Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Ushul As-sunnah (bag. 4)

Posted by admin pada 6 Februari 2008

Dan diantara As Sunnah yang wajib – yang mana jikalau seseorang meninggalkan salah satu bagian darinya tidak menerimanya, namun ia beriman kepada hal itu, tidaklah ia dikategorikan sebagai Ahlus Sunnah – adalah Beriman kepada Al Qadar – Takdir – yang baik maupun yang buruk. Dan membenarkan hadis-hadist yang menerangkan tentang adanya Takdir dan beriman dengan Takdir.Syarah/Penjelasan:
Masalah selanjutnya yang disebutkan oleh Al-Imam Ahmad, adalah masalah yang menjadi bahan perdebatan kebanyakan firqah-firqah yang menyimpang dari kebenaran, bahkan merupakan satu dari sekian masalah yang menjadi sebab penyimpangan ummat – kaum muslimin – sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, berbicara tentang hak Allah atas diri hamba-hamba-Nya, mempertanyakan dan memperdebatkan ketentuan Allah yang Allah telah gariskan bagi setiap hamba disetiap desahan nafas mereka, yang tiada lain adalah perkara gaib yang Allah tidak berikan kepada makhluq pengetahuan sedikitpun tentangnya … terkadang mereka –para firqah-firqah yang keliru tersebut – menukilkan Al Haq, namun kebanyakan yang terjadi mereka lebih banyak menorehkan kebatilan diatas Al Haq yang mereka inginkan.

Berkata Al-Imam Asy-Syaukani – rahimahullah -, menyebutkan sebab peyimpangan yang ada dari firqah-firqah tersebut, ” Dan sebab dari kesemua itu, dikarenakan mereka yang telah menasabkan diri mereka kepada ilmu, tidaklah menahan diri sebagaimana yang Allah ta’ala serukan, dan mereka menelaah beberapa pembahasan yang Allah tidak idzinkan bagi mereka untuk menelaahnya, dan usaha mereka untuk menyingkap suatu ilmu yang Allah telah simpan di ilmu gaib-Nya … ” -hingga beliau berkata, “Dan salah satu kalangan dari mereka – yang merupakan kalangan – dari sekian kelompok yang menapaki ilmu yang Allah subahanhu wata’ala tidak bebankan atas mereka – yang paling ringan beban dosa dan paling kecil ancaman atas mereka dan kema’shiyatannya, adalah kelompok yang hendak meraih pencapaian menuju kebenaran, meniti diatas kebenaran, hanya saja mereka menempuh jalan yang sulit, mendaki pendakian yang penuh dengan rintangan yang berat untuk menyingkap kebenaran itu, dimana yang menempuh jalan tersebut tidak ada yang kembali dengan selamat terlebih lagi untuk meraih dengan jalan itu tujuan yang benar .
Namun dengan demikianpun, mereka menegaskan beberapa landasan ushul yang mereka sangkakan sebagai suatu kebenaran, lalu menepis dengan ushul tersebut ayat-ayat Qur’aniyah, hadist-hadist yang shohih dan menyebutkan sebab penolakan mereka dengan argumen yang rapuh dan angan-angan yang kosong. Dan mereka ini ada dua kelompok ; –

Yang kedua: Adalah mereka yang telah melampaui batas dalam penetapan Takdir Allah … ” hingga akhir perkataan Al-Imam Asy-Syaukani . ( Lihat dalam At-Tuhaf fii Madzahib Salaf hal. 27 – 28 ).

Masalah yang dimaksud oleh beliau – rahimahullah – adalah masalah yang berkenaan dengan Takdir – Al-Qadar – Allah subhanahu wata’ala.
Al-Qadar / takdir , sendiri dalam tinjauan maknanya, adalah suatu pengkhabaran tentang Ilmu allah yang mendahului segala sesuatu yang terjadi dari setiap amalan para hamba-hamba-Nya dan segala bentuk upaya mereka dan bahwa kesemuany itu bersumberkan dari ketentuan Allah ta’ala, dan Dia jugalah yang menciptakannya – perbuatan tersebut – yang baik maupun yang buruk.

Masalah iman kepada Al-Qadar, yang baik maupun yang buruk, adalah salah satu dari ushul Iman dan merupakan juga salah satu dari rukun Iman, yang disebutkan dalam hadist Jibril – ‘alaihis salam – yang datang mengajarkan Al-Islam, Al-Iman dan Al-Ihsan. Dimana dalam pengajaran tentang Al-Iman, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :

” Yakni beriman kepada Allah, kepada Malaikat-Nya, kepada Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, kepada hari Akhir dan beriman kepada Al Qadar yang baik dan yang buruk. ”

Dan tidak akan sempurna keimanan seseorang terkecuali ia telah menyempurnakan rukun-rukun Iman tersebut, termasuk diantaranya beriman kepada Al-Qadar, yang baik dan yang buruk, dengan membenarkannya dan menerimanya sebagaiamna dijelaskan oleh Al-Qur`an dan As-Sunnah.
Ahlus Sunnah wal-Jama’ah telah sepakat tanpa adanya perbedaan pendapat dan keragu-raguan dikalangan mereka , wajibnya untuk menetapkan serta beriman kepada Al-Qadar, dan tidaklah suatu kaum atau seseorang yang menolak keimanan kepada Al-Qadar kecuali ia termasuk orang yang tidak mengenal Aqidah Nabawiyah yang lurus ataukah ia seorang pengikut hawa nafsu yang telah tergelincir dari Shirathal Mustaqim.

Ahlus Sunnah wal-Jama’ah, dalam menetapkan Al-Qadar , berlepas dari sikap berlebih-lebihan – ghuluw- namun tidak juga menolak dan mengabaikan keberadaan Al-Qadar bagi setiap makhluq, baik itu berkaitan dengan dzat wujud makhluq dimuka bumi namun juga dengan segala bentuk perbuatan mereka.
Ahlus Sunnah wal-Jama’ah berpendapat bahwa Al-Qadar tidaklah menafikan – menolak – adanya ikhtiar seorang hamba, bahkan bukan pula penghalang ikhtiar, disisi lain mereka mendudukkan masalah tersebut , bahwa bagaimanapun ikhtiar seorang hamba, pada akhirnya itulah ketentuan/takdir ( Al-Qadar ) yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wata’ala.

Diantara dalil-dali dari Syara’ yang menunjukkan wajibnya beriman kepada Al-Qadar : –

Firman Allah subhanahu wata’ala,

” Dia –lah yang baginya seluruh kekuasaan yang ada di langit dan di bumi, dan sekali-kali Ia tidak menjadikan bagi diri-Nya seorang anak dan tidak pula syarikat pada kekuasaan-Nya dan Ia menciptakan segala sesuatu lalu menetapakan atas masing-masingnya takdir ” (Al-Furqan: 2)

Firman Allah ta’ala,

” Agar kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir bagi setiap sesuatu, dan sesungguhnya Allah telah melingkupi segala sesuatu dengan keluasan ilmu-Nya ” (Ath-Thalaq: 12)

Dan firman-Nya,

” Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu bersamaan dengan takdirnya ” (Al-Qamar: 49)

Firman-Nya subahanhu,

” Tidaklah ditimpakan suatu musibah di muka bumi dan tidak juga pada diri-diri kalian melainkan musibah itu sudah dituliskan dalam suatu kitab sebelum Kami menampakkannya ” (Al-Hadid: 22)

Dan firman Allah ‘azza wajalla,

” Katakanlah wahai Muhammad, tidaklah ditimpakan kepada kami melainkan yang sudah dituliskan oleh Allah ta’ala atas kami ” (At-Taubah: 51)

Dan firman Allah ta’ala,

” Tidakkah engkau mengetahui bahwa sesungguhnya Allah ta’ala mengetahui segala yang ada dilangit dan di bumi, sesungguhnya kesemuanya itu telah tertera dalam suatu kitab, sesungguhnya kesemuanya itu teramat mudah bagi Allah ” (Al-Hajj: 70)

Firman Allah ta’ala,

” Dan ketika ditimpakan bagi mereka kebaikan mereka mengatakan bahwa ini datangnya Allah dan jikalau ditimpakan atas mereka keburukan mereka mengatakan ini datangnya dari engkau, maka katakanlah Muhammad bahwa semuanya datangnya dari Allah, lantas mengapa mereka itu sama sekali tidaklah mengerti apa yang disampaikan ” (An-Nisa: 78)

Dan masih banyak lagi dari ayat-ayat Al-Qur`an Al Karim yang berbicara tentang masalah ini.

Adapun dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, diantaranya,

Hadist Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khaththab – radhiallahu ‘anhu – , mengenai pengajaran Jibril ‘alaihis salam – dalam bentuk soal jawab kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tentang Al-Islam, Al-Iman dan Al-Ihsan. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ketika ditanyakan kepada beliau tentang Al-Iman,
” Yakni beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para RAsul-Nya, kepada hari akhirat dan beriman kepada Al Qadar baik maupun buruk ”
( Dikeluarkan oleh Muslim – Al Minhaj 1 / 157 -, At Tirmidzi 5 / No. 2610, An Nasa’I 6 / 11271, Ibnu Majah 1 / 63 )

Dan hadist ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, beliau berkata, Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
” Allah subhanahu wata’ala telah menetapkan takdir masing-masing makhluk sebelum Allah ta’ala menciptakan langit dan bumi , lima puluh ribu tahun sebelumnya dan ‘Arsy Allah ta’ala telah berada diatas air ”
( Dikeluarkan oleh Muslim – Al Minhaj 16 / 442 )

Dan juga hadist ‘Ubadah bin Ash-Shamit – radhiallahu ‘anhuma – beliau berkata, Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
” Sesungguhnya awal suatu yang Allah ciptakan adalah Al Qalam, lantas Allah berfirman kepadanya : Tuliskanlah !
Ia pun bertanya : apakah yang mesti saya tuliskan ?
Allah ta’ala berfirman : Tuliskan segala yang akan terjadi hingga hari kiamat. ”
Berkata ‘Ubadah : Wahai anak-ku, saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : –
” Barang siapa yang meninggal tidak sejalan dengan –keyakinan- seperti ini, bukanlah ia tergolong ummat-ku ”
( Dikeluarkan oleh Abu Daud 4 / No. 4700, At Tirmidzi 5 / 3319 dan Ahmad 5 / 317 )

Dan hadist Abu Hurairah – radhiallahu ‘anhu – dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , beliau bersabda,
” Adam –’alaihis salam – telah melakukan perdebatan dengan Musa –’alaihis salam -, dimana Musa –’alaihis salam – berkata : Wahai Adam engkau adalah bapak kami, engkau telah mengecewakan kami dan engkau menjadikan kami dari sorga.
Adam – ‘alaihis salam – menjawab : Engkau adalah Musa yang telah ditinggikan kedudukanmu oleh allah tengan Kalam-Nya dan Allah telah menuliskan At Taurat dengan tangan-Nya sendiri, akankah engkau mencelaku dikarenakan suatu perkara yang telah ditakdirkan oleh Allah sebelum Allah menciptakan diriku empat puluh ribu tahun sebelumnya ? . Maka Adam pun menggugurkan pegangan Musa. ”
( Dikeluarkan oleh Al Bukhari No. 6614 dan Muslim 4 / 2042 )
Dalam riwayat lainnya, “Sesungguhnya Musa –’alaihis salam – telah berkata : Wahai Rabb- ku tampakkanlah kepada kami Adam , yang telah mengeluarkan kami dan dirinya dari sorga.
Maka Allah ta’ala menampakkan baginya Adam – ‘alaihis salam -.
Berkatalah Musa, “Apakah engkau bapak kami Adam ?”
Berkata Adam kepadanya, “Benar.”
Berkata Musa, “Engkau-kah yang telah ditiupkan Allah salah satu ruh-Nya pada dirimu, lantas mengajarkan kepadamu segala sesuatu dan memerintahkan kepada malaikat untuk sujud dihadapanmu ?”
Berkata Ada, “Benar”
Berkata lagi Musa, “Lalu apa alasan engkau telah mengeluarkan kami dan dirimu sendiri dari sorga ?”
Adam-pun bertanya, “Dan engkau ini siapakah ?”
Berkata Musa, “Saya adalah Musa.”
Berkata Adam, “Engkaukah Nabi bagi Bani Israil yang mana Allah ta’ala telah berbicara langsung kepadamu dari balik hijab , dan Allah tidak menjadikan adanya perantara antara engkau dan Allah ?”
Musa menjawab, “Benar.”
Berkata Adam, “Apakah engkau telah mendapatkan bahwa kesemuanya itu telah tertera di Kitab Allah sebelum saya diciptakan ?”
Musa menjawab, “Benar.”
Berkata Adam, “Kalau begitu mengapa engkau mencelaku karena suatu hal yang Allah telah menentukan ketetapan-Nya sebelum diciptakannya diriku ? ”
Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalamma mengenai hal ini, “Maka Adam pun akhirnya menggugurkan pegangan Musa, Maka Adam pun akhirnya menggugurkan pegangan Musa.”
( Dikeluarkan oleh Abu Daud 4 / 4702, Ibnu Abi ‘Ashim dalam As Sunnah 1 / 63, Al-Baihaqi dalam Al-Asma’ wash-Shifat hal. 193, dan Al-Albani menyebutkan hadist ini dalam Ash Shohihah 4 / 1702 )

Dan demikian juga hadist ‘Imran bin Hushain, beliau berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam, “Wahai Rasulullah, apakah sudah dipilah antara penghuni sorga dan penghuni neraka ?”
Beliau menjawab, “Benar.”
Beliau bertanya lagi, “Kalau begitu , atas alasan apakah mereka melakukan amal perbuatan ?”
Beliau bersabda,
” Kesemuanya dimudahkan atas apa mereka diciptakan ”
( Dikeluarkan oleh Al Bukhari No. 6596 dan Muslim 4 / 2041 )

Demikianlah diantara sebagian dalil-dalil baik itu dari Al-Qur’anul Karim maupun dari Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menunjukkan wajibnya beriman akan setiap ketentuan Allah ta’ala dan kesemua yang terjadi di muka bumi ini adalah karena Al-Qadar/Takdir dari sisi Allah subhanahu wata’ala. Dalam berbicara tentang Iman kepada Al-Qadar, Ahlus Sunnah wal-Jama’ah membagi keimanan kepada Al-Qadar atas empat tingkatan Al-Qadar, yang mana masing-masingnya mesti diimani dengan iman yang benar, barulah dikatakan seseorang telah beriman kepada Al Qadar. Tingkatan-tingkatan Al Qadar ada empat : –

Pertama : Adanya Ilmu Allah subhanahu wata’ala pada setiap ketentuan-Nya yang berlaku
Yakni bahwa yang mesti diimani oleh setiap hamba , bahwa Allah ta’ala adalah Dzat yang Maha Mengetahui akan perihal makhluk dan mereka melakukan amal perbuatan dibawah jangkauan Ilmu Allah ta’ala yang dengan ilmu tersebut Allah ta’ala disifatkan, sejak dahulu dan selamanya – sifat Dzatiyah – dan Allah ta’ala juga mengetahui setiap keadaan para makhluk, baik itu berupa keta’atan, kemaksiatan, ketentuan rizki mereka maupun ajal mereka … barulah setelah itu Allah ta’ala menuliskannya di Lauh Mahfudz, semuat ketentuan-ketentuan makhluk yang mana ini merupakan derajat selanjutnya setelah ilmu Allah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman : –

” Dan Dia-lah Dzat yang tiada sesembahan yang haq selain-Nya yang mengetahui perkara yang ghaib dan yang nampak.” (Al-Hasyr: 22)

Dan firman Allah ta’ala : –

” Agar kalian mengetahui bahwa sesungguhnya Allah telah menentukan takdir segala sesuatu dan sesungguhnya Allah telah melingkupi segala sesuatu dengan keluasan ilmu-Nya.” (Ath-Thalaq: 12)

Dan firman Allah ta’ala : –

” Sesungguhnya Rabb-mu Dialah yang paling mengetahui siapa yang telah disesatkan dari jalan-Nya dan siapa yang telah mendapatkan hidayah ” (An-Nahl: 125)

Dan firman-Nya subhanahu wata’ala : –

” Dia – Allah – yang paling mengetahui ketika Ia menjadikan kalian berada dimuka bumi dan ketika kalian berupa janin di dalam perut ibu-ibu kalian, maka janganlah kalian menquduskan diri-diri kalian – karena – Dialah yang paling mengetahui siapa yang bertaqwa.” (An-Najm:32)

Firman Allah ta’ala,

” Dan bukankah Allah yang paling mengetahui segala yang ada di alam semesta ini.” (Al-Ankabut: 10)

Kedua : Al Kitabah, yakni penulisan takdir makhluk di Lauhil Mahfudz
Dan ini merupakan derajat kedua setelah Al-’Ilmu. Bahwa ketentuan yang telah terjadi pada makhluk ,dan juga yang sedang dan akan terjadi, baik maupun buruk, keta’atan maupun kema’shiyatan, beserta balasannya didunia maupun diakhirat, telah digariskan oleh Allah ta’ala dalam takdir-Nya dan dituliskan dalam Lauhil Mahfudz.

Allah ta’ala berfirman : –

” Dan segala sesuatu yang mereka perbuat tertera dalam Az Zubur, dan –juga – segala perkara yang besar maupun yang kecil ” (Al-Qamar: 53)

” Apakah engkau tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah ta’ala mengetahui segala yang berada dilangit dan dibumi, sesungguhnya kesemuanya itu telah dituliskan pada suatu kitab, sesungguhnya semuanya itu teramat mudah bagi Allah ” ( Al-Hajj: 70)

” Tidaklah ditimpakan suatu musibah di muka bumi dan tidak juga pada diri-diri kalian melainkan musibah itu sudah dituliskan dalam suatu kitab sebelum Kami menampakkannya” (Al-Hadid: 22)

” Dan tidaklah engkau berada pada suatu keadaan dan tidak juga yang engkau bacakan dari Al Qur’an, dan tidak juga yang kalian perbuat dari suatu amalan, melainkan Kami sertakan bersama kalian beberapa penyerta yang mempersaksikan ketika kalian bertebaran dimuka bumi. Dan sekali-kali tidak akan tersamar bagi Rabb mu sedikitpun yang ada dimuka bumi, walau itu sebesar biji sawi dan tidak juga yang ada di langit, bahkan jika itu lebih kecil lagi atau lebih besar, melainkan semuanya telah dituliskan pada Kitab yang jelas.” (Yunus: 61)

Dan demikian juga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan perihal ini, dengan penjelasan yang jelas tanpa perlu di- takwil- kan lagi.
Diantaranya dari hadist ‘Ubadah bin Ash-Shamit, beliau berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
” Sesungguhnya awal suatu yang Allah ciptakan adalah Al Qalam, lantas Allah berfirman kepadanya : Tuliskanlah !
Ia pun bertanya : apakah yang mesti saya tuliskan ?
Allah ta’ala berfirman : Tuliskan segala yang akan terjadi hingga hari kiamat. ”
( Telah disebutkan sebelumnya diatas )

Dan juga dalam Hadist ‘Abdullah bin Mas’ud – radhiallahu ‘anhu – beliau berkata, Telah diceritakan kepada kami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam , dan beliau adalah yang benar dan dibenarkan,
” Sesungguhnya dalam penciptaan setiap orang dari kalian, dijadikan dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa sebuah nuthfah – cairan kehidupan – , lalu setelah itu dijadikan segumpal daging selama itu pula, lalu dijadikan daging yang menempal pada tulang selama itu pula, lalu diutuskanlah malaikat kepadanya dan ditetapkan baginya empat perkara : tentang rizki-nya, ajalnya, amal-nya, lalu dituliskan penghabisan ia apakah ia orang yang disiksa –diakhirat – ataukah yang mendapatkan kebahagiaan. Lalu diiupkanlah padanya ruh.
Maka seseorang dari kalian akan mengamalkan amalan penghuni sorga, hingga antara ia dan sorga hanyalah sejarak satu hasta atau sekitar satu hasta namun ketantuan Kitab/Takdir-nya telah mendahuli-nya, maka iapun mengamalkan amalan penghuni neraka dan iapun dicampakkan kedalam neraka. Dan seseorang diantara kalian adalah amalan ia amalan penghuni neraka hingga antara ia dan neraka hanyalah sejarak satu hasta atau sekitar satu hasta, namun ketantuan Kitab/ Takdir-nya mendahuluinya, maka iapun akhirnya mengamalkan amalan penghuni sorga dan ia dimasukkan kedalam sorga. ”
( Dikeluarkan oleh Al Bukhari No. 6594 dan Muslim 4 / 2036 )

Adapun Al-Kitabah – penulisan takdir – setiap makhluk terbagi atas lima tingkatan takdir : –
1. Takdir Al Azali
Yakni takdir yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wata’ala sebelum penciptaan langit dan bumi, sewaktu Allah ta’ala menciptakan Al-Qalam dan memerintahkannya untuk menuliskan segala yang akan terjadi hingga hari Akhir.
2. Takdir Al-Mitsaq
Yakni penulisan ketepan takdir bagi keturunan Adam – ‘alaihis salam -, sewaktu diambila dari mereka perjanjian, bahwa Alla ta’ala adalah Rabb mereka., beserta pembenaran mereka akan perjanjian itu.
Allah ta’ala berfirman : –
” Dan ketika Rabb-mu mengeluarkan dari anak keturunan Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka, Allah ta’ala berfirman : Bukankah Aku ini adalah Rabb kalian ? Mereka menjawab : Benarlah engkau adalah Rabb kami kami mempersaksikannya. Demikian agar supaya kalian nantinya di hari kiamat – tidaklah mengatakan – : Sungguhlah kami ini telah lalai dari dari persaksian tersebut, ataukah kalian mengataka : Sesungguhnya orang-orang tua pendahulu kami telah mempersekutukan Allah sebelumnya, sedangkan kami ini hanyalah anak keturunan yang datang setelah mereka, akankah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang sesat – sebelum kami ” (Al A’raf 172 – 173)

3. Takdir Al-’Umri
Yakni takdir bagi setiap hamba anak keturunan Adam, sewaktu mereka berada dirahim ibu mereka, berupa tulang yang telah dibalut dengan gumpalan daging. Maka waktu itu ditetapkanlah jenis kelamin-nya , ajal, amal, apakah ia termasuk yang mendapatkan kebahagiaan diakhirat atau siksa yang pedih, dan juga rizkinya. Maka semua yang akan ia alami tidak akan ditambah maupun dikurang dari apa yang telah ditetapkan.

Allah ta’ala berfirman : –
” Wahai segenap manusia, jikalau kalian meragukan adanya kebangkitan dari alam kubur, maka ketahuilah sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari tanah, lalu dari setetes air mani, kemudian dari segumpal darah kemudian dari segumpal daging yang sempurna penciptaannya dan yang tidak sempurna. Agar Kami jelaskan kepada kalian. Dan Kami tetapkan didalam rahim apa yang kami kehendaki hingga waktu yang telah ditentukan, lalu Kami keluarkan kalian sebagai bayi hingga kalian menjadi dewasa, diantara kalian ada yang diwafatkan dan diantara kalian ada yang dipanjangkan umurnya hingga tua renta, dimana ia tidak lagi mengetahui apa yang dahulu ia ketahui … ” (Al Hajj : 5 )

Dan firman-Nya,
” Dan Allah menciptakan kalian dari tanah kemudian dari setetes air mani, kemudian kalian dijadikan berpasang-pasangan. Dan tidak satupun wanita yang mengandung dan tidak juga yang menlahirkan kecuali dengan sepengetahuan-Nya. Dan sekali-kali tidak pula dipanjangkan umur seseorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya melainkan sudah ditetapkan dalam suatu Kitab, sungguhlah hal itu sangat mudahnya bagi Allah. ” (Fathir : 11)

Dan firman-Nya,
” Dan Dialah Dzat yang telah menciptakan kalian dari tanah kemudian dari setetes air mani kemudian dari segumpal daging lalu mengeluarkan kalian sebagai bayi kemudian kalian beranjak dewasa, lalu setelah itu menjadi orang-orang yang renta. Dan diantara kalian ada yang telah diwafatkan sebelum itu dan kalian akan mencapai ajal yang telah ditentukan , kesemuanya itu agar kalian mau memikirkannya ” (Ghafir : 67)

4. Takdir Al Hauli
Yakni takdir yang ditetapkan Allah subhanahu wata’ala ketika tiba malam Laitul Qadar. Dimana ditetapkan takdir yang akan berlaku hingga tahun berikutnya.

Allah ta’ala berfirman : –
” Haa Miim , Demi Kitab – Al-Qur`an– yang menjelaskan. Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang diberkati, dan sesungguhnyalah Kami yang telah memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan setiap perkara yang penuh hikmah. Yakni perkara yang datangnya dari Kami, sesungguhnya Kamilah yang telah mengutus – para Rasul – ” (Ad Dukhan: 1 – 5)

Berkata Ibnu ‘Abbas – radhiallahu ‘anhuma -, “Dituliskan ketetapan yang merupakan bagian dari ketetapan ” Ummul Kitab “, pada malam Lailatul Qadar semua yang akan terjadi pada tahun itu, kematian, kehidupan, rizki, hujan … ”
Berkata Al Hasan Al Bashri, ” Dan demi Allah yang tiada sesembahan yang hak selain Dia, sungguhlah malam yang diberkati itu pada bulan Ramadhan, yakni Lailatul Qadar. Pada malam itu dijelaskan setiap urusan, dan malam itu Allah menetapkan ketentuan ajal, amal dan rizki hingga datang malam semisalnya ”

5. Takdir Al Yaumi
Yakni penjabaran masing-masing takdir hingga waktu yang telah ditentukan pada tiap harinya. Allah ta’ala berfirman : –

” Dan semua yang berada dilangit dan dibumi selalu memohon kepada-Nya. Setiap harinya Dia berada dalam pengaturan ketetapan-Nya.” (Ar-Rahman: 29)

Dan dalam beberapa Atsar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam , beliau menyebutkan bahwa maksud dari, “Setiap harinya dia berada dalam pengaturan ketetapan-Nya,” yakni, Mengampuni dosa hamba-Nya, menyingkap kesusahan hamba-Nya, meninggikan derajat segolongan dari hamba-Nya dan merendahkan derajat sebagian yang lainnya ”
( Dikeluarkan oleh Ibnu Jarir dalam Tafsir beliau 27 / 135, pad sanadnya ada perowi bernama Munib bin ‘Abdillah , berkata Al Hafidz : Diterima hadistnya jika ada penguat kalau tidak maka ia perowi yang layyin . )

Ketiga : Al-Masyiah – Kehendak Allah ta’ala –
Bahwa segala sesuatu yang berada di alam ini kesemuanya adalah kehendak dari Allah subhanahu wata’ala – Masyiah Allah -. Dimana kehendak-Nya adalah suatu yang pasti akan terjadi dan Takdir-Nya berlaku bagi segenap makhluk. Beriman akan Masyiah/Kehendak Allah ini adalah beriman bahwa segala yang Allah kehendaki pasti akan terwujudkan dan yang Allah kehendaki tidak akan terwujudkan, dan segala sesuatu yang ada dilangit dan dibumi baik itu yang bergerak maupun yang diam kesemuanya dibawah kehendak Allah ta’ala:

Allah ta’ala berfirman : –

” Dan tiada yang mereka kehendaki melainkan kesemuanya adalah yang Allah kehendaki ” (Al Insan : 30)

Firman Allah,
” Dan sekiranya Rabb mu menginginkan, tentulah Ia akan menjadikan ummat manusia itu sebagai ummat yang satu ” (Hud : 110 )

Dan firman-Nya,
” Bagi siapa saja yang Allah kehendaki diantara kalian untuk berada dijalan yang lurus, dan tiada yang kalian kehendaki melainkan yang Allah kehendaki, Dia-lah Rabb alam semesta ” (At-Takwir : 28 – 29)

Dan firman-Nya,
” Dan sekiranya Allah menghendaki, Ia akan memberikan bagi kalian semuanya hidayah-Nya ” (Al An’am : 149)

Dan firman Allah ta’ala,
” Dan sekiranya Allah menghendaki tidaklah kaum yang datang setelah mereka akan saling bermusuhan setelah jelas bagi mereka penjelasan dari Allah, akan tetapi mereka pun bercerai berai ,ada diantara mereka yang beriman dan ada pula yang kufur/inkar. Maka sekiranya Allah kehendaki tentulah mereka tidak akan saling bermusuhan ” (Al-Baqarah : 253)

Keempat : Penciptaan Allah ta’ala, makhluk, amalan-malan mereka. Mengadakannya dan mewujudkan amalan-amalan makhluk tersebut.

Allah ta’ala berfirman,

” Dan Allah Dzat yang menciptakan segala sesuatu ” (Az-Zumar : 62)

Dan firman-Nya,
” Dan Allah menciptakan segala sesuatu dan menetapkan baginya ketetapan/Takdir ” (Al-Furqan : 2)
Dan firman Allah,

” Dan Allah yang telah menciptakan kalian dan segala yang kalian amalkan ” (Ash-Shaffat : 96)

Dan firman Allah subhanahu,
” Maka Maha Sucilah Allah sebaik-baik pencipta ” (Al-Mu’minun : 14)

Dan firman Allah ta’ala,
” Dan tidaklah engkau yang melemparkannya ketika engkau melemparkan, akan tetapi Allah-la yang telah melemparkan ” (Al Anfal : 17)

Sumber : http://www.pondoksantri.com/blog/?p=18

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: