Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 330 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,167,775 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Hukum bagi seseorang yang dengan sengaja makan dan minum serta melakukan jima’ pada siang hari Ramadhan

Posted by Abahnya Kautsar pada 22 Agustus 2009

Ulama Islam seluruhnya telah sepakat, bahwa bagi seseorang yang dengan sengaja pada siang hari Ramadhan makan, minum atau melakukan hubungan suami istri, maka puasanya menjadi batal.

Lantas  para  ulama  berbeda  pendapat  berkaitan  dengan  keharusan  bagi orang tersebut sebagai ganjaran atas kesengajaannya makan, minum atau jima’ pada siang hari Ramadhan, apakah diharuskan qadha ataukah tidak?

Adapun jima’  , yang shahih dari hadits Abu Hurairah diatas adalah tanpa  penyebutan  lafazh  tambahan,  yakni  perintah  untuk  mengqadha`. Maka  bagi  seseorang  yang  melakukan  jima’  pada  siang  hari  Ramadhan diharuskan untuk membayarkan kaffarah, namun tanpa kewajiban meng-qadha`.

Sedangkan bagi yang bersengaja makan dan minum pada siang hari Ramadhan, ulama berbeda pendapat terhadap masalah ini,

Pendapat yang pertama, yang merupakan pendapat mazhab asy-Syafi’iyah, dimana mereka mengharuskan qadha` tanpa kaffarah. Diantara ulama asSalaf yang berpendapat wajibnya qadha’ adalah Sa’id bin al-Musayyab dan Rabi’ah syaikh Imam Malik.

Pendapat yang kedua, yang mengharuskan kaffarah tanpa adanya qadha`. Pendapat ini adalah pendapat Abu Hanifah, Atha`, ats-Tsauri dan pendapat yang masyhur didalam mazhab Ahmad.

Di antara dalil yang mereka jadikan sandaran hukum,

Hadist Abu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-, beliau mengatakan, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan seseorang yang dengan sengaja berbuka pada siang hari Ramadhan untuk membayarkan kaffarah zhihar.

(HR. ad-Daaquthni  2/190-191 dan ad-Darimi no.  1714-1715. Namun pada sanadnya terdapat Laits bin Abi Sulaim dan dia perawi yang tidak kuat. Dan  jalan  periwayatan  lainnya,  telah  dinyatakan  cacat  oleh  al-Bukhari karena peraw yang bernama Yazid bin Al-Muthawwis, beliau berkata, “Saya tidak mengetahuinya.”)

Dan  hadits  Anas  bin  Malik,  beliau  mengatakan,  Rasulullah  Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,  “Bagi  siapa yang  berbuka  pada satu  hari  di  bulan  Ramadhan, maka dia diwajibkan berpuasa selama sebulan.”

(HR.  ad-Daraquthni  2/191,  dari  jalan  Mindil  bin  Ali  al-‘Anazi  dari  Abdul Warits dari Anas. Dan Mindil adalah perawi yang dha’if  sementara Abdul Warits perawi yang majhul)

Atsar Ibnu Abbas, bahwa beliau berkata, “Bagi siapa yang berbuka pada  siang  hari  Ramadhan,  maka  dia  diharuskan  untuk  membebaskan budak  ataukah  puasa  sebulan  atau  memberi  makan  tiga  puluh  orang miskin.”

(Disebutkan  oleh  Ibnu  Abdil  Barr  didalam  at-Tamhid 7/170  dan  pada sanadnya terdapat Abu Huraiz Abdullah bin Husain al-Azdi, Qadhi Sijistan, dan dia seorang perawi yang dha’if)

Pendapat   yang   ketiga,   yakni   keharusan   untuk   mengqadha`   dan membayarkan kaffarah. Pendapat ini merupakan pendapat ulama mazhab Hanafiyah.  Mereka  berargumen  dengan  qiyas/analogi  kepada  seseorang yang melakukan jima’ pada siang hari Ramadhan.

Dan juga mengqiyaskannya kepada seseorang yang dengan sengaja muntah pada siang hari Ramadhan.

Sebagian ulama lainnya berpendapat tidak adanya keharusan untuk meng-qadha`,  yang  diharuskan  baginya  hanyalah  bertaubat.  Di antara ulama Salaf yang berpendapat demikian adalah Ali bin Abi Thalib2, Abdullah bin  Mas’ud3  -radhiallahu  ‘anhuma-,  Ibrahim  an-Nakha’i,  Muhammad  bin Sirin, Sa’id bin Jubair dan asy-Sya’bi.

Ibnu  Hazm  -rahimahullah-  mengatakan,  “Dasar  pijakan  hal  itu,  bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  tidaklah  mengharuskan  adanya  kaffarah  kecuali  bagi  yang menggauli istrinya dengan sengaja. Dan penamaan wanita juga berlaku bagi budak wanita yang diperbolehkan untuk di gauli sebagaimana yang berlaku bagi istri.”

Kemudian  beliau  berkata,  “Dan  beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah  mengharuskan  adanya kaffarah  bagi  selain  yang  telah  kami  sebutkan.  Sementara  beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya dara kalian dan harta kalian, haram bagi kalian.” Maka harta seseorang tidaklah halal tanpa adanya dasar nash atau ijma’ yang yakin.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Yang tepat menurutku, bahwa alBukhari mengisyaratkan kepada beberapa atsar yang beliau sebutkan akan wajibnya qadha` , terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama as-Salaf, sedangkan  berbuka  karena  melakukan  jima’  diharuskan  membayarkan kaffarah. Dan beliau mengisyaratkan kepada hadits Abu Hurairah bahwa hadits tersebut tidaklah sah, karena beliau tidak men-jazamkan riwayatnya dari Abu Hurairah.

Dan  jika  dianggap  hadits  tersebut  shahih,  secara  eksplisit  menguatkan pendapat   yang   menyatakan   tidak   adanya   keharusan   mengqadha` disebabkan  berbuka  dengan  makan.  Melainkan -kesalahan/dosa-  dari perbuatan  itu  dilimpahkan  pada  tanggungannya  sebagai  tambahan  atas siksaannya.      Karena      pensyariatan      adanya       qadha`       puasa mengimplementasikan gugurnya dosa, …”

Pendapat  ini  juga  pendapat  yang  dipilih  oleh  Syaikhul  Islam  Ibnu Taimiyah -rahimahullah-

(Lihat al-Umm 2/96-99, al-Muhalla 4/737, al-Fath 4/161-164, al-Bada’i 2/253-255,  al-Furu’ 3/41-43,  al-Inshaf 3/306-307,  at-Tamhid  7/171-172,  al-Mawahid  2/433,  Bidayah al-Mujtahid  1/221-224 dan  Nail alAuthar 4/294)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: