Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,200,178 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Ushul As-sunnah (bag. 5)

Posted by admin pada 6 Februari 2008

Kelompok/Firqah yang berbeda pandangan dengan Ahlus Sunnah wal Jama’ah, berkaitan dengan masalah Al-Qadha wal Qadar/ Takdir.

Berbicara mengenai kaum atau kelompok yang mengingkari adanya Takdir, merupaka salah satu diantara tanda-tanda kenabian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau telah mengkabarkan akan datang kaum/kelompok tersebut dan mereka akan berada ditengah-tengah kaum muslimin. Diantara hadist-hadist Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menegaskan kemunculan mereka, antara lain

Hadist ‘Abdullah bin ‘Umar – radhiallahu ‘anhuma – beliau mengatakan, Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
” Akan ada ditengah-tengah ummat ini –kaum – yang buruk , yaitu mereka yang mengingkari Qadar/Takdir ”
( Dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al Musnad 2 / 108 namun pada sanadnya terdapat perowi bernama Rusydain bin Sa’ad ia perowi yang lemah, dan dalam Al Musnad 2 / 136 – 137. Dikeluarkan pula oleh Abu Daud No. 4663, At Tirmizi No. 2151 – 2152, Ibnu Majah No. 4061, Al Hakim 1 / 84 dan ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam Zawaid Al Musnad No. 967 )

Dan dari hadist Abu Hurairah – radhiallahu ‘anhu beliau berkata, Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menafsirkan firman Allah ta’ala,

“( Sesungguhnya kaum Mujrimin akan berada dalam kesesatan dan dalam neraka Sa’ir. Hari dimana diseret wajah-wajah mereka kedalam api neraka, – dan diserukan kepada mereka – : Rasakanlah hembusan neraka Saqar. Sesungguhnya segala sesuatu kami telah ciptakan dengan takdir-nya ). (Al-Qamar: 47 – 49) Ayat ini diturunkan berkenaan dengan mereka yang memperdebatkan masalah Takdir ”
( Dikeluarkan oleh Muslim No. 2656 dan Ahmad 2 / 444 dan 479 )

Dan berkata pula Al-Hasan bin ‘Ali – radhiallahu ‘anhuma, “Akan datang sekelompok manusia yang mana mereka dibenarkan – keberadaan mereka – dengan Takdir namun mereka mendustakan Takdir. Dan inilah yang sungguh telah dilaknat oleh Abu Hurairah karena perkataan mereka ini.”
( Dikeluarkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As Sunnah No. 620 )

Dan demikianlah yang terjadi, para Sahabat – radhiallahu ‘anhum – masih ada disekitar mereka, namun kaum yang disesatkan dari jalan yang lurus, yang buta mata hati mereka dari kebenaran Risalah Nabawiyah telah berani menancapkan pemikiran mereka yang keliru. Mereka berbicara seputar Al-Qadar/ Takdir, tanpa diiringi dengan tuntunan syara’ dan tidak pula dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Dan yang pertama kali dikatakan mengusung pemikiran yang keliru tentang masalah ini adalah seseorang yang bernama Sansawaih Al-Baqqal.

Berkata Al Auza’i, “Yang pertama kali berbicara tentang hal ini adalah seseorang yang bernama Suusan, ia dari penduduk Irak. Dulunya ia seorang Nasrani lalu masuk Islam namun ia kembali keagama Nasrani.”
Setelah itu, barulah Ma’bad bin ‘Abdullah bin ‘Ulaim Al-Juhani Al-Bashri menyadur pemikiran tersebut darinya. Berkata Al Hasan Al Bashri tentang diri Ma’bad Al Juhani: ” Ia seseorang yang sesat lagi menyesatkan ”
Dan beliau pula memperingatkan kaum muslimin agar tidak hadir disetiap majlis Ma’bad Al-Juhani. Dan ia akhirnya dibunuh oleh Al-Hajjaj bin Yusuf, dan ada juga yang mengatakan ia disalib atas perintah ‘Abdul Malik bin Marwan.
Dari Ma’bad Al-Juhani ini, lalu diikuti oleh Ghilan bin Muslim bin Abi Ghilan Abu ‘Imran Ad-Dimasyqi dalam menyebarkan pemikiran yang salah tersebut. Dan dia adalah seorang Khotib yang sangat fasih. Ia dibunuh dan diisalib atas perintah Hisyam bin ‘Abdil Malik.
( Lihat tentang hal ini dalam Siyar A’lamin Nubala 5 / 124 dan 7 / 264 dan juga dalam Lawami’ Al Anwar 1 / 299 – 300 )

Inilah awal mula berkembangnya pemikiran yang menyimpang dari Al-Qur`an dan As-Sunnah dan juga dari Madzhab Sahabat, tentang masalah Takdir. Hingga lambat laun berkembang menjadi suatu pemikiran yang menjadi pondasi munculnya sekte Al-Qadariyah yang menyelisihi Ahlus Sunnah wal-Jama’ah Ahlul hadits wal-Atsar. Dan sekte Al-Qadariyah ini pada hakikatnya terbagi atas dua kelompok, yaitu sekte Al-Qadariyah yang berlebih-lebihan dalam menetapkan Takdir dan salah memahami ketergantungan hamba dalam Takdir Allah. Mereka inilah yang dikenali dengan nama lain yaitu sekte Al-Jabariyah. Yang mana mereka berpendapat bahwa setiap hamba terpaksa dalam melakukan setiap perbuatannya, bagaikan selembar dauna yang kering yang terhempas kesana kemari diterpa angina yang berhembus. Ataukah seperti debu yang terbang ditiup angin kadang keatas dan akhirnya kebawah. Mereka mengatakan bahwa taklif – pembebanan syari’at – dari Allah subhanahu wata’al kepada hamba-Nya , baik itu berupa perintah untuk melakukan ketaatan ataukah larangan dari perbuatan ma’shiyat, tak ubahnya seperti pembebanan Allah bagi hewan ternak untuk terbang, atau seseorang yang cacat tak mampu berdiri untuk berjalan ataukah seperti seseorang yang buta untuk menulis buku. Akhirnya mereka berpendapat bahwa adzab yang ditimpaka bagi hamba karena perbuatan ma’shiyat adalah adzab bagi mereka karena perbuatan Allah sendiri bukan karena amalan-amalan hamba tadi.
Yang lainnya adalah sekte Al-Qadariyah yang yang menolak keberadaan Takdir Allah dan keterkaitan antara Takdir Allah dan segala yang perbuatan yang dilakukan oleh hamba. Mereka inilah kaum Mu’tazilah dan yang mengikuti jejak mereka. Mereka berpendapat bahwa seorang hamba berbuat dengan kemauan ia sendiri tanpa campur tangan takdir Allah.. Dan mereka ini – yaitu Mu’tazilah, yang mana pemimpin mereka Washil bin Atho’ Al Ghazzal dan ‘Amru bin ‘Ubaid – mewarisi pendapat ini dari Ma’bad Al Juhani, dimana mereka mengingkari adanya Ilmu Allah, Al-Kitabah – penulisan Takdir di Lauhil Mahfudz – dan beranggapan bahwa hambahlah yang menciptakan segala perbuatan mereka.
Olehnya itulah sekte Al-Qadariyah Mu’tazilah ini pun tercela oleh kalangan Salaf. Diantaranya yang diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar – radhiallahu ‘anhuma – beliau ditanyakan tentang kaum yang berpendapat tidak ada takdir sama sekali. Maka beliau berkata, “Mereka inilah Qadariyah, merekalah kaum Majusi ummat ini ”
( Dikeluarkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As Sunnah No. 958 )

Dan berkata pula Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri – rahimahullah, ” … Demi Allah kaum Qadariyah sama sekali tidak sejalan pendapat mereka dengan firman Allah, tidak juga yang dikatakan oleh para malaikat, tidak juga perkataan para Nabi, tidak juga dengan perkataan penghuni sorga, tidak juga dengan perkataan penghuni neraka bahkan tidak juga dengan perkataan saudara tua mereka yakni Iblis.
Allah ta’ala berfirman : –

” Apakah engkau tidak memperhatikan yang menjadikan hawa nafsu mereka sebagai tuhannya dan Allah telah menyesatkan mereka dengan sepengetahuan-Nya dan Allah menutup pendengaran dan hatinya dan menjadikan penutup pada penglihatannya. Maka siapakah yang akan memberikan petunjuk setelah Allah – menyesatkannya – . Maka apakah engkau tidak mengambil pelajaran ” (Al Jaatsiyah : 23)

” Dan tidak ada yang mereka kehendaki melainkan apa yang Allah telah kehendaki ” (Al Insan : 30 , dan At Takwir : 29)

Dan berkata para malaikat : ” Maha suci Engkau – tiada imu atas diri kami kecuali yang Engkau telah ajarkan kepada kami. Engkaulah Dzat yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana “(Al-Baqarah : 32)

Berkata Musa –’alaihis salam – : ” Sungguhlah kesemuanya ini merupakan ujian dari-Mu, Engkau sesatkan dengannya siapa saja yang engkau kehendaki dan Engkau berikan petunjuk yang engkau kehendaki pula ” (Al-A’raf : 155)

Berkata Nuh –’alaihis salam – : ” Dan tidak akan berguna nasihat dariku jika aku kehendaki untuk menasihati kalian, jika sekiranya Allah telah menghendaki untuk memalingkan kalian – dari kebenaran – Dialah Rabb kalian dan kepada-Nya lah kalian akan kembali ” (Hud : 34)

Dan berkata Syu’aib – ‘alaihis salam – : ” Dan tidaklah kami akan kembali kepadanya terkecuali jika Allah menghendaki Dialah Rabb kami, yang demikian luasnya ilmu Rabb kami yang melingkupi setiap sesuatu ” (Al-A’raf : 89)

Berkata Penghuni Sorga : ” Segala puji bagi Allah yang telah memberi kami petunjuk dan tidaklah kami akan mendapatkan petunjuk jikalau bukan karena Allah yang telah memberi kami petunjuk-Nya ” (Al A’raf : 43)

Berkata penghuni Neraka : ” Kami telah dikuasai oleh kejahatan yang telah kami lakukan dan kami ini dulunya adalah kaum yang sesat ” (Al Mu’minun : 106)

Dan berkata Iblis – semoga Allah melaknatnya – saudara mereka : ” Wahai Rabb-ku dengan apa-apa yang kengkau palingkan aku … ” (Al-Hajar : 39 )
( Lihat dalam Syarh Ushul I’tiqad – Al Laalikai 1 / 153 – 154 )

Dan tidaklah ditanyakan : Kenapa ? dan tidak juga bertanya : Bagaimana ?. Dikarenakan sesungguhnya tentang Takdir, hanya ada pembenaran dan beriman dengan nash-nash syara’.

Syarah/Penjelasan:
Beliau –rahimahullah – menegaskan kembali, bahwa berbicara tentang masalah-masalah yang berkaitan dengan Dzat Allah, Nama dan Sifat-Nya dan juga perbuatan Allah ta’ala, termasuk diantaranya tentang Al-Qadar, adalah mencukupkan dengan nash-nash syara’, serta tidak mempertanyakan masalah-masalah itu dengan bentuk soal : Kenapa ? dan Bagaimana ?. Dan juga tidak memperpanjang perdebatan seputar masalah tersebut.
Sebagaimana halnya Thawus bin Kaisan, ketika beliau berada di Makkah dan dibelakang beliau ada dua orang yang tengah memperdebatkan tentang takdir maka beliau berpaling kepada keduanya seraya berkata, “Semoga Allah merahmati kalian berdua, kenapa kalian memperdebatkan tentang hukum Allah ? ”
( Dikeluarkan oleh ‘Abdullah bin Imam Ahmad dalam As Sunnah No. 909 )

Berkata Maimun, “Janganlah kalian mencela para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan jangan pula mempelajari ilmu nujum dan jangan berdebat dengan kaum Qadariyah.”
( idem , No. 900 )

Berkata Humaid, “Ketika Al-Hasan Al-Bashri mendatangi Makkah, maka beberapa Fuqaha Makkah – diantaranya Al-Hasan bin Muslim dan ‘Abdullah bin ‘Ubaid -berkata kepadaku, “Sekiranya engkau berkenan berbicara kepada Al Hasan agar beliau meluangkan satu hari bersama kami ? ”
Maka saya pun mengemukakan hal ini kepada beliau, saya katakan, “Wahai Abu Sa’id, saudara-saudara engkau saya senang jika engkau mengadakan sebuah majlis untuk mereka sehari saja.”
Beliau menjawab, “Bisa, dan adalah suatu kehormatan bagiku.”
Maka beliaupun menjanjikan satu hari bagi mereka, dan pada hari yang dimaksud mereka datang dan berkumpul, maka berbicaralah Al-Hasan, dan sungguh saya tidak pernah melihat beliau berbicara sefasih ini , baik itu sebelum dan sesudah hari itu.
Dan mereka pun mengajukan beberapa pertanyaan tentang Shahifah – lembaran-lembaran hadist – yang panjang, dan beliau sama sekali tidak melakukan kesalahan sedikitpun, terkecuali pada satu masalah, dimana seseorang bertanya kepada beliau, “Wahai Abu Sa’id siapakah yang telah menciptakan syaithan ? ”
Beliau berkata, “Subhanallah ! subhanallah ! Adakah pencipta selain Allah ?”
Lalu setelah itu beliau berkata lagi, “Sesungguhnya Allah ta’ala yang telah menciptakan syaithan, menciptakan keburukan, menciptakan kebaikan.”
Maka berkatalah seseorang dari kaum yang berkumpul itu, “Semoga Allah membinasakan mereka, mereka hendak berdusta atas nama Asy Syaikh !”
( idem, No. 942 )

Berkata Al-Imam Al-Barbahari, “Pembahasan yang berkepanjangan, berdebat dan bersitegang, khusus seputar masalah takdir, adalah suatu yang terlarang dari setiap golongan, dikarenakan takdir adalah suatu yang ditutupi oleh Allah, dan Rabb telah melarang para Nabi untuk memperpanjang pembicaraan tentang takdir, begitupula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang persitegangan seputar masalah takdir. Dan para shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan para Ulama Tabi’in telah membenci hal seperti itu, dan demikian juga para Ulama dan Ahli Wara’ membencinya dan melarang memperdebatkan takdir. Maka yang wajib bagimu hanyalah menerima, membenarkan dan beriman , dan berkeyakinan dengan segala yang telah disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hal-hal yang bersifat umum, setelah itu mendiamkan selainnya.”
( Syarh As Sunnah No. 71 )

Dan bagi siapa yang belum mampu menjangkau penafsiran suatu hadist sedangkan nalarnya sudah mampu memahami, maka hal itu sudah cukup dan tepat baginya. Maka yang wajib atas diri ia hanyalah beriman kepada hadist tersebut dan menerimanya.

Syarah/Penjelasan
Dan hal yang sama diucapkan oleh Al Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri, “Bahwa Risalah Nubuwah datangnya dari sisi Allah, dan bagi Rasul-Nya hanyalah untuk menyampaikannya dan bagi kita semua untuk menerimanya.”

Berkata pula Imam Ahmad, “Kami beriman dengan setiap hadsit-hadist dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kami membenarkannya , tidak mempertanyakan bagaimana hakikatnya dan tidak pula maknanya –karena maknanya sudah demikian jelas, pen – dan tidak menolak sedikitpun dari hadist-hadist tersebut, dankami mengetahui bahwa yang disampaikan oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam adalah suatu yang benar dan kami tidak membantah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”
( Mukhtashor Ash Showaiq Al Mursalah 2 / 251 )

Semisal hadist Ash Shadiq Al Mashduq , dan hadist yang serupa dengannya tentang masalah takdir.

Syarah/Penjelasan:
Yakni hadist ‘Abdullah bin Mas’ud tentang penciptaan makhluq, dan penulisan takdir mereka yang empat. Dan telah disebutkan sebelumnya diatas.

Sumber : http://www.pondoksantri.com/blog/?p=19

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: