Kautsar

إن كنت لا تعلم فتلك مصيبة وإن كنت تعلم فالمصيبة أعظم

  • Bookmark & Enjoy

    Bookmark and Share
  • Masukkan alamat email Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 328 pengikut lainnya

  • Follow Kautsar on WordPress.com
  • Al Qur’an Kalamullah

  • Waktu Shalat Hari Ini

  • Radio Online

  • Kautsar’s Blog On Facebook

  • Y!M Status

    : admin1 : admin2
  • Follow | Kautsar On Twitter

  • Didukung Oleh :

  • Anda pendatang ke...

    • 2,031,073 kali
  • HTML hit counter - Quick-counter.net
  • 100 Blog Indonesia Terbaik
  • KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia
  • Local Business Directory - BTS Local
  • TopOfBlogs
  • Personal Blogs - Blog Rankings
  • Blog directory
  • Blogger SMA Terbaik Indonesia
  • Top 10
  • Bloggerian Top Hits
  • Submit Blog
  • DigNow.net
  • Statistik

  • Kautsarku.wordpress.com website reputation
  • Taklim

    Tegar Di Atas Sunnah Dimasa Fitnah 02 Mp3

Allah Mencintai Hamba Yang Mencintai Saudaranya Karena Allah Ta’ala

Posted by Kautsar pada 10 Januari 2012

Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda :

أن رجلا زار أجا له في قرية أخرى فأرصد الله له على مدرجته ملكا فلما أتى عليه قال : أين تريد ؟ قال : أريد أخا لي في هذه القرية. قال : هل لك عليه من نعمة تربها ؟ قال : لا غير أني أحببته في الله عز وجل. قال فإني رسول الله إليك بأن الله قد أحبك كما أحببته فيه.

“ Seseorang telah berziarah mendatangi saudaranya disebuah desa, lalu kemudian Allah mendudukkan salah satu malaikat diatas bahunya dalam perjalanannya. Ketika  malaikat tersebut telah tiba diatasnya, dia berkata : Siapakah yang engkau hendak tuju ?. Orang itu mengatakan : Saya menuju salah seorang saudaraku di desa ini. Malaikat itu berkata : Apakah kau merasa berhutang budi kepadanya lalu akan membalas kebalikannya ?. Orang itu berkata : Tidak, hanya saja saya mencintainya karena Allah ‘azza wajalla. Malaikat itu mengatakan : Sesungguhnya saya adalah utusan Allah kepadamu, untuk mengabarkan bahwa sesungguhnya Alah telah mencintaimu sebagaimana engkau mencintainya karena Allah “[1]

Makna Allah mendudukkan diatas pundaknya adalah meletakkan duduk diatas kedua bahunya. Al-madrajah bermakna jalan, dinamakan demikian karena kaum manusia meniti diatasnya yaitu berlalu dan berjalan diatasnya.

Ucapan : ( Apakah engkau merasa berhutang budi kepadanya lalu akan membalas kebaikannya ), yaitu kenikmatan yang mana engkau akan mengambil kebaikan darinya dan engkau menuju ke saudaramu karena tujuan itu.

Cinta karena Allah[2] : Pada hadits ini menunjukkan keutamaan cinta karena Allah ta’ala dan bahwa kecintaan tersebut adalah sebab kecintaan Allah ta’ala kepada hamba-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

          إن الله يقول يوم القيامة أين المتحابون بجلالي اليوم أظلهم في ظلي يوم لا ظل إلا ظلي

 “ Sesungguhnya Allah pada hari kiamat akan berfirman : Dimanakah mereka orang-orang yang saling mencintai karena dasar kemuliaan-Ku, pada hari ini Aku akan menaungi mereka dalam sebuah naungan pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan dari-Ku “[3]

Dan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  bersabda :

          قال الله تعالى : حقت محبتي للمتحبين فيّ, و حقت محبتي للمتواصلين فيّ, و حقت محبتي للمتناصحين فيّ, و حقت محبتي للمتوازين فيّ, و حقت محبتي للمتباذلين فيّ, المتحابون فيّ على المنبر من نور, يغبطهم بمكانهم النبيون والصديقون و الشهداء .

“ Allah ta’ala berfirman : Kecintaan-Ku suatu yang pasti bagi mereka yang saling mencintai karena-Ku, dan Kecintaan-Ku suatu yang pasti bagi mereka yang menyambung tali silaturrahim, Kecintaan-Ku suatu yang pasti bagi mereka yang saling menasihati satu sama lainnya, Kecintaan-Ku suatu yang pasti bagi mereka yang saling menziarahi karena-Ku, Kecintaan-Ku suatu yang pasti bagi mereka yang mengasihi karena-Ku. Mereka yang saling mencintai karena-Ku akan berada diatas minbar-minbar yang terbuat dari cahaya, dimana para Nabi, kaum yang shiddiq dan para syuhada’ akan merasa iri dengan tempat kedudukan mereka “[4]

Sesunguhnya segala bentuk kecintaan tidak akan mungkin terwujudkan tanpa dasar iman kepada Allah dan hari akhir. Dan ini merupakan bentuk kecintaan karena Allah, akan tetapi terbagi atas dua derajat : Pertama : Engkau mencintainya karena hendak mencapai suatu tujuan keduniawiaan  darinya yang akan mengantarkan anda menuju kehidupan akhirat, seperti perasaan cinta kepada ustadz dan syaikh anda, bahkan cinta kepada murid anda yang akan menyebarkan ilmu anda melalui pengajaran yang dilakukannya … Kedua : Dan ini derajat yang paling tinggi, yaitu anda mencintainya karena mengetahui bahwa hal tersebut suatu yang dicintai oleh Allah ‘Azza wajalla dan Allah Ta’ala mencintainya. Dan apabila tidak ada kaitannya dengan suatu keinginan keduniawian dan akhirat bagi anda, baik itu berupa ilmu, bantuan dalam agama atau lain sebagainya, ini lebih sempurna… Dan siapa saja yang mencintai perjumpan dengan Allah tidak mungkin baginya untuk tidak mencintai hamba-hamba Allah yang shalih dan yang mendapat keridhaan-Nya, hanya saja hal itu sehingga terkadang dia mampu untuk membimbing dirinya sendiri dalam menempuh jalannya sendiri, dan bahkan mengutamakan yang lain daripada dirinya sendiri..

Cinta karena Allah merupakan kesempurnaan iman, dan seseorang yang mencinta karena Allah adalah pengejawantahan kecintaannya kepada Allah, apabila kecintaan kepada-Nya telah tertanam didalam hati sanubari seorang hamba maka akan menimbulkan kecintaan itu pula. Dan termasuk pula sebagaimana dia mencintai para Rasul dan Nabi-Nya, para malaikat-Nya dan wali-wali-Nya, disebabkan Allah Ta’ala mencintai mereka, dan membenci siapa saja yang membenci mereka, disebabkan Allah ta’ala membenci mereka. Dan diantara pertanda kecintaan dan kebencian ini karena Allah, adalah bahwa dia tidak akan berpaling dari kebenciannya kepada seorang yang Allah benci menjadi sebuah kecintaan, hanya karena perlakuan baik orang tersebut kepadanya, melayaninya dan memenuhi segala kebutuhannya. Dan tidak pula kecintaannya kepada seorang yang Allah cintai menjadi sebuah kebencian, hanya dikarenakan tersampaikan kepadanya hal yang dibencinya dari orang tersebut, yang menyakitkan hatinya, baik itu berupa sebuah kesalahan,  berupa kesengajaan karena ketaatannya kepada Allah ataukah karena persepsi yang keliru, hasil ijtihad, ataukah berupa permusuhan yang berpangkal pada taubat Agama Islam secara keseluruhan berkisar pada empat kaidah fundamental : Cinta dan benci yang berkembang dari kedua hal tersebut pengamalan dan peniadaan. Barang siapa yang cinta, bencinya, pengamalan dan meninggalkan sesuatu karena Allah maka dia telah menyempurnakan keimanannya, dimana jikalau dia mencintai sesuatu dia mencintainya karena Allah, apabila membenci sesuatu dia membencinya karena Allah, apabila melakukan suatu perbuatan dia melakukannya karena Allah, dan apabila dia meninggalkan sesuatu dia meninggalkannya karena Allah. Dan berkurangnya salah satu dari sifat-sifat yang empat ini akan menyebabkan berkurangnya keimanan dan agamanya sesuai kadarnya masing-masing …

Dan seorang yang mencinta karena Allah ‘azza wajalla, dan mendermakan  diri dan hartanya  untuk segala hal yang urgen dalam segala perkara yang menyatakan bahwa dirinya mencintai saudaranya karena Allah ‘azza wajalla  , dan membantu mengupayakan serta memenuhi segala kebutuhannya sebelum diminta dan mendahulukan kebutuhan saudaranya dari pada kebutuhan-kebutuhannya yang khusus. Dan tidak membebaninya dengan sesuatu yang memberatkannya dan juga tidak membebani dirinya. Tidak mengomentari segala cacat yang ada pada dirinya, tidak bertengkar dengannya, tidak berdebat, tidak berburuk sangka kepadanya, tidak menjauhinya lebih dari tiga hari, tidak menyebar luaskan rahasia pribadinya, memanggilnya dengan nama yang paling disukainya, memberi pujian dari perilakunya yang terpuji, menolongnya baik dia dalam keadaan mendhzalimi atau terdhzalim, mendidiknya, menasihatinya dan mengarahkannya kepada segala sesuatu yang akan mendatangkan manfaat baginya didalam agama maupun kehidupan dunianya, menutupi dan memaafkan segala ketergelincirannya dan kelalaiannya, tidak memutuskan silaturrahim dan tidak menjauhinya, menjenguknya disaat dia sakit, mendampinginya disaat dia terkena musibah dan bencana masa, menerima setiap udzurnya, menetapi kecintaan kepadanya, melindungi dan berbuat ikhlas kepadanya, mendoakannya disaat dia hidup dan setelah dia meninggal dunia dengan segala yang dicintainya untuk dirinya sendiri dan bagi keluarganya.

Adapun kecintaan yang Allah hiasi kepada setiap jiwa manusia kepada wanita dan anak-anak keturunan, emas, perak, kuda peliharaan, hewan-hewan ternak, kebun, hingga dia mencintai kesemuanya tersebut kecintaan syahwat, sebagaimana kecintaan seorang yang lapar akan makanan atau seorang yang kehausan akan air. Kecintaan seperti ini ada tiga kategori : Apabila dia mencintainya karena Allah, sebagai sarana untuk mendekat kepada-Nya, menjadikannya alat pembantu untuk mendapatkan keridhaan-Nya dan dalam ketaatan kepada-Nya, maka dia akan mendapatkan pahala karena kecintaan tersebut, dan kecintaan ini adalah bagian dari cinta kepada Allah, dan sarana untuk mendekatkan diri kepada-Nya serta merasakan kenikmatan dalam pelaksanaannya. Dan inilah keadaan dari makhluk Allah yang paling sempurna Shallallahu ‘alaihi wa sallam  yang Allah menjadikannya cinta kepada sebagian kehidupan dunia berupa wanita dan wangi-wangian. Dan kecintaan beliau kepada dua hal tersebut sebagai suatu yang membantunya untuk cinta kepada Allah, penyampaian risalah beliau dan menegakkan perintah-Nya. Dan apabila mencintainya karena bersesuaian dengan tabiatnya, kehendak hawa nafsu dan keinginannya dan tidak mempengaruhi terhadap segala sesuatu yang Allah cintai dan ridhai, melainkan meraihnya dengan  kecenderungan wataknya,  termasuk kedalam hal-hal yang diperbolehkan dan Allah tidak akan menyiksa seseorang karena hal itu, akan tetapi  akan berkurang kesempurnaan kecintaannya kepada Allah dan karena Allah. Apabila kecintaannya tersebut adalah tujuan, maksud, dan segala upayanya untuk mendapatkan perkara-perkara dunia tersebut dan mencapainya serta mendahulukannya dari pada yang Allah cintai dan Allah ridhai, maka dia adalah seorang yang mendhzalimi diri sendiri dan seorang yang menuruti hawa nafsunya.

Berarti yang pertama adalah kecintaan kaum as-Sabiqiin – generasi yang paling awal – , yang kedua adalah kecintaan kaum al-muqtashidiin – kaum yang bertujuan mendapatkan pahala – sedangkan yang ketiga adalah kecintaan kaum adh-dhzalimin– kaum yang zalim -.


[1]  Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Birr wash-Shilah wal-Adab, bab. Fadhlu al-Hubb fillahi ta’ala.

[2]  Lihat didalam ar-Ruh karya Ibnul Qayyim hal. 341 – 343, Kitab al-Arba’in fii ushul ad-Diin karya al-Ghazali hal. 64.

[3]  Diriwayatkan oleh Muslim didalam Kitab al-Birr wash-Shilah wal-Adab, bab. Fadhlu al-Hubb fillahi ta’ala.

[4]  Shahih al-Jami’ ash-Shaghir no. 4321

Satu Tanggapan to “Allah Mencintai Hamba Yang Mencintai Saudaranya Karena Allah Ta’ala”

  1. […] Cinta yang terjadi di antara keduanya hendaklah kecintaan yang didasari pemahaman yang benar dan karena alasan ilahiah yang hakiki. Suami yang menginginkan bagi istrinya apa yang ia inginkan bagi dirinya sendiri, begitupun […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: