Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,030,833 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Bagaimana Hukum Teka-teki Dalam Islam?

Posted by Abahnya Kautsar pada 15 Juni 2011

Bismillah. Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel di awal blog ini hadir, pembahasan mengenai Kitabul ‘Ilmi dari Kitab Shahih Al Bukhari dengan syarah Fathul Baari.

Berkata Al Imam Al Bukhari Abu Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Al Mughirah bin Al Bardizbah Al Ju’fi rahimahullah,

Telah bercerita kepada kami Qutaibah, telah bercerita kepada kami, Isma’il bin Ja’far, dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma (Abdullah bin Umar bin Al Khaththab Abu Abdirrahman), dia berkata:

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sesungguhnya di antara pohon-pohon yang ada, ada sebuah pohon yang daunnya tidak jatuh[1], dan sesungguhnya pohon itu permisalannya seperti seorang muslim. Maka beritahukanlah kepadaku apakah pohon itu?”[2].

Maka para shahabat di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pemikiran mereka tertuju membayangkan pohon-pohon yang ada di lembah-lembah yang ada.[3]

Berkata Abdullah ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma: ‘Dan terbersit dalam diriku bahwa itu adalah pohon kurma dan aku malu[4]. Kemudian para shahabat berkata : “Beritakan kepada kami pohon apakah itu wahai Rasulullah?’

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Itu adalah pohon kurma.”

 

Fawaid hadits :

  1. Terdapat pelajaran bagi yang diberi teka-teki supaya dia tanggap, memperhatikan tanda-tanda yang mengarah kepada jawaban baik itu dari tanda yang diucapkan oleh orang yang mendatangkan teka-teki tersebut ataukah dari tindakan-tindakannya. Sehingga membantunya untuk menemukan jawabannya. Dan bagi orang yang hendak mendatangkan teka-teki jangan menutup sama sekali celah untuk bisa dijawab / tidak mendatangkan tanda-tanda sedikitpun sebagai acuan yang membimbingnya.
    Syahid/dapat kita lihat pada hadits di atas : “Didatangkan kepada beliau jumar dan beliau memakannya.”
  2. Seorang alim memberikan ujian pemahaman pemikiran dari murid-muridnya dengan sesuatu yang jawabannya agak tersembunyi yang disertai penjelasan sehingga dipahami.
    Disebutkan pula oleh Al Hafizh, di sana ada hadits diriwayatkan Abu Dawud dari hadits Mu’awiyah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Bahwasannya beliau melarang dari pertanyaan yang mengandung mughalathah (suatu pertanyaan yang konteks pertanyaannya bisa membawa orang yang menjawabnya keliru).
    Tujuannya untuk melatih ketangkasan sehingga tidak mudah dikelabuhi.
    Al Auza’i : Salah seorang perawi hadits menjelaskan bahwa al ghuluthab adalah permasalahan-permasalahan yang rumit.
    Al Haafizh berkata : hadits ini (larangan ghulathab) dibawa kepada larangan pertanyaan yang tidak ada manfaatnya.
  3. Adanya anjuran untuk berpemahaman dalam ilmu. Al Bukhari pun juga meriwayatkan dalam bab Al Fahm Fil Ilmi.
  4. Disukainya sifat pemalu selama sifat malu ini tidak membawa pemiliknya luput dari satu mashlahat darinya.
  5. Menunjukkan adanya barakah dari pohon kurma serta seluruh bagiannya dan buahnya.
  6. Bolehnya memberikan suatu permisalan-permisalan dari dua perkara yang mirip dalam rangka untuk menambah pemahaman akan sesuatu dan penggambaran makna dari dua perkara tersebut sehingga dalam ingatan kita akan kuat.
  7. isyarat dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain tidak mengharuskan bahwa dua perkara itu memiliki kesamaan dalam seluruh sisi.
    Dalam hadits muttafaqun ‘alaih, “Janganlah memukul seluruh bagian wajah, manusia ini diciptakan seperti bentuknya Allah.”
    Diterangkan ulama, Al Utsaimin : bukan berarti bahwa bentuknya persis akan tetapi mempunyai persamaan.
    Karena masalah inilah Asya’irah tergelincir dalam kesesatan.
  8. Sikap menghargai orang yang lebih tua, lebih besar (dari sisi ilmu, umur).
    Dimana Ibnu Umar menghargai Abu Bakr dan Umar sehingga dia malu untuk menjawab.
  9. Bahwa seorang alim yang besar (alimul kabir) yaitu Abu Bakr sebaik-baik manusia setelah para Nabi dan Rasul, tidak mampu menjawab. Menunjukkan betapa tingginya ilmu seseorang boleh jadi suatu perkara tersembunyi darinya karena ilmu miliknya Allah Ta’ala dan Allah akan memberikan keutamaannya kepada siapa yang ingin diberikan.
    Berkaitan ini, seorang alim bisa saja lupa akan satu perkara dan itu bukan aib baginya.
    Umar dan Ammar bin Yasir pernah bersama dalam suatu safar, mereka junub dan membutuhkan air untuk berwudhu. Masing-masing berijtihadm mereka hendak shalat. Umar berijtihad dia tidak bertayammum dan shalat. ‘Ammar berijtihad berguling-guling di tanah kemudian shalat, setelah itu datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam diterangkan bahwasanya caranya adalah dengan tayammum.
    Suatu ketika datang seseorang meminta fatwa kepada Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu di sana ada ‘Ammar. Umar memfatwakan bahwa dia tidak shalat sampai bertemu air. Kemudian diingatkan oleh ‘Ammar, “Tidak ingatkah engkau ya Umar, pernah kita mengalami suatu kejadian dan kkita sama-sama berijtihad dan ternyata oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam kita diperintah bertayammum.
    Faidah: Alim / thalabul ‘ilm haruslah memiliki sifat tawadhu’.
  10. Isyarat terhadap hinanya dunia ini.
    Dipetik dari perkataan Umar, :Bahwasanya engkau menjawab pertanyaan itu lebih aku sukai daripada aku mempunyai harta demikian dan demikian”. Dan dalam riwayat Ibnu Hibban: “Onta Merah.”
    Menunjukkan bahwa ilmu lebih berharga dari fasilitas-fasilitas dunia.
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang Allah inginkan baginya kebaikan, maka Allah akan menjadikan dia akan memiliki pemahaman dalam agama ini”.Masalah: Apakah malu (haya’) yang ada pada Ibnu Umar dan hadits ini menjadi mustahab atau luput dari mashlahat?
    Jawab: dipahami dari tamani Umar, menunjukkan bahwa mestinya haya’nya Ibnu Umar di situ bukan tempatnya, karena diinginkan Umar hendaknya waktu itu Ibnu Umar menjawabnya.

Wallahu a’lam bish shawab.


[1] Maknanya sebagaimana diterangkan dalam riwayat-riwayat yang lain, di antaranya diulangi periwayatan hadits ini oleh Al Imam Al Bukhari dalam Kitab Al ‘Ath’imah (makanan). Dari jalannya Al A’masy Sulaiman bin Mihran dari Mujahid dari Ibnu Umar dengan lafazh, “Sesungguhnya di antara pohon-pohon yang ada, ada pohon yang barakahnya seperti barakahnya seorang muslim.”

Maknanya ada pohon yang banyak manfaatnya sehingga mempunyai barakah, sebagaimana seorang muslim mempunyai barakah mendatangkan manfaat bagi yang lainnya, ketika hidupnya maupun setelah meninggalnya, pohon ini dari seluruh bagiannya semuanya bermanfaat.

[2] Sebagai sebuah teka-teki dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits ini sebagai dalil bolehnya bermain teka-teki, tentu yang bermanfaat yang dimaksudkan dengannya untuk mengambil ilmu. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaih wasallam mendatangkan teka-teki disertai qarinah (tanda-tanda) yang menuju kepada jawaban hanya saja tidak langsung sehingga orang yang memiliki kecerdasan bisa membaca.

Dalam riwayat lain dalam bab : Pemahaman dalam Ilmu, dari jalannya Mujahid, dimana Mujahid menemani Ibnu Umar ke Madinah. Dimana Ibnu Umar meriwayatkan kepada Mujahid. Ibnu Umar berkata, bahwa kami pernah bersama dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam –ada sepuluh orang sahabat di sekeliling Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam- kemudian didatangkan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‘Jumar’ (isi dari batang pohon kurma yang bisa dimakan / qalbun nakhlah). Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memakannya, kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya ada pohon dari pohon-pohon…dst.”

[3] Tidak terlintas dalam benak mereka, pikiran mereka jauh, dijawab dengan pohon demikian, pohon demikian, demikian, dst. Tanpa menyinggung pohon kurma, tidak ada yang tanggap kecuali Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, padahal waktu itu ada Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Dalam riwayat lain, ada 10 orang dengan Ibnu Umar yang paling kecil.

[4] Diterangkan dalam riwayat lain, Ibnu Umar berkata: “Maka aku hendak menjawab bahwa jawabannya adalah pohon kurma, maka dikala aku memperhatikan ternyata aku adalah orang yang paling kecil dari sisi umur dan ilmu.”

Dalam Kitab Al ‘Ath’imah Ibnu Umar berkata: “Maka aku adalah orang ke sepuluh dari kesepuluh yang ada di situ, saya adalah orang paling kecil dari mereka.”

Dan dalam riwayat lain, diterangkan Ibnu Umar berkata : “Kemudian aku melihat Abu Bakr dan Umar, keduanya tidak berbicara sedikitpun (tidak menjawab) maka akupun tidak senang untuk berbicara.”

Maka tatkala kami bangkit, akupun mengatakan kepada Umar (ayahnya): “Wahai bapakku, bahwasanya saya tahu tadi jawabannya.”

Maka Umar berkata: “Sesungguhnya jika engkau menjawab pertanyaan tadi, maka itu lebih aku sukai daripada aku memiliki harta demikian dan demikian.”

Diterangkan dalam riwayat Ibnu Hibban, Umar menyebut Onta merah.

Artikel Terkait:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: