Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Allah mencintai Seseorang yang membaca Surah al-Ikhlash

Posted by Abahnya Kautsar pada 15 Maret 2008

Dari Aisyah beliau berkata,

          “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengutus seseorang bersama sekelompok pasukan perang, dan dia mengimami shahabatnya  disaat shalat dan mengakhiri bacaannya dengan bacaan : Qul Huwallahu Ahad. Setelah mereka kembali mereka menyebutkan hal itu kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  , lalu beliau bersabda : “ Tanyakanlah kepadanya, apakah alasannya dia melakukan hal itu ? “. Lantas mereka bertanya kepadanya , dan dia mengatakan : Diakrenakan surah tersebut mengandung sifat ar-Rahman, dan saya senang membaca-nya. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda : “ Beritahukanlah kepadanya bahwa Allah mencintainya “ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam Kitab at-Tauhid bab. Maa Jaa’a fii Du’a an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ummatahu ila Tauhidilahtabaraka wata’ala).

          Ibnu Daqiq al-‘Ied : “ Hadits ini kemungkinan menunjukkan sebab kecintaan Allah kepadanya dikarenakan kecintaan dia terhadap suraht ersebut. Dan ada kemungkinan kecintaan Allah ini dikarenakan makna yang terkandung didalam ucapannya, dikarenakan kecintaannya menyebut sifat-sifat ar-Rabb yang menunjukkan aqidahnya yang benar “. Al-Marizi mengatakan : “ Kecintaan Allah kepada para hamba-hamba-Nya berupa kehendak Allah untuk memberi mereka pahala dan memberi kenikmatan bagi mereka “. Dan ada yang mengatakan : Kecintaan Allah tiada lain adalah pemberian pahala dan anugrah kenikmatan. Ibnu at-Tiin mengatakan : “ Makna kecintaan Allah bagi para makhluk adalah kehendak untuk memberi manfaat bagi mereka “.

          Al-Qurthubi didalam al-Mufhim mengatakan : Kecintaan Allah kepada hamba-Nya, berupa kedekatan dan pemuliaan-Nya dan bukan karena kecendrungan dan bukan pula karena tendensi tertentu sebagaimana kecintaan seorang hamba. Dan kecintaan seorang hamba kepada Rabb-nya bukan sebatas kehendak semata, melainkan kecintaan tersebut adalah sesuatu yang bernilai lebih dari sekedar rasa cinta. Karena seorang manusia akan terbersit dalam dirinya, bahwa dia menyukai sesuatu namun kepada sesuatu yang tidak sanggup diusahakannya dan tidak sanggup mencapainya. Sedangkan kehendak – al-Iradah – adalah sifat yang mengkhususkan sebuah perbuatan dari beberapa sisi yang diperbolehkan dan dan dalam dirinya timbul kesadaran bahwa dia mencintai orang-orang yang memiliki sifat-sifat yang terpuji dan perbuatan-perbuatan yang baik, seperti para ulama, orang-orang terkemuka, orang-orang yang berbudi pekerti mulia, walau kehendak yang spesifik ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia. Dan jikalau perbedaan ini benar adanya, maka Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat yang dicintai  oleh orang-orang yang mencintai-Nya dengan kecintaan yang sebenarnya, sebagaimana hal itu suatu yang dapat diketahui oleh seseorang yang Allah berikan rizki kepadanya berupa kecintaan itu. Kami memohon kepada Allah ta’ala agar Allah menjadikan kami sebagai salah seorang yang mencintai-Nya dengan penuh  keikhlasan. (Fathu al-Bari, 13/ 357-358).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: