Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Beberapa Perkataan Al Imam Ahmad Bin Hanbal Dalam Masail Aqidah

Posted by Abahnya Kautsar pada 25 Maret 2008

Perkataan Beliau sekitar Al Qur’an Kalamullah

Berkata Hanbal : Saya telah mendengar dari Abu ‘Abdillah, beliau berkata: “Dan Allah Subhanahu wata’ala senantiasa berbicara, dan Al Qur’an adalah Kalamullah –’azza wajalla – dan bukanlah makhluk, dandilihat dari segi manapun juga. Dan tidaklah Allah disifati melebihi apa yang telah Ia sifatkan bagi diri-Nya sendiri”. ( Ath Thabaqaat 1/ 144 )

Berkata Ahmad bin Hanbal : “Al Qur’an Kalamullah ‘azza wajalla dan bukanlah makhluk”. ( Ath Thabaqat 1/ 189 dan 1/ 229 )

Berkata Muhammad bin Muslim : “Saya bertanya kepada Ahmad mengenai Al Qur’an?” Beliau menjawab : “Al Qur’an Kalamullah dan bukanlah makhluk”. ( Dengan sedikit perobahan, Ath Thabaqaat 1/ 324 )

Hukum bagi yang mengatakan Al Qur’an Makhluq

Berkata Muhammad bin Al Hasan bin Harun mengenai seseorang yang mengatakan Al Qur’an Makhluk, Dan yang mengatakan : “Bahwa Allah tidaklah berbicara kepada Musa, Apakah ia Kafir? Maka beliau berpendapat bahwa orang seperti ini Kafir”. ( Ath Thabaqat 1/ 290 )

Berkata Abu Taubah Ar Rabi’ bin Nafi’ : “Saya bertanya kepada Ahmad bin Hanbal : Sesungguhnya kami telah menjumpai dari orang-orang yang lemah dalam menjalankan sunnah dari penduduk Irak, Lantas apa pendapatmu tentang seseorang yang menyangka bahwa Al Qur’an makhluq?”. Maka Imam Ahmad menjawab : “Saya katakan ia itu Kafir”. Berkata Ar Rabi’ : “Saya bertanya, lalu bagaimana dengan darahnya?”. Beliau menjawab : “Halal, setelah ia diminta bertaubat”.

Saya – Ar Rabi’- berkata : “Diyah kaum Iraq”.

Berkata Abu Taubah : “Tidaklah ia dimintai taubat, melainkan dipenggal”. ( Ath Thabaqat 1/156 )

Berkata Ziyad bin Ayyub : “Suatu saat saya berada disisi ‘Ali bin Al Ja’ad, dan mereka bertanya kepada beliau mengenai Al Qur’an?” Maka Beliau menjawab : “Al Qur’an Kalamullah, dan barang siapa yang mengatakan Al Qur’an makhluk tidaklah sekali-kali saya mengasihaninya”. Berkata Abu Hasyim : “Maka saya sebutkan hal ini kepada Ahmad bin Hanbal”, beliau berkata : “Tidaklah yang telah sampai kepadaku dari ucapannya-nya lebih keras dari hal ini”. ( Ath Thabaqat 1 /157 )

Berkata Mahmud bin Ghailan : “Saya bertanya kepada Abu ‘Abdillah : “Bagaimana pendapatmu dari yang memberikan jawaban –bahwa Al Qur’an makhluq- pada kejadian Mihnah Khalqil Qur’an –fitnah Al Qur’an adalah Makhluk-?”. Beliau berkata : “Adapun saya, saya tidak senang mencela seorangpun dari mereka.” Maka saya katakan : “Sungguhlah Yahya bin Yahya mengatakan : “Barang siapa yang mengatakan Al Qur’an Makhluk, maka ia kafir tidak boleh diajak berbicara, dan duduk dimajlisnya dan tidak boleh dinikahi”. Maka berkata Ahmad : “Semoga Allah memberikan keteguhan pada perkataannya”. (Ath Thabaqat 1/ 340)

Berkata Muhammad bin Yusuf Ath Thabba’ : “Saya telah mendengar dari seseorang yang bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, ia mengatakan : “Wahai Abu ‘Abdillah, bolehkah saya sholat dibelakang seseorang yang minum khamr?”. Beliau menjawab : “Tidak boleh”.

Ia bertanya lagi : “Dan bolehkah saya sholat dibelakang seseorang yang mengatakan Al Qur’an Makhluk?” Berkata Ahmad : “Subhanallah! Saya melarang engkau dari seorang muslim, lantas engkau menanyakan bolehnya dari seorang kafir?!!. ( Ath Thabaqat 1 / 326 )

Hukum Seseorang yang berdiam diri pada masalah Al Qur’an, atau yang mengatakan Pengucapanku dengan Al Qur’an Makhluq

Berkata Syahiin bin As Sumaidza’ : “Saya telah mendengar dari Ahmad bin Hanbal, beliau berkata : “Al Waqifah –yang berdiam diri dari masalah Al Qur’an– lebih jelek dibandingkan Jahmiyah, dan siapa saja yang mengatakan pengucapanku akan Al Qur’an makhluq maka ia kafir”.

Dan ia berkata : “Dan saya telah mendengar Abu ‘Abdillah mengatakan : “Ishaq bin Israil seorang Waqifiy yang amat tercela”.

Dan saya bertanya kepada Abu ‘Abdillah dari seorang yang mengatakan : “Saya tawaqquf dalam masalah Al Qur’an karena waro’?”

Beliau berkata : “Ini adalah suatu keraguan pada Agama, Telah sepakat para Ulama dan para Imam panutan, bahwa Al Qur’an Kalamullah dan bukanlah makhluq Ini adalah Diin yang saya dapati dari para Syaikh, dan setiap yang sebelum mereka mendapati hal demikian juga” (Ath Thahabaqat 1/ 172)

Hukum bagi yang mengatakan : Ucapanku dengan Al Qur’an adalah Makhluq dan Hukum ber Mu’amalah dengan mereka

Berkata Abu Isma’il At Tirmidzi : “Saya telah mendengar dari Abu ‘Abdillah Ahmad bin hanbal, beliau mengatakan : “Al Lafdhzyah –yang mengatakan lafadz ujaran dengan Al Qur’an makhluk– adalah jahmiyah, Allah ta’ala berfirman : (حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللهِ ) “Hingga ia mendengarkan Kalamullah” , Dari siapakah ia mendengarkannya?”. (Ath Thabaqat 1/ 279 – 280)

Berkata Ahmad bin Hanbal : “Tidak boleh satu majlis dengan seseorang yang mengatakan : ucapanku dengan Al Qur’an adalah makhluk, dan tidak boleh sholat dibelakang ia, dikarenakan ini adalah perkatan Jahm”. (Ath Thabqat 1/ 299)

Berkata Ahmad : “Barang siapa yang mengatakan : “Ucapanku dengan Al Qur’an makhluk maka ia kafir”. Berkata Muhammad bin Al hasan bin Harun : “Saya telah menanyakan kepada Abu ‘Abdillah Ahmad bin hanbal –radhiallahu ‘anhu-, saya katakan kepada beliau : “Wahai Abu ‘Abdillah, saya adalah seorang dari penduduk Maushil, dan yang paling dominan dari penduduk wilayah kami adalah kalangan Jahmiyah, dan di antara mereka sedikit dari kalangan Ahlus Sunnah yang mencintaimu, dan telah tersebar perkataan Al Karabisy, dimana ia telah menebar fitnah ditengah-tengah mereka, yaitu perkataan Al Karabisy : “ucapanku dengan Al Qur’an makhluq?”

Berkata kepadaku Abu ‘Abdillah : “Hati-hatilah kalian dengan Al Karabisy, jangan kalian berbicara dengannya dan jangan berbicara dengan orang yang berbicara dengan ia –empat atau lima kali– hanya saja yang ada pada kitab ku empat kali”. Saya katakan : “Wahai Abu ‘Abdillah, ini adalah perkataan darimu, dan yang tersebar dari dia kembalinya pada perkataan jahm”. Beliau berkata : “Semuanya itu adalah perkataan Jahm”. (Ath Thabaqat 1/ 288)

Berkata Ahmad : “Barang siapa yang mengatakan : “Ucapanku dengan Al Qur’an adalah makhluq maka ia kafir, dan dituntut untuk bertaubat, jikalau ia bertaubat, jika tidak maka dibunuh”. ( Ath Thabaqat 1/ 328 )

Kalamullah berupa suara yang dapat didengar

Berkata ‘Abdullah bin Ahmad : “Saya telah bertanya kepada Ayahku tentang sekelompok orang yang mengatakan : “Ketika Allah berbicara kepada Musa tidaklah Allah menyuarakan ucapan-Nya?”

Maka berkata Ayahku : “Allah tabaraka wata’ala berbicara dengan suara, dan hadits-hadits ini kami riwayatkan sebagaimana yang tertera”.

Berkata Ayahku : “Hadits Ibnu Mas’ud –Radhiallahu ‘anhu- : “Jika Allah subhanahu wata’ala berbicara dalam wahyu, akan terdengar berupa suara dentingan rantai di batu yang besar”,

Berkata Ayahku : “Dan Jahmiyah mengingkari hal ini” .

Berkata Ayahku : “Dan mereka itu Kafir”. ( Ath Thabaqat 1/ 185 )

Mihnah / Ujian dan Penyiksaan terhadap Beliau –Imam Ahmad bin Hanbal-

Berkata Sulaiman bin ‘Abdillah As Sijziy : “Saya pernah mendatangi pintu gerbang kediaman Al Mu’tashim –Billah-, dan waktu itu banyak orang yang berdesakan didepan gerbang kediamannya, bagaikan hari Besar/Ied. Maka sayapun bergegas memasuki kediaman-nya, dan terlihat olehku hamparan permadani dan singgasana yang diletakkan diatasnya. Lantas sayapun berdiri disalah satu sisi singgasana itu. Sewaktu saya telah berdiri, datanglah Al Mu’tashim lalu duduk diatas singgasananya. Dan ia melepaskan sebuah sandalnya dan meletakkan salah satu kakinya diatas kaki lainnya, lalu ia berkata : “Datangkan Ahmad bin Hanbal!”. Maka didatangkanlah beliau. Sewaktu beliau telah dihadapkan didepan Al Mu’tashim, beliau mengucapkan salam kepadanya.

Berkatalah Al Mu’tashim kepada beliau : “Wahai Ahmad berbicaralah dan jangan takut”.

Imam Ahmad bin Hanbal berujar : “Demi Allah! Wahai Amirul Mu’minin, telah saya menghadap kepada engkau, dan tiada sedikitpun walau sebesar biji didalam hati ku rasa takut”.

Berkata Al Mu’tashim : “Bagaimanakah pendapatmu tentang Al Qur’an?”

Imam Ahmad menjawab : “Kalamullah, sifat yang terdahulu pada dzat Allah dan bukanlah makhluk. Firman Allah –’azza wajalla-

( وَ إِنْ أَحَدٌ مِنْ المُشْرِكِيْنَ اسْتَجَارَكَ فَاَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلاَمَ اللهِ )

“Dan jika salah seorang dari kalangan musyrikin berada disampingmu, maka beradalah disampingnya hingga ia mendengarkan Kalamullah”

Berkata Al Mu’tashim kepada beliau : “Adakah hujjah yang engkau ketahui selainnya?”

Berkata Imam Ahmad : “Masih, wahai Amirul Mu’minin, firman Allah;

( الرَّحْمَنُ عَلَّّمَ القُرْآنَ )

“Ar Rahman dialah Dzat yang mengajarkan Al Qur’an )”

Dan Allah tidak berfirman : (Ar Rahman yang menciptakan Al Qur’an)

Dan firman Allah –’azza wajalla- ;

( يَس وَالقُرْآنِ الحَكِيْمِ )

“Yasiin. Demi Al Qur’an yang Hakiim”

Dan Allah tidaklah berfirman : (yasiin. Demi Al Qur’an yang dia itu makhluq)

Berkata Al Mu’tashim : “Kalian penjarakanlah ia !”.

Maka beliau dipenjarakan, dan akhirnya orang-orang pada berpencar. Keesokan harinya saya-pun menuju kekediaman Al Mu’tashim. Orang-orang telah dipersilahkan memasuki kediamannnya, dan saya pun masuk bersama dengan mereka. Dan Al Mu’tashim pun datang dan segera duduk di singgasananya.

Ia berkata : “Datangkan kemari Ahmad bin Hanbal!”

Maka dihadapkanlah Imam Ahmad bin Hanbal, sewaktu beliau telah berada dihadapan Al Mu’tashim, berkata Al Mu’tashim kepada beliau : “Bagaimana keadaanmu semalam wahai Ahmad di tempat peristirahatan engkau?”

Beliau menjawab : “Dalam keadaan baik Alhamdulillah, hanya saja wahai Amirul Mu’minin saya mendapati hal yang mengherankan ditempat peristirahatanku”.

Berkata Al Mu’tashim kepada beliau : “Apa yang engkau dapati?”.

Berkata Imam Ahmad : “Saya malam itu terbangun, lalu bergegas berwudhu’ untuk melaksanakan sholat, dan saya pun melaksanakan sholat dua raka’at. Pada raka’at pertama saya membaca ; ( الحَمْدُ لِلهِ ) dan ( قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ ) dan pada raka’at kedua saya membaca ; ( الحَمْدُ للهِ ) dan (قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الفَلَقِ ) lalu saya duduk dan bertasyahud hingga saya salam. Setelah itu saya melanjutkannya untuk sholat, lalu saya bertakbir dan membaca; ( الحَمْدُ للهِ ) dan ketika saya berkehendak membaca ( قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد ) tidaklah saya sanggup melakukannya, lantas saya mencoba membaca ayat selainnya dari bacaan Al Qur’an dan sayapun tidak sanggup. Maka saya hamparkan pandanganku setiap sudut penjara, dan ternyata saya dapati di salah satu sudutnya Al Qur’an tergeletak telah meninggal, maka saya memandikannya dan saya kafani setelah itu saya shalati dan menguburkannya”.

Berkata Al Mu’tashim kepada beliau : “Celakalah engkau wahai Ahmad! Al Qur’an meninggal?”.

Berkata Imam Ahmad kepadanya : “Demikian juga halnya denganmu, engkau mengatakan: “Bahwa Al Qur’an makhluk dan setiap makhluk tentulah akan meninggal”.

Berkatalah Al Mu’tashim : “Ahmad telah memojokkan kami, Ahmad telah memojokkan kami”.

Berkata Ibnu Abi Duwad dan Bisyr Al Mirrisiy : “Bunuhlah ia, agar kita terbebas darinya”.

Berkata Al Mu’tashim : “Sungguhlah saya bersumpah kepada Allah tidak akan saya membunuhnya dengan pedang dan tidak juga menyuruh seorangpun membunuhnya dengan pedang”.

Berkata Ibnu Abi Duwad kepada Amirul Mu’minin : “Deralah dia dengan cambuk!”.

Berkata Al Mu’tashim : “Baiklah”, Lalu Ia berkata : “Datangkanlah para tukang dera!”. Maka didatangkanlah mereka. Lantas berkata Al Mu’tashim kepada salah seorang dari mereka : “Berapa kali cambukan engkau dapat membunuhnya?”. Ia menyahut : “Sepuluh kali wahai Amirul Mu’minin”.

Berkatalah Al Mu’tashim : “Ambillah ia bagimu”.

Berkata Sulaiman As Sijzi : “Maka ditanggalkanlah pakaian Imam Ahmad bin Hanbal, dan tinggallah beliau hanya mengenakan sarung dari kain katun, dan kedua tangan beliau diikat dengan dua tali yang masih baru. Lalu Algojo itu mengambil cambuk pada kedua tangannya sembari berkata : “Apakah saya boleh memulai mencambuknya, Amirul Mu’minin?”.

Berkata Al Mu’tashim : “Cambuklah ia!”. Lalu Algojo itu mencambuk Imam Ahmad sekali cambukan, Imam ahmad hanya berucap : “Alhamdulillah”.

Dan pada cambukan kedua beliau mengatakan : “Masya Allah” (segala yang Allah kehendaki) pastilah terjadi”.

Pada cambukan ketiga beliau mengatakan : “Laa Haula wala Quwwata Illa billah”.

Dan sewaktu beliau akan dicasmbuk untuk kali empat, saya melihat sarung beliau, pada lilitannya hendak mulai longar dan akan terlepas, lantas serta merta imam Ahmad menengadahkan kepala beliau ke langit sembari menggerakkan kedua bibir beliau. Seketika itu pulalah tanah terbelah dan keluar dari dalam tanah kedua tangan yang menyarungkan kembali Imam Ahmad –dengan Qudrah Allah –’azza wajalla-.

Sewaktu melihat kejadian ini berkatalah Al Mu’tashim : “Biarkanlah ia”.

Lalu Ibnu Abu Duwad mendekati Imam Ahmad dan berkata : “Wahai Ahmad, bisikkanlah ditelingaku ini, bahwa Al Qur’an adalah makhluk, agar saya dapat melepaskanmu dari kuasa Khalifah”.

Berkata Imam Ahmad kepadanya : “Wahai Ibnu Abu Duwad! bisikkanlah ditelingaku. Bahwa Al Qur’an adalah Kalamullah bukanlah makhluk agar saya dapat melepaskanmu dari adzab Allah –’azza wajalla-“.

Al Mu’tashim berkata : “Masukkanlah ia kembali ke penjara”.

Berkata Sulaiman : “Dan akhirnya beliau dimasukkan kembali kedalam penjara. Dan orang-orang pun berpulangan semuanya dan saya ikut pulang bersama dengan mereka. Pada keesokan harinya orang-orang berdatangan dan saya juga datang bersama dengan mereka. Dan saya duduk disatu sisi singgasana al Mu’tashim, dan keluarlah Al Mu’tashim dan duduk diatas singgasananya. Lalu berkata : “Hadapkan Ahmad bin Hanbal!”

Dan beliau dihadapkan didepan Kholifah, berkatalah Al Mu’tashim kepada beliau : “Bagaimanakah keadaanmu semalam ditempatmu istirahat wahai Ahmad?”.

Beliau menjawab : ” Saya selalu dalam keadaan baik Alhamdulillah”.

Berkata Al Mu’tashim : “Wahai Ahmad!, semalam saya telah bermimpi”.

Imam Ahmad bertanya : “Mimpi apakah wahai Amirul Mu’minin?”

Berkata Al Mu’tashim : “Saya melihat dalam mimpiku seolah-olah ada dua ekor singa yang menghadangku dan akan menerkamku, namun seketika itu datanglah dua malaikat dan menghalaunya dariku. Dan keduanya memberikan sebuah kitab kepadaku dan mengatakan : “Di sini termaktub mimpi yang telah dilihat oleh Ahmad bin Hanbal dalam kurungannya. Jadi apakah yang telah engkau lihat wahai Ahmad?”.

Lalu Imam Ahmad mendekati Al Mu’tashim dan berkata kepadanya : “Wahai Amirul Mu’minin, apakah kitab itu sekarang bersamamu?”.

Berkata Al Mu’tashim : “Benar, dan saya telah membacanya sewaktu pagi dan telah mengetahui isinya”.

Berkatalah Imam Ahmad kepadanya : “Wahai Amirul Mu’minin, semalam saya bermimpi seoralh-olah hari qiyamat telah didatangkan, dan Allah telah mengumpulkan seluuruh kaum dari awal hingga akhir pada satu lapangan luas. Dan Allah ta’ala meng-hisab mereka semua. Dan ketika saya berdiri disana, dipanggillah saya, dan sayapun maju kedepan hingga berdiri dihadapan Allah subhanahu wata’ala. Maka Allah berfirman kepadaku : “Wahai Ahmad! karena apakah engkau didera?”.

Saya mejawab : “Dikarenakan permasalah Al Qur’an”.

Allah berfirman kepadaku : “Dan apakah yang kau katakan tentang Al Qur’an?”.

Saya menjawabnya : “Kalam Engkau, demi Allah adalah bahagianmu”

Allah berfirman : “Dari mana engkau dapat mengatakan hal itu?”

Saya katakan : “Wahai Rabb-ku telah diceritakan kepadaku ‘Abdurrazzaq”, maka dipanggillah ‘Abdurrazzaq dan didatangkanlah ia, dan ketika tiba dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Apa yang engkau katakana tentnag Al Qur’an wahai ‘Abdurrazzaq?”.

Ia meyahut : “Kalam Engkau, demi Allah adalah bahagianmu”

Allah berfirman : ”Dari mana engkau dapat mengatakan hal itu?”

Ia katakan : “Wahai Rabb-ku telah diceritakan kepadaku Ma’mar”, maka dipanggillah Ma’mar dan didatangkanlah ia, dan ketika tiba dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Apa yang engkau katakan tentang Al Qur’an wahai Ma’mar?”

Ia meyahut : “Kalam Engkau Demi Allah adalah bahagianmu”.

Allah berfirman : “Dari mana engkau dapat mengatakan hal itu?”

Ia katakan : “Wahai Rabb-ku telah diceritakan kepadaku Az Zuhri”, maka dipanggillah Az Zuhri dan didatangkanlah ia, dan ketika tiba dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Apa yang engkau katakan tentang Al Qur’an wahai Az Zuhri?”.

Ia meyahut : “Kalam Engkau Demi Allah adalah bahagianmu”.

Allah berfirman : “Dari mana engkau dapat mengatakan hal itu?”.

Ia katakan : “Wahai Rabb-ku telah diceritakan kepadaku ‘Urwah”, maka dipanggillah ‘Urwah dan didatangkanlah ia, dan ketika tiba dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Apa yang engkau katakan tentang Al Qur’an wahai ‘Urwah?”.

Ia meyahut : “Kalam Engkau Demi Allah adalah bahagianmu”

Allah berfirman : “Dari mana engkau dapat mengatakan hal itu?”

Ia katakan : “Wahai Rabb-ku telah diceritakan kepadaku ‘Aisyah binti Abi Bakar”, maka dipanggillah ‘Aisyah binti Abu Bakar dan didatangkanlah ia, dan ketika tiba dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Apa yang engkau katakana tentnag Al Qur’an wahai ‘Aisyah?”.

Ia meyahut : “Kalam Engkau Demi Allah adalah bahagianmu”

Allah berfirman : “Dari mana engkau dapat mengatakan hal itu?”.

Ia katakan : “Wahai Rabb-ku telah diceritakan kepadaku Nabimu Muhammad”, maka dipanggillah Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam dan didatangkanlah ia, dan ketika tiba dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Apa yang engkau katakan tentang Al Qur’an wahai Muhammad?”

Ia meyahut : “Kalam Engkau Demi Allah adalah bahagianmu”

Allah berfirman : “Dari mana engkau dapat mengatakan hal itu?”

Beliau katakan : “Wahai Rabb-ku telah diceritakan kepadaku Jibril”, maka dipanggillah Jibril dan didatangkanlah ia, dan ketika tiba dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Apa yang engkau katakan tentang Al Qur’an wahai Jibril?”.

Ia meyahut : “Kalam Engkau Demi Allah adalah bahagianmu”

Allah berfirman : “Dari mana engkau dapat mengatakan hal itu?”

Ia katakan : “Wahai Rabb-ku telah diceritakan kepadaku Israfil”, maka dipanggillah Israfil dan didatangkanlah ia, dan ketika tiba dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Apa yang engkau katakan tentang Al Qur’an wahai Israfil?”

Ia meyahut : “Kalam Engkau Demi Allah adalah bahagianmu”

Allah berfirman : “Darimanakah engkau mengetahui hal ini?”

Berkata Israfil : “Saya telah melihatnya di Al Lauh Al Mahfudz”.

Maka didatangkanlah Al Lauh Al Mahfudz, dan sewaktu telah berada dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman kepadanya : “Wahai Al Lauh, apakah yang engkau katakan tentang Al Qur’an?”.

Ia menajwab : “Kalam engkau demi Allah adalah bahagianmu”.

Maka berfirman Allah kepadanya : “Dari manakah engkau mengetahui hal ini?”.

Berkata Al Lauh : “Seperti itulah yang dituliskan oleh Al Qalam padaku”.

Dan didatangkanlah Al Qalam dan ketika berada dihadapan Allah ‘Azza wajalla, Allah berfirman : “Wahai Al Qalam apakah yang engkau katakan tentang Al Qur’an?”

Berkata Al Qalam : “Kalam Engkau demi Allah adalah bahagianmu”

Allah berfirman : “Dari manakah engkau mengetahuinya?”

Berkata Al Qalam : “Engkaulah yang bersabda sedangkan saya yang menuliskannya”.

Allah ‘Azza wajalla berfirman : “Telah benarlah Al Qalam, dan Al Lauh, juga Israfil, Jibril, Muhammad, ‘Aisyah, ‘Urwah, Az Zuhri, Ma’mar, ‘Abdurrazzaq dan telah benarlah Ahmad bin Hanbal, Al Qur’an adalah Kalam-Ku bukanlah makhluk”.

Berkata Sulaiman As Sijzi : “Ucapan ini membuat Al Mu’tashim terlonjak sambil berkata : “Benarlah engkau wahai Ibnu Hanbal”. Dan Al Mu’tashim akhirnya bertaubat, dan memerintahkan agar memenggal kepala Bisyr Ar mirrisiy dan Ibnu Abi Duwad, dan iapun memuliakan Imam Ahmad bin Hanbal dan memberikan anugrah kepada beliau, namun beliau menolaknya. Dan diperintahkanlah agar beliau diantarkan ke kediaman beliau. (Ath Thabaqat 1/ 163 – 167 dan juga 1/ 335 – 336).

Perkataan Beliau tentang Al Iman

Beliau sering berkata : “Al Iman adalah ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang”. ( Ath Thabaqat 1/ 248 )

Berkata Al Qosim bin ‘Abdillah : “Saya telah mendengar dari Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal, dimana beliau ditanya oleh seseorang tentang tambahan dan berkurangnya Iman, maka beliau berkata : “Iman akan bertambah hinggan mencapai tujuh langit yang tertinggi dan berkurang hingga mencapai tempat terendah yang tujuh lapis” (Ath Thabaqat 1/ 258 – 259)

Berkata Muhammad bin ‘Ali bin Syaqiq : “Saya bertanya kepada Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal tentang Iman, dan makna bertambah dna berkurangnya Iman?” Beliau menjawab : “Diceritakan kepadaku Al Hasan bin Musa Al Asyyab ia berkata diceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Abu Ja’far Al Khothmiy dari Bapaknya dari Kakeknya ‘Umair bin Hubaib beliau berkata : Iman bertambah dan berkurang”. Maka ditanyakan : “Dan apakah maksud bertambah dan berkurangnya Iman?” Beliau berkata : “Jika kami mengingat Allah dan memuji-Nya dan bertasbih kepada-Nya, maka itulah tambahan Iman, dan jika kami lalai dan terlupakan dan kami membelakanginya maka itulah berkurangnya Iman”. ( Ath Thabaqat 1/ 306 – 307 )

Berkata Al Maimuni : “Wahai Abu ‘Abdillah, apakah engkau membedakan antara Al Islam dan Al Iman?”.

Beliau menjawab : “Benar demikian”. Saya mengatakan : “Dengan apakah engkau berpegang?”. Beliau menjawab : “Semua hadits menunjukkan hal ini”.

Lantas beliau berkata : “(Dan tidaklah seorang pezina melakukan zina dalam keadaan ia beriman, dan tidaklah seorang pencuri mencuri dalam keadaan ia beriman)”. Dan Allah berfirman :

قَالَتْ الأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوْا وَلَكِنْ قُوْلُوْا أَسْلَمْنَا

“Dan orang-orang Badui ‘Arab mengatakan kami telah beriman . Katakanlah kepada mereka : tidaklah kalian itu beriman, namun katakanlah kami telah ber-Islam”.

Dan Hammad bin Zaid juga membedakan antara Al Islam dan Al Iman, ia mengatakan : “Diceritakan kepada kami Abu Salamah Al Harroni ia berkata : berkata Malik bin Anas –Dan beliau menyebutkan perkataan mereka dan perkataan Hammad bin Zaid– Ia telah membedakan antara Al Islam dan Al Iman.

Berkata Ibnu Hanbal : “Jikalau tidak didatangkan kepada kami mengenai Iman kecuali ini saja, sudahlah merupakan hal yang baik”.

Saya katakan kepada Ahmad : “Dan apakah engkau mengambil dhohir Al Qur’an dan Sunnah?”.

Beliau menjawab : “Ia”.

Saya katakan : “Benarkah bahwa kaum Murjiah mengatakan : “Al Islam hanyalah ucapan semata?”.

Beliau berkata : “Benar demikian, mereka menjadikan Iman dan Islam suatu yang satu, dan menjadikan seorang muslim dan mu’min adalah sama, sebagaimana imannya Jibril, Iman yang sempurna”.

Saya katakan : “Maka inikah bantahan kami terhadap mereka?”.

Beliau menjawab : “Ia” ( AthThabaqat 1/ 213 -214 )

Tentang Al Qadr

– Berkata Hanbal : “Saya telah mendengar dari Ahmad bin hanbal, beliau mengatakan : “Al Istitho’ah (Yakni kesanggupan dalam berbuat) semuanya kembali kepada Allah, Al Quwwah (Segala Kekuatan) semuanya kembali kepada Allah, apa yang Allah kehendaki akan terlaksana, dan yang Allah tidak kehendaki tidaklah akan terlaksana. Tidak sebagaimana perkataan Mu’tazilah : Bahwa Al Isthitho’ah adalah kepada mereka –makhluk-“. (Ath thabaqat 1/ 145 dan juga 1/ 184)

– Berkata ‘Abdullah : “Saya mendengar dari ayahku –dan telah ditanya beliau oleh ‘Ali bin Al Jahm- : “Tentang seseorang yang berbicara tentang Qadar (Yakni mengingkarinya) apakah ia menjadi kafir?”. Beliau menjawab : “Jika ia menolak adanya Ilmu bagi Allah, jika orang itu mengatakan : “Bahwa Allah tidaklah memiliki ilmu, ataukah tidak memiliki ilmu sampai Ia menciptakan ilmu,barulah dikatakan Allah memiliki ilmu, maka ia menolak ilmu Allah, orang seperti ini kafir”. ( Ath Thabaqat 1/ 223 )

Tentang Ru’yah ( Melihat Wajah ) Allah di Akhirat

– Berkata Hanbal bin Ishaq : “Saya mendengar dari Abu ‘Abdillah, beliau berkata : “Siapa yang menyangka bahwasanya Allah tidak dapat dilihat pada hari Akhirat, maka ia telah kafir kepada Allah, dan telah mendustakan Al Qur’an, dan perhitungan ia kembali kepada Allah, dan ia diminta untuk bertaubat, hendaknya ia bertaubat adapun jika tidak maka ia dibunuh. Dan Allah tidaklah dapat dilihat di dunia namun dapat dilihat di Akhirat”. (Ath Thabaqat 1/ 145 )

– Berkata Syahin bin Syumaidza’ : “Saya telah menanyakan kepada Abu ‘Abdillah tentang seseorang yang mengingkari adanya ru’yah –diakhirat- dan mengatakan bahwa Allah tidak dapat dilihat pada hari kiamat”. Beliau berkata : “Ia ini termasuk kalangan Jahmiyah, barang siapa yang menyangka bahwa Allah tidak dapat dilihat pada hari kiamat, telah menolak hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam”. ( Ath Thabaqat 1/ 173 )

– Berkata Al Fadhl bin Ziyad : “Telah ia sampaikan kepada beliau –yakni Ahmad- mengenai seseorang yang mengatakan : “Bahwa Allah tidak dapat dilihat pada hari kiamat. Beliau menjawab : “Semoga Allah seluruh kaum manusia melaknatnya. Bukankah Allah berfirman ;

وُجُوْهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ إِلىَ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

“Pada hari itu setiap wajah terang benderang. Kepada Rabb-mereka, semuanya memandang”

Dan firman Allah ;

كَلاَّ إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لمَََحْجُوْبُوْنَ

“Sekali-kali tidak, sungguhlah mereka itu pada hari tersebut tertutupi dari Rabb mereka”

Masalah Istiwa – Bersemayamnya- Allah diatas ‘Arsy

– Berkata Adh Dhahhak bin Muzahim ;

مَايَكُوْنُ مِنْ نَجْوَى ثَلاَثَةٌ إِلاَّ هُوَ رَابِعُهُمْ

“Dan tidaklah dari sekelompok itu terdapat tiga orang melainkan Ia adalah yang keempat”

Beliau berkata : “Dan Ia berada diatas Arsy,dan ilmu-Nya lah yang bersama dengan mereka”.

Berkata Abu ‘Abdullah : “Inilah sunnah”. (Ath Thabaqat 1/ 252)

Berkata Muhammad bin Ibrahim Al Qaisi : “Saya katakana kepada Ahmad bin Hanbal : Diceritakan dari Ibnu Mubarak, bahwa beliau ditanya : “Bagaimanakah Rabb kami diketahui?” Beliau menjawab : “Ia berada diatas langit yang ketujuh tepatnya diatas ‘Arsy”.

Berkata Abu ‘Abdillah : “Demikian jugalah menurut kami”. (Ath Thabaqaat 1/267)

Tafsir Sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam : “Allah menciptakan Adam sebagaimana bentuk-Nya“.

– Berkata Zakaria bin Al Faraj : “Saya bertanya kepada ‘Abdul Wahhab lebih dari sekali tentang Abu Tsaur?”.

Lantas ia memberitahukan kepadaku bahwa Abu Tsaur adalah seorang Jahmi, dan ini dikarenakan ia memutuskan berpendapat sebagaimana pendapat Abu Ya’qub Asy Sya’rani, diceritakan bahwa ia telah bertanya kepada Abu Tsaur dari penciptaan Adam menurut bentuk-Nya?”.

Ia menjawab : “Bahwa sesungguhnya ia diciptakan sebagaimana bentuknya Adam, bukan menurut bentuk Ar Rahman”.

Berkata Zakariya : “Saya katakan akhirnya pada ‘Abdul Wahhab : “Bagaimanakah pendapat engkau tentang Abu Tsaur?”.

Ia mengatakan : “Tidaklah saya berkeyakinan kecuali sebagaimana perkataan Ahmad bin Hanbal : “Abu Tsaur mesti dijauhi dan semua yang berpendapat semisal perkataannya”.

Berkata Zakaria : “Saya katakan kepada ‘Abdul Wahhab, suatu waktu, dan beberapa orang telah memperbincangkan masalah ini : “Bahwa Allah telah menciptakan Adam menurut bentuk-Nya”. Beliau berkata : “Barang siapa yang tidak mengatakan : “Bahwa Allah menciptakan Adam menurut bentuk Ar Rahman maka ia itu Jahmi”. ( Ath Thabaqat 1/ 212 )

– Berkata Hamdan : “Saya bertanya kepada Abu Tsaur tentang hadits Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam : ( Sesungguhnya Allah telah menciptakan Adam dalam bentuk-Nya). Ia mengatakan : “Dalam bentuk Adam. “Dan ini setelah peristiwa didera-nya Ahmad bin Hanbal dan peristiwa Mihnah –Khalqil Qur’an-“.

Maka saya katakan kepada Abu Tholib : “Katakanlah kepada Abu ‘Abdillah”. Berkata Abu Tholib : “Berkata kepadaku Ahmad bin Hanbal : “Luruskan perkara Abu Tsaur! : “Barangsiapa yang mengatakan Allah menciptakan Adam dalam bentuk Adam maka ia itu Jahmi, dan dari bentuk manakah Adam sebelum ia diciptakan?”. ( Ath Thabaqat 1/ 309 )

– Berkata ‘Abdush Shomad bin Yahya, berkata kepadaku Syadzan : “Pergilah engkau menemui Abu ‘Abdillah, dan katakan kepada beliau : “Apakah menurut beliau layak bagiku meriwayatkan hadits Qatadah dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas, sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam : ( Saya telah menyaksikan Rabb-ku –’Azza wajaal –dalam bentuk seorang pemuda )”.

Ia berkata maka saya mendatangi Abu ‘Abdillah, dan saya katakan kepada beliau tentangnya, Beliau mengatakan : “Riwayatkanlah hadits itu, sungguhlah para Ulama telah meriwayatkannya”. (Ath Thabaqat 1/ 218)

Keutamaan para Kholifah dan Urutan mereka dalam keutamaan

– Berkata Al Maimuni : “Saya telah mendengar dari Ahmad bin Hanbal –ditanyakan kepada beliau : “Kepada siapakah diserahkan Khilafah?”. Beliau menjawab : “Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali Radhiallahu ‘anhum”.

Ia berkata : “Dan apakah engkau juga menerima hadits Safinah?” Beliau menjawab : “Saya menerima hadits safinah dan setiap hadits, telah saya dapati ‘Ali pada zaman Abu Bakar, ‘Umar dan ‘Utsman tidak dinamakan Amirul Mu’minin dan tidak pula menegakkan hukuman dan peraturan, dan saya mendapati setelah terbunuhnya ‘Utsman, beliau melakukan hal tersebut”. Maka saya katakan : “Sesungguhnyalah telah diwajibkan bagi beliau pada waktu itu dimana sebelumnya tidak diwajibkan atas beliau”. (Ath thabaqat 1/ 215 -216 dan 1/ 186)

– Beliau berkata : “Barang siapa yang menyangka bahwa dari kalangan apra Shahabat Nabi shollallahu ‘alaihi wasalam ada yang lebih utama dibandingkan dengan Abu Bakar, yang diberikan wilayah kekuasaan kepadanya oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam maka ia telah berdusta atas nama Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dan telah kafir. Disebabkan ia menyangka bahwa Allah membenarkan perbuatan munkar diantara para Nabi-Nya ditengah-tengah kaum manusia, yang tiada lain adalah penyesatan kepada mereka”. (Ath Thabaqat 1/ 319 )

– Beliau berkata : “Barang siapa yang mendahulukan ‘Ali atas Abu bakar maka ia telah menghina para kaum Muhajirin yang paling awal”. (Ath Thabaqat 1/ 173)

Berkata Muhammad bin Al Hasan bin Harun : “Saya bertanya kepada Abu ‘Abdillah tentang Persaksian bagi sepuluh shohabah yang masuk sorga?”. Beliau menjawab : “Dan saya pun mempersaksikan hal ini bagi sepuluh shahabat ini masuk sorga”. (Ath Thabaqat 1/ 289)

– Berkata Hanbal : “Berkumpullah para fuqaha Baghdad ditempat Abu ‘Abdillah pada zaman pemerintahan Al Watsiq, dan mereka berembuk untuk meninggalkan keridhaan dari perintah dan kekuasaan Al Watsiq, maka berkata beliau kepada mereka : “Yang wajib atas kalian adalah mengingkari didalam hati kalian, dan jangan kalian berlepas dari keta’atan atasnya, dan jangan kalian meretakkan tongkat kaum muslimin, dan jangan kailian menumpahkan darah kalian dan darah kaum muslimin.” (Ath Thabaqat 1/ 144 – 145)

– Berkata Ahmad bin Hanbal : “Tidak seorangpun keutamaan ia diriwayatkan lebih banyak melampaui riwayat tentang keutamaan ‘Ali bin Abi Tholib”.

– Berkata ‘Ashamah bin Abi ‘Ashamah, Abu tholib Al ‘Akbari : “Saya bertanya kepada Abu ‘Abdillah tentang seseorang yang berkata : Semoga Allah melaknat Yazid bin Mu’wiyah?”. Maka beliau menjawab : “Janganlah engkau mengatakan seperti ini, dikarenakan Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : (Laknat seorang muslim sama halnya membunuh ia), dan beliau bersabda pula : (Sebaik-baik manusia adalah zamanku setelah itu zaman setelahnya). Dan Yazid adalah termasuk dari mereka, Dan saya melihat menahan diri –akan hal ini- lebih saya senangi”. (Ath Thabaqat 1/ 246).

Al Jahmiyah dan Hukum akan mereka

– Berkata Ahmad : “Bagi kalangan Jahmiyah la’nat Allah” (Ath Thabaqat 1/ 198)

– Dan beliau ditanya mengenai hukum sholat dibelakang Ahlul Bid’ah? Beliau menjawab : “Adapun dibelakang Jahmiyah tidak boleh, dan bagi Rafidhah yang menolak hadits juga tidak boleh”. ( Ath Thabaqat 1/ 168 )

– Berkata Syahin bin As Sumaidza’ : “Saya bertanya kepada Abu ‘Abdillah, saya

katakan : “Apakah boleh saya sholat dibelakang seorang Jahmi?”.

Kata Beliau : “Tidak boleh engkau sholat dibelakang seornag Jahmi dan juga dibelakang seorang Rafidhi”. (Ath Thabaqat 1/ 172)

Tentang Ar Rawafidh

– Berkata ‘Abdullah, Saya bertanya kepada Ayahku tentang Rawafidh? Beliau menjawab : “Mereka yang mencaci maki Abu Bakar dan ‘Umar –radhiallahu ‘anhuma-“. ( Ath Thabaqat 1/ 182 )

Tentang Murjiah

– Berkata Hamdan bin ‘Ali Al Warraaq : “Saya mendnegar Ahmad bin Hanbal –dan disebutkan di depan beliau perihal Murjiah- Maka saya katakan : “Merekalah yang megatakan jika seseorang mengetahui Rabb-nya –’Azza wa jalla- dihati ia maka ia seorang yang mu’min”. Beliau berkata : “Murjiah tidaklah mengatakan hal ini, namun Jahamiyah-lah yang mengatakan hal ini.” ( Ath Thabaqat 1/ 309 )

Berkata Ahmad : “Kalian taqarrub-lah kepada Allah dengan membenci Ahlul Irja’ –kaum murjiah-, dikarenakan ini termasuk dari amalan yang paling baik disisi kami”. ( Ath Thabaqat 1/ 264 )

Berkata Ahmad bin Al Hasan : “Wahai Abu ‘Abdillah, mereka pernah menyebutkan di hadapan Ibnu Qutailah mengenai para Ashhabul Hadits. Ia lantas berkata : “Ashhabul Hadits adalah kalangan yang jelek. Serta merta berdiri Abu ‘Abdillah dalam keadaan beliau menyanggul ujung pakaian beliau dan berkata : “Ia –Ibnu Qutailah- seorang zindiq, zindiq, zindiq”. Lalu beliau masuk kekediaman beliau. (Ath Thabaqat 1/ 280)

Adzab Qubur

Berkata Sholeh, dari Ayahnya, beliau berkata : “‘Adzab Qubur adalah suatu yang haq –benar-, tidak akan diingkari kecuali oleh seorang yang sesat serta menyesatkan”. ( Ath Thabaqat 1/ 174 )

– Dan ‘Abdullah meriwayatkan dari Ayahnya, bahwa beliau berkata tentang ziarahnya seseorang ke Kubur, datang lalu memberikan salam dan mendoakannya. ( Ath Thabaqat 1/ 181 )

Dan ‘Abdullah meriwayatkan dari Ayahnya, beliau berkata : “Ruh-ruh orang kafir berada dalam api neraka, sedangkan ruh-ruh orang-orang yang beriman berada di sorga, sedangkan badan jasad mereka di dunia, Allah mengadzab yang Allah kehendaki dan merahmati bagi yang Allah kehendakidan janganlah engkau mengatakan bahwa keduanya -sorga dan neraka itu- kekal, melainkan keduanya berada pada Ilmu Allah”. (Ath Thabaqat 1/ 181)

Makna Fitrah

Berkata Muhammad bin Yahya Al Kahhal : “Saya berkata kepada Abu ‘Abdillah : “Setiap yang lahir dilahirkan atas fitrahnya, bagaimanakah penafsirannya?”. Beliau menjawab : “Adalah fitrah yang telah digariskan kepada setiap manusia, ia dalam keadaan derita ataukah bahagia”. ( Ath Thabaqat 1/ 328 )

Larangan terhadap Berpegang akan Ar Ro’yi ( rasionalisme )

Berkata Abu bakar Al Khallal : “Saya mendengar Muhammad bin Yasin berkata : “Saya bertanya kepada Abu ‘Abdillah mengenai tela’ah terhadap ro’yi/akal pikiran?”.

Beliau menjawab : “Yang wajib bagimu adalah –berpegang- kepada Sunnah”. Maka saya katakan kepada beliau : “Wahai Abu ‘Abdillah, seorang Ahlul Hadits yang menela’ah Ro’yi sesunguhnyalah untuk mengetahui ro’yi yang mana yang menyelisihinya?”.

Beliau berkata : “Yang wajib adalah kembali kepada Sunnah.” ( Ath Thabaqat 1/ 327)

Berkata Abu Bakar Al Khallal : “Saya mendengar Muhammad bin Ahmad bin Washil berkata : “Saya telah mendengar Abu ‘Abdillah ditanya tentang Ar Ro’yi?” Lantas beliau mengangkat suara beliau sambil mengatakan : “Jangan engkau tuliskan suatupun dari Ar Ro’yi”. ( Ath Thabaqat 1/ 213 )

Berkata Muhammad bin Yazid Al Mustamli : “Seseorang bertanya kepada Abu ‘Abdillah Ahmad bin Hanbal, dan berkata : “Apakah boleh saya menulis buku-buku tentang ro’yi?”.

Beliau menjawab : “Jangan lakukan, yang wajib bagimu adalah Al atsar dan Al hadits”.

Lantas si penanya berkata : “Sungguhlah Ibnu Mubarak telah menuliskan serupa itu?”.

Beliau menjawab : “Ibnu Mubarak tidaklah turun dari langit, dan yang sesungguhnya kita diperintahkan adalah mengambil ilmu yang berasal dari atas (langit)”. ( Ath Thabaqat 1/ 329 )

Tentang Perkara-Perkara Bid’ah

– Berkata ‘Ali bin ‘Abdullah Ath Thayalisi : “Saya membasuh kedua tanganku kepada Ahmad bin Hanbal, lalu saya basuh seluruh tubuhku dengan kedua tanganku dan beliau memperhatikanku, maka amat murkalah beliau, hingga beliau mengibaskan dirinya dan berkata : “Dari siapakah engkau mencintohi hal ini ? Dan beliau teramat mengingkarinya”. ( Ath Thabaqat 1/ 228 )

– Berkata Al Fadhl bin Mihran : “Saya bertanya kepada Ahmad, saya katakan : “Adalah di tempat kami sekelompok orang yang berkumpul lantas berdua bersama, dan membacakan Al Qur’an, dan berdzikir kepada Allah, bagaimanakha pendapat engkau tentang mereka?”.

Maka berkata Imam Ahmad kepadaku : “Ia membaca Al Qur’an itu cukup pada mushhaf, dan berdzikir cukup di dalam hatinya dan menuntut Ilmu Hadits Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam”.

Saya katakan : “Saudaraku ada yang melakukan hal demikian, apakah saya boleh melarangnya?”.

Beliau menjawab : “Ia engkau larang ia”.

Saya katakan : “Jika ia tidak mau menerimanya?”.

Beliau menjawab : “Ia akan menerimanya, insya Allah, dikarenakan ini adalah suatu perbuatan bid’ah. Berkumpul seperti yang engkau sifatkan”. (Ath Thabaqat 1/ 255)

Pengobatan Imam Ahmad Kepada Seseorang yang Kesurupan

Berkata ‘Ali bin Al Mikri : “Suatu saat saya ketika berada di Masjid Abu ‘Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal, Al Mutawakkil mengutus seorang temannya, yang ia beritahukan bahwa ia memiliki seorang anak gadis yang kesurupan, dan meminta agar Imam Ahmad mendoakannya agar sembuh, maka Imam Ahmad mengeluarkan sandal jepit dari kayu yang khusus untuk dipakai berwudhu’, lalu diberikanlah ke teman tersebut, dan beliau berkata : “Datanglah ke kediaman Amirul Mu’minin, dan engkau duduklah di sisi kepala anak wanita itu, dan katakan padanya : “bahwa Ahmad berpesan kepadamu : “Mana yang engkau senangi keluar dari tubuh anak gadis ini ataukah ditampar dengan sandal ini?”.

Dan akhirnya berangkatlah ia, dan iapun mengatakan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad. Berkatalah yang merasukinya melalui lidah anak gadis itu : ”Saya tunduk dan patuh, jika sekiranya Ahmad menyuruh kami untuk tidak menetap di Irak tidaklah kami menetap di Irak, dikarenakan ia seorang yang ta’at kepada Allah dan barang siapa yang ta’at kepada Allah segala sesuatu akan ta’at kepadanya. Dan Ia pun keluar dari tubuh anak gadis itu. Dan anak gadis itu menjadi tenang, dan menikah dan diberkati keturunan yang banyak”.

Setelah wafatnya Imam Ahmad, yang pernah merasuki anak gadis itu kembali lagi, maka Al Mutawakkil mengutus seorang temannya kepada Abu Bakar Al Marrudzi, dan diceritakan tentang keadaan ini, lalu Al Marrudzi mengambil sandal jepit pula, dan iapun kembali ke anak gadis itu, dan sepertinya Ifrit berbicara dengan lidah anak gadis itu : “Saya tidak akan keluar dari anak gadis ini, dan tidak akan tunduk padamu dan tidak akan menerima darimu, adapun Ahmad bin Hanbal ta’at kepada Allah maka kamipun diperintahkan agar mematuhinya”. (Ath Thabaqat 1/ 232 – 233)

Iklan

Satu Tanggapan to “Beberapa Perkataan Al Imam Ahmad Bin Hanbal Dalam Masail Aqidah”

  1. mubaraq said

    ALangkah baiknya kalo fontnya lebih besar lagi,,,sehingga mudah dibaca…
    Dan tulisannya dibagi menjadi 2 atau 3 kali keluaran sehingga pengunjung bisa membacanya…dan tidak penat melihat tulisan yg panjang,,,soalnya kebanyakan pengguna internet malas baca tulisan yang sangat panjang…

    Dan sangat disayangkan tulisan yg begitu bagus terlewatkan…

    Dari saya Nilai tulisan diatas mendapat nilai 9…

    Berkata Hanbal bin Ishaq : “Saya mendengar dari Abu ‘Abdillah, beliau berkata : “Siapa yang menyangka bahwasanya Allah tidak dapat dilihat pada hari Akhirat, maka ia telah kafir kepada Allah, dan telah mendustakan Al Qur’an, dan perhitungan ia kembali kepada Allah, dan ia diminta untuk bertaubat, hendaknya ia bertaubat adapun jika tidak maka ia dibunuh. Dan Allah tidaklah dapat dilihat di dunia namun dapat dilihat di Akhirat”. (Ath Thabaqat 1/ 145 )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: