Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Seimbangkan antara Dunia dan Akhirat

Posted by Abahnya Kautsar pada 9 Juli 2008

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَدًا, وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَدًا“Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau hidup akan selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati besok”.

Ini bukanlah sabda Nabi Shollallahu alaihi wa ala alihi wasallam, walaupun masyhur di lisan kebanyakan muballig di zaman ini bahwa ini adalah sabda beliau Shollallahu alaihi wa ala alihi wasallam. Dan ucapan ini tidaklah muncul dari mereka karena kebodohan mereka tentang hadits dan mencukupkan diri dengan apa yang mereka dengar dari kebanyakan manusia tanpa melihat sisi keabsahannya. Berikut uraiannya :
Perkataan ini –berdasarkan pembahasan para ulama- hanya datang dari 2 orang shahabat :
1. Abdullah bin Amr ibnul Ash radhiallahu anhu.
Diriwayatkan oleh Ibnu Qutaibah dalam Ghoribul Hadits –sebagaimana dalam Adh-Dho’ifah no. 8- dari jalan Hammad bin Salamah dari Ubaidullah ibnul Izar (1) darinya secara mauquf dengan lafazh, “Peliharalah duniamu …”.
Sanad hadits ini terputus, karena didapatkan dalam Musnad Al-Harits –Zawa`idul Haitsamy- (2/983) bahwa Ubaidullah ini meriwayatkan hadits ini dari Abdullah bin Amr dengan perantara seorang A’rabi tua, yang mana ini menunjukkan bahwa jalan di atas terputus sebagaimana yang diketahui dalam ilmu ‘ilalul hadits (cacat tersembunyi dari suatu hadits) (2). Lagipula perantara antara keduanya adalah rowi yang mubham (tidak disebut namanya) yang mana hal ini (adanya rowi yang mubham) adalah bentuk kelemahan dalam sebuah sanad.
Kemudian hadits ini mempunyai jalan lain, diriwayatkan oleh Ibnul Mubarak dalam Az-Zuhud –sebagaimana dalam Adh-Dho’ifah no. 8-, beliau berkata: Muhammad bin ‘Ajlan mengabarkan kepada kami bahwa Abdullah bin Amr ibnul Ash berkata: ….
Dan jalan ini juga terputus, Muhammad bin Ajlan (3) tidak mendengar dari Abdullah bin Amr.
2. Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma.
Disebutkan oleh Imam Al-Qurthuby rahimahullah dalam Tafsirnya (13/314 dan 16/1 8) dan beliau tidak menyandarkan periwayatannya pada seorang ulama pun.
{Rujuk : Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah no. 8 karya Syaikh Al-Albany rahimahullah}

__________

(1).Ditsiqohkan oleh Yahya bin Sa’id Al-Qoththon sebagaimana dalam Tarikh Al-Kabir (3/394) karya Imam Al-bukhary dan Al-Jarh wat Ta’dil (2/2/330) karya Ibnu Abi Hatim.
(2).Yakni jika di satu jalan meriwayatkan langsung dari seorang guru dengan kalimat ‘an (dari) lalu ditemukan pada jalan lain/kedua dia meriwayatkan hadits yang sama dari guru yang sama tapi dengan perantara, maka jalan kedua ini menunjukkan bahwa jalan pertama adalah terputus.
(3).Ibnu Hajar dalam At-Taqrib menggolongkannya dalam thobaqoh (tingkatan kelima) yang kebanyakan rowi pada tingkatan ini tidak mendengar dari shahabat.

Diambil dari : Atsariyyah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: