Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

USHUL SUNNAH : Al Imam Al Hafidz Abu Bakr ‘Abdullah bin Az Zubair Al Humaidi

Posted by Abahnya Kautsar pada 14 Juni 2008

USHUL SUNNAH

Al Imam Al Hafidz Abu Bakr ‘Abdullah bin Az Zubair Al Humaidi

( Wafat 219 H )

Biografi Imam Al Humaidi[1]

Beliau adalah Al Imam, Al Hafidz, Al Faqih, Syaikh Al Haram –Al Makki- ‘Abdullah bin Az Zubair Al Qurasyi Al Asadi Al Humaidi, Al Makki. Penulis Kitab Al Musnad.

Beliau meriwayatkan dari Sufyan Ibnu ‘Uyainah, Muslim bin Kholid, Fudhail bin ‘Iyadh dan Ad Darawardi. Dan beliau termasuk salah seorang dari pengikut Al Imam Asy Syafi’I yang terkemuka.

Diantara yang meriwayatkan dari beliau ; Al Imam Al BUkhari, Adz Dzuhli, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Bisyr bin Musa dan banyak lagi lainnya.

Berkata Al Imam Ahmad tentang beliau : ” Al Humaidi disisi kami adalah seorang Imam”. Berkata Al Fasawi : ” Tidak pernah saya menjumpai seseorang yang lebih menegakkan nasihat akan Islam dan pemeluknya dibandingkan Al Humaidi “.

Beliau meninggal di Makkah, pada pagi hari sebelum dhuhur hari senin, tahun 219 H dan adapula yang mengatakan 220 H.

Sekilas Tentang Sanad I’tiqad ini

I’tiqad ini dapat dijumpai pada akhir Musnad Al Humaidi, yang telah dicetak dengan tahqiq Asy Syaikh Habibur Rahman Al A’dhzami. Pada akhir jilid Kedua 2 / 546 – 548.

Dan juga telah disebutkan oleh Adz Dzahabi salah satu bahagian dari I’tiqad ini dengan sanad beliau ke Al Humaidi.

USHUL SUNNAH

Telah diceritakan kepada kami Bisyr bin Musa [2] beliau berkata : Telah diceritakan kepada kami Al Humaidi : ” As Sunnah menurut kami adalah :

Seseorang beriman kepada Qadar baik yang baik ataukah yang jelek, yang menyenangkan ataukah yang menyusahkan[3] . Dan agar ia mengetahui bahwa yang ditimpakan atas dirinya tidaklah akan berupa kesalahan darinya dan segala yang salah darinya tidaklah akan dijatuhkan musibah atasnya [4], dan kesemuanya itu adalah Qadha’/ketentuan dari Allah ‘azza wajalla.

Dan bahwa sesungguhnya Al Iman mencakup ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang[5] ; tidak akan bermanfa’at suatu ucapan tanpa diiringi dengan amal, dan tidak juga amal dan ucapan tanpa adanya niat, dan tidak juga ama, ucapan, niat tanpa diiringi dengan sunnah.[6]

Dan At Tarahhum –mengucapkan dan mendoakan rahmat – bagi segenap para shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam [7]. Dikarenakan Allah – ‘azza wajalla- berfirman ;

وَ الذِيْنَ جَاءُوْا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَابِالإِيْمَانِ[8]

” Dan mereka yang datang setelah mereka, mengatakan : Wahai Rabb-kami ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan “

Dan tidaklah kami diperintahkan melainkan untuk memintakan bagi mereka istigfar / ampunan, maka barang siapa yang mencela mereka, atau membenci mereka ataukah salah seorang dari mereka maka ia tidaklah berada diatas Sunnah dan tidak ada bagi ia yang mesti dari harta rampasan.

Dikabarkan kepada kami lebih dari seorang dari Malik bin Anas[9] , bahwa beliau berkata : ” Allah subhanahu wat’ala telah memberikan bagian rampasan perang, Allah ta’ala berfirman ;

لِلْفُقَرَاءِ المُهَاجِرِيْنَ الَّذِيءنَ أُخْرِجُواْ مِنْ دِيَارِهِمْ

” Dan orang-orang faqir dari kaum Muhajirin yang telah dikeluarkan dari kampung-kampung mereka “[10]

Dan Allah ta’ala berfirman ;

وَالَّذِيءنَ جَاءثوْا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَ لإِخْوَانِنَا … الأية

” Dan mereka yang dating setelah mereka mengatakan wahai Rabb-kami ampunilah saudara-saudara kami yan telah mendahului kami dalam keimanan “[11]

Barang siapa yang tidak mengucapkan hal ini maka ia bukanlah yang berhak diberikan bagian dari rampasan perang.[12]

Al Qur’an adalah Kalamullah[13] . Saya telah mendengar Sufyan mengatakan : ” Dan Al Qur’an adalah Kalamullah. Dan barnag siapa yang mengatakan bahwan Al Qur’an Makhluq maka ia seorang Mubtadi’, tidak pernah kami mendengar seornagpun mengatakan hal ini.”

Dan saya mendengar Sufyan berkata : ” Dan Iman adalah ucapan dan amal, bertambah dan berkurnag.” Maka saudara beliau ibrahim bin ‘Uyainah : ” Wahai Abu Muhammad, janganlah engkau mengatakan : Iman itu berkurang.” Maka marahlah Sufyan dan berkata : ” Diamlah engkau, hai anak kecil !, demikianlah –Iman itu berkurang- hingga tidka tersisa sedikitpun dari Iman itu “[14]

Pembenaran adanya Ru’yah –melihat kepada wajah Allah- setelah meninggal[15]

Dan segala yang disebutkan dalam Al Qur’an dan Al Hadits, semisal firman Allah ta’ala ;

وَقَالَتْ اليَهُوْدُ يَدُ اللهِ مَغْلُوْلَةٌ غُلَّتْ أَيْدِيْهِمْ ...

” Dan berkata kaum yahudi bahwa tangan Allah tebelenggu, sesungguhnya tangan merekalah yang terbelenggu … “[16]

Dan seperti Firman Allah ;

و السَّمَوَاتُ مَطْوِيَاتٌ بِيَمِيْنِهِ

” Dan tujuh langit digenggam dalam tangankanan Allah “[17]

Dan semisal ini yang terdapat dalam Al Qur’an dan Al hadits, tidaklah ditambah-tambahkan, tidak ditafsirkan, dan berhenti dalam pemahamannya sebagaimana Al Qur’an dan As Sunnah[18]

Dan firman Allah ta’ala ;[19]

الرَّحْمَنُ عَلىَ العَرْشِ اسْتَوَى

” Ar Rahman bersemayam diatas ‘Arsy “

Dan barang siapa yang menyangka selain ini maka ia seorang Ahlu Ta’thil[20] dan seorang dari kalangan Jahmiyah.[21]

Dan tidak berpendapat sebagaimana pendapat kalangan Khawarij : Bahwa barang siapa yang tergelincir dalam dosa besar maka ia telah kafir.[22]

Dan tidak mengkafirkan seseorang karena salah satu dari perbuatan dosa. Namun kekafiran hanyalah bagi seseorang yang meninggalkan lima sendi yang utama, yang Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Al Islam didirikan atas lima sendi : Syahadat/persaksian bahwa Tiada Ilah selain Allah, Muhammad adalah Rasul/utusan Allah, mendirikan Sholat, Mengeluarkan Zakat, Puasa bulan Ramadhan, dan melaksanakan Haji “[23]

Adapun tiga sendi yang pertama maka tidaklah diajak berdebat yang meninggalkannya,yaitu yang tidak mengucapkan Syahadat, tidak mendirikan sholat dan tidak berpuasa, dikarenakan hal ini tidaklah dapat diakhirkan dari waktunya. Dan tidak dibenarkan meng-qadha’-nya setelah ia meninggalkannya dengan sengaja karena sikap ia melampaui batas dari amalan ini dari waktunya yang telah ditentukan.

Adapun mengeluarkan Zakat, maka kapan ia telah mengeluarkannya maka telah cukup bagi ia dan ia akan berdosa jika menolak mengeluarkan zakat.

Adapun Haji, maka bagi yang telah diwajibkan atas dirinya, dan mendapatkan kemudahan untuk melaksanakanya maka wajib atasnya. Dan tidaklah Haji ini diwajibkan pada keseluruhannya hingga diharuskan baginya, kapan ia tunaikan maka ia telah melakukan kewajiba itu dan tidaklah ia berdosa karena mengakhirkannya jika telah ia tunaikan, sebagaimana akan berdosa jika ia lakukan hal tersebut pada zakat, dikarenakan zakat kewajiban teruntuk kaum muslimin yang miskin yang ia tahan dari mereka, maka ia berdosa hingga kewajiban itu telah sampai kepada mereka.

Adapun haji , adalah kewajiban antara ia dan Rabb-nya jika ia tunaikan maka ia telah menunaikan kewajibannya.

Dan sekiranya ia meninggal sedang dalam keadaan mendapatkan kemudahan dan sanggup dan ia tidak melakukan ibadah haji tersebut, ia akan memohon dikembalikan kedunia untuk menunaikan ibadah haji yang telah ia lalaikan, dan wajib bagi keluarga ia untuk meng-hajikannya, dan semiga hal itu dapat menutupi ibadah haji yang seharusnya ia tunaikan, sebagaimana halnya jika ia memiliki hutang dan dibayarkan oleh keluarga ia setelah ia meninggal.[24]


[1] Dapat dilihat biografi beliau dalam Siyar A’lamin Nubala’ 10 / 616 – 621, Thabaqat Ibnu Sa’ad 5 / 502, Al Jarh wat Ta’dil 5 / 56, Tadzkiratul Huffadz 2 / 413 – 414 dan Tahdzib tahdzib 5 / 215 – 216

[2] Beliau adalah Al Imam, Al Hafidz, Ats Tsiqah –yang terpercaya- seorang yang telah dikaruniai umur yang panjang Abu ‘Ali Bisyr bin Musa bin Sholeh bin syaikh bin ‘Umairah Al Asadi Al Baghdadi, dilahirkan tahun 190 H.

Berkata Al Khothib : Adalah beliau seorang tsiqah byang dipercaya, seocang yang berakal dan cerdas.

Berkata Abu Bakar Al Khallal Al Faqih : Adalah biasanya Imam Ahmad memuliakan Bisyr bin Musa.

Berkata Ad Daraquthni : Ia seorang yang tsiqah.

Beliau wafat kurang empat hari dari Rabi’ul Awwal tahun 288 H. Beliau telah dipanjangkan umurnya hingga 98 tahun.

Lihat dalam Siyar A’lamin Nubala 13 / 352 – 354, Tarikh Baghdad 7 / 86 – 88, Thabaqat Hanabilah 1 / 121 – 122, Tadzkiratul Huffadz 2 / 611 – 612 dan Syadzaratudz Dzahab 2 / 196.

[3] Iman kepada Qadar adalah salah satu rukun dari rukun-rukun Iman, intisari keImanan dan Ushul ma’rifah dan pengakuan akan ke-Tauhidan Allah ta’ala dan rububiyah-Nya.

Dan dalam permasalah ini ini telah tergelincir demikian banyak kaum manusia, dimana mereka mengingkari adanya ketentuan Allah terhadap segala sesuatu, akhirnya mereka menjadikan-Nya bahwa Allah tidaklah sama sekali menciptakan setiap perbuatan hamba-Nya, dan mereka pun mengeluarkan perbuatan hamba dari ketentuan/taqdir dan ciptaan Allah ta’ala.

Al Qadar : Adalah penyampaian tentang ilmu Allah yang mendahului setiap yang terjadi dari perbuatan-perbuatan hamba dan segala yang hamba tersebut hasilkan. Dan kesemuanya kembali kepada ketentuan Allah subhanahu wata’ala. Dan merupakan ciptaan Allah baik itu yang baik ataukah yang buruk.

Maka Qadar itu sendiri mesti dipenuhi adanya empat rukun :

1. Al Ilmu , yakni Ilmu Allah akan segala sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi.

2. Al KItabah , yakni penulisan ketentuan itu disisi Allah ta’ala.

3. Al Masyi’ah, yaitu segala ketentuan yang terjadi pada suatu wujud tidak akan terjadi kecuali dengan kehendak Allah, dimana setiap yang Allah kehendaki akan terjadi dan segala yang Allah tidak kehendaki tidak akan terjadi.

4. Al Khalq, yakni ciptaan.makhluk Allah subhanahu wata’ala setiap amal perbuatan dan pengadaannya serta pengaturannya.

Lihat Syarh Ushul I’tiqad Al Imam Al Laalikai 3 / 534, Al I’tiqad Al Baihaqi hal. 132, Asy Syari’ah- Al Aajurri hal. 149 – 168, Shorihus Sunnah hal. 34 – 36, Syarh Ath Thahawiyah hal. 383 – 399, Jami’ Ulum wal Hikam hal. 103 – 104, Lum’atul I’tiqad hal. 21 – 22, Thoriqul Hijratain hal. 71 – 172, ar Radd ‘alal Jahmiyah- Al Bukhari hal. 39 – 42, Majmu’ Fatawa 2 / 152 dan 8 / 484 – 488, Al Hujjah – Al Ashbahani 2 / 13 – 69.

[4] Dari Ibnu Ad Dailami, beliau berkata : Telah terasa dalam diriku ada sesuatu yang mengganjal dari permasalahan Qadar ini, dan saya khawatir pada diriku hal ini akan merusak agama dan kehidupanku maka sayapun mendatangi Ubai bin Ka’ab, lalu saya katakana : Wahai Abal Mundzir ! Terasa ada yang mengganjal dalam diriku tentang masalah qadar ini, dan saya khawatir pada diriku hal ini akan merusak agama dan kehidupanku, maka ceritakanlah padaku suatu hadits tentangnya, semoga Allah memberikan manfa’at bagiku.

Maka beliau berkata : Sekiranya Allah ta’ala mengadzab penduduk langit dan penduduk bumi, maka Allah mengadzb mereka semuanya sedangkan Allah tidaklah berlaku dholim kepada mereka, dan sekiranya Allah merahmati mereka niscaya rahmat Allah jauh lebih baik dari keseluruhan amal perbuatan mereka. Dan sekiranya engkau memiliki emas setinggi Gunung Uhud yang engkau nafkah-kan dijalan Allah tidak akan dikabulkan sehingga engkau beriman kepada qadar, dan engkau mengetahui bahwa yang menimpamu dari suatu musibah tidaklah akan menjadikan suatu kesalahan bagimu dan yang segala yang telah menyebabkan engkau salah tidaklah akan memberikan musibah bagimu. Dan engkau jika meninggal tidak berdasarkan hal ini engkau akan masuk ke Neraka. Dan tidak mengapa engkau mendatangi saudaraku ‘Abdullah bin Mas’ud dan engkau tanyakanlah kepadanya.

Maka sayapun mendatangi ‘Abdullah bin Mas’ud dan beliau menyebutkan seperti yang disebutkan oleh Ubai bin Ka’ab, dan berkata kepadaku : kunjungilah Hudzaifah, maka sayapun mendatangi Hudzaifah dan bertanya kepada beliau, dan beliau mengatakan sebagaimana yang telah diucapakan kedua shahabat tadi. Dan hudzaifah berkata kepadaku : Datangilah Zaid bin Tsabit dan bertanyalah kepadanya. Maka sayapun mendatangi Zaid bin Tsabit dan bertanya kepadanya, beliau berkata : Saya telah mendengar dari Rasulullah shollallahu ‘laihi wasallam, beliau bersabda : ” Sekiranya Allah ta’ala mengadzab penduduk langit dan penduduk bumi, maka Allah mengadzb mereka semuanya sedangkan Allah tidaklah berlaku dholim kepada mereka, dan sekiranya Allah merahmati mereka niscaya rahmat Allah jauh lebih baik dari keseluruhan amal perbuatan mereka. Dan sekiranya engkau memiliki emas setinggi Gunung Uhud yang engkau nafkah-kan dijalan Allah tidak akan dikabulkan sehingga engkau beriman kepada qadar, dan engkau mengetahui bahwa yang menimpamu dari suatu musibah tidaklah akan menjadikan suatu kesalahan bagimu dan yang segala yang telah menyebabkan engkau salah tidaklah akan memberikan musibah bagimu. Dan engkau jika meninggal tidak berdasarkan hal ini engkau akan masuk ke Neraka.

Dikeluarkan oleh Abu Daud No. 4699, Ibnu Majah No. 77, Ahmad 5 / 182 – 185 dan 189, Ibnu Hibbab No. 727 Ath Thabrani dalam Al Kabiir No. 4920, Ibnu Abi Ashim No. 245, Al Laalikai No. 1093 – 1232, Al Ashbahani dalam Al hujjah No. 37, Al Baihaqi 10 / 204 dan dalam Al I’tiqad hal. 149. Dan sanad nya shohih.

[5] Para Ulama Salaf telah sepakat bahwa Iman berupa perkataan dan amal, bertambah dan berkurang, bertambah dengan keta’atan dan berkurang dengan kema’shiyatan.

Dan mereka berdalilkan dengan Al Qur’an dan As Sunnah.

Berkata Imam Ath Thabari : ” Dan sesungguhnya yang benar dalam masalah ini –Iman- adalah pendapat yang mengatakan bahwa Iman adalah ucapan dan amal, bertambah dan berkurang, dan telah diriwayatkan beberapa atsar dari para shahabat Rasulullah shollallahu’alaihi wasallam, dan dengan pendapat ini yang menjadi titian para Ulama dan kaum terkemuka dalam agama ini.”

Lihat pada Shorihus Sunnah hal. 42.

Dan dalam masalah ini telah menyimpang sebagian dari beberapa kelompok dimana mereka menyangka bahwa Iman tidaklah bertambah dan tidak juga berkurang.

Al Ausa’I telah ditanyakan tentang Al Iman ? Maka beliau menjawab : ” Al Iman bertambah dan berkurang, barang siapa yang menyangka bahwa Iman bertambah dan tidak berkurang maka ia adalah shohibul bid’ah.”

Lihat Syarh Ushul I’tiqad 5 / 958 dan Al ajurri hal. 117.

Berkata Ya’qub bin Sufyan : ” Al Iman menurut Ahlus Sunnah : Al Ikhlash kepada Allah dengan hati, lisan dan anggota tubuh, dan Iman adalah ucapan dan amal , bertmabah dan berkurang, dan seperti inilah kami menjumpai setiap ulama yang semasa dengan kami di Makkah, Madinah, Syam, Bashrah dan Kufah, lalu beliau menyebutkan nama-nama mereka. “

Lihat Syarh Ushul I’tiqad 5 / 963 – 964.

Berkata Sahl bin Al Mutawakkil bin Hajr Asy Syaibani : ” Saya telah menjumpai seribu ustadz bahkan lebih, semua dari mereka mengatakan : Iman ucapan dan amal, bertambah dan berkurang, Al Qur’an Kalamullah bukanlah makhluk, dan saya menuliskan hadits dari mereka. “

Lihat Al Laalikai 5 / 964

Saya katakan, silahkan lihat perkataan para Ulama Salaf dan dalil-dalil mereka dan bantahan bagi yang menyelisihi hal ini dari kaum Ahlil Bid’ah dalam Syarh Ushul I’tiqad 4 / 830, 5 / 890 – 964, Al I’tiqad hal. 173 – 185, Asy Syari’ah hal. 103 – 118 dan 130 – 132, As Sunnah Ibnu abi Ashim hal. 449 – 451, shorihus Sunnah Ath Thabari hal. 42 – 45, Al Hujjah – Al Asbahani 1 / 405 – 406 dan Al Iman – Abu ‘Ubaid hal. 72.

[6] Berkata Al Auza’I –rahimahullah- : ” Tidak akan lurus suatu keimanan terkecuali dengan ucapan, dan tidak akan lurus Iman dan ucapan kecuali dengan amal, dan tidak akan lurus Iman, ucapan dan amal terkecuali dengan niat yang selaras dengan sunnah.”

Dan adalah para Salaf yang terdahulu tidak membedakan antar iman, amal dari iman dan iman dari iman … “

Lihat Syarh Ushul I’tiqad 4 / 848 dan 5 / 886 dan Shorihus Sunnah hal. 44 – 45.

Berkata Asy Syafi’I –rahimahullah- : ” Dan adalah kesepakatan para Shahabat dan Tabi’in dan para Ulama setelahnya yang kami jumpai bahwa sesungguhnya Iman adalah ucapan, amal dan niat, dan yang salah satu dari tiga tidak akan dapat menutupi yang lainnya. “

Lihat Syarh Ushul I’tiqad 5 / 9886 – 887.

[7] Berkata Imam Ahmad dalam Ushul Sunnah hal. 28 – 29 : ” Setelah itu yang paling utama dikalangan manusia setelah mereka para shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, yakni masa dimana beliau diutus ditengah-tengah para shahabat beliau ; Setiap yang menemani beliau setahun ataukah sebulan, ataukah sehari atau sesaat, atau yang telah melihat beliau, maka mereka semua temasuk para shahabat beliau sholallahu ‘alaihi wa sallam. Dan mereka memiliki kedudukan sebagai seorang shahabat sebatas ukuran ia menemani Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, dimana ia beriringan bersama beliau, mendengar dari beliau ataukah melihat beliau.. Dan yang paling rendah kedudukannya dalam kategori shahabat adalah ia yang paling utama dibandingkan dengan masa dimana mereka tidak lagi melihat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, walaupun ia akan menjumpai Allah dengan segala amal perbuatan mereka, dan merekalah yang telah mendampingi Rasulullah shollaahu ‘alaihi wasallam, melihat ataukah mendengar dari beliau.

Dan siapa saja yang telah melihat dengan kedua matanya dan beriman kepada beliau walaupun sesaat, lebih utama karena ia telah mendampingi Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, dibandingkan dengan kalangan Tabi’in, walaupun mereka – Tabi’in- mengamalkan segala amalan kebaikan “

Dan beliau –rahimahullah berkata dalam hal. 33 : ” Dan barnag siapa yang telah menjelek-jelekkan salah seorang dari para shahabat Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam ataukah membencinya dikarenakan kejadian yang terjadi padanya atau menyebutkan kekurangannya , maka ia adalah seorang Mubtadi’, hingga ia mendoakan rahmat bagi semua shahabat, dan hati ia terhadap para shahabat benar-benar selamat “

Dan ada beberapa perkara yang sangat berbahaya akibat seseorang menjelek-jelekkan para shahabat , diantaranya :

1. Pendustaan terhadap Al Qur’anul Karim yang telah memuji mereka dan menyanjung para shahabat dalam sepuluh ayat.

2. Tudingan terhadap Alah –’azza wajalla- bahwa Ia tidaklah menjadikan bagi Nabi-Nya para pendamping pilihan yang akan menjaga –risalah- beliau sepeninggal beliau shollallahu ‘alaihi wasallam.

3. Tudingan terhadap Nabi kita Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau tidaklah berhasil dalam mendidik para shahabat beliau dan menanamkan Aqidah yang benar dalam diri-diri mereka.

4. Membuyarkan kepercayaan pada semua yang disampaikan oleh para shahabat –radhiallahu ‘anhum dari agama ini.

5. Menggugurkan Agama Islam ini sebagai suatu agama yang Allah -‘aza wajalla- telah inginkan sebagai agama yang abadi hingga datangnya hari kiamat, dikarenakan kurangnya penukilan yang dipercayai, sebagaimana yang disangkakan oleh para pendukung aqidah yang bathil ini.

6. Bahwa Allah ta’ala tidaklah mendirikan hujjah bagi setiap kaum manusia.

Dan ini sebagian yang timbul akibat Aqidah yang buruk tersebut.

Lihat Syarh Ushul I’tiqad 7 / 1237 – 1270, dan perkataan pen-tahqiq 7 / 1238. Dan beliau telah menyebutkan beberapa perkara yang dihasilkan akibat aqidah batil ini.

[8] Surah Al Hasyr : 10

[9] Beliau adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abi ‘Amir bin ‘amru Al Ashbahiy, Abu ‘Abdillah
Al Madani Al Faqih Imam Darul Hijrah, Pimpinan para Ahli Taqwa dan Ulama besar dari kalangan Ahli tsiqat.

Beliau wafat tahun 179 H dan beliau dilahirkan tahun 93. Berkata Al Waqidi : umur beliau hamper mencapai 90 tahun. Lihat At Taqrib 2 /223 dan Al Kasyif 3 / 99

[10] Surah Al Hasyr : 8

[11] Surah Al Hasyr : 10

[12] Dikeluarkan oleh Al Lalikai dalam Syarh Ushul I’tiqad , No. 2400, 7 / 1268 – 1269, dengan sanad yang Hasand hingga ke Anas bin Malik.

[13] Berkata Imam Ahmad dalam Ushul Sunnah hal. 21 -22 : ” Dan Al Qur’an adalah Kalamullah dan bukanlah Makhluk dan tidaklah mengapa untuk mengatakan bahwa Al Qur’an bukan makhluk, dan bahwa Kalamullah tidaklah terpisah dari Dzat Allah , dan tidak satupun dari Allah ta’ala yang berupa makhluk.

Dan hati-hatilah kalian dalam perdebatan yang telah mengada-adakan dalam masalah Al Qur’an, dan mengatakan bahwa lafadz/ucapan Al Qur’an adalah makhluk dan selainnya.

Dan barang siapa yang tawaqquf / berdiam diri dan mengatakan: Saya tidak tahu apakah itu makhluk atau bukan ? dan sesungguhnya Al Qur’an adalah Kalamullah, maka ia adalahs eorang Ahli Bid’ah sebagaimana yang mengatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk.

Ketahuilah bahwa Al Qur’an itu Kalamullah dan bukan Makhluk.

Lihat As Sunnah –Imam ‘Abdullah bin Imam Ahmad 2 / 18, Syarh Ushul I’tiqad 2 / 216 – hingga selesai dan 3 / 378 – 385, Shorihus Sunnah – Ath Thabari hal. 24 – 29, Al Hujjah 1 / 334 – 359, Al Ajurri dalam Asy Syari’ah hal. 75 – 96, Al Baihaqi dalam Al Asma’ wash Shifat 1 / 299 – 422, Al I’tiqad hal. 94 – 110, Ad Darimi dalam Ar Radd ‘alal Jahmiyah hal. 132 – 170, Ar Radd ‘ala Bisyr Al Mirrisi hal. 464. Mukhtashar Ash Shawaiq 2 / 277 – 332, Syarh Ath Thahawiyah ( Tahqiqi Ahmad Syakir ) hal. 107 – 127.

[14] Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Amr dalam Al Iman No. 28 hal. 94, Al Lalikai dalam Ushul I’tiqad No. 1745, 5 / 970, Al Ajurri dalam Asy Syari’ah hal. 117 dengan sanad yang shohih.

[15] Dan telah sepakat Ahlul Haq, Ahlul Tauhid dan Ash Shidq : bahwasanya Allah akan dapat dilihat di Akhirat dan kaum mukminin akan melihat Rabb- mereka dengan mata telanjang pada hari kiamat.

Dan aqidah ini telah diingkari oleh kalangan Mu’tazilah, Jahmiyah, Khawarij dan selain dari mereka.

Dan silahkan lihat dalil-dalil dari Al Qur’an, As Sunnah dan Ijma’ serta Akal yang sehat, dengan syubhat-syubhat kaum yang telah menyelisihi aqidah ini dan bantahan atas kesemuanya dalam Risalahku : ” Ru’yatullah fil akhirah “

[16] Surah Al Maidah : 64

[17] Surah Az Zumar : 67

[18] Berkata At Tirmidzi dalam Sunan-nya 3 / 50 – 51 : ” Telah berkata lebih dari seorang Ahlul Ilmi dalam menanggapi hadits ini dan semislanya dari yang telah diriwayatkan tentang masalah sifat-sifat Allah, tentang turunnya Allah pada setiap malam ke langit dunia ,mereka mengatakan : Telah ada riwayat-riwayat yang tetap dalam masalah ini dan kami beriman dengannya dan tidaklah diragukan dan tidak pula dikatakan : Bagamana ?

Demikianlah yang telah kami riwayatkan dari Malik, Sufyan bin ‘Uyainah, ‘Abdullah bin Al Mubarak, mereka mengatakan tentang hadits-hadits ini : Diterima tangpa menmoertanyakan bagaimana ? , dan dmeikianlah pendapat ahlul Ilmi dari kalangan ahlus Sunnah wal Jmaa’ah.

Adapun Jahmiyah maka mereka mengingkari riwayat-riwayat ini, dan mengatakan : Ini adalah tasybih. Sewdangkan Allah –’azza wajalla – telah menyebutkan pada beberap tempat dalam Al Qur’anul Kariim- : tangan Allah, pendengaran Allah dan penglihatan Allah. Dan kaum Jahmiyah menta’wilkannya ayat-ayat ini dan menafsirkannya tidak sebagaimana yang ditafsirkan oleh para Ulama. Dan mereka mengatakan : Bahwa Allah subhanahu wata’ala tidak menciptakan Adam dengan kedua tangan-Nya, dan mengatakan : Bahwa makna dari tangan disini adalah kekuatan.

Dan berkata Ishaq bin Ibrahim : Sesungguhnya tasybih –penyerupaan- itu jika dikatakan oleh seseorang : Tangan seperti tangan ataukah semisal tangan tertentu, pendengaran seperti pendengaran atau semisal pendengaran tertentu,m jika seseorang berkata : Pendengaran seperti pendengaran atau semisal pendengaran tertentu maka inilah tasybih, adapun jika ia berkata sebagaimana Allah ta’ala telah berfirman : -Adanya- Tangan, Pendengaran dan Penglihatan dan tidaklah mmpertanyakan dengan : Bagaimana ? dan tidak juga berkata : Semisal pendengaran tertentu atau seperti suatu pendnegaran, maka bukanlah ini suatu tasybih, dan ini seperti firman Allah d ta’ala dalam Al Qur’an ;

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيْعُ البَصِيْرُ

” Tiada yang sewrupa dengan Allah dan Ia adalah Dzat yang memiliki Pendengaran dan Penglihatan “

Lihat Sunan At Tirmidzi 4 / 692.

Dan lihat secara lebih meluas tentang pembahasan ini dalam Mukhtashar Ash Shaeaiq 1 / 10 – 91, Dzammut Ta’wil- Ibnu Qudamah, Al Iklil – Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syarh Ushul I’tiqad 3 / 430 -433, Aqidah Imam Ibnu Qudamah –dalam Rangkaian ‘Aqidah ini- Kitab Ash Shifat – ‘Abdul Ghoni Al Maqdisi hal. 129 – 130.,

[19] Surah Thoha : 5

[20] Yakni kalangan yang menolak nama-nama dan sifat-sifat serta perbuata Allah subhanahu wata’ala baik secara keseluruhan ataukah sebagiannya., penerjemah.

[21] Istiwa’ –bersemayamnya- Ar Rabb -Jalla Jalaaluhu – diatas ‘Arsy-Nya, adalah ‘Aqidah yang telah ditetapkan dengan Al Qur’an dan As Sunnah dan Ijma’ Ulama Salaf dan Ashhabul Hadits.

Dan sifat ‘uluw –Ketinggian Allah ta’ala- adalah sifat yang mesti ditetapkan kepada Allah, dan dalam penetapannya telah dituliskan beberapa tulisan, seperti ” Itsbat Sifat ‘Uluw ” oleh Ibnu Qudamah, ” Al ‘Uluw ” oleh Imam Adz Dzahabi, dan ” Ijtima’ Juyusy Islamiyyah ” oleh Ibnul Qoyyim Al Jauziyah.

Dan mereka –para Ulama terkemuka tersebut- telah memaparkan dalil-dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan pandangan yang shohih serta Ijma’ dalam menetapkan sifat ini.

Dan lihat dalam Talbis Al Jahmiyah – Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 1 / 127, 557 dan 580, Syarh Ushul I’tiqad 3 / 387 – 402 dan Kitab Ash Shifat – Al Hafidz ‘Abdul Ghoni hal. 71 – 77.

[22] Ketahuilah – Semoga Allah merahmatimu- bahwa masalah takfir –pengkafiran- dan penolakan adanya takfir, pembahasan yang telah demikian besar fitnah dan ujian yang telah terjadi, dan telah menyebabkan banyaknya perpecahan, dan telah tercerai berai masing-masing mengikuti hawa nafsu dan pemikiran masing-masing, dan masing-masing pengangan mereka bertlak belakang : :

Satu kelompok mengatakan : Bahwa tidaklah boleh mkita mengjkafirkan seorangpun dari Ahli Kiblat –Muslimin- dan menafikan adanya pengkafiran secara umum, sedangkan mereka mengetahui dikalangan Ahlul Kiblat terdapat kaum Munafiq.

Kelompok lainnya berpendapat : Kami akan mengkafirkan seorang muslim dikarenakan setiap dosa yang ia lakukan, ataukah setiap dosa besar, dan kedua pendapat ini tentutal pendapat yang keliru.

Dan adalah Ahlus Sunnah telah bersepakat bahwa pelaku dosa besar tidak dikafirkan dengan hukum kekafiran yang mengeluarkan dari Agama Islam –karena doa itu- tidak sebagaimana pendapat Khawarij.

Lihat secara meluas dalam Syarh AthThahawiyah hal. 316 – 325.

[23] Diriwayatkan oleh Al Bukhari No. 8, Muslim No. 16, At Tirmidzi No. 2609, An Nasai 8 / 107, Ahmad 2 / 26, 93, 120, 143, Al Humaidi No. 703, ‘Abd bin Humaid No. 723, Al Bukhari dalam At tarikh 2 / 1 / 198 dan 2 / 2/ 213, Al Lalikai dalam ushul I’tiqad No. 1490, Ibnu Abu ‘Umar dalam al Iman No. 18 hal. 84, Ibnu Mundah dalam al Iman No. 40, 41, 42, 148, 149, 150, Ath Thabrani dalam Musnad Asy Syamiyyiin No. 1327, 2/ 283, Ibnu Hibban No. 158, 1446 dan Al Baihaqi dalam Al I’tiqad hal. 247 – 248.

[24] Diriwayatkan dari Ibnu ‘abbas –radhiallahu ‘anhuma- beliau berkata : Datnag seseorang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam dan mengatakan : Sesungguhnya saudara wanitaku telah meninggal dan belumlah ia menunaikan ibadah haji, apakah saya dapat menghaji-kannya ?

Bersabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : ” Bagaimanakah pendapat engkau jika sekiranya ia memiliki hutang lantas engkau membayarnya ?, maka sesungguhnya Allah lebih utama untuk ditunaikan . “

Dikeluarkan oleh Al Bukhari No. 1852, 6699, 7315, An Nasai 5 / 116, Ahmad 1 / 345, Ath Thayalisi No. 2621, Ibnu Hibban No. 3993, Ath Thabrani 12 / 12443, 12444, 12512, Ibnul Jarud No. 501, Al Baihaqi 5 / 179 dan Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah No/ 1855.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: