Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Allah mencintai seseorang yang memiliki tiga sifat :

Posted by Abahnya Kautsar pada 15 Maret 2008

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :  

 “ Apabila kalian senang Allah ta’ala dan Rasul-Nya mencintai kalian, maka tunaikanlah amanah kalian, dan benarlah jika berbicara, dan bertetanggalah dengan baik kepada tetangga kalian “ (Shahil al-Jami’ ash-Shaghir no. 1409).

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “ Ada empat perkara jikalau keempatnya berada pada dirimu, maka tidak mengapa bagimu jika tidak mendapatkan dunia, ucapan yang benar, menjaga amanah, akhlak yang mulia dan hidangan yang bersih “ (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 873).

  1. Menunaikan amanah –Lihat didalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhzim karya Ibnu Katsir 1/527, ‘Aun al-Ma’bud karya al’Adhzim Abadi 9/327 dan al-Jami’ li-Ahkam al-qur’an karya al-Qurthubi 5/166: Yakni seseorang yang diserahi amanah untuk benar-benar menjaga hingga penyerahan amanahnya dan terpercaya dalam penunaiannya baik berupa harta ataukah selainnya dan ini kebalikan dari khianat. Allah ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan untuk menunaikan amanah dan tidak berlaku khianat. Allah ta’ala berfirman :

 “ Sesungguhnya Allah telah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada yang berhak “ (Surah an-Nisa’ : 58).

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “ Tunaikanlah amanah kepada yang telah mempercayaimu dan janganlah engkau berkhianat kepada yang khianat kepadamu “ (Shahih Sunan Abu Daud no. 3018).

Ibnu Abbas mengatakan :

 “ Allah sama sekali tidak memberi keringanan baik bagi yang dalam keadaan sempit atau yang berada dalam keadaan lapang hingga menahan amanah seseorang “. Dan para ulama sepakat bahwa setiap bentuk amanah mesti dikembalikan kepada pemiliknya baik itu mereka orang-orang yang baik atau orang-orang yang fajir. Dan kesimpulannya bahwa sebuah amanah tidak diperbolehkan untuk dikhianati selamanya, karena pengemban amanah hanya ada dua, seorang yang terpercaya atau seorang yang berkhianat. Dan bagaimanapun keadaannya, tetap amanah tersebut tidak boleh dikhianati.. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  :

 “ Dan janganlah engkau menghianati orang yang khianat kepadamu “,

Hadits ini menunjukkan bahwa tidak boleh membalas seorang pengkhianat serupa dengan perbuatannya … Dan juga dapat dijadikan sebagai pijakan hukum bahwa tidak diperbolehkan kepada seorang manusia apabila haknya tidak dapat terpenuhi maka dia dapat menahan titipan barang yang dipinjam dari musuhnya.

Menunaikan amanah adalah salah satu dari sifat-sifat orang-orang yang beriman, sebagaimana Allah ta’ala berfirman :

 “Mereka –orang-orang yang beriman– adalah yang terhadap amanah yang diembankan kepada mereka dan juga terhadap janji mereka, mereka menjaganya“ (Surah al-Mukminun : 8).

Maknanya : Apabila mereka dipercaya mereka tidak mengkhianatinya, bahkan mereka menunaikan amanah-amanah tersebut kepada yang berhak. Tidak sebagaimana salah satu sifat orang-orang munafik, yaitu :

 “ Apabila dipercaya dia berlaku khianat “ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam  al-Iman, bab.’Alamat al-Munafiq)

Maka barang siapa yang berlaku khianat, maka dia tidak terpercaya, dan barang siapa yang tidak terpercaya berarti tidak – sempurna – imannya, sebagaimana yang disampaikan oleh al-Mushthafa Shallallahu ‘alaihi wa sallam  :

 “ Tidak –sempurna– iman bagi yang tidak dapat dipercaya “ (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 7179).

            Perintah Allah tabaraka wata’ala dan Rasul-Nya untuk menunaikan amanah, berlaku umum bagi semua bentuk amanah yang wajib bagi setiap manusia dari hak-hak Allah ‘azza wajalla terhadap para hamba-Nya berupa shalat, zakat, puasa, membayar kaffarah, nadzar dan lain sebagainya, dimana kesemuanya itu adalah amanah dari Allah yang semua hamba-nya tidak akan dapat menjangkaunya. Dan juga amanah dari hak-hak hamba-hamba Allah, sebagian atas sebagian yang lainnya , seperti hal-hal yang bersifat rahasia, barang-barang titipan dan lain sebagainya yang mereka mengembannya sebagai sebuah amanah tanpa perlu sebuah bukti akan hal itu. Maka Allah ‘azza wajalla telah memerintahan agar amanah tersebut ditunaikan, dan bagi siapa saja yang tidak melakukan hal itu didunia maka Allah akan mengadzabnya karena hal itu pada hari kiamat, sebagimana yang shahih riwayatnya dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda :

 “ Sesungguhnya setiap hak akan dikembalikan kepada yang berhak pada hari kiamat, sehingga seeokor kambing yang memiliki tanduk yang sempurna akan memimpin kambing yang tidak patah tanduknya “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Birr, bab. Tahrim adh-dhzulm).

2.    Ucapan yang benar. Dan ini adalah kebalikan dari al-Kadzib – kedustaan -, yakni seorang yang benar dalam ucapannya yang dia sampaikan kepada semua kaum manusia dan berupaya untuk selalu berkata benar dengan  segala yng dia ujarkan dari lisan-nya dan menjauhkan diri dari dusta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah memberi peringatan agar tidak melakukan dusta  walau dengan tujuan humor, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

      “ Calakalah bagi yang berbicara dengan sebuah anekdot untuk membuat kaum sekitarnya tertawa lalu dia berdusta, maka celakalah baginya “ (Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 1885).

Bahkan yang menceritakan segala yang didengarnya dari perkataan kaum manusia cukuplah dia dianggap sebagai seorang pendusta. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “Cukuplah bagi seseorang diangap pendusta ketika dia menceritakan segala yang dia dengar“ (HR. Muslim dalam bab. An-Nahyu ‘anil-Hadits bi-kulli maa sami’a).

Yakni hal itu sudah cukup sebagai kedustaan, dikarenakan bisa jadi dia menambah-nambahkan yang didengarnya, dan dikarenakan yang seorang manusia dengar ada yang benar adapula yang dusta. Apabila dia menceritakan segala yang didengarnya, tentulah dia akan menceritakan yang dusta pula, ini suatu yang pasti. Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah mengabarkan bahwa diantara alamat orang-orang munafik adalah :

 “ Apabila dia bercerita maka dia berdusta “ (HR. al-Bukhari didalam Kitab al-Iman, bab. ‘Alamat al-Munafiq).

Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memperingatkan akan perkataan yang dusta agar sipelakunya tidak dicampakkan kedalam api neraka. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “ Hati-hatilah kalian dengan perkataan yang dusta, karena perkataan yang dusta akan menuntun pelakunya kepada perbuatan fajir. Dan sesungguhnya perbuatan yang fajir akan menuntun pelakuya kepada api neraka. Dan seseorang akan senantiasa berdusta dan bersengaja melakukan kedustaan hingga dia tertulis disisi Allah sebagai seorang pendusta “ (HR. Muslim didalam Kitab al-Birr, bab. Qubhi al-Kadzib wa husnush-Shidq wa fadhluhu).

Hadits ini berisi peringatan akan perbuatan dusta dan memudah-mudahkan dalam hal kedustaan tersebut. Karena apabila dia memudah-mudahkan perkara kedustaan dan sering melakukannya, maka dia akan dikenal sebagai seorang pendusta dan Allah juga menuliskan dirinya sebagai seorang pendusta jika kedustaan tersebut merupakan kebiasaannya dan dia berhak mendapatkan sifat-sifat para pendusta beserta adzab yang akan ditimpakan bagi mereka. Maka baik sifat tersebut akan dikenali pada dirinya di al-Malaa’i al-A’la ataukah akan tertanam dihati-hati kaum mnusia dan lisan mereka. Dan agar supaya seorang muslim tidak terjerumus dalam hal itu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah menganjurkan untuk selalu berkata benar dan selalu meniatkan perkataan yang benar serta memperhatikan hal tersebut, yang mana akan mengantarkan dirinya menuju surga dan diapun berhak mendapatkan sifat benar tersebut sebagaimana kedudukan orang-orang yang senantiasa berkata jujur, pahala mereka dan sifat tersebut akan dikenali pada dirinya di al-Malaa’i al-A’la ataukah disisi kaum manusia (Lihat : an-Nawawi, Syarh Shahih Muslim 16 / 160).

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “Seharusnyalah kalian berkata benar, karena perkataan yang benar akan mengantarkan pelakunya kepada amal kebaikan. Dan sesungguhnya amal kebaikan akan mengantarkan pelakunya kepada surga. Dan seseorang akan senantiasa berkata benar dan memperhatikan perkataan yang benar hingga dia akan tertulis disisi Allah sebagai seorang yang benar “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Birr, bab. Qubhi al-Kadzib wa Husnush-Shidqi wa fadhluhu).

Dan Allah ‘azza wajalla ridha kepada orang-orang yang berkata benar dan diakhirat kelak mereka akan mendapatkan kemenangan yang besar. Allah ta’ala berfirman :

 “ Allah ta’ala berfirman : Ini adalah hari dimana perkataan benar orang-orang yang selalu berkata benar akan memberi manfaat bagi mereka. Bagi mereka sorga-sorga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal didalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada-Nya. Dan itulah kemenangan yang besar “ (Surah al-Maidah : 119).

Karena perkataan yang benar juga mempunyai kedudukan yang agung, Allah ‘azza wajallah telah memuji diri-Nya sendiri dengan hal tersebut, Allah berfirman :

 “ Dan siapakah yang lebih benar perkataannya dari pada Allah “ (Surah an-Nisa’ : 87).

Maknanya bahwa tidak ada seorangpun yang lebih benar  perkataannya, khabarnya, janji dan ancamannya dari pada Allah yang Maha Mulia keberadaannya dan Maha Kudus segala nama-nama-Nya, Tiada Ilah selain Dia dan tiada sembahan yang hak selain Dia.

3.    Bertetangga dengan baik –Al-‘Asqalaani : Fathul Baari 5 / 197, 10 / 441 – 446. Yaitu seorang manusia yang berlaku baik dalam bertetangga kepada setiap tetangganya, bermuamalah dengan baik, berlaku santun kepada mereka, menjaga setiap peluang yang akan mendatangkan gangguan kepada mereka. Barang siapa yang tidak dapat bertetangga dengan baik dengan tetangganya maka Allah ta’ala dan Rasul-Nya tidak akan mencintainya, bahkan orang seperti ini akan dimurkai disisi keduanya. Dan tetangga mencakup tetangga yang muslim ataukah kafir, ahli ibadah ataukah seorang yang fajir, teman ataukah musuh, baik yang berasal dari negeri yang sama atau yang asing, yang mendatangkan manfaat atau yang akan memberi kemudharatan, kerabat ataukah orang lain, baik yang rumahnya dekat atukah yang jauh. Dan masing-masignya mempunyai tingkatan tertentu. Derajat yang paling tinggi adalah yang terkumpul sifat-sifat yang pertama semuanya baru kemudian yang terbanyak memiliki sifat-sifat tersebut demikian seterusnya hingga yang hanya mempunyai satu sifat tersebut saja. Dan sebaliknya bagi yang memiliki sifat-sifat berikutnya seperti itu pula. Dan masing-masing diberi haknya sesuai dengan keadaannya. Dan terkadang dua sifat atau lebih saling kontradiktif, maka mesti dirajihkan salah satunya atau seimbang. Ada yang berpendapat bahwa tetangga itu ada tiga : Tetangga yang wajib diberi hak tetangga yaitu seorang musyrk yang mesti diberi haknya sebagai tetangga. Dan tetangga yang mempunyai dua hak,  yaitu seorang muslim,  baginya hak sebagai tetangga dan hak keislamannya. Dan tetangga yang memiliki tiga hak, yakni seorang muslim yang masih ada pertalian kekeluargaan, baginya hak bertetangga,  hak islam dan hak keluarga.

Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah memerintahkan untuk berlaku baik kepda tetangga. Allah ta’ala berfirman :

 “ Dan berlaku baiklah kepada kedua orang tuamu, dan bagi kerabat, anak-anak yatim, kaum fakir miskin, tetangga yang masih ada tali kekeluargaan dan keluarga yang berada bersampingan “ (Surah an-Nisa : 36).

Allah ta’ala menekankan penyebutan tetangga setelah menyebutkan perihal kedua orang tua dan kerabat. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “ Dan Jibril selalu mewasiatkan kepadaku – berlaku baik – bagi tetangga, hingga saya telah menyangka bahwa Jibril akan memberinya hak waris “ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam Kitab al-Adab, bab. Al-Wushah bil-Jaar).

Dan sebagaimana telah datang perintah untuk berbuat baik kepada tetangga juga telah datang larangan untuk menyakitinya. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah dia menyakiti tetangganya “ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam Kitab al-Adab, bab. Man Kaan yu’minu billahi wal yaumil akhir falaa yu’dzii jaarahu).

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “ Demi Allah, tidaklah seseorang beriman, demi Allah tidaklah seseorang beriman, demi Allah tidaklah seseorang beriman. “ Lalu ada yang bertanya : Siapakah dia wahai Rasulullah? “ Beliau bersabda : “ Yaitu yang mana tetangganya tidak merasa aman dengan segala keburukannya “ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam Kitab al-Adab, bab. Itsmu man laa ya’manu jaaruhu bawaaiqahu).

Kalimat al-Bawaaiqah –keburukan– adalah kelicikan, kejelekan, kebencian, kecurangan dan suatu yang membahayakan. Pada hadits ini ada penekanan akan hak seorang tetangga dan tidal menebar gangguan baginya, berdasarkan sumpah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam  akan hal itu, serta sumpah tersebut beliau ulang sebanyak tiga kali. Dan hak seorang tetangga bukan sebatas tidak menebar gangguan kepadanya saja, bahkan juga dengan menahan diri dari gangguan.

            Asy-Syaikh Abu Muhammad bin Abu Jamrah mengatakan : “ Menjaga tetangga merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Dulunya kaum jahiliyah telah menjaga hal itu. Dan realisasi wasiat tersebut dapat dengan pemberian segala bentuk amal kebaikan sesuai dengan kemampuan, seperti memberi hadiah, ucapan salam, wajah yang berseri-seri disaat berjumpa dengannya, sering menanyakan keadaannya ketika tidak bertemu, membantunya pada hal-hal yang dia butuhkan dan lain sebagainya. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  telah meniadakan keimanan seseorang bagi yang tetangganya tidak merasa aman dengan keburukannya, yang merupakan makna hiperbolis dari pengabaran akan agungnya hak seorang tetangga dan bahwa mendatangkan mudharat bagi mereka merupakan salah satu dari dosa-dosa besar. Dan keadaan seperti ini dibedakan antara tetangga yang berakhlak shalih dan yang tidak, yang mana mencakup semua harapan agar dia mendapatkan kebaikan, nasihat baginya dengan nasihat-nasihat yang baik, mengajaknya kepada kebaikan dengan pemberian hadiah, meninggalkan segala perbuatan yang akan mendatangkan mudharat baginya kecuali pada tempat yang wajib baginya mendapatkan teguran yang keras atau dengan tindakan yang keras. Dan yang khusus bagi seorang yang shalih adalah hal-hal yang dikemukakan sebelumnya, dan bagi tetangga yang tidak shalih adalah dengan menahannya agar tidak melakukan hal-hal buruk dengan cara-cara yang baik sesuai dengan tingkatan-tingkatan amar ma’ruf nahi mungkar, dan menasihati tetangga yang kafir dengan menawarkan agar dia memeluk agama Islam, menerangkan kebaikan-kebaikan Islam, dan mengajaknya dengan penuh kelemah lembutan, menasihati tetangga yang fasiq  dengan hal-hal yang sesuai juga dengan lemah lembut, menutupi setiap ketergelincirannya dihadapan selainnya, melarangnya dengan cara yang lembut, apabila dia mengambil faidah maka inilah yang diinginkan dan jikalau tidak maka diapun diisolasikan, dengan tujuan untuk mendidiknya akan hal itu bersamaan dengan pemberitahuan kepadanya akan alasan hal itu dilakukan kepadanya agar supaya diapun berhenti dari kefasikannya.

            Ada yang berpendapat bahwa diantara hak bertetangga bagi seorang tetangga adalah : Apabila dia meminta bantuan pinjaman dari anda, maka andupun memberinya pinjaman, dan apabila dia meminta bantuan anda, maka andapun membantunya, dan apabila dia sakit, anda menjenguknya dan apabila dia dalam keadaan butuh maka andupun memberinya, dan apabila dia memerlukan anda, andapun kembali kepadanya. Dan apabila dia diberi kebaikan anda mengucapkan selamat baginya, dan apabila dia ditimpa musibah anda berta’ziyah kepadanya, dan apabila dia meninggal dunai, anda turut mengantarkan jenazahnya, dan janganlah anda meninggikan bangunan/pagar anda yang menyebabkan dia tidak mendapatkan hembusan angin kecuali setelah dia mengidzinkannya, dan janganlah anda mengganggunya dengan hembusan angin dari arah anda kecuali jika anda memberi celah untuknya dan apabila anda membeli buah-buahan maka berilah hadiah baginya, jika anda tidak melakukan hal tersebut maka masukkanlah dengan sembunyi-sembunyi dan janganlah anda membiarkan anak anda keluar, yang akan mengakibatkan anaknya menjadi iri dengan buah-buahan tersebut.

            Rasuulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

 “ Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak makaan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya dan antarkanlah/hadiahkanlah kepada para tentanggamu “ (Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Birr, bab. Al-Washiyah bil-Jaar wal-Ihsan ilaihi).

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

 “ Wahai kaum wanita muslimah, janganlah sorang tetangga wanita menghina tetangga wanita lainnya walau sekedar kuku kambing “ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam Kitab al-Adab, bab. Laa tahqiranna Jaarah li-jaarihaa).

Maksudnya, seorang wanita jangan sampai menghina tetangganya yang memberinya sebuah hadiah, walau berupa pengais /kuku kambing yang pada kebiasaannya tidak dapat dimanfaatkan …

Hadits ini mengisyaratkan kepada pengandaian yang hiperbolis dalam pemberian hadiah, walau suatu yang sangatkecil dan juga ketika menerima hadiah, bukan menunjukkan makna yang sebenarnya, dikarenakan kuku kambing bukan suatu yang biasa dijadikan hadiah.. Artinya seorang tetangga wanita janganlah sampai dia terhalang untuk memberi hadiah bagi tetangga tertentu dari sesuatu yang dia miliki, melainkan salayaknyalah dia berlaku dermawan bagi tetanganya tersebut dengan suatu yang memungkinkan untuk dia beri, walau itu nilainya sedikit, namun itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan pada hadits tersebut, juga berisikan anjuran untuk saling memberi hadiah walau nilainya sedikit, karena terkadang sesuatu yang bernilai besar/banyak tidak semudah itu disetiap saat –untuk dihadiahkan -. Dan apabila suatu yang kecil ini seringkali, itupun akan bernilai besar. Dan juga pada hadits ini menunjukkan peniadaan dalam berbuat suatu yang berlebihan hingga menjadi beban, dan disenanginya untuk slaing menyayangi dan mencintai satu sama lain. Sebagaimana pula dalam sabda Shallallahu ‘alaihi wa sallam  :

 “ Berilah hadiah satu dengan lainnya, niscaya kalian akan saling mencintai “ (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 3004).

Seolah-olah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengatakan : Hendaknya seorang tetangga menunjukkan kecintaan dia kepada tetangganya dengan pemberian hadiah walau hadiah itu nilainya kecil. Dan ini berlaku sama, baik bagi yang kaya ataukah yang miskin. Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  mengkhususkan larangan tersebut bagi wanita, dikarenakan merekalah sumber munculnya cinta dan kebencian, dan dikarenakan mereka sangat sensitif dalam kedua sifat tersebut.

            Dan apabila anda telah mengetahui dengan pasti akan hak-hak yang patut diberikan kepada tetangga, sedangkan antara keduanya terpisahkan dengan tembok kediaman atau semisalnya yang akan menghalangi dari melihat tetangganya sehingga tidak memungkinkan untuk mengetahui segala hal tetangga tersebut, maka lebih utama lagi untuk menjaga hak dua malaikat penjaga yang senantiasa menjaga, dimana antara manusia dan kedua malaikat tersebut tidaklah dihalangi oleh satu tembokpun juga dan tidak satupun penghalang antara keduanya, sehingga kedua malaikat tersebut dapat mengetahui semua hal manusia tersebut – yaitu tidak menyakiti kedua malaikat tersebut  dengan melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar syari’at dan juga perbuatan-perbuatan maksiat disetiap waktu dan seiring bergulirnya hari. Dan juga telah disebutkan –dalam sebuah hadits– bahwa keduanya sangatlah senang tatkala mendapati perbuatan-perbuatan kebajikan dan keduanya sangatlah sedih tatkala melihat perbuatan-perbuatan keburukan. Maka sepatutnyalah untuk memperhatikan keberadaan mereka dan menjaga perasaan mereka dengan banyak melakukan amal-amal ketaatan dan senantiasa menjauhi segala macam perbuatan maksiat. Keduanya lebih patut untuk diperhatikan haknya daripada sebagian besar tetangga lainnya.

            Adapun batasan tetangga rumah, ada perbedaan pendapat dalam hal ini. Diriwayatkan dari ‘Ali –radhiallahu ‘anhu – beliau mengatakan :

 “ Siapa saja yang mendengar adzan maka dia termasuk tetangga “.

Dan ada yang mengatakan :

 “ Siapa saja yang mengerjakan shalat shubuh di masjid maka dia termasuk tetangga “.

Dan diriwayatkan dari Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau mengatakan :

 “ Batasan tetangga rumah adalah empat puluh rumah dari masing-masing arah “.

Ada yang mengatakan :

“ Empat puluh rumah dari samping kiri, kanan, belakang dan dari arah depan“. Dan pendapat ini mungkin seperti pendapat yang pertama, dan mungkin juga maksudnya adalah penyebarannya, jadi masing-masing arah sepuluh rumah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: