Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 330 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

    Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,167,775 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Imam Bukhari Pun Tak Lepas Dari Tuduhan

Posted by Abahnya Kautsar pada 4 Mei 2011

Imam Bukhari Pun Tak Lepas Dari Tuduhan

Pada tahun 205 H, Imam Bukhari datang ke Naisabur. Beliau menetap di sana selama beberapa waktu dan terus-menerus melakukan aktifitas mengajarkan hadits. Muhammad bin Yahya adz-Dzuhli -salah satu tokoh ulama hadits di kota itu- mengatakan kepada murid-muridnya, “Pergilah kalian kepada lelaki salih dan berilmu ini, supaya kalian bisa mendengar ilmu darinya.” Setelah itu, orang-orang pun berduyun-duyun mendatangi majelis Imam Bukhari untuk mendengarkan hadits darinya. Sampai, suatu ketika muncul ‘masalah’ di majelis Muhammad bin Yahya, dimana orang-orang yang semula mendengarkan hadits di majelis beliau beralih menuju majelisnya Imam Bukhari.

Sebenarnya, sejak awal, Imam adz-Dzuhli tidak menghendaki terjadinya masalah antara dirinya dengan Imam Bukhari, semoga Allah merahmati mereka berdua. Beliau pernah berpesan kepada murid-muridnya, “Janganlah kalian tanyakan kepadanya mengenai masalah al-Kalam (keyakinan tentang al-Qur’an kalamullah, pent). Karena seandainya dia memberikan jawaban yang berbeda dengan apa yang kita anut pastilah akan terjadi masalah antara kami dengan beliau, yang hal itu tentu akan mengakibatkan setiap nashibi (pencela ahli bait), rafidhi (syi’ah), jahmi, dan penganut murji’ah di Khurasan ini menjadi mengolok-olok kita semua (sesama ahlul hadits, pent).”

Ahmad bin ‘Adi menuturkan kisah dari guru-gurunya, bahwa kehadiran Imam Bukhari di kota itu membuat sebagian guru yang ada di masa itu merasa hasad/dengki terhadap beliau. Mereka menuduh Imam Bukhari berpendapat bahwa al-Qur’an yang dilafalkan adalah makhluk. Suatu ketika muncullah orang yang menanyakan kepada beliau mengenai masalah melafalkan al-Qur’an. Orang itu berkata,“Wahai Abu Abdillah, apa pandanganmu mengenai melafalkan al-Qur’an; apakah ia termasuk makhluk atau bukan makhluk?”. Setelah mendengar pertanyaan itu, Imam Bukhari berpaling darinya dan tidak mau menjawab sampai tiga kali pertanyaan. Orang itu pun memaksa, dan pada akhirnya Bukhari menjawab, “al-Qur’an adalah Kalam Allah, bukan makhluk. Sementara perbuatan hamba adalah makhluk. Dan menguji seseorang dengan pertanyaan semacam ini adalah bid’ah.” Yang menjadi sumber masalah adalah tatkala orang itu secara gegabah menyimpulkan, “Kalau begitu, dia -Imam Bukhari- telah mengatakan bahwa al-Qur’an yang aku lafalkan adalah makhluk.”

Dalam riwayat lain, Imam Bukhari menjawab, “Perbuatan kita adalah makhluk. Sedangkan lafal kita termasuk perbuatan kita.” Hal itu menimbulkan berbagai persepsi di antara hadirin. Ada yang mengatakan, “Kalau begitu al-Qur’an yang saya lafalkan adalah makhluk.” Sebagian yang lain membantah, “Beliau tidak mengatakan demikian.” Akhirnya, timbullah kesimpang-siuran dan kesalahpahaman di antara para hadirin.

Tatkala hal ini sampai ke telinga adz-Dzuhli, maka beliau berkata, “al-Qur’an adalah kalam Allah, bukan makhluk. Barangsiapa yang menganggap bahwa al-Qur’an yang saya lafalkan adalah makhluk -padahal Imam Bukhari tidak menyatakan demikian, pent- maka dia adalah mubtadi’/ahli bid’ah. Tidak boleh bermajelis kepadanya, tidak boleh juga berbicara dengannya. Barangsiapa setelah ini pergi kepada Muhammad bin Isma’il -yaitu Imam Bukhari- maka curigailah dia. Karena tidaklah ikut menghadiri majelisnya kecuali orang yang sepaham dengannya.”

Semenjak munculnya ketegangan di antara adz-Dzuhli dan Bukhari ini maka orang-orang pun bubar meninggalkan majelis Imam Bukhari kecuali Muslim bin Hajjaj -Imam Muslim- dan Ahmad bin Salamah. Sampai-sampai, adz-Dzuhli menyatakan, “Ketahuilah, barangsiapa yang ikut berpandangan tentang lafal -sebagaimana Bukhari, pent- maka tidak halal hadir dalam majelis kami.” Maka Imam Muslim pun mengambil selendangnya dan diletakkannya di atas imamah/penutup kepala yang dia kenakan lalu berdiri di hadapan orang banyak meninggalkan beliau, dan dikirimkannya semua catatan riwayat yang pernah dia tulis dari beliau di atas punggung seekor onta.

Ada sebuah pelajaran berharga dari Imam Muslim dalam menyikapi persengketaan yang bukan pada tempatnya ini. al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Muslim telah bersikap adil tatkala dia tidak menuturkan hadits di dalam kitabnya -Shahih Muslim-, tidak dari yang ini -Bukhari- maupun dari yang itu -adz-Dzuhli-.”

Pada akhirnya, Imam Bukhari pun memutuskan untuk meninggalkan Naisabur demi menjaga keutuhan umat dan menjauhkan diri dari gejolak fitnah. Beliau telah menyerahkan segala urusannya kepada Allah. Allah lah Yang Maha mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya. Beliau tidaklah menyimpan ambisi kedudukan maupun kepemimpinan sama sekali.

Bagaimana pun juga, Imam Bukhari berlepas diri dari tuduhan yang dilontarkan oleh orang-orang yang hasad kepadanya. Suatu saat, Muhammad bin Nashr al-Marruzi menceritakan: Aku mendengar dia -Bukhari- mengatakan, “Barangsiapa yang mendakwakan bahwa aku berpandangan bahwa al-Qur’an yang aku lafalkan adalah makhluk, sesungguhnya dia adalah pendusta. Sesungguhnya aku tidak berpendapat seperti itu.”

Abu Amr Ahmad bin Nashr berusaha menelusuri masalah ini kepada Imam Bukhari. Dia berkata, “Wahai Abu Abdillah, di sana ada orang-orang yang membawa berita tentang dirimu bahwasanya kamu berpendapat al-Qur’an yang aku lafalkan adalah makhluk.” Maka Imam Bukhari menjawab, “Wahai Abu Amr, hafalkanlah ucapanku ini; siapa pun diantara penduduk Naisabur dan negeri-negeri yang lain yang mendakwakan bahwa aku berpendapat al-Qur’an yang aku lafalkan adalah makhluk maka dia adalah pendusta. Sesungguhnya aku tidak pernah mengatakan hal itu. Yang aku katakan adalah perbuatan hamba adalah makhluk.”

[Kisah ini disusun ulang dari Hadyu as-Sari Muqaddimah Fath al-Bari bi Syarh Shahih al-Bukhari karya al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah, hal. 658-659]

Saudaraku, inilah kisah nyata yang terjadi di masa lalu… Sebuah kisah memilukan yang harus terjadi pada diri seorang ulama besar, amirul mukminin fil hadits, sang penyusun kitab paling sahih sesudah Kitabullah, Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari rahimahullah. Kerenggangan hubungan antara sesama ulama, akibat ulah orang-orang yang menyimpan hasad kepada sesama saudaranya.Subhanallah… Apakah kejadian semacam ini telah berulang di masa kita sekarang ini? Allah lah Yang Maha tahu apa sesungguhnya yang terjadi di antara para da’i ahlus sunnah di masa ini…

Dari kisah ini, banyak pelajaran yang dapat dipetik, antara lain:

1. Tidak boleh tergesa-gesa dalam mengambil sikap atas suatu berita atau kabar tidak baik mengenai saudara kita, apalagi dari kalangan da’i dan alim ulama
2. Kewajiban untuk mengecek kebenaran berita dan mengambil informasi dari sumber-sumber yang terpercaya, tidak boleh sembarangan mengambil berita yang dibawa oleh manusia
3. Semestinya kita mendahulukan sikap husnuzhan/prasangka baik kepada sesama saudara kita, karena sesungguhnya memperturutkan prasangka buruk tanpa alasan yang benar adalah kedustaan dan memecah-belah barisan kaum muslimin
4. Kebenaran harus tetap dibela dan dipertahankan, meskipun pengikutnya sedikit dan dicemooh di hadapan manusia. Dan tidak selayaknya kebenaran itu ditinggalkan gara-gara perasaan tidak enak (pekewuh; jawa) kepada orang yang diseganinya
5. Setiap da’i hendaknya selalu bertawakal kepada Allah dan menjauhi ambisi-ambisi rendah seperti untuk mencari ketenaran, kedudukan, dan lain sebagainya.
6. Hendaknya seorang da’i berhati-hati tatkala berbicara atau menulis di hadapan umum, jangan sampai ucapan dan pernyataannya menimbulkan kesalahpahaman di tengah-tengah umat. Allahul musta’aan.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Iklan

Satu Tanggapan to “Imam Bukhari Pun Tak Lepas Dari Tuduhan”

  1. […] Imam Bukhari Pun Tak Lepas Dari Tuduhan […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: