Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitabul ‘Ilm – Adab dalam majlis ilmu

Posted by Abahnya Kautsar pada 13 Februari 2008

Berkata al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari rahimahullah :

BAB : SEORANG YANG DITANYA TENTANG SUATU ILMU DAN YANG DITANYA DALAM KEADAAN SEDANG DISIBUKKAN DENGAN PEMBICARAAN DALAM MENYAMPAIKAN ILMU MAKA DIA MENYEMPURNAKAN PEMBICARAANNYA KEMUDIAN MENJAWAB PERTANYAAN TADI

Hadits no. 59 : Telah menyampaikan hadits kepada kami Muhammad bin Sinan, ia berkata: telah menyampaikan kepada kami Fulaih [yakni Ibnu Sulaiman Abu Yahya al-Madani, berada pada thabaqah/tingkatannya al-Imam Malik yaitu pada thabaqahnya Tabi’ at-Tabi’in. Kata Al-Hafidh Ibnu Hajar: ada sebagian aimmah ahlul hadits yang membicarakan hafalannya (ada kelemahan pada hafalannya) sehingga al-Bukhari tidak mengeluarkan hadits dari Fulaih dalam permasalahan ahkam (hukum-hukum syariat) kecuali ada muttabi’ (ikutan)nya atau al-Bukhari mempunyai sanad yang lain pada thabaqahnya Fulaih yang menguatkan. Adapun dalam masalah mawaidh (nasihat) tanpa berhubungan dengan syariat maka al-Bukhari ada yangg dikeluarkan bersendirian (istiqlal), di antaranya adalah hadits ini, dengan berupa muttabi’]. –huruf haa` (pergantian jalur periwayatan)- [merupakan rumus / kode dari ahlul hadits ketika hendak memindahkan sanad, karena memiliki sanad lain selain sanad pertama, ini menunjukkan ijtihad (bersungguh-sungguhnya) al-Bukhari dalam thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu). Dan merupakan kebanggaan tersendiri bagi ahlul hadits ketika memiliki beberpa masyayikh (guru) dalam suatu periwayatan hadits yang sama. Menunjukkan sebagai orang yang semangat melakukan rihlah (perjalanan menuntut ilmu), sehingga kuat riwayatnya]. Dan telah menyampaikan kepada kami Ibrahim bin al-Mindzir, ia berkata: telah menyampaikan kepada kami Muhammad bin Fulaih, ia berkata: telah menyampaikan kepadaku bapakku, [berarti sanad pertama tingkatan periwayatannya lebih tinggi daripada sanad yang kedua (sanad ‘ali dan sanad nazil). Merupakan suatu perkara yang dikejar oleh ahlul hadits untuk bisa mendapatkan sanad ‘ali, di antara mereka ada yang mengatakan : saya suka rumah yang sunyi dan sanad yang tinggi. Berkata al-Hafidh: Al-Bukhari menampilkan dua sanad ini karena al-Bukhari akan mengulangi hadits ini pada kitab ar-riqaaq nomor hadits. 6496. Faidah: hadits ini berkaitan dengan ilmu, tapi mafhumnya hadits ini berkaitan dengan perkara-perkara selain ilmu. Dijelaskan dalam hadits no. 6496, al-Bukhari meriwayatkan hadits ini denga menggunakan sanad yang pertama (sanad “ali) saja, adapun sanad yang nazil tidak disebutkan lagi]  ia berkata: telah menyampaikan kepadaku Hilal bin ‘Ali [berkata al-Hafidh: dia mempunyai tiga nama, yaitu: Hilal Abu Maimunah dan Hilal Ibnu Abi Hilal] dari ‘Atho’ bin Yasar dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu [mulazamah kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama 4 tahun], ia berkata: tatkala an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam suatu majlis (ilmu), sedang berbicara kepada suatu kaum, datang kepadanya A’rabi (orang pedalaman), dan kemudian berkata: “kapan hari kiamat terjadi?” Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meneruskan pembicaraannya membiarkan dia. Maka berkata sebagian kaum : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar apa yang diucapkan, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak senang dengan apa yang diucapkan” [sangkaan ini timbul karena orang itu bertanya tentang hari kiamat yang ilmunya di sisi Allah Subhanahu wa ta’ala]. Dan sebagian kaum mengatakan: “bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mendengar perkataannya sehingga tidak dihiraukan”. Sampai ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyelesaikan pembicaraannya (menyampaikan ilmu) beliau bersabda : “dimana orang yang aku sangka bertanya tentang kapan terjadinya hari kiamat?” A’rabi tersebut menjawab : “saya, wahai Rasulullah”. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “maka apabila amanah itu telah ditelantarkan, maka tungguhlah terjadinya hari kiamat” A’rabi tersebut kembali bertanya : “Bagaimana bentuk penelantaran amanah itu?” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “apabila kepemimpinan diserahkan [wusida dari kata wisadah/bantal. Kebiasaan Amir (pemimpin) Arab jika duduk maka di bawahnya ada wisadah (bantal) sebagai tempat  bersandar. Berkata Al-Hafidh Ibnu Hajar : Amir mereka jika duduk ada bantal sebagai sandaran] amanahnya kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah hari kiamat”.

Makna hadits

Kata “Al-Amru” dalam hadits tersebut bermakna kepemimpinan.

Sebagaimana hadits : “sesungguhnya kami tidak akan membiarkan perkara al-amr (kepemimpinan) ini kepada orang yang minta / mengejarnya”.

Ternyata al-Hafidh Ibnu Hajar pada jilid yang lain disebutkan pada hadits nomor 6496, di sana diterangkan :

Alif lam pada kata al-amru adalah lil istighragh. Menunjukkan mencakup seluruh perkara. Jika perkara itu disandarkan kepada bukan ahlinya maka tunggulah terjadinya hari kiamat.

Dan kepemimpinan adalah perkara yang besar, masuk pula perkara fatwa tentang ilmu, dan seterusnya.

Fawaid hadits

  1. berkaitan dengan al-Alim
    bimbingan dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengajari beradab orang yang bertanya dengan tidak beradab. Dengan cara memalingkan diri, tidak diperhatikan sampai ada yang hendak disampaikan ditunaikan kemudian memperhatikan pertanyaannya.
  2. ketika ada orang yang bertanya kepadanya tentang suatu ilmu, maka hendaknya dia ada perhatian untuk menjawabnya, walaupun jawaban tersebut bukan sesuatu yang harus. Dalam artian sesungguhnya tidak ada jawabannya, sehingga penanya mendapatkan faidah yang lain.
  3. berkaitan dengan muta’alim (yang belajar)
    boleh / dianjurkannya mengulangi pertanyaan apabila jawaban yang sebelumnya kita belum paham betul.
  4. dalam hadits ini terdapat isyarat bahwa ilmu itu dalam bentuk tanya jawab. Dan dari sana bagusnya pertanyaan adalah setengah dari jawaban benar.
  5. berkaitan dengan berpalingnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
    berkata al-Hafidh : di sini ada pembahasan fiqhiyyah (berkaitan dengan masalah fiqih)
    apabila seorang sedang berkhutbah misalnya, kemudian ada orang masuk bertanya tentang suatu ilmu, apakah dijawab pertanyaan itu seketika ataukah diakhirkan?
    dinukilkan oleh Ibnu Hajar : khilaf (terjadi perbedaan pendapat)
    al-Imam Ahmad dan al-Imam Malik dan yang lainnya. Berdasarkan hadits ini mereka berpendapat bahwa khutbah tetap dilanjutkan dan tidak diputuskan hanya untuk menjawab pertanyaan tersebut, adapun Jumhur (kebanyakan) Ulama memberi rincian
    apabila khutbahnya masih berkaitan dengan perkara-perkara yang wajib dalam khutbahmaka diakhirkan jawabannya.
    adapun jika sudah bukan dalam perkara wajib maka disukai kalau dijawab pertanyaan itu seketika.
    adapun al-Hafidh Ibnu Hajar berkata :
    yang lebih utama dalam hal ini, kita lihat, apabila pertanyaannya itu masalah yang penting dalam masalah agama, yang sangat dia butuhkan jawabannya, apalagi kalau pertanyaannya berkaitan khusus dengan orang yang bertanya, maka dijawab terlebih dahulu kemudian dilanjutkan khutbah. Hanya saja, apabila dia memutuskan khutbahnya ketika dia mennyampaikan perkara yang wajib itu, maka diputuskan dan setelah menjawabnya diulangi.

Wallahu a’lam bish shawwab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: