang anda lihat- saya hanyalah seorang muttabi’ (yang mengikut) dalam hal ini dan dialah yang mubtadi’ (yang mengadakan sesuatu yang baru), karena ucapan beliau: “yang berkomentar tentangnya” adalah ditujukan kepada pernyataan Ibnu Ma’in di atas yang bunyinya: “Saya tidak mengetahuinya”. Padahal ucapan Ibnu Ma’in ini dimaksudkan bahwasanya beliau tidak mengetahui (perihal tentang Hatim) secara jarh dan ta’dil (adil tidaknya Hatim dalam hal ini), dan bukanlah dimaksudkan sebagai pernyataan jarh (tidak adil) dan tidak pula sebagai tadh’if (penegasan bahwa Hatim seorang yang dha’if). Dan sebenarnya ucapan seperti: “berkomentar tentangnya” tidaklah benar atau tidak pantas menurut istilah para ulama. Jadi, ucapan si mubtadi’ tadi: “memiliki kelemahan” menyalahi pernyataan Ibnu Ma’in ini terlebih lagi menyalahi ucapan orang yang mentsiqahkan, bahkan menyalahi semua ucapan para imam tentang Hatim, sehingga ungkapan seperti: “siapa yang menggali lubang untuk saudaranya maka ia sendiri yang akan terperosok kedalamnya” sangat cocok baginya!.

Dan mohon ma’af kepada para pembaca yang arif dan bijak atas uraian yang panjang ini dan semisalnya yang (sebenarnya) tidak perlu dikemukakan seandainya bukan karena tujuan untuk membantah musuh-musuh AS-Sunnah yang shahih dan membuka kedok kebohongan serta metoda dan cara tadlis mereka.vvhvvnhhfh

Adapun mutabi’ yang kedua adalah: Ibrahim bin Abdul Humaid bin Dzi Himayah dimana beliau ini meriwayatkan dari yang memberitakan kepada beliau dari Abu Malik Al-Asy’ari atau Abu ‘Amir bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai khamar dan al-ma’aazif ini.

Seperti itulah yang dikeluarkan (diriwayatkan) oleh Imam Al-Bukhari dalam tarjamah Ibrahim bin Abdul Humaid ini pada kitab “At-Taariikhul Kabiir” dimana Al-Bukhari berkata (1/1/304-305): “Sulaiman bin Abdurrahman mengatakannya kepada saya, beliau berkata: “Al-Jarrah bin Mulaih Al-Himshi menceritakan kepada kami bahwasanya beliau berkata: “Ibrahim (bin Abdul Humaid) menceritakan kepada kami”.

Saya berkata: “Dan ini merupakan mutaba’ah (ikutan) yang sangat kuat dan mendukung bagi Malik bin Abi Maryam serta ‘Athiyyah bin Qais, apatah lagi oleh karena Ibrahim ini satu generasi dengan beliau berdua. Maka jika yang diberitakan kepadanya (si penerima berita) di sini adalah Abdurrahman bin Ganm maka Abdurrahman ini mutabi’ bagi keduanya sebagaimana yang tampak, dan jika sekiranya bukan Abdurrahman maka orang tersebut mengikut secara tidak terang-terangan, bahkan mutabi’ kepada Abdurrahman bin Ganm ini. Yang jelas kedua kemungkinan di atas kedua-duanya merupakan isnad yang kuat dalam hal syawahid (dukungan, kesaksian) dan mutaba’aat  (ikutan) dimana kesemua perawinya adalah orang-orang yang tsiqah –dengan mengecualikan yang memberitakan- dan “mutarjam” dalam kitab “AtTahdziib” kecuali Ibrahim bin Abdul Humaid ini, akan tetapi beliau pun seorang yang tsiqah dan dikenal lewat riwayat sejumlah perawi-perawi yang tsiqah dalam kitab “Taariikhu Ibni Asaakir”
(1/454-455) dan yang lainnya serta lewat tautsiq sejumlah huffazh. Misalnya saja pernyataan Abu Zahrah Ar-Razi: “Mengenai beliau tidak ada apa-apa”. Begitu-pula dengan pernyataan Ath-Thabrani dalam kitab “ Al-Mu’jamush Shaghiir”: “Beliau salah seorang dari kaum muslimin yang tsiqah”. Dan Ibnu Hibban juga telah mengenalkan biografi beliau dengan sangat baik dimana beliau disebutkan dalam golongan orang-orang tsiqah oleh Ibnu Hibban serta digelar dengan kuniyah Abu Ishak, Ibnu Hibban berkata (6/13): “Beliau  salah seorang fuqaha’ Syam serta pernah menjabat sebagai qadhi di Himsh (daerah atau kota di wilayah Syam). Beliau meriwayatkan dari Ibnu Al-Munkadir serta Humaid Ath-Thawil dan yang meriwayatkan dari beliau adalah Al-Jarrah bin Mulaih serta orang-orang di negeri beliau. Pada tahun-tahun terakhir beliau wafat, beliau pindah ke negeri Antharsus dan wafat di sana sebagai orang yang zuhud”.

Inilah pernyataan-pernyataan para imam kita tentang Ibrahim ini yang merupakan ta’dil dan tautsiq (menilai adil dan tsiqah), maka bagaimana pula dengan sikap si mudha’iif hadits-hadits shahih dari semua ini? Sungguh ia berpura-pura buta dari ini semua serta tidak menghargai sama sekali sebagaimana yang memang menjadi tabiat dan kebiasaannya. Ia memunculkan sendiri pendapat yang tidak pernah dimunculkan sebelumnya oleh siapapun. Ia pun mengatakan di akhir makalahnya yang tadi disebutkan sebelumnya, sebagai berikut: 

“Jadi, Ibrahim masih perlu dipertanyakan [demikian pula yang beliau katakan dalam ta’liq beliau yang tadi saya sebutkan! Semoga Allah Subhanahu wa ta’ala menunjuki beliau ] (sekalipun) beliau “mutarjam” di sisi Al-Bukhari, Ibnu Hatim dan Ibnu Hibban”.

Lihatlah, maka apa yang dikatakan oleh para pembaca mengenai sikap lelaki ini terhadap ucapan dan pernyataan para imam kita serta tindakannya yang mendahulukan pendapatnya sendiri yang nota-bene dibangun di atas kebodohan dan hawa- nafsu? Kita mohon keselamatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Kemudian saya menemukan dua fa’idah dalam takhrij hadits ini, yaitu:

Pertama: ucapan Imam Al-Bukhari dalam riwayat beliau pada hadits Ibnu Shalih dari Mu’awiyah bin Shalih yang bunyinya: “Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami”, dimana Abdullah bin Shalih ini adalah Abu Shalih sendiri, dan ucapan beliau di lain tempat –sebagaimana yang telah dikemukakan- yaitu: “Abu Shalih berkata kepada saya” adalah merupakan dalil yang qath’i yang menunjukkan bahwasanya tidak ada perbedaan di sisi (atau bagi) beliau antara kedua ucapan tersebut: “ia menceritakan kepada kami” dan “ia berkata kepada saya”, dan bahwasanya ucapan beliau: “Si Fulan berkata kepada saya” misalnya adalah ucapan yang muttashil dan bukan munqathi’ seperti yang diduga oleh “si bodoh” akan ilmu dan bahasa dua-duanya sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya.

Kedua: ucapan Imam Al-Bukhari setelah hadits Ibrahim –yang didalamnya ada keraguan mengenai nama sahabat yang meriwayatkan hadits seperti yang diisyaratkan dalam ucapan beliau: “Abu Malik Al-Asy’ari atau Abu ‘Amir”- yang berbunyi: “Ini diketahui hanyalah dari Abu Malik”, maka saya mengatakan:

“Ucapan ini mengandung isyarat yang halus bahwasanya Malik bin Abi Maryam adalah seorang yang dikenal atau diketahui oleh beliau. Hal ini karena beliau lebih mengutamakan riwayat beliau yang di dalamnya disebutkan secara al-jazm bahwasanya nama sahabat tersebut adalah Abu Malik Al-Asy’ari dibanding riwayat syaikh beliau Hisyam bin ‘Ammar yang beliau keluarkan dalam kitab hadits beliau “Shahiih Al-Bukhari- sebagaimana yang telah dijelaskan, begitu-pula riwayat Ibrahim yang tadi disebutkan dimana kedua riwayat ini di dalamnya terdapat keraguan mengenai nama sahabat. Jadi, seandainya Al-Bukhari tidak melihat Malik bin Abi Maryam sebagai seorang yang tsiqah menurut pandangan beliau maka niscaya beliau tidak mendahulukan riwayat Malik ini dibanding riwayat Hisyam dan Ibrahim, dan bisa jadi hal inilah yang ditemukan oleh Ibnul Qayyim rahimahullaah ketika beliau berkata tentang hadits Malik ini: “Isnadnya shahih”, wallaahu a’lam.

Sebagai kesimpulan dari hadits pertama ini adalah bahwasanya hadits ini berputar di sekitar atau berujung kepada Abdurrahman bin Ghanm yang telah disepakati sebagai seorang yang tsiqah, dimana Qais bin ‘Athiyyah yang juga tsiqah meriwayatkan dari beliau dan isnad hadits ini sampai kepada beliau adalah shahih sebagaimana yang telah diuraikan. Juga berujung kepada Malik bin Abi Maryam dan Ibrahim bin Abdul Humaid yang juga tsiqah. Dan ketiga perawi ini sama-sama menyebutkan (di dalam hadits mereka) alma’aazif sebagai bagian dari yang diharamkan secara pasti dan qath’i. Jadi barang-siapa setelah ini yang tetap bersikukuh mendha’ifkan hadits ini maka ia seorang yang sombong lagi mengingkari kebenaran, yang dikenakan kepadanya sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Tidak akan masuk surga seorang yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarrah kesombongan”. Dan didalamnya disebutkan: “Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan sesama manusia”. (diriwayatkan oleh Imam Muslim serta yang lainnya dan dikeluarkan dalam kitab “Ghaayatul Maraam” (98/114).

Diterjemahkan dari Kitab : “ Tahrim Aalat Ath Tharb “ Karya asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: