Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kitab Al-Adab : Adab-adab Berdo’a (1)

Posted by Abahnya Kautsar pada 20 November 2008

Adab-Adab Berdoa

Allah ta’ala berfirman:

“ Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kalian kepada-Ku , niscaya akan Saya kabulkannya bagi kalian. Sesungguhnya ornag-orang yang berlaku sombong dalam beribadah kepada-Ku akan mereka akan masuk kedalam neraka jahannam dalam keadaan hina “ ( Ghafir : 60 )

Allah ta’ala berfirman :

“ Dan siapakah yang akan menjawab seorang yang dalam kesusahan disaat dia berdoa, dan yang menyingkap segala keburukan … “ ( An-Naml : 62 )

Allah ta’ala berifrman :

“ Berdoalah kalian kepada Rabb kalian dnegan penuh ketundukan, dengan suara yang lirih/disamarkan. Sesungguh-Nya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas “ ( Al-A’raf : 55 )

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidak ada satupun yang dapatmencegah ketentuan tkadir selain doa. Dan tidak satupun yang akan menambah umur selain perbuatan baik “[1]

Di antara adab-adab berdoa :

1. Berdoa adalah ibadah

Dalam firman Allah ta’ala :

“ Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kalian kepada-Ku , niscaya akan Saya kabulkannya bagi kalian. Sesungguhnya ornag-orang yang berlaku sombong dalam beribadah kepada-Ku akan mereka akan masuk kedalam neraka jahannam dalam keadaan hina “ ( Ghafir : 60 )

Merupakan dalil yang paling jelas menunjukkan bahwa doa tidak diperbolehkan dipalingkan kecuali kepada Allah ‘azza wajalla. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah berargumen dengan ayat ini dalam menaytakan bahwa doa adalah ibadah kepada Allah subhanahuw ata’ala. Didalam hadits An-Nu’man bin Bsyir dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ketika menafsirkan firman Allah ta’ala :

“ Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kalian kepada-Ku , niscaya akan Saya kabulkannya bagi kalian. “ ( Ghafir : 60 )

Beliau bersabda : “ Doa adalah ibadah, dan beliau membaca firman Allah ta’ala :

“ Dan Rabb kalian berfirman: Berdoalah kalian kepada-Ku , niscaya akan Saya kabulkannya bagi kalian. “ hingga firman Allah : “ Dalam keadaan hina “ ( Ghafir : 60 )[2]

Dari sinilah menjadi jelas bahwa barang siapa yang tidak berdoa kepada Allah, atau dia berdoa kepada selain Allah meminta sesuatu yang tidak seorangpun sanggup melakukannya kecuali Allah, maka dia adalah seorang yang sombong dalam peribadatan kepada-Nya

2. Keutamaan Berdoa

Diantara sekian hal yang diperoleh seorang yang berdoa melalui doanya adalah bahwa doa tersebut merupakan manifestasi Tauhid kepada Allah yang merupakan sebabkeselamatan dan keberuntungan seorang hamba. Dikarenakan seorang yang berdoa yang menyerahkan doa dan permohonannya kepada Allah tidak kepada selain-Nya dan ikhlas didalam doanya kepada Allah, berarti dia telah merealisasikan salah satu aspek Tauhid kepada Allah yaitu bahwa doa adalah salah satu iabdah kepada Allah semata yang tidak dipalingkan kecuali kepada-Nya.

Dan diantara keutamaan doa bagi seorang yangberdoa, bahwa yang berdoa akan merasakan manisnya bermunajat kepada Allah. Merendahkan diri dihadapan-Nya. Karena kepasrahan dihadapan Ar-Rabb memohon dan berdoa kepada-Nya akan meberi kelezatan yang tidak dapat digambarkan.

Ibnul Qayyim mengatakan : “ Sebagian ahli makrifah mengatakan: Saya mempunyai kebutuhan kepada Allah, lalu saya memohon kepada-Nya, dan dibukakan kepadaku dari munajat saya kepada-Nya dan makrifahku, kerendahan diriku dihadapan-Nya, dan berkeluh kesah dihadapan-Nya , segala sesuatu yang ketentuannya diakhirkan kepadaku dan hal tersebut berlaku secara terus menerus bagiku[3].

Diantara keutamaan berdoa, bahwa doa akan dapat menahan takdir dan ketentuan Allah, seperti yang telah shahih diriwayatkan didalam hadits yang shahih, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Tidak satupun yang dapat menolak ketentuan Allah selain doa, dan tidak satupun yang dapat memanjangkan umur selain perbuatan baik “[4]

Maknanya : Bahwasanya doa menjadi sebab dalam menolak ketentuan Allah, seorang yang sakit berdoa kepada Rabbnya akhirnya dia sembuh dengan sebab doanya. Menurut penelitian dan perenungan kita dapati bahwa setiap perkara kembalinya kepada ketentuan Allah dan takdir-Nya. Dan Allah subhanahu wata’ala adalah dzat yang menetukan takdir bahwa sifulan kan emndeita sakit, kemudian memberikan liham, taufik dan memberi takdir-Nya kepada dia untuk berdoa dalam rangka menolak musibah dan kemudharatan pada dirinya, kemudian Allah menyembuhkannya. Dengan demikian perkara itu kembali kepada ketentuan Allah dan takdir-Nya diawal dan akhir. Dan secara gambaran yang zhahir bahwa doa menolak ketentuan takdir Allah

3. Berbakti kepada kedua orangtua adalah salah satu sebab diterimanya doa

Berbakti kepada kedua orangtua adalah salah satu sebab yang agung yang dengannya dikabulkan sebuah doa, dan dia termasuk amalan shalihah paling utama yang dilakukan oleh seorang muslim. Sungguh terjalin nash-nash yang terdapat dalam Al-Kitab dan As-Sunnah atas penjelasan keutamaan dan bekasnya yang terpuji, oleh karena itu berbuat baik kepada orangtua atau salah satunya dan menyesuaikan dengan kebaikan secara kontinyu, maka hal itu dicintai oleh masyarakat ketika Allah meletakkan dalam hati seorang hamba dari kecintaannya, dan dia dengan hal tersebut amatlah dekat dengan perealisasian diterima doanya .

Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab radhiallahu ‘anhu,beliau berkata : Saya mendengan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan datang kepada kalian Uwais bin ‘Amir dari bagian penduduk Yaman dari bani Muraf dari kabilah Qarn. Beliau pernah menderita penyakit kulit yang kemudian sembuh kecuali bagian sebesar keping dirham. Beliau memili seorang ibu yang beliau berbakti kepadanya, seandainya dibagikannya kepada Allah niscaya Allah akan berbuat baik kepadanya. Jika engkau mampu untuk meminta ampunan darinya maka lakukanlah … “[5]

Demikian pula hadits Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dalam kisah tiga orang yang terpernagkap didalam seuah goa dipadang pasir. Maka salah seorang diantara mereka mengatakan: “ Yaa Allah sesungguhnya saya mempunyai dua orangtua yang telah lanjut usia, dan juga beberapa anak yang masih kecil yang selalu dalam pengasanku. Apabila mereka telah beristirahat maka saya kemudian emerah susu, yang saya memulai memberikannya kepada dkedua orang tuaku lalu kemudian kepada anakku. Dan suatu ketika beberapa pohon telah menyuusahkanku, hingga saya tidaklah tiba kecuali hari telah senja,danmenjumpai kedua orang tuaku telah tertidur. Kamudian saya memerah susu sebagaimana biasaya. Lalu saya membawakannya keatas kepala mereka dan membenci membangunkan mereka berdua dari tidurnya. Dan juga saya tidak menyenangi memulia dengan anak-anakku, sementara mereka bergelantungan dikakiku. Demikianlah keadaanku dan juga anak-anak tersebut hingga terbit fajar. Apabila Engkau mengetahui bahwa sesungguhnya saya melakukan hal itu untuk mendapatkan keridhaan-Mu maka keluarkanlah kami , agar kami dapan melihat langit. Maka Allah memberi mereka celah hingga mereka dapat melihat langit … al-hadits “[6]

4. Disunnahkan untuk mengedepankan amal-amal shalih diawal doa

Seperti shalat, zakat, sedekah, silaturrahim dan lain amal-amal ibadah lainnya yang akan emndatangkan ekcintaan Allah kepada hamba dan yang akan mendekatkan hamba kepada-Nya. Kecintaan Allah kepada hamba berarti keridhaan-Nya , bantuan dan pertolongan-Nya serta pengabulan doanya. Sedangkan kemurkaan Allah kepada seorang hamba yang dimaksud adalah menolak doanya, menghinakannya serta kemurkaan kepadanya. Apabila salah seorang hamba mendirikan shalat kemudian dia berdoa, ataukah berpuasa kemudian berdoa, atau menyambung silaturrahim kemudian berdoa, maka hal itu akan lebih mendekatkan dia kepada pengabulan doanya dan diterimanya doa tersebut. Wallahu a’lam.

5. Memperbanyak amal-amal ibadah yang sunnah selain pengerjaan ibadah yang wajib merupakan salah satu sebab terkabulnya doa

Memperbanyak amal-amal ibadah yang sunnah selain pengerjaan ibadah yang wajib merupakan, seperti shalat sunnah, puasa sunnah, sedekah yang sunnahdna amal-amal ibadah sunnah lainnya akan mengantarkan pada pengabulan doa hamba yang senantiasa beribadah ini diadapan Rabbnya dengan wasilah mal-amal ibadah sunnah tersebut selain amal-amal ibadah yang wajib.

Tuntunan tersebut terdapat didalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa beliau berkaa : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Sesungguhnya Allah berfirman : Barang siapa yang melampaui batas mengambil selain-Ku sebagai penolong maka sungguh Aku telah mengizinkan perang baginya. Dan tidaklah seorang hamba beribadah kepada-Ku dengan suatu amalan lebih Aku cintai dari pada amal-amal yang telah Aku wajibkan abginya. Dan salah seorang hamba-Ku akan selalu beribadah kepada-Ku dengan amal-amal yang sunnah hingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya maka Aku adalah pendengaran yang dipergunakannya untuk mendengar , dan penglihatannya yang dipergunakannya untuk melihat, tangannya yang dipergunakannya untuk bekerja, dan kakinya yang dipergunakannya untuk melangkah bejalan. Dan apabila dia memohon kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya, dan apabila dia meminta perlindungan kepada-Ku niscaya Aku akan meberinya perlindungan. Dan tidaklah ada sesuatu yang menjadikan-Ku bimbang sebagaimana kebimbangan-Ku pada diri seorang mukmin, dia membenci kematian namun Aku membenci keburukannya “[7]

6. Disunnahkan menghadap kearah kiblat disaat berdoa

Seaik-baik bagian dimuka bumi adalah arah Baitullahi Haram. Kesanalah setiap orang yang shalat menghadap kan wajahnya disaat mendirikan shalat. Dan diantara mereka ada yang menghadap disaat berdoa. Dan hal tersebut telah dicontohkan oleh para generasi Salaf, bahkan sebaik-baik generasi Salaf, yakni Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam , dimana beliau menghadap kearah kiblat disebagian doa beliau. Diantara doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kaum kafir Quraisy. Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu meriwayatkan beliau berkata : Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengahdap kearah Ka’bah dan mendoakankeburukan kepada beberapa orang Quraisy, kepada Syaibah bin Rabi’ah, ‘Utbah bin Rabi’ah, Al-Walid bin’Utbah danAbu Jahl bin Hisyam. Saya mepersaksikan kepada Allah, saya telah melihat mereka pingsan setelah terbakar terik matahari dan pada saat itu hari yang panas[8].

Dan diantara doa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam , yakni ketika terjadi peristiwa perang Badar. Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu mengatakan: Ketika terjadi eprang Badar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang kepada kaum musyrikin yang berjumlah seribu orang sementara sahabat beliau hanyalah berjumlah tiga ratus tiga belas orang. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kearah kiblat kemudian mengangkat kedua tangan beliau dan beliau lalu berdoa kepada Rabb-nya: Allahumma tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepada-Ku … al-hadits “[9]

7. Disunnahkan mengangkat kedua tangan sewaktu berdoa

Dari hadits Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu diatas dapat diambil faedah sunnahnya mengangkat tangan sewaktu berdoa, berdasarkan perkataan Umar bin Al-Khaththab radhiallahu ‘anhu : “ Kemudian beliau mengangkat kedua tangannya.

Demikian juga yang dilakukan oleh Ibnu Umar Radhiallahu ‘anhuma, beliau mengangkat kedua tangannya smabil menghadap kearah kiblat setelah melontar al-jumrah al-ula, al-wustha dan ash-shugra. Beliau melontar al-jumrah di Al-’Aqabah dan tidak berhenti ditempat tersebut, kemudian beliau berpaling dan mengatakan: “ Demikianlah yan saya melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukannya “[10]

Masalah: Yang menjadi persoalan adalah hadits Anas radhiallahu ‘anhu terdahulu yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah mengangkat kedua tangannya dalam doa beliau kecuali pada shalat istisqa`. Dimana beliau mengangkat kedua tangannya hinga terlihat kedua ketiak beliau yang putih[11]. Lantas bagaimanakah menyelaraskan antara perkataan Anas radhiallahu ‘anhu ini dan perbuatanNabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengangkat kedua tnagannya ketika berdoa pada beberapa tempat ?

Jawab: Ibnu hajar mengatakan: “ Perkataan beliau : “ kecuali pada shalat istisqa` “, secara zhahir hadits meniadakan mengangkat tangan pada setiap doa kecuali pada doa disaat shalat istisqa`. Dan hal tersebut bertentangan dengan beberapa hadits yang shahih yang menyebutkan mengangkat tangan diselain shalat istisqa` … Sebagian ulama berpendapat bahwa mengamalkan hadits-hadits tersebut lebih utama, dan menggiring pemahaman hadits Anas radhiallahu ‘anhu kepada peniadaan apa yang beliau saksikan, yang mana tidak menampik bahwa selainnya telah melihat. Sebagian ulama lainnya menafsirkan hadits Anas tersebut – untuk menyelaraskan maknaya – bahwa hadits tersebut dipahami pada sifat tertentu … “ Dibagian lain beliau – Ibnu Hajar – mengatakan : “ Dan maksudnya adalah pembatasan tata cara mengangkat tangan pada cara tertentu bukan peniadaan hukum dasar mengangkat tangan, karena hal tersebut amalan yang shahih dari beliau[12] .

8. Disunnahkan berdoa dengan suara yang lirih

Allah ta’ala berfirman:

“ Dan berdoalah kalian kepada Rabb kalian dnegna penuh ketundukan dan dengan suara yang lirih “ ( Al-A’raaf : 55 )

Allah subhanahu wata’ala memerintahkan setiap hamba-Nya ntuk bersungguh-sungguh dalam berdoa dengan suara yang lirih dan tidak diperdengarkan serta tidak mengeraskannya.Menyamarkan suara ketika berdoa meruapka bentuk suatu etika dan keikhlasan yang sangat tinggin, dan akan mendekatkan kepada terkabulnya doa seorang yang berdoa.

Ibnu Taimiyah mengatakan : Kaum muslimin terdahulu telah demikian bersungguh-sungguh dalam berdoa namun tidaklah terdengan suara doa mereka, yakni doa mereka hanyalah berupa desahan antara mereka dan Rabb mereka ‘azza wajalla . Allah ta’ala berifrman:

“ Dan berdoalah kalian kepada Rabb kalian dengan fpenuh ketundukan dan dengan suara yang lirih “ ( Al-A’raf : 55 )

Dan Allah telah pula menyebutkan tentang seorang hamba yang shalih dan ridha dengan perbuatannya, Allah berfirman:

“ Ketika dia menyeru kepada Rabb-nya dengan seruan yang lirih “ ( Maryam: 3 )[13]

Faedah : Menyamarkan doa mengandung beberapa faedah. Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyah menyebutkan beberapa diantaranya, yang pada intinya sebagai berikut:

Pertama: Merupakan keimanan yang paling utama. Karena yang melakukannya mengetahui bahwa Allah mendengar doa yang disamarkan.

Kedua: Etika dan epgnagungan yang paling utama. Dikarenakan dihadapan Raja tidaklah dengan meninggikan suara. Dan siapa saja yang mengangkat suara dihadapannya raja tersebut akan murka kepadanya. Dan Allah bagi-Nya sifat yang Maha Tinggi. Apabila Allah telah mendengar doa yang lirih, maka tidaklah sesuai dengan etika dihadapan-Nya kecuali dengan merendahkan suara.

Ketiga: Bahwa hal tersebut akan lebih sesuai dengan ketundukan dan rasa khusyu’

Keempat: Hal tersebut akan lebih sesuai dengan keikhlasan

Kelima: Hal tersebut akan lebih memungkinkan untuk menyatukan hati dengan kerendahan jiwa disaat berdoa. Apabila dia mengeraskan suara maka akan memudarkannya.

Keenam : – Yang tergolong sebagai cacatan yang sangat mengagumkan – Bahwa amalan terseut menunjukkan kedekatan seorang yang berdoa kepada Dzat Yang Maha dekat. Bukan permintaan orang yang jauh kepada Dzat yang jauh tempatnya.Olehnya itu Allah memuji hamba-Nya Zakariya dengan firman-Nya :

“ Disaat dia menyeru kepada Rabbnya dengan seruan yang lirih “ ( Maryam : 3 )

Ketujuh : Hal tersebut akan menjadikan sebab berkelanjutannya permohonan dna permintaan. Karena lisan tidak akan bosan, anggota tubuh tidak akan letih, berbeda halnya apabila dia mengeraskan suaranya, karena yang demikian akan menjadikan lisan bosan dan melemahkan kekuatannya.

Kedelapan: Dengan merendahkan suara, akan menjauhkannya dari segla sesuatu yang dapat memutuskan doa dan yang mengganggunya.

Kesembilan: Sesungguhnya nikmat yang paling agung adalah nikmat menghadap dan beribadah kepada Allah. Dan masing-masing nikma sesuai dengan kadarnya, baik itu sedikit atau banyak. Dan tiada nikmat yanglebih besar dari pada nikmat ini.

Kesepuluh : Doa merupakan dzikir kepada Allah Dzat yangditujukan doa kepada-Nya subhanahu wata’ala. Yangmengandung permohonan dan puian kepada-Nya dengan sifat-sifat-Nya serta nama-naman-Nya. Berarti doa adalah dzikir dan tambahan lainnya.[14]

9. Menghadirkan hati sanubari termasuk salah satu sebab terkabulnya doa

Menghadirkan hati seorang yang berdoa merupakan salah satu sebab mendekatkan dirinya kepada terkabulnya doa. Keumuman nash-nash syara’ menunjukkan hal itu. Seperti firman Allah ta’ala:

“ Dan berdoalah kalian kepada Rabb kalian dengan penuh ketundukan hati dan dengan suara yang lirih “ ( Al-A’raf : 55 )

Dan firman-Nya :

“ Dan berdoalah kalian kepada-Nya dengan rasa takut dan pengharapan “ ( Al-A’raf : 56 )

Karena doa yang disertai dengan ketundukan hati, suara yanglirih, rasa takut, dan pengharapan mengharuskan – dan ini suatu yang mesti – penghadiran hati seorang yang berdoa, ini persoalan yang telah zhahir. Didalam hadits, disebutkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Berdoalah kalian kepada Allah dengan keyakinan kalian akan terkabulnya doa. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai lagi berpaling”[15]

10. Disunnahkan mengulang-ulangi doa serta kontinyu menghaturkan doa

Terus menerus berdoa merupakan hakikat dari ubudiyah[16] kepada Allah subhanahu wata’ala. Apabila soaang yang berdoa selalu mengulangi dna terus menerus didalam doanya , menampakkan kehinaan , ketidak mampuannya dan kefakirannya dihadapan Rabb-nya, maka dia akan semakin dekat kepada terkabulnya doa dari Allah baginya. Dan sebagian besar jalan akan sangat diharapkan terbuka baginya.

Dari Umar binAl-Khaththab radhiallahu ‘anhu beliau berkata : ketika pada peristiwa perang Badar, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memandang kepada kaum musyrikin yang berjumlah seribu orang, sementara para sahabat beliau hanya berjumlah tiga ratus tiga sembilan orang. Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadap kearah kiblat, lalu beliau mengangkat kedua tangannya damemohon kepada Rabbnya : Yaa Allah, tunaikanlah apa yang pernah Engkau janikan kepadaku, yaa Allah datangkanlah janji-Mu kepadaku, yaa Allah jikalau Engkau membinasakan kelompok muslimin ini, niscaya Engkau tidak akan disembah dimuka bumi. Beliau terus memanjatkan doa kepada Rabb-nya dengan mengangkat kedua tangannya dan menghadap kearah kiblat hingga jubah beliau terjatuh dari atas pundaknya.

Kemudian Abu Bakar menghampiri beliau lalu mengambil jubah beliau dan mengenakannya kembali diatas kedua pundak beliau, lalu beliau berdiam dibelakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Dan berkata : Wahai Nabi allah, cukuplah engkau memanjatkan pengharapan kepada Rabb mu, karena sesungguhnya Allah akan menunaikan janji-Nya kepada engkau, maka Allah menurunkan firman-Nya :

“ Apabila kalian memanjatkan doa kepada Rabb kalian, maka Allah mengabulkan doa kalian, sesunguhnya Aku menurunkan seribu malaikat yang turun beriringan “. Allah memberikan bantuan kepada beliau dengan para malaikat … al-hadits “[17]

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau berkata : Ath-Thufail bin Amru Ad-Dausi datnag menemui Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dna berkata : Sesungguhnya bani Daus telah bermaksiat dan menolak – agama Allah -, doakanlah kepada mereka kebinasaan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu menghadap kearah kiblat dna mengangkat kedua tnagannya, maka para sahabat mengatakan : Mereka akan binasa .

Lalu beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “ Ya Allah berilah hidayah kepada bani Daus, dan datangkanlah kepada mereka , ya Allah berilah hidayah kepada bani Daus dan datangkanlah kepada mereka “[18]

11. Kemantapan hati disaat berdoa[19]

Sepatutnya bagi seorang yang berdoa untuk memantapkan permintaannya dan tidak menggantungkanya kepada kehendak Allah atau bimbang dapam doanya tidak meyakini terkabulnya doa tersebut. Kemantapan hati disaat berdoa yang meyakini terkabulnya doa termasuk sebab tercapainya maksud doa. Karena kemantapan hati dan keyakinan menunjukkan kepercayaa seorang yang berdoaterhadap Rabbnya. Bahwa Dia adalah Dzat Yang Maha mendengar dan Maha melihat, dan Dzat yang berkuasa atas segala sesuatu. Dan tidak satupun sesuatu yang ada dilangit atau dibumi yang akan melemahkan-Nya.

Sandaran bab ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas radhiallahu ‘anhu , beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “ Apabila kalian berdoa kepada Allah maka mantapkanlah diri kalian disaat berdoa. Dan janganlah salah seorang diantara kalian emngatakan : Jika Engkau berkenan maka berilah kepadaku, karena sesungguhnya Allah tidak akan merasa benci kepadanya “ pada lafazh riwayat Muslim : “ … akan tetapi jendaknya dia memantapkan hati dalam permohonannya, dan benar-benar meninggikan kemauannya , karena sesunguhnya Allah tidaklah merasa keberatan dengan sesuatu yang Allah berikan “[20]

Ibnu Hajar mengatakan : “ Apabila kalian ebrdoa kepada Allah, maka kalian seharusnya memantapkan hati kalian didalam berda artinya kalian mesti yakin dan tidak bimbang. Berasal dari kaliamt ‘azimtu ‘ala syai`in apabila anda berkemauan keras/bersungguh-sungguh untuk melakukannya. Ada yang berpendapat ‘azm al-masalah bermakna memastikanya tanpa ada kelamahan dalam mengusahakannya. Ada yang berpendapat bahwa maknanya adalah berbaik sangka kepada Allah dalam terkabulnya doa. Dan hikmah yang terkandung dalam hal ini, bahwa menggantungkan doa adalah gambaran ketidak butuhan dari suatu pemberian-Nya dan dari sesuatu yang hendak dicapai.

Sabda beliau : “ tanpa merasa keberatan dengannya “, yaitu penggantungan doa menyiratkan bahwa pemberian yang mungkin dari-Nya selain dari kehendak-Nya, dan pemberian selain kehendak merupakan suatu keterpaksaan, sedangkan Allah sama sekali tidak merasa terpaksa dengan pemberian-Nya “[21]


[1] HR. at-Tirmidzi didalam Kitab Al-Qadr ‘an Rasulillah . Bab. Laa Yaruddu Al-Qadr illa Ad-Du’a, no. ( 2139 ). Beliau berkata: Hadist hasan gharib.

[2] HR. At-Tirmidzi ( 2669 ) , beliau berkata : hadits hasan shahih, Ibnu Majah ( 3828 )

[3] Tahdzib Madarij As-Salikin.Tahdzib oleh Abdul Mun’im Al-arabi. Cet. Al-MaktabahAl’Ilmiyah hal. 382.

[4] HR. At-Tirmidzi didalam Kitab Al-Qadar ‘an Rasulillah, bab. Laa Yaruddu Al-Qadar illa Ad-Du’a, no. ( 2139 ), dan beliau berkata: Hadist hasan gharib. Al-albani mencantumkannya didalam As-SilsilahAsh-Shahihah no. ( 154 )

[5] HR. Muslim ( 2042 ) dan lafazh diatas adalah lafazh riwayat beliau, dan Ahmad ( 268 )

[6] HR. Al-Bukhari ( 5974 ) dan lafazh diatas adalah lafaz riwayat beliau, Muslim ( 2743 ), Ahmad ( 5937 ) dan Abu Daud ( 3387 )

[7] HR. Al-Bukahri ( 6502 )

[8] HR. Al-Bukhari ( 3960 ) dan lafazh diatas adalah alfazh riwayat beliau, Muslim ( 1794 ), An-nasaa`I ( 307 ) dan Ahmad ( 3714 )

[9] HR. Muslim ( 1763 ), Ahmad ( 208 ) dan At-Tirmidzi ( 3081 )

[10] HR. Al-BUkhari ( 1751 ) dan lafazh diatas adalah alfazh beliau, Ahmad (6368 ), An-Nasa`I ( 3083 ) dan Ad-Darimi ( 1903 )

[11] HR. Al-Bukhari ( 3565 ), Muslim ( 895 ), Ahmad ( 12456 ), An-Nasaa`I ( 1513 ), Abu Daud ( 1170 ), Ibnu Majah ( 1180 ) dan Ad-Darimi ( 1535 )

[12] Fathlu Baari ( 2 / 601 ) ( 6 / 668 )

[13] Al-Fatawa ( 15 / 15 )

[14] Al-Fatawa ( 15 / 15-18 )

[15] HR. At-Tirmidzi ( 3479 ), Al-Albani mencantumkannya didalam As-Silsilah Ash-Shahihah no. ( 594 )

[16] Lihat Tahdzib Madarij As-Salikin

[17] HR. Muslim ( 1763 ), Ahmad ( 208 ) dan At-Tirmidzi ( 3081 )

[18] HR. Al-Bukhari ( 2937 ), Muslim ( 2524 ) dan Ahmad ( 7273 ) dan lafazh diatas adalah lafazh beliau.

[19] Sebagaimana halnya kemantapan hati dalam memohon adalah salah satu sebab trkabulnya doa, berarti menggantungkannya dapat menjadi sebab terhalangnya doa dan rintangan dalam mencapai maksud dari seorang yang berdoa

[20] Hr. Al-Bukhari ( 7464 ), Muslim ( 2678 ), riwayat lainnya ( 2679 ) dan Ahmad ( 11569 )

[21] Fathul Baari ( 13 / 459 )

Terjemahan dari “Kitab Al-Adab” karya Asy Syaikh Fuad bin Abdil Aziz Asy Syalhuub. oleh Abu Zakariya Al Atsary.

Iklan

2 Tanggapan to “Kitab Al-Adab : Adab-adab Berdo’a (1)”

  1. hidayat said

    Assalaamu ‘alaikum wr.wb

    terimakasih infonya akhi, sangat bermanfaat. jazakallahu khair

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: