Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Orang-orang yang dicintai oleh Allah ta’ala

Posted by Abahnya Kautsar pada 15 Maret 2008

Allah mencintai orang-orang berlaku ihsan

Allah ta’ala berfirman :

“ Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku ihsan “ (Surah al-Baqarah : 125)

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam  besabda :

 “ Sesungguhnya Allah adalah Dzat yang Maha Ihsan dan mencintai perbuatan ihsan “ (Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 1824)

Perilaku/perbuatan al-Ihsan –Lihat di dalam Madarij as-Salikin karya Ibnul Qayyim 2 / 64, 429, dan Faidh al-Qadiir karya al-Manawi 2 / 264- :  Adalah inti sari dari iman, merupakan ruh dan kesempurnaan iman. Al-Ihsan merupakan tingkatan dan tujuan tertinggi dalam agama Islam, dan merupakan satu dari sekian akhlak yang paling agung yang dimiliki oleh hamba-hama Allah yang shalih, yang terkumpul padanya seluruh akhlak yang tinggi dan sifat-sifat yang baik. Dasar dari ubudiyah kepada Allah dan juga lingkup peredaran dari karakteristik ubudiyah ini kembali pada dua perkara : Pengagungan qudrah/ketetapan Allah tabaraka wata’ala, dan berlaku ihsan kepada seluruh makhluk ciptaan Allah baik dengan ucapan maupun dengan perbuatan.

Jibril ‘alaihis salam telah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  tetang perihal Islam, kemudian bertanya tentang perihal Iman, kemudian bertanya tentang al-ihsan. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam  bersabda tentang hakikat al-ihsan ini :

 “ Engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan seandainya engkau tidak dapat melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihat-mu “ (Diriwayatkan oleh al-Bukhari didalam kitab al-Iman, bab. Suualu Jibriil an-Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam  ‘an al-Iman wal-Islam wal-Ihsan) .

Dan al-ihsan merupakan salah satu sifat Allah dan Dia adalah Dzat yang dinamakan al-Muhsin Yang Maha berlaku baik, dan perilaku/sifat ihsan hingga seorang hamba dinamakan sebagai seorang yang muhsin tatkala hamba tersebut beribadah kepada Allah, seolah-olah dia melihat-Nya, yakni hamba itu beribadah kepada-Nya atas persaksiannya kepada Allah. Dan al-ihsan merupakan kesempurnaan penghadiran hati bersama Allah ‘azza wajalla, pendekatan diri yang mencakup rasa khusyu’, cinta dan ma’rifah kepada-Nya, inabah kepada Allah dan ikhlas kepada-Nya. Dan agar seorang hamba senantiasa mengetahui dan berkeyakinan  akan pengawasan Allah subhanahu wata’ala yang dhahir pada diri hamba tersebut maupun yang bathinnya. Konsistensi hamba tersebut terhadap pengetahuan dan keyakinan semacam ini, inilah yang dinamakan dengan al-muraqabah,  yang merupakan buah dari pengetahuan hamba tersebut bahwa Allah subhanahu selalu mengawasinya, memperhatikannya dan mendengar setiap ucapannya. Dan Dia mengetahui setiap perbuatannya disetiap waktu, disetiap saat, setiap desahan nafasnya dan disetiap kedipan mata.  Dan apabila engkau tidak dapat melihat Allah maka sesungguhnya Allah melihat-mu, yakni jikalau engkau tidak berlaku ihsan maka sesungguhnya Allah Dialah Dzat yang Maha Baik.

Al-Muhsinun – orang-orang yang berbuat ihsan – : Mereka adalah orang-orang yang menunaikan peribadatan mereka kepada Allah dengan sempurna, penunaian yang terlepas dari segala macm riya’, mereka bertaqwa dan ikhlas dalam peribadatan kepada-Nya. Dan mereka senantiasa muraqabah kepada Rabb mereka tabaraka wata’ala dengan menyempurnakan khusyu, ketundukan dan lain sebagainya serta selalu menghadirkan keagungan dan kemuliaan Allah disaat hendak memulai peribadatan dan sewaktu mengerjakannya. Dan mereka meliputi hati-hati mereka dengan penyaksian kepada al-Haq –yaitu Allah– seolah-olah mereka telah melihat-Nya ataukah mereka menghadirkan dalam hati mereka bahwa al-Haq mengetahui keberadaan mereka dan melihat segala yang mereka perbuat.

Al-Ihsan juga mencakup pula Islam dan Iman. Seseorang tidaklah dikatakan sebagai seorang muhsin kecuali jikalau dia seorang muslim mukmin. Berarti al-muhsinun adalah al-muslimun yang mana mereka mempersaksikan syahadat Laa ilaha illallah wa anna Muhammadan Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan dan mengerjakan ibadah haji di Baitullah apabila mereka mempunyai kesanggupan untuk mengerjakannya …

Dan al-muhsinun mereka adalah al-mukminun yang beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, surga dan neraka, al-Mizan – timbangan adil diakhirat – hari kebangkitan setelah meninggal, dan beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.

Dan al-muhsinun adalah orang-orang yang berlaku ihsan dalam setiap amal-amal perbuatan mereka, dengan mengerjakan setiap amal ketaatan, ikhlas kepada Allah dalam setiap amal perbuatan dan menegakkan setiap perintah-Nya dan mengikuti syari’at-Nya, mereka menjauhkan diri dari setiap yang Allah larang dan yang Allah haramkan, dan mereka mengikuti dalam setiap amal perbuatan mereka sesuai  dengan yang Allah syari’atkan bagi mereka, dan sesuai dengan segala yang disampaikan oleh Rasul-Nya berupa petunjuk dan agama yang benar, mereka berlaku adil apabila menetapkan sebuah hukum dan mereka membaguskan ucapan mereka apabila mereka berbicara.

Dan mereka yang menginfakkan harta mereka dijalan Allah, di setiap bentuk amal yang mendekatkan kepada Allah dan dalam setiap bentuk amal ketaatan, dan terlebih lagi disaat menyerahkan semua harta mereka dalam memerangi musuh-musuh Allah, dan mendermakannya pada segala aspek yang akan menguatkan kaum muslimin dalam menghadapi musuh mereka … Dan mereka berprasangka baik kepada Allah pada setiap janji Allah bagi mereka … mereka mendermakan harta mereka baik disaat lapang atau disaat sempit, dalam keadaan terjepit atau dalam keadaan mendapat kemudahan, disaat giat maupun disaat terpaksa, dalam keadaan sehat atau disaat sakit dan disetiap keadaan mereka … Dan tidak satupun perkara yang akan melalaikan mereka dari ketaatan kepada Allah ta’ala, dan berinfaq dalam keridhaan-Nya, berlaku baik pada setiap makhluk baik itu sanak kerabatnya ataukah selain mereka dengan ragam amal kebajikan.

Dan mereka menahan diri disaat marah, dan apabila rasa amarah telah meliputi hatinya mereka berusaha menyembunyikannya lalu mereka tidaklah menuruti melakukan desakan amarah tersebut. Dan mereka tidak menuruti hawa amarah mereka dalam bermuamalah dengan kaum manusia, melainkan mereka menahan diri dari kaum manusia  akan segala kejahatannya, dan mereka mengharapkan kebaikan dari sisi Allah ‘azza wajalla dengan hal itu. Mereka juga pemaaf kepada segenap kaum manusia,  jadi bersamaan mereka menahan keburukan mereka, mereka juga pemaaf terhadap yang mendhzalimi diri-diri mereka, sehinga didalam diri-diri mereka tidak lagi tersisa dendam kepada seorangpun juga …

 “ Sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala dari orang-orang yang berlaku ihsan “ (Surah at-Taubah : 120)

Artikel Lainnya:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: