Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Hadits-Hadits Tentang Keharaman Nyanyian dan Alat Musik ( 4 )

Posted by admin pada 6 Februari 2008

Hadits Keempat:

Diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla telah mengharamkan khamar, judi, “al-kubah” serta “al-ghubaira’”, dan setiap yang memabukkan adalah haram”.

Hadits ini diriwayatkan dari beliau Radhiyallahu ‘anhu dari tiga jalan:

Jalan pertama: dari Al-Walid bin ‘Abadah dan menurut perawi yang lain ‘Amr bin Al-Walid bin ‘Abadah. (dikeluarkan oleh Abu Dawud (3685), Ath-Thahawi dalam kitab “Syarhul Ma’aani” (2/325), Al-Baihaqi (10/221-222), Ahmad (2/158 dan 170) dan dalam “Al-Asyribah (207), Ya’qub Al-FaShallallahu ‘alaihi wa sallami dalam “Al-Ma’rifah” (2/519), Ibnu Abdil Barr dalam “At-Tamhiid” (5/167), Al-Mazziy dalam “At-Tahdziib” (31/45-46) dari jalan Muhammad bin Ishaq dan Ibnu Luhai’ah serta Abdul Hamid bin Ja’far yang ketiga-tiganya dari Yazid bin Abi Habib dari beliau (Al-Walid)).

Nah, Muhammad bin Ishaq ini mengatakan: “Al-Walid bin ‘Abadah sedang Ibnu Luhai’ah dan Abdul Hamid mengatakan: “’Amr bin Al-Walid bin ‘Abadah” dan inilah yang rajih (kuat) sebagaimana tahqiq Asy-Syaikh Ahmad Syakir yang disebutkan dalam ta’liq beliau atas “Al-Musnad” (9/241), dimana beliau berkata di dalamnya: “Dan yang kedua ini (Ibnu Luhai’ah dan Abdul Hamid) dinilai lebih dekat (paling mungkin) untuk bisa menghafal nama sang perawi dibanding yang satunya (Muhammad bin Ishaq)”, karena itu lihatlah kembali ta’liq beliau tersebut. Dan juga, jika seandainya Muhammad bin Ishaq ini menyatakan dengan tegas bahwa si perawi berkata langsung atau memperdengarkan langsung (at-tahdits) kepada beliau maka itupun tidak bisa dijadikan hujjah ketika situasinya diperselisihkan seperti sekarang ini, bagaimana tidak sedang beliau sendiri meriwayatkan dengan mengatakan “dari” dan “dari” (tidak secara tegas; at-tahdits).

Bagaimana pula halnya dengan ‘Amr bin Al-Walid sendiri? Jika merunut kepada ucapan Adz-Dzahabi dalam “Al-Miizaan” yang berbunyi: “Dan tidak ada yang meriwayatkan dari beliau (‘Amr) kecuali Yazid bin Abi Habib”, maka ‘Amr ini (dihukumkan) majhul (tidak dikenal). Akan tetapi beliau telah disebutkan oleh Ya’qub bin Sufyan sebagai seorang yang tsiqah dalam “Tsiqaat Al-Mishriyyiin” (orang-orang tsiqah Mesir) pada kitab “Al-Ma’rifah (2/519) begitu-pula oleh Ibnu Hibban dalam kitab “Tsiqaat At-Taa’bi’iin” (para tabi’in yang tsiqah) (5/184). Karena itu al-hafizh Ibnu Hajar berkata dalam “At-Taqriib”: “Beliau seorang yang shaduq”.

Berdasarkan hal tersebut di atas maka hadits ini hasan li dzaatihii atau setidaknya hasan li ghairihii, bahkan bisa saja shahih berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas serta yang akan diuraikan.

Jalan Kedua: dari Ibnu Wahab, dimana beliau berkata: “Ibnu Luhai’ah memberitakan kepada saya, dari Abdullah bin Hubairah dari AbU Hurairah atau Hubairah Al-‘Ajalani dari maulanya (budak yang telah dimerdekakan) Abdullah bin ‘Amr dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari keluar menemui mereka para sahabatnya yang sedang berada di masjid kemudian bersabda kepada mereka: “Sesungguhnya Tuhanku telah mengharamkan bagi saya khamar, judi, “al-kubah” dan “al-qinnin”. Dan “al-kubah” ialah “ath-thabl” (rebana, gendang).

Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Baihaqi (10/222) dan Ahmad (2/172) dimana beliau berkata: “Yahya menceritakan kepada kami: “Ibnu Luhai’ah menceritakan kepada kami hadits ini, hanya saja beliau (Ibnu Luhai’ah) menyebutkan: “Dari Abu Hubairah Al-Kala’i dari Abdullah bin ‘Amr……”. Jadi beliau tidak ragu mengenai nama perawi (Abu Hurairah atau Hubairah) serta tidak pula menyebutkan nama si maula ini.

Saya berkata: “Dan perawi-perawi Imam Al-Baihaqi (dimana Al-Baihaqi meriwayatkan hadits ini dari mereka) kesemuanya tsiqah terkecuali si maula ini; saya tidak mengetahui beliau ini, dan bisa jadi beliau adalah Abu Hubairah sendiri oleh karena beliau pun seorang yang majhul (tidak dikenal) sebagaimana yang disebutkan dalam “Ta’jiilul Manfa’ah”, wallaahu a’lam.

Jalan Ketiga: dari Faraj bin Fudhalah, dari Ibrahim bin Abdurrahman bin Rafi’ dari ayah beliau dari Abdullah bin ‘Amr dan marfuu’ dengan lafazh: “sesungguhnya Allah telah mengharamkan bagi ummatku khamar, judi, “al-mizr” (arak dari gandum atau sya’ir), “al-kubah” serta “al-qinniin” dan menambahkan bagiku (kewajiban) shalat witir”. Yazid bin Harun berkata: “al-qinniin” ialah “al-barabith” (alat musik petik, sejenis harpa). (dikeluarkan oleh Ahmad dalam ”Al-Musnad” (2/165 dan 167) serta dalam “Al-Asyribah” (212 dan 214) dan Ath-thabrani dalam “Al-Mu’jamul Kabiir” (13/51-52/127).

Saya berkata: “Akan tetapi isnadnya ini dha’if oleh karena Abdurrahman bin Rafi’ –yaitu Abdurrahman bin Rafi’ At-Tanukhi Al-Qadhi- seorang yang dha’if begitu-pula Al-faraj bin Fudhalah serta syaikh atau guru beliau Ibrahim bin Abdurrahman yang disebutkan sebagai diantara para perawi yang ada di sini dari ayah beliau, sedang saya tidak menemukan biografi (tarjamah) beliau ini. Dengan demikian kedua jalan sebelumnya serta yang lainnya yang memiliki banyak sumber dan syawahid lebih baik dan lebih berkah serta sudah cukup”.

Diterjemahkan dari Kitab : “ Tahrim Aalat Ath Tharb “ Karya asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: