Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 330 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,167,775 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Mencari Alternatif Sehat

Posted by Abahnya Kautsar pada 14 Maret 2009

MENCARI Alternatif Sehat

Apa yang dilakukan saat Anda atau si kecil terserang sakit kepala? Minum obat pereda nyeri?

Kebanyakan orang mungkin akan menjawab demikian. Jawaban tersebut tentu tidak salah, tapi menurut Ir. Dunanty RK Sianipar, MPH, Kasubdit Bina Upaya Kesehatan Tradisional, Departemen Kesehatan RI, sebenarnya banyak cara untuk menyembuhkan sakit kepala, namun cari dulu penyebabnya. Lagi pula obat sakit kepala sebenarnya tidak “menembak dengan jitu” sasaran penyebab sakit kepala itu sendiri. Justru obat itu memiliki efek samping bila keseringan diminum, salah satunya mengganggu kerja ginjal. “Penyebab sakit kepala juga macam-macam. Mungkin saja kan kita sakit kepala karena pas tengah bulan kehabisan uang belanja atau stres. Nah, penyebab seperti ini kan solusinya bukan dengan obat. Ada cara penyembuhan lain, seperti aromaterapi atau dengan meditasi yang menenangkan pikiran dan perasaan. Pengobatan alternatif ini justru lebih aman dan minim efek samping.”

Meski terkesan guyon, apa yang dituturkan Dunanty sebenarnya amat mengena untuk menggambarkan bahwa selain pengobatan farmasi/ konvensional, ada pengobatan tradisional/alternatif yang saling melengkapi. Depkes sendiri, lanjut Dunanty, telah mengakui keberadaan pengobatan tradisional. Bahkan ke depannya kelak pengobatan ini bisa sejajar dengan pengobatan konvensional. “Dalam dunia pengobatan ada istilah komplementer alternatif. Nah, alternatif pengobatan kovensional Barat adalah pengobatan Timur atau pengobatan tradisional ini,” tuturnya. Misalnya hipnoterapi yang digunakan untuk melengkapi pengobatan penyakit kanker. Pasien kanker yang harus menjalani pengobatan kemoterapi, dengan melakukan hipnoterapi akan merasa lebih nyaman menjalaninya.

Definisi pengobatan tradisional menurut Depkes adalah pengobatan atau/dan perawatan dengan cara, obat, dan pengobatnya yang mengacu pada pengalaman, keterampilan turun temurun, pendidikan, pelatihan, dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. “Jadi definisinya mengacu pada tiga hal; caranya, pengobat (pelaku) dan obatnya itu sendiri. Sebenarnya masih ada satu lagi, yakni sarananya, seperti panti/ griya kesehatan tradisional. Sekarang kan ada rumah sakit yang memiliki dua jalur pengobatan; konvensional dan tradisional. Contoh, RS. Soetomo di Surabaya. Saat pasien datang, ia sudah ditanya mau dilayani dengan pengobatan tradisional atau konvensional.”

CARA, PENGOBAT & OBAT

Mengenai cara, menurut Dunanty, ada sekitar 30 metode pengobatan tradisional yang tercatat di Depkes dengan 4 kategori besar yakni batra (pengobat tradisional ) keterampilan, batra ramuan, batra pendekatan agama dan batra supranatural. “Ini yang baru diketahui Depkes, masih banyak yang di luar sana karena kita memiliki 33 provinsi yang pasti semuanya punya pengobatan tradisional, bahkan setiap suku di tiap-tiap provinsi juga pasti punya,” ujarnya.

Namun, para batra tradisional yang diakui Depkes adalah yang memang punya kompetensi di bidangnya. Berkaitan dengan itulah, Depkes akan melihat pendidikan/ijazah orang tersebut. Bagaimana bila tidak ada ijazah resmi? Pengobat yang mendapat keterampilannya secara turun temurun, misalnya? Batra seperti itu juga diakui keberadaannya oleh Depkes. “Namun WHO menetapkan pengobat tradisional yang diakui adalah yang keterampilannya sudah terbukti selama tiga generasi. Jadi kakek harus menurunkan keterampilannya kepada anak lalu anak mewariskannya lagi kepada anaknya. Untuk di Indonesia ini sulit diterapkan mengingat masyarakat kita belum terbiasa mendokumentasikan sesuatu dan mengikutinya dengan cermat. Saya percaya kalau kita telah membiasakan hal itu akan ada lebih banyak lagi metode pengobatan tradisional yang dapat dibuktikan.”

Mengenai pengobat yang mendapatkan ilmunya di luar negeri, prosedurnya tidak jauh berbeda. Dengan menyerahkan ijazah yang bersangkutan kepada Diknas untuk dilegalisisasi dan mengikuti prosedur pendaftaran di Dinkes Provinsi setempat guna mendapat persetujuan tertulis maka si pengobat akan memperoleh Surat Terdaftar Pengobat Tradisonal (STPT) atau Surat Izin Pengobat Tradisional (SIPT).

Nah, mengenai obat tradisional/herbal, BPOM (Badan Pengawasan Obat dan Makanan) menetapkan bahwa obat tradisional harus memenuhi 3 kriteria, yakni quality (kualitas), safety (keamanan) and efficacy (khasiat). Kualitas berkaitan dengan keajekan komposisi produk yang harus terjamin. Sementara jaminan keamanan diperoleh melalui uji toksisitas pada bahan baku dan formulanya dan sudah terbukti aman. Terakhir, khasiatnya dijamin melalui uji farmakodinamik (ada pengujian ilmiah terhadap klaim khasiat obat herbal yang dibuat). BPOM secara berkala mengeluarkan daftar obat tradisional yang telah memenuhi 3 kriteria tadi dan juga obat-obatan herbal yang bermasalah.

BUKTI EMPIRIS

Sederhananya, tegas Dunanty, pengobatan tradisional haruslah aman, bermanfaat, bermutu, dapat dipertangungjawabkan dan terjangkau. Untuk pembinaan, Depkes memiliki 3 pola pembinaan. Pertama pola toleransi yaitu pembinaan terhadap semua jenis pengobatan tradisional yang diakui keberadaannya di masyarakat, pembinaannya diarahkan pada limitasi efek samping. Artinya efek samping pengobatan alternatif tersebut harus paling kecil. Yang kedua, pola integrasi yaitu pembinaan terhadap pengobatan tradisional yang secara rasional terbukti aman bermanfaat dan mempunyai kesesuaian dengan hakekat ilmu kedokteran, dapat merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan. Yang ketiga pola tersendiri yaitu pembinaan terhadap pengobatan tradisional yang secara rasional terbukti aman bermanfaat dan dapat dipertanggungjawabkan, memiliki kaidah sendiri, serta dapat berkembang sendiri. “Contoh kriteria yang ketiga ini adalah paranormal. Karena dunia paranormal memang sulit dibuktikan maka minimal metode pengobatannya sudah kami pahami. Sepanjang tidak membahayakan jika dilihat dengan ilmu kedokteran, maka pengobatan tradisional itu bisa berkembang.”

Masih soal keamanan, Dunanty mengakui, idealnya memang pengobatan tradisional melalui uji praklinis (biasanya pada tikus percobaan ) dan uji klinis (pada manusia). Pada pengobatan tradisional, yang sulit adalah uji klinis pada manusia karena pengujian sebuah metode dianggap sah bila dilakukan pada 20-100 orang yang perkembangannya diikuti dalam kurun waktu tertentu minimal 3 bulan untuk melihat hasilnya. Misalnya apakah benar setelah mengonsumsi obat herbal tertentu, kadar gula darahya bisa turun. Di situlah yang sulit. “Jarang ada orang yang mau dijadikan sampel penelitian. Jadi memang kebanyakan pengobatan tradisional masih berdasarkan bukti empiris. Umpamanya, ada 20-100 orang yang mengaku setelah mendapat pengobatan dengan metode tertentu maka asam uratnya turun, padahal ini perlu didukung hasil laboratorium .”

SURAT IZIN DEPKES

Lalu bagaimana masyarakat awam bisa tahu mana pengobatan tradisional yang aman dan yang tidak. “Lihat surat izin pengobatnya,” kata Dunanty. Depkes memiliki dua kategori untuk surat izin; Surat Terdaftar Pengobat Tradisional (STPT) dan Surat Izin Pengobat Tradisional (SIPT). Untuk SIPT, Depkes baru mengeluarkan untuk satu metode pengobatan tradisional, yaitu akupunktur karena pengobatan dari China itu memang sudah dapat dibuktikan secara ilmiah. “Pengobat tradisional di luar metode itu masih dikategorikan terdaftar. Meski begitu mereka yang memiliki STPT boleh praktik.”

Prosedur untuk mendapatkan surat terdaftar/izin tersebut mudah selama para pemohon memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Salah satunya, melampirkan ijazah pendidikan. Uji kemampuan yang bersangkutan, umumnya dilakukan oleh asosiasi/kelompok profesinya, jadi misalnya dia seorang akupunkturis maka yang menguji adalah PAKSI (Persatuan Akupunkturis Seluruh Indonesia). Asosiasi-asosiasi ini adalah mitra Depkes dalam membina para pengobat tradisional. “Jadi prosedurnya kira-kira begini. Si pengobat tradisional mendaftarkan diri pada asosiasinya. Lalu asosiasi tersebut akan memberi surat keterangan/rekomendasi yang selanjutnya bisa dibawa ke Dinas Kesehatan Kabupaten setempat untuk mendapat STPT atau SIPT. Kalau sudah dapat, mohon nomor tersebut dicantumkan pada plang/papan nama dan juga sertifikat STPT atau SIPT-nya ditempel di dinding di tempat yang bisa dilihat agar para klien tahu bahwa pengobat tradisonal itu sudah memiliki izin/terdaftar di Dinkes Kab/kota setempat,” kata Dunanty.

Surat izin ini juga akan memudahkan Depkes untuk menindaklanjuti pengaduan-pengaduan dari masyarakat yang berkaitan dengan pengobatan tradisional. “Saat ada pengaduan, yang pertama akan kami cek adalah apakah si pengobat tradisional itu terdaftar atau tidak. Beberapa waktu lalu ada kejadian pasien keluhan sakit di leher yang diobati secara tradisional lalu tewas. Setelah kami selidiki ternyata nama pengobat tersebut tidak terdaftar. Kalaupun ada pengobat tradisional yang sudah memiliki izin resmi namun melakukan kesalahan misalnya, yang ikut kami tegur adalah asosiasinya karena asosiasi punya peran dalam membina anggotanya.”

Apakah pernah ada pengobat tradisonal yang ditolak ketika mengajukan permohonan STPT? “Kami tidak bisa melakukan itu. Kami harus menerima semua pengobat tradisional yang memiliki niat baik untuk mendaftar. Daripada kami lepas lalu mereka praktik secara liar lebih baik kami rangkul dan lakukan pembinaan. Jadi saat mereka melapor akan kami beri informasi yang diperlukan . Bila pengobat tradisional tersebut belum memiliki asosiasi, sebaiknya bentuk dulu melalui prosedur yang telah ditetapkan. Sebelum akhirnya tercatat dalam keputusan Depkes yang resmi, pengobat harus menyampaikan metodenya di depan panelis dan ahli. Misalnya, pengobatan tradisional dengan menggunakan sengat lebah. Metodenya adalah si lebah menyengat di titik-titik akupunktur. Akupunktur memang sudah diakui masuk dalam pelayanan kesehatan, tapi karena dia menambah lebah dalam pengobatannya dan sengatan lebah berisiko memicu alergi pada beberapa orang yang sensitif, maka kami mengundang pakar/ahli kesehatan yang mendalami soal alergi saat metode pengobatan tradisional tadi dipresentasikan. Jadi dalam memberi izin kami tidak sembarangan.”

Nah, beberapa jenis pengobatan alternatif yang sudah dapat diandalkan bagi kesehatan itu kami bahas pada halaman-halaman berikut ini.

BILA TERJADI “KASUS”

Bila pasien merasa dibodohi oleh pengobat tradisional bahkan merasa dirugikan, jangan diam saja dan pasrah pada nasib. “Klien harus berani mengadukannya. Asalkan pengaduannya jelas, itu bisa ditindaklanjuti. Misal, setelah mendapat pengobatan lalu klien mengalami suatu ketidaknyamanan, seperti gatal-gatal atau bahkan pingsan, segera laporkan ke institusi pelayanan kesehatan terdekat, seperti puskemas atau rumah sakit. Setelah ada laporan, Depkes akan melacak siapa pengobat tradisional tersebut, apakah terdaftar atau tidak. Masalahnya kalau pengobat tradisonal tidak terdaftar, maka salah siapa, berarti mungkin si klien percaya akan iming-iming yang dijanjikan. Tapi kalau memang pengobat tradisonal itu terdaftar, maka kami akan memberikan teguran mulai dari lisan, tertulis sampai pada penghentian/ penutupan praktik,” kata Dunanty.

JENIS PELAYANAN PENGOBATAN TRADISIONALYANG TERDAFTAR DI DEPKES

I. Batra Keterampilan; seseorang yang melakukan pengobatan dan/atau perawatan tradisional berdasarkan keterampilan fisik dengan menggunakan anggota gerak dan/atau alat bantu lain, antara lain;

* Batra pijat: seseorang yang melakukan pelayanan pengobatan dan/atau perawatan dengan cara mengurut/memijat bagian atau seluruh tubuh dengan menggunakan jari tangan, telapak tangan, siku, lutut, tumit, atau dibantu alat tertentu. Antara lain pijat yang dilakukan oleh dukun/tukang pijat, pijat tuna netra dsb.

* Batra sunat: seseorang yang memberikan pelayanan sunat secara tradisional

* Batra dukun bayi adalah seseorang yang memberikan pertolongan persalinan ibu sekaligus memberikan perawatan kepada bayi dan ibu sesudah melahirkan selama 40 hari.

* Batra pijat refleksi: seseorang yang melakuan pelayanan pengobatan dengan cara pijat menggunakan jari tangan atau alat bantu lainnya pada zona-zona refleksi terutama pada telapak kaki dan/atau tangan.

* Akupresuris: seseorang yang melakukan pelayanan pengobatan dengan pemijatan pada titik-titik akupunktur menggunakan ujung jari dan/atau alat bantu lainnya kecuali jarum.

* Akupunkturis adalah seseorang yang melakukan pelayanan pengobatan dengan perangsangan pada titik-titik akupunktur dengan cara menusukkan jarum dan sarana lain seperti elektro akupunktur.

* Chiroprakstor: seseorang yang melakukan pengobatan kiropraksi dengan cara teknik khusus untuk gangguan otot dan persendian.4 Batra patah tulang: seseorang yang memberikan pelayanan pengobatan dan/atau perawatan patah tulang dengan cara tradisional.

II. Batra ramuan obat tradisional: seseorang yang melakukan pengobatan dan/atau perawatan tradisional dengan menggunakan obat/ramuan tradisional yang berasal dari tanaman (flora), fauna, bahan mineral, air, dan bahan lain. Antara lain: jamu, gurah, shinshe, tabib, homeopati, aromaterapis.

III. Batra pendekatan agama adalah seseorang yang melakukan pengobatan dan atau perawatan tradisional dengan menggunakan pendekatan agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu atau Buddha.IV. Batra supranatural: seseorang yang melakukan pengobatan dan atau perawatan tradisional dengan menggunakan tenaga dalam, meditasi, olah pernapasan, indra keenam (pewaskita), kebatinan, antara lain: tenaga dalam (prana), paranormal, reiki, qigong, kebatinan dan lain-lain.

Faras Handayani. nakita

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: