Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

Hukum-hukum Ramadhan : Penyebutan yang Benar, Ramadhan ataukah bulan Ramadhan?

Posted by Abahnya Kautsar pada 14 Agustus 2009

Terdapat beberapa pendapat yang berkaitan dengan penyebutan tersebut.

Pendapat yang pertama, bahwa diperbolehkan mengatakan Ramadhan ataukah bulan Ramadhan. Pendapat ini adalah pendapat sebagian besar ulama.

Pendapat yang kedua, bahwa penyebutan tersebut -hanya dengan kata Ramadhan saja- suatu yang makruh, kecuali jika telah ada indikasi sebelumnya. Pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama Syafi’iyah.

Pendapat yang ketiga, makruh -hanya dengan penyebutan Ramadhan saja- secara mutlak. Pendapat ini adalah pendapat ulama Malikiyah dan juga merupakan pendapat Mujahid dan Atha`. Mereka menyatakan bahwa Ramadhan adalah salah satu dari nama-nama Allah.

Pendapat yang disunnahkan adalah mengatakan bulan Ramadhan sebagaimana firman Allah ta’ala,

“Bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur`an.”

Dan tidaklah makruh penyebutkan kata “Ramadhan” tanpa menyertainya dengan kata “bulan.” Dan pendapat tersebut adalah pendapat sebagian besar ulama, dan pendapat tersebut adalah pendapat yang masyhur di dalam mazhab Hanabilah, juga merupakan pendapat Abu Hanifah.

Di dalam kitab Al-Majmu’ disebutkan, “Al-Baihaqi berkata, telah diriwayatkan berkaitan dengan hal itu -makruhnya mengatakan Ramadhan tanpa disertakan kata “bulan”- dari Mujahid dan Al-Hasan. Namun jalan periwayatan kepada keduanya dha’if. Dan diriwayatkan dari Muhammad bin Ka’ab.

Mereka juga berargumen dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “Janganlah kalian mengatakan Ramadhan, karena sesungguhnya Ramadhan adalah salah satu nama dari nama-nama Allah ta’ala, akan tetapi ucapkanlah: bulan Ramadhan.”

Hadist ini adalah hadits yang dha’if, Al-Baihaqi dan selainnya mendha’ifkannya. Pada sanadnya terdapat perawi bernama Nujaih As-Sindi dan dia perawi yang dha’if karena hafalannya yang buruk.

(Al-Baihaqi 4/21, Ibnu Adiy didalam Al-Kaamil 7/2517, Ibnul Jauzi didalam Al-Maudhu’at 2/187, Al-Ilal karya Ibnu Abi Hatim 834, Al-Fawa`id 87, Tanziih Asy-Syari’ah 2/153, dan Al-Laali`u 2/51)

Pendapat yang shahih, bahwa tidaklah makruh menyebutkan kata Ramadhan tanpa menyertakannya dengan kata “bulan”. Dalil yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah, bahwa Rasulullah r bersabda, “Jika telah datang Ramadhan, maka pintu-pintu surga akan terbuka dan pintu-pintu neraka akan tertutup, dan para syaithan akan dibelenggu.” Pada riwayat lainnya, “Jika telah masuk Ramadhan.”

(Lihat: Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab 6/248, Al-Furu’ 3/4-5, dan AlInshaf 3/299)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: