Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 330 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,167,775 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Berpaling dari Kebenaran setelah Kebenaran merupakan perbuatan dosa besar yang nyata

Posted by Abahnya Kautsar pada 21 November 2008

Pasal

Berpaling dari Kebenaran setelah Kebenaran merupakan perbuatan dosa besar yang nyata

Dulunya para shahabat dan generasi tabi’in telah pula berselisih, dan yang mengusung kebenaran menjelaskan bagi yang keliru kesalahan ia, dan menerangkan yang benar dengan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Dan jika yang keliru bersikeras dengan kesalahan yang ia perbuat setelah dijelaskan kepadanya kebenaran, ia akan diberi teguran dan dicela karena itu bahkan tekadang dijauhi, walaupun masalah yang ia keliru – menurut pandangan sebagian orang – adalah masalah yang ringan, atau juziyat ataukah masalah sampingan dan tidak termasuk dalam masalah-masalah kulliyat. Dan tidak seorang pun dari generasi tersebut yang mengatakan : satu sama lainnya saling memberikan udzur terhadap kesalahan masing-masing !!, kesemuanya itu dikarenakan perkataan itu adalah pemalingan dari dalil syara’ dan keengganan mengikuti kebenaran dan bersikokoh diatas kebatilan, tentunya itu semua itu celaan pada ittiba’ seseorang

Berkata Abul Qosim al Ashbahani dalam Al Hujjah fii Bayanil Mahajjah 2 / 233 : ” Makna ittiba’ menurut para ulama adalah mengambil keseluruhan sunnah Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam yang telah shohih dari beliau, menurut para pakar hadits, para perowinya dan para huffadz hadits, ketundukan kepada sunnah tersebut dan menerima setiap keputusan Nabi shollallahu ‘alaihi wasalam dalam sunnah tersebut. ”

Seperti halnya ‘Abdullah bin ‘Umar – radhiallahu ‘anhuma ketika beliau berkata : Saya telah mendengar Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda : ” Janganlah sekali-kali kalian menghalangi wanita kalian dari mendatangi masjid, jika mereka meminta idzin kepada kalian “. Maka berkata anak beliau : ” Demi Allah saya akan menghalangi mereka ! ” . Lalu Ibnu ‘Umar mecelanya dengan celaan yang buruk. [1]

Dan juga ‘Abdullah bin Mughoffal, sewaktu beliau menjumpai seseorang dari murid beliau berbuat Khadzaf ( الخذف ) – sedang melontarkan sesuatu menggunakan ketapel -,maka beliau menegurnya dan mengatakan : Bahwa sesungguhnya Rasulullah membenci perbuatan itu –atau melarangnya -, namun orang itu tetap mengulanginya. Maka ‘Abdullah bin Mughoffal berkata : ” Saya khabarkan kepadamu hadits bahwa Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam melarangnya, lalu engkau tetap melakukan perbuatan itu !! Saya tidak akan menegurmu sekalipun selamanya.” [2]

Namun perlu dibedakan antara yang enggan dari kebenaran dan berkeras hati diatas kebatilan setelah terang baginya, maka seperti ini tidak diberikan udzur dan ia seorang pendosa, dan antara yang ada pada dirinya ta’wil atau karena ketidak tahuan maka seperti ini diberikan baginya udzur.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Fatawa 3 / 288 : ” Seorang yang ada pada dirinya ta’wil[3] atau tidak mengetahui yang diberikan padanya udzur hukumnya berbeda dengan hukum seseorang yang enggan dari kebenaran dan seorang yang fajir, bahkan Allah telah memberikan kepantasan bagi keduanya masing-masingnya “

Dan demikian halnya seorang ‘alim yang terdahulu diberikan bagi ia udzur akibat kesalahan pena’wilannya atau dukarenakan belumnya sampai kepada ia hujjah , dan tidak diberikan udzur serupa ini kepada ‘alim sesudahnya setelah sampai kepadanya hujjah dan syubhat telah dikikis habis.

Berkata Syaikhul Islam : ” Jikalau engkau meldapati suatu pendapat yang keliru yang datangnya dari seorang Imam terdahulu, maka kesalahan itu telah terampuni disebabkan belum sampainya hujja kepadanya, dan ini tidak diampuni bagi yang telah sampai kepadanya hujjah seperti yang diberikan pada ‘alim yang pertama. Dari sinilah dikatakan mubtadi’ bagi seseorang yang telah sampai kepada ia hadits-hadits tentang adzab kubur dan semisalnya jika ia mengingkarinya, dan tidak dikatakan bahwa ‘Aisyah dan selain beliau seorang mubtadi’ yang tidak mengetahui bahwa seseorang yang meninggal mendengar dari dalam kuburnya[4] . Ini adalah salah satu ushuluddin yang sangat agung, maka renungkanlah, karena sangat bermanfa’at ” [5]

Judul Asli : Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun

Penulis : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman

Muroja’ah : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan

Rekomendasi : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad

Penerbit : Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah

Cetakan Pertama 1419 H / 1999 M

Penerjemah : Abu Zakariya Al Atsary


[1] Asal hadits ini dalam Shohihain, sedangkan riwayat penyebutan celaan dan nama yang membantah pada Shohih Muslim 1/ 327

[2] Dikeluarkan oleh muslim 3 / 1548

[3] Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah ; ” Kebanyakan ahli ijtihad dari generasi salaf maupun kholaf, telah berpendapat atau melekukan sesuatu yang ternyata adalah suatu bid’ah namun mereka tidaklah mengetahuinya bahwa itu suatu bid’ah, baik itu disebabkan hadits-hadits dho’if yang mereka sangkakan shohih, ataukah karena ayat-ayat Al Qur’an yang mereka keliru memahaminya, ataukah karena pendapat yang mereka tuangkan sedangkan dalam masalah itu dijumpai nash-nash syara’ yang belum sampai kepada mereka ” Majmu’ Fatawa 19 / 191

[4] Dan pendengaran yang ditolak oleh kaum yang menetapkan bahwa yang meninggal akan mendengar dari dalam kuburnya, yakni yang ada dalam Shohihain dari hadits Anas dan Ibnu ‘Umar – radhiallahu ‘anhum-. Dan yang menetapkan tentulah didahulukan dari pada yang menolak. Adapun ayat yang menunjukkan peniadaan pendengaran dari dalam kubur oleh yang telah meninggal, adalah pendengaran yang lazim yang memberikan manfa’at bagi yang mendengarnya, bukan asal pendengaran itu sendiri. Lihata dalam Majmu’ Fatawa 4 / 297 – 299

[5] Majmu’ Fatawa 6 / 61

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: