Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Allah mencintai orang-orang yang bertawakkal

Posted by Abahnya Kautsar pada 15 Maret 2008

Alah ta’ala berfirman :

          “ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertawakkal “ (Surah Ali Imran : 159)

          At-Tawakkal –Lihat di dalam : Ihya’ Ulumuddin karya al-Ghazali 4/243, al-Jami’ li-Ahkami al-Qur’an karya al-Qurthubi 4/122, al-Fawaid karya Ibnul Qayyim 148–149, Madarij as-Salikin karya Ibnul Qayyim 2/114 : Secara etimologinya bermakna penampakan kelemahan diri dan ketergantungan kepada orang lain. Seperti jika dikatakan : Saya bertawakkal dalam perkaraku kepada fulan, yakni bermakna saya  menyerahkannya dan menggantungkannya kepada orang tersebut. Dan fulan bertawakkal kepada fulan lainnya artinya dia mencukupkan perkaranya dengan kepercayaan dia akan pemenuhan perkaranya oleh orang tersebut. Dan yang dimaksud dengan tawakkal disini adalah tawakkal kepada Allah ‘azza wajalla, yang merupakan amalan hati dan tidak diucapkan melalui lisan dan bukan pula amal jawarih. Dan tawakkal bukan termasuk dalam kategori disiplin ilmu dan pengetahuan.

          Diantara kaum manusia ada yang menafsirkan tawakkal dengan kepasrahan bersama Allah dengan segala yang Dia kehendaki. Diantara mereka ada yang menafsirkannya dengan keridhaan akan segala yang telah ditentukan oleh Allah. Sebagian lagi mengatakan : Tawakkal adalah bergantung kepada Allah dalam setiap keadaan, dan yang mengatakan selain penafsiran-penafsiran itu. Dan hakikat sesungguhnya dari hal ini adalah : bahwa tawakkal adalah suatu keadaan yang terdiri atas beberapa perkara : Ma’rifah Rabb dan sifat-sifat-Nya, penetapan adanya korelasi antara sebab akibat, kemapanan hati diatas pijakan tauhid –peng-Esaan– Allah dalam tawakkal tersebut, dengan begitu tidaklah tawakkal seorang hamba menjadi lurus hingga hamba tersebut membenarkan tauhid-nya,  menggantungkan hati kepada Allah ta’ala dan menyandarkannya kepada Allah serta  ketenangan hati kepada Allah,  berprasangka baik kepada Allah ‘azza wajalla, kepasrahan hati kepada-Nya, menyerahkan segala sesuatunya, ridha, dan ini merupakan buah hasil dari tawakkal. Dan yang manafsirkan tawakkal dengan hal-hal tersebut, dia menafsirkannya berdasarkan hasil yang tercapai dari tawakkal dan faidahnya yang paling besar. Karena apabila seseorang telah bertawakkal dengan sebenar-benarnya tawakkal berarti dia telah ridha dengan segala yang dilakukan oleh wakiil-nya / tempat dia bertawakkal.

          Dan kesemuanya sepakat bahwa tawakkal tidaklah berarti menolak untuk mencapai segala sebab-sebab pencapaian sesuatu. Dan tidaklah tawakkal menjadi suatu yang benar kecuali jika diiringkan bersama pemenuhan segala macam sebab  jika tidak maka tawakal itu sekedar sebuah kebohongan dan tawakkal yang fasid. Sesungguhnya tawakkal merupakan keadaan yang nampak pada diri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dan usaha untuk meraih sesuatu merupakan sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  . Maka siapa yang mencela usaha tersebut berarti dia telah mencela as-Sunnah. Dan siapa yang mencela tawakkal berarti dia telah mencela al-Iman.

          Tawakkal merupakan salah satu tingkatan dalam agama Islam dan merupakan salah satu derajat dari sekian derajat orang-orang yang berkeyakinan teguh. Bahkan tawakal merupakan derajat tertinggi bagi orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah – al-muqarribiin -. Dan merupakan suatu yang paling agung karena merupakan tingkatan yang mana seorang yang bertawakkal akan mendapatkan kecintaan Allah ta’ala, segala pencukupan Allah ta’ala akan dikenakan beginya, Jadi bagi siapa yang menjadikan Allah cukup bagi dirinya, dan yang mencukupkan-Nya bagi dirinya, mencintai-Nya dan takut kepada-Nya maka sesungguhnya dia telah meraih kemenangan yang teramat besar, karena Dzat yang dicintainya tidak akan mengadzabnya, tidak akan menjauhkan dirinya dan tidak akan menghalanginya.

          Orang-orang yang bertawakkalal-mutawakkilun– : Mereka adalah orang-orang yang bertawakkal kepada Allah dan bergantung kepada-Nya dengan menampakkan ketidak berdayaan mereka, dan menyerahkan segala perkara mereka kepada-Nya … Mereka percaya penuh kepada Allah dan meyakini bahwa ketentuan Allah adalah suatu yang pasti, dan mereka juga mengikuti sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam  dalam mencapai segala bentuk sebab yang mesti dicapai berupa makan, minum, menjaga diri dari segala musuh, mempersiapkan segala persenjataan dan mempergunakan segala sesuatu yang sesuai dengan sunnah Allah ta’ala yang berlaku … Dan mereka sama sekali tidak berdiam diri dari salah satu dari sebab-sebab tersebut, tidak pula memalingkan hati mereka darinya, dan mereka tidak mengerjakan sebab-sebab tersebut kecuali  atas dasar hikmah dari perintah tersebut. Karena sesungguhnya segala bentuk sebab tidak akan mendatangkan manfaat dan tidak pula akan dapat menolak segala mudharat, melainkan sebab dan akibat merupakan perbuatan Allah ta’ala, dan kesemuanya berasal dari Allah dan merupakan kehendak-Nya.

          Al-Mutawakkil –seorang yang bertawakkal– : Adalah seseorang yang meninggalkan semua bentuk ikhtiyar/usaha dan pencarian untuk mengharapkan tambahan atau karena takut akan kekurangan ataukah mencari kesehatan dan menjauh dari penyakit. Dan dia mengetahui bahwa Allah ta’ala Maha Menetapkan segala sesuatu, dan hanya Allah yang Maha Tunggal dalam setiap ikhtiyar dan pencarian. Dan pengaturan Allah bagi hamba-Nya jauh lebih baik dari pada pencarian hamba untuk dirinya sendiri. Dan Allah semata yang paling mengetahui kemashalahatan bagi seorang hamba  daripada hamba itu sendiri dan Allah lebih kuasa untuk mendatangkan dan merealisasikan kemashlahatan tersebut dari pada dirinya sendiri. Dan Allah lebih bijaksana daripada hamba itu bagi dirinya, dan lebih pengasih kepada hamba tersebut daripada hamba itu akan dirinya sendiri, dan lebih berbuat baik baginya daripada hamba itu untuk dirinya sendiri. Dan hamba tersebut mengetahui bahwa dia tidak akan sanggup untuk mendahului pengaturan Allah walau selangkah dan juga tidak akan dapat mengakhirkan pengaturan-Nya walau selangkah, maka dia tidak akan dapat mendahului Allah dihadapan ketentuan dan takdir Allah dan tidak pula akan dapat mengakhirkannya.

          Maka hamba itu menyodorkan dirinya kehadapan Allah dan menyerahkan segala perkaranya kepada Allah., dan menghamparkan dirinya dihadapan Allah seperti seorang budak lemah yang tunduk menghambakan dirinya dihadapan seorang penguasa yang sangat kuat dan sangat berkuasa. Yang mana penguasa itu dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap diri hamba tersebut, sedangkan hamba itu tidak dapat berbuat sedikitpun juga terhadap penguasanya. Maka hamba tersebut dengan begitu akan merasa tenang dari segala kesedihan, duka, kesusahan dan penyesalan. Dan dia menyerahkan sepenuhnya dan segala keinginannya, segala yang memberinya kebaikan kepada Dzat yang tidak akan susah dengan memikul semuanya, tidak akan memberatkannya dan tidak menjadi susah karenanya. Maka Allah menjadi perwalian atas semuanya itu dan memperlihatkan kelemah lembutan-Nya, kebajikan-Nya, rahmat-Nya, kebaikan-Nya dalam segala hal tersebut bagi hamba-Nya, tanpa merasa letih, tidak merasa berat dan tidak pula menjadikannya khawatir. Dikarenakan dia telah menyerahkan kekahawatirannya kepada Allah dan menjadikan-Nya satu-satunya yang dia takut kepada-Nya, maka diapun menyerahkan segala rasa khawatir, keinginan dan segala yang mendatangkan kebaikan duniawiannya dan mengosongkan hatinya dari segala hal tersebut …

          Dan Allah subhanahu wata’ala, telah memerintahkan hambanya dengan sebuah perintah dan memberikan jaminan bagi hamba tersebut. Apabila hamba itu menegakkan perintah-Nya dengan nasihat yang benar, kejururan, ikhlas, dan penuh kesungguhan, niscaya Allah subhanahu akan memberikan segala yang telah menjadi jaminan baginya berupa rizki, pencukupan, pertolongan, dan  pemenuhan segala kebutuhannya. Dikarenakan Allah subhanahu telah menjaminkan rizki-Nya bagi hamba yang menyembah-Nya, pertolongan bagi yang tawakkal kepada-Nya dan menolong – agama – Nya, dan pencukupan bagi yang menjadikan-Nya sebagai tujuan dan yang hendak dicapainya, ampunan bagi yang meminta ampunan kepada-Nya, pemenuhan segala kebutuhan bagi yang benar dalam mencari kebutuhan hidupnya dan mempunyai rasa percaya yang tinggi kepada Allah, demikian kuat pengharapan kepada-Nya dan sangat tamak dalam meraih keutamaan dan kebaikan –Nya.

 “ Dan barang siapa yang bertawakkal kepada Allah, maka Allah yang akan mencukupkan segala kebutuhannya “ (Surah ath-Thalaq : 3).

 “ Dan segala yang berada disisi Allah jauh lebih baik dan kekal bagi orang-orang yang beriman dan yang bertawakkal kepada Rabb mereka “ (Surah asy-Syura : 36)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: