Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Bantahan Terhadap Ibnu Hazm dan Yang Lainnya yang Telah Menetapkan Sesuatu ‘Illat (Cacat) Pada Hadits yang Telah Dikemukakan Sebelumnya.

Posted by Abahnya Kautsar pada 13 Februari 2008

Saya berkata: “Pada bagian muqaddimah risalah ini saya telah menguraikan bantahan terhadap Ibnu Hazm dan yang lainnya dari para orang-orang yang telah mencemarkan hadits-hadits shahih ini, pun ketika mentakhrij keenam hadits shahih yang telah disebutkan sebelumnya. Yang ingin saya jelaskan sekarang adalah bahwasanya sepanjang pengamatan kita terhadap hadits-hadits keharaman alat musik ini di sisi Ibnu Hazm itu terbagi kepada tiga bagian:

Bagian Pertama: Hadits yang beliau dha’ifkan dimana beliau telah salah dalam hal ini.

Kedua: Hadits yang luput dari pengamatan beliau, atau beliau mengetahui sebahagian jalan hadits-hadits tersebut sedang sebahagian yang lain tidak diketahui oleh beliau. Andai saja beliau mengetahui hadits-hadits ini serta tsabit menurut beliau, niscaya beliau akan menerima dan mengambilnya. Jadi beliau dalam hal ini ma’dzur (dima’lumi) –beda dengan orang-orang yang telah bertaqlid kepada beliau dalam masalah ini!- apatah lagi beliau telah memberikan komentar atas hadits yang beliau dha’ifkan tersebut dengan pernyataan beliau yang bersumpah, dimana beliau tidak dianggap melanggar sumpahnya ini insyaa’ Allah, sebagai berikut:

“Dan aduhai demi Allah, andai saja semua hadits ini atau satu saja atau lebih memiliki isnad dari jalan orang yang tsiqah sampai kepada Rasulullah Shallallahu ‘alailhi wa sallam, maka niscaya kami tidak akan ragu untuk menerimanya (dan mengamalkannya)”.

Inilah sangkaan kita terhadap beliau dalam masalah ini dan hanya Allah Subhanahu wa ta’ala lah yang (berhak) menentukan beliau. Adapun orang-orang yang telah bertaqlid kepada beliau setelah hujjah tegak berdiri di hadapan mereka pun telah jelas bagi mereka tempat pengambilan hujjah ini, maka tidak ada udzur bagi mereka dan tidak pula ada kemuliaan. Bahkan perumpamaan mereka adalah bagaikan orang-orang zaman jahiliyah yang menyembah jin dimana sang jin kemudian tunduk patuh dalam Islam sedang mereka tetap saja tenggelam dalam penyembahan dan kesesatan mereka, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala : “…”.

Ketiga: Hadits yang beliau dha’ifkan tetapi belum tampak bagi kami bantahan atau tanggapan atasnya sehingga dengan begitu kami berlepas diri darinya.

Jadi bantahan saya hanya akan berkisar pada bagian pertama dan kedua, dan dengan memohon petunjuk kepada Allah Subhanahu wa ta’ala adalah bantahan saya sebagai berikut:

Bagian Pertama: Ibnu Hazm mengkritik dalam bagian ini dua diantara keenam hadits tersebut, yaitu: hadits pertama dan ketiga.

Adapun mengenai hadits pertama, saya telah menyebutkan kedua jalan hadits ini seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, yang sampai kepada Abdurrahman bin Ghanm dari Abu ‘Amir atau Abu Malik Al-Asy’ari. Yaitu jalan pertama: dari jalan Imam Al-Bukhari sebagai berikut: Hisyam bin ‘Ammar berkata: “Shadaqah bin Khalid menceritakan kepada kami…dengan sanadnya dari Abdurrahman bin Ghanm Al-Asy’ari bahwasanya beliau berkata: “Abu ‘Amir atau Abu Malik AL-Asy’ari menceritakan kepada saya –dan demi Allah, beliau tidak berdusta kepada saya- bahwasanya beliau mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alailhi wa sallam (bersabda dengan hadits tersebut)”. Jalan inilah yang dii’lal oleh Ibnu Hazm dengan dua ‘illat: al-inqitha’ antara Al-Bukhari dan Hisyam, serta kemajhulan sahabat Al-Asy’Ari ini!, Beliau berkata dalam “Al-Muhallaa” (9/59) dimana hadits ini merupakan hadits terakhir dalam masalah ini menurut beliau:

“Dan hadits ini munqathi’, tidak bersambung (periwayatannya) antara Al-Bukhari dan Shadaqah bin Khalid, dan tidak ada satupun hadits yang shahih dalam bab (atau masalah) ini selamanya, dan semua hal yang menyangkut di dalamnya adalah maudhuu’ (palsu)”.

Itulah yang dikatakan oleh beliau, dan tidaklah tersembunyi bagi para thullabul ‘ilmi terlebih lagi bagi para ulama bahwasanya pernyataan beliau tersebut mengandung propaganda dan mubhalaghah (berlebihan), karena sesungguhnya al-inqitha’ –jika memang benar adanya- tidaklah mesti berarti menunjukkan akan kepalsuan matan suatu hadits, apatah lagi hadits ini telah diriwayatkan secara maushul (bersambung) dari jalan yang lain menurut beliau dan satu lagi jalan yang merupakan jalan ketiga menurut kami sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya dan yang akan diuraikan lagi nantinya. Sekalipun semuanya demikian ini adanya, Al-Qardhawi begitu-pula Al-Ghazali –dan siapa saja yang mengikuti keduanya- tetap saja menutup mata dari semua kenyataan ini dan tetap bertaqlid kepada beliau –sebagaimana yang telah dijelaskan-, apakah hal ini dikarenakan kebodohan mereka berdua ataukah karena mereka berdua telah tunduk kepada hawa-nafsu? Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dari kedua faktor ini.

Begitu-pula dengan ucapan beliau: “…antara Al-Bukhari dan Shadaqah bin Khalid” adalah juga sebuah kesalahan yang boleh jadi juga telah diuraikan sebelumnya. Yang benar adalah antara Al-Bukhari dan Hisyam bin ‘Ammar sebagaimana yang telah dikemukakan ketika membantah Al-Ghazali (hal…-…).

Beliau juga berkata dalam risalah beliau tersebut (hal. 97):

“Dan Imam Al-Bukhari tidak menetapkan (atau menyebutkan) hadits ini secara musnad (bersanad). Al-Bukhari hanya menyebutkan di dalamnya: “Hisyam bin ‘Ammar berkata yang kemudian disebutkan sampai kepada Abu ‘Amir atau Abu Malik, sedang Abu Malik sendiri seorang yang tidak dikenal”!.

Adapun jawaban dari ‘illat al-inqitha’ ini telah dijelaskan sebelumnya secara terperinci pada bagian-bagian yang tidak ada munasabah sebelumnya, misalnya saja pada hal. … dan … sampai …. Akan tetapi demi kesempurnaan faedah yang bisa diambil, maka saya menukilkan di sini sebahagian pernyataan para huffazh dan nuqqad yang merupakan bantahan terhadap Ibnu Hazm atas i’lal beliau ini agar para pembaca semakin memahami kesesatan orang-orang yang menyimpang secara berlebihan dari jalan orang-orang beriman dikarenakan sikap yang mereka yang tetap teguh bertaqlid kepada beliau dengan taqlid buta dan disertai dengan mengikuti hawa-nafsu, sebagai berikut:

1.            Al-‘Allamah Ibnul Qayyim berkata dalam “Ighaatsatul Lahfaan” (1/259-260) begitu-pula dalam “Tahdziibus Sunan” (5/271-272) yang sedikit telah saya kombinasikan antara keduanya serta saya ringkas, sebagai berikut:

         “Dan tidak ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang yang telah menodai (atau mencemarkan) keshahihan hadits ini seperti halnya Ibnu Hazm demi menolong mazhabnya yang bathil yang membolehkan alat musik, dimana beliau (Ibnu Hazm) dalam hal ini menduga bahwasanya hadits ini munqathi’ dikarenakan (menurut beliau) Al-Bukhari tidak menyebutkan sanadnya secara bersambung tatkala meriwayatkan hadits ini. Dan tuduhan pencemaran ini bathil ditinjau dari beberapa segi diantaranya:

Segi pertama: bahwasanya Imam Al-Bukhari telah berjumpa secara langsung dengan Hisyam bin ‘Ammar serta mendengarkan langsung hadits dari beliau, karena itu jika Al-Bukhari misalnya berkata: “Hisyam berkata”, maka itu sama kedudukannya jika beliau mengatakan: “Dari Hisyam”. Dan ini sudah disepakati oleh para ulama (secara ittifaq).

Kedua: bahwasanya seandainya beliau tidak mendengar hadits ini dari Hisyam maka niscaya beliau tidak akan membolehkan (bagi diri beliau) meriwayatkan hadits ini dengan shigat al-jazm dari Hisyam kecuali jika hadits ini sendiri benar-benar menurut beliau telah ditahditskan (diperdengarkan sendiri) oleh Hisyam kepada beliau, dan hal seperti ini sering terjadi dikarenakan banyaknya yang meriwayatkan dari beliau dari syaikh ini (Hisyam) begitu-pula karena kemasyhuran si perawi itu sendiri. Kesimpulannya Imam Al-Bukhari adalah seorang hamba Allah Subhanahu wa ta’ala yang paling jauh dari berbuat tadlis (menyembunyikan nama perawi hadits).

Ketiga: bahwasanya beliau menempatkan hadits ini ke dalam kitab hadits beliau yang beliau namakan dengan “Ash-Shahih”  (hadits-hadits shahih) sebagai sebuah hadits yang bisa digunakan berhujjah dengannya, maka jika sekiranya bukan karena keshahihan hadits ini di sisi beliau niscaya beliau tidak akan melakukan hal tersebut. Jadi hadits ini shahih tanpa ada keraguan lagi.

Keempat: bahwasanya beliau menta’liq hadits ini dengan shigat al-jazm (berkata) dan bukan dengan shigat at-tamridh (yang tidak sempurna), karena jika sekiranya beliau tidak yakin akan sebuah hadits atau hadits tersebut tidak memenuhi syarat keshahihan beliau maka beliau akan mengatakan: “Dan diriwayatkan dari Rasulullah Shallallahu ‘alailhi wa sallam”, atau “Disebutkan darinya” atau yang semacamnya. Akan tetapi jika beliau mengatakan: “Rasulullah Shallallahu ‘alailhi wa sallam bersabda”, atau “Si fulan berkata” maka itu berarti beliau menetapkan (tidak ragu) dan memastikan (al-jazmu wal qath’u) akan sandaran hadits yang beliau ucapkan yang bersumber dari orang yang beliau maksudkan dalam ucapan beliau di atas. Adapun mengenai hadits ini beliau telah menetapkan sandarannya kepada Hisyam yang berarti hadits ini shahih menurut beliau.

Kelima: bahwasanya jika seumpama kita berpaling dari semua kenyataan yang telah kita dapatkan dalam riwayat beliau ini, maka hadits ini pun tetap shahih dan muttashil (bersambung) jika mengacu kepada perawi lain selain beliau. Kemudian Ibnul Qayyim menyebutkan hadits Bisyr bin Bakr yang telah dikemukakan juga sebelumnya dari riwayat Al-Isma’ili dimana di dalamnya terdapat lafazh “al-ma’aazif” yang diingkari keberadaannya oleh Hassan si mudha’iff.

2.      Ibnush Shalah, dimana beliau sebelumnya telah menyebutkan hal serupa dengan pernyataan Ibnul Qayyim di atas dalam kitab beliau “Muqaddimah ‘Uluumul Hadiits” (hal. 72-73), kemudian beliau berkata: “Dan hadits ini shahih, diketahui kemaushulannya dengan (memenuhi) syarat shahih”.

3.      Al-hafizh Ibnu Hajar, dimana beliau telah mengikuti Ibnush Shalah dalam hal ini dalam kitab beliau “Fathul Baari” (10/52-53) pun menjelaskan di dalamnya mengenai sebab yang mengantarkan Al-Bukhari berta’liq seperti ini, beliau kemudian berkata: 

“Dan sudah menjadi ketetapan di sisi para huffazh bahwasanya ta’liq-ta’liq yang dilakukan oleh Al-Bukhari adalah shahih sampai kepada perawi yang beliau ta’liq darinya (perawi yang beliau sebutkan dalam ta’liq beliau) sekalipun si perawi tersebut bukan termasuk diantara syaikh atau guru beliau. Akan tetapi jika terdapat sebuah hadits yang dita’liq dari riwayat sebahagian huffazh dan bersambung kepada perawi yang disebutkan dalam riwayat ta’liq tersebut dan dengan syarat shahih, maka itupun sudah menghilangkan keraguan. Karena itu al-hafizh Ibnu Hajar sejak awal sudah memberikan perhatian kepada bagian yang terakhir ini dengan menyusun sebuah kitab yaitu “Taghliiqut Ta’liiq” (menutupi hadist-hadits yang dita’liq). Pun imam kita ini telah menyebutkan dalam “Syarhu At-Tirmidzi” begitu-pula dalam pernyataan beliau atas “Uluumul Hadiits” bahwasanya hadits Hisyam bin ‘Ammar ini telah diriwayatkan dari beliau secara maushul dalam “Mustakhraj Al-Isma’ili”, beliau berkata:

“Kemudian beliau menuturkan urut-urutan isnadnya kemudian mengikutkan isnadnya ini dengan isnad Abu Dawud, dan telah dikemukakan kedua isnad ini sebelumnya bersama riwayat-riwayat yang lain dari sejumlah perawi-perawi yang tsiqah dimana mereka berkata: “Hisyam bin ‘Ammar menceritakan kepada kami…”, lihat kembali hal. …

Kemudian saya menemukan kaidah hadits Ibnu Hazm yang sejalan dengan kaidah-kaidah di atas yang bersumber dari para imam hadits, yaitu bahwasanya ta’liq Al-Bukhari tersebut dihukumkan sebagai isnad yang muttashil (bersambung) antara beliau dan Syaikh beliau Hisyam bin’Ammar, Ibnu Hazm berkata dalam “Ushuulul Ahkaam” (1/141):

“Dan adapun mudallis (yang melakukan tadlis) maka ia terdiri dari dua macam: yang pertama, mudallis yang hafizh lagi ‘adil, boleh jadi ia menyebutkan haditsnya secara mursal dan boleh jadi pula ia menyebutkan sanadnya (secara lengkap), ataukah ia menceritakan hadist dalam rangka mengulangi (agar jangan sampai lupa), berfatwa ataukah bersilang pendapat sehingga ia tidak menyebutkan sanadnya. Dan bisa jadi pula ia hanya menyebutkan sebahagian perawinya saja. Semua alternatif di atas tidaklah mempengaruhi keseluruhan riwayatnya sedikitpun oleh karena ia bukanlah sesuatu yang menyebabkan seseorang cacat (di mata para huffazh) dan tidak pula dianggap sebagai kelalaian. Hanya saja memang kita harus meninggalkan (tidak menerima) haditsnya yang kita yakini ia mursalkan begitu-pula yang kita ketahui bahwasanya ia (sengaja) tidak menyebutkan sebahagian perawi yang terdapat dalam sanadnya, dan kita hanya mengambil haditsnya yang kita tidak yakini seperti itu. Dan sama halnya jika ia mengatakan: “Si fulan mengkhabarkan kepada kami”, atau “Dari si fulan”, atau ia mengatakan: “Si fulan dari si fulan”, dimana semua pernyataannya ini wajib diterima selama tidak diyakini kalau ia menuturkan sebuah hadits dengan tidak bermaksud menyembunyikan sanadnya, tetapi jika kita yakini hal tersebut maka kita tinggalkan hadits yang ia tuturkan tersebut dan menerima semua hadits-haditsnya yang lain”.

Saya berkata: “Inilah nash (pernyataan) dari Ibnu Hazm mengenai masalah ini, dimana konsekwensinya mewajibkan kita mengambil perkataan Al-Bukhari seperti halnya: “Hisyam berkata” dan bahwasanya perkataan beliau tersebut sama kedudukannya jika beliau mengatakan: “Hisyam mengkhabarkan kepada kami”. Dengan begitu maka batallah i’lal al-inqitha’ beliau ini terhadap Imam Al-Bukhari di satu sisi dan di sisi yang lain para muqallid beliau adalah benar-benar seperti yang dinyatakan oleh firman Allah Subhanahu wa ta’ala: “…”. Hanya Allah Subhanahu wa ta’ala lah tempat meminta pertolongan.

Nah dengan demikian berakhirlah jawaban dari ‘illat pertama berupa al-inqitha’ yang telah diduga oleh Ibnu Hazm ini serta para muqallid beliau dan menjadi jelaslah bahwasanya dugaan ini hanyalah sebuah fatamorgana (atau ilusi dan fantasi).

Adapun jawaban dari ‘illat yang kedua, yaitu: keraguan akan nama sahabat perawi hadits ini yang (sebenarnya) hanya merupakan syubhat yang sangat lemah di sisi para ulama, maka al-hafizh Ibnu Hajar berkata dalam “Fathul Baari” (10/24):

“Ragu akan nama sahabat tidaklah berpengaruh, dimana Ibnu Hazm telah menetapkan adanya ‘illat ini tetapi ditolak (tidak dilirik)”.

Saya berkata: “Hal itu dikarenakan perawi yang meriwayatkan dari sahabat r.a ini yang menyatakan bahwa beliau mendengar langsung dari Nabi Shallallahu ‘alailhi wa sallam adalah seorang diantara generasi tabi’in yang tsiqah, bahkan dikatakan si perawi ini termasuk pula generasi sahabat. Jadi si perawi ini termasuk diantara yang mengetahui betul “kesahabatan” muhaddits (yang menceritakan hadits kepada) beliau dari Nabi Shallallahu ‘alailhi wa sallam, apatah lagi beliau menguatkan hal tahdits ini dengan mengatakan: “Demi Allah, beliau (sang sahabat yang muhaddits) tidak berdusta kepada saya”. Dengan demikian, keraguan si perawi serta ketidakpastian beliau (akan nama sahabat tersebut) ini tidak berpengaruh kepada kita selama beliau telah mengkhabarkan kepada kita akan “kesahabatan” (generasi sahabat) sang muhaddits, dan termasuk yang menguatkan hal ini adalah pernyataan Ibnu Hazm sendiri pada pasal “sifat (atau kriteria) seorang yang penukilan “akhbar”nya (haditsnya) wajib diterima” dalam kitab beliau  Al-Ihkaam fii Ushuulil Ahkaam” (1/143), sebagai berikut:

“Dan seorang yang faqih (mengetahui) lagi ‘adil maka diterima dalam segala sesuatu (yang bersumber darinya)”.

Saya berkata: “(Kalau begitu) setiap orang pasti mengetahui bahwa termasuk diantara yang dimaksud oleh kulliyah (pernyataan atau kaidah umum) Ibnu Hazm di atas adalah ucapan seorang tabi’in yang tsiqah ini seperti halnya: “Seorang yang telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alailhi wa sallam menceritakan kepada saya” atau yang semacamnya seperti halnya dalam hadits beliau ini. Kesimpulannya, syarat Ibnu Hazm berupa perincian nama sahabat (secara pasti) –sebagaimana yang ditunjukkan oleh i’lal beliau ini, pun beliau menegaskannya di tempat yang lain dalam kitab beliau tersebut (“Al-Ihkaam”) (2/3 dan 2/83) yang sekalipun sudah bertentangan dengan keumuman pernyataan beliau di atas yang nota-bene telah diakui oleh para ulama hadits- adalah tidak berdasar sama sekali (tidak memiliki dalil).

Adalah Imam Al-Bukhari pun telah menguatkan –sebagaimana yang telah dikemukakan pada hal.… bahwasanya nama sahabat tersebut adalah Abu Malik Al-Asy’ari –dimana beliau r.a adalah seorang sahabat yang terkenal- dan inilah yang dipegang oleh al-hafizh Ibnu Hajar (10/55), beliau berkata setelah mengemukakan tarjih Imam Al-Bukhari ini:

“Mengingat bahwasanya keraguan akan nama sahabat perawi tidaklah berpengaruh sebagaimana yang telah ditetapkan dalam ilmu hadits, maka (kita) tidaklah melirik kepada seorang yang mengi’lal hadits dikarenakan keraguan seperti ini, dan sungguh telah kuat bahwasanya hadits ini diriwayatkan dari Abu Malik Al-Asy’ari dimana beliau r.a adalah seorang sahabat yang masyhur”.

Saya berkata: “Sekalipun yang mengi’lal itu seorang Ibnu Hazm. Dikarenakan saya telah melihat beliau berhujjah dalam “Al-Ihkaam” (4/31) dengan sebuah sanad yang di dalamnya terdapat nama Mu’awiyah bin Shalih seperti yang telah diungkapkan pada hal.… dari Hatim bin Huraits, dari Malik bin Abi Maryam bahwasanya beliau berkata: “Abdurrahman bin Ghanm menceritakan kepada kami bahwasanya beliau berkata: Abu Malik Al-Asy’ari memberitakan kepada kami bahwasanya beliau berkata: “Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alailhi wa sallam bersabda: “Niscaya segolongan manusia dari ummatku akan meminum khamar dimana mereka menamakannya dengan yang bukan namanya”. Nah, ini adalah tanaqudh (sesuatu yang bertentangan) dari beliau sendiri, oleh karena beliau telah mendha’ifkan Mu’awiyah ini dan tidak mengetahui syaikh atau gurunya sebagaimana yang akan diuraikan.

Al-hafizh Ibnu Hajar juga berkata dalam “Taghliiqut Ta’liiq” (5/21-22) setelah beliau mengutarakan ketiga jalan hadits ini dari Abdurrahman bin Ghanm, sebagai berikut:

“Dan hadits ini shahih dan tidak mempunyai ‘illat serta tidak pula ada cacat di dalamnya. Adapun Abu Muhammad Ibnu Hazm beliau telah mengi’lalnya berupa al-inqitha’ antara Al-Bukhari dan Shadaqah bin Khalid serta pertentangan akan nama Abu Malik, padahal sebagaimana yang anda lihat saya menuturkan hadits ini dari riwayat sembilan perawi dari Hisyam secara muttashil dimana di dalamnya terdapat nama Al-Hasan bin Sufyan, ‘Abdan serta Ja’far Al-Faryabi yang kesemuanya merupakan huffazh yang tsiqah. Adapun mengenai perbedaan tentang kuniyah (nama yang dinisbahkan kepada anak atau oranglain; abu atau ummi …) seorang sahabat, maka sahabat seluruhnya adalah orang-orang yang ‘adil (dan tidak fasik)”.

Demikianlah, dan tampak bagi saya bahwasanya ‘illat ini, tatkala si yang bersikukuh mendha’ifkan hadist-hadits shahih ini tidak menemukan kesempatan untuk tetap mempertahankannya dikarenakan ‘illat tersebut sudah jelas kebathilannya, maka ia pun memunculkan dari dirinya sendiri ‘illat yang lain yang sebenarnya lebih bathil lagi di sisi para ulama, yaitu bahwasanya ‘Athiyyah bin Qais, yang justeru seorang Imam Muslim berhujjah dengan beliau serta telah dinilai tsiqah oleh yang lainnya, adalah seorang yang majhul! Ini adalah klaim atau tuduhan dusta yang tidak pernah diucapkan oleh seorang pun sebelumnya sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya (hal.…), karena itu tidak perlulah kita mengulangnya lagi sekalipun tetap mempunyai faedah ketika kita menyinggungnya kembali di sini.

Adalah saya telah menyebutkan dua jalan yang lain bagi hadits ini dari Abdurrahman bin Ghanm, yaitu pertama: jalan Mu’awiyah bin Shalih yang tadi telah saya sebutkan dimana Ibnu Hazm mengi’lalnya dengan mengatakan dalam risalah beliau tersebut (hal. 97): “Mu’awiyah bin Shalih dha’if sedang Malik bin Abi Maryam tidak diketahui siapa dia”, sedang dalam kitab “Al-Muhallaa” (9/57) beliau hanya mengi’lal Mu’awiyah saja!

I’lal seperti ini hanyalah merupakan penyimpangan dari Ibnu Hazm sendiri, oleh karena Mu’awiyah ini telah dinilai tsiqah oleh sejumlah ulama terdahulu diantaranya Imam Ahmad dan tidak seorang pun dari para huffazh yang sudah ma’ruf pernah mengatakan bahwa beliau seorang yang dha’if. Al-hafizh pernah berkata tentang beliau sebagai kesimpulan dari pernyataan para imam mengenai beliau, sebagai berikut:

“Beliau seorang yang shaduq (sekalipun) terkadang menduga-duga (ragu-ragu)”.

Imam Adz-Dzahabi berkata dalam “Al-Kaasyif”: “Shaduq sekaligus imam”.

Dan dalam kitab “Siyaru A’lamin Nubalaa’” (7/158), Adz-Dzahabi menceritakan tentang beliau bahwasanya beliau seorang imam yang hafizh lagi tsiqah serta seorang yang pernah menjabat qadhi Andalus.

Adz-Dzahabi juga menuturkan sebuah hadits beliau dengan sanad beliau sendiri, kemudian berkata: “Ini adalah hadits yang sanadnya shalih (benar, bagus)”.

Dan Imam Muslim sendiri telah berhujjah pula dengan beliau, jadi hadits al-ma’aazif ini sangatlah jelas seandainya bukan karena kemajhulan Malik bin Abi Maryam. Akan tetapi tatkala Malik ini diikuti maka riwayat beliau ini diterima, apatah lagi Imam Bukhari sendiri menilai riwayat beliau lebih kuat dari riwayat Hisyam bin ’Ammar sebagaimana yang telah dijelaskan (hal.…). Pun Ibnu Hazm sendiri telah berhujjah dengannya dalam masalah keharaman khamar sebagaimana yang telah saya sebutkan pula barusan.

Ibnu Taimiyah juga berkata dalam “Ibthaalut Tahliil” (hal. 27-cet. Al-Kardii): “Isnad beliau ini hasan, oleh karena Hatim bin Huraits seorang syaikh sedang Malik bin Abi Maryam termasuk diantara ulama Syam terdahulu”.

Dan sebelum kita berpindah kepada hadits yang lain yang juga didha’ifkan oleh Ibnu Hazm pada bagian pertama ini, saya melihat bahwasanya penting untuk menutup uraian mengenai hadits pertama ini dengan mengingatkan akan ulama-ulama yang telah menshahihkan hadits ini dari para imam huffazh pada jamannya masing-masing, diantaranya sebagai berikut:

1.      Al-Bukhari

2.      Ibnu Hibban

3.      Al-Isma’ili

4.      Ibnush Shalah

5.      An-Nawawi

6.      Ibnu Taimiyah

7.      Ibnul Qayyim

8.      Ibnu Katsir

9.      Al-Asqalani

10.   Ibnul Wazir Ash-Shan’ani

11.   As-Sakhawi

12.   Al-Amir Ash-Shan’ani

dan yang lainnya yang tidak sempatkan saya sebutkan. Maka apakah akal seorang muslim akan menerima, apakah masuk akal jikalau mereka para penentang tersebut seperti halnya Ibnu Hazm serta orang-orang yang mengikut di belakang beliau –padahal tidak diantara mereka yang mengkhususkan diri dalam bidang ilmu hadits- berada di atas kebenaran sementara para imam ini berada di atas kesalahan!?

Adapun mengenai hadits ketiga yang juga didha’ifkan oleh Ibnu Hazm dari keenam hadits yang sebelumnya telah disebutkan, maka beliau dalam hal ini telah mengi’lalnya dengan menyatakan kemajhulan tabi’in yang meriwayatkannya yaitu Qais bin Habtar An-Nahsyali. I’lal beliau ini hanyalah pertanda kekurangluasan wawasan serta pengetahuan beliau, dikarenakan Qais ini telah dinilai tsiqah oleh sejumlah ulama terdahulu begitu-pula ulama yang belakangan (muta’akhkhirun) pun sejumlah perawi telah meriwayatkan dari beliau sebagaimana yang telah saya jelaskan. Dengan demikian seorang Qais bin Habtar bukanlah seorang yang majhul.

Adapun tentang ketidaktahuan Ibnu Hazm mengenai beliau maka bukanlah suatu hal yang aneh, oleh karena Ibnu Hazm pun tidak mengetahui sejumlah huffazh yang nota-bene kemasyhuran mereka itu bagaikan matahari di siang-bolong, baik dalam ketsiqahan mereka maupun dalam hafalan; diantaranya adalah Imam At-Tirmidzi penulis kitab hadits yang terkenal “Sunan At-Tirmidzi”. Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam tarjamah Imam ini yang disebutkan dalam kitab “At-Tahdziib” setelah beliau menuturkan tautsiq Ibnu Hibban dan Al-Khalili atas Imam At-Tirmidzi ini sebagai berikut:

“Dan adapun Abu Muhammad Ibnu Hazm, beliau telah mengumumkan dirinya bahwasanya beliau sebenarnya tidak menela’ah (dengan seksama), beliau berkata pada bab “al-faraa’idh” dalam kitab “Al-Iishaal”: “Muhammad bin ‘Isa bin Saurah (Imam At-Tirmidzi) seorang yang majhul (tidak dikenal)”. Dan hendaknyalah jangan ada seseorang yang mengatakan: “Barangkali beliau (Ibnu Hazm) tidak mengenal At-Tirmidzi”, atau tidak mengetahui bagaimana hafalan beliau serta karangan-karangan beliau”, karena sesungguhnya orang ini (Ibnu Hazm) telah pula mengatakan kalimat seperti ini terhadap sejumlah huffazh yang tsiqah lagi masyhur seperti halnya Abul Qasim Al-Baghawi, Isma’il bin Muhammad Ash-Shffar dan Abul ‘Abbas Al-Ashamm serta yang lainnya. Yang aneh justeru beliau menyebutkan al-hafizh Ibnul Fardhi dalam kitab beliau “Al-Mu’talaf wa Al-Mukhtalaf” (yang dikenal dan yang diperselisihkan) –sebagai seorang yang dikenal dan tidak majhul- dan mengingatkan di dalamnya bagaimana kedudukan al-hafizh ini! Jika demikian halnya, maka bagaimana seorang At-Tirmidzi sampai luput dari pengamatan beliau dalam kitab beliau tersebut?!

Saya berkata: “Oleh karena itu, maka setiap keputusan-keputusan hukum beliau janganlah diterima kecuali jika memang secocok dan sejalan dengan hukum para imam yang masyhur sebelum beliau, atau minimal tidak bertentangan dengan keputusan mereka”.

Dengan demikian maka berakhirlah sudah uraian mengenai kedua hadits yang telah didha’ifkan oleh Ibnu Hazm pada bagian pertama ini dari enam hadits shahih yang telah disebutkan sebelumnya disertai penjelasan tentang kesalahan beliau dalam hal ini.

Dan sekarang kita akan mengemukakan bagian kedua, yaitu: hadits yang luput dari pengamatan beliau, atau beliau mengetahui sebahagian jalan hadits-hadits tersebut sedang sebahagian yang lain tidak diketahui oleh beliau, dimana termasuk dalam bagian ini semua hadits selain kedua hadits yang telah disebutkan di atas disertai sedikit penjelasan, sebagai berikut:

Hadits yang kedua, Ibnu Hazm menegaskan setelah beliau mengutarakannya dengan mengatakan seperti yang telah diuraikan: “Tidak dikenal siapa yang meriwayatkannya”. Padahal kenyataannya hadits ini diriwayatkan lebih dari sepuluh huffazh yang masyhur dalam kitab-kitab karangan mereka dari hadits Anas r.a dan Abdurrahman bin ‘Auf r.a sebagaimana yang telah disebutkan takhrijnya secara terperinci. Dan hal ini pun termasuk diantara yang diumumkan oleh Ibnu Hazm atas diri beliau bahwasanya beliau tidak mengetahui dengan persis (kurang menela’ah atau memahami) hadits-hadits yang sebenarnya bersanad. Sekalipun demikian Asy-Syaikh Al-Ghazali tetap saja tertipu sehingga beliau mengikutinya (dalam masalah ini), bahkan beliau ini menambahkan di dalamnya –bagaikan membasahi seikat kayu atau rumput- berupa ucapan yang hanya akan memperburuk pemahaman akan pernyataan Ibnu Hazm ini sebagaimana yang telah diuraikan, dengan kata lain beliau mengubah pernyataan Ibnu Hazm tersebut.

Sedang hadits yang ketiga, beliau tidak menyebutkannya (dalam risalah beliau tersebut) sekalipun beliau menyebutkannya di tempat lain dalam kitab beliau “Al-Muhallaa” dan mengi’lalnya dengan ‘illat kemajhulan Qais bin Habtar dimana beliau telah salah dalam hal ini sebagaimana yang telah diuraikan.

Adapun mengenai hadits keempat dan kelima, beliau tidak secara mutlak menyinggungnya seperti halnya dengan hadits yang keenam dimana beliau tidak menyebutkannya. Toh hadits ini memiliki banyak syawahid yang diantaranya ada yang shahih li dzaatihii seperti hadits Rabi’ah Al-Jarsyi r.a begitu-pula dengan hadits Farqad –dengan sanadnya yang shahih li ghairihii- dari Abu Umamah r.a; beliau tidak menyebutkan jalan-jalan hadits ini dari Farqad kecuali jalan Al-Harits bin Nabhan yang nota-bene seorang yang matruk (ditinggalkan atau tidak diterima haditsnya)! Begitu-pula beliau tidak melihat jalan yang ketiga pada hadits yang pertama yang diriwayatkan oleh Ibnu Dzi Himayah seorang yang tsiqah, sekalipun ditolak atau tidak ingin diakui oleh si mudha’iif hadits-hadits shahih ini.

Diterjemahkan dari Kitab : Tahrim Aalat Ath Tharb, karya Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: