Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Kaidah ini akan Mempersempit ruang gerak Seorang Ahlus Sunnah

Posted by Abahnya Kautsar pada 8 Januari 2009

Pasal

Kaidah ini akan Mempersempit ruang gerak Seorang Ahlus Sunnah

Dalam mengamalkan kaidah ini – terlebih jikalau diterpakan terhadap seseorang yang tidak mau menerima nasihat, dan tidak dapat dicegah dari kesalahan yang ia perbuat, ataukah bid’ah dan kesesatannya – , akan menjadi sebab dalam menggugurkan salah satu landasan utama yang merupakan pegangan Ahlus Sunnah, yaitu : berlepas diri dari para ahlul bid’ah, menghilangkan balasan yang syar’i yang layak bagi mereka berupa al hajru – pengisolasian – , bahkan penerapan kaidah ini akan menyia-nyiakan seorang sunni yang mampu memilah –antara yang haq dan batil, pen -.

Di mana menurut mereka ini, semuanya sama saja, selama masing-masing diberikan udzur, dan kaidah ini tidak akan mengeyahkan satu bid’ah pun, dan tidak pula menampakkan satu sunnah yang bersih dari noda. Akhirnya kaum muslimin akan berada dalam keadaan yang tidak menentu, mereka tidak mampu membedakan antara sunnah dan bid’ah, haq dan yang batil, antara hidayah dan kesesatan, jalan yang lurus dan bentuk penyimpangan serta yang benar dan yang salah.

Dan Al ‘Allamah Asy Syaikh Bakr Abu Zaid demikian indah yang beliau goreskan dalam tulisan beliau ketika berbicara tentang perkara-perkara yang berada disekitar kaum muslimin, yakni beliau mengatakan : ” Merusakkan tabir al wala’ wal baro’ antara seorang muslim dengan seorang kafir, seorang sunni dengan seorang ahlil bid’ah, yang dinamakan dalam istilah modern-nya dengan nama : tabir individualis. Maka tabir ini disobek dengan slogan-slogan yang menyesatkan, seperti slogan toleransi, kebersamaan hati nurani[1], mengesampingkan perbedaan, sikap ekstrim dan fanatisme dan juga slogan ” kemanusiaan ” ,dan serupa dengan sloga-n-slogan tersebut, yang datang dengan ungkapan-ungkapan yang memukau yang pada hakikatnya adalah konspirasi yang akan merusak binasakan, yang kesemuanya berkumpul untuk satu tujuan, menghabisi setiap muslim mawas diri dan untuk menghancurkan islam.”[2]

Beliau lalu berkata selanjutnya : “Dan yang paling nampak dalam pola pengajaran yang mengajarkan untuk memilah –antara yang haq dan yang batil,pen – terutama dalam masalah aqidah, dan pernghargaan yang tinggi kepada As Sunnah dan berpegang teguh dengan sunnah dan juga untuk menjaga kemurnian islam dari setiap yang dapat menodainya, adalah dengan menegakkan setiap yang menghidupkan al wala’ wal baro’, dan diantaranya juga dengan menampakkan balasan yang syar’I bagi para pelaku bid’ah, ketika mereka telah diperingati namun mereka lengah dengan peringatan itu, mereka telah dilarang namun mereka mengacuhkan larangan itu, yang itu dilakukan tiada lain untuk kebaikan mereka, agar mereka mendapatkan hidayah, dan agar mereka kembali setelah terombang-ambing dalam keterasingan dalam terjangan bid’ah dan kelalaian . Dan sebagai penguat tirai antara sunnah dan bid’ah, dan tirai pemisah yang menjauhkan antara seorang ahlus sunnah dengan seorang ahlul bid’ah. Dan juga untuk mengekang setiap pelaku bid’ah dan bid’ah mereka, sebagai pencegah mereka. Dan juga untuk mengurangi mafsadat di muka bumi dan bercampurnya penyimpangan dalam keyakinan, agar supaya sunnah tetap nampak terang bersih dari segala bentuk noda, bersih dari setiap kecendrungan terhadap hawa nafsu dan dari segala kotoran bid’ah, berjalan sesuai dengan manhaj Nubuwwah dan selaras dengan atsar, dan mendhohirkan As Sunnah adalah da’wah yang paling agung baginya, dan merupakan petunjuk keberadaannya, dan inilah sebenar-benarnya nasihat bagi ummat muslimah ” [3]

Judul Asli : Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun

Penulis : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman

Muroja’ah : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan

Rekomendasi : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad

Penerbit : Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah

Cetakan Pertama 1419 H / 1999 M

Penerjemah : Abu Zakariya Al Atsary


[1] Berkata Ibnul Qoyyim dalam ” Ighotsah Al Lahafan “ 2 / 81 : ” Dan setiap pelaku kebatilan tidak akan mampu menyebar luaskan kebatilan ia kecuali jika ia mengeluarkan kebatilan itu dengan mengacu kepada al haq “

[2] Hajrul Mubatadi’ hal. 5 – 6

[3] Hajrul Mubatadi’ hal. 7

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: