Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

KItab Al-Adab : Adab Memakai Jalan

Posted by Abahnya Kautsar pada 16 September 2008

Bab Adab Memakai Jalan

Allah ta’ala berfirman :

“ Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih Suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

“ Kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya.” (An-Nur : 30-31)

Dari Abu Said Al-khudri radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian duduk-duduk di jalan-jalan, para sahabat berkata : “Kami tidak melakukan apapun juga dan jalan-jalan tersebut hanya majlis kami yang kami jadikan tempat ngobrol.

Beliau berkata : “Apabila yang kalian inginkan hanya majlis maka hendaknya kalian memberikan kepada jalan tersebut haknya. Para sahabat berkata : Apakah hak jalan tersebut?

Nabi berkata : “Menundukkan pandangan, menahan dari mengganggu orang lain, membalas salam, amar ma’ruf dan nahi mungkar”[1].

Di antara adab-adab ketika berada jalan :

  1. Wajibnya Menunaikan Hak-hak Jalan :

Hak-hak jalan telah Nabi jelaskan dan dia adalah : (menundukkan pandangan, menahan gangguan, membalas salam, amar ma’ruf dan nahi mungkar) dan hak-hak ini bukan terbatas ini saja, ini hanya sebagiannya saja, hadits-hadits yang lainnya menjelaskan hak-hak jalan selain yang disebutkan ini, maka diketahui bahwa yang disebutkan tadi yang ada di dalam hadits bukanlah pembatasan.

a. Menundukkan pandangan. Perintah menundukkan pandangan berlaku bagi laki-laki dan perempuan dengan batasan yang sama, yang demikian itu karena melepas pandangan pada perkara yang diharamkan dapat mendatangkan adzab di dalam hati dan membuatnya sakit. Dan dia menyangka bahwa hal itu akan memberkan ketenangan bagi dirinya dan memperindah hatinya. Akan tetapi sangatlah jauh persangkaan tersebut. Yang paling besar adzabnya diantara mereka adalah mereka yang kecanduan, sebagaimana perkataan Ibnu Taimiyah: “Sengaja memandang akan mewariskan pada hati kecintan yang akan menyiksa seseorang. Dan apabila semakin kuat sampai menjadikannya cinta dan kerinduan yang menyala-nyala dan siksaan akan semakin bertambah pedih. Tidak berbeda, jika seandainya dia mampu mendapatkan apa yang dia cintai ataukah tidak mampu. Apabila dia tidak mampu maka dia berada pada adzab yang pedih berupa kesedihan, kemurungan dan kesusahan hati, dan apabila dia mampu maka dia akan berada pada adzab yang pedih berupa rasa takut untuk berpisah, dan berusaha untuk menyayanginya dan berusaha mendapatkan keridhaannya![2].

Dan asal dari semua hal tersebut adalah pandangan, kalau saja seseorang itu menundukkan pandangannya maka jiwa dan hatinya akan tenang.

Dan syariat yang suci ini tidak melalaikan segala sesuatu yang terkadang manusia terjatuh padanya tanpa sengaja. Bahkan memerintahkan bagi yang telah melihat perempuan asing tanpa sengaja agar memalingkan pandangannya dan jangan berlama-lama.

Jarir bin Abdullah radhiallahu ‘anhu berkata : “Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang padangan tiba-tiba maka beliau memerintahkanku agar saya memalingkan wajahku”[3].

Makna memandang tiba-tiba adalah memandang seorang wanita asing tanpa sengaja maka tidak ada dosa atasnya, dan apabila dia belama-lama dalam memandang maka dia berdosa menurut hadits ini, sebagaimana yang dikatakan oleh An-Nawawi[4].

b. Menahan gangguan. Diantara hak-hak jalan adalah menahan gangguan, dan tidak menyakiti fisik mereka ataukah kehormatan mereka.. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Seorang Muslim adalah seseorang dimana kaum muslimin lainnya selamat dari lisan dan tangannya…al-hadits”[5]

Hadits ini diantara jawamiul kalim Rasulullah, makna lisan disini mencakup orang yang berbicara dengan lisannya dan mengganggu orang lain dalam perkara menjatuhkan harga diri dan mencela mereka , dan mencangkup orang yang mengeluarkan lidahnya sebagai ejekan dan celaan, demikian pula tangan karena gangguan yang diakibatkan oleh tangan tidak terbatas hanya pada pukulan saja, bahkan dapat melewati kepada perkara-perkara yang lain seperti memfitnah orang lain, memberikan kemudharatan kepada mereka dengan cara menulis tulisan yang menyesatkan, membunuh dan yang semisalnya. Bahkan diantara bentuk kesempurnaan agama ini bahwa seseorang menahan gangguannya dan kejahatannya kepada orang lain adalah bentuk shadaqah yang dia bersedekah bagi dirinya.

Di dalam hadits Abu Dzar radhiallahu ‘anhu adanya keterangan yang sangat jelas tentang hal tersebut, beliau berkata : Saya bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Amalan apakah yang paling utama? Nabi bersabda : “ Iman kepada Allah dan berjihad di jalannya “. Saya berkata : Budak yang manakah yang lebih utama dibebaskan? Beliau berkata : “Yang paling tinggi harganya dan yang paling berharga disisi majikannya “. Saya berkata : “Kalau saya tidak sanggup melakukannya? “ Beliau bersabda: “ Engkau membantu orang yang membuat sesuatu atau membuat sesuatu untuk bagi orang yang bingung “. Abu Hurairah berkata : Kalau saya tidak sanggup melakukannya? Nabi berkata : “Engkau menghalangi orang lain dari kejelekan, karena hal itu adalah shadaqah engkau bersedekah dengannya untuk dirimu” dan dalam riwayat Muslim : “Engkau menahan kejelekanmu dari mengganggu orang lain maka sesungguhnya hal itu adalah shadaqah darimu untuk dirimu sendiri”[6].

c. Menjawab Salam. Diantara hak-hak jalan : membalas salam, dan perkara ini adalah wajib berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu : “Lima perkara yang wajib bagi seorang muslim terhadap saudaranya : membalas salam, mendoakan orang yang bersin, memenuhi undangan, menjenguk orang saki dan mengikuti jenazah”[7].

Kebanyakan orang meremehkan hal ini, dan mencukupkan salam hanya kepada orang yang dikenal saja, siapa yang dia kenal dia salami atau membalas salamnya, dan orang yang dia tidak kenal dia tidak memberikan perhatian kepadanya, dan ini adalah kekurangan dan menyelisihi sunnah[8].

d. Wajibnya Amar Ma’ruf Dan Nahi Mungkar.

Bab ini sangat besar kedudukan dan kadarnya, dengan perkara ini menjadikan ummat ini menjadi ummat yang terbaik :

“ Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. “( Ali Imron : 110 ).

Ibnu Katsir berkata : Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu berkata : Barang siapa yang senang menjadi bagian dari ummat ini hendakknya dia menunaikan syarat Allah pada ummat tersebut. HR. Ibnu Jarir, barang siapa yang tidak disifatkan dengan hal itu maka dia mirip dengan ahlul kitab yang Allah cela mereka dengan firmannya :

“ Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. “[Al-Maidah : 79].

Dan dikarenakan meninggalkan amar ma’ruf dan nahi mungkar maka siksa ditimpakan bagi mereka. Al-Imam Ahmad telah meriwayatkan di dalam Musnadnya, beliau berkata : “Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berdiri dan bertahmid kepada Allah Azza wa Jalla dan memujinya dan berkata : wahai manusia sesungguhnya kalian membaca ayat ini :

“Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu Telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, Maka dia akan menerangkan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan”. [Al-Maidah : 5].

Dan sesungguhnya kalian meletakkan ayat ini pada selain tempatnya, sesungguhnya saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya apabila manusia melihat kemungkaran dan dia tidak merubahnya hampir-hampir saja Allah memberikan hukuman kepada semuanya”[9].

Dan di dalam perkara amar ma’ruf dan nahi mungkar ada beberapa faedah yang sangat bernilai bagi umat Islam, diantaranya : Keselamatan perahu komunitas dari kebinasaan dan ketenggelaman. Diantaranya : menumpas kebatilan dan pelakunya, diantaranya : Melimpahnya kebaikan dan diskrimas perbuatan kejelekan, dan diantaranya : Membuka pintu keamanan, diantaranya : Menyebarkan keutamaan dan mengekang kehinaan….dst.

Dan amar ma’ruf dan nahi mungkar tidak diterbatas pada satu sisi tertentu saja (seperti contoh lembaga tertentu) atau orang-orang tertentu (seperti orang-orang yang terkenal), bahkan amar ma’ruf dan nahi mungkar wajib atas setiap orang, sesuai kemampuannya. Hadits yang menjelaskan masalah ini konteksnya umum tidak mengkhususkan salah seorang saja.

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu berkata saya mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaknya dia merubahnya dengan tangannya, jikalau dia tidak mampu hendaknya dia rubah dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan yang demikian itu selemah-lemahnya keimanan”[10].

Akan tetapi sepatutnya diarahkan kepada berapa perkara berikut ini :

Pertama : Bertahap dalam mengingkari, dan janganlah seseorang berpindah kepada satu tingkatan sampai dia tidak mampu dari tingkatan sebelumnya, maka janganlah ia mengingkari dengan hatinya sedangkan dia mampu mengingkari dengan lisannya, dan demikian seterusnya.

Kedua : Bahwa barang siapa yang memiliki kekuasaan maka hendaknya pengingkarannya harus dengan pengingkaran yang paling tinggi, maka penguasa suatu keluarga dialah pemimpin yang ditaati di dalam rumah maka merubah kemungkaran hendaknya dengan tangannya dan dia mampu menghilangkan kemungkaran dengan tangannya dan tidak ada udzur akan hal tersebut.

Ketiga : Mengilmui sebelum mengingkari kemungkaran, bahwa perbuatan tersebut betul-betul perbuatan mungkar sebelum mengingkari, apakah perbuatan tersebut termasuk perbuatan yang dibolehkan adanya perbedaan pendapat, dan pada perkara ini banyak kelompok manusia salah padanya, maka hendaknya berhati-hati.

Keempat : Bagi orang yang mengingkari hendaknya menghadirkan kaidah mafsadah dan maslahat dan agar tidak segera mengingkari kecuali setelah mengetahui bahwa mashlahat itu lebih kuat daripada mafsadah, maka kapan seseorang tahu kuatnya mafsadah wajib baginya untuk menahan agar jangan sampai dia membuka pintu kejelekan dan kerusakan.

Kelima : Apabila orang yang mengingkari tidak mampu melalui tahapan pertama dan kedua, maka jangan sampai hatinya lalai, dia melewati kemungkaran tanpa mengingkari di dalam hatinya dan menampakkan pengaruh kemungkaran tersebut dari raut wajahnya.

e. Menunjukkan Jalan Bagi Orang Yang Bertanya Tentangnya. Diantara hak-hak jalan –juga- mengarahkan orang yang bertanya tentang jalan dan menunjukkannya kepadanya, sama saja apakah orang yang bertanya itu orang yang lagi tersesat ataukah orang yang buta.

Kewaiban ini dijelaskan di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu tentang kisah orang-orang yang bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang hak ketika berada di jalan –beliau- berkata : “Dan membimbing jalan bagi orang yang bertanya tentangnya”[11]. Dan di dalam hadits Abu Hurairah yang lain menjelaskan bahwa menunjukkan jalan termasuk shadaqah, dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “Menunjukkan jalan shadaqah”[12].

  1. Menghilangkan Sesuatu Yang Mengganggu Di Jalan :

Adab-adab yang disunnahkan di jalan adalah; menghilangkan sesuatu yang mengganggu di jalan, bahkan hal ini termasuk keimanan. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Iman itu ada tujuh puluh sekian cabang atau enam puluh sekian cabang, cabang yang paling utama adalah ucapan laa ilaaha illallaah, dan cabang yang paling rendah adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan”[13].

Dan perbuatan tersebut termasuk dari shadaqah, dan dengan sebab perbuatan ini pula seseorang dimasukkan ke dalam surga. Di dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Setiap ruas anggota badan manusia ada sedekah padanya…kemudian beliau berkata : “Menyingkirkan sesuatu yang mengganggu di jalan adalah sedekah”[14].

Dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : ” Ketika seseorang berjalan di jalan dia mendapatkan ranting yang berduri berada di atas jalan dan dia menyingkirkannya, maka Allah berterima kasih untuknya dan dia pun diampuni dosa-dosanya….al-hadits

Pada riwayat Abu Daud : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Seorang laki-laki yang belum pernah beramal satu amal kebaikan pun menyingkirkan ranting berduri di jalan, baik dari pohon yang menghalangi jalan kemudian dia memotongnya lalu dia buang, ataukah sesuatu yang menggeletak dan ia pun menyingkirkannya, maka Allah pun berterima kasih kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga”[15].

  1. Haramnya Buang Hajat Di Jalan Yang Dilalui Manusia Atau Di Tempat Berteduh :

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan agar tidak buang hajat di jalan yang dilalui manusia atau tempat mereka berteduh, karena hal itu hak umum, maka tidak boleh bagi seseorang untuk merusak jalan-jalan manusia yang mereka berjalan di atasnya, atau tempat mereka berteduh yang mana padanya mereka duduk-duduk, dan berlindung dari panasnya matahari.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Takutlah kalian kepada dua perkara yang terlaknat. Para sahabat bertanya : Apakah dua perkara yang terlaknat itu wahai Rasulullah?

Beliau bersabda : “Buang hajat di jalan yang dilalui manusia dan di tempat mereka berteduh”[16].

Makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Takutlah kalian dari dua perkara yang terlaknat” yaitu : Jauhilah kalian dua perkara yang mendatangkan laknat manusia dan cacian mereka. Disebabkan siapa saja yang buang hajat di jalannya manusia dan tempat berteduh mereka, hampir tidak selamat dari celaan dan cacian mereka[17].

  1. Laki-laki Lebih Berhak Berada Di Tengah Jalan Daripada Wanita :

Diantara bentuk antusias Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk membedakan wanita dan laki-laki, dan untuk memutuskan setiap jalan yang dapat membawa kepada fitnah wanita, adalah dengan menjadikan tepi jalan bagi wanita dan bagian tengah untuk laki-laki, sehingga laki-laki tidak bercampur-baur dengan wanita dan agar fitnah tidak bertambah besar –sebagaimana keadaan sekarang kecuali yang orang yang Allah rahmati-.

Dari Abu Said Al-Khudri radhiallahu ‘anhu bahwa dia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dan dia sedang berada di luar masjid, dan laki-laki dan wanita bercampur baur di jalan, maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada wanita : “mundurlah kalian karena bukan bagi kalian untuk berada di tengah-tengah jalan[18], hendaknya kalian -berada di tepi jalan” dan adalah wanita menyentuh tembok sampai-sampai pakaian mereka tersangkut di tembok karena rapatnya pakaian tersebut ke tembok[19].

Dan jalannya wanita sejajar sisi samping jalan lebih tertutup bagi mereka, dan lebih dekat kepada rasa malu, dan agar mereka jangan bersaing dengan laki-laki di jalan mereka dan bercampur baur bersama mereka menjerumuskan diri-diri mereka dan selain mereka kepada fitnah. Dan awal fitnah yang terjadi pada bani Israil adalah pada wanita, dan kebinasaan mereka adalah disebabkan hal tersebut.

  1. Membantu Seseorang Naik Kendaraan Atau Membantu Mengangkatkan Barangnya Ke Kendaraannya :

Dan termasuk adab yang disunnahkan diamalkan ketika berada di jalan adalah apabila engkau melihat seorang laki-laki ingin mengendarai kendaraannya dan hal itu sulit baginya, maka hendaknya kamu membantunya untuk hal tersebut, atau membantunya mengangkatkan barangnya, dan hal itu mungkin dikerjakan sekarang ini, karena sebagian orang-orang yang tua terkadang tidak memungkinkan lagi mengendarai ( pedati yang beroda ) dengan mudah, terlebih lagi apabila roda-roda tersebut besar.

Perbuatan itu termasuk shadaqah yang mendatangkan pahala bagi seorang muslim.

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda : “Setiap ruas anggota badan ada shadaqah atasnya, setiap hari, menolong seseorang naik kendaraannya membawanya kepada kendaraannya atau mengangkatkan barangnya ke kendaraan adalah shadaqah…” dan lafazh Muslim “Dan kamu membawakannya kepada kendaraannya”[20].

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.


[1] HR. Al-Bukhari (2465).

[2] Al-Fatawa (14/157-156).

[3] HR. Muslim (2159) Ahmad (17679) At-Tirmidzi (2776) Abu Daud (2148) dan Ad-Darimi (2643).

[4] Syarah Muslim jilid ke 7 (14/115).

[5] HR. Al-Bukhari (10) Muslim (40) Ahmad (6714) An-Nasaa’i (4997).

[6] HR. Al-Bukhari (2418) Muslim (84) dan Ahmad (20824).

[7] HR. Al-Bukhari (1240) Muslim (2162) dan lafazh hadits lafazh riwayat beliau, Ahmad (27511) At-Tirmidzi (2737) An-Nasaa’i (…938) Abu Daud (5030) dan Ibnu Majah (1420).

[8] Tentang pembahasan ini telah berlalu di dalam adab-adab salam –silahkan lihat kembali- .

[9] Tafsir Al-Qur`an Al-Azhim (1/387) (Daar Al-Kutub Al-Ilmiyah).

[10] HR. Muslim (49) Ahmad (10689) At-Tirmidzi (2172) An-Nasaa’i (5008) Abu Daud (1140) dan Ibnu Majah (1270).

[11] HR. Abu Daud (4815) Al-Albani berkata : “hasan shahih” no. hadits (4031).

[12] HR. Al-Bukhari (2891).

[13] HR. Al-Bukhari dari riwayat Abu Hurairah radhiallahu anhu (9) tanpa menyebutkan kata lafazh imathah, Muslim (35) dan lafazh hadits dari lafazh beliau, Ahmad (8707) (2614) An-Nasaa’i (5005) Abu Daud (4676) dan Ibnu Majah (57).

[14] HR. Al-Bukhari (2989) Muslim (1009) dan lafazh hadits ini dari lafazh beliau, dan Ahmad (27400).

[15] HR. Al-Bukhari (654) Muslim (1914) dan lafazh hadits ini dari lafazh beliau, Ahmad (7979) At-Tirmidzi (1958) Abu Daud (5245) Ibnu Majah (3682) dan Malik (295).

[16] HR. Muslim (269) Ahmad (8636) dan Abu Daud (25).

[17] Telah berlalu penyebutan sebagian pembahasan tentang masalah ini di dalam bab adab buang hajat.

[18] Di dalam An-Nihayah : (an tahqaqna) : yaitu mengendarai pada haknya yaitu ditengahnya. Hal itu juga disebutkan di dalam Aunul Ma’bud jilid ketujuh (14/128).

[19] HR. Abu Daud (5282).

[20] HR. Al-Bukhari (2891) Muslim (1009) dan Ahmad (27400).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: