Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Khilaf / Perselisihan adalah suatu Keburukan

Posted by Abahnya Kautsar pada 7 Juli 2008

Pasal

Khilaf / Perselisihan adalah suatu Keburukan

Ahlus Sunnah adalah kalangan yang mengambil kaidah-kaida dari Al Kitab dan As Sunnah, maka kaidah-kaidah yang mereka terapkan adalah kembali merujuk pada Al Kitab dan As Sunnah, sedangkan Ahlul Bid’ah berkebalikan dengan ini, mereka merumuskan suatu kaidah, lalu setelah itu barulah mereka meneliti Al Kitab dan As Sunnah !! Dari sinilah engkau akan mendapati mereka melakukan pemalingan dari nash-nash syari’at, men-ta’wilkannya dan menerapkannya tidka sebagaimana kehendak Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah seorang muslim yang haq terheran-heran dengan hal ini, dikarenakan inilah keadaan sesungguhnya seseorang yang merumuskan kaidah terlebih dahulu lalu setelah itu barulah ia mencari dalil. Ia mesti terjerumus dalam kekeliruan dan pemalingan, dikarenakan nash-nash syari’at bisa jadi tidak akan selaras denagn kaidah-kaidah ia.

Dan jikalau kita mengembalikannya kepada Al Kitab dan As Sunnah, dan pendapat para shahabat kita akan mendapati bahwa sebenarnya khilaf / perselisihan adalah suatu keburukan.

Allah ta’ala berfirman ;

{ وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفشيْن إِلاَّ مَنْ رَحٍمَ رَبُّكَ }

” Dan mereka akan selalu berselisih terkecuali yang telah mendapatkan rahmat dari Rabb-mu “ – Huud : 18 –

Dan berkata ‘Umar bin ‘Abdul ‘Azis –rahimahullah – : ” Allah ta’ala menciptakan kaum yang mendapatkan rahmat-Nya agar mereka tidakberselisih “[1]

Berkata Abu Muhammad Ibnu Hazm : ” Dan Allah ta’ala mengecualikan orang-orang yang dirahmati-Nya dari kelompok yang berselisih dan mengeluarkan kaum yang mendapatkan rahmat –Nya dari kalangan yang senantiasa berselisih. “[2]

Berkata Asy Syathibiy : ” Ayat ini menunjukkan bahwasanya kaum yang selalu berselisih yang disebutkan pada ayat berbeda dengan kaum yang dilimpahkan bagi mereka rahmat-Nya. Dikarenakan firman Allah ;

{ وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفشيْن إِلاَّ مَنْ رَحٍمَ رَبُّكَ }

” Dan mereka akan selalu berselisih terkecuali yang telah mendapatkan rahmat dari Rabb-mu ” – Huud : 18 –

Dimana ayat ini menunjukkan bahwa ada dua kalangan : Kalangan yang selalu berselisih dan kalangan yang diberkati dengan Rahmat Allah.

Dan dhohir dari pembagian ini, bahwa kalangan yang diberkati dengan rahmat Allah bukanlah kalangan yang selalu berselisih, jika tidak tentunya bagian dari sesuatu adalah sesuatu itu sendiri, dan tidak akan bermanfa’at makna pengecualian disini. “[3]

Berkata Ibnu Wahb : Saya telah mendengar Imam Malik berkata dalam menafsirkan ayat ini : ” Dan mereka yang telah dirahmati oleh Allah tidaklah akan berselisih “[4]

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah : Allah ta’ala berfirman ;

{ وَلاَ يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفشيْن إِلاَّ مَنْ رَحٍمَ رَبُّكَ }

” Dan mereka akan selalu berselisih terkecuali yang telah mendapatkan rahmat dari Rabb-mu “ – Huud : 18 –

. Allah mengabarkan bahwa Ahlu Rahmah tidak akan berselisih dan Ahlu Rahmah adalah para pegikut para Nabi baik perkataan ataupun perbuatannyadan mereka adalah Ahli Qur’an dan Hadits dari ummat ini, dan barnag siapa yang menyekisihi mereka, maka ia akan mendapatkan keberkatan rahmat sebatas penyelisihannya. “[5]

Dan beliau berkata juga : ” Dan Allah ta’ala menciptakan suatu kaum untuk senantiasa berselisih dan kaum lainnya untuk mendapatkan rahmat Allah .”[6]

Berkata Ibnu Abil ‘izzi Al Hanafi : ” Dan Allah ta’ala menjadikan kalangan yang diberikan Rahmat oleh-Nya dikecualikan dari perselisihan “[7]

Dan firman Allah ta’ala ;

{ وَلاَ تَكُوْنُوْا كَالذِيْنَ تَفَرَّقُوْا وَ اخْتَلَفُوْا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمْ البَيِّنَاتُ وَ أُولَئِكَ لَهُمْ عَذاَبٌ عَظِيْمٌ }

” Dan janganlah kalian sebagaimana kaum yang bercerai berai dan berselisihi setelah datang kepada mereka penjelasan. Dan mereka itulah bagi mereka adzam yang teramat berat.” Ali ‘Imran : 105 –

Berkata Al Muzani : ” Dan Allah ta’ala mencela perselisihan dan memerintahkan dari perselisihan itu untuk kembali kepada Al Kitab dan As Sunnah, dan sekiranya perselisihan itu bagian dari agama-Nya tentulah tidak akan dicela, dan sekiranya perbedaan pendapat itu adalah bagian dari hukum-Nya tentulah tidak akan diperintahkan mereka untuk merujuk kepada kepada Al Kitab dan As Sunnah. “[8]

Dan dari Abu Tsa’labah Al Khusyani –radhiallahu ‘anhu- beliau berkata : Adalah kaum muslimin jika mereka telah mendatangi sutu tempat merekapun berpisah menuju ke sekian lembah dan sisi tempat itu. Maka bersabdalah Rasaulullah shollallahu ‘alaihi wasallam : ” Sesungguhnya terpisah-pisahnya kalian di masing-masing lembah dan sisi tempat ini, sungguhnyala berasal dari syaithan.” Maka merekapun –para shahabat –tidaklah mereka jika mendatangi suatu tempat setelah itu terkecuali berkumpul satu sama lainnya.”[9]

Perhatikanlah bagaimana Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menyandarkan bercerai berainya para shahabat pada suatu tempat – ditinjau dari sisi dhohirnya bersamaan dengan menyatunya hati-hati mereka, sebagaimana firman Allah ta’ala ;

{ وَ أَلَّّفَ قُلُوْبَهُمْ }

” Dan Allah ta’ala menyatukan hati-hati mereka “ – Al Anfal : 36 –

kepada syaithan, dan cukuplah bahwa suatu perbuatan itu disandarkan kepada syaithan, dikarenakan sesungguhnya Allah ta’ala tidak akan memerintahkan perkara yang buruk, yang keji dan mungkar.

Dan bagaimanakah jika perselisihan itu lebih dari sekedar bercerai berainya pada suatu tempat ?!! seperti perselisihan dalam masalah aqidah, masalah-masalah ilmiyah dan amaliyah.

Dan berkata ‘Abdullah bin Mas’ud – radhiallahu ‘anhu -: ” Perselishan adalah hal yang buruk “[10]

Berkata ‘Ali bin Abi Tholib – radhiallahu ‘anhu – : ” Putuskanlah seperti layaknya kalian biasanya memutuskannya, karena sesungguhnya saya tidak menyenangi perselisihan, hinnga semua manusia berada satu jama’ah, ataukah saya meninggal seperti meninggalnya para shahabatku.”[11]

Dan perkataan ‘Ali bin Abi Tholib –radhiallahu ‘anhu- ini tentang masalah jual beli Ummu Walad dimana beliau dulunya berpendapat dan juga ‘Umar bahwa Ummu walad tidaklah diperjual belikan, dan beliau akhirnya meninggalkan pendapat tersebut dan berpendapat bahwa ummu walad dapat diperjual belikan, sebagaimana dalam riwayat Hammad bin Zaid dari Ayyub.[12]

Dan perkataan ‘Ali –radhiallahu ‘anhu- : ” Saya tidak menyenangi perselisihan ” –dalam hukum jual beli ummu walad- yang mana dalil-dalil yang ada sama kuatnya baik yang mengharamkan atukah yang membolehkan, maka bagaimanakah dengan masalah-masalah yang tidak didapati dalil dari Al Kitab dan As Sunnah, yang sesungguhnya hanyalah dari kesesatan hawa nafsu, yang kelompok-kelompok hizbiyyun menjadikannya sebagai suatu landasan, yang mana mereka menapak diatasnya dan juga para pengikut mereka ?!

Berkata Abu Ja’far Ath Thahawi : ” Dan kami berpendapat bahwa Al jama’ah adalah suatu yang Haq dan perpecahan adalah suatu penyimpangan dan adzab.”[13]

Berkata Syaikhul Islam ibnu Taimiyah : ” Dan sesungguhnya Jama’ah adalah suatu rahmat dan perpecahan adalah suatu adzab.”[14]


[1] Ahkamul Qur’an – Abu Bakar Ibnul ‘Arabiy 3 / 1072

[2] Al Ihkam 5 / 66

[3] Al I’tisham 2 / 169

[4] Al Ihkam 5 / 66

[5] Majmu’ Fatawa 4 /65

[6] Majmu’ Fatawa 4 / 236

[7] Syarh Ath Thahawiyah 2 / 775

[8] Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi 2 / 910

[9] Dikeluarkan oleh abu Daud No. 2628 dan dishohihkan oleh Ibnu Hibban , Al Hakim dan Adz Dzahabi.

[10] Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Sunan beliau, Kitab Al Manasik, Bab. Sholat di Mina No. 1960 dengan sanad yang shohih, dan asal dari atsar ini dikeluarkan dalam Ash Shohihain.

[11] Dikeluarkan oleh Al Bukhari, Kitab. Fadhail Shahabat. Bab. Manaqib ‘Ali bin Abi Tholib No. 3707.

[12] Fathul Baari 7 / 73

[13] Matan Ath Thahawiyah beserta syarahnya 2 / 775

[14] Majmu’ Fatawa 3 / 421

( Judul Asli : Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun. Penulis : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman. Muroja’ah : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan. Rekomendasi : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad. Penerbit : Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah. Cetakan Pertama 1419 H / 1999 M. Penerjemah : Abu Zakariya Al Atsary. )

Iklan

Satu Tanggapan to “Khilaf / Perselisihan adalah suatu Keburukan”

  1. jazakallah khair wa barakallahu fik

    وفيك بارك الله

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: