Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Anda Termasuk Tipe Ibu Yang Mana?

Posted by Ummu Kautsar pada 30 Desember 2008

Anda Termasuk Tipe Ibu Yang Mana?

Tiap ibu punya gaya mengasuh sendiri-sendiri. David Elkind, seorang profesor perkembangan anak yang dikenal luas berkat buku-bukunya, Reinventing Childhood dan The Hurried Child, meneliti gaya-gaya pengasuhan yang umum ditemukan pada orangtua dan mengelompokkannya dalam 8 tipe gaya. Gaya pengasuhan orangtua, termasuk ibu tentunya, sangat berpengaruh pada proses pembentukan karakter anak. Seperti apa karakter yang dihasilkan? Apa saja kelebihan dan kekurangannya? DR. DU Faizah, pemerhati Pendidikan Usia Dini dari Direktorat Pembinaan TK dan SD-Dikdasmen, dan Rini Hildayani, M.Si., psikolog dan pengajar di Bagian Psikologi Perkembangan, Fakultas Psikologi Universitas Indonesia menguraikannya di sini.

1. GOURMET PARENTS

Seing kali disebut orangtua borjuis. Mereka mengukur kesuksesan diri dengan menjadikan anak sebagai “superkids”, dan mengusahakan segala cara supaya anaknya menjadi the best di lingkungannya. Mereka akan menjadikan anak-anaknya sebagai aset seperti halnya karier dan harta. Mereka sangat percaya bahwa tugas pengasuhan yang baik seperti halnya membangun karier, maka anak yang hebat merupakan bukti dari keberhasilan mereka sebagai orangtua. Mereka menyiapkan anak-anaknya sejak dalam kandungan, seperti menyiapkan makanan terbaik selama hamil dan memilih dokter terbaik serta fasilitas rumah sakit terlengkap.

Ciri-ciri:

* Pasangan muda yang mapan secara finansial, ditandai dengan memiliki rumah mewah, mobil mewah lebih dari satu, senang meluangkan waktu untuk berlibur.

* Memakaikan anak-anaknya, semua yang eksklusif seperti baju-baju mahal dari merek terkenal.

* Memilih kursus yang prestisius dan program eksklusif untuk anaknya.

* Menyekolahkan anak ke sekolah-sekolah berbiaya tidak masuk akal.

* Mengajak anak-anaknya ke restoran mahal untuk melatih selera tinggi dalam memilih makanan.

* Mengajak anak-anaknya liburan keliling dunia.

* Memilih buku-buku referensi terkini, umumnya dari Barat, tentang cara mengasuh anak.

* Peduli dengan teknologi mutakhir agar dapat mengajari anak-anaknya.

Kelebihan:

* Karena sering berlibur, mereka bisa memberikan banyak pengalaman kepada anak-anaknya.

* Mereka pun bisa memberikan yang terbaik, sesuatu yang memang diharapkan setiap orangtua kepada anaknya. Contoh, dalam hal belajar komputer, mereka mampu membelikan teknologi terbaru sehingga anak-anak ini akan lebih peduli teknologi dibandingkan anak-anak lainnya.

* Karena banyak membaca tentang buku-buku pengasuhan anak, orangtua gourment selalu lebih “canggih” dalam mengasuh anak. Umpama, mereka tahu bahwa memasak dengan bahan organik jauh lebih sehat untuk anak-anak mereka dan si ibu bersedia memasakkan yang terbaik untuk si anak.

* Dalam soal etiket, orangtua gourmet, seperti halnya mereka, ingin agar anak-anaknya mengerti etiket kelas tinggi sehingga anak-anak gourmet parent umumnya tampil sebagai pribadi yang santun, pandai berkomunikasi dan selalu berpenampilan bersih serta apik.

* Anak mereka akan pandai berbahasa asing karena umumnya mereka memilih sekolah-sekolah dengan program-program eksklusif yang prestisius dan memilih tempat kursus yang spesial seperti pada umur 3 tahun sudah ikut dalam program dwibahasa, bahkan lebih dari tiga bahasa.

Kelemahan:

Karena referensi yang digunakan adalah buku-buku mutakhir keluaran Barat, dengan demikian mereka juga akan kebarat-baratan dan sangat memuja hedonisme dalam mendidik anak. Padahal si anak kelak akan hidup di Indonesia. Ini akan menimbulkan perbenturan budaya dan tata krama dengan lingkungannya.

Anak yang dihasilkan:

Umumnya anak-anak ini terlihat percaya diri, bahkan tak sedikit di antara mereka yang kemudian menjadi orang sukses di masa depan karena koneksi yang dimiliki orangtuanya. Sayangnya, anak-anak ini miskin empati dalam melihat sesamanya yang lebih banyak orang kurang beruntung dibandingkan dirinya, arogan, menganggap uang bisa menyelesaikan segalanya, tak mau bergaul dengan orang-orang yang tidak sederajat dengan dirinya, manja, dan bila berkesempatan menjadi pemimpin sulit baginya untuk bersikap bijaksana.

Agar anak berkembang sehat, inilah yang harus dilakukan orangtua:

Kenalkan anak-anak kepada “dunia yang lain”, misalnya sesekali menjadi “orang biasa” yang makan di warung murahan, berkunjung ke panti asuhan, melihat penderitaan orang lain, berempati, membagi cinta pada sesama dan seterusnya. Ingatlah, roda kehidupan tak selalu di atas. Dengan memberi wacana tentang kehidupan orang yang kurang beruntung akan memperkaya cara si anak kelak menghadapi kehidupannya yang mungkin saja tak seberuntung orangtuanya. Selain itu, manfaatkan acara jalan-jalan untuk menggali hal yang positif guna menambah wawasannya.

2. COLLEGE DEGREE PARENT

Menganggap pendidikan formal adalah hal utama yang tak bisa ditawar lagi. Mereka percaya, pendidikan yang baik merupakan pondasi dari kesuksesan hidup. Apa pun mereka lakukan agar anak-anaknya bisa diterima di sekolah favorit dan ingin si anak memperlihatkan kemampuan akademik yang tinggi.

Ciri-ciri:

* Keluarga intelek menengah ke atas. Umumnya orangtua mengenyam pendidikan sarjana atau lebih.

* Sering melibatkan diri dalam berbagai kegiatan di sekolah anaknya. Misal, membantu membuat majalah dinding, dan kegiatan ekskul lainnya.

* Bila anak-anak menunjukkan prestasi akademik yang tinggi, orangtua akan terus menggenjot anaknya supaya berprestasi lebih dan lebih lagi.

* Mereka percaya bahwa pendidikan yang baik harus dibayar dengan harga yang pantas, karenanya tak masalah bila harus merogoh kocek dalam-dalam untuk menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang prestisius, membayar guru les atau tempat kursus terkenal.

Kelebihan:

* Sangat peduli dan kritis terhadap kurikulum yang dilaksanakan di sekolah anak-anaknya. Dalam banyak hal mereka kerap membantu dan peduli dengan kondisi sekolah.

* Lebih menekankan nilai-nilai pada pendidikan formal yang memang seharusnya menjadi tanggung jawab dan kepedulian orangtua. Pasalnya, masih banyak orangtua yang tak menganggap pendidikan formal sebagai prioritas, bahkan cenderung membiarkan anaknya bila malas-malasan sekolah.

Kekurangan:

Terlalu mengagung-agungkan bahwa pendidikan formal adalah kunci kesuksesan seseorang sehingga lupa mengembangkan bakat atau keterampilan anak-anaknya. Padahal, bakat dan keterampilan juga diperlukan untuk mengantar kesuksesan seseorang.

Anak-anak yang dihasilkan:

* Anak-anak yang juga peduli pada pendidikan formal. Karena termotivasi oleh lingkungan di rumah yang menekankan belajar, belajar dan belajar, si anak juga akan mencapai target nilai tertinggi akademik dan menganggap kesuksesan berawal dari nilai-nilai yang excellent di sekolah.

* Jika anak karena kemampuannya tak bisa memenuhi target orangtua, maka dia akan frustrasi dan lama-kelamaan bisa menganggap belajar adalah momok. Bukannya menjadi juara, kemampuan belajar anak makin lama malah makin hancur. Akibatnya, anak merasa tak percaya diri karena merasa sebagai anak yang bodoh dan tak mampu memenuhi tuntutan orangtua. Banyak dari anak-anak ini yang stres, frustrasi bahkan berakhir dengan bunuh diri seperti yang dilakukan beberapa pelajar di Jepang.

Agar anak berkembang sehat, inilah yang harus dilakukan orangtua:

Orangtua perlu memerhatikan, meski pendidikan formal penting, tapi kemampuan akademis setiap anak berbeda. Bila anak menunjukkan nilai akademis yang biasa-biasa saja, jangan marah dan selalu menyalahkan anak. Jangan memasang target pendidikan yang terlalu besar. Sebaliknya, galilah bakat dan kelebihan anak, kemudian kembangkan. Bisa jadi anak memang tidak terlalu berprestasi secara akademik tapi gemilang di bidang lain, seperti kesenian atau olahraga. Orangtua juga harus membuka mata atas usaha yang dilakukan anak, misalnya anak sudah terlihat belajar dengan sungguh-sungguh namun hasilnya belum sesuai harapan, orangtua sebaiknya tetap berbesar hati.

3. GOLD MEDAL PARENTS

Inilah kelompok orangtua yang selalu menginginkan anak-anaknya menjadi juara dalam setiap kompetisi.

Ciri-ciri:

Sering mengikutkan anaknya ke berbagai kompetisi dan gelanggang. Apa saja mereka ikuti seperti lomba seni, lomba ketangkasan fisik dan lomba ilmu pengetahuan seperti olimpiade matematika dan sains yang akhir-akhir ini lagi marak di Indonesia. Berbagai cara akan ditempuh agar anak-anaknya tampil sebagai sang juara. Sejak dini anak-anak ini diikutkan dalam berbagai perlombaan tadi dan berharap selalu menang.

Kelebihan:

Dapat mengasah kemampuan anak sejak dini lewat lomba-lomba sekaligus memberi bekal kepada anak akan semangat berkompetisi. Ingat, di dunia yang penuh dengan persaingan ini, anak-anak yang sejak kecil senang berkompetisi umumnya mempunyai semangat juang yang tinggi untuk memenangi persaingan. Modal ini bisa memberi kesuksesan pada mereka kelak. Apalagi kalau karier yang dipilih adalah menjadi wirausaha yang menuntut untuk selalu “siap bertanding” merajai pasaran.

Kekurangan:

Karena terlalu berambisi, sering kali tak memerhatikan kondisi anak yang bisa saja dilanda rasa bosan, capek atau ingin mencoba hal-hal baru lainnya. Akibatnya, bila anak terus dipacu dengan target, dia bisa menjadi frustrasi ketika dia merasa tak lagi mampu.

Anak yang dihasilkan:

Anak-anak yang gemar berkompetisi dan selalu bertekad menjadi juara. Bila mereka sering memenangkan pertandingan, cenderung mempunyai rasa percaya diri yang tinggi sehingga menjadi pribadi yang terbuka dan tak gampang frustrasi. Di sisi lain, tak sedikit kasus yang mengenaskan menimpa diri anak akibat perilaku ambisi kelompok gold medal parents ini. Sebagai contoh pada tahun 70-an seorang gadis kecil pesenam usia TK mengalami kelainan tulang akibat ambisi ayahnya yang guru olahraga ingin anaknya menjadi pesenam tingkat dunia. Atau kasus penyanyi cilik dunia Heintje yang setelah dewasa hanya menjadi pasien dokter jiwa. Ini semua akibat dari ambisi gold medal parents yang kebablasan karena tak memerhatikan kemampuan anak-anak mereka. Padahal, meskipun sering kali menjadi juara, tidak setiap saat anak menunjukkan performa yang prima. Ada saatnya anak-anak menunjukkan penurunan prestasi, yang mungkin saja disebabkan oleh rasa bosan atau frustrasi karena terus-terusan dituntut menjadi juara. Nah, sebagai tanda “protes”, mereka malah turun prestasinya.

Agar anak berkembang sehat, inilah yang harus dilakukan orangtua:

Sebaiknya, jadikan ajang perlombaan hanya sebagai media penyaluran bakat/kesenangan anak tanpa dibebani target ini-itu. Keikutsertaannya dalam berbagai lomba, meski tidak menang, sudah memberinya manfaat positif seperti latihan percaya diri, merasakan berkompetisi, mengapresiasi karya orang lain dan sebagainya. Orangtua harus menyadari bahwa menang dan kalah dalam setiap pertandingan atau kompetisi adalah hal yang biasa. Kekalahan, meski pahit diterima, ternyata mampu memberikan pembelajaran yang positif bagi anak-anak. Dengan kekalahan, mereka akan flashback, undur sejenak mengevaluasi kekurangan mereka untuk kemudian berpacu lagi menjadi juara. Kekalahan juga mengajari anak untuk bersikap rendah hati karena ternyata banyak orang yang punya kemampuan lebih dibandingkan dirinya. Jika mereka tak pernah kalah, mereka akan bersikap sombong dan ketika kalah, merasakan frustrasi yang berlebihan dibanding mereka yang dituntut berprestasi, tapi tak selalu harus menjadi juara.

4. OUTWARD BOUND PARENTS

Bagi orangtua kelompok ini, kenyamanan dan keselamatan anak-anak adalah hal utama yang harus mereka lakukan. Mereka menganggap, dunia di luar keluarga penuh dengan marabahaya. Karenanya, anak harus mendapat pendidikan yang memadai agar kelak bisa menjadi bekal untuk hidup nyaman dan selamat dari “kejamnya dunia”.

Ciri-ciri:

* Lebih memilih sekolah yang nyaman dan tidak melewati tempat-tempat tawuran/bullying yang kini sedang marak.

* Aktif mengikuti semua kegiatan anaknya di luar rumah tapi dengan maksud mengawasi dan melindungi.

* Sejak dini, mengikutkan anak-anaknya pada aktivitas bela diri seperti karate, yudo, pencak silat, dan sejenisnya. Harapannya tentu saja supaya anak-anaknya dapat melindungi diri dari berbagai macam marabahaya.

Kelebihan:

* Membekali anak dengan latihan bela diri yang memang diperlukan sebagai pertahanan diri.

* Meluangkan waktu yang banyak bersama anak dengan melibatkan diri pada kegiatan anak.

Kekurangan:

Sekilas tampaknya orangtua tipe ini sangat sayang dan memerhatikan anaknya, padahal sebenarnya mereka tengah mendidik anak-anaknya agar selalu memandang curiga pada apa yang terjadi di luar rumah. Orangtua jenis ini akan mudah panik dan ketakutan melihat situasi yang selalu mereka pikir akan membawa dampak buruk kepada anak. Akibatnya anak-anak mereka menjadi “steril” dengan lingkungannya.

Anak yang dihasilkan:

Umumnya, anak tumbuh menjadi “ksatria sejati” yang tangkas dalam ilmu bela diri. Karena latihan-latihan yang intens, mereka pun tumbuh menjadi anak-anak yang cekatan dengan fisik yang kuat. Mereka juga awas dengan sekelilingnya dan cepat tanggap bila bahaya mengancam.

Namun di sisi lain, sikap overprotektif dan cenderung mengikuti ke mana pun anak pergi, membuat anak kehilangan kemandirian karena selalu bergantung pada orangtua. Akhirnya, anak tidak belajar mencari solusi jika menemui kesulitan di dalam hidupnya. Ketika anak pergi ke tempat yang tak ada orangtuanya, meskipun punya bekal ilmu bela diri, anak bisa tak percaya diri dan selalu merasa waswas karena tak ada orangtua yang melindungi dan mengawasinya. Akibat lainnya, sedikit saja ada kejadian yang tak mengenakkan dirinya, dapat langsung membuatnya sangat frustrasi karena tak mampu mencari jalan untuk menanganinya.

Agar anak berkembang sehat, inilah yang harus dilakukan orangtua:

Orangtua tak perlu takut berlebihan sehingga mengungkung kebebasan dan kemandirian anak. Semakin besar anak, orangtua justru harus sedikit demi sedikit memberi kepercayaan pada anak untuk berani menghadapi realita yang terjadi di luar sana dan mengajari anak untuk mengatasi masalahnya sendiri. Dunia sering kali memang tak ramah dan menakutkan, namun bila sejak kecil anak-anak berani dan mampu menghadapinya, mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh menghadapi setiap gangguan yang muncul. Apalagi tak mungkin bagi orangtua untuk “melindungi” anak selamanya. Ada saatnya orangtua harus membiarkan anak mencoba sesuatu yang baru, melakukan segala sesuatunya sendiri dan mengambil risiko atas pilihannya. Kemantapan hati orangtua akan menular pada anak sehingga ia biasa menjalani kehidupannya sendiri.

5. DO IT YOURSELF PARENTS

Kelompok orangtua yang mengasuh anaknya secara “alami” atau menyatu dengan “alam semesta.”

Ciri-ciri:

* Berprofesi di bidang sosial dan kesehatan, seperti pekerja sosial di sekolah, di tempat ibadah, posyandu atau di perpustakaan.

* Dalam memilih sekolah, tak memaksakan diri. Umumnya, memilih sekolah yang sesuai dengan kemampuan/dana yang dimiliki.

* Memanfaatkan alam/benda-benda yang ada di lingkungan rumah dan sekitarnya sebagai media untuk bermain dan belajar, dari merawat dan memelihara tanaman, hewan, dan lain-lain.

* Umumnya tak memberikan target yang tinggi untuk anak-anaknya, selain juga tak memiliki perencanaan yang muluk-muluk.

Kelebihan:

Melibatkan anak untuk mencintai lingkungan dan menyukai hidup bersih. Tidak memaksakan anak mencapai target tertentu atau memaksa anak untuk menjadi pemenang atau juara bila mengikuti kompetisi. Meskipun tetap menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi tidak menjadi orang yang terlalu ambisius.

Kelemahan:

Orangtua tipe ini juga “bermimpi” untuk menjadikan anaknya “superkids” dengan prinsip “earlier is better”. Sayangnya, cenderung permisif, tak punya daya juang sehingga kadang terkalahkan oleh orang lain. Anak jadi kurang termotivasi dan terbiasa tidak membuat target/perencanaan.

Anak yang dihasilkan:

Peduli dan cinta lingkungan. Namun dikhawatirkan, anak akan menjadi sosok yang easy going, tak punya motivasi berprestasi untuk menjadi yang terbaik.

Agar anak berkembang sehat, inilah yang harus dilakukan orangtua:

Selalu memupuk daya juang anak agar ia mampu melihat jauh ke depan dan memiliki “mimpi-mimpi” atau cita-cita tinggi. Paculah anak untuk mencapai tujuan/target tertentu, sehingga ia termotivasi meningkatkan kemampuan atau keterampilannya. Tentunya tidak dengan memasang target terlalu muluk, melainkan dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki anak.

6. PRODIGY PARENTS

Ini tipe orangtua instan alias orangtua yang sukses dalam karier tetapi tidak memiliki pendidikan yang cukup.

Ciri-ciri:

* Secara materi mereka berkecukupan, tapi umumnya tak mengenyam pendidikan yang tinggi.

* Bagi mereka, kesuksesan di dunia bisnis merupakan bakat semata dan memandang sekolah dengan sebelah mata. Mereka juga memandang anak-anaknya akan hebat dan sukses seperti mereka tanpa memikirkan pendidikan seperti apa yang cocok diberikan kepada anaknya.

* Mereka memercayai bahwa keberhasilan yang telah diraih saat ini adalah karena bakat. Untuk itu, mereka mengharapkan anaknya akan mencapai sukses seperti yang telah dicapai dirinya. Jadi, lebih berorientasi kepada hasil tanpa mempertimbangkan proses yang akan dilalui.

* Mereka tak terlalu peduli dengan pendidikan anak-anaknya. Karena, mengacu pada pengalaman yang telah dialami bahwa mereka berhasil tanpa melalui jenjang pendidikan yang tinggi.

* Sangat mudah terpengaruh kiat-kiat atau cara unik dalam mendidik anak tanpa bersekolah. Buku-buku instan dalam mendidik anak sangat mereka sukai. Contoh, buku tentang “Kiat-Kiat Mengajari Bayi Membaca” atau “Kiat-Kiat Mengajari Bayi Matematika”, “Berikan Anakmu Pemikiran Cemerlang”, “Kiat-Kiat Mengajari Anak Dapat Membaca Dalam Waktu 6 Hari”, dan lainnya sejenis itu.

Kelebihan:

Mampu mengeluarkan biaya tinggi demi mencapai tujuan yang diharapkan. Misal, banyak memberikan fasilitas yang terbaik untuk anak-anaknya. Mereka pun sudah mengarahkan anak ke dalam bidang yang akan kelak ditekuni, biasanya adalah bidang yang sama dengan yang ditekuni si orangtua.

Kekurangan:

Kerap memaksakan anak agar berhasil seperti dirinya tanpa mempertimbangkan minat atau bakat si anak. Mereka juga tidak mengutamakan pendidikan bagi anak-anaknya, karena nilai-nilai yang diutamakan adalah keberhasilan atau kesuksesan di bidang pekerjaan nantinya.

Anak yang dihasilkan:

* Senang hal yang instan atau pragmatis. Misal, menginginkan ilmu-ilmu yang instan, tanpa mau menjalani jenjang pendidikan pada umumnya. Padahal semuanya harus berproses.

* Kurang memiliki rasa percaya diri, lantaran orangtua selalu memaksakan atau telah menyiapkan dengan sejumlah rencana yang harus diikuti/dipatuhi oleh anak. Anak tak diberi kesempatan banyak untuk memilih dan mengambil keputusan sendiri.

Agar anak berkembang sehat, inilah yang harus dilakukan orangtua:

Tidak mengambil jalan pintas dengan hanya membaca buku. Pendidikan atau sekolah sangat penting peranannya untuk mencapai masa depan anak yang lebih baik. Pendidikan memiliki andil dalam meningkatkan pengetahuan dan kecerdasan anak. Ingatlah, sukses tidak melulu karena bakat, tapi dapat pula karena minat si anak, selain juga dapat dipengaruhi oleh pendidikan. Jadi, perhatikanlah pendidikan bagi anak, dan berikan kesempatan kepada anak untuk menentukan pilihan dan mengambil keputusan sendiri sesuai dengan minatnya. Patut disadari pula oleh orangtua bahwa kelak keberhasilan yang dicapai anak belum tentu sama dengan yang telah dicapai orangtuanya.

7. ENCOUNTER GROUP PARENTS

Disebut juga tipe orangtua ngerumpi. Dengan kata lain, orangtua yang sangat menyenangi pergaulan.

Ciri-ciri:

* Mereka terkadang cukup berpendidikan, namun kekurangan harta atau tak memiliki pekerjaan tetap. Kadang mereka juga merupakan kelompok orangtua yang kurang bahagia dalam perkawinannya.

* Lebih banyak menghabiskan waktu untuk diri sendiri.

* Menyenangi pergaulan atau bersosialisasi, sehingga lebih mengutamakan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain.

Kelebihan:

Sangat mementingkan nilai-nilai relationship dalam membina hubungan dengan orang lain. Dapat mengajarkan atau memberikan contoh hangatnya bersosialisasi dengan orang lain, sehingga kelak si anak akan memiliki kemampuan beradaptasi yang baik bila memasuki lingkungan baru.

Kekurangan:

Kerap mengabaikan waktu untuk anak-anaknya karena lebih banyak menghabiskan waktu untuk dirinya sendiri demi bersosialisasi. Akibatnya, mereka tak punya kesempatan untuk memberikan stimulasi maksimal kepada anak. Orangtua tipe ini umumnya juga kurang memberikan perhatian dalam bidang pendidikan. Sebab, mereka beranggapan, keberhasilan yang diperoleh saat ini karena social network, bukan karena pendidikannya. Walau, terkadang karena pengaruh lingkungan, mereka juga ikut-ikutan memasukkan anaknya ke sekolah-sekolah yang “wah”.

Anak yang dihasilkan:

Orangtua tipe ini juga berusaha menjadikan anak-anak mereka sebagai “superkids”. Namun, anak-anak ini justru kurang menampilkan minat dan prestasi yang diharapkan, karena tak mendapatkan stimulasi maksimal. Selain itu, karena kurang perhatian, anak bisa menjadi agresif dan kerap sebagai “biang kerok” sekadar untuk mencari perhatian orangtua.

Agar anak berkembang sehat, inilah yang harus dilakukan orangtua:

Menyadari dirinya sebagai model peran bagi anak. Lantaran itu, luangkan waktu untuk bisa menjadi contoh yang baik, memberikan kasih sayang, mengamati perkembangan anak dan memberikan stimulasi sesuai dengan tahapan perkembangannya. Berikan perhatian pada anak demi terjalin hubungan yang hangat dengan anak.

8. MILK AND COOKIES PARENTS

Inilah tipe orangtua ideal. Mereka mengerti bagaimana perannya sebagai ibu/ayah dari anak-anaknya. Tak ada kelemahan pada orangtua tipe ini. Namun, untuk mencapai tipe seperti yang diharapkan ini tidaklah semudah yang dibayangkan.

Ciri-ciri:

* Terbuka dan hangat dengan latar belakang masa kecil yang bahagia, sehat dan manis.

* Memberikan lingkungan yang nyaman kepada anak-anaknya dengan penuh perhatian dan tumpahan cinta kasih.

* Sangat peduli dan mengiringi tumbuh kembang anak-anaknya dengan penuh dukungan.

* Menyukai berdiskusi dengan anak-anak, sehingga anak terbiasa melontarkan permasalahan yang sedang dihadapi dan berpendapat tentang sesuatu hal.

* Memercayai adanya proses bagi setiap anak untuk menemukan keistimewaan yang dimiliki.

Kelebihan:

Sangat memerhatikan kemampuan anak-anaknya. Mereka begitu yakin, anak membutuhkan suatu proses dan waktu untuk dapat menemukan sendiri keistimewaan yang dimilikinya. Dengan kata lain, mereka percaya bahwa anak sendirilah yang akan menemukan kekuatan dalam dirinya. Bagi mereka, setiap anak adalah benar-benar seorang anak yang hebat dengan kekuatan potensi yang juga berbeda dan unik. Mereka memenuhi rumah tangganya dengan buku-buku, lukisan dan musik yang disukai oleh anak-anaknya. Mereka berdiskusi di ruang makan, bersahabat dan menciptakan lingkungan yang menstimulasi anak-anak mereka untuk tumbuh mekar segala potensi dirinya.

Anak yang dihasilkan:

Anak-anak ini memiliki masa kanak-kanak yang bahagia dan penuh kenangan indah, serta memiliki kepercayaan diri dan antusiasme dalam belajar. Mereka juga tumbuh sesuai tahapan perkembangannya. Ada target yang ingin dicapai tapi tidak muluk-muluk, sesuai dengan kemampuan yang dimiliki si anak. Boleh dibilang, anak yang ideal juga deh.

Iklan

Satu Tanggapan to “Anda Termasuk Tipe Ibu Yang Mana?”

  1. Anda Termasuk Tipe Ibu Yang Mana? | Fairy Tail Manga said

    […] More: Anda Termasuk Tipe Ibu Yang Mana? […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: