Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,031,073 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Periwayatan hadits dengan “Hadatsana”

Posted by Abahnya Kautsar pada 13 Februari 2008

 

Berkata al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Ju’fi al-Bukhari rahimahullah :

BAB : UCAPAN MUHADDITS YANG MEMILIKI RIWAYAT-RIWAYAT HADITS DENGAN MENGATAKAN HADATSANA (MENGABARKAN KEPADA KAMI), AKHBARANA, ANBA’ANA (MENGABARKAN KEPADA KAMI)[1]

Hadits no. 61 :

Telah berkata kepada kami al-Humaidi[2], ia berkata : adalah disisi Ibnu ‘Uyainah[3] ”Lafadh hadatsana, akhbarana, anba’ana, dan sami’tu bermakna satu”.

Dan berkata Ibnu Mas’ud[4] : “Hadatsana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau adalah ash-shadiqul mashduq[5].

Dan berkata Syaqiq[6] dari Abdullah[7]  : “Aku mendengar an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara dengan satu kalimat”[8].  Dan berkata Hudzaifah[9] : “Hadatsana (telah menceritakan kepada kami) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dua hadits”.

Dan berkata Abu ‘Aliyyah[10] : “Dari Ibnu ‘Abbas dari an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang diriwayatkan dari Rabbnya (hadits Qudsi)”.

Dan berkata Anas : “meriwayatkan dari an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang diriwayatkan dari Rabbnya”.

Dan berkata Abu Hurairah : “Meriwayatkan dari an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam apa yang diriwayatkan dari an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Rabb kalian ‘Azza wa Jalla”.

Makna hadits

Berkata al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah :

“Secara lughah (bahasa) lafadh-lafadh ini sama maknanya, akan tetapi secara istilah terjadi khilaf (perbedaan pendapat), di antara ahlul ilmi ada yang menganggap seperti pendapatnya al-Bukhari yaitu sama artinya, dan termasuk yang berjalan di atas pendapat ini adalah al-Imam Malik, Az-Zuhri, Yahya bin Qathan, al-Hijaziyyin, al-Kuffiyyin, dan amalannya al-Magharibah (orang-orang Maghrib)”.

Al-Imam al-Hakim mengatakan : “Ini adalah madzhabnya al-Imam al-Arba’ah”.

Di antara ahlul ilmi ada yang berpendapat : “Kalau seorang Muhaddits duduk di majlis di hadapan murid-muridnya dan membacakan hadits-haditsnya baik dari hafalannya (apabila dia dhabit shadr) ataukah dari kitab (apabila dia dhabit kitab) –karena penjagaan hadits itu dengan dua bentuk : dengan hafalan dan dengan kitab-, atau periwayatan hadits, seorang murid (al-hadhirin) dia berdiri kemudian menyebutkan hadits dari para syaikh ini baik dari hafalannya maupun dari kitabnya, kemudian dibenarkan oleh syaikh tersebut maka sah sebagai muridnya dan boleh meriwayatkan hadits.

Di antara ahlul hadits ada yang membedakan : kalau bentuknya syaikhnya yang menyampaikan hadits kemudian murid-muridnya mendengar maka diithlaqkan (mutlak) lafadh-lafadh ini, yakni : hadatsana, akhbarana, anba’ana, sami’tu.

Adapun kalau bentuk periwayatanny dengan bentuk murid membaca dan syaikhnya mendengar maka ditaqyid ditambah dengan lafadh-lafadh qira’atan ‘alaih “hadatsana fulan qira’atan ‘alaih, dan seterusnya.

Sampau ada yang membedakan periwayatan dengan bentuk hadatsana dan hadatsani, jika dia mendapatkan hadits sendirian maka menggunakan hadatsani, dan jika mendapatkannya dengan berkelompok, maka dengan hadatsana, akhbarana, anba’ana, dan seterusnya dengan bentuk lafadh jamak.

Dan dengan lafadh ‘an : menunjukkandia tidak mendengar langsung dari syaikh dengan lafadh  ‘an al-Bukhari mengisyaratkan dengan ini bahwasanya selama perowi ini secara tarikh (menurut sejarah), tahun hidupnya antara dia dengan syaikhnya sezaman, tsabit, jelas bahwa dia bertemu dengan syaikhnya, dan dia tsiqah, apabila meriwayatkan hadits tidak dengan hadatsani, akhbarani, hanya mengatakan : ‘an syaikh, ‘an fulan, maka hukumnya haditsnya sama dengan hadatsana, dan seterusnya.

Wallahu a’lam.

Ditulis ulang dari Catatan Taklim Shahih Al Bukhari bersama Al Ustadz Abu Abdillah Muhammad Al Makassari di Ma’had Minhajus Sunnah Muntilan Magelang.


[1] [Di antara ahlul hadits di antaranya al-Bukhari, di antara lafadh-lafadh ini, maknanya sama dan beliau akan menyabutkan dalil-dalilnya].

[2] [namanya adalah Abdullah bin Zubair al-Qurasyi al-Makki, tsiqah, termasuk di antara syaikh (guru)nya al-Bukhari, faqih (hafal dan faham tentang fiqih), termasuk di antara murid-muridnya Ibnu ‘Uyainah rahimahullah  yang senior. Kedudukannya al-Humaidi di sisi al-Bukhari adalah besar. Berkata al-Hakim Abu Abdillah (penulis kitab al-Mustadrak) : dan adalah al-Bukhari jika mendapatkan hadits di sisi al-Humaidi maka dia tidak melampaui ke syaikhnya yang lain]

[3] [berkata asy-Syafi’i tentangnya : kalau bukan karena bukan kedua orang ini (setelah Allah) –yaitu al-Imam Malik di Madinah dan Sufyan Ibnu ‘Uyainah di Makkah- sungguh ilmu itu akan hilang dari negeri hijaz (Makkah dan Madinah)]

[4] [namanya adalah Abdullah Abu Abdirrahman, terhitung dari kalangan shahabat yang faqih]

[5] [diriwayatkan secara mu’allaq (dibuang sanadnya), merupakan bentuk periwayatan shighatul ‘adaa’ (bentuk-bentuk dalam meriwayatkan hadits)]

[6] [dia adalah Syaqiq bin Salamah Abu Wa’il al-Kuufi. Ada dua istilah baginya : tabi’iyyun dan mukhadhramun. Tabi’iyyun adalah murid-muridnya para shahabat yang mereka ini tidak mencapai zamannya Rasullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Mukhadhramun adalah dia hidup mencapai zamannya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tetapi tidak bertemu dengan Rasullullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka riwayat haditsnya berkedudukan sama dengan tabi’in]

[7] [yaitu Abdullah bin Mas’ud yang disebutkan sebelumnya]

[8] [hadits yang maushul (bersambung sanadnya) terdapat dalam kitab al-Jana’iz]

[9] [Hudzaifah bin al-Yaman]

[10] [namanya Rufai’ bin Mihran ar-Riyahi]

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: