Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,233,517 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Kitab Al-Adab : Adab-Adab Bermajlis

Posted by Abahnya Kautsar pada 7 Juli 2008

Adab-Adab Bermajlis

Allah Ta’ala berfirman :

ﯿ

“ Wahai orang-orang yang beriman apabila diaktakan kepada kalian untuk melapangkan majlis, maka lapangkanlah semoga Allah akan melapangkan bagi kalian. Dan apabila dikatakan kepada kalian untuk berdiri, maka berdirilah. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kalian perbuat “ (Al-Mujadalah : 11 )

Di antara adab-adab bermajlis :

1. Keutamaan dzikrullah didalam majlis dan larangan majlis yang tidak disebutkan nama Allah pada majlis tersebut.

Telah ada larangan keras dari majlis yang sama sekali tidak disebut nama Allah, seperti yang disebutkan didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Tidaklah dari suatu kaum mereka bangkit dari suatu majlis yang tidak disebutkan nama Allah padanya kecuali mereka bangkit semisal bangkai keledai, dan bagi mereka hanyalah penyesalan”.[1]

Dan pada lafazh hadits ini terdapat penyangkalan pada majlis semacam itu. Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Kecuali mereka bangkit semisal bangkai keledai “, maksudnya semisal dengan bangkai keledai yang berbau busuk dan menjijikkan. Itu semua karena perbincangan mereka membicarakan kehormatan orang dan lain sebagainya[2].

Yang dimaksud dengan kerugian adalah penyesalan, karena pengabaian mereka.

Sebaliknya dengan hal itu, apabila majlis-majlis ini dimakmurkan dengan menyebut nama Allah dan memuji-Nya. Ucapan shalawat kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka majlis-majlis ini akan dicintai Allah ta’ala. Dan orang yang berada dimajlis tersebut akan diberi limpahan kebaikan .

Hadist Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu memberitahukan kepada anda akan hal itu. Beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Sesungguhnya Allah memiliki para malaikat yang mengelilingi jalan-jalan, mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan suatu kaum yang berdzikir kepada Allah, mereka akan saling menyeru satu dengan lainnya: Kemarilah mengambil bagian kebutuhan kalian.

Beliau bersabda: Lalu mereka mengembangkan sayap-sayap mereka kelangit dunia.

Beliau bersabda: Lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka, sedangkan Allah lebih mengetahui dari pada mereka, Apakah yang dikatakan para hamba-Ku ?

Mereka mengatakan : “ Hamba-hambaMu bertasbih kepada-Mu, bertakbir kepada-Mu, memuji-Mu dan memuliakan-Mu.

Beliau bersabda: “ Lalu Allah Ta’ala berifrman : Apakah mereka melihat-Ku ?”

Para malaikat menjawab: Tidak, demi Allah mereka tidak melihat-Mu.

Beliau bersabda: Allah berfirman : lalu bagaimanakah jika mereka telah melihat-Ku ?

Beliau bersabda : Para malaikat mengatakan : Seandainya mereka melihat-Mu, maka mereka akan semakin giat beribadah, akan semakin memuliakan-Mu, memuji-Mu dan memperbanyak tasbih kepada-Mu.

Beliau bersabda: Dan apakah yang mereka minta ?

Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan: Mereka meminta surga.

Beliau bersabda: Allah Ta’ala berfirman: Apakah mereka telah melihat surga ?

Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan: Tidak demi Allah wahai Rabb-Ku tidaklah mereka melihatnya.

Beliau bersabda: Allah berfirman: Lalu bagaimana jika mereka telah melihat surga ?

Beliau bersabda: Para Malaikat mengatakan : Seandainya mereka telah melihat surga, niscaya mereka akan semakin bersemangat, semakin mengharapkannya dan keinginan mereka semakin besar.

Beliau berkata: Allah berfirman: Apakah yang mereka meminta perlindungan darinya ?

Beliau bersabda : Para Malaikat mengatakan : Mereka meminta perlindungan dari api neraka.

Beliau bersabda: Allah berfirman: Apakah mereka telah melihat api neraka?

Beliau bersabda: Para malaikat mengatakan : Tidak demi Allah wahai Rabb-Ku mereka belumlah melihat neraka.

Beliau bersabda: Allah berfirman: Bagaimanakah jika mereka telah melihat api neraka?

Beliau bersabda: Para Malaikat mengatakan: Seandainya mereka telah melihat api neraka, niscaya mereka akan semakin menghindarinya, dan akan semakin bertmabah rasa tkau mereka akan api neraka.

Beliau bersabda: Allah berfirman: Saya mempersaksikan kalian bahwa sesungguhnya Aku telah mengampuni meeka.

Beliau bersabda: Satu dari Malaikat itu berkata : Diantara mereka seseorang yang bukan bagian dari mereka, sesungguhnya dia datang untuk suatu keperluan.

Allah berfirman: Mereka adalah teman-teman yang sesama satu majlis, tidak orang yang duduk disamping mereka akan merasa bersedih “[3]

2. Memilih rekan semajlis

Diantara perkara yang sangat penting pada kehidupan seseorang, adalah memilih teman satu majlis. Dikarenakan manusia akan terpengaruh dengan teman satu majlisnya, dan ini suatu yang mesti, betapapun orang tersebut mempunyai kekuatan hati dan kepribadian. Olehnya itu Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengarahkan agar memilih dengan teliti sahabat baik, seperti didalam sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Seseorang akan menuruti agama teman dekatnya, maka hendaknya salah seorang diantara kalian memperhatikan teman dekatnya “[4]

Makna hadits diatas : bahwa seseorang senantiasa mengikuti adat kebiasaan temannya, tingkah laku dan pergaulannya. Maka hendaknya dia memperhatikan dengan seksama dan meneliti siapa yang dia akan jadikan teman baik. Barang siapa yang agamanya dan akhlaknya baik maka dia hendaknya menjadikannya sebagai teman baik, dan barang siapa yang tidak seperti itu, maka diapun menjauhinya. Karena sesungguhnya tabiat manusia adalah pencuri[5].

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah emberikan perumpamaan kepada kita dan mendudukkan pengaruh seorang teman duduk kepada temannya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“ Semisal seorang teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk, laksana pembawa misik dan pandai besi. Seorang penjaja misik, dia akan memberimu atau anda akan membeli darinya, ataukah anda akan mendapatkan bau wangi darinya. Sementara seorang pandai besi, dia akan menjadikan pakaian anda terbakar ataukahk akan anda akan merasakan hawa panas “[6]

Hadist diatas ini menerangkan peringatan akan teman duduk yang buruk dan anjuran untukduduk bersama orang-orang yang shalih dan bertakwa. Dan teman duduk yang buruk ada dua, apakah dia itu seorang pelaku bid’ah/mubtadi’ ataukah seorang yang fasik.

Adapun jika dia seorang mubtadi’, sekian banyak perkataan para ulama As-Salaf yang memperingatkan hal itu akan mereka.Tidak duduk dengan meeka, dikarenakan mereka akan mendatangkan mudharat terhadap agama dan dunia. Majlis para pelaku bid’ah tidak akan lepas dari dua hal, apakah itu dia akan terbenam dalam bid’ah mereka, ataukah dia akan mendapatkan kebimbangan dan keragu-raguan karena syubuhat menyesatkan yang dilontarkan para pelaku bid’ah. Dan kedua hal tersebut suatu yang buruk.

Diantara perkataan para ulama As-Salaf yang mencela pelaku bid’ah dan peringatan untuk tidak duduk dengan mereka, perkataan Al-Hasan Al-Bashri: “ Janganlah kalian duduk dengan pengumbar hawa nafsu dan janganlah kalian berdebat dengan mereka dan janganlah kalian mendengarkan mereka “

Abu Qilabah mengatakan: “ Janganlah kalian duduk dengan mereka, dan janganlah kalian bergaul dengan mereka, karena sesungguhnya saya tidak menjamin kalian akan aman bahwa mereka akan membenamkan kalian di kesesatan mereka dan akan menyamarkan sebagian besar perkara yang telah kalian ketahui “

Ibnu Al-Mubarak mengatakan: “ Jadikanlah majlis kalian bersamadenganorang-orang yang misikin dan janganlah engkau semajlis dengan pelaku bid’ah.

Al-Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan: “ Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya mencari halakah-halakah dzikir, maka perhatikanlah anda duduk semajlis dengan siapa. Dan janganlah majlis anda bersama dnegna pelaku bid’ah , karena sesungguhnya Allah tidak akan melihat kepada mereka. Dan alamat nifak adalah seeroang berdiri dan duduk bersama dengan pelaku bid’ah[7].

Dan apabila teman duduk adalah seorang yang fasik, maka anda tidak akan selamat dari mendengarkan perkataan yang kotor, ucapan yang batil, ghibah dan terkadang juga disertai dengan pengabaian shalat dan perbuatan maksiat lainnya yang akan mematikan hati sanubari. Dan dari sinilah kita dapat jumpai bahwa sebagian besar orang-orang yang terjerumus setelah sebelumnya istiqamah, sebabnya karena duduk bersama orang yang fasik.

3. Ucapan salam bagi yang berada dimajlis, ketika datang dan pergi

Telah disebutkan kepada kita, aab-adab mengucapkan salam, dan penjelasan bahwa termasuk amalan yang sunnah adalah mengucapkan salam kepada orang-orang yang berada disuatu majlis ketidak mendatangi mereka dan ketika hendak pergi meninggalkannya.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Apabila seseorang diantara kalian mendatangi suatu majlis hendaknya dia mengucapkan salam, dan apabila dia bekeinginan untuk duduk maka duduklah, kemudian apabila dia hendak berdiri pergi, amak sesungguhnya yang pertama tidaklah lebih utaman dari pada yang terakhir “. At-Tirmidzi mengatakan : hadits ini hasan.[8]

4. Makruh memberdirikan seseorang dari majlis duduknya kemudia dia duduk ditempat tersebut

Siapa saja yang duduk ditempat yang diperbolehkan seperti masjid dan semisalnya, maka dia lebih berhak dengan majlis duduknya dari pada selainnya. Dimana apabila tiba-tiba dia meningalkan majlis duduknya karena suatu eprkara, kemudian dia kembali lagi kemajlis duduknya untuk selang waktu yang tidak begitu lama, maka dia lebih berhak dengan majlis duduknya, dan dia boleh memberdirikan orang yang duduk ditempat dia.

Dalil akan hal itu adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Au Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Apabila salah seorang diantara kalian berdiri – dan pada hadits Abu ‘Awanah : Barang siapa yang berdiri dari majlisnya kemudian dia kembali ke majlis duduknya, maka dia lebih berhak dengan majlis duduknya tersebut “[9]

Yang sebaiknya bagi seorang yang berada dimajlis untuk tidak mengabaikannya, karena dialah yang lebih berhak untk duduk dimajlis tersebut. Olehnya itu dijumpai larangan memberdirikan seseorang dari majlis duduknya yang diperbolehkan baginya. Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma meriwayatkan, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang seseorang diminta berdiri dari majlis dimana didudk disitu kemudian orang lain duduk dimajlis dia. Akan tetapi lapangkanlah dan luaskan. Dan Ibnu Umar membenci seseorang berdiri dari majlis duduknya lalu dia duduk ditemapt orang tersebut “[10]

Hikmah dari larangan ini adalah agar tidak melecehkan hak seorang muslim yang akan menyeabkan perasaan benci. Dan anjuran untuk bersikap rendah hati yang akan menumbuhkan rasa kasih sayang.Dan juga setiap orang kedudukannya sama berkaitan dengan perkara yang mubah. Siapa saja yang telah mendapatkan sesuatu sebagai haknya maka sesuatu menjadi hak miliknya. Dan barang siapa menjadikan sesuatu sebagai hak miliknya tapa alasan yang benar mka termasuk perbuatan merampok yang diharamkan. Demikian yang dikatakan Ibnu Abu Jamrah[11]

Masalah : Kita telah mengetahui makruhnya memberdirikan seseorang dari majlis duduknya kemudian duduk ditempat tersebut. Akan tetapi apakah hukum makruh ini akan sirna jika sipemilik majlis mengizinkannya ?

Jawab : Apabila si pemilik majlis telah menyerahkan majlis duduknya kepada orang lain, maka tidak ada larangan untuk duduk dimajlis tersebut. Disebabkan majlis itu adalah haknya dan dia telah menyeahkannya kepada orang lain.

Adapun pendapat Ibnu Umar yang mengaggapnya makruh dalam sebuah atsar dari beliau, telah diriwayatkan oleh Abu Al-Khushaib, dia berkata : “ Saya pernah duduk , kemudian Ibnu Umar datang, dan seseorang lantas berdiri dari majlis duduknya, namun beliau tidaklah duduk dimajlis ersebut akan tetpai duduk ditempat yang lain. Maka orang itu berkata : Tidaklah mengapa jika anda duduk ditempat tersebut.

Ibnu Uma rmengatakan : Saya tidak akan duduk ditempat engkau duduk sebelumnya dan tidak juga pada tempat duduk orang selain anda, setelah suatu yang saya saksikan sendiri dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , seseorang datan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu seseorang lainnya berdiri dari majlis duduknya, kemudian orang yang datang itu pergi dan duduk ditempatnya. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarangnya “[12]

Adapun yang disandarkan kepada Ibnu Umar radhiallahu ‘nhuma, Imam An-Nawawi mengatakan : Ini adalah sikap wara’ beliau. Dan duduk ditempat tersebut bukanlah suatu yang haram, apabila si pemilik majlis berdiri dan merelakanya. Akan tetapi beliau bersikap wara dari dua sisi :

Pertama : Mungkin seseorang merasa segan kepada beliau , maka orang itu berdiri dari majlisnya namun dengan hati yang tidak mengenakkan.

Olehnya itu Ibnu Umar berusaha menutup pintu kemugkinan ini, agar selamat dari hal ini.

Kedua : Mendahulukan seseorang karena kekerabatan, adalah suatu yang makruh atau menyalahi suatu yang utama, Olehnya itu Ibnu Umar menolak hal itu agar seseorang tidak melakukan suatu yang makruh ataukan menyalahi suatu yang utama karena dirinya, dengan mundur dari tempatnya dishaf yang eprtama dan mengedepankan beliau dan yang serupa dengan itu[13].

Masalah lainnya : Sebagian kaum muslimin bersengaja menghamparkan sajadah shalat atau yang serupa karena keinginan mereka untuk mendapatkan keutamaan shaf pertama, smeentara mereka melambatkan kedatangan kemasjid. Apakah perbuatan ini suatu yang dibenarkan syariat ?

Jawab : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah mengomentari masalah ini secara khusus, beliau mengatakan : “ Adapun yang dilakukan sebagian besar kaum muslimin dengan mendahulukan hamparan permadani dimasjid pada hari jum’at atau hari lainnya, sebelum mereka mendatangi masjid, maka perbuatan ini suatu yang terlarang sesuai dengan konsensus kaum muslimin, bahkan suatu yan haram.

Apakah shalatnya diatas permadani itu shahih ? Ada dua pendapat dikalangan ulama, karena meruapkan perbuatan merampas bagian dari masjid dengan menghamparkan permadani diatasnya, kemudian menghalangi orang-orang lainnya yang hendak mendirikan shalat dimasjid yang telah bersegera menuju masjid untuk mengerjakan shalat pada tempat itu.”

Lalu beliau lanjut mengatakan : “ … yang disyariatkan dimasjid, adalah orang-orang memenuhi shaf yang pertama, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“ Tidakkah kalian mengatur shaf sebagaimana para malaikat mengatur shaf disisi Rabb mereka ? ”

Para sahabat bertanya : Dan bagaimanakah para malaikat mengatur shaf disisi Rabb mereka ?

Beliau menjawab : “ Mereka menyempurnakan shaf yang pertama, kemudian yang berikutnya dan mereka rapat dalam shaf mereka “[14]

Dan didalam Ash-Shahihain dari beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

“ Seandainya kaum muslimin mengetahui besarnya pahalamenyambut adzan dan shaf yang pertama, lalu mereka tidak mendapatkannya kecuali setelah mengundi, niscaya mereka akan mengundinya. Dan seandainya mereka mengetahui besarnya pahala bersegera mendatangi shalat diwkatu siang niscaya mereka akan berlomba “[15]

Yang diperintahkan pada hadits tersebut adalah seseorang dengan sendirinya berlomba menuju masjid. Apabila dia mendahulukan permadaninya sementara dia snediri terlambat maka dia tleah menyelisihi syariat dari dua tinjauan :

Pertama : Karena dia terlambat sedangkan yang diperintahkan adalah untuk bersegera.

Dan tinjauan lainnya arena dia telah merampas salah satu bagian masjid, dan menghalangi orang-orang yang terlebih dahulu mendatangi masjid untuk mengerjakan shalat ditempat tersebut. Dan menghalangi mereka menyempurnakan shaf pertama kemudian shaf berikutnya. Kemudian juga dia akan melangkahi orang-orang yang telah terlebih dahulu hadir . Dalam sebuah hadits disebutkan : “ Seseorang yang melangkahi leher-leher orang maka dia telah mengambil jembatan menuju jahannam “[16] . Dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Duduklah, karena sesungguhnya engkau telah menyakitiku “[17]

Kemudian jikalau dia telah menghamparkan permadani/sajadah ini, bolehkan seseorang yang mendahuluinya hadir dimasjid untuk mengangkat permadani itu kemudian dia shalat ditempatnya ?

Ada dua pendapat mengenai hal itu.

Pertama : Tidak dibenarkan baginya untuk melakukan hal itu, dikarenakan merupakan tergolong perbuatan memindahkan milik orang tanpa izinnya.

Kedua : Dan ini pendapat yang tepat, bahwa boleh bagi orang lain untuk mengangkat permadaninya, kemudian mengerjakan shalat ditempatnya. Dikarenkan orang yang lebih dahulu tibanya lebih berhak untuk mengerjakan shalat di shaf terdepan itu. Dan juga hal itu suatu yang diperintahkan. Dan tidaklah mungkin perintah tersebut dilakukan dan memenuhi hak ini kecuali dengan mengangkat permadani itu . Dan suatu perintah yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu yang lain, maka sesuatu tersebut juga diperintahkan.

Dan pula, permadani yang dihamparkan itu, diletakkan dengan pemaksaan. Dan itu adalah kemunkaran. Sementara Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

“ Barang siapa diantara kalian uang melihat kemungkaran makan hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, apabila dia tidak sanggup maka hendaknya dia merubahnya dengan lisannya dan apabila dia tidak sanggup maka hendaknya dia merubahnya dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman “[18]

Namun perlu diperhatikan dalam melakukan hal itu agar jangan sampai mengkaibatkan kemungkaran yang lebih besar dari kemungkaran tersebut Wallahu ta’ala a’lam[19].

5. Melapangkan majlis.

Allah ta’ala berfirman :

ﯿ

“ Wahai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepada kalian untuk melapangkan majlis, maka lapangkanlah semoga Allah akan melapangkan bagi kalian. Dan apabila dikatakan kepada kalian untuk berdiri, maka berdirilah. Dan Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan orang-orang yang memiliki ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahamengetahui apa yang kalian perbuat “ (Al-Mujadalah : 11 )

Ini adalah adab dari Allah yang diberikan kepada setiap hamba-Nya. Apabila mereka berkumpul dalam suatu majlis secara berkelompok, dan sebagian diantara mereka atau sebagian yang datang membutuhkan kelapangan baginya dimajlis, maka termasuk adab agar mereka melapangkan majlis untuk yang datang tersebut. Untuk mencapai maksud dari ayat ini.

Dan hal itu jangan sampai mengakibatkan sedikitpun kemudharatan bagi yang melapangkan majlis. Dia mengupayakan tercapainya tujuan saudaranya namun tanpa kemudharatan setelahnya. Dan balasan akan disesuaikan dengan amalan. Karena barang siapa yang elapangkan bagi saudaranya maka Allah akan melapangkan baginya. Dan barang siapa yang melebarkan bagi saudaranya maka Allah akan melebarkan baginya.

“ Dan apabila dikatakan bangkitlah “ Yakni berdirilah dan mundurlah dfari majlis kalian, karena suatu keperluan mendadak, maka : “ Bangkitlah “ yakni segeralah berdiri untuk mencapai kemashlahatan itu.

Karena beridri semisal dalam perkara-perkara ini termasuk dalam cakupan ilmu dan iman. Sebagaimana diaktakan oleh Ibnu Sa’di[20].

6. Tidak diperbolehkan memisahkan dua orang kecuali dengan izin keduanya.

Berkaitandenganhal ini diterangkan dalam sebuah hadits, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Tidak halal bagi seseorang memisahkan dua orang kecuali dengan izin mereka berdua “[21]

Ini merupakan adab nabawiyah yang sangat agung. Yaitu melarang seseorang duduk diantara dua orang kecuali dengan izin mereka berdua. Dan sebab larangan itu : bahwa bisa jadi antara kedua orang tersebut terjalin kecintaan dan kasih sayag dan telah terikat hal-hal yang rahasia serta amanah, maka pemisahan mereka berdua dengan dduduk diantara keduanya akan membuat keduanya keberatan. Demikian disebutkan didalam ‘Aun Al-Ma’bud[22].

7. Duduk dibagian akhir majlis

Adab ini suatu yang tetap ditunjukkan dari perbuatan sahabat diiringi pembenaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka.

Dari Jbair bin Smaurah radhiallahu ‘anhu, beliau ebrkata : Apabila kami mendatangi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam salah seorang diantara kami duduk dibagian akhir majlis “

Dimana para sahabat apabila seseorang diantara mereka mendatangi suatu majlis tidaklah pernah memaksakan diri untuk duduk dibagian depan, atau berdesakan dan bersempit-sempitan dengan yang duduk lainnya. Bahkan mereka duduk ditempat berakhirnya majlis. Ini menunjukkan kesempurnaan adab mereka radhiallahu ‘anhum wa ardhaahum.

8. Larangan dua orang berbicara – dengan berbisik – tanpa melibatkan orang yang ketiga

Didalam Al-Lisan, disebutkan bahwa makan an-najwa : Adalah pembicaraan rahasia antara dua orang. Jika dikatakan : Najautu najwan maknanya sayaberbicara rahasia dengannya. Demikian juga dengan kalimat : Najautuhu . Dan kata bendanya adalah an-najwa.

At-tanajau yang terlarang adalah dua orang yang berbicara rahasia tanpa melibatkan orang yang ketiga. Sebab larangan itu, agar kesedihan tidak meresapi hati orang yang ketiga karena melihat dua rekannya yang berbicara dengan rahasia.

Sementara syaithan sangatlah bersemangat untuk memasukkan kesedihan , was-was dan kebimbangan didalam hati seorang muslim. Olehnya itu datang larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam akan perbuatan itu yang dengan begitu akan memotong setiap jalan syaithan. Dan agar supaya seorang muslim tidak berprasangka buruk kepada para saudaranya.

Dalil akan hal itu adalah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Tidaklah dua orang saling berbicara rahasia tanpa mengikutkan orang yang ketiga, karena yang dmeikian itu akan menyebabkannya bersedih “[23].Adapun pada riwayat yang lainnya : “Janganlah kalian berbisik-bisik berdua tanpa menyertakan orang yang ketiga “.[24]

Namun apabila kaum tersebut berjumlah empat orang atau lebih maka tidak mengapa hal itu dilakukan, karena alsannya telah tertiadakan.

Dan juga hadits Abdullah bin Mas’ud, beliau berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Apabila klian terdiri atas tiga orang maka janganlah dua orang berbicara rahasia tanpa menyertakan yang ketiga, hingga berada dikerumunan orang banyak karena yang seperi itu akan membuatnya bersedih “[25]

Adapun perbuatan Ibnu Umar radhiallahu’anhuma, menunjukkan realisasi hadits tersebut. Abdullah bin Dinar meriwayatkan, beliau berkata : Saya bersama Abdullah bin Umar berada dirumah Khalid bin’Uqbah yang berada dipasar. Lalu seseorang datang dan hendak membicarakan sesuatu yang rahasia dengannya. Dan tidak ada seorangpun yang bersama dengan Abdullah bin Umar selain diriku dan orang yang hendak mengajak Ibnu Umar untuk bebricara. Lalu Abdullah bin Umar memanggil orang lain lagi, hingga kami menjadi berempat. Beliau berkata kepadaku dan kepada ornag yang beliau panggil : Menyingkirlah sedikit. Karena sesunguhnya saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Tidaklah dua orang berbicara rahasia tanpa menyertakan yang ketiga “[26]

9. Larangan menyimak pembicaraan orang tanpa izin

Telah ada ancaman yang keras bagi seseorang yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara mereka tidak menyukainya. Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barang siapa yang menceritakan suatu mimpi yang tidaklah dilihatnya maka dia akan dibebankan untuk menyatukan dua biji gandum namun tidak melakukannya. Dan barang siapa yang mendengarkan pembicaraan suatu kaum sementara kaum tersebut tidak menyukainya ataukah mereka menjauh darinya maka akan dituang ketelinganya timah cair pada hari kiamat. Dan barang siapa yang menggambarkan gambar mka dia akan diazab dan akan dibebani kepadanya untuk meniupkan ruh pada gmabar tersebut sementar dia tidak dapat meniupkannya “[27]

Hanya saja larangan tersebut terbatas jika kaum terseut tidak menyukai hal itu. Dan tidak termasuk dalam larangan itu apabila mereka meridhainya. Dan juga tidak termasuk apabila perbincangan mereka secara keras hingga yang berada disekitarnya mendengarkan. Karena seandainya mereka hendak menyembunyikan pembicaraan mereka tidaklah mereka mengeraskannya “[28]

10. Sikap duduk yang terlarang

Telah shahih diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau melarang sikap duduk tertentu. Dan pada beberapa keadaan yang tertentu. Sikap dan keadaan ini, diantaranya ada yang dapat kita ketahui alasannya melalui nash dan ada juga yang dapat diketahui melalui ijtihad dan telaah ilmiyah.

Sikap duduk yang terlarang diantaranya :

Seseorang duduk dengan meletakkan tangan kirinya tepat dibelakang punggungnya lalu bersandar/bertelekan dengan daging pangkal persendian tangan yang tepat berada dipangkal ibu jari[29].

Hal itu diterangkan pada hadits Asy-Syariid bin Suwaid radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melewatiku disaat aku sedang duduk seperti ini. Saya meletakkan tangan kiriku dibelakang punggungku lalu saya bertelekan dengan siku tangan belakangku. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apakah engkau duduk sebagaimana duduknya kaum yang Allah murkai ? “[30]

Adapun keadaan yang dilarang, yaitu seseorang duduk diantara cahaya matahari dan bayangan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Abul Qasim Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Apabila salah seorang dari kalian berada dibawah matahari – Makhlad mengatakan : Berada dibawah terik cahaya matahari – dan bayangan yang menaunginya menjadi menyusut sehingga sebagian dirinya berada dibawah matahari dan sebagian lainnya dinaungi bayangan maka hendaknya dia berdiri “[31]

Dan pada riwayat Ahmad : “ hendaknya dia berpindah dari tempat duduknya “[32]

Dan dari jalan Buraidah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang duduk diantara bayangan dan cahaya matahari “[33]

Dan sebab dari larangan itu : bahwa majlis yang seperti itu adalah majlis syaithan, yang dengan sangat jelas disebutkan didalam riwayat Ahmad dan selainnya.

Ahmad telah meriwayatkan dari hadits seseorang dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , berkata: Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang duduk diantara cahaya matahari dan naungan bayangan. Dan beliau bersabda: Tempat duduk tersebut adalah tempat duduk syaithan “[34]

Masalah : Telah shahih diriwayatkan didalam Shahih Muslim dan lainnya dari hadits Jabir bin Abdullah : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Janganlah seseorang diantara kalian duduk terlentang dengan meletakkan salah satu kakinya berada diatas kaki lainnya “[35]

Dan juga telah shahih diriwayatkan didalam Ash-Shahihaini dan selainnya, dari hadits Abbad bin Tamim dari pamannya, bahwa beliau telah menyaksikan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbarig didalam masjid sambil mengangkat salah satu kaki beliau dan diletakkan pada kaki lainnya “[36]. Kedua hadits ini secara zhahir bertentangan, lalu bagaimana menyelaraskannya ?

Jawab : Sebagian ulama mengatakan: Bahwa larangan tersebut mansukh dengan perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Nmaun Ibnu Haja menyanggah pendapat tersebut, karena hukum nasakh tidak dapat ditetapkan hanya dengan persepsi belaka[37]. Saya berkata: Namun mesti mengetahui nash mana yang lebih dahulu dan mana yang belakangan.

An-Nawawi dan ulama lainnya menyatukan kedua hadits tersebut, beliau berkata: Dan ada kemungkinan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya untukmenerangkan pembolehan, bahwa jikalau kalian menghendaki duduk terlentang maka perbuatlah seperti ini. Dan larangan yang saya larang akan duduk terlentang tidaklah berlaku secara mutlak. Melainkan maksudnya, bagi siapa yang akan terbuka sedikit dari auratnya atau akan menyebabkan terbukan aurat. Wallahu a’lam[38].

Dan yang menguatkan pendapat ini, bahwa perbuatanNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertujuan menerangkan suatu pembolehan bukan sebagai pengkhususan bagi beliau, adalah riwayat yang shahih didalam Shahih Al-Bukhari – setelah beliau menyebutkan hadits abbad bin Tamim dari pamannya -, beliau berkata: Dari Ibnu Syihab dari Sa’id bin Al-Musayyib, beliau berkata: Umar dan Utsman keduanya melakukan hal itu[39].

Dan apabila sebagian sahabat melakukan hal itu, hal itu menunjukkan bahwa perbuatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan suatu pembolehan. Akan tetapi mestilah aman dari terseingkapnya aurat. Wallahu a’lam.

11. Larangan memperbanyak tawa

Bukanlah merupakan suatu kepribadian yang baik dan bukan juga suatu adab, apabila didalam sautu majlis lebih dominan tertawa. Sedikit tertawa akan menumbuhkan kegesitan didalam hati dan melegakan hati sementara banyak tertawa adalah penyakit yang akan mematikan hati. Dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Janganlah kalian memperbanyak tawa karena banyak tertawa akan mematikan hati “[40]

12. Makruh bersendawa dihadapan beberapa orang

Ditunjukkan pada sebuah hadits yang marfu’ hingga ke-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Seseorang bersendawa dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , lalu beliau bersabda : “ Seharusnyalah engkau menahan sendawamu dihadapan kami, karena sesungguhnya yang paling kenyang diantara mereka didunia maka akan merasakan lapar yang teramat lama pada hari kiamat “[41]

13. Disunnahkan menutup majlis dengan bacaan Kaffarah Majlis

Ketika seorang manusia adalah makhluk yang lemah dan syaithan senantiasa berupaya untuk menyesatkannya dan selalu berusaha untuk memalingkannya, dan mempengaruhinya melalui cara membujuknya melakukan perbuatan-perbuatan jelek. Maka diapun mengintai kaum muslimin disetiap majlis mereka dan tempat-tempat pertemuan mereka, mendorong mereka untuk mengatakan perkataan dusta dan batil.

Namun Allah Maha Pengasih kepada setiap hamba-Nya mensyariatkan kepada meeka melalui lisan Nabi mereka beberapa kalimat yang sebaiknya mereka ucapkan, yang akan menggugurkan segala noda yang menggantungi mereka pada majlis itu kemudian juga Rabb mereka telah berkenan menjadikan kalimat-kalimat ini sebagai penyerta majlis-majlis kebaikan, maka segala puji hanya bagi Allah pada awal dan akhir. Kalimat-kalimat ini disebutkan didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barang siapa yang duduk disuatu majlis yang banyak ucapan sia-sianya, kemudian dia sebelum berdiri mengucapkan: Subhanakallahumma wabihamdika, Laa Ilaha anta, astagfiruka tsumma atubu ilaika, kecuali Allah akan mengampuni segala yang ada pada majlis itu “[42]

Dan pada riwayat At-Tirmidzi : “ Subhanakallahumma wa bihamdika Asyahadu Anlaa ilaha illa anta astagfiruka wa atuubu laika “[43]

Dan dari hadits Aisyah beliau berkata : Bahwa apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam duduk pada suatu majlis atau shalat, beliau mengucapkan beberapa kalimat. Maka Aisyah bertanya kepada beliau tentang kalimat-kalimat tersebut, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Apabila dia berbicara dengan kebaikan, maka akan menjadi penyertanya pada hari kiamat, dan apabila dia berbicara dengan selain itu, maka akan menjadi kaffarah baginya. Subhanakallahumma wa bihamdika astagrifukan wa atuubu ilaika “[44]


[1] HR. Abu Daud ( 4855), berkata Al-Albani : shahih. Dan HR. Ahmad ( 6300 ), At-Tirmidzi ( 3380 ), dengan adanya perbedaan pada lafazhnya ; yang ada pada Ahmad dan At-Tirmidzi : “ Tidaklah suatu kaum duduk pada majlis yang tidak disebut nama Allah padanya dan tidak bershalawat kepada Nabi mereka, kecuali hanya sesekali, maka jika Allah berkehendak akan mengadzab mereka dan jika berkehendak maka ampunan bagi mereka”. Dan pada sabda beliau : “dan tidak bershalawat kepada Nabi mereka”. Adalah bentuk pengkhususan setelah pengumuman. Dan makna : “ sesekali “ adalah ikutan dan celaan atau kekurangan dan kerugian. Lihat Tuhfah Al-Ahwadzi syarh Jami` At-Tirmidzi karya Muhammad bin Abdurrahman Al-Mubarakfuri – Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah- cet. I 1410 H ( 9 / 227 )

[2] ‘Aun Al-Ma’bud jilid 7 ( 13 / 138 )

[3] HR. Al-Bukhari ( 6408 ), Muslim ( 2689 ), Ahmad ( 7376 ) dan At-Tirmidzi ( 3600 )

[4] HR. Abu Daud ( 4833 ) Al-Albani menghasankannya, Ahmad ( 7968 ) dan At-Tirmidzi ( 2378 )

[5] ‘Aun Al-Ma’bud jilid 7 ( 13 / 123 ) dengan sedikit perubahan

[6] HR. Al-Bukhari ( 5534 ), Muslim ( 2628 ) dan Ahmad ( 19127 )

[7] Kutipan perkataan diatas disadur dari Syarh Ushul wa I;tiqad Ahlus Sunnah wal-Jama’ah karya Al-Laalikai ( daar Ath-Thayyibah – cet.IV , 1416 H ) ( 1 / 150 – 156 )

[8] HR. Abu dAud ( 5608 ). Al-Albani mengatakan : hasan shahih. At-Tirmidzi ( 2706 ) dan lafazh diatas adalah lafazh rawayat beliau.

[9] HR. Muslim ( 2079 ), dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Ahmad ( 7514 ), Abu Daud ( 4853 ) , Ibnu Majah ( 3717 ) dan Ad-Darimi ( 2654 )

[10] HR. Al-Bukhari ( 6270 ), dan lafazh hadits diatas adalah lafazh riwayat beliau, Muslim ( 2177 ), Ahmad ( 4645 ), At-Tirmidzi ( 2750 ), Abu Daud ( 4828 ) dan Ad-Darimi ( 2653 ).

[11] Fathul Bari ( 11 / 65 )

[12] HR. Ahmad( 5542 )

[13] Syarh Shahih Muslim jilid 7 ( 14 / 133 )

[14] HR. Muslim ( 430 ), Ahmad ( 20519 ), Abu Daud ( 661 ), An-Nsaa`I ( 816 ), dan Ibnu Majah ( 992 )

[15] HR. Al-Bukhari ( 615 ), Muslim ( 437 ), Ahmad ( 7185 ), At-Tirmidzi ( 225 ), An-Nasaa`I ( 540 ) dan Malik ( 151 )

[16] HR. Ahmad ( 15182 ), at-Tirmidzi ( 513 ), Ibnu Majah ( 1126 ), Al-albani mengatakan : Dha’if.

[17] HR. Ahmad ( 17221 ), An-Nasaa`i ( 1399 ), Abu Daud ( 1118 ), Ibnu Majah ( 1125 ) an Al-Albani menshahihkan dua riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah ( 923 )

[18] HR. Muslim ( 49 ), Ahmad ( 10689 ),at-Tirmidzi ( 2172 ), An-Nasaa`I ( 5008 ), Abu Daud ( 1140 ) dan Ibnu Majah ( 1275 )

[19] Majmu’ Al-Fatawa ( 22 / 189 – 191 )

[20] Taisir Al-Karim Ar-Rahman fii Tafsiir Kalam Al-Mannan ( 7 / 316 )

[21] HR. Abu Daud ( 4845 ) . Al-Albani mengatakan : Hasan shahih. Dan Ahmad ( 6960 ) dan At-Tirmidzi ( 2752 )

[22] Jilid 7 ( 13 / 133 )

[23] HR. Al-Bukhari ( 6288 ), Muslim ( 2183 ), Ahmad ( 4550 ), Abu Daud ( 4851 ) dan lafazh hadits diatas adalah lafazh beliau. Dan Ibnu Majah ( 3776 ) dan Malik ( 1856 )

[24] HR. Ahmad ( 4650 )

[25] HR. Al-Bukhari ( 6290 ), Muslim ( 2184 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Ahmad ( 3550 ), At-Tirmidzi ( 6825 ), Abu Daud ( 4851 ), Ibnu Majah ( 3775 ) dan Ad-Darimi ( 2657 )

[26] HR. Malik didalam Muwaththa’ beliau ( 1856 ) dan Ahmad didalam Al-Musnad ( 5477 ) dengan ringkas

[27] HR. Al-BUkhari ( 7042 ) dan lafazh hadits diatas adalah lafazh beliau, Ahmad ( 1869 ), At-Tirmidzi ( 1751 ) dan Abu Daud ( 5024 )

[28] Lihat Fathul Bari ( 12 / 447 )

[29] Lihat ‘Aun Al-Ma’bud jilid 7 ( 13 / 135 )

[30] HR. Ahmad ( 18960 ) dan Abu Daud ( 4848 ) dan Al-Albani menshahihkannya

[31] HR. Abu Daud ( 4821 ) Al-Albani menshahihkannya dan Ahmad ( 8753 )

[32] HR. Ahmad (8752 )

[33] HR. Ibnu Majah ( 3790 ), Al-Albani mengatakan : Shahih ( 3014 )

[34] Lihat As-Silsilah Ash-Shahihah ( 838 ) agar anda mengetahui siapa saja yang meriwayatkan hadits ini sleain Ahmad

[35] HR. Muslim ( 2099 ), Ahmad ( 13766 ) dan At-Tirmidzi ( 2767 )

[36] HR. Al-Bukhari ( 5969 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau, Muslim ( 2100 ), Ahmad ( 15995 ) , At-Tirmidzi ( 2765 ), An-Nasaa`I ( 721 ), Abu Daud ( 4866 ), Malik ( 418 ) dan Ad-Darimi ( 2656 )

[37] Lihat Fathul Bari ( 1 / 671 )

[38] Muslim dengan Syarh An-Nawawi jilid 7 ( 14 / 65 )

[39] HR. Al-Bukhari ( 475 )

[40] HR. Ibnu Majah ( 4193 ) dan Al-Albani menshahihkannya ( 3400 ) Lihat Ash-Shahihah (2 / 18 ) no. 506 .

[41] HR. At-Tirmidzi ( 2478 ), dan beliau berkata : Hadist hasan gharib, Ibnu Majah ( 3350 ), dan Al-Albani menghasankanya ( 3413 ), Al-Baghawi didalam Syarh As-Sunnah ( 4049 ) dengan lafzh: “ Kurangilah sendawamu “, maknanya adalah : Palingkan dan tahanlah sendawamu dihadapan kami.

[42] HR. Ahmad ( 10043 ), dan juga diriwayatkan oleh Abu Daud dari hadits Abdullah bin amru bin al-‘Ash ( 4857 ). Al-Albani menshahihkannya selain perkataan : “ tiga kali “

[43] ( 3433 ). At-Tirmidizi mengatakan : hadits hasan shahih gharib

[44] HR. An-Nasaa`I ( 1344 ) danlafazh diatas adalah lafazh beliau. Ibnu Hja rmengatakan : Sanadnya kuat. ( Al-Fath 13 / 555 ) dan juga Ahmad ( 23965 )

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.

Iklan

4 Tanggapan to “Kitab Al-Adab : Adab-Adab Bermajlis”

  1. abu aulia -jakarta- said

    Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh,
    izin kopas akh, untuk catatan fb ana
    http://www.facebook.com/abu.nabila

    Jazakallaahu khair

  2. arif said

    assalamualaikum warohmatullohi wabarokaatuh , akhi ana minta izin untuk copy artikel ini , untuk ana sampaikan ke jamaah buka puasa di masjid . karena mereka masih minim pengetahuannya tentang adab-adab bermajlis. sukron.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: