Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

KItab Al-Adab : Adab-Adab Makan dan Minum (2)

Posted by Abahnya Kautsar pada 25 Agustus 2008

Bab Adab-Adab Makan dan Minum

5. Disenangi mengambil butiran yang terjatuh, membasuh yang menempel padanya lalu memakannya.

Dijelaskan pada hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Apabila butiran makanan seseorang diantara kalian terjatuh, hendaknya dia mengambilnya, lalu membersihkan kotoran yang menempel kemudian memakannya dan jangan dia membiarkannya sebagai makanan syaithan … al-hadits “ Pada riwayat lainnya :

“ Sesungguhnya syaithan ikut menghadiri makanannya. Maka apabila salah seorang diantara kalian terjatuh makanannya maka hendaknya dia membersihkan kotoran yang menempel padanya kemudian memakannya dan tidak menyisakannya untuk syaithan. Dan apabila dia telah menyelesaikan makannya hendaknya dia menjilat tangannya karena sesungguhnya dia tidak mengetahui makanan manakah yang ada berkahnya “[1]

Pada hadits ini ada beberapa faedah diantaranya :

Bahwa syaithan selalu mengawasi manusia dan mengiringinya dan berusaha untuk mempengaruhinya. Dan berupaya untuk berkumpul dengan manusia hingga disaat makan dan minum.

Diantaranya pula bahwa menghilangkan kotoran yang menempel baik berupa tanah dan selainnya pada makanan yang terjatuh kemudian memakannya dan pengharaman syaithan dari makanan tersebut, karena syaithan adalah musuh, dan seorang musuh seharusnya di jauhkan dan berlindung darinya.

Diantaranya, bahwa berkah makanan bisa jadi ada pada makanan yang terjatuh makan janganlah melalaikannya.

Diantaranya : Sesungguhnya syaithan hadir dan selalu menyertai manusia, dan akal tidak punya hak untuk mengingkari kehadiran syaithan sebagaimana yang disangkakan oleh orang-orang yang memiliki akal yang sakit.

6. Larangan mengambil dua kurma bersamaan

Larangan ini berlaku bagi jama’ah, bukan bagi yang makan sendiri. Dan tentang hal ini ada beberapa hadits yang shahih.

Diantaranya dari jalan Syu’bah dari Jabalah, beliau berkata : Kami pernah berada di Madinah bersama dengan beberapa penduduk Irak, dan paceklik telah menimpa kami. Maka Ibnu Az-Zubair memberi kami rizki berupa kurma. Dan Ibnu Umar melintasi kami lalu berkata “ Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang mengambil bersamaan lebih dari satu, kecuali seseorang diantara kalian telah meminta izin kepada saudaranya “[2]

Ibnul Jauzi didalam Al-Musykil berkata : “ Adapun hukum hadits tersebut, bahwa hukum ini berlaku pada jama’ah beberapa orang. Dan kebiasaan yang berlaku adalah mengambil kurma satu persatu. Apabila seseorang mengambil bersamaan maka akan menjadikan jatah mereka berkurang dan akan mempengaruhi mereka, olehnya itu dibutuhkan izin dari mereka. “[3]

Larangan pada hadits ini dapat menunjukkan pengharaman dan juga dapat berarti suatu yang makruh, dan masing-masingnya telah dinyatakan oleh ulama. An-Nawawi berpendapat bahwa perlu ada detail pada masalah ini, beliau mengatakan : “ Yang benar perlu diperinci, apabila makan tersebut mereka diantara mereka bersamaan, maka mengambil lebih dari satu bersamaan hukumnya haram, kecuali jikalau mereka meridhainya, dan ini dengan dapat dengan pernyataan mereka yang jelas, atau yang sederajat dengan pernyataan tersebut baik berupa indikasi keadaan atau isyarat dari mereka semuanya, dimana dapat diketahui dengan pasti atau dengan persangkaan yang kuat bahwa meeka meridhainya. Kapan dia ragu atas keridhaan mereka, maka hukumnya haram. Dan apabila makanan tersebut untuk selain mereka atau untuk salah seorang diantara mereka mesti disyaratkan keridhaannya sendiri, apabila dia mengambilnya tanpa keridhaannya maka hukumnya haram. Dan disenangi untuk meminta izin kepada orang-orang yang menyertainya makan namun tidaklah wajib. Dan apabila makanan tersebut untuk dirinya sendiri dan dia menjamu mereka sebagai tamu maka tidaklah diharamkan mengambil lebih dari satu bersamaan. Kemudian apabila makanan tersebut jumlahnya sedikit maka disukai untuk tidak mengambil lebih dari satu bersamaan, karena hanya mencukupi mereka. Dan apabila jumlahnya banyak, dimana melebihi jumlah mereka maka tidak mengapa mengambil lebih dari satu sekaligus. Akan tetapi adab yang berlaku secara mutlak dan kesopanan dalam makan dan meninggalkan sikap rakus kecuali jikalau dalam keadaan tergesa-gesa dan semakin terburu-buru lagi jika ada pekerjaan yang lain[4].

Masalah : Apakah jenis-jenis makanan lainnya yang dapat diambil satu persatu dapat dianalogikan dengan kurma ?

Jawab : Iya, dapat dianalogikan kepada kurma, apabila kebiasaan yang berlaku makanan tersebut diambil satu demi satu. Ibnu Taimiyah mengatakan ; “ Dan dapat dianalogikan larangan mengambil sekaligus lebih dari satu semua makanan yang kebiasaannya diambil satu persatu”[5]

7. Membaca Basmalah diawal memulai makan dan minum, dan membaca Alhamdulillah setelah selesai.

Diantara Sunnah, seseorang yang ehndak makan dan minum sebelum makan dan minum hendaknya membaca basmalah dan membaca Alhamdulillah ta’ala setelah selesai makan dan minum.

Ibnul Qayim rahimahullah mengatakan : “ Membaca basmalah diawal makan dan minum dan membaca Alhamdulillah setelah selesai, mempunyai pengaruh yang sangat mengagumkan baik pada manfaatnya, kebaikan dan dalam mencegah kemudharatan. Imam Ahmad mengatakan : Apabila dalam makanan telah terkumpul empat hal, maka telah sempurna : Apabila menyebut nama Allah diawal makan, Alhamdulillah setelah makan, makan berjama’ah dan dari makanan yang halal[6].

Faedah membaca Basmalah : sebelum makan yaitu bahwa syaithan diharamkan bergabung dalam makanan dan dalam meraih makanannya. Dari Hudzaifah radhiallhu ‘anhu, beliau berkata : “ apabila kami hadir bersama dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah kami meletakkan tangan kami hingga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memulai, maka barulah kami meletakkan tangan kami. Dan suatu saat kami menghadiri makan bersama dengan beliau , lalu seorang anak wanita, sepertinya dia dipanggil dan kemudian datang dan meletakkan tangannya, lalu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meraih tangannya. Kemudian datang seorang arab badui, sepertinya dia dipanggil namun tangannya diraih oleh beliau. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesungguhnya syaithan memasuki makanan yang tidak disebut nama allah. Dan syaithan datang dengan anak wanita ini untuk bergabung , maka saya menari tangannya. Dan datang dengan arab badui ini juga untuk bergabung dengannya, maka saya juga menarik tangannya. Dan demi dzat yang jiwaku berada ditangan-Nya sesunguhnya tangan syaithan bersentuhan dengan tanganku besamaan dengan tangan anak wanita tersebut “[7]

Lafazh Basmalah : Adalah dengan mengucapkan Bismillah. Dari Umar bin Abu Salamah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : “ Saat itu saya seoranganak keil yang berada didalam kamar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan tanganku meraih yang ada didalam piring, maka RasulullahShallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Wahai anak kecil, bacalah bismillah dan makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah yang terdekat denganmu, maka hal itu menjadi makananku berikutnya “[8]

An-Nawawi didalam Kitab Al-Adzkar karya beliau memilih bahwa yang paling utama adalah mengucapkan : Bismillahirrahmanirrahim, dan apabila mengucapkan : Bismillah, maka sudah cukup dan sudah mengamalkan Sunnah[9].

Ibnu Hajar menyaggah pendapat tersebut, beliau berkata : “ Saya tidak melihat adanya dalil khusus yang menguatkan pernyataan beliau.

Saya berkata : Sebagian besar nash-nash yang ada menerangkan hanya dengan lafazh : BIsmillah , dan selain itu tanpa tambahan : Ar-Rahman Ar-Rahim. – dari hadits Amru bin Abi Slaamah, beliau berkata :Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Wahai anak kecil, apabila engkau makan maka sebutlah bismillah, makanlah dengan tangan kanamu dan makanlah yang terdekat denganmu. “[10]

Dan apabila seseorang yang makan lupa mengucapkan : bismilah sebelum makan kemudian dia teringat disaat dia tengah makan, maka hendaknya dia mengatakan : Bismillahi Awwalahu wa Akhirahu , atau mengatakan : Bismillahi fii Awwalihi waakhirihi. Dari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Apabila salah seorang diantara kalian makan hendaknya dia menyebut : Bismillah ta’ala. Dan apabila dia lupa menyebut Bismillah ta’ala diawal makan, maka hendaknya dia mengucapkan : Bismillah Awwalahu wa Akhirahu “[11]

Adapun ucapan Alhamdulillah ta’ala, setelah menyelesaikan makan atau minum, maka pada ucapan ini mempunyai keutamaan yang sangat agung, yang Allah anugrahkan kepada segenap hamba-Nya. Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Sesungguhnya Allah meridhai seorang hamba yang ketka makan suatu makanan lalu dia mengucapkan Alhamdulillah. Dan apabila dia minum suatu minuman maka diapun mengucapkan : Alhamdulillah. “[12]

Ada banyak lafazh Alhamdulillah setelah selesai dari makan dan minum, diantaranya :

  1. “ Alhamdulillah katsiran mubarakan fihi ghairi makfiyyiin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu Rabbana “
  2. “ Alhamdulillah Alladzi kafaanaa wa arwaanaa ghaira makfiyyin wa laa makfuurin “

Abu Umamah radhiallahu ‘anhu meriwayakan , beliau berkata : bhwa Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai dari menyantap makanannya, beliau sekali waktu mengucapkan :

“ Alhamdulillah katsiran mubarakan fihi ghairi makfiyyiin wa laa muwadda’in wa laa mustaghnan ‘anhu Rabbana “[13]

  1. “ Alhamdulillah alladzi ath’amaniy hadza wa razaqniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin.

Dari Mu’adz bin Anas dari bapak beliau, beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barang siapa yang makan suatu makanan, kemudian dia mengucakan : Alhamdulillah alladzi ath’amaniy hadza wa razaqniihi min ghairi haulin minni walaa quwwatin , segala dosanya yang telah lampau akan diampuni “[14]

  1. “ Alhamdulilah alladzi ath’ama wa saqaa wa sawwaghahu wa ja’ala lahu makhrajan “

Abu Ayyub al-Anshari meriwayatkan, beliau berkata : “ Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam makan atau minum, beliau mengucapkan : Alhamdulillah alladzi ath’ama wa saqaa wa sawwaghahu wa ja’ala lahu makhrajan “[15]

  1. “ Allahumma ath’amtu wa asqaitu wa aqnaitu wa hadaitu wa ahbabtu, falillailhamdu ‘ala maa a’thaitu “

Dari Abdurrahman bin Jubair, bahwa seseorang yang telah melayani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam selama delapan tahun menceritakan kepadanya, bahwa dia telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila beliau disodorkan makanan, beliau mengucapkan :

“ Bismillah “ , dan apabila beliau selesai beliau mengucapkan :

“ Allahummah ath’amtu wa asqaituwa aqnaitu wa hadaitu wa ahyaitu falillahilhamdu ‘ala maa a’thaitu “[16]

Faedah : Disenangi untuk mempergunakan lafazh-lafazh Alhamdulillah yang ada didalam As-Sunnah setelah selesai makan. Dengan sesekali mengucapkan lafazh yang ini dan sesekali dengan lafazh lainnya, sehingga denga demikian dia telah menjaga As-Sunnah dari segala sisiknya. Dan dia akan mendapatkan berkah dari doa-doa ini. Bersamaan dengan itu seseorang akan merasakan didalam hatinya penghadiran makna-makna dari doa-doa ini ketika dia mengucapkan lafazh ini tsesekali waktu dan lafazh lainnya diwaktu yang lain. Dikarenakanhati seseorang apabila telah terbiasa dengan perkara tertentu – seperti berulang-ulang menyebutkan dzikir tertentu – maka dengan banyaknya pengulangan , biasanya penghadiran makna-makna dari doa tersebut akan semakin berkurang karena seringnya diulangi.

Faedah lainnya : Ibnu Abbas – radhiallahu’anhuma – meriwayatkan , bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Barang siapa yang Allah telah memberikan makanan baginya, hendaknya dia mengucapkan : Allahumma barik lana war-zuqnaa khairan minhu. Dan barang siapa yang Allah telah memberinya minum, hendaknya dia mengucapkan : Allahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa fiihi. Karena sesungguhnya saya tidak mengetahui ada makanan dan minuman yang akan memuaskan selain susu “[17]

8. Makan dan minum dengan mempergunakan tangan kanan dan larangan mempergunakan tangan kiri

Telah kita sebutkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Umar bin Abi Salamah :

“ Wahai anak kecil, makanlah dengan menyebut Bismillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang terdekat denganmu “[18]

Dan dari hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Janganlah kalian makan dengan mempergunakan tangan kirimu karena sesungguhnya syaithan makan dengan mempergunakan tangan kirinya “[19]

Dan pada hadits Umar radhiallahu ‘anhu, beliau berkata : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Apabila salah seorang diantara kalian makan, hendaknya dia makan dengan mempergunakan tangan kanannya dan apabila minum hendaknya dengan mempergunakan tangan kanannya. Karena sesungguhnya syaithan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya “[20]

Ibnul Jauzi mengatakan : “ Ketika tangan kiri dijadikan untuk ber-istinja’ dan menyentuh hal-hal yang najis, sementara tangan kanan untuk mengambil makanan, maka tidaklah shahih salah satu dari keduanya dipergunakan pada pekerjaan tangan yang lainnya, dikarenakan ini merupakan perendahan suatu yang memiliki kedudukan serta meninggikan suatu yang direndahkan kedudukannya. Barang siapa yang menyalahi tuntunan hikmah syaa’ berarti telah menyepakati syaithan “[21]

Sedangkan hadits-hadits tersebut dalam permasalahan ini adalah hadits-hadits yangmasyhur yang tidak lagi tersembunyi oleh khalayak awam, hanya saja sebagian kaum muslimin – semoga Allah memberi mereka hidayah – masih saja bersikeras dengan sifat yang tercela ini, yaitu makan dan minum dengan mempergunakan tangan kiri. Dan apabila dikatakan kepada mereka tentang hal itu, mereka menjawab : Hal ini telah menjadi kebiasaan kami dan sangat sulit untuk merubahnya. Demi Allah sesungguhnya jawaban ini merupakan kemilau rayuan syaithan bagi mereka, dan penghalang bagi mereka untuk mengikuti syara’. Dan secara umum, ini merupakan bukti akan kurangnya iman ddidalam hati mereka. Jika tidak maka apa makna dari penyelisihan perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan larangan beliau !

Dan lebih buruk dan lebih keji dari itu, adalah mereka yangmelakukan hal itu dengan kesombongan dan keangkuhan.

Salamah bin al-Akwa’ radhiallahu ‘anhumeriwayatkan : “ Bahwa seseorang makan disisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan mempergunakan tangan kirinya. Maka beliau bersabda : “ Makanlah dengan tangan kananmu “ Orang itu berkata : Saya tidak sanggup. Beliau bersabda : Engkau tidak sanggup ? Tidak ada yang menghalangimu kecuali rasa sombong. Maka diapun tidak sanggup mengangkat tangannya kemulutnya “ Pada riwayat Ahmad : “ Maka tangan kanannya tidak sanggup lagi dia angkat kemulutnya selamanya “[22]

An-Nawawi mengatakan : “ Pada hadits ini menunjukkan bolehnya seseorang mendoakan siapa saja yangmenyalahi hukum syara’ tanpa adanya udzur. Dan pada hadits ini juga menunjukkan perintah untuk menjalankan Amar Makruf dan Nahi Munkar disetiap keadaan hingga disaat makan sekalipun. Dan disenangi unum mengajarkan seseorang yang makan dengan adaz-dab makan apabila dia menyalahinya[23].

Peringatan : Apabila ada udzu mempergunakan tangan kanan untuk makan, seperti karena sakit atau luka dan selainnya, maka tidaklah mengapa makan denganmempergunakan tangan kiri. Dan Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya.

9. Makan dengan makanan yang terdekat

Disalah satu riwayat pada hadits Umar bin Abi Salamah, bahwa beliau mengatakan : Saya makan bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari, lalu saya mengambil daging yang ada di seberang piring. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Makanlah makanan yang terdekat denganmu “[24]

Sebab dari larangan itu, dikarenakan makan dia makan ditempat orang lain mengambil makan dengan adab yang jelek. Dan orang-orang yang makan bisa saja merasa jijik dengan perbuatan ini –dan ini yang kebanyakan terjadi-.

Akan tetapi mungkin ada yang menyanggah kepada kami, danmengatakan : Lalu apa yang kalian katakan tentang hadits Anas , dimana beliau berkata : “ Sesungguhnya seorang penjahit mengajak Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyantap makan sajiannya, maka saya berangkat bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dan dia menyuguhkan roti dari tepung dan maraq – kuah daging – yang bercampur labu dan dendeng. Saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengambil labu yang ada diseberang piring “[25]

Jawaban atas sanggahan ini : Kedua hadits ini tidaklah saling bertentangan , dan kami menjawabnya sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Abdil Barr : “ Bahwa al-maraq, al-idam dan makanan lainnya apabila terdiri atas dua jenis atau banyak, maka tidak mengapa menjulurkan tangan untuk mengambilnya, karena bolehnya memilih makanan yang dihidangkan di meja makan… Kemudian beliau berkata – mengomentari sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Dan makanlah dengan makanan yang terdekat denganmu “ – : Dan sesungguhnya beliau memerintahkan kepadanya untuk makan dengan makanan yang terdekat, karena makanan yang ada waktu itu hanya satu jenis. Wallahu a’lam. Demikianlah yang ditafsirkan oleh para ulama[26] . Dan dengan begitu jelaslah penyesuaian kedua hadits tersebut – Wallahu Al-Muwafffiq -.

10. Disenangi makan dipinggiran piring bukan bagian atasnya

Disebutkan pada hadits Ibnu Abbas – radhiallahu ‘anhuma -, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Apabila salah seorang diantara kalian makan suatu makanan maka janganlah dia makan pada bagian atasnya, akan tetapi hendaknya dia makan pada bagian pinggirnya, karena sesungguhnya berkah turun dari bagian atasnya “. Pada lafadz riwayat Ahmad : “ Makanlah kalian pada bagian pinggir piring, dan janganlah kalian makan dari bagian tengahnya, karena berkah turun pada bagian tengahnya “[27]

Bagian tengah diberi kekhususan dengan turunnya berkah, karena tempat itu adalah tempat paling adil. Dan sebab dari larangan tersebut agar seseorang yang makan tidak terharamkan baginya berkah yang berada dibagian tengah. Dan juga termasuk didalam hadits ini apabila yang makan lebih dari seseorang – berjama’ah -, karena seseorang diantara mereka yang mendahului mengambil dibagian tengah makanan sebelum bagian pinggirnya, telah melakukan adab yang jelek kepada mereka, dan mementingkan diri sendiri untuk suatu yang baik selain dari mereka, Wallahu a’lam[28].

11. Disenangi makan dengan mempergunakan tiga jari dan menjilati jari setelah makan.

Diantara Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , bahwa beliau makan dengan mempergunakan tiga jari. Dan juga menjilati jarinya setelah makan. Didala hadits Ka’ab bin Malik dari bapaknya, beliau berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika makan beliau mempergunakan tiga jari dan menjilati jarinya sebelum mengelapnya “[29]

Ibnul Qayyim mengatakan : “ Dikarenakan makan dengan satu atau dau jari tidaklah menjadikan seorang yang makan menikmatinya dan tidak juga memuaskannya dan tidak mengenyangkannya kecuali setelah lama berselang dan juga tidak mengenakkan organ mulut dan pencernaan dengan yang masuk kedalamnya dari setiap makanan … Sedangkan makan dengan lima jari dan telapak tangan akan menyebabkan makan memenuhi organ mulut dan juga pencernaan. Dan terkadang akan menyumbat saluran makan dan memaksakan organ-organ makan untuk mendorongnya dan juga pencernaan akan terbebani. Dan dia tidak akan mendapatkan kelezatan dan juga kepuasan. Dengan begitu maka cara makan yang paling bermanfaat adalah cara makan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan cara makan yang meneladani beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan mempergunakan tiga jari “[30]

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“ Apabila salah seorang diantara kalian makan, maka janganlah dia membasuh tangannya hingga dia menjilatnya atau dijilatkan kepada orang lain “. Dan pada riwayat Ahmad dan Abu Daud :

“ Janganlah dia mengelap tangannya dengan kain lap, hingga dia menjilatnya atau dijilatkan kepada orang lain “[31]

Dan sebab hal itu diperintahkan dfiterangkan pada hadits Jabir bin Abdullah radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk menjilat jari dan piring makanan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dimanakah turunnya berkah “[32]

Dan pada sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“ Kalian tidak mengetahui dimanakah turunnya “ , maknanya – wallahu a’lam – bahwa makanan yang berada dihadapan seseorang mengandung berkah, dan dia tidaklah mengetahui apakah berkar itu yang dimakannya ataukah yang tersisa dijari-jarinya atau yang tersisa dibagian bawah piring ataukah pada butiran makanan yang terjatuh. Maka sepatutnyalah seseorang menjaga hal ini semuanya agar dia mendapatkan berkah. Dan asal suatu berkah adalah tambahan dan kebaikan yang selalu ada serta senantiasa dirasakannya. Dan yang dimaksud disini –wallahu a’lam – adalah yang dapat mengenyangkan dan akhirnya memberi keselamatan dari segala gangguan dan memperkuat ketaatan kepada Allah dan lain sebagainya, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi[33].

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.


[1] HR. Muslim ( 2033 ) dan Ahmad ( 14218 )

[2] HR. Al-Bukhari ( 2455 ), Muslim ( 2045 ), Ahmad ( 5017 ), At-Tirmidzi ( 1814 ), Abu Daud ( 3834 ), Ibnu Majah ( 3331 ). Sabda beliau : “ Kecuali seseorang diantara kalian meminta izin kepada saudaranya “ Syu’bah berkata : Saya tidak mengetahui kecuali kalimat ini berasal dari perkataan Ibnu Umar, yaitu perkataan “ meminta izin “. Lihat riwayat Muslim dan Ahmad tentang hadits ini.

[3] Kasyful Musykil min Hadits Ash-Shahihain ( 2 / 565_ no. ( 1165 )

[4] Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 190 )

[5] Al-Adab Asy-Syar’iyah ( 3 / 158 )

[6] Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 232 )

[7] HR. Muslim ( 2017 ), ahmad ( 22738 ) dan Abu Daud ( 3766 )

[8] HR. Al-Bukhari ( 5376 ) dan lafazh hadits tersebut adalah lafazh beliau, Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 15895),Abu Daud ( 3777 ), ibnu Majah ( 3267 ), Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 )

[9] Al-Adzakr karya An-Nawaw ( 334 )

[10] HR. Ath-Thabrani didalam Al-Mu’jam Al-Kabir, dan Al-Albani memasukkannya didalam Silsilah Ash-Shahihah, dan beliau ebrkata : Sanad ini shahih sesuai dengan kriteria hadits Asy-Syaikhain ( 1 / 611 ) no. ( 344 ).

[11] HR. Abu Daud ( 3767 ), dan lafazh diatas adalah lafazh Abu Daud, Al-Albani menshahihkannya. Juga diriwayatkan oleh Ahmad ( 25558 ), At-Tirmidzi ( 1858 ), Ibnu Majah ( 3264 ) dan Ad-Darimi ( 2020 ).

[12] HR. Muslim ( 2734 ), Ahmad ( 11562 ) dan At-Tirmidzi ( 1816 )

[13] HR. Al-Bukhari ( 5459 ) dan lafazh diatas adalah lafazh Al-Bukhari, Ahmad ( 21664 ), At-Tirmidzi ( 3456 ), Abu Daud ( 3849 ), Ibnu Majah ( 3284 ), Ad-Darimi ( 2023 ) dan Al-Baghawi didalam Syarh As-Sunnah ( 2828 )

[14] HR. At-Tirmidzi ( 3458 ), dan beliau berkata : Hadits ini hasan gharib “. Dan Ibnu Majah ( 3285 ) dan Al-Albani menghasankannya ( 3348 )

[15] HR. Abu Daud ( 3851 ), al-Albani mengatakan : Shahih.

[16] Al-Albani mengatakan didalam As-Silsilah Ash-Shahihah ( 1 / 111 ) : HR. Ahmad ( 4 / 62 , 5 / 375 ) dan Abu Asy-Syaikh didalam Akhlaq An-Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , kemudian beliau menyebutkan sanadnya dan mengatakan : Sanad ini shahih kesemua perawinya tsiqat dan merupakan para perawi yang dipergunakan oleh Muslim .

[17] HR. At-Tirmidzi ( 3455 ), dan beliau berkata : Hadits ini Hasan Shahih, dan juga diriwayakan oleh Ibnu Majah ( 3322 ) dan Al-Albani menghasankannya ( 3385 ).

[18] HR. Al-Bukhari ( 5376 ) danlafazh diatas adalah lafazh riwayat Al-Bukhari, Muslim ( 2022 ), Ahmad ( 15895 ), Abu Daud ( 3777 ), Ibnu Maja ( 3267 ), Malik ( 1738 ) dan Ad-Darimi ( 2045 ).

[19] HR. Muslim ( 2020 ) danlafazhnya adalah lafazh riwayat Muslim , Ahmad ( 14177 ), Ibnu Majah ( 3268 ) dan Malik ( 1711 ).

[20] HR. Muslim ( 2020 ), Ahmad ( 4523 ), At-Tirmidzi ( 1800 ), Abu Daud ( 3776 ), Malik ( 1712 ) dan Ad-Darimi ( 2020 )

[21] Kasyful Musykil 2 / 594 ) ( 1227 )

[22] HR. Muslim ( 2021 ) dan Ahmad ( 16064 )

[23] Syarh Shahih Muslim Jilid 7 ( 14 / 161 )

[24] HR. Muslim ( 2022 ), takhrijnya telah disebutkan sebelumnya.

[25] HR. Al-Bukhari ( 5436 ) dan lafazh diatas adalah lafazh pada riwayat Al-Bukhari, Muslim ( 2041 ), Ahmad ( 12219 ), At-Tirmdzi ( 1850 ), Abu Daud ( 3782 ), Malik ( 1161 dan Ad-Darimi ( 2050 ).

Ad-dibaa`u adalah sejenis buah yang sebesar labu. Pada ini ditegaskan pada riwayat Ahmad, beliau berkata : “ Dan disuguhkan kehadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam semangkuk labu, beliau berkata : Dan beliau sangat menyenangi labu. Beliau berkata : Dan beliau mengemil labi dengan jari atau dengan jari jemari beliau “. Sedangkan al-qadiid adalah daging yang diberi garam kemudian dikeringkan dibawah terik matahari.

[26] At-Tamhid ( 1 / 277 )

[27] HR. Abu Daud ( 3772 ) lafaadz hadits diatas adalah lafazh pada riwayat Abu Daud, Ahmad ( 2435 ), At-Tirmidzi ( 1805 ), dan beliau berkata : Hadits ini hadits hasan shahih , Ibnu Majah ( 3277 ) dan Ad-Darimi ( 2046 )

[28] Lihat : ‘Aun Al-Ma’ud jilid 5( 10 / 177 )

[29] HR. Muslim ( 20232 ), Ahmad ( 26626 ), Abu Daud ( 3848 ) dan Ad-Darimi ( 2033 )

[30] Zaad Al-Ma’ad ( 4 / 222 ), dengan sedikit perubahan.

[31] HR. Al-Bukhari ( 5456 ), Muslim ( 2031 ), Ahmad ( 3224 ), Abu Daud ( 3847 ), Ibnu Majah ( 3269 _ dan Ad-Darimi ( 2026 )

[32] HR. Muslim ( 2033 ) dan lafazh hadits diatas adlah lafazh beliau, Ahmad ( 13809 ), dan Ibnu Majah ( 3270 ).

[33] Syarh Muslim jilid 7 ( 13 / 172 )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: