Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab Al-Adab : Adab Berpakaian Dan Berhias (2)

Posted by Abahnya Kautsar pada 4 September 2008

BAB ADAB BERPAKAIAN DAN BERHIAS

  1. Sunnah Memendekkan Pakaian Untuk Laki-laki dan Memanjangkan Pakaian Perempuan :

Syariat Nabi Muhammad membedakan antara pakaian laki-laki dan dan pakaian perempuan dalam perkara panjang dan pendek. Syariat membatasi bagi laki-laki apa yang ada antara pertengahan betisnya sampai apa yang ada di atas kedua mata kaki, dan mengharuskan bagi perempuan untuk menutup kedua kakinya dan tidak ada suatupun yang nampak darinya, dan yang demikian itu karena badan perempuan atau satu bagian darinya adalah fitnah bagi laki-laki maka mereka diperintahkan untuk menutup seluruhnya. Sedangkan laki-laki mereka diperintahkan untuk mengangkat pakaian mereka, agar sifat sombong dan ‘ujub serta angkuh tidak masuk ke dalam hati mereka. Dimana menjulurkan pakaian terkandung kesenangan dan sikap bermewah-mewah yang tidak sesuai dengan tabiat laki-laki.

Yang mengherankan, mayoritas manusia menyelisihi sunnah dan memutar balikkan perkara, laki-laki memperpanjang pakaian mereka sampai pakaian mereka menyeret tanah bahkan menyapunya, dan wanita memperpendek pakaian mereka maka nampaklah betis mereka. Bahkan diantara mereka ada yang melampaui batas tersebut.

Atsar-atsar berkaitan dengan bab ini banyak sekali dan diketahui oleh kalangan tertentu maupun bagi kalangan awam. Akan tetapi syahwat dan hawa nafsu yang menyimpang menjadi penghalang untuk mengikuti kebenaran dan komitmen kepadanya. Kami akan menyebutkan apa yang hadir dalam ingatan kami di sini sebagai peringatan bagi kaum yang beriman, dan sebagai ancaman bagi yang bermaksiat lagi menyelisihi perintah syariat –kami memohon kepada Allah agar kita semua mendapat hidayah dan tetap istiqamah di atas agama-:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallambeliau bersabda : “ Kain yang melewati di bawah mata kaki dari sarung maka tempatnya di neraka” dan lafazh dari riwayat Ahmad : “Sarung seorang mukmin dari pertengahan betis ke bawah sampai di atas mata kaki. Dan yang berada di bawah itu maka tempatnya di neraka”[1].

Dan dari Abu Dzar radhiallahu ‘anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Tiga golongan Allah tidak mengajaknya berbicara di hari kiamat dan tidak pula melihat kepada mereka dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih “.

Abu Dzar berkata : “ Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakannya sebanyak tiga kali “. Abu Dzar berkata : “Sungguh merugi mereka itu, siapakah mereka wahai Rasulullah?

Beliau berkata : “ Al-Musbil (yang menyeret kainnya yang menutup mata kaki) Al-Mannan (yang selalu menyebut-nyebut kebaikannya dihadapan orang yang dia beri kebaikannya) dan orang yang membelanjakan barang dagangannya dengan sumpah palsu “[2].

Dari Ummu Salamah – istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam– beliau berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau menyebutkan tentang al-izar (sarung) “bagaimana dengan wanita wahai Rasulullah? Dia berkata : “ Dia menurunkan sejengkal “. Ummu Salamah berkata : “Kalau begitu kakinya masih tersingkap “.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Kalau begitu turunkan kebawah sampai satu hasta dan janganlah dia menambahkannnya” [3].

Catatan penting : Maksud dari memanjangkan pakaian perempuan adalah untuk menutup kedua kakinya, kalau ada pakaian perempuan yang tidak menutup kedua kakinya dan memakai bersama dengan pakaiannya itu kaus kaki atau yang semisalnya dari apa yang dapat menutupi maka hukumnya boleh. Ibnu Utsaimin berkata : “ Karena sesungguhnya menutup kedua kaki perempuan ada perkara yang disyariatkan bahkan wajib menurut pendapat mayoritas ulama, maka yang sepatutnya bagi perempuan agar menutup kedua kakinya apakah dengan pakaian yang lebar ataukah dengan kaos kaki atau kanadir (semacam sepatu wanita) atau yang mirip dengannya[4].

Catatan penting lainnya : sebagian orang beralasan atas bolehnya isbal (menutup mata kaki) bagi laki-laki untuk pakaian, dengan perbuatan Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, dan bahwa pakaian beliau pernah menjulur. Tidak ada hujjah pada permasalah itu bagi seorang pun. Bahkan atsar tersebut merupakan argument bantahan atas mereka.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang menyeret pakaiannya dengan sombong Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat , Abu Bakar berkata : “ Wahai Rasulullah sesungguhnya salah satu dari dua sisi sarung saya menjulur ke bawah kecuali saya jaga hal itu dari isbal “, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Kamu bukan orang yang membuatnya karena sombong”[5].

Kami katakan kepada orang yang beralasan tersebut : Kami memperbolehkan bagi anda menjulurkan pakaian anda apabila anda telah memenuhi tiga perkara : Pertama : Agar salah satu dari dua sisi sarungmu menjulur ke bawah dan bukan dari seluruh sisi pakaian. Kedua : Agar anda menjaga pakaian anda dengan mengangkatnya setiap kali terjatuh, sebagaimana Abu Bakar radhiallallahu ‘anhu melakukannya, maka hal itu bukan faktor kesengajaan dari anda.

Ibnu Hajar berkata : “Dalam riwayat Ahmad : “Sesungguhnya sarung saya terkadang melorot”, beliau berkata : Seakan-akan ikatannya lepas apabila dia bergerak ketika berjalan atau yang lain tanpa adanya kesengajaan darinya, apabila dia menjaga atas pakaian tersebut maka pakaiannya tidak melorot kebawah karena setiap kali hampir melorot beliau mengencangkan ikatannya. [6].

Ketiga : Nabi bersaksi bagi anda bahwa anda bukan termasuk orang yang melakukannya karena sombong! Dan yang terakhir ini yang sekarang ini telah tertiadakan dan tidak ada cara untuk mengadakannya.

Faedah : menyeret pakaian ada tiga macam :

Pertama : Menyeretnya karena sombong. Maka yang semacam ini Allah tidak akan melihat kepadanya di hari kiamat.

Kedua : Menyeretnya karena maksud tertentu dan terus-menerus seperti itu, dan bukan karena sombong namun hanya mengikuti kebiasaan manusia. Maka ini terkena padanya sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Kain yang ada di bawah mata kaki dari pakaian maka tempatnya di neraka”.[7].

Ketiga : menyeretnya karena menghadapi suatu kejadian, dan tidak ada padanya kesombongan, maka yang terakhir ini tidak apa-apa karena hal itu pernah terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ketika gerhana matahari : “Beliau bangkit dan menyeret pakaian beliau dengan tergesa-gesa hingga beliau tiba di masjid”[8].

Ibnu Hajar berkata : ” Hadits ini menerangkan apabila menyeret pakaian karena tergesa-gesa maka dia tidak termasuk dalam larangan…”[9]. Dan karena hal itu terjadi pada diri Abu Bakar sebagaimana yang telah kita kemukakan tadi[10].

  1. Haramnya Wanita Menampakkan Perhiasannya Kecuali Kepada Mereka Yang Allah Kecualikan :

Perhiasan wanita terbagi menjadi dua, perhiasan yang nampak ataukah yang bathin, Allah ta’ala berfirman :

“ Dan katakanlah – wahai Muhammad – kepada kaum mukminaat, agar supaya mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kemaluan mereka. Dan agar mereka tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali perhiasan yang nampak. Dan hendaknya mereka menjulurkan jilbab mereka diatas pakaian mereka. Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali kepada suami mereka atau kepada orang tua mereka atau kepada bapak-bapak suami mereka atau kepada anak-anak laki-laki mereka … “ (An-Nur : 31)

Firman Allah : “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang nampak dari mereka” yaitu pakaian yang nampak yang berlaku di dalam adat kebiasaan yang seringkali mereka kenakan, apabila pakaian tersebut bukan pakaian yang akan menyebabkan timbulnya fitnah. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu Sa’di berkata [11]. Yang tiada lain merupakan pakaian yang zhahir. Kemudian Allah ta’ala berfirman : Dan Janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka” yaitu yang bathin kecuali kepada para suami-suami dan bapak-bapak dan anak-anak….dst. Pakaian bathin adalah seperti wajah, leher, perhiasan dan dua telapak tangan. Dan dari sini diketahui bahwa wajah termasuk bagian dari perhiasan yang bathin yang haram bagi wanita muslimah untuk menampakkannya kecuali kepada mereka yang Allah kecualikan di dalam ayat.

Kemudian Allah ta’ala berfirman : ( An-Nuur : 31) “Dan janganlah mereka memukul dengan kaki-kaki mereka agar diketahui perhiasan mereka yang tersembunyi “. Yaitu :Janganlah mereka memukulkan ke tanah dengan kaki-kaki mereka, agar berbunyi apa yang ada pada mereka dari perhiasan, seperti gelang-gelang kaki dan selainnya, sehingga diketahui perhiasan yang dimilikinya, sehingga menjadi wasilah/perantara kepada fitnah[12].

  1. Haramnya Memakai Pakaian Yang Ada Padanya Shalban Atau Gambar :

Maksud kata Shalban adalah apa yang ada padanya gambar salib, dan maksud gambar disini adalah gambar bernyawa. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengingkari Aisyah Ummul Mukminin radhiallahu ‘anha ketika Aisyah membuatkan bantal yang bergambar sesuatu yang bernyawa untuk beliau.

Dari Al-Qasim dari Aisyah radhiallahu ‘anha : “Bahwa Aisyah membeli bantal yang ada padanya gambar-gambar, maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di pintu dan tidak masuk, maka aku (Aisyah) berkata : “Saya bertaubat kepada Allah dari dosa yang kuperbuat.” Beliau berkata : “ Bantal apa ini?” Aisyah berkata : “Untuk engkau duduk di atasnya dan engkau jadikan bantal ”. Beliau berkata : “Sesungguhnya pembuat bantal ini akan diadzab di hari kiamat, dikatakan kepada mereka hidupkanlah oleh kalian apa yang telah kalian ciptakan, dan sesungguhnya malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang ada padanya gambar”[13].

An-Nawawi mengatakan : “ Ulama berkata : sebab terhalangnya mereka (yaitu malaiakat) dari rumah yang ada padanya gambar karena keberadaannya adalah perbuatan maksiat yang keji, dan ada padanya penyamaan terhadap makhluk ciptaan Allah ta’ala, dan sebagian gambar tersebut adalah sesuatu yang disembah selain Allah ta’ala ”[14].

Dari Imran bin Haththan bahwa Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan kepadanya, beliau berkata : “Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan sesuatu pun di dalam rumah yang ada padanya salib kecuali beliau melepaskannya”[15]. Dan lafazh riwayat Ahmad : “ Tidaklah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan pakaian yang bergambar salib dirumah eliau kecuali beliau melepaskannya “

Dari apa yang telah lalu menjadi jelaslah bagi kita dengan sejelas-jelasnya haramnya memakai pakaian yang ada padanya gambar yang bernyawa atau salib, dan barang siapa yang dicoba dengan salah satu dari perkara tersebut maka hendaknya dia bertakwa kepada Allah dan agar menghapusnya dan merubah perilakunya. Kemudian apabila dia kehendaki dia dapat mempergunakannya dan mengambil memanfaatkannya, sebagaimana yang dilakukan Aisyah radhiallahu ‘anha, beliau berkata : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dari suatu perjalanan dan saya telah memasang tirai dengan kain tipis bergambar bernyawa milik saya pada bagian atas lubang angin rumah saya. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya beliau menyobeknya, dan beliau berkata : “ Manusia yang paling keras adzabnya di hari kiamat adalah orang-orang yang menyaingi ciptaan Allah “. Aisyah berkata : “ Maka kami menjadikan kain tersebut menjadi satu atau dua bantal”[16].

Masalah : Apakah sah shalat orang yang shalat dengan pakaian yang ada padanya gambar-gambar atau salib?

Jawaban : Al-Lajnah Ad-Daa`imah berkata di dalam salah satu fatwanya : tidak boleh seseorang shalat dengan memakai pakaian yang ada padanya gambar-gambar bernyawa apakah gambar manusia, burung, hewan-hewan ternak atau selainnya yang bernyawa, dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk memakainya pada selain shalat. Namun seseorang yang shalat dengan memakai pakaian yang ada padanya gambar bernyawa, shalatnya sah, namun dia berdosa, jikalau mengetahui hukum syar’i ….(pada jawaban lain tentang memakai jam atau salib Al-Lajnah menyatakan : ) Tidak boleh memakai jam atau salib, tidak di dalam shalat tidak pula pada selainnya sampai salib itu dihilangkan apakah dengan mengeruknya atau dengan sesuatu yang menutupinya, akan tetapi apabila seseorang shalat dan jam tangan/salib itu ada padanya maka shalatnya shahih, dan wajib atasnya bersegera menghilangkan salib, karena hal itu bagian dari syi’ar Nashrani, dan tidak boleh bagi seorang muslim untuk menyerupai mereka[17].

  1. Termasuk Perkara Sunnah Mendahulukan Bagian Yang Kanan Ketika Memakai Pakaian dan Yang Semisalnya :

Dalil amalan tersebut adalah hadirts Aisyah, Ummul mukminin radhiallahu ‘anha, beliau berkata : ” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai mendahulukan kanan di dalam bersuci, menyisir dan memakai sandal”. Pada lafazh Muslim : ” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallammenyukai mendahulukan kanan di dalam bersendal, menyisir dan bersuci”[18].

An-Nawawi berkata : “Ini adalah aturan baku didalam syariat, yaitu apabila suatu amalan tergolong sebagai penghormatan dan pemuliaan, seperti memakai pakaian, celana, sepatu, masuk masjid, siwak, bercelak, memotong kuku, memendekkan kumis, menyisir rambut, mencabut ketiak, mencukur rambut, salam di dalam shalat, mencuci anggota bersuci, keluar dari wc, makan dan minum, bersalaman, mecium hajar aswad, dan selain itu dari perkara yang termasuk dari makna tadi yang disunnahkan mendahulukan yang kanan, adapun perkara yang merupakan kebalikan dari yang telah disebutkan seperti masuk wc, keluar dari masjid, membuang ingus, al-istinja` – membersihkan dubur atau qubul setelah buang hajat -, melepas baju, celana dan sepatu, dan yang semisalnya yang disunnahkan mendahulukan bagian yang kiri padanya, dan semua itu disebabkan untuk memuliakan bagian yang kanan, wallahu a’lam[19].

  1. Sunnah Dalam Memakai Sandal :

Disunnahkan seseorang memasukkan bagian yang kanan terlebih dahulu kemudian bagian yang kiri, dan ketika melepaskan kedua kaki bagian yang kiri terlebih dahulu kemudian yang kanan.

Sunnah itu disebutkan di dalam hadits Abu Hurairah radhilallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian memakai sandal hendaknya dia memulai dengan yang kanan, dan apabila dia melepaskannya hendaknya dia mulai dengan yang kiri, hendaknya bagian yang kanan yang pertama yang dipakaikan sandal dan yang terakhir dilepas”[20].

Dan dimakruhkan bagi seorang muslim untuk berjalan dengan satu sandal Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila tali sandal salah seorang diantara kalian putus maka janganlah ia berjalan dengan memakai satu sandal sampai dia memperbaikinya”[21].

Dan dari beliau radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian berjalan dengan satu sandal hendaknya dia melepaskan keduanya atau memakai keduanya”[22].

Dan semua yang disebutkan agar diketahui hukumnya sebatas sunnah dan tidak sampai derajat wajib, maka barang siapa yang menghadapi suatu kejadian atau sandal atau sepatunya putus hendaknya dia berhenti sampai dia memperbaiki sandalnya atau melepas sandal yang satunya dan menyelesaikan perjalanannya. Tidak sepatutnya bagi seorang mukmin menyelisihi larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam walaupun hanya perkara yang makruh tidak sampai pada perkara yang haram.

Hendaknya seseorang itu membiasakan dirinya agar berada di atas petunjuk Nabi bagi secara zhahir maupun secara bathin, dan agar meraih kemulian ittiba’ yang hakiki.

Ketahuilah bahwa ulama menyebutkan beberapa sebab larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berjalan dengan satu sandal. An-Nawawi berkata : “ Ulama berkata : Sebabnya karena hal itu perkara yang buruk dan hukuman serta menyelisihi kewibawaan, karena memakai satu sandal menjadikan yang satu menjadi lebih tinggi dari yang lainnya maka jalannya menjadi susah bahkan hal itu menjadi sebab seseorang tergelincir[23] dan selainnya.

Kemudian saya mendapati bahwa Syaikh Al-Albani rahimahullah membawakan di dalam As-Silsilah Ash-Shahihah hadits yang diriwayatkan oleh At-Thahawi di dalam Musykil Al-Atsar : Dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Sesungguhnya syaithan berjalan dengan mengenakan satu sandal”[24]. Berpedoman dengan hadits ini akan menjadi jelas bagi kita sebab larangan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berjalan di atas satu sandal, dan bahwa hal itu merupakan jalannya syaithan. Apabila hal itu telah shahih dalam syariat Islam cukuplah bagi kita dari segala upaya untuk menguak sebab dari larangan tersebut..

Faedah : termasuk perkara sunnah adalah bertelanjang kaki – kadang-kadang- yaitu berjalan dalam keadaan tidak memakai alas kaki.

Dari Abu Buraidah radhiallahu ‘anhu bahwa salah seorang dari sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengadakan perjalanan mengunjungi Fudhalah bin Ubaid dan dia ada di Mesir. Lalu sahabat tadi tiba kepadanya dan berkata : “Adapun saya tidak datang ziarah kepadamu akan tetapi saya dan kamu saling mendengar satu hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, saya harap ilmu ada padamu tentang hadits tersebut. Fudhalah berkata : Apakah itu? Sahabat tadi berkata : Begini dan begitu. Sahabat itu berkata : Mengapa saya melihat kamu dalam keadaan kusut sedangkan kamu adalah pemimpin suatu daerah ? Fudhalah berkata : sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami dari sering bermewah-mewah. Sahabat tadi berkata : Mengapa saya tidak melihat engkau memakai sepatu? Fudhalah berkata : adalah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kepada kami agar bertelanjang kaki sekali waktu”[25].

  1. Apa Yang Diucapkan ketika Memakai Sesuatu Yang Baru :

Ada beberapa doa-doa yang disandarkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang beliau ucapkan ketika memakai sesuatu yang baru diantaranya :

a. “Ya Allah milikmulah segala pujian engkaulah yang memakaikannya kepadaku, aku memohon kepadamu dari kebaikan benda ini dan kebaikan yang dia dibuat karenanya, dan aku berlindung kepadamu dari kejelekan benda ini dan kejelekan yang dia dibuat karenanya”.

Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata : ” Apabila Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menemukan pakaian beliau menamakannya dengan nama pakaian tersebut, apakah itu berupa gamis ataukah imamah kemudian mengucapkan : ” Ya Allah milikmulah segala pujian engkaulah yang memakaikan pakaian ini kepadaku, aku memohon kepadamu dari kebaikan pakaian ini dan kebaikan yang dia dibuat karenanya, dan aku berlindung kepadamu dari kejelekan pakaian ini dan kejelekan yang dia dibuat karenanya…al-hadits”[26].

b. “Segala puji bagi Allah yang telah memakaikan pakaian ini kepadaku dan yang telah merizkikannya kepadaku tanpa adanya usaha dariku dan tidak pula kekuatan”.

Dari Mu’adz bin Anas, beliau : Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Barang siapa yang memakan makanan kemudian berkata : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku makanan ini dan memberikan rizki ini kepadaku tanpa adanya usaha dariku dan tanpa kekuatan, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu [dan yang akan datang] diampuni baginya, dan barang siapa yang memakai pakaian dan mengucapkan : Segala puji bagi Allah yang telah memberikan pakaian ini kepadaku dan memberikan rizki ini kepadaku tanpa ada usaha dariku dan tanpa kekuatan, niscaya dosa-dosanya yang terdahulu dan [yang akan datang] diampuni baginya”[27].

Dan disunnahkan bagi orang yang memakai pakaian yang baru untuk mengucapkan :

a. “Pakailah yang baru, hidup mulialah, dan matilah dalam keadaan syahid”.

Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata : ” Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Umar mengenakan pakaian putih, maka beliau berkata : “ Pakaianmu ini apakah sudah dicuci ataukah baru ?” Umar berkata : Tidak, bahkan dia pakaian yang sudah dicuci[28].

Beliau berkata : “ Pakailah yang baru, dan hiduplah yang mulia dan matilah dalam keadaan syahid[29].

Dan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam “Pakailah yang baru” : bentuk perintah namun yang diinginkan dengannya adalah doa agar Allah berkenan memberikan kepadanya rizki berupa pakaian baru[30].

b. “Jikalau telah usang semoga Allah ta’ala menggantikannya”.

Ummu Khalid bintu Khalid bin Sa’id meriwayatkannya dan berkata : “Didatangkan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pakaian Khamishah yang berwarna hitam yang kecil. Beliau bersabda : “Siapa menurut kalian yang sesuai dengan pakaian ini ? “ Orang-orang yang ada semuanya terdiam. Beliau berkata : “ Datangkan kepadaku Ummu Khalid ”. Maka didatangkan kepada beliau Ummu Khalid maka beliau mengambil kain khamishah tadi dan memakaikannya kepadanya dan bersabda : “ Kalaulah kain ini telah usang semoga Allah menggantikannya.”

Dan pada kain tersebut gambar berwarna hijau atau berwarna kuning, beliau berkata : wahai Ummu Khalid ini bagus, ini bagus (dalam bahasa Habasyah)”[31].

Abu Nadhrah berkata tentang hadits Abu Sa’id Al-Khudri –yang lalu- : Apabila salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai pakaian baru maka dikatakan kepadanya : Apabila telah usang semoga Allah ta’ala menggantikannya[32].

Faedah : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ummu Khalid dengan kunyahnya bukan dengan namanya, dalam hal ini adanya penjelasan tentang perhatian beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada anak kecil dan baiknya kelembutan beliau kepada mereka. Memanggil anak kecil yang laki-laki maupun yang perempuan dengan kunyah sebagai pengganti nama mereka, memberi kesan bagi mereka akan adanya perhatian kepada mereka dan bahwa mereka juga memiliki derajat dan kedudukan sebagaimana orang besar. Barang siapa yang mencoba hal ini akan mengetahui hal tersebut.

Catatan penting: Wajib untuk merealisasikan sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hal mendahulukan kanan, dan disini disunnahkan mendahulukan bagian kanan ketika memakai sesuatu dan mendahulukan kiri ketika melepas sesuatu.

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.


[1] HR. Al-Bukhari (5787) Ahmad (10177) dan An-Nasaa’i (5330).

[2] HR. Muslim (106) Ahmad (20811) At-Tirmidzi (1211) An-Nasaa’i (2564) Abu Daud (49087) Ibnu Majah (2208) dan Ad-Darimi (2605).

[3] HR. Ahmad (25972) Abu Daud (4117) sesuai lafazh haditsnya dan Al-Albani berkata : “shahih”. At-Tirmidzi (1733) An-Nasaa’i (5327) Ibnu Majah (3580) Malik (1700) dan Ad-Darimi (2644).

[4] Fatawa As-Syaikh Ibnu Utsaimin (2/838).

[5] HR. Al-Bukhari (5784) dan lafazh hadits sesuai periwayatannya, dan Muslim (2085) Ahmad (5328) At-Tirmidzi (1730) An-Nasaa’i (5335) Abu Daud (4085) Ibnu Majah (3569) dan Malik (16696).

[6] Fathul Bari (10/266).

[7] HR. Al-Bukhari (5787) Ahmad (9063) dan An-Nasaa’i (5330).

[8] HR. Al-Bukhari (5785) Ahmad (19877) dan An-Nasaa’i (1502).

[9] Fathul Bari : (10/267).

[10] Ini adalah ringkasan apa yang syaikh Muhammad bin As-Shalih Al-Utsaimain sebutkan di dalam syarah beliau tentang kitab Al-Libas dari shahih Al-Bukhari (kaset nomer 2 side A).

[11] Taisir Al-Karim Ar-Rahman fi tafsir Kalam Al-Mannan (5/410).

[12] Tafsir Ibnu Sa’di (5/412).

[13] HR. Al-Bukhari (5957) Muslim (2107) Ahmad (25559) dan Malik (1803).

[14] Syarh Muslim jilid ke tujuh (14/69).

[15] HR. Al-Bukhari (5952) Ahmad (23740) dan Abu Daud (4151).

[16] HR. Al-Bukhari (5954) dan lafazh hadits lafazh beliau, Muslim (2107), Ahmad (24197) An-Nasaa’i (761) dan Ibnu Majah (3653).

[17] Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah nomer (5611) (6/179) dan nomer (2615) (6/183).

[18] HR. Al-Bukhari (5854) Muslim (268) Ahmad (24106) At-Tirmidzi (608) An-Nasaa’i (421) Abu Daud (4140) dan Ibnu Majah (401).

[19] Syarah Shahih Muslim jilid kedua (3/131).

[20] HR. Al-Bukari (5856) Muslim (2097) Ahmad (7753) At-Tirmidzi (1779) Abu Daud (4139) Ibnu Majah (3616) dan Malik (1702).

[21] HR. Muslim (2098) Ahmad (9199) dan An-Nasaa’i (5369).

[22] HR. Al-Bukhari (5855) Muslim (2098) Ahmad (7302) At-Tirmidzi (1774) Abu Daud (4136) Ibnu Majah (3617) dan Malik (1701).

[23] Syarh shahih Muslim jilid 7 (14/62).

[24] Al-Albani berkata setelah membawakan sanadnya : hadits ini sanadnya shahih dan perawinya seluruhnya tsiqah dan merupakan para perawi yang dipergunakan oleh As-Syaikhani selain Ar-Rabi’ bin Sulaiman Al-Muradi dan dia perawi yang tsiqah. Lihat As-Silsilahtus Ash-Shahihah dengan no. (348) (1/616-617).

[25] HR. Ahmad (23449) Abu Daud (4160) lafazh hadits lafazh beliau dan Al-Albani menshahihkannya.

[26] HR. At-Tirmidzi (1767) Abu Daud (4160) dan lafazh hadits lafazh beliau dan Al-Albani menshahihkannya.

[27] HR. Abu Daud (4023) dan lafazh hadits lafazh darinya, dan Al-Albani menghasankannya tanpa adanya tambahan [dan yang akan datang] pada dua tempat. Dan Ad-Darimi (2690).

[28] Al-Albani berkata : dan di dalam riwayat lain (baru). Shahih Ibnu Majah (3/188). Cet. Maktabah Al-Ma’arif. Ar-Riyadh cetakan pertama untuk cetakan yang baru 1417 H.

[29] HR. Ahmad (5588) Ibnu Majah (3558) dan lafazh hadits lafazhnya, dan Al-Albani menshahihkan dengan no. (2879).

[30] Lihat Syarah Sunan Ibnu Majah karya As-Sindi atas hadits ini (3558).

[31] HR. Al-Bukhari (5833) Ahmad (26517) dan Abu Daud (4023).

[32] HR. Abu Daud (4020) dan hadits ini penyempurna hadits Abu Sa’id Al-Khudri yang telah berlalu penyebutannya.

Iklan

Satu Tanggapan to “Kitab Al-Adab : Adab Berpakaian Dan Berhias (2)”

  1. iduy said

    Assalamu’alaikum
    Terima kasih atas tulisannya,bermanfaat skali..
    ijin mengcopynya ya mas untuk menambah ilmu sekalian menyebarkannya..insya Allah..
    Semoga Allah membalasnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: