Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,200,188 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Hukum Menuntut Ilmu di Negeri Kafir

Posted by Abahnya Kautsar pada 6 Agustus 2009

Pertanyaan :

Bismillah…. Assalamu’alaykum yaa Ustadz,

Bolehkah kita menuntut ilmu di negeri kafir dengan mendapatkan beasiswa pasca sarjana dari salah satu universitas di luar negeri seperti eropa,amerika dan australia?

Mohon pencerahan atas perkara tersebut. Jazaakumullah khairan katsiran…

Dijawab oleh Al Ustadz Abu Muhammad Dzulqarnain

Wa’alaikmussalam Warahmatullahi Wabaratuh

Harus diketahui bahwa melakukan perjalanan ke negeri kafir terdapat sejumlah perkara yang sangat membahayakan agama seorang muslim atau muslimah.

Diantara bahaya tersebut:

1. Akan menumbuhkan Loyalitas terhadap terhadap orang-orang kafir.

2. Akan terbiasa menyaksikan hal-hal yang mungkar dan diharamkan oleh agama.

3. Melemahkan amar ma’ruf nahi mungkar.

4. Memasukkan diri di tengah kaum yang dimurkai oleh Allah.
Dan banyak lagi bahaya lainnya.

Karena itu, tidak dibolehkan melakukan perjalanan ke negeri kafir kecuali kalau dalam kondisi darurat seperti berobat atau mempelajari ilmu yang sangat diperlukan oleh kaum muslimin dan semisalnya.
Sambil mengingat bahwa orang yang melakukan perjalanan tersebut harus mempunyai bekal ilmu syariat dan ketakwaan yang bisa membentenginya dari subhat dan syahwat.

Wallahu A’lam

Iklan

5 Tanggapan to “Hukum Menuntut Ilmu di Negeri Kafir”

  1. lawliet90 said

    waduh….. 😕

  2. Adi Is said

    Ustadz yang terhormat.
    Jawaban anda diatas diperbolehkan apabila untuk menuntut ilmu, ilmu apa ?.
    Sekitar 2 tahun lalu di mesjid di daerah Pondok Bambu , Jakarta Timur ada pengajian atau pengajaran agama Islam tiap akhir bulan (masehi), jadi tidak menggunakan hitungan bulan Islam.
    Permasalahannya banyak hal-hal yang dipahami sebagian peserta bertentangan dengan dengan apa yang diajarkannya.

    Sebagai contoh bahwa perintah Shalat bukan pada kejadian Isra’ Mi’raj, karena dalam Quran nabi Ibrahim sudah melaksanakan Shalat (beliau menyebutkan surah anu ayat sekian memang ada) yang sama dengan saat ini.
    Saya terpana dan karena penasaran saya bertanya shalatnya berapa kali, dan berapa rakaat, dan bagaimana azan dan syahadatnya, tapi beliau belum mau menjawab dan akan dijelaskan pada waktu mendatang.
    Zaman Nabi masih hidup Al Quran belum ada maksudnya belum dibukukan, dan sebagian besar berdasarkan hapalan.
    Setelah selesai acara tanya jawab masalah beberapa kebiasaan umat Islam yang keliru, saya menanyakan dari alumni mana, beliau menjawab dapat PhD dalam agama Islam di Kanada, dan beliau mengatakan tugas utamanya adalah Dosen di IAIN Jakarta.

    Karena mungkin saya kurang bisa memahami pengajarannya saya hanya ikut satu kali saja.

    Nah begitu pak Ustadz, menurut penilaian anda secara jujur apakah Kanada itu negara Kafir, dan bagaimana kebenaran orang Indonesia belajar Agama Islam di Kanada tsb, sedangkan sebagian besar pengajarnya bukanlah Muslim.

    Dan juga Saya ingin mendapatkan jawabannya apakah benar zaman nabi Ibrahim sudah ada Shalat ?

    Sekian dan terimakasih.

    • kautsar said

      Ustadz yang terhormat.

      Maaf, sebelumnya.. saya bukanlah Ustadz atau orang yang berilmu, karena saya hanyalah penuntut ilmu yang masih faqir akan ampunan-Nya

      Jawaban anda diatas diperbolehkan apabila untuk menuntut ilmu, ilmu apa ?.

      ilmu syar’i tentunya, yaitu ilmu yang mempelajari tentang Al Qur’an dan As Sunnah.

      Sekitar 2 tahun lalu di mesjid di daerah Pondok Bambu , Jakarta Timur ada pengajian atau pengajaran agama Islam tiap akhir bulan (masehi), jadi tidak menggunakan hitungan bulan Islam.

      Kalau begitu saya balik bertanya : “Apakah penggunaan kalender masehi dilarang?” Memang kita akui, kalender hijriyah adalah lebih utama lebih afdhal, namun, adat (pemerintah) di Indonesia adalah dengan penggunaan kalender Masehi. Namun dalam penentuan awal ramadhan, awal syawal, ataupun yang lainnya adalah tetap menggunakan kalender hijriyah. Jadi, yang afdhal memang dengan menggunakan kalender hijriyah, namun, ketika mayoritas masyarakat di Indonesia menggunakan kalender masehi adalah tidak mengapa insya Allah, selama untuk penentuan penanggalan Islami tetap menggunakan kalender hijriyah bukan dengan kalender masehi.

      Permasalahannya banyak hal-hal yang dipahami sebagian peserta bertentangan dengan dengan apa yang diajarkannya.

      Kalau memang bertentangan coba kembalikan kepada Allah dan Rasul-Nya (Al Qur’an dan As Sunnah), maka apabila bertentangan dan selalu bertentangan sebaiknya majelis tersebut ditinggalkan saja.

      Sebagai contoh bahwa perintah Shalat bukan pada kejadian Isra’ Mi’raj, karena dalam Quran nabi Ibrahim sudah melaksanakan Shalat (beliau menyebutkan surah anu ayat sekian memang ada) yang sama dengan saat ini.
      Saya terpana dan karena penasaran saya bertanya shalatnya berapa kali, dan berapa rakaat, dan bagaimana azan dan syahadatnya, tapi beliau belum mau menjawab dan akan dijelaskan pada waktu mendatang.

      Nash syar’i yaitu dalil yang sharih (jelas) dan shahih (benar) adalah bahwa turunnya perintah shalat adalah pada saat nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ber isra’ mi’raj. Adapun perintah beribadah pada para nabi sebelum beliau dengan kata shalat adalah belum tentu seperti shalatnya kita, coba ingat kembali ayat ini : “Bapak (agama) mereka (para Nabi) adalah satu sedangkan Ibu (syari’at) mereka adalah banyak (berlainan antara nabi satu dengan nabi lainnya)” jadi dapat dipahami bahwa perintah shalat pada zaman nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah belum tentu seperti shalatnya kita. Contoh lainnya, syari’at pada zaman Nabi Yusuf ‘alaihis salam adalah boleh bersujud kepada manusia, sebagaimana sujudnya sebelas saudara Nabi Yusuf ‘alaihis salam, namun syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dilarang bersujud kepada manusia ataupun makhluk lainnya.

      Zaman Nabi masih hidup Al Quran belum ada maksudnya belum dibukukan, dan sebagian besar berdasarkan hapalan.

      Itulah barakah kehidupan pada zaman Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, salah satunya adalah berupa hafalan yang kuat pada para shahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah mendo’akan beberapa shahabatnya agar dikuatkan hafalannya oleh Allah Subhanahu wa ta’ala.

      Setelah selesai acara tanya jawab masalah beberapa kebiasaan umat Islam yang keliru, saya menanyakan dari alumni mana, beliau menjawab dapat PhD dalam agama Islam di Kanada, dan beliau mengatakan tugas utamanya adalah Dosen di IAIN Jakarta.

      Masalahnya IAIN sendiri bagaimana? bagaimana pemikiran mereka terhadap Islam? Walaupun seorang dosen pun, tetap saja bisa salah, apalagi lulusan Kanada yang mayoritas gurunya adalah Orang Kafir yang mempelajari Islam..

      Karena mungkin saya kurang bisa memahami pengajarannya saya hanya ikut satu kali saja.

      Walhamdulillah.. saya sarankan bapak untuk mengikuti kajian-kajian lain yang lebih ilmiah di daerah Jakarta insya Allah banyak, untuk jadwal selengkapnya bisa dilihat di http://www.ahlussunnah-jakarta.com/

      Nah begitu pak Ustadz, menurut penilaian anda secara jujur apakah Kanada itu negara Kafir, dan bagaimana kebenaran orang Indonesia belajar Agama Islam di Kanada tsb, sedangkan sebagian besar pengajarnya bukanlah Muslim.

      Nah, bagaimana jadinya ketika seorang Kafir berbicara tentang Islam? Mudahnya ketika kita ingin mengambil air yang jelas sumbernya masih jernih, apakah kita akan mengambil air yang sudah keruh? Nah itu cuma sekedar permisalan, intinya, ketika di sekitar kita masih banyak Ulama yang kompeten dalam bidang ilmu Islam ini yang diibaratkan dengan air yang jernih, kemudian apakah kita akan mengambil dari orang kafir yang cuma belajar Islam untuk mengetahui kelemahan orang Islam yang diibaratkan dengan air yang keruh?
      Penyebutan Negara kafir adalah ketika mayoritas penduduk dan pemerintahan yang ada adalah orang kafir, namun penyebutan Negara kafir adalah tanpa mengingkari bahwa disana terdapat kaum Muslimin.

      Dan juga Saya ingin mendapatkan jawabannya apakah benar zaman nabi Ibrahim sudah ada Shalat ?

      Sudah saya jawab di atas, bahwa perintah shalat adalah sudah ada sejak zaman nabi sebelum Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, hanya saja, syari’atnya berbeda atau kaifiyyah (bagaimana) cara shalatnya adalah berlainan satu sama lain.

      Sekian dan terimakasih.

  3. hanifiyah said

    aszzzzzzzzzzz………….

    menuntut ilmu di negeri kafir??????????????

    boleh-boleh aza tuh. coz Nabi Muhammad SAW ndiri pernah bersabda
    ” carilah ilmu walau sampai ke negeri China ”
    kanapa mezti negeri china????????????????
    coz china itu letaknya jauh, budaya ma agamanya beda.kalo seandainya waktu zaman Rasulullah SAW peradaban Amerika udah canggih bangeddddddddddd, mungkin beliau nyaranin buat belajar ke Amrik.lagian, sejauh apapun nuntut ilmu, tetep dapet pahala. malah pahalanya disamain ma orang yang lagi jihad di medan perang.Apalagi kalo di negeri kafir. tapi, kita nggak boleh nuntut ilmu yang menyimpang dari islam.

    waszzzzzzzzzz

    • Kautsar said

      Kami hanya akan menanggapi kutipan yang anda sertakan, yaitu ” carilah ilmu walau sampai ke negeri China ”

      Kenapa? karena itu bukan hadits dan bukan perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam maupun perkataan ulama, atau disebut dengan hadits maudhu’ (hadits palsu) yang berarti bukan berasal dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

      Penjelasan lengkap mengenai pembahasan masalah ini silakan menuju ke sini, dan tanyakan kepada beliau yang menulis artikel itu, karena menurut saya Beliau lebih berkompeten dalam masalah ini, daripada saya yang masih faqir.

      Demikian semoga bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: