Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,233,517 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Perbedaan Pendapat dikalangan Shahabat Nabi –shollallahu ‘alaihi wasallam – pada permasalahan Ijtihad

Posted by Abahnya Kautsar pada 11 Juli 2008

Pasal

Perbedaan Pendapat dikalangan Shahabat Nabi –shollallahu ‘alaihi wasallam – pada permasalahan Ijtihad

Para shahabat –radhiallahu ‘anhum- tidaklah berbeda pendapat pada masalah-masalah yang jelas, dikarenakan penjelasan terhadap permasalahan seperti ini sudah sedemikian jelasnya diantara mereka. Melainkan perbedaan pendapat dikalangan shahabat hanya terjadi pada sejumlah permasalahan, seperti tentang masalah talak, hukum waris, yang disebabkan perbedaan dalam menginterpretasikan detail kandungan makna syara’.

Maka tidaklah dijumpai di antara para shahabat perselisihan dalam masalah Iman, Qadar/Takdir, Tauhid seputar Asma’ dan Shifat Allah, dan tentang permasalah ancaman dan kabar gembir di akhirat.

Berkata Asy Syathibi[1] : “Sesungguhnya khilaf yang terjadi dizaman shahabat hingga saat ini hanya terjadi pada permasalahan ijtihadiyah saja. “

Berkata pula Al Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Khafif[2] : ” Kaum Muhajirin dan Anshor telah sepakat ucapan mereka dalam permasalahan Tauhid kepada Allah – ‘azza wajalla-, tentang Asma’ dan Shifat Allah serta Takdir-Nya, satu pendapat yang bulat, dan syari’at yang jelas. Dan mereka ini menukilkan segala permasalahan itu dari Rasulullah – shollallahu ‘alaihi wasallam, dimana beliau bersabda : ” Maka yang wajib bagi kalian adalah berpegang teguh dengan sunnahku … ” Al Hadits, dan juga hadits : ” Laknat Allah bagi yang mengada-adakan perkara yang muhdats/bid’ah “.

Jadi dalam permasalahan seperti ini, para shahabat telah sepakat dalam ucapan mereka tanpa adanya perbedaan pendapat, dan dari mereka inilah kita diperintahkan untuk menyadurnya dimana mereka sama sekali tidak berselisih paham–Alhamdulillah ta’ala – tentang hukum-hukum yang berkaitan tentang Tauhid dan Ushuluddin berupa persoalan Asma’ dan Shifat Allah, sebagaimana halnya mereka berselisih dalam permasalahan furu’iyah. Sekiranya dijumpai perselisihan dikalangan shahabat dalam masalah Tauhid dan Ushuluddin tentulah akan dinukilkan kepada kita, seperti halnya pada setiap perselisihan yang ada. Dan kebenaran yang dikemukakan diatas telah disetujui oleh para Ulama yang masyhur, dimana mereka menukilakn hal serupa ini dari zaman kezaman, dikarenakan perselisihan dalam amsalah-masalah ushul dikategorikan oleh para Ulama sebagai suatu kekufuran, Walillahi Al Minnah “

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah[3] : “Dan yang dimaksud dari ini semua bahwa sesungguhnya para shahabat radhiallahu ‘anhum, tidaklah mereka saling bermusuhan dikarenakan perselisihan mereka pada salah satu dari sekian Qaidah/Aturan Dasar Islam, yakni mereka tidaklah sedikitpun berbeda pendapat pada salah satu Qaidah Islam, tidak itu berbicara tentang masalah Tauhid Asma’ wash Shifat, tidak juga dalam masalah Qadar, Tentang penamaan dan hukum Kufur dan Iman, dan tidak pula tentang persoalan Imamah/Khilafah.

Mereka sama sekali tidak berbeda pendapat dalam persoalan tersebut dengan memperdebatkan pendapat mereka satu sama lainnya, terlebih lagi jika sampai pada bentuk pertumpahan darah, namun mereka kesemuanya menetapkan adanya Sifat-sifat Allah yang telah dikabarkan oleh Allah ta’ala akan diri-Nya, menafikan segala bentuk penyerupaan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk. “

Beliau juga berkata[4] : “Akan tetapi perbedaan pendapat seperti ini dan yang semisalnya, telah terjadi pada perkara-perkara yang tersamar, ataukah perkara-perkara yang lebih rinci, dikarenakan perbedaan ijtihad masing-masing, dan mereka berupaya mengkonsentarasikan segala kemampuan mereka untuk menggapai kebenaran, dan mereka dengan segala yang mereka tempuh telah mendapatkan kebenaran dan meraih makna ittiba’, sebagaimana terlihat pada sebagian shahabat dalam perkara-perkara tnetang talak, warisan dan semisalnya. Namun perselisihan seperti ini tidaklah didapati dalam perkara-perkara yang jelas dan perkara-perkara yang mendasar, dikarenakan seperti ini telah dijelaskan diantara mereka penyampaian Rasulullah (A), maka tidaklah seseorang menyelisihi perkara tersebut melainkan iapun akan menyelisihi Rasulullah (A), sedangkan mereka para shahabat adlah kaum yang benar-benar berpegang teguh dengan syari’at Allah, menjadikan Rasulullah (A) sebagai rujukan hukum dalam setiap yang mereka perselisihkan, dan tidaklah mereka mengedepankan seorangpun dari Allah dan Rasul-Nya “

Dan beliau juga berkata[5] : ” Dan demikian yang terjadi pada persoalan fiqh, yng mana perbedaan pendapat yang ada dikarenakan kesamaran penjelasan penyampai syara’ ditinjau dari sudut pandang mereka, hanya saja yang seperti ini, perselisihanyang terjadi hanya pada persoalan yang lebih terperinci bahasannya. Adapun permasalahan yang terang para shahabt tidaklah berbeda pendapat tentangnya. Para shahabat sendiri telah berselisih paham dalam sebagian masalah-masalah itu dan tidak berselisih dalam persoalan Aqidah, tidak juga dalam pencapaian ma’rifah Allah yang telah dicapai oleh seseorang dari wali-wali Allah, mereka yang kaum yang berbahagia yang senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya. “

Beliau berkata juga[6] : ” Adapun yang saya katakana saat ini dan yang saya tulis –walaupun sebelumnya belum saya cantumkan dalam sejumlah jawaban saya, namun telh saya katakana pada sebagian besar majlis-majlis – bahwa kesmua ayat-ayat shifat yang ada dalam Al Qur’an, tidaklah ada perselisihan dikalangan shahabat dalam penta’wilannya.

Dan telah saya telaah sejumlah tafsir yang dinukilkan dari para shahabat, dan yang mereka riwayatkan dalami beberapa hadits, dan yang saya jumpai dalam permbahasan semisal itu –yang telah Allah ta’ala kehendaki – dari kitab-kitab yang besar maupun yang kecil, lebih dari seratus tafsir, tidaklah saya jumpai hingga saat ini ada seorang shahabat yang menta’wilkan satu dari sekian ayat-ayat ataukah hadits-hadits tentang sifat Allah yang menyelisihi maksud sebenarnya yang telah dipahami yang telah maklum dari nash-nash sifat Allah itu. “

Seperti halnya jikalau saya katakan : Bahwa para shahabat berselisih dalam menafsirkan firman Allah ta’ala : –

{ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَـــــــاقٍ }

” Hari dimana tersingkap betis –Allah ta’ala “

Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa penafsiran ayat ini, Allah akan menampakkan setiap perkara yang teramat merisaukan pada hari akhirat. Dan diriwayatkan dari Abu Sa’id, bahwa ini salah satu dari sifat-sifat Allah ta’ala.

Saya katakan : Tidak ada pertentangan antara kedua pendapat tersebut, dikarenakan Allah – ‘azza wajalla – saat menyingkap betis-Nya – subhanahu wata’ala – pada hari kiamat, orang-orang munafik tidak akan mampu bersujud kepada-Nya, dan akan terpisahkan antara kaum mukminin dan orang-orang munafik, dan inilah tempat yang paling merisaukan.

Dan ayat ini :

{ يَوْمَ يُكْشَفُ عَنْ سَـــــــاقٍ }

” Hari dimana tersingkap betis –Allah ta’ala “

Penyebutan ” betis ” tidaklah Allah ta’ala sandarkan pada diri-Nya – sebagaimana halnya sifat-sifat Allah lainnya – akan tetapi penisbatan ini nampak jika dilihat dari dalil yang lain –yaitu hadits Abu Sa’id Al Khudri – dimana penyebutannya disandarkan kepada Allah.

Dan demikian halnya, pada perselisihan yang terjadi dikalangan shahabat pada permasalah ru’yah Nabi (A) kepada Allah pada malam Isra’ dan Mi’raj, dimana perbedaan yang ada sebenarnya dari sudut pandang yang berlainan, yang menetapkan adanya ru’yah ini yang ia maksud adalah ru’yah qalbiyah –dari hati sanubari- sedangkan yang menolaknya yang ia maksud adalah ru’yah bashoriyah –dengan mata kepala -, maka kedua pendapat ini selaras satu sama lainnya.

Demikian juga peperangan yang terjadi antara ‘Ali dan Mu’awiyah – bukan dikarenakan persoalan Imamah/Khilafah -, melainkan peperangan karena perbedaan dalam penafsiran seputar ketaatan kepada selain Imam, jadi bukanlah pada dasar Aturan Diiniyah.

Sedangkan peperangan antara Tholhah dan Az Zubair menghadapi ‘Ali, sebenarnya kedua belah pihak membela diri masing-masing, beranggapan bahwa tindakannya hanya untuk mempertahankan diri dari serangan pihak lainnya. Dimana ‘Ali tidaklah memiliki keinginan untuk memerangi mereka, dan tidak pula mereka ada keinginan untuk memerangi ‘Ali, akan tetapi ketika itu sebagian dari merek yang bertanggung jawab atas terbunuhnya ‘Utsman menyadari bahwa keadaan antara kedua belah pihak sudah demikian tegang, maka mereka pun mengambil kesempatan ini dari kedua belah pihak, dengan menunggangi salah satu dari dua kekuatan bersenjata yang bertentnagan, akhirnya pihak yang lain menyangka bahwa mereka itulah yang telah memulai peperangan, dan akhirnya terjadilah pertumpahan darah. “[7]

Judul Asli : Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun

Penulis : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman

Muroja’ah : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan

Rekomendasi : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad

Penerbit : Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah

Cetakan Pertama 1419 H / 1999 M

Penerjemah : Abu Zakariya Al Atsary


[1] Al I’tishom, 2 / 191

[2] Pada Kitab beliau ” I’tiqad At Tauhid Biitsbatil Asma’ wash Shifat “, dilansir dari Majmu’ Fatawa 5 / 71

[3] Minahjus Sunnah 6 / 336

[4] Majmu’ Fatawa 13 / 64 – 65

[5] Majmu’ Fatawa 19 / 274

[6] Majmu’ Fatawa 6 / 394

[7] Minhaus Sunnah 6 / 328

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: