Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab al-Adab : Adab-Adab Memberikan Salam (2)

Posted by Abahnya Kautsar pada 16 Juni 2008

9. Mengucapkan salam kepada wanita yang bukan mahram atau wanita asing.

Sebagian ulama melarang seorang laki-laki memberikan salam kepada wanita asing dan sebagian membolehkannya jika dipercaya aman dari fitnah. Sebagian ulama memberikan penjelasan lebih rinci berkaitan dengan perkara ini: Apabila wanita asing tersebut adalah seorang wanita muda dan cantik maka ini tidak diperbolehkan, akan tetapi jika kepada wanita yang sudah tua maka itu diperbolehkan.

Inilah pendapat yang dikemukakan oleh Imam Ahmad. Shaleh berkata, “Saya bertanya kepada ayahku: “Bolehkan memberikan salam kepada perempuan?”, maka beliau menjawab: “Adapun jika ia seorang wanita yang tua, maka itu dibolehkan dan jika ia seorang anak muda maka janganlah kamu berbicara dengannya”.[1]

Ibnul Qayyim memberi klarfikasi seputar permasalahan ini, yaitu emberi salam kepada wanita yang telah tua, wanita-wanita mahram dan selain mereka dan inilah pendapat yang terpilih. Sementara alasan larangan sudah jelas, yaitu untuk menutupi jalan-jalan yang akan mengarahkan kepada perbuatan maksiat dan dikhawatirkan terjadinya fitnah”.[2] Sedangkan yang diriwayatkan dari sahabat semuanya terindikasi aman dari fitnah.

Misalnya pada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hazm dari bapaknya dari Sahl dia berkata, “ … adalah seorang wanita yang mengirimkan barang dagangannya – korma di Madinah -, maka dia membawa umbi-umbian dan menaruhnya disebuah bejana dan mengumpulkan biji-bijian dari gandum. Apabila kami telah selesai mengerjakan shalat jum’at maka kami berpaling pulang dan mengucapkan salam kepadanya. Dan wanita tersebut menyodorkan kepada kami – diantara barang dagangannya – dan kamipun senang dengan hal itu lalu kami tidaklah tidur siang dan makan siang kecuali shalat Jum’at”.[3]

10. Disunnahkan memberi salam kepada anak-anak kecil.

Hal ini dalam rangka mengajari dan melatih mereka sejak dini tentang adab-adab syar’I, dan yang melakukannya telah meneladani Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu telah mengabarkan kepada kami, beliau mengatakan: “Aku berjalan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami melewati anak-anak yang sedang bermain kemudian beliau mengucapkan salam kepada mereka”.[4]

Ucapan salam kepada anak kecil akan menuntun jiwa seseorang kepada sifat tawadhu’ dan kelembutan dalam menghadapi anak-anak.

Masalah : Apabila seorang yang telah baligh (dewasa) mengucapkan salam kepada anak kecil atau sebaliknya apakah hukumnya wajib untuk menjawab salam?

Jawab : Apabila seorang laki-laki dewasa memberikan salam kepada anak-anak, maka bukan suatu kewajiban bagi anak-anak untuk menjawab salamnya dikarenakan anak kecil bukan orang yang terkena kewajiban.Berbeda jika seorang anam kecil memberi salam kepada seorang yang baligh, maka wajib bagi orang yang telah dewasa untuk menjawab salam dari anak yang masih kecil dan ini adalah pendapat mayoritas ulama.[5]

11. Memberikan salam kepada orang yang terjaga dan disekitarnya ada orang yang sedang tidur.

Hendaknya orang yang memberikan salam untuk merendahkan suaranya sebatas untuk didengar oleh yang terjaga dan tidak sampai membengunkan orang yang sedang tidur. Hal ini berdasarkan hadits Miqdad bin Al-Aswad radhiallahu ‘anhu dan pada hadits tersebut, beliau berkata: “ … Setelah kami memerah susu dan setiap orang dari kami meminum bagian mereka masing-masing dan kami memberikan bagian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Beliau – Miqdad –berkata: “Lalu beliau datang diwaktu malam dan mengucapkan salam tanpa membangunkan yang sedang tidur dan hendaklah memperdengarkan salamnya kepada yang tidak tidur …”[6]

Pada hadits ini terdapat adab Nabawiyah yang sangat tinggi dimana beliau memperhatikan keadaan orang yang sedang tidur agar tidak terganggu tidurnya dan pada saat yang bersamaan beliau juga tidak melewatkan keutamaan salam !.

12. Dilarang mengucapakan salam kepada ahli Kitab.

Kita telah dilarang melalui lisan Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah untuk memulai mengucapkan salam kepada kepada ahli kitab, beliau bersabda: “Janganlah kalian memulai mengucapkan salam kepada Yahudi dan Nashrani apabila kalian bertemu dengan salah seorang diantara mereka dijalanan maka desaklah dia kebagian jalan yang lebih sempit”.[7] Setelah larangan yang jelas ini tidak seorangpun diperkenankan memberi komentar.

Masalah : Apabila kita membutuhkan mereka apakah diperbolehkan memberikan salam kepada Ahli Kitab ?

Jawab : Hadis diatas telah jelas menunjukkan larangan mengucapkan salam kepada mereka, akan tetapi jika hal itu sangat dibutuhkan maka hendaklah menyapa mereka selain dengan ucapan salam, mungkin dengan mengucapkan selamat pagi, selamat sore dan lainnya.

Ibnu Muflih mengatakan Asy-Syaikh Taqiyuddin mengatakan : “ Apabila dia menyapanya dengan selain ucapan salam yang membuat mereka senang, maka ini tidaklah mengapa.[8]

An-Nawawi berkata, “Abu Said – Yakni Al-Mutawalli – berkata: “Apabila seseorang berkeinginan untuk mengucapkan salam kepada seorang kafir dzimmi, dia boleh melakukannya selain ucapansalam, dapat dilakukannya dengan mengatakan : Hadaakallah – semoga Allah memberimu petunjuk – atau An’amallahu shabaahaka – semoga Allah memberikan kenikmatan kepadamu dipagi hari ini -. Saya berkata ( An-Nawawi ): “ Pendapat yangdiutarakan oleh Abu Said tidak mengapa baginya jika diperlukan, dengan mengatakan: – shubihta bil-khair -semoga pagi anda baik, atau – as-sa’adah – pagi yang tenang atau – al-‘afiyah – dengan kesehatan atau – as-surur– semoga Allah menggembirakan kamu pada pagi ini atau mengatakan semoga Allah memberikan kesenangan dan nikmat padamu pada pagi hari ini atau dengan mengatakan yang lainnya yang semisal dengan ini.

Adapun jika tidak diperlukan, pendapat yang terpilih untuk tidak mengucapkan sesuatu kepadanya. Karena hal itu akan membuat ia senang dan menampakkan sikap persahabatan, sedangkan kita diperintahkan untuk bersikap dan berbicara tegas kepada mereka dan melarang kita untuk bergaul dan menampakkannya. Wallahu a’lam.[9]

13. Menjawab salam kepada ahli Kitab dengan mengucapkan Wa’alaikum

Diterangkan pada hadits Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu bahwa Rasululllah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila seorang ahli kitab memberikan salam kepadamu maka jawablah dengan mengatakan wa’alaikum”.[10]

Hadits ini memberikan penjelasan kepada kita tentang tata cara menjawab salam yang disampaikan oleh Ahli kitab yakni dengan mengatakan Wa’alaikum”.

Masalah : Apabila kita mendengar ahlil kitab mengucapkan salam kepada kita dengan mengatakan “Assalamu ’alaikum, dengan lafazh yang jelas apakah kita harus menjawab dengan ucapan, “Wa ’alaikum, untuk mengamalkan hadits ini atau dengan mengatakan Wa ’alaikum salam?

Jawab : Sebagian ulama berpendapat apabila kita telah memastikan lafazh salam tersebut dan tidak diragukan lagi, maka sepatutnya bagi kita untuk memjawab salam tersebut. Mereka berpendapat: Inilah makna sebenarnya dari keadilan, sedangkan Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan melakukan perbuatan terpuji.[11] Sedangkan menurut pendapat ulama yang lain, dan ini pendapat yang terpilih, bahwasannya, hendaklah kita menjawab salam ahlu Kitab dengan mengamalkan hadits shahih dan yang jelas dengan jawaban: wa’alaikum.[12]

14. Bolehnya memberi salam kepada sebuah majlis yang bercampur antara kaum muslimin dan kaum kafir.

Pembolehan ini dapat disadur dari perbuantan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Al-Bukhari dan Muslim dan selainnya meriwayatkan: “ bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat menungangi seekor keledai dengan pelana yang terbuat dari beludru. Dan beliau membonceng dibelakang beliau Usamah bin Zaid. Saat itu beliau hendak menjenguk Sa’d bin ‘Ubadah di Bani al-Haarits bin Al-Khazraj – dan kejadian tersebut sebelum perang Badar-. Hingga beliau melintasi sebuah majlis yang bercampur antara kaum muslimin dan kaum musyrikin para penyembah berhala dan juga kaum Yahudi. Dan diantara mereka terdapat Abdullah bin Ubay bin Salul. Dan pada majlis tersebut juga terdapat Abdullah bin Rawahah. Dan ketika majlis tersebut terkena semburan debu, Abdullah bin Ubay menutup hidungnya dengan pakaian jubahnya, kemudian dia berkata : Janganlah kalian menyebabkan kami berdebu. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam turun kehadapan mereka dan mengjaak mereka untuk beribadah hanya kepada Allah dan membacakan Al-Qur`an kepada mereka … al-hadits “[13]

Memulai salam kepada sekumpulan kaum yang terdapat didalamnya kaum muslimin dan kaum kafir, disepakati pemboleannya. Demikian yang dikatakan oleh An-Nawawi[14]. Hadits ini tidaklah bertentangan dengan hadits yang melarang memulai salam kepada Ahli Kitab . Karena hadits itu berkaitan apabila yang diberi salam adalah kafir dzimmi atau kepada sekumpula Ahli Kitab. Adapun disini, majlis tersebut terdapat kaum msulimin, olehnya itu diperbolehkan pengucapan salam kepada suatu majlis yang bercampur antara kaum muslimin dan kaum musyrikin dengan niat salam tersebut hanya kepada kaum muslimin.

Ditanyakan kepada Imam Ahmad rahimahullah : Kami bermualah dengan kaum Yahudi dan Nashrani dan kami juga mendatangi kediaman mereka dan disekeliling mereka terdapat kaum muslimin, bolehkah kami mengucapkan salam kepada fmereka ? Beliau menjawab: Boleh, dan anda meniatkan salam tersebut hanya kepada kaum muslimin[15]. An-nawawi mengatakan: “Apabila seseorang melewati skeumpulan orang yang berbaur antara kaum muslimin datau seorang muslim dan kafir , maka sunnahnya adalah mengucapkan salam kepada mereka dan meniatkan salam tersebut kepada kaum muslimin atau muslim tersebut.”[16]

Masalah : Apakah ketika memberi salam kepada sekelompok orang yang bercampur padanya muslim dan kafir dengan mengucapkan: ‘Assalamu’ala man ittaba’al huda” – keselamatan bagi yang mengikuti petunjuk -?

Jawab : “Tidak boleh mengatakans demikian kepada sekumpulan orang yang didalamnya terdapat kaum muslimin dan kafir , akan tertapi ucapkanlah salam kepada mereka dengan meniatkan salam tersebut untuk kaum muslimin sebagaimana penjelasan di atas. Semakna dengan penjelasan ini, sebagaimana yang dikatakan Ibnu Utsaimin :”Apabila kaum Muslimin dan Nashrani berkumpul, hendaklah mengucapkan salam “Assalamu ’alaikum” dengan maksud untuk kaum musliminnya[17]

15. Boleh memberikan salam dengan isyarat karena udzur.

Pada asalnya memberikan salam dengan isyarat adalah terlarang, dikarenakan hal itu termasuk kebiasaan dari ahlul kitab. Sedangkan kita telah diperintahkan untuk menyelisihi mereka dan tidak bertasyabuh – menyerupai- dengan mereka.

At-Tirmidzi telah mengeluarkan sebuah riwayat hadits tentang larangan memberi salam hanya dengan isyarat, karena itu merupakan syiar dari ahlul Kitab. At-Tirmidzi menghukumi hadits ini sebagai hadits yang gharib.

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata pula tentang hadits ini, pada sanadnya terdapat kelemahan, akan tetapi an-Nasaa`i meriwayat sebuah hadits dengan sanad yang jayyid dari Jabir secara marfu’ : “ Janganlah kalian memberikan salam dengan caranya orang Yahudi, dikarenakan salam mereka dengan isyarat kepala dan telapak tangan serta dengan isyarat”.[18]

Namun hadits ini terbantahkan dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Asma’ binti Yaziid, beliau berkata: “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melambaikan tangannya kepada wanita sambil menyampaikan salam”.[19]

Akan tetapi hadits ini dipahami bahwa lambaian tangan beliau sambil pengucapan salam. An-Nawawi mengatakan, setelah menyebutkan hadits At-Tirmidzi: “ Hadits ini kemungkinannya, bahwa Nbai Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatukan antara lafazh salam dengan isyarat beliau dengan tangan. Dan yang menguatkan hal ini , riwayat Abu Ad-Darda` pada hadits ini, dan beliau mengatakan pada riwayatnya: “ Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengucapkan salam kepada kami “[20] [21]

Al-Hafidz mengatakan : “ Larangan mengucapkan salam dengan memakai isyarat berlaku kusus bagi yang mampu untuk melafazhkan salam secara indera dan syara’. Jika tidak maka mengucapkan salam dengan isyarat disyariatkan bagi seseorang yang sibuk dengan suatu kesibukan yang menghalanginya dari pengucapan lafazh jawaban salam, seperti seorang yang tengah shalat, seorang yang jauh ataukah seseorang yang busi demikian pula bagi seseorang yang tuli “[22]

16. Bolehnya mengucapkan salam kepada seseorang yang sedang shalat dna bolehnya menjawab salah – bagi yang shalat – dengan isyarat.

Suatu yang diperbolehkan diantaranya mengucapkan salam kepada seseorang yang sedang shalat. Hal ini shahih dari pembenaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi para sahabat beliau. Dimana mereka – para sahabat – emngucapkan salam kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara beliau sedang mengerjakan shalat, dan beliau tidak mengingkari hal itu. Pembenaran beliau ini menunjukkan bolehnya amalan tersebut.

Diantaranya pada hadits Habi radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: “ Rasulullah sekali waktu menyuruhku untuk suatu keperluan, lalau ketika saya kembali, saya menjumpai beliau tengah beribadah – Qutaibah –yaitu Ibnu Sa’id, pent –mengatakan: Sedang shalat -, lalu saya mengucapkan salam kepada beliau. Dan beliau memberi isyaratkan kepadaku. Setelah beliau menyelesaikan shalatnya beliau memanggilku dna mengatakan: “ Sesungguhnya engkau memberi salam kepadaku namun saya tengah dalam keadaan shalat “. Dan beliau waktu itu menghadap kearah timur[23].

Hadits lainnya: Hadits Shuhaib, beliau emngatakan: “ Saya melewati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, disaat beliau sedang mengerjakan shalat, maka saya mengucapkan salam kepada beliau, dan beliau membalas salamku dengan isyarat. Beliau berkata: Saya tidak mengetahui kecuali beliau mengisyaratkan hanya dengan jari beliau[24].

Hadits-hadits ini dan juga hadits lainnya menunjukkan bolehnya mengucapkan salam kepada seseorang yang tengah mengerjakan shalat, dan dia membalasnya hanya dengan isyarat.

Pertanyaan : Bagaimana sifat/cara menjawab salam ketika dalam shalat?

Jawab : Tidak ada pembatasan cara dan sifat ketika kita menjawab salam dengan isyarat ketika dalam shalat. Apabila kita kembalikan kepada perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka caranya bermacam-macam, terkadang beliau berisyarat dengan jari berdasarkan hadits dari Suhaib yang telah lalu.

Terkadang juga beliau berisyarat dengan tangannya sebagaimana hadist Jabir.[25]

Terkadang juga beliau berisyarat dengan telapak tangan sebagaimana hadist dari Abdullah bin Umar, dimana beliau berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar untuk pergi ke Masjid Quba’ kemudian beliau shalat didalamnya, lalu datanglah beberapa orang dari kalangan Anshar dan mengucapkan salam kepada beliau, lalu aku berkata kepada Bilal, “Bagaimana cara Rasulullah menjawab salam mereka sedangkan beliau sedang shalat? Bilal menjawab: “Beliau mengatakan begini, dan beliau meluruskan telapak tangannya. Kemudian Ja’far bin Aun meluruskan telapak tangannya dan menjadikan telapak tangan berada dibawah dan punggung tangan berada diatas”.[26]

Didalam ‘Aun Al-Ma’bud disebutkan: “Ketahuilah bahwa menjawab salam dengan isyarat pada hadits ini adalah dengan cara telapak tangan, sedangkan dari hadits Jabir dengan tangan, dari pada hadits Ibnu Umar dari Suhaib dengan jari telunjuk. Dan didalam hadits Ibnu Mas’ud yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dengan lafazh bahwa beliau menganggukkan kepalanya, dan dalam riwayat lain dengan menolak mempergunakan kepalanya. Riwayat-riwayat ini jika diselarskan, menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sesekali mengamalkan yang ini dan sekali waktu dengan yang lainnya, sehingga semua amalan itu diperbolehkan. Wallahu a’lam.[27]


[1] Al-Adab Asy-Syar’iyah (1/352)

[2] Zaad Al-Maad (2 / 411 – 412)

[3] HR. Al-Bukhari (6248)

[4] HR. Al-Bukhari (6147) dan Muslim (2168) dan lafazh hadits diatas adalah lafazh beliau.

[5] Syarh Shahih Muslim oleh An-Nawawi Jilid 7 bab 13 hal.123 dan Fathul Baari (11/35)

[6] HR. Muslim (2055) dan ini bagian dari hadits yang sangat panjang.

[7] HR. Muslim no.2167

[8] Al-Adab Asy-Syar’iyah 1 / 391 )

[9] Al-Adzkar hal.362-367

[10] HR. Bukhari (6258) dan Muslim (2163)

[11] Ahkam Ahli Dzimmah (1/345-346) Ramadi lin-Nasyri, cetakan pertama tahun 1418H, dan lihat fatawa al aqidah oleh ibnu ‘Utsaimin hal.235-236. Dan As-Silsilah Ash-Shahihah oleh Al- Albani (2/327-330).

[12] Lihat Fatawa Al-Lajnah ad-Daa`imah (3/312) fatwa no.11123.

[13] HR. Al-Bukhari (6254 ) dan Muslim ( 1798 )

[14] Syarh Shahih Muslim jild 6 ( 12 / 125 )

[15] Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 1 / 390 )

[16] Al-Adzkar karya An-Nawawi hal. 367

[17] Fatawa Al-Aqidah hal 237. cetakan Daar Al-Jiil.

[18] Fathul Baari ( 11/16 )

[19] HR. At-Tirmidzi (2697) dan lafazh ini adalah lafazh riwayat beliau, Ahmad (27014) dan Ibnu Majah (3701), Ad-Darimi (2637), dan Al-Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad (1003, 1047) dan Al-Albaniy berkata: hadits shahih.

[20] HR. Abu Daud ( 5204 )

[21] Al-Adzkar hal. 356

[22] Fathul Baari ( 11 / 16 )

[23] HR. Muslim ( 540 )

[24] HR. Abu Daud ( 925 ). Al-Albani mengatakan: Shahih. Shahih Abu Daud ( 818 )

[25] HR. Abu Daud (926) ini adalah hadits Muslim yang telah lalu (540) dan telah dijelaskan riwayat Abu Daud yakni padanya terdapat penjelasan bahwa menjawab salam ketika sedang shalat itu dengan tangan.

[26] HR. Abu Daud (927) Al-Albaniy mengatakan: hadist Hasan Shahih, Shahih Abi Daud no.820.

[27] ‘Aun al-Ma’bud , syarah sunan Abu Daud (jilid 12 juz 3 hal.128) terbitan Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: