Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab Al-Adab : Adab-Adab Berinteraksi Dengan Kaum Wanita

Posted by Abahnya Kautsar pada 15 Oktober 2008

Adab-adab berinteraksi dengan kaum wanita

Allah ta’ala berfirman:

“ Dan bagi kaum wanita hak yang seimbang sebagaimana kewajiban mereka dengan cara-cara yang makruf “ ( Al-Baqarah : 228 )

Seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Apakah hak wanita atas diri suaminya ? Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memakaikannya pakaian apabila engkau memakai pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak memburukkannya, dan tidak memboikotnya kecuali didalam rumah “[1]

Diantara adab-adab berinteraksi dengan kaum wanita:

  1. Anjuran menikah dan hal tersebut termasuk bagian dari As-Sunnah

Kaum laki-laki yang dengan tabiat dasar mereka punya kecendrungan kepada wanita, dan juga kaum wanita ada kecendrungan kepada kaum laki-laki, sebagai suatu fitrah, Syariat Islam yang suci berkeinginan agar fitrah ini diarahkan kepada jalan yang shahih yang akan menjaga nasab keturunan mereka. Dan juga untuk menertibkan garis keturunan mereka agar tidak sebagaimana hewan ternak yang masing-masingnya bertumpuk. Dan jalan tersebut tiada lain adalah pernikahan.

Olehnya itu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan untuk menikah dan menernagkan sekian banyak faedah pernikahan. Dan mendoorng umat beliau untuk melangsungkan pernikahan. Beliau bersabda: “ Wahai segenap para pemuda, siapa saja diantara kalian telah snaggup memenuhi kemampuannya, maka hendaknya dia menikah. Karena menikah lebih menundukkan pndangan, dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa diantara kalian yang tidak sanggup maka wajib baginya untuk berbpuasa, karena puasa akan dapat menjaganya “[2]

Dan hadits Anas radhiallahu ‘anhu yang mengisahkan tiga orang sahabat yang dikabarkan kepada mereka perihal ibadah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Sepertinya mereka saling menggunjingkannya dan memperbincangkannya. Mereka lalu mengharamkan bagi diri mereka sesuatu yang Allah telah halalkan bagi mereka. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada mereka, menegur perbuatan mereka: “ Kaliankah yang mengatakan dmeikian dan demikian ? Demi Allah sesungguhnya saya adalah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian dan paling bertakwa kepada-Nya daripada kalian. Akan tetapi saya berpuasa dan juga berbuka, saya mengerjakan shalat dan juga tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang enggan dengan sunnahku maka dia bukan bagian dari – umat-ku “[3]

Dan dari beliau juga radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dijadikan hanyalah kepada saya kecintaan antara dunia yang baik dan wanita, dan shalat dijadikan sebagai penyejuk jiwaku.”[4]

Pembujangan dan berpaling dari pernikahan bukanlah dari petunjuk para Rasul, Imam Ahmad berpendapat : Bukanlah pembujangan itu dari perkara Islam pada sesuatu hal. Barang siapa yang menyerumu untuk tidak menikah, maka dia telah menyerumu kepada selain Islam.[5]Diwajibkan untuk menikah bagi orang yang telah mampu atasnya, dan takut pada jiwanya akan perbuatan zina, sedangkan jiwanya menampakkan keinginan yang sangat kepadanya, dikarenakan jika tidak dia lakukan ditakutkan atasnya akan terjerumus kedalam perbuatan yang keji, seperti zina dan selainnya dan hal itu haram.

  1. Mempergauli wanita dengan makruf

Dalil mempergauli kaum wanita tertera didalam firman Allah ta’ala :

“ Dan bagi kaum wanita hak yang seimbang sebagaimana kewajiban mereka dengan cara-cara yang makruf “ ( Al-Baqarah : 228 )

Maksudnya bahwa kaum wanita mempunya beberapa hak dan jgua kewajiban atas suami mereka, sebagaimana suami mereka mempunyai hak yang wajib maupun sunnah.

Dan acuan hak-hak suami istri kembali kepada suatu yang telah makruf. Yaitu kebiasaan yang berlaku dinegeri itu. Dan zaman tersebut, berlaku bagi wanita dan bagi juga laki-laki. Dan hal itu beragam mengikuti perbedaan zaman dan tempat, keadaan , individu, dan ada istiadat.

Ini merupakan dalil bahwa nafkah, pakaian , bergaul, tempat tinggal, demikian juga berhubungan suami istri – kesemuanya dikembalikan kepada perkara yang telah makruf. Ini yang mengharuskan akad yang berlaku mutlak. Adapun yang disertai dengan syarat, maka haruslah disesuaikan dengan syaratnya, kecuali syarat yang menghalalkan suatu yang haram atau mengharamkan suatu yang halal. Demikian yang disbeutkan oleh Ibnu Sa’di[6].

Ibnu Abbas mengatakan: “ Sesungguhnya saya menyukai ebrhias bagi istriku sebagaimana istriku berhias dihadapanku, dikarenakan Allah berfirman:

“ Dan bagi kaum wanita hak yang seimbang sebagaimana kewajiban mereka dengan cara-cara yang makruf “ ( Al-Baqarah : 228 )[7]

Pada hadits Mu’awiyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu, beliau berkata: Seseorang bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Apakah hak seorang wanita kepada istrinya ?

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Engkau memberinya makan apabila engkau makan, memakaikannya pakaian apabila engkau memakai pakaian, tidak memukul wajahnya, tidak memburukkannya, dan tidak memboikotnya kecuali didalam rumah “[8]

Masalah : Apakah wajib bagi istri untuk melayani suaminya pada perkara-perkara yang telah menjadi ekbiasaan, seperti menyiapkan makanan, mengatur rumah dan lain sebagainya ?

Jawab : Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan : Ulama berbeda pendapat dalam hal ini : Apakah wanita tersebut wajib melayani suaminya, seperti membersihkan kediaman, mengatur makanan, minuman dan roti, membuat adonan roti, memberi makan kepada para budak dan hewan ternaknya, seperti jerami bagi tungganganya dan lain sebagainya ?

Diantara mereka ada yang berpendapat : Pelayanan seperti itu tidaklah wajib. Namun ini pendapat yang lemah, sebagaimana lemahnya pendapa tyang menyatakan bahwa tidak wajib bagi suami mempergauli istrinya dnegna berhubungan suami istri. Karena inibukan termasuk interaksi yang makruf bagi suami. Melainkan teman seperjalanan yang seumpama seorang manusia beserta temannya didama sebuah ekdiaman, apabila tidak membantunya mencapai kemashalahatan tidaklah dikatakan telah berinteraksi dengan cara yang makruf.

Ada yang berpendapat – dan ini pendapat yang benar -: wajibnya melayani suami. Karena seorang suami adalah penghulu bagi wanita sebagaimana tertera didalam Kitabullah. Wanita adalah pelayan bagi sang suami menurut sunah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan seorang pelayan dan hamba sahaya wajib memberikan pelayanan. Dan hal itu juga meruapkan suatu yang makruf.

Diantara ulama ada yang berpendapat yang wajib adalah pelayanan yang ringan. Diantara ulama ada yang berpendapat : Wajib memberi pelayanan yang makruf. Dan inilah pendapat yang benar. Seorang wanita wajib memberi pelayan yang makruf , berupa pelayanan yang seimbang antara wanita dan suami. Pelayanan tersebut beragam macamnya disesuaikan dengan keadaan. Pelayanan seorang wanita badui tidaklah sama dengan pelayanan wanita desa, dan pelayanan wanita yang memiliki fisik kuat tidaklah sama dengan pelayanan wanita yang berfisik lemah.[9]

  1. Berlaku lembut kepada wanita dan berwasiat kepada mereka

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memerintahkan kepada kaum aki-laki untuk memberi wasiat kepada kaum wanita dengan kebaikan. Karena wanita adalah kaum yang lemah. Membutuhkan seseorang yang dapat berbuat baik serta berlaku lembut kepada mereka. Bukannya seseorang yang berlaku keras lalu memperlakukan mereka layaknya laki-laki. Oleh karena itulahdan juga dengan ebberapa alasan lainnya, diperintahkan bagi kaum laki-laki untuk berwasiat kepada kaum wanita dan berlaku lembut kepada mereka.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menceritakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Berilah wasiat kepada kaum wanita dengan kebaikan, karena sesungguhnya kaum wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Apabila anda hendak meluruskannya maka anda akan mematahkannya dan apabila anda membiarkannya maka akan terus bengkok. Maka berilah wasiat kepada kaum wanita.

Diantara bentuk wasiat kepada kaum wanita adalah memberi mereka pengajaran terhadap beberapa hal yang mereka butuhkan berkaitan dnegna perkara-perkara agama mereka, seperti hukum-hukum bersuci, haidh dan nifas, shalat, zakat jikalau mereka mempunyai harta … dan seterusnya.

Apabila dia tidak snaggup mengajari mereka karena kurangnya ilmu, maka wajib baginya untuk memudahkan kepada mereka segala sesuatu yang menjadikan mereka dapat mempelajari ilmu syar’i yang mereka butuhkan yang peribadatan mereka tidak akan benar kecualidenganilmu tersebut. Semisal menyiapkan buku-buku syar’iyah, kaset-kaset, ataukah menghadirkan mereka ke malis ilmu dan sarana-sarana ilmu lainnya.

Diantara bentuk wasiat kepada kaum wanita adalah mendidik mereka dan mewajibkan mereka menegakkan segala kewajiban kepada Allah atau hal-hal yang telah diwajibkan bagi mereka. Mengharuskan mereka mengenakan jilbab yang syar’i. Allah ta’ala berfirman:

“ Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan bersabarlah engkau dalam mengerjakannya “ ( Thaha : 132 )

Allah ta’ala berfirman:

“ Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang mana bahan bakarnya adalah kaum manusia “ ( At-Tahrim : 6 )

Dan pada hadits Malik bin Al-Huwairist radhiallahu ‘anhu, ketika para sahabat telah menetap diMadinah selama dua puluh hari dan telah berkeinginan untuk pulang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Pulanglah kalian menjumpai keluarga kalian dan tegakkanlah kewajiban ditengah-tengah mereka, ajarilah mereka dan perintahkanlah mereka… al-hadits “[10]

Apabila seorang istri melalaikan pengerjaan kewajiban, ataukah dalam mengenakan hijab yang syar’i, atuakah istri menolak jika suami mengajaknya kepembaringan atau bermaksiat kepada suami pada perkara yang wajib bagi istri untuk mentaatinya. Maka sepantasnya suami sebagai realisasi kepemimpinannya terhadap sang istri untuk mendidiknya dengan seusaut yang dapat memperbaiki dan meluruskanya. Dan pendidikan ini terbagi menjadi beberapa tingkatan. Tidak sepatutnya seorang suami melangkah ketingkatan berikutnya sehingga dia sudah tidak mampu dengan tingkatan sebelumnya.

Allah ta’ala berfirman:

“ Dan wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka ditempat tidur mereka, lalu pukullah mereka, dan apabila mereka menaatimu maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk emnyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha tingi lagi Maha Besar “ ( An-Nisaa` : 34 )

Tingkatan pertama: Adalah dengan menasihati dan mengingatkan serta membuatnya tkaut kepada Allah.

Tingkatan kedua: Dengan memisahkannya dari tempat tidur.

Tingkatan ketiga: Dengan memukul dengan pukulan yang tidak sampai melukai, pukulan pengajaran bukan pukulan untuk melampiaskan rasa marah dan kemurkaan.

Masalah: Apabila seseorang mempunyai istri yang tidak mengerjakan shalat, apakah wajib baginya untuk menyuruh istrinya shalat ? Apabila istri tidak melakukannya apakah yang seharusnya dia lakukan?

Jawab: Benar, wajib baginya untuk menyuruh istrinya mengerjakan shalat. Hal itu suatu kewajiban. Bahkan semua yang mampu menyuruhnya untuk melakukan kewajiban itu apabila orang lain tidak mampu menunaikan kewajiban tersebut. Allah ta’ala berfirman:

“ Dan perintahkanlah kepada keluargamu untuk mendirikan shalat dan sabarlah dalam menunaikannya “ ( Thaha : 132 )

Allah ta’ala berfirman:

“ Wahai orang-orang yang beriman, jaglah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah kaum manusia “ ( At-Tahrim 6 ).

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Dan ajarkanlah mereka dan didiklah mereka “

Sepatutnya bersamaan dengan perintah itu, juga mendorong mereka dengan sejumlah pendorong, sebagaimana dia mendorong istrinya kepada segala yang dibutuhkan sang istri. Apabila istri tetap bersikeras meninggalkan shalat maka wajib baginya untuk mentalak istrinya. Kewajiban itu adalah pendapat yang shahih. Seorang yang meninggalkan shalat berhak mendapatkan siksa hingga dia mengerjakan shalat menurut konsensus ulama. Bahkan apabila dia tidak mengerjakan shalat dia mesti dibunuh. Dan dia dibunuh karena telah kafir murtad. Menurut dua pendapat yang populer. Wallahu ‘alam. Demikian yang dikatakan oleh Syaikh Al-Islam[11].

  1. Berlaku lembut dan bercanda dengan istri

Sebagian besar kaum laki-laki bersifatk arogan dan keras disaat berdenda gurau dan bercanda dengan istrinya. Sebagian diantara menganggap hal tersebut akan mengurangi kejantanannya. Atau menganggap jatuhnya wibawa dan kedudukannya dihadapan para istrinya. Angapan ini sama sekali tidak benar. Karena seandainya benar, tentulah Nabi kita Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih utama dari apda mereka. Sementara ebliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersenda gurau, bercanda dan berlaku lembut kepad apara istri beliau. Hadits-hadit berkenaan dengan masalah ini sudah populer dan telah maklum.

Diantaranya , sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Setiap perataan sia-sia yang terujar dari seorang muslim adalah perbuatan yang batil kecuali melempar anak panah dari busurnya, melatih kudanya dan bercanda dengan keluarganya, karena semuanya itu suatu yang benar “[12]

Diantaranya pula: Ketika beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berlomba lari dengan Aisyah radhiallahu ‘anha. Ummul Mukminin Aisyah radhiallahu ‘anha menceritakan bahwa beliau pernah bersama dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah perjalanan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Lalu beliau mengajakku berlomba lari, dan saya dapat mengalahkan beliau. Namun ketika saya telah menjadi gemuk, saya berlomba dengan beliau dan beliau dapat mengalahkanku. Beliau bersabda: “ Kemenangan ini balasan atas kekalahan lomba sebelumnya “[13]

Diantaranya juga: Sabda beliau kepada Aisyah radhiallahu ‘anha : “ Sesungguhnya saya mengetahui kapan engkau ridha dan kapan engkau marah kepadaku “. Aisyah berkata : Dari manakah anda dapat mengetahui hal itu ? Beliau bersabda: “ Apabila engkau sedang ridha kepadaku,engkauakan megatakan: Tidak demi Rabb Muhammad. Dan apabila engkau sedang marah kepadaku, engkau akanmengatkan: Tidak demi Rabb Ibrahim. Aisyah berkata : benarlah, demi Allah wahai Rasulullah tidaklahsaya menjauhi anda kecuali sebatas nama anda saja. “[14]

  1. Bersabar terhadap istri dan memaklumi setiap kekeliruannya

Hal tersebut disebabkan beberapa hal , diantaranya: Bahwa seorang wanita, diantara tabiatnya adalah rasa cemburu. Sebagian besar rasa cemburu adalah penyebab seorang istri melakukan perbuatan yang tidak disenangi suami. Apabila sifat cemburu tersebut juga disertai dengan perangai dasar wanita yaitu lisan yang bengkok, hal itu semakin membutuhkan kesabaran suami dari setiap gangguannya, dan berusaha menahan diri semampunya, dan memaafkan segala kenaifan serta kekeliruannya.

Didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu terdahulu – abhwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ebrsabda : “ Berilah nasihat kepada wanita dnegan baik, karena seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan bagian tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Apabila anda hendak meluruskannya niscaya akan patah dan apabila anda meninggalkannya niscaya akan selalu bengkok. Maka berilah nasihat kepada kaum wanita “[15]Maknanya : bahwa seorang wanita diciptakan dari tulang rusuk, ini merupakan isyarat bahwa penciptaanHawa dari tulang rusuk Adam. Dan sabda beliau : “ Dan bagian tualng rusuk yang palign bengkok adalah abgian atasnya “, yakni bahwa bagian yang paling bengkok pada diri wanita adalah lisannya. Hadits ini berisi peringatan yang halus bagi kaum laki-laki agar mereka bersabar atas segala perbuatan istri mereka, dikarenakan para istri diantara tabiat mereka adalah seperti itu dan sangat sulit untuk meluruskan mereka – istri -.

Sabda beliau : “ Apabila anda meluruskannya maka anda akan mematahkannya … “, yakni apabila anda bersikeras untuk memperbaiki akhlaknya, maka hal itu tidak akan mungkin anda lakukan. Bahkan upaya anda hanya akan menyebabkannya menjadi patah yaitu mentalak-nya. Seperti diterangkan pada hadits riwayat Muslim : “ Seusngguhnya wanita diciptakan dari tulang rusuk. Dan anda tidak akan dapat meluruskannya dengan cara apapun juga. Apabila anda menyukainya anda menyukainya sementara wanita tersebut ada kebengkokan pada dirinya . Dan apabila anda hendak meluruskannya maka anda akan mematahkannya. Mematahkannya berarti mencerainya “[16]

Pada hadits Anas radhiallahu ‘anhu, akan memperjelas bagi kitadenganlebih detail, betapa kesabaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap sebagian istri beliau, akibat kecemburuan mereka yang berlebihan. Beliau berkata: “ Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berada dsalah satu rumah istri beliau. Dan salah seorang ummahat al-mukminin mengirim sebuah mampan berisi makanan. Maka istri beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mana beliau tengah ebrada dirumahnya memukul tangan sipelayan hingga menjatuhkan mampan dan memecahkannya. Lalu Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan mampan tersebut kemudian beliau mengumpulkan makanan yang tadinya berada didalam mampan tersbut. Beliau ebrsabda : “ Ibu kalian cmeburu “ Kemudian beliau menahan si pelayan hingga beliau mengambil mampan istri beliau yang beliau ebrada dirumahnya, kemudian memberikan mampan tersebut kepada istri yang mampannya dipecahkan dan mengambil mampan yang pecah untuk disimpan dirumah istri beliau yang memecahkannya.[17]

  1. Menggauli istri merupakan hak yang wajib bagi suami

Termasuk hak yang wajib bagi seorang suami adalah menggauli isri sebatas kebutuhan istri, dan tidak smapai menyusahkannya dengan meninggalkannya dalam waktu yang lama tanpa menggaulinya. Karena ini merupakan sebab paling besar rusaknya ekhidupan rumah tangga. Dan ada tinjauan lain yang sebagian suami seringkali melalaikannya yakni kurangnya eprhatian terhadap keadaan istri disaat melakukan hubungan suami istri. Tidak memperdulikan istri apakah istri telah memenuhi kebutuhannya dan apakah kebutuhannya telah tercapai dari suami ataukah tidak. Demi Allah, seperti ini lebih berat bagi wanita dari pada suami meninggalkannya dalam waktu yang lama tanpa menggaulinya.

Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: Wajib bagi seoranglaki-laki untuk menggauli istrinya dnegna baik. Karena hal tersebut merupakan hak istri yang paling utama. Lebih besar dari pada memberi makan kepadanya. Pergaulan suami istri – baca: jima’ , pent – yang wajib ada yang mengatakan setiap empat bulan sekali, ada yang mengatakan: Disesuaikan dengan kebutuhan istri dna kesanggupan suami. Sebagaimana suami memberi makan kepada istri disesuaikan dengan kebutuhan istri dan kemampuan suami. Pendapat ini yang paling benar dari kedua pendapat diatas.[18]

Faedah: Diantara adab-ada berhubungan suami istri :

Pertama: Membaca basmalah sebelum melakukannya. Seperti diternagkan didalam sunnah yang shahih. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma menceritakan dan juga selain beliau, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Jika salah seorang diantara mereka hendak mendatangi istrinya, hendaknya dia mengatakan: Bismillah, Allahumma, jannibnaa asy-syaithan wa jannib asy-syaithan maa razaqtanaa – Dengan menyebut nama Allah, yaa Allah jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau rizkikan kepada kami -, maka apabila ditakdirkan adanya anak dari mereka berdua dengan hubungan itu, niscaya syaithan tidak akan mendatangkan kemudharatan kepadanya selamanya “[19]

Sabda beliau : “ Syaithan tidak akan mendatangkan kemudharatan kepadanya selamanya “ , maknanya bahwa syaithan tidak akan mendatangkan kemudharatan kepada anak yang disebutkan diatas. Yang mana memungkinkan dia mendatangkan kemudharatan pada agama dan badannya. Dan bukanlah maksudnya sebatas menghalau eprasaan was-was belaka. Dimikian yang disebutkan didalam Al-Fath[20].

Catatan penting: Doa ini diucapkan ketika hendak memulia hubungan suami istri yaitu sebelum memulai hubungan tersebut. Dan bukan ketika telah melakukannya. Hal tersebut dapat kita sadur dari sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam didala hadits diatas: “ Apabila dia hendak mendatangi istriya “. Riwayat ini – yaitu riwayat Ibnu Abbas – menafsirkan riwayat-riwayat lainnya yang secara zhahir menunjukkan bahwa doa tersebut dibackan ketika telah melakukan hubungan suami sitri, seperti sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Jika salah seorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya hendaknya dia mengucapkan : Bismillah Allahumma… al-hadits “[21]

Kedua: Disenangi untuk memakai penutup disaan melakukan hubungan suami istri. Hal tersebut diterangkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Bahz bin Hakim dari bapak beliau dari kakek beliau radhiaallahu ‘anhu, beliau berkata: Saya berkata : Wahai rasulullah, manakah aurat kami yang boleh ditampakkan dan yang terlarang ditampakkan ?

Beliau bersabda: “ Jagalah auratmu kecuali dihadapan istrimu ataukah budak sahayamu “. Beliau berkata : saya bertanya : Wahai Rasulullah, apabila suatu kaum sebagian bersama dengan sebagian lainnya ?

Beliau bersabda: “ Apabila engkau sanggup agar tidak menampakkan kehadapan mereka maka janganlah engkau menampakkannya kepada seorangpun “

Beliau berkata: Saya bertanya : Wahai Rasulullah, apabila salahs eorang diantara kami berada sendiri ?

Beliau bersabda: “ Allah lebih berhak untuk kalian merasa malu dari pada kaum manusia “[22]

Pada sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Allah lebih berhak untuk kalian merasa malu dari pada kaum manusia “, mengisyaratkan bahwa lebih utama bagi sepasang suami istri yang sedang melakukan hubungan agar menutup diri mereka dengan kain yang dihamparkan diatas tubuh mereka disaat melakukan hubungan suami istri. Wallahu a’lam.

Ketiga: Disunnahkan berwudhu` bagi yang berjunub apabila berkehendak mengulangi jima’

Hal itu diterangka pada hadits Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Apabila salah seorang mendatangi istrinya kemudian hendak mengulanginya maka hendaknya dia berwudhu` “[23]

Catatan penting: [ Al-‘Azl[24] ] , diharamkan oleh sebagian ulama, akan tetapi mazhab para imam yang empat membolehkannya seizin istri. Wallahu a’lam. Demikian yang dikatakan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah.[25]

  1. Diharamkan seorang laki-laki menyebarluaskan apa yang telah mereka berdua lakukan sewaktu berhubungan suami istri

Menyebar luas dikalangan kaum manusia yang bodoh, perbincangan tentang segala yang telah dia lakukan bersama istrinya perihal hubungan suami sitri. Mereka yang lebih bodoh lagi berdalih : bahwa kami hanya memperbincangkan perkara-perkara yang syariat telah halalkan bagi kami, dan tidak berbincang tentang perbuatan yang haram.

Jawabannya agar dia berkata : Berhubungan dengan istri atau hamba yang dia miliki dan bersenang-senang dengan keduanya memang halal menurut syara’, akan tetapi memperbincangkannya kepada orang lain dan memberitahukan mereka dengan apa yang ada padanya ketika bersendiri dengan pasangannya adalah haram menurut syara’. Bahkan akal dan perasaan yang sehat mencela hal itu bergidik dari hal tersebut.

Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu meriwayatkan , bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesungguhnya kaum manusia yang palign buruk kedudukannya disisi Allah pada hari kiamat adalah adalah seseorang yang memberitahukan perihal istrinya dan istrinya memberitahukan perihal suaminya, kemudian rahasia mereka menjadi tersebar luas. “[26]

An-Nawawi mengatakan : pada hadits ni menunjukkan pengharaman bagi seoang laki-laki untuk menyebar luaskan hubungan suami istri yang telah dilakukannya bersama istrinya. Dan menyifatkan perkataan, perbuatan dan lain sebagainya yang terjadi diantara dia dan istrinya. Adapun sebatas menyebutkan perihal hubungan suami istri, jikalau tidak memberikan faedah maka halt ersbeut adalah suatu yang makruh karena bertentangan dengan adat kebiasaan. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya dia mengatakan perkataan yang baik atau diam.

Apabila penyebutan tersebut memang diperlukan dan memberikan faedah, yaitu mengingkari penolaknnya terhadap istrinya atau mengadukan kelemahan suaminya dalam berhubungan atau lain sebagainya maka hal tersebut tidak dimakruhkan dalam menyebutnya. Sebagaimana sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesungguhnya salah melakukannya bersama dia – istri – “.

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Abu Thalhah : “ Apakah anda melakukan malam pertama malam tadi ? “

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Jabir : “ al-kaiis , al-kaiis[27] “. Wallahu a’lam[28].

Catatan penting: Larangan memperbincangkan hubungan suami istri antara laki-laki dan istrinya , hukumnya disamakan antara kaum laki-laki dan wanita. Teguran tersebut walau tertujukepada kaum laki-laki, hanya saja berlaku umum mencakup kaum laki-laki dan wanita.

  1. Kewajiban berbuat adil diantara para istri

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berbuat adil diantara sesama istri. Beliau berkata : “ Barang siapa yang mempunyadua istiri, lalu dia lebih cenderung kepada salah seorang diantara mereka berdua, dia akan datang pada hari kiamat dengan sisi yang miring “ Pada riwayat Ahmad : “ Dan salah sisinya terjatuh “

Alah subhanahuw ata’ala telah meniadakan kemampuan kaum laki-laki untuk berlaku adil diantara para istrinya, didalam firman-Nya:

“ Dan sungguhlah kalian tidak akan sanggup berbuat adil diantara para istri,walaupun kalian berkemauan untuk itu. Maka janganlah kalian terlalu cenderung kepada yang kalian cintai hingga menjadikan yang lainnya terbengkalai … “ ( An-Nisaa` : 129 )

Lantas bagaimanakah menyelaraskan antara ayat ini dan hadits sementara konteks keduanya bertentangan ?

Jawab : Keduanya tidaklah saling bertentangan. Keadilan yang ditiadakan didalam ayat diatas adalah keadilan dalam perihal cinta. Dimana laki-laki tidak akan snaggup melakukanya,karena tmepatnya ebrada didalam hati. Kecintaan didalam hati, tidak seorangpun yang snaggup menguasainya. Demikian juga halnya dalam perkara berhubungan suami istri, karena kecendrungan laki-laki dalam melakukan hubungan suami istri akan cnederung kepadasalah seorang istrinya tidak sebagaimana kecendrungan dia kepada istri lainnya. Maka keadilan dalam pembagian diantara para istri adalah suatu yang wajib, sedangkan hubungan suami istri tidak mesti disama ratakan. Akan tetapi janganlah sampai dia menghalangi da mendatangkan mudharat kepada istri-istri lainnya, melainkan memberikan mereka kecukupan dan menutup segala kebutuhan mereka.

Adapun perlakuan adil yang diperintahkan pada hadtis diatas adalah perlakuan adil dalam memberi pembagian kepada sesama istri baik pembagian rumah, nafkah, pakaian dan lain sebagainya yang disangkakan dapat berbuat adil dalam perkara tersebut. Dengan demikian akan nampak bagaimana menyelaraskan kedua nash tersebut dan keduanya tidak ada pertentangan antara keadilan yang ditiadakan didalam ayat dan keadilan yang diperintahkan didalam hadits.

Dan para suami hendaknya betakwa kepada Allah berkaitan dengan urusan istri-istri mereka, berlaku adil sesama mereka, dan hendaknya berhati-hati jangan sampai berbuat semena-mena kepada merek. Karena apabila para suami melakukan hal itu mereka telah melakukan dosa, dan siksa akan menerpa mereka. Apabila mereka berbuat adil kepada kaum istri , mereka akan mendapatkan pahala karena perlakuan itu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Sesunguhnya orang-orang yang berlaku adil disisi Allah akan berada diatas mimbar yang terbuat dari cahaya disisi Ar-Rahman ‘azza wajalla. Dan kedua tangan-Nya adalah kanan. Yakni mereka yang berbuat adil dalam hukum, keluarga dan setiap yang mereka kuasai “[29]

Terjemahan dari kitab : “Kitab Al-Adab”, karya : Fu`ad bin Abdul Azis Asy-Syalhuub.


[1] HR. Ahmad ( 19511 ), Abu Daud ( 2142 ), Al-albani emngatakan: Hasan Shahih. Ibnu Majah ( 1850 )

[2] HR. Al-Bukhari dari hadits Ibnu Mas’ud ( 5065 ), Muslim ( 1400 ), ahmad ( 3581 ), At-Tirmidzi ( 1081 ), An-Nasaa`I ( 2239 ), Abu Daud ( 2046 ), Ibnu Majah ( 1845 ) dan Ad-Darimi ( 2165 )

[3] HR. Al-Bukhari ( 5063 ), Muslim ( 1401 ), Ahmad ( 13122 ) dan An-Nasaa`I ( 3217 )

[4] HR. Ahmad (11884), An-Nasa`I (3939), berkata Syaikh Al-Albani : Hasan shahih, nomor (3680)

[5] Kitab Haasyiatu ar-Raudh Al-Murbi’ (6/226) Haasyiah nomor : (3)

[6] Taisiir Al-Karim Ar-Rahman fii Tafsir Kalam Al-Mannan.

[7] Tafsir Ibnu Katsir ( 1 / 266 ), cet. Daar Al-Kutub Al-‘Ilmiyah

[8] HR. Ahmad ( 19511 ), Abu Daud ( 2142 ), Al-albani emngatakan: Hasan Shahih. Ibnu Majah ( 1850 )

[9] Al-Fatawa ( 34 / 90 – 91 )

[10] HR. Al-Bukhari ( 631 ), Muslim ( 674 ), Ahmad ( 15171 ), An-Nasaa`I ( 635 ) dan Ad-Darimi ( 1253 )

[11] Al-Fatawa ( 32 / 276 – 277 )

[12] HR. At-Tirmidzi ( 1637 ), dan beliau berkata : Hadist hasan shahih .

[13] HR. Ahmad ( 23598 ), Abu Daud ( 2578 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Al-albani berkata : Shahih, dan Ibnu Majah ( 1979 )

[14] HR. Al-Bukhari ( 5228 ), Muslim ( 2439 ), dan Ahmad ( 23492 )

[15] HR. Al-Bukhari ( 3331 ), Muslim ( 146 ), Ahmad ( 9240 ), At-Tirmidzi ( 1188 ) dan Ad-Darimi ( 2222 )

[16] HR. Muslim ( 1468 )

[17] HR. Al-Bukhari ( 5225 ), Ahmad ( 11616 ), At-Tirmidzi ( 1359 ), An-Nasaa`I ( 3955 ), Abu Daud ( 3567 ), Ibnu Majah ( 2334 ) dan Ad-Darimi ( 2598 )

[18] Al-Fatawa ( 32 / 271 )

[19] HR. Al-Bukhari ( 6388 ), Muslim ( 1434 ), Ahmad ( 1870 ), At-Tirmidzi ( 1092 ), Abu Daud ( 2161 ), Ibnu Majah ( 1919 ) dan Ad-Darimi ( 2212 )

[20] ( 11 / 195 )

[21] Al-Bukhari ( 141 )

[22] HR. Ahmad ( 19530 ), At-Tirmidzi ( 2794 ), dan beliau berkata: Hadist hasan, Abu Daud ( 4017 ), Al-Albani mengatakan : hasan. Ibnu Majah ( 1920 )

[23] HR. Muslim ( 308 ), Ahmad ( 10777 ), At-Tirmidzi ( 141 ), An-Nasaa`I ( 262 ), Abu Daud ( 220 ) dan Ibnu Majah ( 587 )

[24] Al-‘Azlu berasal dari kaimat ‘azala ‘an al-mar`ah : Apabila tidak menghendaki anak darinya … Al-Azhari mengatakan : ‘Azala ar-rajulu ‘az jaariyatihi : Apabila dia melakukan hubungan suami istri dan berharap tidak hamil. ( Lisan Al-‘Arab 11 / 440 bahasan : عزل )

[25] Al-Fatawa ( 32 / 108 )

[26] HR. Muslim ( 1437 ), dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, Ahmad ( 11258 ) dan Abu Daud ( 4870 )

[27] Maknanya disini adalah anjuran untuk melakukan hubungan suami sitri dan mengharapkan anak/keturunan. Lihat Fathul Baari ( 9 / 254 )

[28] Syarh Shahih Muslim, jilid 5 ( 10 / 8 – 9 )

[29] HR. Muslim ( 1827 ),Ahmad ( 6449 ) dan An-Nasaa`I ( 5379 )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: