Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

A Q I D A H Al Imam Muwaffiquddin Abu Muhammad ‘Abdullah Bin Muhammmad Bin Qudamah

Posted by Abahnya Kautsar pada 14 Juni 2008

A Q I D A H

Al Imam Muwaffiquddin Abu Muhammad

‘Abdullah bin Muhammmad bin Qudamah

( 541 H – 620 H )

Biografi Ringkas Ibnu Qudamah

Beliau adalah Syaikhul Imam Al Qudwah Al ‘Allamah Al Mujtahid, Syaikhul Islam Al Faqiih Az Zahid Muwaffiquddin Abu Muhammad ‘Abdullah bin Ahmad bin Muhammad Ibnu Qudamah Al Maqdisiy.

Beliau dilahirkan pada bulan Sya’ban tahun 541 H di Negara Jama’iil di daerah Palestina.

Beliau menuntut ilmu bersama dengan anak bibi beliau Al Hafidz ‘Abdul Ghoniy Al Maqdisy.

Berkata Ibnu Sholah : ” Belum saya jumpai seorangpun semisal Al Muawaffiq. “

Berkata Ibnul Jauzi : ” Siapa saja yang telah melihat Al Muwaffiq maka ia akan seolah-olah melihat sebagian para shahabat, dan seolah-olah ada cahaya yang memancar dari wajah beliau. “

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : ” Tidaklah datang ke Syam setelah Al Imam Al auza’I yang lebih faqih dibandingkan dengan Al Muwaffiq. “

Karya Ilmiyah Beliau

Di antara karya tulis ilmiyah beliau : Al Mughni, Al Kaafi, Al Muqni’, Al ‘Umdah fil Fiqh Hanbaliy, Itsbat Shifat Al ‘Uluw dan masih banyak lagi selainnya.

Beliau wafat – rahimahullah – pada hari Sabtu, Hari iedul Fithr tahun 620 H, dan dikebumikan Lembah Bukit Qasiyun di Sholihiyah Damaskus, diatas Jami’ Al Hanabilah.

Sekilas tentang Risalah ini

Risalah ini di cetak bersamaan dengan Silsilah Ilmiyah Sa’udiyah, yang telah di koreksi dari nuskhah-nuskhah – lembaran-lembaran asli- oleh Samahatusy Syaikh Al ‘Allamah ‘Abdullah bin Muhammmad bin Humaid – rahimahullah- dan Risalah ini telah diterbitkan pula oleh Penerbitan An Nahdhah Al Haditsah di Makkah Al Mukarramah, pada cetakan pertama.

بسم الله الرحمن الرحيم

Kalian ketahuilah semoga Allah merahmati kalian : Bahwa sesungguhnya Rabb kalian adalah Dzat yang Maha Agung, Maha Menentukan dan Maha Besar.

Tidaklah sifat-Nya itu akan dijangkau dengan akal pemikiran, dan tidak akan terlampaui dalam penetapannya dari yang tercantum dalam nash-nash syara’ . Dan sesungguh-Nya Dia tidaklah serupa dengan makhluk-makhluq-Nya, dan sifat-sifat-Nya tidak akan serupa dengan sifat-sifat mereka, sebagaimana halnya Dzat Allah tidak serupa dengan Dzat-dzat mereka.

Dan dalam pen-sifatan Allah tidak lebih dari yang ditunjukkan oleh khabar yang shohih dan atsar-atsar yang jelas, dan janganlah kalian menafsirkannya dengan pendapat-pendapat kalian dan jangan kalian kembalikan kepada hawa nafsu kalian, dan cukupkanlah dalam menerima ayat-ayat sifat dan khabar-khabar tentangnya sebatas riwayat dan qira’ah, dan kalian berkeyakinan bahwasanya Allah tidak satupun yang serupa dan sebanding dengan-Nya.

Dan berpijaklah kalian sebagaimana pijakan para Salaf kalian, dan contohilah mereka dalam hal ini disertai dengan apa yang telah diperintahkan oleh para Imam-imam kalian

Dan takutlah kalian akan diri kalian, jika menggunjingkan sesuatu tentang Allah subhanahu wata’ala, yang mana kalian tidak memiliki contoh pendahulu yang ucapannya diterima,karena kalian –jika berbuat demikian- niscaya akan celaka sedangkan kalian tidak mengetahuinya, dan kalian telah berbuat bid’ah sedangkan kalian beranggapan bahwa kalian telah mendapatkan hidayah.

Dan kalian ketahuilah bahwa sesungguhnya Agama Allah berada antara yang bersikap berlebih-lebihan dan yang memudah-mudahkan agama Allah, sedangkan jalan yang lurus adalah jalan yang berada dipertengahan, dan sesungguhnya telah binasa dalam berbicara tentang masalah sifat-sifat Allah dua kalangan :

1. Kalangan yang berlebih-lebihan sehingga mereka menyerupakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, dan mereka memahami sifat-sifat Allah yang mereka dengar serupa dengan makhluk yang dapat dijangkau oleh akal mereka, yang pada akhirnya mereka terjatuh pada pemahaman tasybih dan tajsim –menjadikan Allah bagaikan suatu jasad seperti halnya makhluk, pen- dan mereka sesat dari Shirathal Mustaqim.

2. Dan kalangan lainnya menolak khabar-khabar yang shohih, dan enggan menerima ucapan Penghulu kaum terdahulu dan terakhir shollalahu ‘alaihi wasallam, lalu mereka menta’wilkan khabar-khabar itu jika akal pemikiran mereka tidak dapat menjangkau maknanya, dan mereka merubah segala yang difirmankan oleh Allah dan yang disabdakan oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam dengan hawa nafsu mereka , hungga akhirnya mereka sesat dan juga menyesatkan.

Adapun Ahlul Haq mereka meniti jalan yang lurus antara kedua jalan tersebut, mereka beriman dan akan mendapatkan rasa aman, dan mereka menyerahkan diri mereka hingga akhirnya mendapatkan keselamatan. Dan mereka sama sekali tidak melampaui batasan Naql –nash-nash-, dan mereka tidak menjadikan akal pemikiran sebagai tempat mengambil hukum dalam menolak perkataan Ash Shodiq dan penafsiran beliau..

Dan mereka mengatakan : Kami beriman dengan setiap makna yang dikehendaki oleh Dzat yang telah berbicara dengannya, dan Dialah Dzat yang lebih mengetahui dari apa yang diinginkan-Nya, dan tidaklah mereka berpaling dari lafadznya dan tidak pula menta’wilkannya dan juga tidak menafsirkannya –dengan tafsiran yang tidak sesuai-.

Dan ketika gejolak nafsu mereka hendak mempermasalahkan salah satu dari permasalahan ini, mereka akan menghalaunya dengan dua hal :

1. Bahwa sesungguhnya para Ulama Salaf yang telah mendahului mereka tidak menambah sedikitpun, hanya sekedar tilawah dan riwayat semata, tidaklah mereka menafsirkannya, dan tidak juga menta’wilkannya sedangkan mereka sama sekali tidak ragu akan keabsahan dan benarnya aqidah para Salaf dan kejelian pandangan mereka, dan kami telah diperintahkan untuk mengikuti mereka, dan telah diberitahukan kepada kami bahwa Al Haq berada pada jalan mereka, maka wajib bagi kami untuk mengikuti mereka, dan meniti jalan mereka, dan kami mengetahui bahwa yang meniti selain jalan mereka akan mengantarkannya kepada selain kampung mereka yang tiada lain adalah Daarus Salaam – sorga Darus Salam-.

2. Kedua : bahwasanya kami telah mengetahui akan kebenaran yang telah mengucapkan hal itu, maka wajib bagi kami untuk beriman kepada-Nya, dan ilmu kami tidak akan dapat menjangkau kehendak-Nya dan hakikat makna kalam-Nya , maka wajib bagi kami untuk diam dari semua yang tidak kami ketahui, dan kami mengetahui bahwa yang mengucapkannya adalah Dzat yang paling mengetahui akan makna kalam-Nya, maka kamipun beriman dengan segala maknanya dan kami katakan seperti yang Ia firmankan, dan kami pun diam dari semua yang didiamkan oleh-Nya, dan bukan suatu yang memberatkan kami untuk beriman dengan firman-Nya dikarenakan kesemuanya adalah haq dan tidak pula dengan diamnya kami, dikarenakan itulah yang benar.

Dan juga untuk selalu mengikuti Ash Shodiq shollallahu ‘alaihi wasallam dalam dua perihal beliau : Dalam sabda beliau dan diamnya beliau, dan inilah makna dari As Sunnah.

Dimana yang dimaksudkan dengan As Sunnah adalah Jalan yang telah ditempuh oleh Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, maka Ahlus Sunnah adalah mereka yang mengikuti Rasul mereka shollallahu ‘alaihi wasallam, Jalan beliau, dan beriman dengan ucapan-ucapan beliau, dan merekapun diam ketika beliau mendiamkan suatu perkara.

Sedangkan Ahlul Bid’ah adalah mereka yang mengada-adakan sesuatu dari diri mereka sendiri, walau itu suatu ucapan dan tidak mengikuti Rasul mereka.

Maka hati-hatilah kalian –semoga Allah merahmati kalian-dari semua penambahan nash-nash syara’, dan yang memahami sifat-sifat Allah sebatas jangkauan akal pemikiran, dan wajib bagi kalian juga agar berhati-hati pada diri kalian dalam mengutarakan suatu kalimat yang tidak ada hadits shohih menjadi sandarannya, dikarenakan kalian akan ditanya perihal itu suatu saat nanti, dan permasalahan ini permasalahan yang pelik, dan titiannya sangatlah berbahaya, sungguh telah sesat beberapa ummat terdahulu yang mereka memiliki akal pemikiran yang mumpuni dengan ilmu yang sangatlah luas.

Dan berpeganglah kalian diatas Sunnah dan gigitlah erat-erat dengan geraham kalian,dan tidak dengan berpaling kekanan ataukah kekiri, dan janganlah kalian menyimpang walaupun sedikit ataukah banyak, dan janganlah kalian menambahkan dari yang telah dikatakan Ash Shodiq shollallahu ‘alaihi wasallam walaupun satu huruf, dan janganlah kalian menyebutkan suatu makna tambahan yang datangnya dari diri-diri kalian, dimana telah disampaikan kepada kami dari ‘Abdurrahman bin Mahdi – rahimahullah-[1] bahwa disampaikan kepada beliau tentang seorang Amir yang terjatuh dalam masalah tasybih –terjerumus dalamnya-

Maka beliau berkata : ” Wahai anak pamanku, permasalahan ini akan menjadi ringan selama perkara itu belum menyelubungi dirimu , namun telah dikabarkan kepadaku bahwa engkau berkata demikian dan demikian ?”

Ia berkata : ” Benar wahai Abu Sa’id “.

Beliau berkata : ” Wahai anak pamanku, kalau begitu marilah kita berbincang sedikit tentang makhluk Allah ta’ala sebelum kita berbincang tentang Dzat Allah, berapakah yang telah disampaiakan kepada engkau dari sayap-sayap Jibril ?

Ia berkata : ” Enam ratus sayap.”

Beliau berkata : ” Wahai anak pamanku, Kami tidak akan menanyakan lima ratus sembilan puluh tujuh sayapnya, hanya sifatkan saja kepada kami tiga sayap Jibril saja. Dan kedua sayapnya tentulah berada di dua sisi Jibril, maka manakah yang ketiga ? “

Maka Amir itu berpikir dalam dirinya dan tidaklah ia menemukan jawaban dimana ia akan menempatkan sayap yang ketiga itu, maka iapun menjawab : ”
Saya tidak tahu “

Maka beliau berkata : Wahai anak pamanku, jikalau sebagian dari makhluk ciptaan-Nya engkau tidak sanggup untuk mensifatkanya maka bagaimana kah dengan Dzat yang menciptakannya ? !! “

Maka ia berkata : ” Wahai Abu Sa’id , saya bertaubat kepada Allah subhanahu wata’ala – atau sebagaimana yang disebutkan dalam kisah itu.-

Dari sini adanya peringatan bagi siapapun yang memiliki pemikiran akan kelemahan ia dalam menjangkau sifat Rabb segala penguasa, dan yang lebih jelas dari ini, bahwasanya manusia sendiri teramat lemah untuk mengetahui dirinya sendiri, dimana ia tidaklah mengetahui dimana diletakkan jiwa dan ruh itu, dan perbedaan antara keduanya, dan hakikat dari tidur dan tempat sebenarnya tidur itu, dan kapan ia mendapatkan keledzatanya, pada saat akalnya terbuai ataukah sebelumnya atau setelahnya, dan semisalnya, dan inilah yang tidak diketahui oleh setiap manusia dari dirinya sendiri,dan hal ini bukan suatu yang tersembunyi baginya, lantas bagaimanakah ia akan mencoba mengukur sesuatu yang tidak dapat ia saksikan,dan tidak ada sesuatu yang dapat dimisalkan dengan-Nya dan tidak ada bandingan-Nya yang dapat dijadikan pedoman akan keberadaan-Nya.

Dan semoga Allah memberikan bagi kami dan bagi kalian keselamatan dan taufiq, dan segala puji bagi Allah semata, serta sholawat dan salam atas Sayyid kami Muhammad dan segenap keluarga dan para shahabat beliau.


[1] Beliau adalah Al hafidz ‘Abdurrahman bin Mahdi bin Hassan Al ‘Anbari, Maula mereka, Abu Sa’id Al Bashri. Seorang yang tsiqah, tsabt –kuat hafalannya- hafidz, yang paling mengetahui tentang perihal para perowi dan hadits, berkata Ibnul Madini : ” Tidaklah saya melihat seseorang yang lebih ‘alim dari beliau . ” Lihat At Taqrib 1 / 499.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: