Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Pengantar Ringkas Mengenal Ilmu Mushthalahul Hadist (Bag. I)

Posted by admin pada 6 Februari 2008

Muqaddimah

Ilmu Hadist, sebagaimana halnya Ilmu Al Qur’an, adalah adalah pembahasan ilmiah yang demikian bermanfaat dan sangat tinggi kedudukan dan derajatnya disisi Allah subahanahu wata’ala dan Rasul-Nya, betapa tidak, Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan salah satu sebab keutamaan ummat Islam ini ditengah-tengah ummat lainnya dengan adanya para Ulama, Huffadz, para Imam yang menjaga eksistensi dan keabsahan hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, menjaga dari pengaburan lafadz maupun makna, menjaga dari pemutar balikan fakta, menjaga ke-otentikan-nya, serta menjaganya dari campur tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab … Dan ini semua adalah keutamaan yang Allah subhanahu wata’ala limpahkan – hanya – teruntuk ahli Hadist, ulama yang menekuni ilmu hadist , dirayah maupun riwayah.

Kesemuanya itu, dikarenakan syari’at Islam pondasinya adalah Al-Qur’an Al-Karim dan As-Sunnah. Dimana sebagian besar ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan permasalahan Ibadah ‘amaliyah seperti shalat , zakat , haji, dan semisalnya, adalah ayat-ayat yang bersifat parsial, dan detail hukum dan penjabarannya didapati dari As-Sunnah, olehnya itu dapat diartikan bahwa As-Sunnah adalah pijakan utama sebagian besar hukum-hukum fiqh.

Demikian juga para ulama sepakat bahwa seorang mujtahid, baik itu seorang qadhi ataukah mufti disyaratkan memiliki pengetahuan tentang hadist-hadist hukum, maka dapatlah diambil suatu kesimpulan yang memberikan penegasan pentingnya ilmu hadist ini … Dan syari’at Islam sendiri telah melansir sejumlah besar hadist tentang keuatamaan menghidupkan sunnah-sunnah yang ditinggalkan oleh kaum muslimin , dan juga perhatian, menekuni dan kesungguhan mendalami ilmu hadist juga merupakan bentuk nasihat kepada Allah, Kitab-Nya dan Rasul-Nya dan bagi para Imam serta kaum muslimin maupun muslimah, dan ini adalah hakikat agama Islam itu sendiri.

Setelah itu, ilmu hadist sendiri adalah ilmu yang sangat luas cakupan pembahasannya … karena ilmu ini tidak hanya berbicara seputar istilah yang dipergunakan para ulama ahli hadist, namun akan mengupas setiap masalah yang berkaitan dengan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, periwayatannya, para perawi-nya, kedudukan dan tingkatan para perowi tersebut, ahwal mereka dalam periwayatan, juga membahas shahih tidaknya suatu hadist, sebab-sebab diterima atau tertolaknya suatu hadist, nasikh dan mansukh, asbabul wurud suatu hadist, tarikh periwayatan hadist, ilmu ‘ilal al-hadist, al-jarh wat-ta’dil, dan seterusnya … dimana dikatakan bahwa, “Jikalau seorang thalibil ‘ilmi mendermakan seluruh hidup dia untuk menekuni ilmu hadist ini, maka umur dia tidaklah cukup untuk mengupas keseluruhan ilmu hadist tersebut.”

Perkembangan Penulisan Ilmu Hadist dan Ilmu Mushthalahul Hadits

Penulisan Hadist Nabawi dizaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disebutkan oleh beberapa Ulama, sebagai objek ‘ilmiah penulisan dan telaah Ilmu Hadist, adalah pribadi yang sempurna dalam segala hal dan dalam setiap sudut pandang yang beragam. Termasuk pula dalam pengajaran beliau kepada para shahabat beliau untuk menjaga agama Islam ini, memelihara keotentikan dan ke-asliannya, serta mewariskannya secara turun temurun kepada generasi selanjutnya, … belaiu mengajarkan kepada para sahabat –radhiallahu ‘anhum- untuk fokus dalam periwayatan –tatsabbut-, menyampaikan satu persatu setiap ucapan maupun perbuatan beliau, mengajarkannya, menuliskannya serta mendakwahkannya, sehingga generasi para shahabat adalah generasi yang telah mewariskan keseluruhan ilmu nabawiyah.

Demikianlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda pada suatu hadist yang shahih :

” Sampaikanlah semua yang berasal dari-ku walau itu sebuah ayat “ –Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam Kitab Al anbiya’ no. 3461.

dan selain beliau :

“Maka seharusnya yang hadir/mengetahui menyampaikan kepada yang berhalangan hadir.” –Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dalam Kitab Al-’Ilmu no. 67 dan selain beliau –

Adapun penulisan hadist dizaman Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, akan dijumpai beberapa hadist dari beliau yang kontradiktif, beberapa diantaranya berisikan anjuran dan pembolehan penulisan hadist-hadist nabawiyah, dan lainnya berisikan larangan.

Diantara hadist yang mengisyaratkan adanya pembolehan bahkan anjuran penulisan hadist, hadist ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash – radhiallahu ‘anhuma ( Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam As-Sunan no.3646, Imam Ahmad dalam Al-Musnad 2 / 207, Ibnu Abi Syaibah dalam Al-Mushannaf 9/49 dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrok 1 / 105 )

Bahwa beliau suatu hari meminta kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyalin hadist-hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , beliau berkata, “Bolehkan saya menulis setiap yang saya dengar dari anda?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Iya, tidak mengapa.” Beliau berkata lagi, “Walau engkau dalam keadaan ridho maupun marah?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Ya, karena sesungguhnya aku hanya mengatakan kebenaran.”

Juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, bahwa Sa’ad bin ‘Ubadah Al-Anshari adalah salah seorang shahabat yang telah menghimpun hadist-hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan anak beliau meriwayatkannya dari catatan beliau tersebut. ( Lihat As-Sunan- Imam A- Tirmidzi – Kitab Al-Ahkam – bab. Al-Yamin ma’a sya-syahid ).

Demikian pula ketika seorang shahabat meminta dituliskan suatu hadist yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka beliau bersabda:
“Tuliskanlah –hadits tersebut- bagi Abu Syaah.”
( Diriwayatkan oleh Al-Bukhori dalam Shahih beliau no. 2434 dan Imam Muslim 2/988 )

Dan Imam At-Tirmidzi meriwayatkan pula dalam As-Sunan no. 2666 dari hadist Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- , beliau berkata: “Seseorang dari kaum Anshar menghadiri majlis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendengarkan hadist dari beliau, dan dia begitu terpesona dengan hadist tersebut hanya saja tidak mampu menghafalkannya, maka diapun mengeluhkan hal ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau bersabda: “Minta bantulah dengan tangan kanan engkau.”

Al-Khathib Al-Baghdadi dalam kitab Taqyiidul ‘ilmi, hal 32, meriwayatkan pula dari hadist Abu Sa’id Al Khudri –radhiallahu ‘anhu- , beliau mengatakan: “Aku meminta idzin kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menulis hadist, tetapi beliau tidak mau memberi idzin kepadaku.”Memperhatikan kontradiktif antara hadist-hadist yang membolehkan penulisan hadist dizaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam serta hadist yang menegaskan pelarangan penulisan hadist ini, para Ulama berbeda pendapat dalam penyelarasan-nya.Diantara mereka ada yang menyebutkan bahwa hadist larangan ini bersifat umum, bagi keseluruhan para shahabat,sedangkan pada beberapa shahabat tertentu –sesuai keadaan dan kebutuhan mereka- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam membolehkannya.

Ada juga yang mengatakan , idzin penulisan hadist diperbolehkan bagi yang khawatir lemahnya hafalan dia sedangkan larangan ditujukan bagi yang sanggup menghafalkan hadist. Imam Ibnu Shalah dalam Al Muqaddimah hal. 161 menyebutkan atsar dari Al Auza’I –rahimahullah- beliau berkata, “Ilmu hadist ini adalah ilmu yang mulia yang disadur oleh para perowi sesama mereka, namun ketika ilmu ini disalin dalam buku-buku maka akan bercampur pula dengan yang tidak ahli –dalam ilmu ini-.”

Ada juga yang menyebutkan bahwa hadist yang menyebutkan larangan penulisan hadist, adalah hadist yang mansukh – terhapus hukumnya- dengan hadist-hadist yang membolehkannya.

Adapula dikalangan Ulama yang menyebutkan bahwa larangan penulisan hadist ini, yakni di zaman wahyu, agar tidak terjadi kesamaran antara ayat-ayat Al-Qur’an dan hadist-hadist Nabawiyah, ataukah kaum muslimin menyibukkan diri dengan penulisan hadist dan mengesampingkan penghafalan dan penulisan Al-Qur’an Sebagaimana Ditegaskan sendiri oleh Abu Sa’id Al-Khudri –radhiallahu ‘anhu- kepada Abu Nadhrah, ketika dia meminta dituliskan hadist. Berkata Abu Sa’id Al-Khudri, “Aku tidak akan menuliskannya untukmu dan tidak menjadikannya didalam bentuk buku. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan hadist kepadaku lalu aku menghapalkannya. Jadi hapalkan apa yang kau terima dariku, sebagaimana dulu kami menghapalnya apa yang kau terima dari Nabimu.” ( Dzammil Kalam – Al-Harawi hal. 62 )

Dan Imam Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Al-Madkhal, dari ‘Urwah bin Az-Zubair, bahwa Umar bin Al-Khaththab berkehendak menuliskan kumpulan as-sunnah, maka beliau bermusyawarah dengan para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan merekapun membolehkan untuk menuliskannya. Maka Umar berdiam diri selama sebulan istikharah kepada Allah, dan pada suatu pagi dimana Allah telah memberika kekuatan hati untuk beliau, beliau berkata, “Sesungguhnya aku telah berkeinginan untuk menulis kumpulan as-sunnah, namun aku teringat dengan kaum sebelum kalian, mereka menuliskan beberapa kitab dan terfokuskan hanya padanya, dan merekapun meninggalkan Kitabullah, dan demi Allah , aku tidak akan mengaburkan Kitabullah dengan sesuatupun selamanya. “

Ar-Ramahurmuzi dalam Al-Muhaddits Al-Fashil mengatakan, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengizinkan Abu Sa’id menulis hadist, barangkali karena dianggap waktu itu belum memungkinkan, dikhawatirkan jika sibuk mencatat hadist orang-orang akan mengesampingkan Al-Qur’an ”

Namun setelah itu, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Shalah dalam Al-Muqaddimah beliau, “Perbedaan pendapat ini kemudian sirna dan kaum muslimin bersepakat membolehkan penulisan hadist, dan seandainya tidak diakrenakan penyusunan hadist dalam kitab-kitab, tentulah hadist ini akan musnah pada zaman-zaman belakangan.”

Dimana menjelang wafat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , Nabi berkeinginan utnuk menuliskan sebuah kitab untuk diwariskan kepada kaum muslimin agar mereka tidak sesat sepeninggal beliau. Dan ini adalah salah satu bentuk persetujuan beliau untuk penulisan hadist. Wallahu ‘alam.
( Lihat permasalahan ini dalam Al Muhaddist Al Fashil hal. 382, Al Muqaddimah hal. 183, Dzammil Kalam hal. 62, Taqyiidul Ilmi hl. 29 – 33, Al Khoththabi dalam Ma’alim As Sunan 4/184, Ta’wil Mukhtalifil Hadist-Ibnu Qutaibah hal. 366, Tarikh Ath Thabari 1/4,Fathul Bari 1 / 184 – 187, Jami’ Bayanil ‘Ilmi 1/70, At Tadrib Ar Rowi 1/493-495 )

Penulisan Hadist Nabawi dimasa Shahabat dan generasi berikutnya.

Pada generasi selanjutnya, yakni zaman sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mayoritas shahabat telah meriwayatkan hadist-hadsit Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari tulisan mereka, diantaranya yang disebutkan oleh Imam Al Bukhori dalam Shahih beliau pada Kitab Jihad, bab. Ash-shabru ‘alal-qitaal, menyebutkan hadist ‘Abdullah bin Abi Aufa –radhiallahu ‘anhu- yang merupakan penyaduran dalam bentuk tulisan tangan beliau, lalu dikirimkan kepada Salim, dimana berisikan, “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dihari-hari berhadapan dengan musuh, beliau menunggu hingga matahari menjadi condong, …”

Demikian pula Samurah bin Jundub – radhiallahu ‘anhu, telah menghimpun banyak hadist dalam bentuk manuskrip dan diriwayatkan oleh putera beliau Sulaiman. Jabir bin ‘Abdillah –radhiallahu ‘anhu juga memiliki beberapa tulisan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan Sa’ad bin ‘Ubadah Al Anshari juga memiliki impunan hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bentuk catatan.
( Lihat Tadzkirah al-Huffadz 1/110, Thabaqat Ibnu Sa’ad 5/344 dan Shahifah Hammam 14-16 )

Adapun pada generasi tabi’in, penulisan hadist semakin masyhur diantara mereka, dan banyak dari para tabi’in meriwayatkan hadist-hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam bentuk tulisan tangan. Walaupun demikian ada juga beberapa tabi’in yang tidak menyukai periwayatan hadist dalam bentuk naskah tulisan.

Diantara yang tidak menyenangi penulisan hadist di generasi tersebut, Muhammad bin Siriin al Bashri. Pernah beliau mengatakan, “Orang dulu berpendapat bahwa bani Israil menjadi sesat karena kitab-kitab yang mereka warisi.” Dan beliau bertanya kepada ‘Ubaidah, “Bolehkah saya menulis hadist yang telah saya dengarkan darimu ?” ‘Ubaidah menjawab, “Tidak“ Beliau berkata lagi, “Adakah engkau memiliki sebuah kitab yang dapat aku pelajari ?” Berkata ‘Ubaidah, “Tidak”

Namun disaat berlainan beliau sendiri membolehkan penulisan hadist selama seorang muhaddits yang menulis hadist ini berupaya menghapalkan hadist-hadist yang dia tulis, setelah itu catatan tersebut dibuang. Dan juga beliau berkata ketika ditanyakan kepada beliau perihal manuskrip Samurah yang diriwayatkan oleh putera beliau, “Dalam risalah Samurah kepada puteranya terdapat banyak ilmu.”
( Lihat Tahdzib at-tahdzib 4/no. 402, Ad Darimi dalam As Sunan 1/121, Taqyiidul ilmi hal 45 dan 60, Thabaqat Ibnu Sa’ad 7/hal 41, Al Muhaddits Al Fashil 383 )

Dan beberapa lainnya yang menolak penulisan hadist dengan argumen bahwa pada masa tersebut belum dianggap penting adanya penulisan hadist, mereka diantaranya adalah ‘Ubaidah bin ‘Amr As-Salmani, Ibrahim bin Yazid At-Taimi, Jabir bin Zaid dan Ibrahim bin Yazid An-Nakha’i.
( Lihat Muqaddimah Penerbit dalam KitabTaqyiidul Ilmi hal. 20, )

Adapun para Ulama tabi’in, yang menuliskan hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, baik itu menyadur dari beberapa shahifah para shahabat, ataukah menyalin hadist yang didiktekan kepada mereka sangatlah banyak, diantara mereka Sulaiman bin Jundub bin Janabah yang meriwayatkan naskah bapak beliau, Sulaiman bin Qais Al-Yasykuri yang meriwayatkan hadist-hadist Jabir dalam masalah manasik Haji.
( Taqyiidul Ilmi hal. 108 dan Tahdzib at-Tahdzib 4/ 215 )

Muhammad bin Al-Hanafiyah, Muhamad bin ‘Ali Abu Ja’far Al-Baqir, dan ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Aqil mereka juga para tabi’in yang merupakan murid-murid Jabir yang mencatat hadits-hadist beliau.
( Taqyiidul ilmi hal. 104, Al Muhaddits Al Fashil hal. 382 )

‘Amr bin Syu’aib termasuk pula yang meriwayatkan hadist dari catatan/shahifah kakek beliau ‘Abdullah bin ‘Amr –radhiallahu ‘anhu – . Sa’id bin Jubair juga menuliskan hadist-hadist yang didiktekan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas –radhiallahu ‘anhu-, bahkan terkadang beliau menuliskannya dipakaian beliau dan sandal beliau, dan tidak jarang pula beliau menuliskannya pada telapak tangan beliau, untuk disalin kembali.
( Tahdizb at-Tahdzib 8/ 48 – 55, Thabaqat Ibnu Sa’ad 6 / 179, Ad Darimi dalam As Sunan 1/128 )

Demikian pula shahifah Hammam bin Munabbih, yang tiada lain merupakan shahifah Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- yang berisikan sekitar 138 hadist atau 140 hadist, salah satu bukti otentik yang menunjukkan adanya penulisan hadist sejak dini, yakni sekitar pertengahan abad pertama hijriyah, dimasa hidupnya Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- Dalam Tahdzib at-Tahdzib 11/67 disebutkan bahwa Hammam bin Munabbih berada dimajlis Abu Hurairah –radhiallahu ‘anhu- mendengarkan sekitar 140 hadist dari beliau dengan satu sanad.

Sebagian besar Ulama pada generasi tabi’in ini membolehkan penulisan hadist, terutama tabi’in pada generasi pertengahan. Mereka diantaranya , Sa’id bin Al-Musayyaab, Asy-Sya’bi, ‘Abdurrahman bin Harmalah, Mujahid bin Jabr Al-Makki, Atha’ bin Rabah, Qatadah bin Du’amah As-Sadusi, hingga akhirnya secara resmi penulisan hadist diperintahkan di zaman khilafah Umar bin ‘Abdul ‘Azis.

Beliau memerintahkan Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm untuk menyalin hadist-hadist dan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, juga hal yang sama beliau perintahkan kepada Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri, sehingga beliau ini berkata, “Tidak ada seorang pun yang membukukan ilmu ini sebelum aku.”
( Lihat Thabaqat Ibnu Sa’ad 2/2 dan 134, Taqyiidul ilmi hal 99 -105, Jami’ Bayanil Ilmi 1 / 73 – 76 , Ar-Risalah Al-Mustathrafah hal. 4, Al-Ilma’ hal. 27 )

Dan pada generasi-generasi selanjutnya penulisan hadist semakin terfokuskan, bahkan pemisahan antara hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan pendapat para shahabat dan tabi’in mulai pula diperhatikan oleh kalangan Ulama Ahlul Hadist.

Imam Malik menuliskan kitab beliau Al-Muwaththa’ – yang masih bercampur antara hadist-hadist nabawiyah dan fatwa-fatwa para shahabat dan tabi’in, lalu sepeninggal beliau disusunlah sejumlah kitab-kitab Musnad yang memilah antara hadist-hadsit nabawiyah dan fatwa-fatwa shahabat dan tabi’in, Abu Daud Ath-Thayalisi menulis kitab Al-Musnad, lalu Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal juga menulis kitab Al-Musnad yang lebih luas dari pada kitab Abu Daud Ath-Thayalisi . Pada masa selanjutnya ditulislah kitab-kitab hadist sedar lebih tertib, dan mengacu pada bab-bab yang lebih teratur, diantaranya Kitab As-Sunan yang ditulis oleh Abu Daud As-Sijistani, lalu Imam Muhammad bin Isma’il Al-Bukhori menyusun kitab ” Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shahih A- Mukhtashar fii Umuuri Rasulillah shallallahu ‘alaihi wasallam wa sunanihi wa ayyamihi “, yang lebih dikenal dengan nama Shahih Al-Bukhari, demikian pula Imam Muslim bin Hajjaj Al-Qusyairi menulis kitab, ” Al-Musnad Ash-Shahih”, dan beberapa ulama ahlul hadist lainnya menuliskan beberapa kitab hadist, Imam Muhammab bin ‘Isa bin Saurah At-Tirmidzi menulis kitab As-Sunan, Imam Ibnu Majah juga menulis Kitab As-Sunan, Imam An-Nasa’I menulis kitab Al-Mujtaba yang masyhur dengan nama As-Sunan dan juga kitab As-Sunan Al-Kubro , Ad-Darimi menulis kitab As-Sunan, dan juga Ad-Daraquthni juga menulis kitab As-Sunan serta kitab Al-‘Ilal, Al-Baihaqi menuliskan kitab As-Sunan Al-Kubro dan kitab Ma’rifah As-Sunan wal-Atsar, Imam Al-Hakim menulis kitab Al-Mustadrok ‘ala Ash-Shahihain dan banyak lagi kitab-kitab hadist dituliskan, baik dalam bentuk As-Sunan, Al-Musnad, Al-Mushannaf, Al-Mustadrak, Al-Mu’jam, Al-Fawaid, juz-juz hadist … sehingga hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dapat terjaga hingga saat ini.

Sumber : http://www.pondoksantri.com/blog/?p=7

Iklan

Satu Tanggapan to “Pengantar Ringkas Mengenal Ilmu Mushthalahul Hadist (Bag. I)”

  1. krisdiantoro(mahasiswa ipb tingkat 1) said

    assalamu;alaikm ”’\
    pa/ka, terimakasih atas segala informasinya. InsyaAllah saya copy dulu terus baru baca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: