Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Muqaddimah Risalah Ibnu Abi Zaid Al Qairuwani

Posted by Abahnya Kautsar pada 14 Juni 2008

MUQADDIMAH RISALAH

IBNU ABI ZAID AL QAIRUWANIY

( 310 H 386 H )

Biografi Penulis Risalah

Beliau adalah Abu Muhammad ‘Abdullah bin Abi Zaid ‘Abdurrahman An Naghrawiy Al Qairawaniy, seorang Guru besar Ulama Malikiyah di daerah Maghrib.

Beliau dilahirkan tahun 310 H. Adalah beliau seorang Imam yang sangat luas pengetahuannya disekian banyak Ilmu-ilmu syar’I, seseorang yang sangat ittiba’ kepada Manhaj As Salaf Ash Sholeh

Berkata Al ‘Iyadh tentang beliau : ” Beliau telah meraih kepemimpinan dalam perkara Dunia dan Agama, dan beliau juga dijuluki sebagai Imam Malik yang muda ( Malik Ash Shoghir ) “

Berkata Imam Adz Dzahabi mengenai beliau : ” Beliau seorang Al Imam Al “Allamah, Al Qudwah, Al Faqih, ‘Alim nya penduduk Maghrib … Dan adalah seorang yang telah menunjukkan kelihaian dalam ilmu dan amal … Dan beliau dengan keagungannya dalam ilmu dan amal juga disertai dengan sifat penuh kebajikan, perhatian, senang mendermakan harta bagi para penuntut ilmu dan selalu berbuat kebajikan … Dan beliau –rahimahullah- berada diatas jalan para Ulama Salaf dalam masalah Ushul, dan tidaklah beliau mengetahui ilmu Kalam dan tidak juga tentang ta’wil.

Diantara Karya tulis Ilmiyah beliau :

1. Kitab An Nawadir dan Az Ziyadat

2. Ikhtishar dari Al Mudawwanah.

3. Ats Tsiqah billah wat Tawakkal ‘alallah.

4. I’jazul Qur’an.

5. An Nahyu ‘anil Jidal. Dan selainnya

Beliau – rahimahullah – wafat pada pertengahan bulan Sya’ban 386 H dan beliau dimakamkan di kampung beliau di Qairuwan.

Sekilas tentang I’tiqad ini

I’tiqad ini yang tiada lain adalah Muqaddimah Rasalah Ibnu Abi Zaid Al Qairawaniy, telah dicetak di percetakan Jam’Iah Al Imam Muhammad bin Sa’ud Al Islamiyah –semoga Allah menjaganya- tahun 1396 H.

Dan telah dicetak pula oleh Al Jami’ah Al Islamiyah di Madinah.

Muqaddimah Risalah Ibnu Abi Zaid Al Qairuwani

Bab Tentang yang mesti diujarkan oleh lisan, dan diyakini dalam hati dari segala kewajiban dari perkara-perkara Agama

Diantaranya Al Iman dengan hati dan ujaran dengan lisan.: Bahwasanya Allah –ta’ala – adalah Ilah yang Satu tiada ilah salain-Nya. Dan tiada yang serupa dengan-Nya dan tiada juga yang sebanding dengan-Nya. Tiada bagi-Nya keturunan dan tidak pula memiliki Orang tua, tidak memiliki pendamping dan tiada syarikat bagi-Nya.

Tidak ada – yakni makhluq – yang menyertai sifat Awal-nya Allah ta’ala adanya pendahulu dan tidak juga bagi sifat Akhir yang dimiiki-Nya adanya penghabisan, tidaklah akan dijangkau keberadaan sifat-Nya setiap yang hendak menyifatkan Allah dan tidak akan terjangkaui perkara Allah setiap Ahli fakir.

Para Ahli Fikir hanya dapat mengambil pelajaran dari ayat-ayat-Nya saja, dan tidaklah diperkenankan untuk memikirkan keberadaan Dzat-Nya, dan mereka tidak akan menjangkau sedikitpun dari ilmu Allah kecuali jika Allah kehendaki

وَسِعَ كُرْسِيّهُ السّضمَوَاتُ وَ الأرْضُ وَ لاَ يَؤُدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ العَلِيُّ العَظِيْمُ

” Kursi-Nya Allah ta’ala adalah seluas langit dan bumi dan tidaklah memberatkan bagi-Nya untuk menjaga keduanya dan Dia-lah Dzat yang Maha Tinggi dan Maha Agung “[1] … Dzat yang Al ‘Alim, Al Khabiir, Al Mudabbir, Al Qadiir, Al Bashir Al ‘Aliy, Al Kabiir.

Dan sesungguhnya Dzat Allah berada diatas ‘Arsy-Nya[2] [3], sedangkan Dia akan berada di setiap tempat dengan ilmu-Nya.

” Allah ta’ala telah menciptakan manusia dan Dia yang mengetahui segala yang merisaukan hatinya, dan Dia lebih dekat kepada setiap manusia dari pada urat leher.”

Dan tiada suatu yang terjatuh berupa dedaunan kecuali Allah ta’ala telah mengetahuinya, dan tidak juga biji-bijian yang berada dalam kegelapan dalam perut bumi,baik itu yang kering atau yang basah kecuali telah ditentukan dalam Kitab yang jelas – yaitu Lauhul Mahfudz -.

Dialah Allah ta’ala yang diatas ‘Arsy-Nya bersemayam, dan menjangkau segalanya dengan kekuasaan-Nya, hanya Dia yang memiliki Asma’ul Husna –nama-nama yang paling indah- dan Shifatul ‘Ula –sifat-sifat yang sangat tinggi-.

– Dan Allah ta’ala senantiasa diiringi dengan segala Sifat-sifat-Nya dan Nama-nama –Nya[4] , Maha tinggi Allah jikalau Sifat-sifat Nya adalah makhluk dan nama-nama Nya adalah suatu yang diadakan/diciptakan.

– Dan Allah berbicara kepada Musa – ‘alaihis salam- dengan Kalam-Nya yang tiada lain adalah salah satu sifat Dzatiyah-Nya, bukanlah makhluk dari sekian ciptaan-Nya, dan ketika Allah menampakkan Dzatnya kepada Gunung jadilah gunung itu berhamburan karena Keagungan Dzat Allah ta’ala

– Dan bahwa sesungguhnya Al Qur’an adalah Kalamullah bukan makhluk , maka Al Qur’an akan kekal selamanya[5] , dan bukanlah sifat dari makhluq yang akan terhenti.

– Dan beriman kepada Al Qadar , yang baik ataukah yang buruk, yang menyenangkan atau yang menyakitkan [6]. Dan kembaliannya adalah pada ketentuan Allah.

Allah ta’ala mengetahui segala sesuatu, sebelum segala sesuatu terjadi, maka akan bergulir sesuai dengan Qadar dari Allah [7] , dan tidak akan terjadi dari seorang hamba , baik itu ucapan ataukah amal perbuatan kecuali telah ditentukan dan telah didahului oleh ilmu Allah ta’ala.:

اَلاَ يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الخَبِيْرُ

” Ketahuilah Allah yang telah mengetahui segala yang Ia ciptakan , dan Dia adalah Dzat yang Maha Santun lagi Maha Mengetahui “[8]

Dan Allah telah menentukan kesesatan bagi yang Ia kehendaki maka Allah akan menghinakannya dengan keadilan dari Allah, dan Allah ta’ala memberikan petunjuk bagi yang Ia kehendaki lalu memberikan taufiq-Nya dengan segala keutamaan dari Allah, Dan setiap kemudahan yang Allah berikan bagi manusia telah Allah tentukan dalam Ilmu Allah ta’ala, Qadar-Nya, baik itu kehinaan atau kebahagiaan.

Maha tinggi Allah jika didalam kekuasaan-Nya ada sesuatu yang Allah tidak kehendaki, ataukah salah satu hambanya merasa tidak membutuhkan-Nya. Allah ta’ala adalah pencipta segala sesuatu, ketahuilah Dia Rabb setiap hamba, Rabb segala amalan mereka, Dzat yang menentukan segala tingkah laku mereka dan Ajal mereka, Dzat yang mengutus para Rasul ketengah-tengah mereka untuk menegakkan hujjah atas diri mereka semuanya.

– Lantas Allah subhanahu wata’ala menutup Risalah dan Peringatan serta Kenabian dengan diutusnya Muhammad Nabi Allah shollallahu ‘alaihi wasallam, dan Allah menjadikan beliau Rasul yang terakhir yang membawa kabar gembira dan peringatan, berda’wah kepada Allah dengan idzin-Nya dan cahaya yang terang benderang.

Dan Allah menurunkan kepada beliau Kitab-Nya yang penuh dengan Hikmah, dan menegakkan Syari’at-Nya yang kokoh dan membawa petunjuk ke jalan yang lurus.

– Dan sesungguhnya Hari Kebangkitan itu akan tiba tidaklah diragukan sama sekali, dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan setiap yang telah meninggal, sebagaimana Allah mengadakannya sebagaimana awal penciptaannya.

– Dan sungguhlah Allah subhanahu akan melipat gandakan bagi hamba-hambanya yang beriman amal kebaikan mereka, dan menghamparkan bagi mereka taubat dari perbuatan dosa-dosa besar, dan memberikan ampunan bagi mereka segal dosa-dosa kecil selam mereka meninggalkan dosa-dosa besar [9] Dan Allah menjadikan bagi yang tidak bertaubat dari dosa-dosa besar berada dalam masyi’ah-Nya / Kehendak Alllah

إِنَّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

” Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni bagi yang berbuat kesyirikan kepada –Nya dan Dia akan mengampuni yang selainnya bagi yang Allah kehendaki “

Dan barang siapa yang Allah telah jatuhkan atasnya siksaan dengan api neraka-Nya akan Allah keluarkan darinya karena keimanannya, dan akan Allah masukkan dalam surga-Nya

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرأً يَرَه

” Barang siapa yang melakukan kebaikan sebesar dzarrah maka ia akan melihatnya “

– Dan akan keluar dari Api Neraka dengan syafa’at Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam[10] bagi yang beliau berikan baginya syafa’at dari pelaku dosa-dosa besar dikalangan ummat beliau.

– Dan sesungguhnya Allah telah menciptakan sorga dan menyiapkannya sebagai kampung yang kekal bagi para wali-wali Allah, dan Allah memuliakan mereka dengan –kenikmatan- memandang ke wajah Allah yang Mulia[11] dan inilah tempat dimana Adam Nabi Allah dan Khalifah-Nya di turunkan darinya ke muka bumiyang telah didahului dengan Ilmu Allah yang terdahulu, dan Allah yang telah menciptakan Api Neraka dan menyiapkannya bagi siapa saja yng kufur kepada Allah dan menyimpang dari ayat-ayat Allah dan Kitab-kitab suci Allah dan Para Rasul-Nya, dan Allah ta’ala menjadikan mereka terhijab dari melihat kepada Allah ta’ala.

– Dan Allah – tabaraka wata’ala – akan datang pada hari kiamat beserta para Malaikat-Nya bershaf-shaf untuk diperhadapkan semua ummat dan menentukan perhitungan hisab mereka.[12]

– Dan akan dipancangkan timbangan-timabangan amal untuk menimbang amal kebaikan setiab hamba [13]

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِيْنُهُ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

” Dan barang siapa yang berat timbangannya maka merekalah orang-orang yang beruntung “[14]

– Dan akan diberikan bagi mereka lembaran-lembaran amal perbuatan mereka, maka barnag siapa yang menerima Kitab-nya dengan tangan kanannya maka akan dihisab dengan hisab/perhitungan yang ringan, dan barang siapa yang menerimanya dari belakang pundaknya maka merekalah yang akan dicampakkan kedalam neraka Sa’ir.[15]

– Dan sesungguhnya Ash Shirath –jembatan yang terhampar dijurang Api Neraka- adalah suatu yang benar, dan masing-masing hamba akan melewatinya disesuaikan dengan kadar amal kebajikannya, dan mereka yang selamat berbeda-beda kecepatan mereka ketika melewati jembatan itu, yang mana terhampar dibawahnya api Jahannam, dan kaum lainnya akan celaka dicampakkan kedalam jahannam karena amal perbuatannya.

– Dan Iman akan Haudh – Telaga- Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam,[16] yang akan di lewati oleh ummatnya, dan tidak akan merasa kehausan bagi yang minum dari airnya, dan akan terusir dari telaga itu siapa saja yang telah mengganti dan merubah-rubah agamanya.

– Dan bahwa Iman adalah ucapan dengan lisan, ikhlash dengan hati dan amal dengan anggota tubuh [17]

Bertambah dengan tambahan amal kebaikan dan berkurang dengan berkurangnya amal kebaikan, maka bertambah dan berkurangnya dikarenakan amal kebaikan.

Dan tidak akan sempurna ucapan dalam Iman kecuali diiringi dengan amal, dan tidak juga ucapan dan amal kecuali dengan niat, dan tidak juga ucapan, amal dan niat terkecuali dengan kesesuaian dengan sunnah.

– Dan sesungguhnyatidaklah dikafirkan seseorang dari Ahlul Kiblat – Muslimin- karena dosa yang ia perbuat.[18]

– Dan para Syuhada’a mereka tetap senantiasa hidup disis Rabb-mereka sambil dilimpahkan bagi mereka rizqi, dan ruh-ruh kaum yang mendapatkan kebahagiaan senantias ada dalam kenikmatan hingga datangnya hari kebangkitan, sedangkan ruh-ruh pari kaum yang mendapatkan kebinasaan akan senantiasa dalam keadaan diadzab hingga hari kiamat.

– Dan bahwa orang-orang yang beriman akan di berikan bagi mereka ujian dalam kubur mereka dan mereka akan ditanya.[19]

يُثَبِّتُ اللهُ الذشيْنَ آمَنُوْا بِالقَوءلِ الثَّابِتِ فِيْ الحَيَاةِ الدُّنْيَا وَ فِيْ الآخِرَةِ

” Dan Allah akan menetapkan hati orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh dalam kehidupan dunia dan akhirat “[20]

– Dan bagi setiap hamba adanya penjaga yang selalu menuliskan amal-amal perbuatan mereka, dan tiada satupun yang luput dari jangkauan ilmu Rabb mereka.

– Dan sesungguhnya Malakul Maut mencabut ruh seseorang dengan idzin Rabb-nya.

– Dan sesungguhnya sebaik-baik generasi adalah mereka yang telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan beriman kepada beliau, setelah itu generasi setelahnya.[21]

– Dan sebaik-baik shahabahadalah Khalifah Rasyidiin Al Mahdiyyin, yakni Abu Bakar, lalu ‘Umar bin Al Khaththab,lalu ‘Utsman dan setelah itu ‘Ali – radhiallahu ‘anhum-[22]

– Dan agar tidak menyebutkan salah seorang dari shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam terkecuali dengan penyebutan yang terbaik, dan menahan diri dari berbicara pada hal dimana mereka telah berbeda pendapat, dan bahwa merekalah sepantas-pantasnya manusia yang patut diberikan udzur dari kekeliruan mereka, dan berprasangka yang baik kepada mereka dengan sebaik-baiknya persangkaan.[23].

– Dan keta’atan terhadap setiap pemimpin kaum muslimin, dari kalangan pimpinan pemerintahan mereka dan para Ulama- mereka, dan ittiba’ kepada para Ulama As Salaf Ash Sholeh, mencukupkan dengan mengikuti atsar-atsar mereka serta mendoakan ampunan bagi mereka.

– Dan meninggalkan perseteruan dan perdebatan dalam agama ini, dan meninggalakan segala yang diada-adakan pelaku muhdatsah – bid’ah-.[24]

و صَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ نَبِيِّهِ وَ عَلىَ آلِهِ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَتِهِ وَ سَلَّمَ تَسْلِيْماً


[1] Surah Al Baqarah : 255

[2] Istiwa’-Nya Ar Rabb – ‘aza wajalla- diatas ‘Arsy adalah aqidah yang telah ditetapkan dengan Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ Ulama As Salaf Ash Sholeh dan Ashhabul Hadits.

Dan sifat ‘Uluw merupakan sifat yang ditetapkan bagi Allah ta’ala, dan para Ulama telah menuangkan dalam penetapan ini kedalam beberapa karya tulis mereka, seperti halnya Kitab ” Itsbat Sifat Al ‘Uluw oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisiy, Al ‘Uluw oleh Imam Adz Dzahabiy, Ijtima’ Juyusy Islamiyah oleh Al Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.

Dan tidak diperkenankan untuk menta’wilkan sifat Istiwa –bersemayam ini- dengan penafsiran Istaula – menguasai- . Dan Al Hafidz Ibnul Qoyyim telah memberikan bantahan atas pen-ta’wilan ini dari sekian banyak sisi bantahan. Lihat Kitab Ijtima’ Juyusy Islamiyah dan juga Mulhaq – Sisipan kedua – yang telah kami tahqiq hal. 337.

Dan juga Talbis al Jahmiyah – syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 1 / 127, 557, 580, Ushul I’tiqad 3 / 387 – 403, Mukhtashar Ash Shawaiq 2 / 126 – 152.

[3] Kalangan Jahmiyah mengatakan : Bahwa Istiwa’ Allah adalah majaz, sedangkan Ahlus Sunnah telah menunjukkan sejelas-jelasnya bahwa Istiwa Allah diatas ‘Arsy adalah dengan Dzat-Nya, lihat nama-nama para Ulama yang telah menyebutkan hal ini dalam Mukhtashar Ash shawaiq 2 / 134 – 135.

[4] Yakni bahwa sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala senantiasa disifatkan dengan sifat yang sempurna, baik itu sifat Dzatiyah ataukah sifat Fi’liyah. Dan tidaklah boleh seseorang berkeyakinan bahwa Allah ta’ala disifatkan dengan suatu sifat setelah sebelumnya tidak memiliki sifat tersebut, dikarenakan sifat Allah adalah sifat yang sempurna, dan menghilangkan suatu sifat adalaah suatu kekurangan, dan tidaklah boleh dikatakan bahwa Allah ta’ala mendapatkan suatu kesempurnaan setelah sebelumnya disifatkan dengan kebalikannya. Lihat syarh Ath Thahawiyah hal. 123 – 125.

[5] Al Qur’anul Kariim adalah Kalamullah dan merupakan sifat dari sekian banyak sifat Allah ta’ala, bukanlah suatu ibarat dari Kalamullah dan tidak juga hikayat dari-Nya dan bukanlah Makhluk.

Lihat dalil-dalil dalam masalah ini dan bantahan bagi Ahluz Zaigh dan Dhalal dalam :

As Sunnah – Al Imam ‘abdullah bin Imam Ahmad 2 / 18, Syarh Ushul I’tiqad 2 / 216 – dst, 3 / 378 – 385, Shorihus Sunnah – Al barbahari hal. 24 – 29, Al Hujjah 1 / 334 – 359, Al Ajurri dalam Asy Syari’ah hal. 75 – 96, Al Baihaqi dalam Al Asma’ wash Shifat 1 / 299 – 422, Al I’tiqad hal. 94 – 110, Ar Radd ‘Alal Jahmiyah hal. 132 – 170, Ar Radd ‘ala Bisyr Al Mirrisi hal. 464. Mukhtashar Ash Shawaiq 2 / 277 – 332 dan syarh Ath Thahawiyah hal. 107 – 127 ( Ahmad Syakir ).

[6] Keimanan kepada Qadar adalah salah satu rukun dari rukun-rukun Iman, yang merupakan salah satu ikatan keimanan dan Ushul / pondasi ma’rifah kepada Allah, dan pengakuan akan Tauhid Allah ta’ala dan Rububiyah-Nya

Al Qadar sendiri adalah pengkabaran tentang ilmu Allah yang mendahului segala yang terjadi dari perbuatan-perbuatan hamba-Nya dan hasil yang mereka capai. Dan kesemuanya bersumber dari taqdir Allah ta’ala, dan Allah ta’ala –lah yang menciptakan kebaikan dan keburukan. Dan Qadar ini memiliki empat tingkatan :

1. Al Ilmu : Yakni Ilmu Allah subhanahu wata’ala akan segala sesuatu sebelum tyerjadinya.

2. Kitabah , Yakni penulisan segala sesuatunya disisi Allah subhanahu.

3. Al Masyi’ah , Tidak akan terjadi suatu apapun kecuali dengan kehendak Allah, segala yang Allah kehendaki akan terjadi sedangkan yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.

4. Al Khalq : Yakni Bahwa Allah yang menciptakan segala amal perbuatan, pengadaan dan penciptaannya .

Lihat syarh Ushul I’tiqad 3 / 534, Al I’tiqad Al Baihaqi hal. 123, Asy Syari’ah hal. 149 – 168, Shorihus Sunnah hal. 34 – 36, syarh Ath Thahawiyah hal. 383 – 399, Jami’ Ulum wal Hikam hal. 103 – 104, Lum’atul I’tiqad hal. 21 – 22. Thoriqul Hijratain hal. 71 – 172, Ar Radd ‘alal Jahmiyah – Al Bukhari hal. 39 – 42 dan Al Hujjah 2 / 13 – 69.

[7] Beliau mengisyaratkan pada tingkatan Qadar, sebagaiamna pada ta’liq diatas.

[8] Surah Tabarak : 14

[9] Firman Allah ta’ala ;

ِإنْ تَجْتَنِبُوْا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ

” Jika kalian menjauhkan diri kalian dari dosa-dosa besar yang telah dilarang abgi kalian akan Kmai hapuskan dari kalian dosa-dosa kalian “ An Nisa’ : 31

[10] Syafa’at yang telah ditetapkan kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam ada beberapa bentuk :

Pertama : Asy Syafa’at Al ‘Udhzma –yang terbesar- , yang khusus bagi Nabi kita shollallahu ‘alaihi wasallam dari setiap saudara-saudara beliau para Nabi dan Rasul –sholawatullah ‘alaihim ajma’in- Agar beliau mendatangi Rabb subhanahu wata’ala untuk menjatuhkan ketentuan-Nya.

Kedua dan Ketiga : Syafa’at Nabi shollallahu ‘alaiuhi wasallam terhadap beberapa kaum yang mana kebaikan dan kejelekannya sama timbangannya, maka beliau memberikan bagi mereka syafa’at agar mereka masuk kedalam sorga, dan terhadap kaum lainnya yang telah diperintahkan untuk memasuki neraka, lantas mereka –dengan syafa’at tadi- tidaklah masuk kedalam neraka.

Keempat : Sayafa’at Nabi shollallahu ‘alaihi wasalllam untuk meninggikan derajat siapa saja yang telah masuk kedalam sorga melebihi yang sepantasnya diberikan baginya dari pahala amal kebajikannya.

Kelima : Syafa’at bagi beberapa kaum agar masuk kedalam sorga tanpa adanya perhitungan.

Keenam : Syafa’at untuk mendapatkan keringanan adzab bagi yang telah pantas menerimanya, sebagaimana syafa’at beliau bagi pamannya Abu Tholib untuk diringankan adzabnya.

Ketujuh : Syafa’at beliau agar setiap orang-orang yang beriman dapat memasuki sorga.

Kedelapan : Syafa’at beliau bagi pelaku dosa besar dari ummatnya yang telah masuk kedalam neraka dimana mereka akan keluar darinya.

Lihat Syarh Ath Thahawoyah hal. 174 – 178, Ash Shifat – Abdul Ghoniy Al Maqdisiy hal. 113 -114 dengan tahqiq dari kami.

[11] Lihat Risalah kami tentang masalah ini yang berjudul ” Ru’yah Allah di Akhirat “

[12] firman Allah ta’ala ;

و جاَءَ رَبّثكَ وَ المَلَكُ صَفاً صَفاً

” Dan datanglah Rabb engkau dan para Malaikat bershaf – shaf ” Al Fajr : 22

[13] Lihat dalam Asy syari’ah hal. 382, dan As Sunnah Ibnu Abi ‘Ashim hal. 347

[14] Surah Al Mu’minuun : 102

[15] Allah ta’ala berfirman ;

فَأَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ بِيَمِيْنِهِ فَسَوْفَ يُحَاسَبُ حِسَاباً يَسِيْراً وَ يَنْقَلِبُ إِلىَ اَهْلِهِ مَسْرُوْراً وَاَمَّا مَنْ أُوْتِيَ كِتَابَهُ وَرَاءَ ظَهْرِهِ فَسَوْفَ يَدْعُوْ ثُبُوْراً وَ يَصْلىَ سَعِيْراً

” Dan adapun yang diberikan baginya kitabnya kepada tangan kanannya maka ia akan ihisab dengan hisab yang ringan dan akan bersua kembali bersama keluarganya dengan hati yang gembira. Dan adapun yang diberikan kitabnya dari pundaknya maka ia akan dilemparkan kedalam Neraka sa’ir ” Al Insyiqaq : 7 – 12

[16] Berkata Al Qurthubi dalam Al Mufhim – sebagaimana perkataan Al Qadhi ‘Iyadh pada sebagian besarnya – : ” Dan diantara yang wajib bagi setiap mukallaf untuk mengetahuinya dan membenarkannya, bahwasanya Allah subhanahu wata’ala telah mengkhususkan Nabi-Nya Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam denagn telaga yang telah dijelaskan namanya, sifatnya dan air minumanya pada hadits-hadits yang masyhur yang dengan keseluruhan jalan-jalan periwayatannya akan menghasilkan ilmu yang pasti, dimana diriwayatkan hal ini dari Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dari sekitar tiga puluhan shahabat, diantaranya yang terdapat dalam Shohihain – Al Bukhari dan Muslim- sekitar dua puluhan shahabat, dan pada selain keduanya adalah sisanya. Dan ini merupaka sesuatu yang telah shohih penukilannya dan terkenal periwayatannya, lantas diriwayatkan dari kalangan shahabat dari kalangan tabi’in dan semisal mereka dan yang datang setelah mereka lebih banyak lagi, dan demikianlah seterusnya.

Dan telah sepakat dalam penetapannya para Ulama Salaf dan kalangan Ahlus Sunnah yang datang belakangan, dan diingkari oleh sekelompok dari Ahlul Bid’ah ” . Demikian juga dlam Al Fath 11 / 467, Asy Syari’ah hal. 352, As Sunnah Ibnu Abi ‘Ashim 1 / 307, Syarh Ath Thahawiyah hal. 171, dan Al Lawami’ 2 / 194.

[17] Telah sepakat kalangan ahlus Sunnah bahwasanya Iman adalah ucapan dan amal, bertambah dan berkurang.

Lihat dalil-dalil dari aqidah ini dan bantahan bagi yang menyelisihinya dalam :

Al I’tiqad – Al Baihaqi hal. 174, syarh Ushul I’tiqad 4 / 830 – 851, Asy Syari’ah hal. 111 – 119, As Sunnah Ibnu Abi ‘Ashim hal. 449, Syarh Ath Thahawiyah hal. 277, Lawami’ Al Anwar 1 / 438, Al Minhaj – Al Hulaimi 1 / 55, Lum’atul I’tiqad hal. 27.

[18] Ketahuilah – Semoga Allah merahmatimu- bahwa masalah takfir –pengkafiran- dan penolakan adanya takfir, pembahasan yang telah demikian besarfitnah dan ujian yang telah terjadi, dan telah menyebabkan banyaknya perpecahan, dan telah tercerai berai masing-masing hawa nafsu dan pemikiran masing-masing, dan telah bertentangan pegangan masing-masingnya :

Satu kelompok mengatakan : Bahwa tidaklah boleh mkita mengjkafirkan seorangpun dari Ahli Kiblat –Muslimin- dan menafikan adanya pengkafiran secara umum, sedangkan mereka mengetahui dikalangan Ahlul Kiblat terdapat kaum Munafiq.

Kelompok lainnya berpendapat : Kami akan mengkafirkan seorang muslim dikarenakan setiap dosa yang ia lakukan, ataukah setiap dosa besar, dan kedua pendapat ini tentutal pendapat yang keliru.

Dan adalah ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa pelaku dosa besar tidak dikafirkan dengan hukum kekafiran yang mengeluarkan dari Agama Islam –karena doa itu- tidak sebagaimana pendapat Khawarij.

Lihat secara meluas dalam Syarh AthThahawiyah hal. 316 – 325.

[19] Lihat tentang Adzab Kubur dan ujian dalamnya : Al I’tiqad – Al Baihaqi hal. 219, Asy Syari’ah- Al Ajurrihal. 358, As Sunnah- Ibnu Abi ‘Ashim hal. 407, Syarh Ath Thahawiyah hal. 345 dan Lawami’ Al Anwar 2 / 12.

Dan Imam Al Baihaqi memiliki Kitab yang telah terkumpul dalamnya penetapan Adzab kubur, beliau mengumpulkan dalil-dalil Al Qur’an, As Sunnah , dan telah dicetak dengan judul ” Itsbat ‘Adzab Qubr wa Sualul Malakain ” Silahkan disimak karena pentingnya kitab tersebut.

[20] Surah Ibrahim : 27

[21] Berdasarkan sabfa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam : ” Sebaik-baik generasi adalah masaku, lalu generasi setelahnya, lalu yang setelahnya, lalu datanglah kaum yang mana sumpahnya lebih mendahului persaksiannya. Dan persaksian mereka mendahului sumpah mereka. “

Diriwayatkan oleh Ahmad 4 / 267 , 276, 277, Ibnu Hibban No. 6727, Al Bazzar No. 2767, Ibnu abi ‘Ashim dalam As Sunnah No. 1477, Ath Thahawy dalam Musykilul Atsar 3 / 177, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 2 / 78, 4 / 125 dari hadits An Nu’man bin Basyir dengan sanad yang hasan. Lihat Majma’ Az Zawaid 10 / 17.

Dan juga diriwayatkan serupa dari ‘Abdullah bin Mas’ud, diriwayatkan oleh Muslim No. 2533, Ahmad 1 / 434, Ibnu Hibban No. 7222, 7223, 7227, 7228 dan selain mereka.

Dan dari ‘Imran bin Hushain , diriwayatkan oleh At Tirmidzi No. 2221, Ath Thabrani 18 / 585, Ibnu Hibban No. 7229 dengan sanad yang shohih.

[22] Telah sepakat kalimat ummat mulimin bahwasanya yang terkemuka dari shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam adalah Abu Bakar lalu Al Faruq ‘Umar bin Al Khaththab setelah beliau., setelah itu Dzun Nurain ‘Utsman bin ‘affan, lalu setelah itu Amirul Mu’miniin dan Imam Al Muttaqiin ‘Ali bin Abi Tholib – ridhwanallahi ‘alaihim ajma’in-. Lihat dalam Shorihus Sunnah hal. 38 – 39.

Al Fatawa 421 – 428, Fathul bari 7 / 16, Syarh Ushul I’tiqad 7 / 1363 – 1372, dan Lawami’ Al Anwar 2 / 310.

[23] Berkata Imam Ahmad dalam Ushul Sunnah hal. 33 : ” Dan barang siapa yang merendahkan salah seorang dari para shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam atau membencinya dikarenakan kejadian yang telah dialaminya ataukah menyebutkan kejelekannya, maka ia adalah seorang ahlul Bid’ah, hingga ia mendoakan rahmat baginya, dan hatinya selamat terhadap diri shahabat tersebut. “

Berkata Al Humaidi dalam Ushul Sunnah hal. 152 : ” Dan tidaklah kami diperintahkan melainkan memintakan ampunan bagi mereka, barang siapa yang menghina atau membenci mereka atau salah seorang dari mereka maka tidaklah ia berada diatas sunnah, dan tidak berhak mendapatkan harta bagian rampasan perang. Lihat Syarh Ushul I’tiqad 7 / 1227 – 1270 dan perkataan muhaqqiqnya 7 / 1238.

[24] Berkata Al Imam Al Auza’I : ” Sabarkanlah dirimu diatas Sunnah, dan berhentilah sebagaimana kaum –Salaf- berhenti, katakan sebagaimana yang mereka katakan, dan menahan dirilah engkau sebagaimana mereka menahan diri mereka, dan titilah jalan para Ulama As Salaf Ash Sholeh, dikarenakan mereka akan melapangkan bagimu segala yang dilapangkan bagi mereka. “

Diriwayatkan oleh Al Lalikai dalam Ushul I’ti’qad 1 / 154 – 155. Dan sanafnya hasan –insya Allah.

Lihat Kitab Ash Shifat- Al Hafidz ‘Abdul Ghoniy Al Maqdisiy hal. 125 – 130 – dengan tahqiq dari kami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: