Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Dasar-Dasar dan beberapa Ushul Masalah Khilaf

Posted by Abahnya Kautsar pada 7 Juli 2008

Dasar-Dasar dan beberapa Ushul Masalah Khilaf

Pasal

Pendapat-pendapat dan Kaidah-Kaidah yang Global sebab dari Tersebarnya Bid’ah.

Lafadz yang Mujmal –Global- : Adalah suatu lafadz yang darinya dapat dipahami beberapa pengertian, sebagian diantaranya haq dan sebagian lainnya adalah batil.[1]

Dan bagi siapa saja yang menelaah sejarah Ummat Islamiyah, akan mendapati bahwa diatara sarana para ahlul Bid’ah adalah dengan mendatangkan lafadz-lafadz serta kaidah-kaidah yang mujmal/global, yang tidak dijumpai dlaam Al Kitab ataukah dalam As Sunnah. Dan mereka menjadikan lafadz-lafadz dan kaidah-kaidah tersebut sebagai suatu yang musallamah –diterima – untuk mengantarkan mereka mereka dengan lafadz-lafadz dan kaidah-kaidah tersebut dalam mencampakkan setiap yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah. Misalnya lafadz Al Jism –jasmani/jasad- dan lafadz Al Hayyiz – memiliki sisi- dan perkataan mereka : ” Bahwa Al A’raadh –yakni dzat- tidak akan ada terkecuali dengan adanya Al Jism sedangkan setiap Al Jism selalu memiliki keserupaan “

Dan yang pertama kali berbicara dlam masalah Al Jismi ini baik itu dlam penolakannya atauka penetapannya adalah Hisyam bin Al Hakam Ar Rafidhi[2]

Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyah : ” Dan adapun lafadz-lafadz yang tidak dijumpai dalam Al Kitab ataukah dalam As Sunnah dan bukan kesepatan para Ulama Salaf dalam menolaknya atau menetapkannya, maka masalah ini bukanlah tempat dimana seseorang boleh sependapat dengan yang menolaknya atau yang menetapkannya, sampai ia menanyakan tafsiran dari maksud lafadz tersebut. Dan jika ia menghendaki dengan lafadz-lafadz tersebut suatu makna yang sesuai dengan khabar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, maka ia kaan dibenarkan dan jika ia menghendaki makna yang berseberangan dengan khabar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam maka iapun akan diingkari.

Lalu penggunaan ibarat dalam menunjukkan makna-makna tadi ; jika dalam lafadz-lafadznya terdapat kesamaran ataukah makna yang global maka diganti dengan ibarat selainnya ataukah menjelaskan masud dari ibarat itu, sehingga akan dihasilakan suatu penjabaran yang haq dengan sudut pandang yang syar’I pula.

Dimana sebagian besar perselisihan manusia disebabkan karena lafadz-lafadz yang global yang yang bid’ah, makna-makna yang samara-samar, dimana dijumpai ada dua orang yang berselisih dan saling bermusuhan karena penggunaan lafadz scara mutlak dan penolakannya, dan sekiranya ditanyakan kepada masing-masing mereka berdua akan makna yang mereka ucapkan tidaklah mereka akan sanggup memberikan gambarannya, terlebih lagi dari penungangkapan dalilnya. Dan jika ia mengetahui dalilnya tidaklah mesti yang menyelisihinya salah dalam hal itu, bahkan bisa jadi dalam perkataan ia ada satu bagian yang benar, dan bisa saja yang ini benar pada satu sisi dan yang lainnya benar pada sisi lainnya, dan bisa jadi yang benar itu pada pendapat yang ketiga.[3]

Dan yang wajib bagi setiap yang memberiakn suatu tuntunan dalam Da’wah dan menggariskan Kaidah padanya, agar tiak menggunakan secara mutlak lafadz-lafadz yang sifatnay global tanpa adanya penjelasan lanjut atau perincian bagi lafadz-lafadz tadi. Dan yang utama adalah tidka mempergunakan lafadz-lafadz yang global, agar jangan sampai para ahlul bid’ah membonceng dari penggunaan lafadz-lafadz tersebut. Dan demikian juga seseorang yang ditanyakan kepadanya tentnag suatu lafadz ataukah suatu kaidah yang mujmal –yang dapat diinterpretasikan haq atau batil- agar tidak memberikan jawaban tanpa adanya perincian maksud, dan ini bisa menjadi tempat tersesatnya seseorang yang berupaya meraih petunjuk .

Dan barang siapa yang telah melakukan hal ini, maka ia telah menyelisihi petunjuk Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam. Berkata Ibul Qoyyim –rahimahullah – [4] : ” Dan yang dimaksudkan disini adalah penegasan terhadap wajibnya merincikan sesuatu jika disodorkan padanya suatu soal yang mujmal. Wabillah Taufiq.

Dan sebagian banyak yang terjadi dari kekeliruan seorang Mufti –Ahli Fatwa- dalam bagian ini, dimana seorang Mufti akan dihadapkan padanya masalah-masalah yang beragam sekali yang perlu dipertimbangkan matang-matang, jika tidka benar-benar memperhatikan hakikat dari soal , akan mencelakakannya dan juga yang lainnya.

Dan beliau berkata dalam menerenagkan hakikat dari Mufti seperti ini : ” Dan terkadang disodorkan didepannya permasalahan yang batil dalam agama Allah ta’ala, namun dalam rupa yang dibaguskan dan lafadz yang menarik, maka bisa jadi ia dengan segera memperkenankannya sedangkan permasalahan itu termasung kebatilan yang teramat sangat. Dan kadang pula kebalikannya. Maka sesungguhnyalah tiada ilah selain Allah ta’la, betapa banyak disini pijakan yang telah tergelincir dan merupakan tempat munculnya keraguan ! Dan tidaklah seseorang yang mencari kebenaran menuju mengajak pada suatu kebenaran terkecuali syaithan akan mengeluarkannya melalui lisan saudaranya dan penyokongnya dari kalangan manusia dalam bentuk yang akan menghalau setiap pandangan yang remang-remang dan setiap hati yang lemah, dan mereka adalah kebanyakan manusia. Dan tidakpula seseorang yang telah memperingatkan dari suatu yang abtil, terkecuali syaithan akan mengeluarkannya melalui lisan saudaranya dan penyokongnya dari kalangan manusia dalam rupa yang mempesona yang mana dianggap suatu yang remeh oleh akal-akal kaum manusia dari jenis itu dan merekapun menerimanya. Dan kebanyakan manusia nalar mereka tidak sanggup untuk memberikan gambaran, mereka tidak sanggunp untuk menempuhnya menuju suatu hakikat sebenarnya dan merekapun terkungkung dalam penjara lafadz-lafadz yang mempesonakan, dan terbelenggu dengan ikatan ibarat-ibarat yang memikat, sebagaimana firman Allah ta’ala ;

{ وَ كَذَلِكَ جَعَلْنَا لكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوّاً شَيَاطِيْنِ الإِنْسِ وَ الجِنِّ يُوْحِيْ بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ القَوْلِ غُرُوْرًا وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوْهُ. فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُوْنَ وَ لِتَصْغَى إِلَيءهِ أَفْئِدَةُ الذِيْنَ لاَ يُؤْمِنُوْنَ بِاْلآخِرَةِ وَلِيَرْضَوْهُ وَلِيَقْتَرِفُوْا مَاهُمْ مُقْتَرِفُوْنَ }

” Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi adanya musuh atas diri mereka dari para syaithan baik itu dari kalangan manusia atau jin. Masing-masingnya memberitakan kepada yang lainnya … “

Dan dari karena inilah semuanya, engkau akan menjumpai perkataan-perkataan serta fatawa para Ulama Ar rasikhiin dalam ilmu syar’I yang meniti diatas atsar para shahabat dan tabi’in, senantiasa selaras dengan lafadz-lafadz Al Qur’an dan As Sunnah, dan mereka –para ulama tesebut- benar-benar sangat berhati-hati, maka merekapun mendapatkan keselamatan. Dan barang sipa yang menyimpang dari jalan mereka akan ia dapati kesalahan, kekeliruan, pertentangan dalam ujarannya dan ketidak pastian.

Berkata Ibnul Qoyyim –rahimahullah – ; ” Disenangi bagi setiap ahli fatwa agar mengeluarkan fatwa dengan lafadz nash syara’ selama memungkinkannya dikarenakan padanya terkandung suatu hukum, dalil yang diiringi dengan pemaparan yang sempurna. Dan itu adalah suatu hukum yang mengandung kebenaran, dan dalil yang terkandung dalamnya sebaik-baik penjelasan. Sedangkan perkataan seorang ahli Fiqh tidaklah seperti itu. Dana dalah para shahabat, tabi’in dan para Imam yang menempuh manhaj mereka, begitu berhati-hati dalam hal ini dengan sangat kehati-hatiannya, hingga akhirnya mereka terganti dengan kaum yang datang setelah mereka yang enggan dari nash-nash syara’ dan mereka mencanagkan lafadz-lafadz yang bukanlah lafadz-lafadz dari nash-nash syara’ dan mengakibatkan dari perbuatan itu dijauhkannya nash-nash syari’ah.

Dana dalah suatu yang telah diketahui bahwasanya lafadz-lafadz tersebut tidaklah memberikan rujukan sebagaimana nash-nash syara’ memberikan rujukan berupa hukum, dalil dan pemaparan yang demikian bagusnya, Maka yang akan dilahirkan, dari sikap menjauhkan nash-nash syari’ah dan memberikan respek terhadap lafadz-lafadz yang diada-adakan tersebut serta menggantungkan setiap hukum dengannya , terhadap ummat ini berupa kerusakan yang hanya Allah- semata yang mengetahuinya, Maka lafadz-lafadz syari’ah adalah suatu kema’shuman, hujjah, terlepas dari semua kesalahan, pertentangan, sanggahan dan ketidak pastian.[5]


[1] Majmu’ Fatawa 6 / 103

[2] Majmu’ Fatawa 13 / 305

[3] Majmu’ Fatawa 12 / 114

[4] I’lamul Muwaqqi’iin 4 / 192

[5] I’lamul Muwaqqi’in 4 / 170

( Judul Asli : Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun. Penulis : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman. Muroja’ah : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan. Rekomendasi : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad. Penerbit : Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah. Cetakan Pertama 1419 H / 1999 M. Penerjemah : Abu Zakariya Al Atsary. )

Iklan

Satu Tanggapan to “Dasar-Dasar dan beberapa Ushul Masalah Khilaf”

  1. jazakallah khair wa barakallahu fik

    وفيك بارك الله

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: