Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,031,073 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Bagaimana Hukumnya Jika Kita Melupakan Beberapa Ayat Al Qur’an yang Telah Kita Hafal?

Posted by Al Khair pada 24 Oktober 2008

Bagaimana Hukumnya Jika Kita Melupakan Beberapa Ayat Al Qur’an yang Telah Kita Hafal?

Soal : Bagaimana jika saya menghafal ayat-ayat Al Qur’an –dalam pelajaran tafsir ini- tapi setelah itu saya lupa, apakah saya termasuk orang-orang yang diadzab karena melupakan Al Qur’an, sedangkan untuk menjaga hafalan ini saya sangat berat bahkan seperti  tidak sanggup?

Dijawab oleh Al Ustadz Abu Usamah Abdurrahman Lombok

Ada satu faidah yang dibawakan oleh Al Imam An Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, yang terkait dengan orang yang melupakan Al Qur’an ketika ia menghafalnya atau setelah ia menghafalnya. Beliau menulis satu bab “Perintah untuk menjaga Al Qur’an dan Peringatan dari Perkara-perkara yang akan melupakan dari perkara tersebut”.

Al Imam An Nawawi pertama kali membawakan hadits dari Abu Musa Al Asy’ary radhiyallahu ‘anhu, yang artinya :

“Perbaruilah hafalan kalian (mulazamah kalian) terhadap bacaan Al Qur’an agar kalian tidak melupakannya”.

Ini makna “Ta’ahadu” kemudian

“Perbaruilah kesemangatan kalian untuk mulazamah dengan Al Qur’an agar kalian jangan melupakannya”.

Maka Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bahwa Al Qur’an itu lebih sangat cepat lepasnya dibanding lepasnya onta dari ikatannya”.[1]

Kemudian Al Imam An Nawawi membawakan riwayat yang kedua dari Shahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:

“Perumpamaan Shahibul Qur’an (Orang yang menghafal Al Qur’an) bagaikan onta yang sedang diikat, jikalau dia menjaga ikatannya, niscaya dia akan bisa untuk menahannya, kalau ia lepaskan ikatan tersebut, niscaya onta itu akan cepat pergi”.

Ini gambaran dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bagi orang yang menghafal Al Qur’an, yang kalau tidak dijaganya, maka akan cepat hilangnya.

Kemudian beliau mengatakan:

“Kami telah meriwayatkan dari Sunan Abi Dawud dan At Tirmidzi dari Anas radhiyallahu ‘anhu:

“Diperlihatkan atasku pahala-pahala ummatku, sampai-sampai kotoran yang dia keluarkan dari masjid (berpahala). Dan diperlihatkan atasku dosa-dosa ummatku, maka aku tidak melihat dosa yang paling besar dari satu surat / ayat Al Qur’an, yang satu ayat itu diberikan kepada seseorang kemudian orang tersebut melupakan satu ayat itu”.

Namun hadits ini lemah (Dha’if), karena di dalam sanadnya terdapat Al Muqallif bin Abdillah, tidak dikenal dia mendengar dari shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dikatakan At Tirmidzi, demikian juga Abdullah bin Abdurrahman mengatakan yang sama, serta ‘Ali Al Madini demikian juga.

Sehingga haditsnya didhaifkan  oleh Asy Syaikh Salim Al Hilaly dalam kitabnya Shahih Al Adzkar dan Dha’ifnya.

Dibawakan juga oleh An Nawawi juga hadits yang lain dalam Sunan Abi Dawud dan Musnad Al Imam Ad Darimi dari Sa’id bin Ubadah, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Barangsiapa yang menghafal Al Qur’an kemudian melupakannya, dia akan berjumpa dengan Allah Subhanahu wa ta’ala dalam keadaan ajzam (terputus segala amalnya)”.

Hadits ini lebih dhaif dari hadits yang pertama, karena terdapat tiga illah (cacat) dari hadits ini yang menyebabkan dhaifnya sanad hadits ini.

  1. Karena Yazid bin Abi Ziyad : Dhaif.
  2. Isa bin Fa’id : Majhul.
  3. Terputusnya sanad antara Isa bin Fa’id dan Sa’d bin Ubadah, karena Isa tidak pernah mendengar dari Sa’d dan tidak pernah pula berjumpa dengannya.

Sehingga setelah kita melihat kedudukan hadits-hadits ini, maka cukup menjadi pembimbing bagi kita adalah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Shahihain tadi.

Bagi kalian juga, perbarui mulazamah bacaan kalian, supaya kalian tidak melupakannya.

Lalu, bagaimana jika kita sudah berusaha tetapi selalu lupa ayatnya, beberapa ayat bahkan satu surat?

  1. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam kitabNya Al Qur’an, yang artinya :
    – “Allah tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya”.
    – “Maka bertaqwalah kalian sesuai dengan kemampuan yang ada pada diri kalian”.
  2. Maka kita arahkan permasalahannya pada diri-diri kita, bisa jadi kita melupakan atau berat untuk menjaganya karena tidak melaksanakan bimbingan ar-Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, atau kemungkinan kedua, karena adanya banyak beban pada diri masing-masing sehingga untuk menjaganya kesulitan atau untuk menghafal Al Qur’an itu.
  3. Ini merupakan asasi, karena kemaksiatan yang mungkin ada pada diri kita sendiri.
    Sebagaimana pengakuan Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah kepada Waqi’ rahimahullah tentang jeleknya hafalan beliau, kemudian Waqi’ membimbingku untuk meninggalkan perbuatan maksiat.

Setelah kita arahkan pada diri-diri kita, semoga usaha kita untuk menghafal Al Qur’an diberikan nilai sebagai amal shalih oleh Allah Ta’ala. Kita sudah bersungguh-sungguh untuk menjaganya ternyata Allah Ta’ala mencabutnya atau dilupakan oleh syaithan, maka semoga usaha kita itu diberikan nilai oleh Allah Ta’ala, lupanya kita kepada ayat atau surah.

“Ya Allah, jangan kami disiksa karena kami lupa atau karena sesuatu yang kami tersalah padanya”. (QS. Al Baqarah)

Dan kita bergembira dengan firman Allah yang artinya:

“Allah tidak akan membebankan kepada seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya”.

Namun, yang jelas, kita dilupakan dari menghafal Al Qur’an serahkan semuanya kepada Allah Subhanahu wa ta’ala.

Wallahu a’lam bis shawwab.

Artikel ini berasal dari sebuah tanya jawab seusai ta’lim rutin tafsir Al Qur’an ba’da maghrib, bertempat di masjid Khalid ibnul Walid, Pondok Pesantren Minhajus Sunnah Muntilan, sewaktu beliau masih mengajar di sana. Ditranskrip oleh Abu Hanif – Magelang.


 

[1] Bagi orang yang sudah melihat onta ketika lepas dari ikatannya, terkadang kasihan melihatnya, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang yang paling keras (paling kasar) adalah orang yang menggembalakan onta”.

Dan Al Qur’an itu demikian cepat lepasnya dari seseorang, sehingga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan kalian perbaharui, kalian mulazamah dengan membacanya agar kalian jangan melupakan Al Qur’an.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: