Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Apakah dalam dua pendapat yang berselisih diambil yang paling ringan ?

Posted by Abahnya Kautsar pada 29 Agustus 2008

Pasal

Apakah dalam dua pendapat yang berselisih diambil yang paling ringan ?

Berkata Asy Syathibi –rahimahullah – dalam kitab beliau “Al Muwafaqaat ” 4 / 148 -149 : ” Yang berpendapat bahwa yang diambil adalah pendapat yang paling ringan, berpegang dengan sejumlah dalil, diantaranya firman Allah ta’ala : –

{ يُرِيْدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ }

” Allah subhanahu wata’ala menghendaki bagi kalian kemudahan “

{ وَ مَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِيْ الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ }

” Dan tidaklah Allah menjadikan bagi kalian dalam perkara agama ini suatu yang memberatkan “

Dan sabda Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam : –

لا ضرر و لا ضرار

” Mengadakan –bagi diri sendiri – ataukah mengakibatkan – bagi orang lain – kemudharatan tidak diperkenankan “

Yang mana kesemuanya itu menghapuskan penetapa syara’ yang menyulitkan dan memberatkan. Adapun dari sisi qiyas : Maka sesungguhnya Allah adalah Dzat yang maha Kaya dan Mulia, sedangkan seorang hamba adalah makhluk yang membutuhkan dan fakir, maka ketika terjadi pertentangan antara dua hal yang bertolak belakang, maka yang lebih utama adalah memberikan tanggungan bagi yang Maha Kaya.

Sanggahan atas pegangan diatas, seperti halnya yang telah dijelaskan sebelumnya [1], yaitu akan mengharuskan pengguguran taklif syara’ secara keseluruhan, dikarenakan kesemua taklif syara’ adalah perkara yang berat dan sulit, dari sinilah dinamakan sebagai taklif [2], yang berasal dari kalimat Al Kulfah yang berarti sesuatu yang memberatkan.

Dan sekiranya hal yang memberatkan ini – yang mana mengiringi taklif syara’ – berujung untuk meniadakan setiap penunjukan syara’, maka kelaziman itu juga berlaku pada semua jenis ibadah thoharah, sholat, zakat, haji dan ibadah lainnya yang tidak ada batasnya , terkecuali jika tidak tersisa lagi pada diri seorang hamba adanya taklif ! dan ini suatu yang mustahil. “

Judul Asli : Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun

Penulis : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman

Muroja’ah : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan

Rekomendasi : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad

Penerbit : Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah

Cetakan Pertama 1419 H / 1999 M

Penerjemah : Abu Zakariya Al Atsary


[1] Yaitu perkataan beliau : Al Hanafiyah As Sumhah, dimana agama yang mudah dan santun ini didatangakn beriringan dengan sesuatu yang sejalan dengan pundasi dasarnya, dan bukan sekedar mencari-cari kelonggaran hukum, dan bukan pula memilih dari sejumlah pendapat hanya dengan merasa sesuai dengan suatu yang tegak diatas ushul syar’iat.

Dan juga perkataan beliau : Bahwa pijakan dalam khilaf adalah pijakan ketika berbeda pendapat, tidak dibenarkan untuk mengembalikannya pada hawa nafsu, namun dikembalikan pada syari’at, yakni mencari kejelasan mana yang rojih dari dua pendapat yang berlainan, maka itulah yang wajib diikuti, bukan mengikuti apa yang selaras dengan kemauan sendiri. – Al Muwafaqaat 4 / 145 –

[2] Dan diantara dalil yang paling jelas dalam hal itu, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim : ” sorga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disenangi adapun neraka maka ia dikelilingi dengan hal-hal yang membangkitkan syahwat ” – ditulis oleh Abdul Muhsin Al ‘Abbad –

Dan silahkan lihat untuk faidah : ” Mu’jam Al Manahi al Lafdhziyah ” hal. 207 , tulisan Asy Syaikh Bakar Abu Zaid.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: