Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab Al-Adab : Adab-Adab Bertamu

Posted by Abahnya Kautsar pada 4 Juli 2008

Adab-Adab Bertamu

Allah ta’ala berfirman : “ Dan apakah telah sampai kepadamu – kisah – tamu mulia Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Ketika mereka masuk menjumpai beliau seraya mengucapkan salam. Ibrahim emnjawab : Salam bagi kalian wahai kaum yang tidak saya kenali . Maka beliaupun bergegas[1] menjumpai keluarganya, kemudian datang dengan hidangan anak sapi yang gemuk. Lalu menyuguhkannya kepada mereka, dan beliau mengatakan : Tidakkah kalian memakannya ? “ (Adz-Dzariyat : 24 – 27)

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia menyakiti tetangganya, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tmaunya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia berkata yang baik atau diam “[2]

Diantara adab-adab bertamu:

1. Menyambut ajakan/undangan resepsi

Ada sejumlah hadits yang sanad banyak yang menerengkan wajibnya menyambut undangan resepsi, seperti sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Kewajiban seorangmuslim atas muslim lainnya ada enam: Menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengantar jenazah, menymbut undangan dan menjawab ucapan bersin “[3]

Dan sabda beliau : “ Sambutlah undangan ini apabila kalian diundang untukmenghadirinya. Perawi berkata: Adalah Ibnu Umar mendatangi undangan pengantin dan resepsi lainnya sementara beliau tengah menjalankan puasa “[4]

Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyambut undangan adalah suatu yang sunnah kecuali resepsi pernikahan yang menurut mereka hukumnya wajib, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“ Seburuk-buruk makanan dalah makanan resepsi yang hanya diundang orang-orang kaya sementara kaum fakir miskin diabaikan. Dan barang siapa yang mengabaikan undangan pernikahan maka sunnguh dia telah berbuat maksiat kepada Allah dan Rasul-Nya “[5].

Dan pada beberapa riwayat yang diriwayatkan oleh Muslim dan selain beliau dengan lafazh :

“ Menghalau yang mendatangi undangan sementara mengundang keresepsi tersebut orang yang enggan menghadirinya “.

Hanya saja sebagian ulama mengeturakan beberapa syarat dalam menghadiri undangan-undangan seperti ini. Asy-Syaikh muhammad bin Al-‘Utsaimin menyebutkan syarat-syarat tersebut :

a. Yang mengundang bukanlah seseorang yang mesti diisolasi atau sebaiknya diisolasi

b. Tidak terdapat suatu yangmungkar ditempat undangan. Apabila terdapat kemungkaran, jikalau memungkinkan untuk menghilangkannya maka wajib untuk menghadiri undangan tersebut dengan dua alasan : Memenuhi undangan dan untuk merubah kemungkaran. Apabila kemungkaran tersebut tidak dapat dihilangkanya maka haram baginya untuk menghadiri undangan tersebut.

c. Yang mengundang mestilah seorang muslim, karena jika bukan seorang muslim, maka tidak wajib memenuhi undangannya, berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Kewajiban seoang muslim atas muslim lainnya ada enam … “ dan diantaranya : Apabila diundang mestilah memenuhi undangannya .

d. Undangan tersebut bukan dari hasil usaha yang haram, karena memenuhi undang tersebut konsukuensinya adalah memakan makanan yang haram dan hal ini tidak diperbolehkan. Dan ini merupakan pendapat sebagian ulama. Ulama lainnya berpendapat: Suatu yang diperoleh dengan cara yang haram maka dosanya adalah bagi yang mengusahakan harta haram tersebut bukan bagi yang memperolehnya dengan cara yang diperbolehkan dari orang yang mengusahakan harta haram tersebut. Berbeda halnya jikalau yangdihidangkan adalah suatu yang memang diharamkan zatnya seperti khamar, barang curian/rampokan dan lain sebagainya. Ini adalah pendapat yang sesuai, [ lalu beliau mengemukakan beberapa dalilnya ].

e. Undangan tersebut tidak mengakibatkan pengabaian suatu yang wajib lainnya ataukah yang lebih wajib. Apabila undangan tersebut mengakibatkan hal itu maka haram untuk dipenuhi.

f. Tidak mengakibatkan kemudharatan atas diri yang diundang, semisal: Mengharuskan perjalanan yang jauh atau berpisah dengan keluarganya yang membutuhkan kehadiran dirinya ditengah-tengah mereka[6].

Dan kami tambahkan juga:

g. Yang mengundang tidak menentukan yang diundang dan juga tidak menkhususkan seseorang dengan undangannya. Apabila dia tidak menentukan yang diundang, semisal yang mengundang mengatakan disebuah majlis umum, maka tidaklah menjadi wajib untuk memenuhi undangan tersebut, karena merupakan undangan yang umum –al-jafalaa[7]

Masalah : Apakah kartu undangan yang disebarkan semisaldenganundangan lisan ?

Jawab : Kartu undangan yang dikerimkan kepada orang banyak dan tidak diketahui kepada siapa kartu undangan itu tiba, mungkin dapat dikatakan bahwa kartu undangan seperti itu semisal dengan undangan secara umum, yang tidak wajib untuk dipenuhi. Adapun jika diketahui atau disangkakan bahwa undangan tersebut dimasuhkan baginya secara khusus, maka hukumnya termasuk hukum undangan secara langsun melalui lisan. Sebagaiamna dikatakan oleh Ibnu ‘Utsaimin[8]

Faedah : Puasa bukanlah halangan untuk menolak menghadiri undangan. Barang siapa yang diundang namun dia dalam keadaan ebrpuasa, wajib abginya untuk menghadiri undangan untuk mendoakan ampunan dan berkahbagi pengundang. Baik dia tengah mengerjakan puasa wajib atau puasa sunnah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Apabila seseorang diantara kalian diundang, wajib baginya untuk menghadiri undangan. Apabila dia dalam ekadaan berpuasa maka hendaknya dia mendokannya dan apabila dia dalam keadaan berbuka hendaknya dia mencicipi hidangannya “[9]

Sabda beliau : “ Hendaknya dia mendoakannya “ yang pada beberapa riwayat lainnya pada riwayat Ahmad dan selai beliau bahwa yang dimaksud adalah doa: “ apabila dia berpuasa maka hendaknya dia mengucapkan shalawat yakni mendoakannya “[10]

Dan pada hadits abu Sa’id Al-Khudri beliau mengatakan : “ Saya membuat maknan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ketika makanan tersebut dihidangkan, seseorang berkata : Saya lagi berpuasa.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Saudaramu telah mengundang engkau dan telah bersusah payah bagimu, berbukalah dan puasalah lain hari penggantinya jika engkau mau “[11]

An-Nawawi mengatakan : “ adapun seseorang yang berpuasa, tidak ada perbedaan pendapat bahwa baginya tidak wajib untuk makan. Akan tetapi apabila puasanya puasa yang wajib tidak boleh baginya untuk memakan hidangan dikarenakan puasa yang wajib tidak diperbolehkan untuk ditinggalkan. Apabila puasa yang sunnah, maka boleh baginya untuk berbuka dan juga boleh tidak. Namun apabila puasanya tersebut meresahkan pengundang yang menyuguhkan makananm maka lebih utama dia berbuka dan jika tidak maka dia menyempurnakan puasanya. Wallahu ‘alam[12].

2. Memuliakan tamu hukumnya wajib

Banyak hadits dalam perkara wajibnya memuliakan tamu dan disenanginya hal itu, dari Uqbah bin ‘Amir radhiallahu ‘anhu dia berkata : “ Kami bertanya : “ Wahai Rasulullah apabila anda mengutus kami dan dan kamipun singgah / tinggal pada suatu kaum, tidaklah mereka manjamu kami bagaimana pendapat anda ?”. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab : ” Jika kalian singgah pada suatu kaum maka perintahkanlah bagi kalian dengan apa yang sebaiknya untuk tamu, maka temuilah, jika tidak mereka lakukan maka ambillah dari mereka haknya tamu yang sepantasnya untuk mereka”.[13]

Dan Lafazh menurut At-Tirmidzi : “ Jika mereka enggan, kecuali hingga kalian mengambilnya dengan cara yang kurang disenangi maka ambillah”. Demikian pula sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : ” Bertamu itu selama tiga hari, dan jaizahnya[14] siang dan malam, dan tidaklah dihalalkan bagi seorang muslim berdiam disisi saudaranya hingga dia berbuat dosa kepadanya”. Para sahabat bertanya : “ Wahai Rasulullah bagaimanakah dia berbuat dosa kepadanya? ”. Beliau berkata : “ Dia berdiam disisinya, dan tidak ada sesuatupun untuknya yang bisa dia jamu dengannya”.[15]

An-Nawawi menyebutkan tentang ijma’ atas bertamu dan bahwasanya dia termasuk apa yang ditekankan oleh Islam[16]. Kemudian beliau menjelaskan perbedaan pendapat dikalangan ulama akan wajib dan sunnahnya. Adapun Malik, Asy-Syafi’I dan Abu Hanifah berpendapat bahwasanya dia adalah sunnah dan bukan wajib dan membawa hadits-hadits yang serupa dengannya dari hadits-hadits lain semisal hadits tentang mandi Jum’at wajib bagi setiap orang dewasa dan selainnya. Berkata Al-Laits dan Ahmad akan wajibnya bertamu selama jarak siang dan malamnya, dan Ahmad membatasi hal tersebut pada penduduk desa dan yang berada dipedalaman padang pasir selain penduduk kota.

Faedah : Didalam hadits terdapat larangan tentang tinggalnya seorang tamu lebih dari tiga hari, agar bertamunya menjerumuskannya kepada persangkaan yang tidak diperbolehkan, atau mengghibah diriya atau lain sebagainya. Al-Khaththabi mengatakan: “ Tidak halal bagi tamu berdiam disisinya setelah tiga hari tanpa adanya ajakan, yang akan menjadikan dadanya sempit dan amalnya menjadi batal[17] .

Ibnul Jauzi mengatakan dalam menerangkan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Hingga menjadikannya berdosa “ : Hal itu apabila tidak ada suatu yang menjadi alasan jamuannya , maka dengan berdiamnya dia akan menjadikan ketidak senangan. Terkadang dirinya akan disinggungdenganpenyebutan yang buruk, dan terkadang diapun akan menjadi berdosa dalam pemberian yang diinfakkannya kepada si tamu “[18]

Akan tetapi terkecualikan pabila si tamu mengetahui bahwa yang menjamuunya tidak membenci hal itu, ataukah memintanya untuk lebih lama lagi tinggal ditempat itu. Adapun juka si tamu merasa ragu akan keadaan yang menjam, maka lebih utama dia tidak berdiam diri melebihi tiga hari.

3. Disenangi menyambut para tamu

Dari Ibnu Abbbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Ketika rombongan Abdul Qais telah tiba untuk mengunjungi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Marhaban[19] – yakni selamat datang – kepada rombongan yang datang tanpa kehinaan dan tanpa penyesalan … al-hadits “[20]

Dan yang tidak disangsikan lagi, bahwa seseorang menyambut para tamunya dengan ungkapan-ungkapan selamat datang dan yang serupa dengannya akan menanamkan rasa sukacita dan kedekatakan terhadap mereka. Dan hal tersebut dibenarkan dengan kenyataan.

4. Ucapan tamu apabila dia diikuti seseorang yang tidak diundang

Dia mengatakannya serupa dengan yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dari Abu Mas’ud radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : “ Pada kaum Anshar terdapat seseorang yang dikenal dengan panggilan Abu Syu’aib. Dia mempunyai seorang anak yang gemuk berisi. Maka dia berkata kepadanya : BUatlah makanan dan undanglah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama empat lainnya – menjadi lima orang, penj – Maka diapun mengundang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama empat lainnya. Dan seorang mengikuti mereka, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesungguhnya nada mengundang kami berlima, dan orang ini telah mengikuti kami, jikalau anda berkenan anda dapat mengizinkannya dan jika tidak anda dapat menolaknya. Orang tersebut berkata : Melainkan saya mengizinkannya “[21]

Pada hadits ini terdapat beberapa fedah yang akan kami kemukakan sebagian diantaranya yang berkaitan dengan pembahasan kita disini.

Pada hadits tersebut menunjukkan bahwa seseorang yangmengundang suatu kaum yang memiliki sifat tertentu, lalu kemudian diantara mereka ada yang tidak seperti sifat mereka, maka orang tersebut tidak termasuk dalam cakupan keumuman undangan tersebut … Dan pada hadits tersebut juga menunjukkan bahwa barang siapa yang bertingkah layaknya anak kecil – ikut-ikutan – bagi yang mengundang dapat memilih berkaitan dengan haknya, apabila dia masuk tanpa izindia dapat mengusirnya. Dan bagi siapa yang bertingkah laku seperti itu tidaklah dilarang diawal mulanya[22], karena orang yang mengikuti Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , tidaklah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menolaknya, karena ada kemungkina yang mengundang akan berbaik hati dan memberinya izin. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Hajar[23].

5. Berlebih-lebihan dalam menjamu tamu

Tidak sepatutnya sangat berlebihan dalam menjamu tamu hingga melampau batasan yang dapat diterima akal sehat. Dikarenakan berlebhan membebani diris ecara umum adalah suatu yang terlarang. Dari Anas radhiallahu ‘anhu beliau berkata : “ Kami pernah berada bersama dengan Umar, lalu beliau berkata : Kami telah dilarang untuk berlebihan membebani diri “[24]

Namun tidak ada batasan yang dapat dijadikan acuan untuk perkataan kami ini : apakah termasuk dalam bentuk membebani diri berlebihan taukah tidak. Namun yang dijadikan acuan dalam hal itu adalah kebiasaan. Apabila kebiasaan/adat kaum manusia telah menganggap suatu perkara sebagai hal yangberlebihan dan memandangnya sebagai pembebanan diri yang berlebihan, maka ini tergolong pembebanan diri yang berlebihan, dan jika tidak maka juga tidak.

Dan makanan yang dibuat bagi para tamu, mestilah seukuran yang diinginkan tanpa berlebih-lebihan dan tidak sampai tidak mencukupi. Dan sebaik-baik perkara yang adalah yang pertengahan.

Dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Makanan untuk seseorang cukup untuk berdua,makanan untuk tiga orang cukup untuk berempat dan makanan untuk empat orang cukup untuk berdelapan “[25]

Adapun yang terjadi pada hari ini berupa sifat berlebih-lebihan yang dilakukan sebagian orang dalam acara resepsi mereka, berlebih-lebihan dalam membebani diri untuk resepsi tersebut, dan telah melampaui batas yang disyarii’atkan, maka ceritakanlah semua tanpa segan ! Bahkan sebagian diantara mereka berlomba siapakah yang dapat mengalahkan rekannya, dalam banyaknya ragam makanan yang sihidangkan, berlebihan dalam hal tersebut hingga dikatakan bahwa fulan bin fulan telah melakukan ini dan ini. Tidaklah disangsikan lagi bhwa perbuatan ini suatu yang tercela. Dan tidak diperbolehkan memakan makan seperti ini. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang memakan makanan dua orang yang menyajikan makanan untuk menyerupai orang selainnya “[26]

Al-Khaththabi mengatakan : Al-Mutabariyaini adalah dua orang yang bersaing dengan perbuatan mereka. Dikatakan dua orang tabaaraa apabila seseorang diantara mereka berdua melakukan serupadenganyang dilakukan rekannya agar terlihat siapakah yang dapat mengalahkan rekannya. Dan hal itu dibenci karena terkandung amal riya`, sifat untuk bersaing menonjolkan diri dan juga karena tergolong dalam kategori larangan Allah dari memakan harta dengan batil “[27]

6. Masuk dengan izin dan beranjak pulang setelah selesai

Adab ini telah diterangkan didalam Al-Qur`an. Alah ta’ala berfirman :

“ Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian memasuki rumah Nabi kecuali setelah kalian dizinkan untuk masuk mencicipi makanan tanpa menunggu-nunggu waktu makan. Akan tetapi apabila kalian telah diundang maka masuklah dan apabila kalian telah makan maka segeralah kalian beranjak pergi tanpa berlama-lama berbincang “ (Al-Ahzab : 53 )

Allah subhanahu wata’ala telah melarang kaum mukmini memasuki rumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali seizin beliau. Dan dmeikian halnya kaum mukminin tidaklah mereka memasuki rumah sebgian dari mereka kecuali dengan izin. Dan larangan tersebut emnckup seluruh kaum mukminin.

Asy-Syaukani berkata : “ Allah melarang kaum mukminin melakukan hal itu dirumah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan larangan tersebut mencakup seluruh kaum mukminin. Dan keharusan seluruh manusia untuk mengambil adab dari Allah untuk mereka dalam hal itu. Allah telah melarang mereka masuk kesuatu rumah kecuali setelah diizinkan untuk makan bukan sebelumnya untuk menunggu makanan dihidangkan[28].

Dan telah menjadi kebiasaan mereka dizaman Jahiliyah , mereka mendatangi suatu resepsi lebih awal, menungu makanan dihidangkan. Maka Allah melarang mereka melakukan hal itu, didalam firman-Nya : “ Tanpa menunggu-nunggu waktu makan “ ( QS. Al-Ahzab 53 ). Yakni tanpa menanti makanan dihidangkan kemudian menyambutnya[29].

Kemudian Allah subhanahu wata’ala menerangkan bahwa barang siapa yangkeperluannya telah terpenuhi hendaknya segera beranjak pergi dan tidaklah duduk menemaninya berbincang-bincang. Dikarenakan hal itu akan mengganggu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Demikian halnya bagi kaum manusia, karena sebagian besar diantara mereka merasa terganggu apabila orang-orang yang diundang berlama-lama setelah menyelesaikan makannya. Maka tidak seyogyanya seseorang berdiam lama ditempat mereka, kecuali jika pemilik rumah mengharapkan mereka tinggal, ataukah jika kebiasaan kaum tersebut seperti itu. Dan tidak ada rasa keberatan dan tidak juga mengganggu maka hal tersebut tidaklah mengapa. Dikarenakan alasan larangan tersebut telah tertiadakan.

7. Mendahulukan yang lebih tua dan mendahulukan yang berada pada sisi bagian kanan, baru yang selanjutnya.

Selayaknya bagi seseorang yang menjamu para tamu,agar mendahulukan yang paling tua serta memberi perhatian lebih kepadanya. Hal itu dikarenakan anjuran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam beberapa hadits untuk melakukan hal itu.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Saya diperlihatkan didalam tidurku, bahwa saya mempergunakan siwak, lalu dua orang menghampiriku , salah satunya lebih tua dari yanglain, Lalu saya menyodorkan siwka kepada yang lebih muda. Maka dikatakan kepadaku : Yang lebih tua. Lalu sayapun menyodorkannya kepada yang lebih tua “[30]

Dan beliau bersabda : “ Sesungguhnya yang termasuk dari keagungan Allah : menghormati orang muslim yang sudah tua, orang yang menghafal Al-Qur`an, tanpa berlebih-lebihan dan tanpa bersikap kasar terhadapnya dan menghormati penguasa yang adil”.[31]Adapun hadits Sahl bin Sa’ad radhiallahu’anhu : “ Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam didatangkan kepada beliau minuman maka beliaupun meminumnya, dan disamping kanan beliau ada seorang anak kecil dan disamping kirinya seorang yang sudah tua, maka beliau berkata kepada anak kecil tersebut : “ Apakah engkau mengijinkanku kalau aku memberi mereka ? “. Anak kecil itu menjawab : “ Demi Allah wahai Rasulullah tidak ada yang berat untukmu jika bagianku diberikan kepada seseorang ”. Sahl berkata : “ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meletakkannya diatas tangannya”.[32]Maka hal inilah jika akan memberikan faedah mendahulukan yang kanan entah yang kanan tersebut anak kecil atau orang besar, kecuali dia tidak bertentangan dengan hadits-hadits yang mendahulukan orang yang lebih tua dari selainnya, dan memungkinkan bagi kita untuk menggabungkan antara keduanya maka kita katakan :

Sesungguhnya mendahulukan yang kanan diperuntukkan bagi orang yang meminum sesuatu dan menyisakannya minumannya. Lalu memberikan kepada yang berada dibagian kanannya, kecuali jika dia mengizinkanya. Dan seputar makna inilah yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr: “ Dan pada hadits ini[33] terkandung adab menyuguhkan makanan dan bermajlis. Bahwa seseorang apabila makan atau minum, memberikan sisanya kepada yang berada dibagian kanannya, siapapun dia, walau dia seorang yang tidak begitu mempunyai keutamaan, sementara yang berada dibagian kirinya seseorang yang memiliki keutamaan[34].

Mendahulukan yang lebih tua, diberikan disaat awal menyuguhkan minum atau makanan. Kemudian setelah itu dilanjutkan kepada yang berada dibagian kanannya. Sepertinya pendapat inilah yang dikuatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menuangkan minuman, beliau bersabda : Mulailan dengan yang lebih tua “[35].

Dan dengan in, dalil-dalil yang ada dapat diselaraskan. Wallahu a’lam

8. Doa yang diucapkan tamu setelah memperoleh jamuan makanan

Termasuk sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila beliau memakan makanan yang dihidangkan oleh kaum, beliau mendoakan mereka. Dari Anas, beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengunjungi Sa’ad bin ‘Ubadah, lalu beliau menghidangkan roti dan minyak. Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam makan, lalu mengucapkan : “ Orang-orang yang berpuasa telah berbuka ditempat kalian, dan orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian, dan para malaikat mendoakan kalian “[36]

Sebagian ulama mengkhususkan doa ini ketika berbuka puasa saja, sementara mayoritas ulama berpendapat doa ini berlaku mutlak baik ketika berbuka puasa atau selainnya[37].

Pada hadits Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiallhu ‘anhu yang panjang tentang menyuguhkan susu. Dan pada hadits tersebut, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa : “ Ya Allah, berilah makan kepada yang telah memberiku makan dan berilah minum bagi yang telah memberiku minum “[38]

An-Nawawi mengatakan : “ Pada hadits tersebut menunjukkan doa bagi seorang yang berbiat baik dan juga bagi yang telah melayani, dan bagi yang telah melakukan kebaikan[39].

Abdullah bin Busr meriwayatkan bahwa bapaknya pernah membuat makanan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian mengundang beliau dan beliaupun menyambutnya. Ketika beliau telah selesai menyantap hidangannya, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Ya Allah ampunilah mereka dan berilah mereka rahmat dan berilah berkah bagi mereka dari apa yang Engkau rizkikan untuk mereka “[40]

9. Disenangi keluar bersama tamu hingga ke pintu

Perbuatan ini termasuk dalam bagian kesempurnaan menjamu tamu, dan kebaikan dalam melayani tamu. Dan menyertainya hingga dia berlalu dari rumah. Dan tidak satupun hadits yang marfu’ dan shahih yang dapat dijadikan pedoman akan hal itu. Hanya beberapa atsar dari Salaf umat ini dan para Imam mereka. Dan kami hanya mencukupkan dengan sebuah atsar saja, yaitu : Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Sallam mengunjungi Ahmad bin Hanbal … Abu ‘Ubaid berkata : “ Dan ketika saya hendak berdiri, beliau berdiri menyertaiku. Saya berkata : Janganlah anda melakukan hal itu wahai Abu Abdillah. Beliau bekata : Asy-Sa’bi mengatakan : Termasuk kesempurnaan ziarah seorang tamu, adalah anda menyertainya hingga kepintu rumah dan anda mengambil berkahnya … “[41]


[1] Faraagh : yaitu beranjak pergi dengan bergegas dalam susana hati yang takut, untuk segera menghidangkan santapan bagi mereka. Lihat Taisir Al-Kariim Ar-Rahman fii Tafsiir Kalaam Al-Mannaan karya Ibnu Sa’di ( 7 / 169 )

[2] HR. Al-Bukhari ( 6018 ), Muslim ( 47 ), Ahmad ( 7571 ), At-Tirmidzi ( 1188 ) dan Ad-Darimi ( 2222 ).

[3] HR. Al-Bukhari ( 1240 ), Musli ( 2162 ), Ahmad ( 27511 ), at-Tirmidzi ( 2737 ), An-Nasaa`I ( 1538 ), Abu Daud ( 5030 ) dan Ibnu Majah ( 1435 )

[4] HR. Al-Bukhari ( 5179 ), Muslim ( 1429 ), ahmad ( 4698 ), At-Tirmidzi ( 1098 ), Abu Daud ( 3736 ), Ibnu Majah ( 1914 ), Malik ( 1159 ) dan Ad-Darimi ( 2205 )

[5] HR. Al-Bukhari ( 5177 ), Muslim ( 1432 ), Ahmad ( 10040 ) abu Daud ( 3742 ), Ibnu Majah ( 1913 ), Malik ( 1160 ) dan Ad-Darimi ( 2066 ).

[6] Al-Qaul Al-Mufid ‘ala Kitab At-Tauhid ( 3 / 111 – 113 ), dengan sedikit perubahan.

[7] Didalam Lisan Al-‘Arab : Mengundang mereka al-jafalaa atau al-ajfalaa, yaitu mengundang khalayak ramai kepada makanan hidangan anda secara umum. Disebuat bait syair disebutkan :

Kami yang berada berdiam dimusim dingin diundang secara umum

Dan bukanlah adab menurut kami jika undangan dikhususkan

Al-Akhfasy mengatakan : Undanglah si fulan ketika an-naqraa jangan ketika al-jafalaa. Maksudnya undanglah dia secara khusus jangan secara umum ( 11 / 114 ) bahasan : ج ف ل

[8] Al-Qaul Al-Mufid ‘ala KitabAt-Tauhid ( 3 / 113 )

[9] Muslim ( 1431 ), Ahmad ( 7691 ), At-Tirmidzi ( 780 ) dan AbuDaud ( 2460 )

[10] Ahmad ( 9976 )

[11] Ibnu Hajar mengatakan : “ Diriwayatkan oleh Al-Isma’ili dari Abu Urais dari bapaknya dari Muhamman bin Al-Munkadir dari Abu Sa’id, dan sanadnya hasan “ ( Al-Fath 4 / 182 ). Al-Albani mengatakan : hasan. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi ( 4 / 279 ). Lihat Al-Irwa` ( 7 / 11 ) no. 1952.

[12] Syarh Muslim, jilid 4 – ( 9 / 197 -198 )

[13] HR. Al-Bukhari ( 6137 ), Muslim ( 1727 ), Ahmad ( 168 94 ), At-Tirmidzi
( 1589 ), Abu Daud ( 3752 ) Ibnu Majah ( 3676 )

[14] Berkata Ibnu Al-Jauzi : “ Jaizah adalah pemberian, dan hadiah dari penguasa adalah pemberiannya”. Dan maksud dari jaizah disini adalah apa yang diperbolehkan dengannya selama jarak siang dan malamnya. ( Kasyful Musykil min Hadist Ash-Shahihain 4 / 86 ) – Cet.pertama- Daarul Wathan, tahun 1418 H )

[15] HR. Al-Bukhari( 6135 ), Muslim ( 48 / Kitab AL-Luqathah ), dan lafazh miliknya. HR. Ahmad ( 26620 ), At-Tirmidzi ( 1967 ) Abu Daud ( 3748 ) Ibnu Majah ( 3672 ) Malik ( 1728 ), Ad-Darimi ( 2035 )

[16] Lihat Syarh Muslim jilid 6 ( 12/ 26 )

[17] Ghizaa`u Al-Albab karya As-Safariini ( 2 / 159 )

[18] Kasyf Al-Musykil min Hadist Ash-Shahihain ( 4 / 88 )

[19] Didalam Al-Lisan ( 1 /414 ) . pada bahasan : رح ب , perkataan mereka dalam menyambut yang datang : Ahlan wa marhaban, maknanya bahwa anda telah berjumpa dengan ahlan dan marhaban. Dan mereka mengatakan : Semoga Allah melapangkan dan memudahkan bagiu. Dan perkataan mereka : Marhaban wa ahlan, yaitu saya mentangi anda dengan kelapangan dan mendatangi anda sebagai keluarga, maka sambutlah dan janganlah anda merasa kesepian. Al-Laits mengatakan : makna ungkapan Arab : Marhaban : Turunlah dalam kelapangan dan keluasan.

[20] HR. Al-Bukhari ( 6176 ) dan Muslim ( 17 )

[21] HR. Al-Bukhari ( 5434 ), Muslim ( 2036 ) dan At-Tirmidzi ( 1099 )

[22] An-Nawawi menyelisihi hal tersebut, beliau berkata : “ Dan bagi yang diundang apabila seseroang mengikutinya tanpa undangan sepatutnya untuk tidak mengizinkan dan melarangnya “ ( Syarh Muslim hadits no. 2036 ) . Namun hadits diatas tidak menguatkan pendapat beliau itu. Dan yang tepat adalah pendapat yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar.

[23] Fathul Baari ( 9 / 471 – 472 ) ( 5434 )

[24] HR. Al-Bukhari ( 7293 ), dan hadits tersebut hukumnyasetara denganhadits marfu’, karena perkataan sahabat : Kami telah dilarang. Sebagaimana hal tersebut suatu yang baku dalam disiplin ilmu Ushul.

[25] HR. Muslim ( 2059 ), ahmad ( 13810 ), At-Tirmidzi ( 1820 ), Ibnu Majah ( 3254 ) dan Ad-Darimi ( 2044 )

[26] HR. Abu Daud ( 3754 ) al-Albani mengatakan : Shahih.

[27] ‘Aun al-Ma’bud jilid 5 ( 10 / 161 ), Kitab Al-ath’imah, bab Fii Tha’aam Al-Mutabaariyaini.

[28] Fathul Qadir ( 4 / 341 )

[29] Fathul Qadir ( 4 / 341 ) dengan sedikit perubahan.

[30] HR. Muslim ( 3003 ) , Al-Bukhari meriwayatkannya secara mu’allaq didalam kitab Al-Wudhu`, beliau berkata: Bab. Daf’u As-Siwak ilaa Al-Akbar. Kemudian beliau mencantumkan hadits diatas secara mu’allaq. Hadits ini diriwayatkan secara maushul oleh Abu ‘Awanah. Al-hafidz Ibnu Hajar menyebutkan hal itu didalam Al-Fath ( 1 / 425). Dan yang mengatakan: yang lebih tua tiada lain adalah Jibril ’alaihis salam.

[31] HR. Al-Bukhari dalam Adab Al-Mufrad ( 357 ), Abu Daud ( 4843 ), berkata Al-Albani : hasan

[32] HR. Al-Bukhari ( 5620 ), Muslim ( 2030 ), Ahmad ( 22317 ), Malik ( 1724 )

[33] Yaitu hadits Sahl bin Sa’ad

[34] At-Tamhid ( 6 / 155 )

[35] HR. Abu Ya’la ( 4/ 315 ) ( 2425 ). Al-Hafidz mengatakan : Sanadnya kuat. Fathul Bari ( 10 / 89 ).

[36] HR. Abu Daud ( 3854 ) al-Albani menshahihkannya. Ahmad ( 11767 ), ad-dArimi ( 1772 ), dan pada riwayat Ahmad dan Ad-Darimi dengan lafazh : “ Dan para malaikat turun kepada kalian “. Dan juga Ibnu Majah ( 1747 ) dengan riwayat Abdullah bin Az-Zubair serupa dengan lafazhAbu Daud.

[37] Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 217 )

[38] HR. Muslim ( 2055 ), Ahmad ( 23300 ) dan At-Tirmidzi (2719 )

[39] Syarh Shahih Muslim jilid 7 ( 14 / 13 )

[40] HR. Muslim ( 2042 ),Ahmad ( 17220 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, At-Tirmidzi ( 3576 ), Abu Daud ( 3729 ) dna Ad-Darimi ( 2022 )

[41] Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 227 )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: