Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab Al-Adab : Adab-Adab Berbicara (3)

Posted by Abahnya Kautsar pada 7 Juli 2008

1. Beberapa lafazh dan kalimat yang harus dihindari

Dari lisan-lisan sebagian pembicara, terlepas beberapa ungkapan dan lafazh-lafazh yang dilarang oleh syara’. Sebagian besar diantara mereka tidaklah mengetahui hukumnya. Dan sebagian mengetahui hukumnya akan tetapi mengucapkannya karena lupa. Dan yang paling buruk adalah yang mengucapkannya dengan sengaja sementara dia mengetahuinya.

Pada kesempatan ini tidaklah memungkinkan bagi kita untuk mencakup semua lafazh-lafazh tersebut, akan tetapi cukuplah bagi kita untuk menyebutkan sebagiannya secara ringkas, karena sesuatu yang tidak dapat dijangkau seluruhnya tidaklah lantas ditinggalkan sebagian besarnya.

Masalah: Sebagian kaum muslimin mengatakan bahwa membenarkan lafazh- bukan suatu yang urgen jikalau hati yang mengucapkannya selamat.

Jawab : Apabila yang dimaksud adalh membenarkan lafazh-lafazh tersebut disesuaikan dengan bahasa Arab, maka perkataan ini benar adanya. Karena bukanlah suatu yang urgen – dari tinjauan aqidah yang selamat – jikalau lafazh-lafazh tersebut tidak selaras dengan bahasa Arab, selama daknanya dapat dipahami dan selamat.

Namun jikalau yang dimaksudkan disini dengan memperbaiki lafazh-lafazh pembicaraan, adalah meninggalkan lafazh-lafazh yang menunjukkan kekufuran dan kesyirkan, maka perkataan tersebut tidaklah benar, bahkan membenarkan lafazh-lafazh tersebut suatu yang urgen. Dan tidak mungkin diaktakan kepada seseorang : silahkan lisan anda bebas mengucapkan apapun juga selama niat anda benar, melainkan kita katakan: dengan perkataan-perkataan tertentu yang telah disampaikan oleh syariat Islam. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Utsaimin[1].

a. Lafazh-ladazh pengkafiran, tabdi’ – tuduhan sebagai pelaku bid’ah – dan tafsiq – tuduhan sebagai seorang fasik –

Telah diketahui sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Siapa saja yang mengatakan kepada saudaranya wahai kafir, maka sungguh kalimat itu tertuju kepada salahsatu dari keduanya “ Dan pada riwayat Abu Daud : “ Siapa saja seorang muslim yang mengkafirkan seorang muslim lainnya, maka apabila dia memang seorang yang kafir, apabila tidak maka yang menuding itulah yang kafir “[2]

Sekelompok manusia yang Allah butakan mata hati mereka dan melanggar kehormatan orang lain dengan ucapan takfir, tabdi’ dan tafsiq. Seolah-olah Allah mereka smebah dengan perkataan itu. Diantara mereka ada yang menggunakan ungkapan takfir, tabdi’ atau tafsiq secara mutlak dengan hati yang lapang, sementara para ulama as-salaf dari generasi sahabat dan para Imam Islam yang meniti jalanpetunjuk mereka – seperti Abu Hanifah, Malik,Asy-Syafi’I dan Ahmad – mereka demikian berhati-hati dengan ibarat itu. Terlebih dalam ungkapan takfir. Dimana mereka tidaklah mengucapkan sedikitpun dari lafazh itu kecuali setelah ada pada mereka dalil-dalil yang tidak ada keraguan lagi padanya. Dan juga telah tertiadakan pada diri seseorang yang dituju segala penghalang, dan argumen telah tersampaikan kepadanya.

Dari Abu Bakrah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam khuthbah beliau pada hari ‘Iedul Adha mengatakan: “ … Sesungguhnya darah kalian, harta benda kalian dan kehormatan kalian haram atas diri sesama kalian.Sebagaimana haramnya hari ini bagi kalian , pada bulan ini, dan dinegeri ini. Dan yang hadir seharusnya menyampaikan kepada yang tidak hadir, dan karena yang hadir bisa jadi menyampaikannya kepada yang lebih memahaminya “[3]

b. Perkataan seseorang: Bahwa celakalah kaum manusia.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata: bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Apabila seseorang mengatakan bahwa kaum manusia telah celaka, maka dialah yang paling celaka diantara mereka “[4]

Sabda beliau : “ Maka dialah yang paling celaka diantara mereka “, dengan hukum rafa’ – sebagai khabar mubtada`, penj – dan juga diriwayatkan dengan fathah – yakni fi’il madhi wazan af’ala,penj – yakni dialah yang menyebabkan mereka celaka, bukan mereka yang binasa secara hakikatnya “[5]

An-Nawawi mengatakan: “ Para ulama sepakat atas celaan ini, sesungguhnya dia bagi orang yang mengatakannya adalah untuk meremehkan orang lain, menyombongkan diri dihadapan mereka, mengutamakan dirinya atas mereka dan menjelekkan keadaan- keadaan mereka dikerenakan dia tidak mengetahui rahasia Allah pada ciptaan-Nya, mereka berkata : Adapun yang mengatakan demikian dalam keadaan sedih ketika dia melihat pada dirinya dan pada orang lain ada kekurangan dalam perkara agama maka hal tersebut tidak mengapa. Sebagaimana dia berkata : Saya tidak mengetahui ummat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali mereka semuanya mendirikan shalat. Demikianlah penafsiran Imam Malik dan diikuti oleh kaum muslimin.

Al-Khaththabi mengatakan : “ Maknanya bahwa seseorang akan selalu mencela kaum muslimin dan menyebutkan keburukan mereka dan mengatakan kaum manusia telah rusak dan semsial perkataan itu. Apabila dia melakukan hal itu maka dialah orang yang paling binasa dan paling buruk keadaannya diantara mereka. Karena dosa yang menyertainya karena mencela dan melecehkan mereka. Dan terkadang hal tersebut akan mengakibatkan sifat ‘ujub – kekaguman pada diri sendiri – dan memandang bahwa dirinyalah yang paling baik diantara mereka. Wallahu a’lam[6].

c. Bersumpah kepada selain Allah

Hanya Allah subhanahu wata’ala semata yang boleh bersumpah dengan nama makhluk-Nya yang dikehendaki-Nya. Karena Dialah Al-Khalik yang dapat berbuat sekehendaknya pada kerajaan-Nya. Sementara kaum manusia, jin, pepohonan, gunung, langit dan bumi adalah makhluk ciptaan-Nya, maka Allah dapat bersumpah dengan segala yang Dia kehendaki.

Adapun makhluk, tidaklah diperbolehkan bersumpah dengan selain penguasa mereka dan yang menciptakan mereka. Al-Hafidz mengatakan: “ para ulama berpendapat , hikmah dari larangan bersumpah kepada selain Allah karena bersumpah kepada sesuatu menunjukkan pengagungan kepada sesuatu tersebut. Sedangkan keagungan yang sebenarnya hanya teruntuk kepada Allah semata[7].

Sumpah yang dilakukan oleh makhluk dapat dengan salah satud ari tiga huruf sumpah , yaitu: al-wawu, al-baa`, at-taa`. Anda mengatakan: Tallahi, Billahu dan Wallahi.

Ataukah bersumpah dengan ‘izzah Allah, sifat-sifat-Nya, kalimant-kalimat-Nya.

Al-Bukhari mengatakan : Bab. Al-Halaf bi-‘izzatillahi wa shifatihi wa kalimaatihi – Bab. Bersumpah dengan ‘izzah/kemuliaan Allah, sifat-sifat-Nya dan kalimat-kalimat-Nya -, kemudian beliau mengatakan : … Abu Hurairah mengatakan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Seseorang akan berada diantara surga dan neraka, lalu dia berkata: Wahai Rabb-ku, palingkanlah wjaahku dari api neraka , Demi kemuliaan-Mu saya tidaklah memohon kepada selain Engkau.”[8]

Dan sumpah juga dapat dengan meniyandarkan salah satu makhluk ciptaan Allah kepada-Nya, seperti menyandarkan ka’bah, langi dan bumi kepada Allah subhanahu wata’ala. Sebagaiman perkataan anda:” Demi Rabb ka’bah, demi Rabb langit dan lain sebagainya, dengan mensucikan Allah jalla wa ‘ala dari penyandaran makhluk-makhluk Allah yang dianggap buruk penyebutannya. Walaupun Allah yang menciptakannya, akan tetapi adab berasama allah mengharuskan seperti itu.

Sebagaimana doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkenal : “ Dan segala keburukan tidaklah disandarkan kepada Engkau “[9]

Sedangkan Allah adalah oencipta segala kebaikan dan keburukan.

Dan ada beberapa lafazh yang telah didengarkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yang temasuk kedalam tiga lafazh sumpah sebelumnya. Seperti sabda beliau :Ayyamillah, sabda beliau : Demi Zat yang jiwaku berada ditangan-Nya. Dan sabda beliau : Tidaklah Demi Zat yang membolak-balikkan hati “[10]

Dan barang siapa yang bersumpah kepada selain Allah, maka dia telah kafir atau telah berbuat syirik, sebagaimana yang diterangkan didalam hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma. At-Tirmidzi meriwayatkan : “ Bahwa Ibnu Umar telah mendengar seseoran mengatakan : Tidaklah demi Ka’bah. Maka Ibnu Umar mengatakan : Janganlah bersumpah kepada selain Allah karena saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barang siapa yang bersumpah kepada selain Allah maka dia telah kafir atau berbuat syirik “[11]

Hadist tersebut sebagaimana yang anda lihat berlaku umum pada larangan bersumpah kepada segala sesuatu selain Allah. Dan beberapa hadits lainnya dalam lafazh yang lebih spesifik. Seperti larangan bersumpahdengannenek moyang. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Bahwa beliau menjaumpai Umar bin Al-Khathtba diatas kendaraan sementara Umar bersumpah dengan nama bapaknya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyeru kepadanya : “ Ketahuilah sesungguhnya Allah telah melarang kalian bersumpah atas naman nenek moyang kalian, barang siapa yang bersumpah hendaknya dia bersumpah atas nama Allah dan jika tidak maka diamlah “[12]

Dan diantaranya bersumpah dengan amanah. Dari Buraidah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Barang siapa yang bersumpah dengan amanah maka dia bukan bagian dari kami “[13]

Dan juga termasuk dari hal itu , adalah larangan bersumpah dengan Nabi, bersumpah dengan kehidupan,denganmengatakan : Demi kehidupanku ataukah demi kehidupan si fulan dan lains ebagainya yang berupa sumpah kepada selain Allah.

d. Bersumpah dengan kalimat talak.

Telah tersebar disebagian kaum manusia yang jahil sumpah dengan talak. Dengan mengatakan : Bagiku talak, untuk melakukan hal ini , ataukah mengatakan: Bagiku – berlaku – talak tiga , saya tidak akan melakukannya dan lain sebagainya.

Orang yang jahil ini bisa menyebabkan kehancuran rumah tnagganya, kezhaliman kepada keluarganya yang sama sekali tidak berdosa. Namun dosa adalah dosa yang diperbuatsi pandir ini yang mempergunakan lisannya tanpa memperhatikan dan melihat akibat dari semua perkara tersebut. Bisa jadi perkara yang dia hendak sumpahkan tersebut adalah sesuatu yang tidak bernila, semisal seseorang bersumpah bagi seseorang lainnya agr dia masuk kedalam rumahnya.

Bersumpah dengan talak ini, perkara yang diperselisihkan oleh para ulama, ketika yang terjadi adalah melanggar sumpahnya. Mayoritas ulama berpendapat bahwa seseorang yang melanggar sumpahnya wajib jatuh talak. Dan sebagian ulama berpendapat disamakan dengan sumpah al-yamiin, dan harus baginya untuk membayar kaffarah sumpah tersebut ketika dia melanggarnya.

Ibnu ‘Utsaimin mengatakan dalam salah satu jawaban beliau : “ Adapun mereka yang bersumpah dengan talak untuk melakukan hal demikian, atau mengharuskan talak jika tidak melakukan hal demikian, ataukah jika engkau melakukan hal demikian maka istriku tertalak, ataukah jika engkau tidak melakukan hal meikian akan istrikau tertalak dan yang serupa dengan sighat-sighat itu, maka perbuatan ini adalah perbuatan yang menyalahi tuntunan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sebagian besar ulama bahkan ini pendapat mayoritas ulama : Bahwa apabila dia melanggar sumpahnya maka wajib jatuh talak darinya kepada istrinya. Walau pendapat yang terpilih , apabila kalimat talak dipergunakan dalam pemakaian sumpah al-yamiin, yaitu ketika diniatkan hanya untuk mendorong dilakukannya sesuatu, menolak sesuatu, untuk membenarkan atau mendustakan atau mempertegas pernyataan, maka hukumnya adalah huku sumpah al-yamin. Berdasarkan firman Allah ta’ala :

“ Wahai Nabi mengapakah engkau mengharamkan apa yang Allah telah halalkan bagimu, hanya untuk mendapatkan keridhaan istri-istrimu. Dan Allah adalah Zat yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian semua untuk berlepas dari sumpah kalian “ (QS. At-Tahrim : 1 – 2 )

Allah menjadikan pengharaman – istri – sebagai suatu sumpah yamiin. Dan juga berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Sesunguhnya semua maal berdasarkan niatnya, dan masing-masing orang disesuaikan dengan niatnya “

Dan orang ini tidaklah meniatkan talak, melainkan hanya meniatkan sumpah biasa ataukah hanya meniatka suatu yang semakna dengan sumpah yamiin. Apabila dia melanggar sumpahnya maka cukup baginya untuk membayarkan kaffarah sumpahnya. Inilah pendapat yang terpilih[14]

e. Perkataan seseorang kepada seorang munafik : tuan atau wahai tuanku

Diteangkan didalam hadits Buraidah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Janganlah kalian mengatakan kepada seorang munafik tuan. Karena apabila dia seorang tuan maka sesungguhnya kalian telah membuat Rabb kalian ‘azza wajalla murka kepada kalian “[15]

Sabda beliau : “ Apabila dia seorang tuan “ yakni yang dipertuan suatu kaum atau yang mempunyai hamba sahaya laki-laki dan wanita dan harta yang melimpah ,” Maka sesungguhnya kalian telah membuat murka Rabb kalian ‘azza wajalla “, maknanya kalian telah menjadikannya murka karena telah mengagungkan orang tersebut, sedangkan dia tidak selayaknya berhak dengan pengagungan. Bagaimana pula jikalau dia bukan seorang tuan dari salah satu dari makna tersebut, dan dia bersamaandenganitu hal tersebut adalah suatu kedustaan dan kemunafikan … Ibnu al-Atsir mengatakan : “ Janganlah kalian mengatakan kepada seorang munafik tuan, karena jikalau dia seorang tuan bagi kalian maka dia adalah seorang mnafik, dimana keberadaan kalian lebih rendah dari keadaannya. Dan Allah tidaklah meridhai hal itu bagi kalian. Demikian disebutkan didalam ‘Aun Al-Ma’bud[16]

Catatan penting : Sebagian besar kaum muslimin yang mempelajari percakapan bahasa Inggris tersebar meluas penggunaan kalimat : Mister, dalam percakapan mereka mengikuti kebiasaan orang-orang Inggris. Yang semakna dengan kalimat tuan atau tuanku. Dan larangan berlaku pada seorang munafik, maka lebih utama tentunya terlarang dalam menyapa seorang kafir dan memanggilnyadenganlafazh ini. Dan ibrah adalah mengikuti makna bukan dengan bentukan katanya. Wallahu a’lam.

Ibnul Qayyim mengatakan didalam Ahkam Ahlu Adz-Dzimmah : Pasal. Menyapa ahlul kitab dengan tuanku dan maula-ku. Dan adapun menyapa dengan kalimat tuan kami dan maula kami dan semisalnya adlah perbuatan yang pasti haram[17].

f. Mencela masa/zaman

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah ‘azza wajalla berfirman :

“ Adam Adam telah menyakitiku, dia menghina masa sedangkan Aku adalah masa. Ditanganku segala perkara, Aku membolak-balikkan malam dan siang “[18]

Pada riwayat Ahmad : “ Janganlah kalian mencela masa, karena sesungguhnya Allah ‘azza wajalla berfirman : Akulah masa, hari demi hari dan malam demi malam milik-Ku,Aku memperbaruinya dan mensilihgantikannya dan Aku mendatangkan kekuasaan setelah kekuasaan – yang pertama [19]

Termasuk kebiasaan dizaman Jahiliyah bahwa mereka apabila ditimpakan bencana atau musibah mereka mencela masa. Dan sebagian ummat ini – walau mereka minoritas – yang memangdianggap sebagai orang-orang jahil, anda akan menjumpainya menceritakan hal itu dari mereka ketika ditimpa musibah.

Dan pada hadits diatas berisikan larangan mencela masa. Hal itu disebabkan karena mencela masa tiada lain adalah mencela Sang Pencipta masa, Yang mengaturnya dan Yang membolak-balikkannya. Maka mereka dilarang untuk mencela masa agar mereka tidak terperosok dalam mencela Sang Pencipta masa[20].

Masalah : Apakah dikatakan ini “ zaman tandus/gersang “ atau zaman pengkhianatan atau wahai zaman yang mengecewakan yang saya telah melihatmu ditempat tersebut ?

Jawab : Ibnu ‘Utsaimin – hafidzahullah – mengatakan: Ungkapan-ungkapan ini yang disebutkan pada soal ditinjau dari dua sisi :

Pertama : Jika ungkapan-ungkapan tersebut berupa celaan yang hinaan pda zaman, maka ini suatu yang haram, tidak dipebolekan. Dikarenakan apapun yang terjadi pada suatu zaman, maka datangnya dari Allah ‘azza wajalla. Barang siapa yang mencelanya berarti mencela Allah. Dari sinilah Allah ta’ala berfirman didalam hadits qudsi : “ Anak Adam telah menyakiti-Ku dengan mencela masa, sedangkan Akulah masa, Ditangan-Ku segala perkara, Aku membolak-balikkan siang dan malam “

Tinjauan yang kedua : Mengatakannya sebagai pemberitahuan , dan ini suatu yang diperbolehkan. Diantaranya firman Allah ta’ala berkenaan dengan Luth ‘alaihis salam : “ Dan beliau berkata inilah hari yang amat sulit

Yakni hari yang keras . Dan semua orang mengatakan : Ini adalah hari yang sangat keras/sulit. Hari ini terdapat perkara ini dan ini, dan ini perkataan yang tidak mengapa.

Adapun perkataan : “ Ini zaman pengkhianatan “, adalah ungkapan celaan karena sifat khianat/menipu adalah sifat tercela dan tidak diperbolehkan.

Sedangkan perkataan : “ Wahai zaman yang mengecewakan yang mana saya melihatmu berada dizaman tersebut “ Apabila yang dimaksud yakni wahai kekecewaanku/kegagalanku, maka ini tidaklah mengapa. Dan bukan tergolong celaan kepada masa. Dan apabila yang dimaksud adalah zaman atau hari maka ini termasuk celaan dan tidak diperbolehkan “[21]

g. Perkataan : Haram bagimu atau haram bagimu melakukan hal demikian

Tidak diperbolehkan menyifati sesuatu dengan pegharaman kecuali sesuatu tersebut telah diharamkan oleh Allah atau Rasul-Nya. Hal itu adalah menyifati sesuatu yang bukan suatu yang haram dengan pengharaman – walaupun niatnya selamat -. Pada hal tersebut mengandung unsur melampaui batas pada sisi Rububiyah Allah. Dan mempersangkakan seolah-olah hal tersebut sesuatu yang haram, padahal tidak demikian. Dan yang lebih selamat bagi seseorang pada agamanya supaya menjauhi lafazh ini.[22]

Dan dikhawatirkan atas orang yang mengatakannya termasuk kedalam keumuman firman Allah Ta’ala :

“ Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ Ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Seseungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung “. (An-Nahl : 116 )

Berkata Asy-Syaukani : “ Dan maknanya adalah janganlah kalian mengharamkan dan mjanganlah kalian mengahalalkan, dikarenakan perkataan yang engkau ucapkan dengannnya lisan-lisan kalian tanpa adanya hujjah”.[23]


[1] Fatawa Al-‘Aqidah ( Daar Al-Jiil, Maktabah As-Sunnah ) cet. 2 1414 H ( hal. 730 )

[2] HR. Al-BUkhari ( 6104 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 60 ), Ahmad ( 4673 ), At-Tirmidzi ( 2637 ), Abu Daud ( 4687 ) dan Malik ( 1844 )

[3] HR. Al-Bukhari ( 67 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 1679 ), ahmad ( 19873 ), Ad-Darimi ( 1916 )

[4] HR. Muslim ( 2623), Ahmad ( 9678 ), Abu Daud ( 4983 ), Malik ( 1845 ), Al-Bukhari didalam Al-Adab Al-Mufrad ( 759 )

[5] Lihat Syarh Shahih Muslim jilid 8 ( 16 / 150 )

[6] Syarh Muslim jilid 8 ( 16 / 150 )

[7] Fathul Baari ( 11 / 540 )

[8] Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-Aiman wa An-Nudzur

[9] HR. Muslim ( 771 ), Ahmad ( 805 ), At-Tirmidzi ( 3422 ), An-Nasaa`I ( 897 ), Abu Daud ( 760 ) dan Ad-Darimi ( 1314 )

[10] HR. Al-Bukhari ( 6627 ), ( 6628 ) dan ( 6629 )

[11] HR. At-Tirmidzi ( 1535 ), dan beliau mengatakan : Hadist hasan, Ahmad ( 6036 ), Abu Daud ( 3251 ) dan Al-Albani menshahihkannya.

[12] HR. Al-Bukhari ( 6646 ), Muslim ( 1646 ), Ahmad ( 4534 ), At-Tirmidzi ( 1533 ), an-Nasaa`I ( 3766 ), Abu Daud ( 3249 ), Ibnu Majah ( 2094 ), Malik ( 1027 ) dan Ad-Darimi ( 2341 )

[13] HR. Abu Daud ( 3253 ), dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, al-albani menshahihkannya, Ahmad ( 22471 )

[14] Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al –‘Utsaimin ( 2 / 796 )

[15] HR. Abu Daud ( 4977 ),dan lafazh diatas adlah lafazh beliau. Al-Albani menshahihkannya, Ahmad ( 22430 )dan Al-Bukhari didalam Al-Adab Al-Mufrad ( 760 )

[16] Syarh Sunan Abu Daud jilid 7 ( 13 / 221 )

[17] ( 3 / 1322 )

[18] HR. Al-Bukhari ( 4826 ), Muslim ( 2246 ), Ahmad ( 7204 ), Abu Daud ( 5274 ) dan Malik ( 1846 )

[19] HR. Ahmad ( 10061 ). Ibnu Hajar mengatakan : Sanadnya shahih. Lihat Fathul Bari ( 10 / 581 )

[20] Lihat Fathul Bari ( 8 / 438 ) dan Syarh Shahih Muslim jilid 8 ( 15 / 4 )

[21] Fatawa Al-‘Aqidah ( hal. 614 – 615 )

[22] Silahkan lihat Fatawa Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin. Asyraf Abdul Makshud. Daar ‘Alimul Kutub, cet. Kedua 1412 H ( 1 / 200-201 )

[23] Fathul Qaadir ( 3 / 227 )

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: