Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,200,188 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Pendapat Beberapa Ulama dalam menyikapi Kaidah ini

Posted by Abahnya Kautsar pada 28 Januari 2009

Pendapat Beberapa Ulama dalam menyikapi Qaidah ini

Pasal

Maksud dari perkataan Al ‘Allamah As Sa’di

Mungkin sebagian orang yang menjumpai perkataan Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdurrahman As Sa’di dalam Kitab beliau ” Al Munadhzorat Al Fiqhiyah “, menyangka bahwa beliau menjalankan kaidah ini secara mutlak ! Dan persangkaan seperti ini tidaklah tepat, sebagaimana akan kami jelaskan nantinya –insya Allah –

Berkata Asy Syaikh – rahimahullah – dalam meyampaikan beberapa faidah seputar penulisan masalah-masalah khilafiyah menurut alur munadhzorat :-

” Dan diantaranya perlu diketahui, bahwa perselisihan seputar masalah-masalah seperti ini diantara Ulama bukanlah suatu yang menjadikan adanya cacat, ‘aib dan celaan pada diri mereka, akan tetapi sebagaimana diujarkan oleh sebagian kaum muslimin : ” Kita saling ta’awun dari segala yang telah disepakati dan memberikan udzur satu sama lainnya pada perkara-perkara yang kita perselisihkan ”

Berbeda halnya dengan seorang yang bodoh lagi sempit wawasannya, yang berpendapat bahwa setiap yang menyelisihinya ataukah menyelisihi orang yang ia hormati telah melakukan perbuatan dosa yang amat besar, orang seperti ini mesti diberi udzur, terkadang yang benar adalah yang ia katakan, namun ini adalah sifat yang tidak seorangpun dari Ulama menyenanginya, kami memohon kepada Allah dari sifat seperti ini, dan dari setiap yang tidak dicintai Allah dan Rasul-Nya ” [1]

Ucapan Asy Syaikh, sangatlah jelas dalam cakupan ” seperti masalah-masalah ini … ” yaitu masalah-masalah fiqhiyah, ini yang pertama. Dan ini hal yang jelas, karena buku beliau keseluruhannya berbicara tentang masalah-masalah fiqh, yang mana dalil-dalingnya saling ulur, seperti dalam masalah pembagian jenis air, tentang sholat bersendiri dibelakang shof dan serupa dengan masalah-masalah ini.

Kedua : Yang diucapkan oleh Asy Syaikh, terbatas hanya pada masalah-masalah yang mana penyelisih masalah tersebut diberikan udzur, perhatikan dalam ucapan beliau : ” … dan ia diberikan udzur … “

Ketiga : Dan amalan Asy Syaikh dalam buku beliau ” Al Munadhzorat ” , lebih memperjelas apa yang beliau maksudkan dari ibarat-ibarat tersebut, dimana beliau menyebutkan adanya khilaf dari dua belah pihak dan menyebutkan dalil masing-masing pihak dan sandaran pendapat mereka masing-masing, setelah itu beliau memberikan hukum diantara mereka dari permasalah yang mereka perselisihkan dengan ketentuan dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Kita akan mendapati hal ini sangat jelas dalam ucapan beliau : ” Bahwa kebenaran adalah sesuatu yang terlepas dari genggaman seorang yang mencari kebenaran, sekiranya engkau tidak memiliki selain apa yang engkau selain yang engkau dapati berupa dalil-dalil syara’, maka demikianlah kebenaran itu, maka suatu keharusan engkau berpegang dengan suatu hujjah “[2]

Demikian pula ketika beliau mengatakan : ” Yang wajib bagi kita hanyalah satu, yakni ittab’ kepada yang dikuatkan oleh dalil yang selamat dari benturan dalil lainnya yang sama kuat ” [3]

Lantas ucapan beliau ini bagaimana bisa didudukkan dengan yang mengamalkan kaidah ini terhadap para pengekor hawa nafsu, bahkan terhadap kaum fanatik mereka dan yang paling buruk diantara mereka –seperti terhadap kaum Rafidhoh – tanpa adanya keharusan untuk tegak diatas As Sunnah.

Keempat : Yang juga perlu dilakukan adalah menyelaraskan nash-nash ucapan Asy Syaikh , secara keseluruhan yang berkaitan dalam masalah yang sama, dengan dmikian akan diketahui maksud beliau yang sesungguhnya.

Dan jika kita melakukan hal tersebut, tidak sekalipun kita menjumpai Asy Syaikh menerapkan kaidah ini terhadap para ahlul bid’ah – sebagaimana halnya mereka – melainkan akan kita dapati beliau berpendapat bahwa menghalau dalam bentuk jihad mereka lebih utama daripada jihad menghadapi musuh dari luar. [4]

Jadi perkataan Al ‘Allamah As Sa’di terlalu umum, dan tidak didapati dalam ucapan beliau yang menunjukkan penerapan kaidah ini terhadap ahlul bid’ah.

Maka waspadailah segala metode yang dipakai oleh ahlul bid’ah, dimana mereka jika mendapati dari sebagian para syaikh ucapan yang bernada umum dan tersamar, merka akan menggiring ucapan-ucapan tersebut kepada makna yang keliru.

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tentang perihal mereka ini : ” Dan mereka, terkadang menjumpai beberapa ucapan dari sebagian Masyaikh, yang samara-samar dan bernada umum, lantas mereka menggiringnya kepada makna yang keliru, seperti perbuatan kaum nashrani dari apa-apa yang mereka nukilkan dari para Nabi-nabi mereka, mereka ini meninggalkan ucapan yang terang dan jelas lalu mengambil ucapan yang samar-samar ” [5]

Judul Asli : Zajr Al Mutahawin Bidhorurah Qaidah Al Ma’dzarah wat Ta’awun

Penulis : Hamd bin Ibrahim Al ‘Utsman

Muroja’ah : Al ‘Allamah Asy Syaikh Sholeh bin Fauzan Al Fauzan

Rekomendasi : Al ‘Allamah Asy Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad

Penerbit : Maktabah Al Ghuraba’ Al Atsariyah

Cetakan Pertama 1419 H / 1999 M

Penerjemah : Abu Zakariya Al Atsary


[1] Muqaddimah Al Munadhoraat Al Fiqhiyah hal. 7

[2] Al Munadhzorat Al Fiqhiyah hal. 16

[3] Al Munadhzorat Al Fiqhiyah hal. 23

[4] Seperti terlihat pada hal. 72 – 73 , di buku yang sama.

[5] Majmu’ Fatawa 2 / 374

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: