Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,200,188 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Kumpulan Artikel : Catatan Atas Kaidah Sesat Ikhwanul Muslimin : “Tolong-menolong dalam Kesepakatan dan Toleransi dalam Perselisihan”

Posted by Abahnya Kautsar pada 28 Januari 2009

Kumpulan Atikel : Catatan Atas Kaidah Sesat Ikhwanul Muslimin : “Tolong-menolong dalam Kesepakatan dan Toleransi dalam Perselisihan”

“Ikhtilaafu ummati rahmah” (perselisihan ummatku adalah rahmat). Itulah sebuah ungkapan yang dianggap sebagai sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Padahal, tidak ada satu pun karya tulis hadits yang memuat ungkapan seperti itu. Seandainya ada, derajatnya dha’if (lemah).

Ironisnya, ungkapan tersebut kerap digunakan sebagai dasar sebagai pembenaran berbagai perbedaan alias perselisihan yang terjadi di dalam ummat ini. Sungguh mengherankan anggapan sebagian kalangan bahwa perselisihan adalah rahmat. Bukankah Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Rabb-mu.” (Huud :118-119).

Sangat jelas, ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengecualikan orang-orang yang dirahmati dari perselisihan.

Dan yang wajib tentunya adalah menjadikan setiap yang Allah ta’ala turunkan berupa Al Kitab dan As Sunnah sebagai suatu dasar dalam segalaperkara alu setiap yang diperbincangkan khalayak ramai dikembalikan kepada keduanya, dan dijelaskan setiap lafadz-lafadz yang global akan kandungan maknanya, yang selaras dengan Al Kitab dan As Sunnah maka mesti untuk diterima, sedangkan jika padanya dijumpai makna-makna yang berseberangan dengan Al Kitab dan As Sunnah maka tertolak.

Dan dari sekian banyak kaidah yang didapati dalam sekian banyak shaf jama’ah –jama’ah da’wah, adalah kaidah :

يَعذٍرُ بَعضنا بعضاً فٍيما اخْتلفنا فيه و نَتَعاوَن فيما اتَّفَقْناعليه

” Saling memberikan udzur masing-masingnya pada setiap yang kita berbeda pendapat, dan saling membantu dalam setiap yang kita bersepakat padanya “

Dan yang mengadakan kaidah ini telah meninggal dunia –semoga Allah merahmatinya dan mengampuninya – dan sekiranya beliau masih hidup tentulah akan kami kembalika kaidah ini kepadanya, sehingga jelas maksud dari kaidah ini, dan akan kami jelaskan padanya pemahaman yang diharuskan oleh kaidah ini, akan tetapi setelah kami melihat bagaimana pengikut nya mengamalkan kaidah ini, teranglah bagi kami apa sebenarnya yang diinginkan dari kaidah ini.

Dimana mereka tidak saja hanya membatasi sesama Ahlus Sunnah dalam masalah-masalah ijtihadiyah yang tidak dijumpai adanya nash syara’, namun juga telah melebarkan kaidah ini hingga mencakup pula firqah yang paling sesat semisal Rafidhah !

Dan hanya Allah yang mengetahui, betapa banyak akibat dari kaidah ini , menjadi sebab akan pembolehan bid’ah dan menghimpun pendapat-pendapat para Ahlul Bid’ah bersama-sama dengan pendapat-pendapat Ahlus Sunnah !

Dan akan dilihat dalam Risalah kami ini perbedaan antara pendapat orang tersebut dan perkataan para Ulama-ulam Ahlil Ilmu yang rusukh – mumpuni – dalam keilmuanya.

Dan pembahasan ini terbagi menjadi tiga bagian ;

Muqaddimah.


Koreksi atas kaidah sesat Ikhwanul Muslimin

Pertama : Pengantar dan beberapa Kaidah dalam masalah-masalah khilafiyah.


Dasar-Dasar dan beberapa Ushul Masalah Khilaf

Perkara Khilaf adalah suatu perkara Kauniyah

Khilaf / Perselisihan adalah tanda dari Ahlul Bid’ah

Perselisihan adalah Buah dari Dosa

Khilaf / Perselisihan adalah suatu Keburukan

Tentang Hadits : ” Perbedaan pendapat dari Ummatku adalah Rahmat “

Perselisihan yang masing-masingnya berpegang pada dalil

Al Haq disisi Allah hanya satu dan selainnya adalah Kekeliruan

Al Haq adalah suatu yang Terang dan Mudah bagi yang Berusaha mencarinya dengan Tujuan yang baik

Tempat-tempat Perbedaan Pendapat dan Adz Dzhonn Sangatlah sedikit

Perbedaan Pendapat dikalangan Shahabat Nabi –shollallahu ‘alaihi wasallam – pada permasalahan Ijtihad

Aqidah yang benar, sebab dalam mencapai Al Haq dan terkabulnya Doa

Pemahaman Salaf ma’shum dari segala bentuk Perselisihan

Makna Kelapangan dalam menyikapi Masalah Khilafiyah

Para Ulama Salaf senantiasa menuntut adanya dalil dari setiap pendapat

Menjadikan perselisihan sebagai sandaran hukum

Berpegang dengan perselisihan adalah sifat seorang zindiq

Menggantungkan ‘Illat Ahkamul Fiqhiyah dengan dalih sebagai suatu Masalah Khilafiyah

Perbedaan Pendapat dalam Ahkamul Fiqhiyah

Apakah dalam dua pendapat yang berselisih diambil yang paling ringan ?

Pijakan lainnya yang Fasad

Tidak semua yang keliru mendapatkan ganjaran pahala

Kapan seseorang yang keliru diberikan udzur?

Beberapa ketentuan dalam Masalah Ijtihadiyah

Meluruskan Kesalahan Suatu Kewajiban

Ahli Bid’ah lebih berbahaya dari pada Kaum Yahudi dan Nashrani

Khilaf yang timbul akibat bantahan terhadap Bid’ah lebih ringan dibandingkan dengan merebaknya Bid’ah dan Kesalahan

Berpaling dari Kebenaran setelah Kebenaran merupakan perbuatan dosa besar yang nyata

Faidah Kemilau dari Al Wazir Ibnu Hubairah

Timbangan Adil para Ulama dalam Memberikan koreksi


Kedua : Akibat yang timbul dari pengamalan Kaidah ini.


Qaidah ini tidak sejalan dengan Manhaj As Salaf

Kaidah ini suatu penyelesaian yang bid’ah

Pintu Keburukan yang terbuka lebar

Kaidah ini akan lebih memperlebar perpecahan dan perselisihan

Membuka lebar-lebar setiap jalan yang ditutup oleh Syara’

Kaidah ini berseberangan dengan perintah Allah

Kaidah ini akan Mempersempit ruang gerak Seorang Ahlus Sunnah

Tidak tercapainya Persatuan di antara kaum muslimin

Ketiga : Beberapa perkataan para Ulama dalam menyikapi Kaidah ini.


Pendapat Beberapa Ulama dalam menyikapi Kaidah ini

Pendapat Beberapa Ulama dalam menyikapi Kaidah ini (2)

Pendapat Beberapa Ulama dalam menyikapi Kaidah ini (3)

Pendapat Beberapa Ulama dalam menyikapi Kaidah ini (4)

Pendapat Beberapa Ulama dalam menyikapi Kaidah ini (5)

Penutup.


Penutup : Koreksi Kaidah Ikhwanul Muslimin

Iklan

Satu Tanggapan to “Kumpulan Artikel : Catatan Atas Kaidah Sesat Ikhwanul Muslimin : “Tolong-menolong dalam Kesepakatan dan Toleransi dalam Perselisihan””

  1. haris said

    Jazakallah atas koreksinya,
    Menurut yang saya tahu bahwa maksud dari kaidah tersebut adalah kita bersepakat dalam hal aqidah & sunnah Rasul saw yang merupakan pokok2 dienul islam, sedangkan maksud dari toleransi dalam perbedaan adalah terhadap perbedaan yang secara syariat ‘amali fiqhiyah terdapat khilafiyah yang tidak sampai pada kesesatan dan kemunkaran serta tidak melanggar sunnah Rasul saw.
    Walalahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: