Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Hukum-hukum Ramadhan : Apakah Cukup Persaksian Seorang Dalam Melihat/Rukyah Hilal?

Posted by Abahnya Kautsar pada 14 Agustus 2009

Berkaitan dengan masalah ini, ulama telah berselisih pendapat dalam beberapa pendapat:

Pertama, bahwa persaksian seseorang dapat diterima untuk mengetahui masuknya bulan Ramadhan.

Pendapat ini adalah pendapat Ibnu Al-Mubarak, Ahmad bin Hanbal dan Imam Asy-Syafi’i, namun beliau mensyaratkan bahwa yang melihat hilal haruslah seorang yang adil, muslim, telah baligh dan berakal, dan juga haruslah seorang laki-laki mardeka. Dan menurut mereka rukyah seorang yang fasiq, seorang yang kurang akal, hamba sahaya dan wanita tidaklah dapat diterima.

Sedangkan menurut Imam Ahmad, dalam persaksian melihat hilal Ramadhan, dapat diterima dari perkataan seorang mukallaf, adil walau dia bersendiri, laki-laki maupun wanita, baik dia mardeka atau seorang hamba sahaya.

Kedua, persaksian tersebut tidaklah dapat diterima kecuali jika yang mempersaksikan rukyah terdiri atas dua orang.

Pendapat ini merupakan pendapat Malik, Al-Laits, Al-Auza’i, dan Asy-Syafi’i dalam salah satu pendapat beliau, dan juga merupakan pendapat kaum Hadawiyah.

An-Nawawi didalam Al-Majmu’ mengatakan, “Pendapat tersebut yang paling benar.”

Ketiga, yang merupakan pendapat ulama mazhab Hanafiyah. Mereka mengatakan, apabila langit dalam keadaan cerah, maka haruslah rukyah hilal dari jamaah kaum muslimin dalam penetapan masuknya bulan Ramadhan dan selainnya. Dan jikalau udara dalam keadaan mendung atau berkabut, maka Imam mencukupkan dengan rukyah hilal dari persaksian seorang muslim yang adil, berakal, baligh, baik laki-laki atau wanita, mardeka ataukah seorang hamba sahaya.

Keempat, yang merupakan pendapat ulama Malikiyah, mereka mengatakan, hilal Ramadhan dapat ditetapkan dengan terlihatnya hilal tersebut oleh jumlah yang banyak dari kaum muslimin ataukah terlihat oleh dua orang yang adil atau lebih, ataukah terlihat oleh seorang saksi yang adil.

Ulama yang mengemukakan pendapat yang pertama berargumen dengan beberapa dalil, di antaranya;

Hadist Abdullah bin Umar dengan lafazh, “Kaum muslimin sedang menanti untuk melihat hilal. Lalu saya menyampaikan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa saya telah melihatnya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa dan memerintahkan kaum muslimin untuk berpuasa.”

(HR. Abu Dawud no. 2342, Ad-Darimi no. 1691, Ibnu Hibban didalam Al-Mawarid no. 871, Al-Hakim 1/423, Ad-Daraquthni 2/156 dan Al-Baihaqi 4/212. Al-Hakim mengatakan, “Shahih sesuai dengan syarat Imam Muslim.” Dan Al-Albani rahimahullah menshahihkannya didalam Al-Irwa` 4/ no. 908)

Hadist Abdullah bin Abbas, dimana beliau berkata, “Seorang arab badui datang menemui Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Sesungguhnya saya telah melihat hilal -yakni hilal Ramadhan-.” Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah anda bersaksi bahwa tiada ilah selain Allah?” Arab badui itu menjawab, “Iya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah anda bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasu Allah?” Arab badui itu menjawab, “Iya.” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wahai Bilal, serukanlah kepada kaum manusia agar mereka berpuasa besok.”

(HR. Abu Dawud no. 2340, An-Nasa`i 4/213, Ibnu Majah no. 1652, AtTirmidzi no. 691, Ibnu Hibban didalam Al-Mawarid no. 970, Ad-Daraquthni 2/no. 9, Al-Baihaqi 4/211-212, Al-Hakim 1/424, Ad-Darimi no. 2692, Ibnu Khuzaimah 3/1923, dan Ibnul Jarud no. 379. At-Tirmidzi berkata, “Hadist Ibnu Abbas terdapat perselisihan. Sufyan Ats-Tsauri dan selainnya meriwayatkannya dari Simak dari Ikrimah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mursal. Dan sebagian besar murid-murid Simak meriwayatkan hadits tersebut dari Simak dari Ikrimah secara mursal.” Lihat juga didalam Al-Irwa’ 4/ no. 907, dan Asy-Syaikh rahimahullah mendha’ifkan hadits ini.)

Dan demikian pula hadits yang diriwayatkan dari jalan Thawus, dia berkata, “Saya mendatangi Madinah dimana terdapat Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Lalu seseorang datang menjumpai waliyul amri kota Madinah dan bersaksi dihadapannya akan rukyah hilal Ramadhan. Lalu kami bertanya kepada Ibnu Umar dan Ibnu Abbas atas persaksian orang tersebut, dan keduanya memerintahkan untuk menerimanya dan keduanya mengatakan, “Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallamtelah menerima persaksian satu orang atas
rukyah hilal Ramadhan, dan beliau tidaklah menerima persaksia ifthar/berbuka (yakni bulan Syawal) kecuali dengan persaksian dua orang.”

(HR. Ad-Daraquthni 2/ no. 3, Ath-Thabrani didalam Al-Ausath no. 5353, lihat didalam Al-Majma’ 3/146, dan beliau berkata, “Hafsh bin Umar Al-Ili telah bersendiri meriwayatkan hadits tersebut dan dia perawi yang dha’if)

Adapun ulama yang berpendapat dengan pendapat yang kedua berargumen dengan beberapa dalil diantaranya ;

Hadist Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khaththab, bahwa dia khutbah pada hari syak (yang meragukan) dan mengatakan, “Sesungguhnya saya telah menghadiri majis para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan telah bertanya kepada mereka, dan mereka juga telah menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasalah kalian karena rukyah hilal dan berbukalah kalian karena rukyah hilal dan beribadahlah karena rukyah hilal. Apabila hilal terhalangi bagi kalian maka sempurnakanlah tiga puluh hari. Dan jika dua orang muslim memberi persaksian (hilal) maka puasalah dan berbukalah.”

(Hadist Shahih, diriwayatkan oleh Ahmad dan An-Nasa`i, telah disebutkan sebelumnya.)

Hadist Amir Makkah Al-Harits bin Hathib dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengambil janji dari kami untuk beribadah berdasarkan rukyah hilal. Jika kami tidak melihatnya, dan dua orang adil mempersaksikan, maka kami beribadah berdasarkan persaksian mereka berdua.”

(Hadist Shahih, Abu Dawud, Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi. Hadist tersebut dishahihkan oleh Ad-Daraquthni 2/167, Al-Hafizh didalam At-Talkhish 2/187 dan Al-Albani didalam Shahih As-Sunan no. 2044. Telah disebutkan terdahulu.)

Hadist Rib’i bin Hirasy dari seseorang sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia berkata, “Kaum muslimin berselisih dalam menentukan akhir bulan Ramadhan. Lalu dua orang arab badui datang dan mempersaksikan dihadapan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia telah menyaksikan hilal, pada kemarin sore. Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum muslimin untuk berbuka.”

(Hadist shahih, diriwayatkan oleh Ahmad 5/362-363, Abu Dawud no. 2339 dan selainnya.)

Dan hadits Abdullah bin Umair bin Anas, “Bahwa beberapa pengendara tiba menghadap kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mereka mempersaksikan bahwa mereka telah melihat hilal kemarin. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mmerintahkan mereka untuk berbuka. Dan apabila esok paginya, agar mereka menuju ke mushalla mereka.”

(HR. Ahmad 5/58, Abu Dawud no. 1157, An-Nasa`i no. 1507, Ibnu Majah no. 1653, hadits tersebut shahih, lihat didalam At-Talkhish no. 696 dan Al-Irwa` no. 4/634)

Adapun dalil yang dijadikan sandaran oleh ulama yang berpendapat dengan pendapat ketiga, adalah hadits Ibnu Abbas dan Ibnu Umar, yang keduanya mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima persaksian satu orang dalam penentuan hilal Ramadhan dan tidak menerima persaksian hilal berbuka –Syawwal- kecuali dengan persaksian dua orang.”

(Hadist dha’if, telah disebutkan sebelumnya.)

Adapun dalil yang dijadikan sandaan oleh ulama yang mengemukakan pendapat yang ke empat adalah dengan qiyas kepada hukum-hukum syara’ lainnya.

Pendapat yang paling benar -insya Allah- adalah pendapat/mazhab yang pertama.

Imam Asy-Syaukani mengatakan, “… Dan ulama mazhab yang pertama menjawab dalil penyebutan dua saksi -pada hadits- bahwa setidaknya hanyalah menunjukkan larangan menerima persaksian satu orang secara implisit, sementara hadits pada bab pembahasan menunjukkan, secara kontekstual, penerimaan persaksian satu orang tersebut lebih kuat.”

Demikian halnya, selain argumentasi dengan hadits-hadits yang menunjukkan persaksian dua orang atau lebih, yang diantaranya adalah hadits yang shahih dan selebihnya adalah hadits dha’if, yang mengindikasikan sebatas mafhum syarat -implikasi sebab akibat-, juga hanya termasuk dalam kategori penyebutan salah satu dari bagian-bagian keumuman nash (dzikru ba’dha afraadil-‘aam). Dimana hal tersebut tidak
berarti pengkhususan, melainkan hanya sebuah penegasan kasus, bahwa
demikianlah yang pernah terjadi di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun dalil yang dijadikan dasar hukum mazhab yang ketiga, adalah hadits yang dha’if sehingga telah cukup untuk mengetahui kelemahan mazhab tersebut.

Sedangkan dalil/argumentasi ulama Malikiyah yang meng-qiyaskan masalah ini kepada hukum-hukum syara’ lainnya, maka analogi tersebut adalah analogi yang berbenturan dengan konteks nash. Imam Ibnu Hazm rahimahullah telah menguraikan sanggahan terhadap mazhab ini, beliau mengatakan, “ … dikarenakan hak-hak syara’ beragam dan berbeda-beda.

Di antaranya -menurut ulama Malikiyah- ada diterima cukup dengan seorang saksi dan sumpah, diantaranya ada yang tidak diterima kecuali persaksian dua orang laki-laki, ataukah seorang laki-laki dan dua wanita.

Di antaranya ada yang boleh dengan persaksian dua orang laki-laki. Dan di antaranya pula ada yang tidak dapat diterima kecuali dengan persaksian empat orang. Bahkan ada beberapa hak permasalahan yang diperbolehkan menerima persaksian seorang nashrani dan seorang fasik, misalnya dalam cacat pada masalah yang berkaitan dengan kedokteran.

Lantas dari tinjauan manakah mereka mengkhususkan salah satu dari hak-hak ini dan mengabaikan selainnya pada analogi persaksian rukyah hilal?”

(Lihat: Al-Majmu 6/286, Al-Muhalla 5/235-236, Nail Al-Authar 4/210-211 dan Ar-Raudhah An-Nadiyah 1/533)

Sumber : darel-salam.com


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: