Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Koreksi atas kaidah sesat Ikhwanul Muslimin

Posted by Abahnya Kautsar pada 7 Juli 2008

Bisimillahirrahmanirrahim

Insya Allah Ta’ala akan kami hadirkan secara bersambung terjemahan dari kitab : “Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun. yang  ditulis oleh  : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman, dengan muraja’ah oleh : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan, serta direkomendasikan oleh  : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad. (admin)

M u q a d d i m a h


إن الحمد لله نحمده ونستعينه و نستغفره و نعوذ بالله من شرور أنفسنا و سيئات أعمالنا من يهده الله فـــلا مضـــــل له و مـــن يضلله فـلا هــادي له

و أشهد ان لا إله إلا الله وحده لا شريك له

و أشهد ان محمدا عبده و رسوله

Amma Ba’du ,

Ketahuilah bahwa sesungguhnya ke-ma’shuman dan keselamatan hanyalah dengan berada pada setiap lafadz-lafzdz syar’I, sebagaimana halnya Ad Diin ini adalah suatu yang ditunjukkan oleh lafadz-lafadz syar’I tersebut yang berupa makna-makna yang terkandung didalamnya. Dan lafadz-lafadz syar’I tersebut adalah jaminan atas setiap petunjuk dan pemaparannya dan penjaga dari setiap kesalahan, ketergelinciran dan kerusakan.

Adapun lafadz-lafadz yang tidak dijumpai dalam Al Qur’an dan As Sunnah, sesungguhnya menggantungkan setiap masalah I’tiqad –keyakinan-, setiap amalan dan hukum-hukum syar’I padanya akan mengantarkan pada pendapat yang batil dan menghasilkan kejelekan yang timbul karenanya yang tiada yang mengetahuinya kecuali Allah ta’ala.

Dan ketahuilah – semoga Allah memberikan kepada engkau taufiq-Nya- bahwa sorang Sunni tidaklah berpendapat sehingga mengikuti firman Allah dan Sabda Rasul-Nya, sebagaimana perintah Allah ta’ala ;

{ لاََ تُقدموا بَيْنَ يَدَيْ اللهِ وَ رَسُوْلِهِ }

” Janganlah kalian – orang-orang yang beriman – mendahului Allah dan Rasul-Nya “

Sedangkan seorang Bid’iy –Ahlul Bid’ah – menjadikan agama mereka adalah yang diucapkan oleh para Masyaikh mereka, maka ketika didatangkan dihadapan mereeka nash-nash wahyu ilahi, mereka mengatakan : Ini suatu yang masih global ! Ini adalah suatu yang perlu penta’wilan ! …

Adapun perkataan-perkataan para masyaikh mereka menurut mereka sama sekali tidak terkandung dalamnya suatu yang global, dan tidak juga suatu yang mesti dipermasalahkan dan tidak diperkenankan seorangpun untuk menyelisihinya, walaupun itu demi untuk mengikuti Firman Allah dan Sabda Rasul-Nya shollallahu ‘alaihi wasallam.

Dan sebagian lainnya yang telah diselimuti dengan kebodohan dan hawa nafsu, teramat mengagungkan pendapat-pendapat dan setiap kaidah mubtada’ah –yang diada-adakan dalam diin- , dan akan tidak senang jikalau pendapat dan kaidah tersebut ditinggalkan atau dijelaskan dari perkataan dan kaidah tesebut adanya kesalahan ataukah kekeliruan.

Dan mereka, keberadaan mereka ini tidak beda halnya dengan keberadaan sebagian kaum Arab Badui yang mengagungkan adapt istiadat mereka yang berasal dari perintah seseorang yang mereka patuhi, dan mereka sangat marah jika adat istiadat ini dilanggar jauh lebih marahnya mereka jika batasan-batasan dari Allah dilanggar. Dan ini tentunya adalah suatu kesesatan yang nyata.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah –rahimahullah- : ” Bahkan sebagian dari kaum yang menyandarkan keberadaan mereka kepada Islam menjadikan adat istiadat mereka sebagai suatu hukum yang sama sekali Allah – subhanahu wata’ala- tidak mewahyukannya, seperti halnya orang-orang badui terdahulu dan sebagaimana halnya perintah-perintah dari orang-orang yang mereka patuhi. Dan mereka berpendapat bahwa inilah yang mesti dijadikan landasan hukum selain Al Kitab dan As Sunnah.

Ini adalah sutu kekafiran, dikarenakan sebagian besar manusia yang telah menyatakan masuk ke dalam islam namun masih saja tidak menjadikan patokan hukum itu melainkan adapt istiadat yang berlaku ditengah-tengah mereka yang merupaka perintah dari kalangan yang mereka patuhi. Dan mereka ketika mengethaui bahwa tidak diperkenankan untuk mengambil ketentuan hukum kecuali dari yagn telah Allah wahyukan, tidkalah mereka itu ber-iltizam –berpegang teguh- dengannya, bahkan mereka sampai membolehkan untuk berhukum kepada sesuatu yang bertentangan dengan yang Allah turunkan berupa wahtu, maka mereka ini sesungguhnya telah kafir, walaupun mereka pada dasarnya adalah orang-orang yang jahil, sebagaimana keadaan mereka dijelaskan diatas.[1]

Dan sewaktu Da’wah ilallah adalah salah satu dari keta’atan yang termulia – sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala ;

{ وَ مَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلىَ اللهِ وَ عَمِلَ صَالِحًا وَ قالَ إِنَّنِي مِنْ المُسْلِمِيْنَ }

” Dan siapakah yang terbaik ujarannya selain yang mengajak kepada Allah ta’ala dan beramal amal yang sholeh dan mengatakan sesungguhnya saya adalah dari orang-orang yang telah berserah diri ” –

Maka bermunculanlah beberapa orang dan jama’ah-jama’ah untuk menegakkan kewajiban ini, dengan manhaj yang beragam dan titian yang berbeda-beda, dikarenakan perbedaan tingaktan mereka dalam ilmu syar’I, dimana ilmu syar’I memiliki beberapa tingkatan dan derajat sebagaimana firman Allah ta’ala ;

{ وَ فَوْقَ ذُوْ عِلْمٍ عَلِيْم }

” Dan diatas setiap yang berilmu ada yang memiliki keluasan ilmu “

Dan ijtihad beberapa dari Da’I telah pula menghasilkan pencanangan beberapa kaidah Da’wiyah yang ia melaksanakan setiap tuntutannya dalam amal Da’wah ilallah.

Dan yang wajib tentunya adalah menjadikan setiap yang Allah ta’ala turunkan berupa Al Kitab dan As Sunnah sebagai suatu dasar dalam segalaperkara alu setiap yang diperbincangkan khalayak ramai dikembalikan kepada keduanya, dan dijelaskan setiap lafadz-lafadz yang global akan kandungan maknanya, yang selaras dengan Al Kitab dan As Sunnah maka mesti untuk diterima, sedangkan jika padanya dijumpai makna-makna yang berseberangan dengan Al Kitab dan As Sunnah maka tertolak.

Dan dari sekianbanyak kaidah yang didapati dalam sekian banyak shaf jama’ah –jama’ah da’wah, adalah kaidah :

يَعذٍرُ بَعضنا بعضاً فٍيما اخْتلفنا فيه و نَتَعاوَن فيما اتَّفَقْناعليه

” Saling memberikan udzur masing-masingnya pada setiap yang kita berbeda pendapat, dan saling membantu dalam setiap yang kita bersepakat padanya “

Dan yang mengadakan kaidah ini telah meninggal dunia –semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya – dan sekiranya beliau masih hidup tentulah akan kami kembalika kaidah ini kepadanya, sehingga jelas maksud dari kaidah ini, dan akan kami jelaskan padanya pemahaman yang diharuskan oleh kaidah ini, akan tetapi setelah kami melihat bagaimana pengikut nya mengamalkan kaidah ini, teranglah bagi kami apa sebenarnya yang diinginkan dari kaidah ini.

Dimana mereka tidak saja hanya membatasi sesama Ahlus Sunnah dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak dijumpai adanya nash syara’, namun juga telah melebarkan kaidah ini hingga mencakup pula firqah yang paling sesat semisal Rafidhah !

Dan hanya Allah yang mengetahui, betapa banyak akibat dari kaidah ini , menjadi sebab akan pembolehan bid’ah dan menghimpun pendapat-pendapat para Ahlul Bid’ah bersama-sama dengan pendapat-pendapat Ahlus Sunnah !

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : ” Adapun makna-makna yang telah ditunjukkan oleh Al Kitab dan As Sunnah wajib untuk diikuti, sedangkan makna-makna yang tertolak dalam Al Kitab dana As Sunnah wajib untuk ditolak. Dan ibarat yang menunjukkan pada makna baik itu dalam penerimaan ataukah penolakan, jikalau dijumpai pada perkataan seseorang dan jelas maksud keinginannya akan dibebankan padanya hukum maksudanya jika tidak dikembalikan kepadanya maksud keinginannya.[2]

Dan sebab yang mengantarkan untuk menuliskan Risalh ini adalah ketika seseorang dari tholabut ilmi –semoga Allah memperbaiki nya- menyifatkan kaidah ini dengan ucapan ia : ” Dalam Kaidah ini terdapat cahaya dari tanda-tanda Kenabian ” !![3]

Dimanakah kelayakan kaidah ini jika diukur dengan para Imam yang Rasikhiin –yang memiliki keluasan ilmu- yang mana mereka sama sekali tidak menggariskan secara mutlak segala yang tidak memberikan pengaruh dari setiap ibarat-ibarat mereka. Berkata Al Hafidz Ibnu Rajab sewaktu memberikan sanjungan kepada Ibnu Qudamah : ” Tidaklah beliau berpendapat adanya pemutlakan ibarat-ibarat beliau yang tidak memiliki pengaruh sedikitpun “[4]

Dan akan dilihat dalam Risalah kami ini perbedaan antara pendapat orang tersebut dan perkataan para Ulama-ulam Ahlil Ilmu yang rusukh – mumpuni – dalam keilmuanya.

Dan pembahasan ini telah saya bagi menjadi tiga bahagian ;

Pertama : Pengantar dan beberapa Kaidah dalam masalah-masalah khilafiyah.

Kedua : Akibat yang timbul dari pengamalan Kaidah ini.

Ketiga : Beberapa perkataan para Ulama dalam menyikapi Kaidah ini.

Dan inilah, dan saya memohon semoga Allah – tabaraka wata’ala- memberikan manfa’at dari yang saya tuliskan dan memberikan kepada kami dan segenap kaum muslimin kepada jalan yang lurus sesungguhnya Dia subahanhu wata’ala sebaik-baik tempat bergantung dan sebaik-baik tenpat bertawakkal.

Dan saya juga haturkan ucapan syukur saya – pada kesempatan ini – kehadirat Al Fadhilah Asy Syaikh Al ‘Allamah Sholeh bin Fauzan Al Fauzan – semoga Allah senantiasa memberikan beliau taufiq-Nya- dari kemuliaan yang beliau berikan dengan meneliti kembali rislaah ini dan sisipan beberpa faidah dan komentar beliau terhadap rislaah ini. Dan juga rasa syukur kepada Fadhilah Asy Syaikh Al ‘allamah ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr – semoga Allah membeliran manfa’at dengan keberadaan beliau- dari kemuliaan yang telah beliau berikan dengan meninjau ulang risalah saya ini dengan tinjauan ilmiyah dan rekomendasi dari beliau.

Semoga Allah membalas kepada kedua Asy Syaikh Al Fadhil dengan segala kebaikan, dam memberikan kepada beliau berdua taufiq-Nya dari setiap manfa’at bagi Ummat Islam ini dan Perjuangan beliau untuk mengangkat Sunnah

Sesungguhnya Allah –jalla wa ‘ala – adalah Dzat yang Maha Mendengar danMaha mengabulkan.

Ditulis oleh ;

Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman

Kuwait


[1] Minhajus Sunnah 5 / 130

[2] Ar Radd ‘Alal Bakrie 1 / 614

[3] Surat Kabar Al Anba’ terbitan No. 1227

[4] Ad Dzail ‘ala Thabaqat Al Hanabilah 2 / 931

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: